garuda_20150705_030

Pertimbangan Memilih Maskapai Penerbangan

Berita pembatalan sanksi kepada Lion Air (dan Air Asia) akibat kesalahan membawa penumpang terminal kedatangan luar negeri ke jalur domestik, sudah saya duga sebelumnya. Mau dibilang prasangka atau pendapat mengada-ada, silakan. Silakan pula menyimak ‘kemesraan’ Direktorat Perhubungan Udara dengan Lion Air, yang berulang kali menyodorkan fakta, tak pernah ada sanksi yang membuat Lioan Air jera lalu berbenah memanjakan konsumennya.

Jika Anda mengeluh tidak bisa melihat foto di atas dengan jelas, percayalah, permasalahan bukan pada mata Anda. Lion Air memang susah dilihat dengan mata telanjang semata.

Jika Anda mengeluh tidak bisa melihat foto di atas dengan jelas, percayalah, permasalahan bukan pada mata Anda. Lion Air memang susah dilihat dengan mata telanjang semata.

Semula, saya mengira di bawah Ignasius Jonan, Kementerian Perhubungan akan tegas seperti citra yang dibuatnya selama ini. Juga, harapan kepada Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) untuk bersikap keras (termasuk melakukan upaya hukum) menekan manajemen Lion Air memenuhi ‘hak dasar’ konsumen atas jasa penerbangan akan ketepatan jadwal keberangkatan. Tapi, ya saya maklum. Jonan dan orang YLKI hanya bisa bersuara keras melawan rokok. Itulah ‘spesialisasi’ mereka.

Tulisan di bawah ini sudah disiapkan dua hari sebelum pernyataan resmi pembatalan sanksi terhadap Lion Air (dan Air Asia) oleh Kementerian Perhubungan. Continue reading

Menyaksikan Al Quran Raksasa

Baru sekali saya menyaksikan Al Quran berukuran raksasa. Rangkaian huruf diukir pada sebuah kayu, ditata bertingkat dan berlapis-lapis, pada sebuah rumah berdekatan dengan pondok pesantren. Banyak tokoh Islam dunia pernah mengunjungi museum, kendati lokasinya agak di pinggiran Kota Palembang.

quran_palembang_20160511_026Saat mengunjungi museum itu, awal Mei, saya tak punya gambaran sama sekali penyajian karya seni itu. Saat memasuki ruangan, pun saya belum ngeh. Sekilas, yang saya lihat hanyalah tembok kayu terdiri dari susunan jendela bertingkat hingga setinggi 20-an meter. Ketika ada beberapa orang membuka ‘jendela’ di baris atas, barulah saya paham, rupanya itulah yang disebut Al Quran berukuran raksasa. Continue reading

triboatton_20160512_095

Manfaat Inflight Magazine dalam Promosi Wisata

Puas jalan-jalan selama lima hari di Palembang dan Musi Banyuasin, saya pulang ke Solo naik Nam Air ke Jakarta, lalu disambung dengan Sriwijaya Air turun Yogyakarta. Ya, saya tidak memilih penerbangan ke Solo karena masih ingn berbarengan dengan idola kaum muda Indonesia, Agus Mulyadi alias Gus Mul. Jalan-jalan yang asik: dolan, mangan, turu, dolan maneh! Jalan-jalan, makan, tidur, jalan-jalan lagi.

Sayang sekali ii majalah Sriwijaya Air edisi Mei 2016 ini tak ada informasi mengenai event Musi Triboatton 2016. Event-event lain pun kurang memperoleh ulasan memadai. Sebaiknya sih, minimal diberi ruang minimal dua halaman agar informasi wisata benar-benar menggelitik orang untuk datang berkunjung.

Sayang sekali ii majalah Sriwijaya Air edisi Mei 2016 ini tak ada informasi mengenai event Musi Triboatton 2016. Event-event lain pun kurang memperoleh ulasan memadai. Sebaiknya sih, minimal diberi ruang minimal dua halaman agar informasi wisata benar-benar menggelitik orang untuk datang berkunjung.

Kapan lagi bisa piknik seenak itu kalau tidak mencicipi duit APBN… Ya, benar-benar duit APBN karena kami memang di-hire Kementerian Pariwisata untuk membantu promosi wisata Indonesia (terima kasih Kemenpar…). Kebetulan, daerah tujuan wisatanya Palembang dan Musi Banyuasin, sengaja di-match-kan dengan Musi Triboatton 2016, yakni ajang lomba dayung tiga jenis tantangan berbeda, yakni rafting, kano dan perahu naga (dragon boat).

Memang kami tidak mengikuti seluruh rangkaian ajang lomba olahraga air yang digelar tahunan itu. Karena itulah, kami lebih banyak mengunjungi sejumlah lokasi wisata di Sumatera Selatan. Dengan berperahu di Sungai Musi, kami mengunjungi Pulau Kemaro dan kampung Arab Al Munawwar di Palembang kota. Kami juga mengunjungi Museum Sriwijaya, taman kota Kambang Iwan, sentra songket dan sejumlah tempat makan yang enak-enak.

Satu yang agak mengagetkan saya, justru ketika dalam penerbangan pulang. Di inflight magazine-nya Sriwijaya Air, event Musi Triboatton tidak terdapat di dalam agenda wisatanya. Yang terpampang di sana justru Solo Keroncong Festival, Gelar Budaya Wanurejo (Magelang, Jawa Tengah), Festival Sanrobengi (Takalar, Sulawesi Selatan), Festival Manggis (Badung, Bali) dan Bandung Laoetan Onthel (Bandung, Jawa Barat). Kok bisa???

Bisa saja… Ini kan Indonesia. Sudah lumrah kalau di Indonesia, banyak pihak meski secara ideal punya kepentingan yang sama, belum tentu bisa ‘bekerja sama’.

Mungkin, manajemen inflight magazine, termasuk perusahaan penerbangan yang dimiliki pengusaha asal Provinsi Bangka Belitung itu, tidak menganggap Musi Triboatton sebagai bagian dari mereka, yang menggunakan nama ‘Sriwijaya’ yang tidak lain merujuk pada satu kesatuan kultur dan geografis, yakni sesama warga bekas Kerajaan Sriwijaya yang masyhur hingga ke menembus luasan tak sekadar ASEAN saja. Continue reading

triboatton_20160512_095

Nonton Musi Triboatton

Sungai Musi bisa disebut anugerah bagi masyarakat Provinsi Sumatera Selatan. Soal lebar dan kedalamannya, sungai sepanjang 700-an kilometer dengan hulu di Kabupaten Empat Lawang ini memang tak seberapa dibanding sungai-sungai yang pernah saya arungi di Kalimantan Timur  dan Kalimantan Utara. Tapi, justru di situlah terletak berkah, apalagi di pelesiran sedang nge-hits di seluruh dunia ini. Dan, Musi Triboatton menjadi satu event yang menarik dikembangkan.

Sekayu Waterfront merupakan wajah Sekayu, ibukota Kabuupaten Musi banyuasin. Di tempat inilah peserta lomba dayung MusiTriboatton2016 yang berasal dari berbagai negara, diberangkatkan menuju Palembang. Pada hari biasa, kita bisa berwisata di sini dengan naik perahu motor dengan tarif Rp 10 ribu per orang.

Sekayu Waterfront merupakan wajah Sekayu, ibukota Kabuupaten Musi banyuasin. Di tempat inilah peserta lomba dayung MusiTriboatton2016 yang berasal dari berbagai negara, diberangkatkan menuju Palembang. Pada hari biasa, kita bisa berwisata di sini dengan naik perahu motor dengan tarif Rp 10 ribu per orang.

Karena sungainya hanya sedalam enam hingga delapan meter, maka tak memungkinkan kapal-kapal besar memasuki pedalaman. Dengan demikian, bisa menjadi rem alamiah atas kerakusan manusia mengeksploitasi alam secara massif, yang lantas membawanya ke luar. Dengan eksplorasi skala sedang, maka masih memungkinkan terlibatnya masyarakat lokal (dengan modal kecil hingga sedang) dalam setiap mata rantai pengelolaan kekayaan alam.

Sisi menarik lainnya, tak seperti di Kalimantan Timur dan Kalimantan Utara yang tepian sungainya sepi penduduk, di Sumatera Selatan justru terdapat banyak konsentrasi penduduk. Oleh karena itu, gelaran olahraga air berskala regional/internasional perlu dikelola untuk mendatangkan berkah ikutan alias multiplier effects, khususnya dari segi ekonomi.

Kehadiran peserta lomba (dan para pendukungnya) dari daerah atau negara lain bisa diproyeksikan menjadi penutur potensi wisata, baik alam, seni-budaya, maupun sejarahnya. Apalagi jika dirunut ke belakang, Kerajaan Sriwijaya termasyhur hingga India, China, Persia, Arab, Kamboja dan sebagian negara ASEAN lainnya, akibat hubungan ekonomi dan budaya. Continue reading

ampera_20160510_224

Jalan-jalan ke Bumi Sriwijaya

Menyongsong Asian Games 2018, Palembang tampak terus berbenah. Kotanya tambah rapi, pembangunan infrastrukturnya  pun dipacu.  Taman pun terus dibangun sehingga bisa dijumpai di mana-mana. Sungguh perkembangan yang menggembirakan, menjadi jauh lebih indah dibanding 2013, ketika saya sempat tinggal di kota ini selama hampir dua bulan lamanya.

Pagoda di Pulau Kemaro, Palembang. Tiang listrik (dan kabelnya) merusak kenyamanan orang yang ingin menikmati indahnya pemandangan.

Pagoda di Pulau Kemaro, Palembang. Tiang listrik (dan kabelnya) merusak kenyamanan orang yang ingin menikmati indahnya pemandangan.

Palembang benar-benar tumbuh menjadi kota wisata. Daerah yang kaya ragam kulinernya, tempat-tempat bersejarah, hingga keragaman budayanya, termasuk produk-produknya. Sungguh memesona. (Terima kasih Kementerian Pariwisata yang telah memberi fasilitas jalan-jalan dan makan-makan gratis selama lima hari kepada sejumlah teman, termasuk saya).

Dulu, tiga tahun lalu, saya nyaris tidak sempat mencicipi kelebihan Kota Palembang. Jembatan Ampera pun hanya sekali saya nikmati pada malam hari, meski beberapa kali melintasi. Maka, giranglah saya ketika ditawari ikut jalan-jalan ke Palembang, apalagi mendengar ada rencana menikmati Sungai Musi, dalam arti berperahu di atasnya. Ternyata, saya baru tahu, Musi merupakan kali lebar yang sangat sibuk, dan menjadi urat nadi penentu kelangsungan kehidupan masyarakat, tidak hanya Palembang, namun juga kota/kabupaten lain di Sumatera Selatan, juga provinsi-provinsi lain. Continue reading