Si Tua Sahabat Pertamina

Usia tua tetap prima karena bersahabat dengan Pertamax Turbo-nya Pertamina.

Sepuluh tahun silam, saya jualan akselerator. Fungsinya untuk mengolah sedemikian rupa supaya komposisi senyawa kimia bahan bakar minyak jadi seimbang sehingga terjadi pembakaran sempurna. Tujuannya agar mesin menghasilkan tenaga yang optimal dan efisien. Efeknya, konsumsi BBM jadi irit. Untuk mobil berukuran silinder sedang (2000 cc) yang biasanya mengonsumsi seliter premium untuk 11 kilometer, bisa meningkat menjadi 13 kilometer dengan akselerator.

Satu faktor yang membuat orang yang semula tidak percaya hingga yakin membeli, adalah penggunaan alat yang pada akhirnya terbukti menghasilkan emisi gas buang yang ramah lingkungan. Saya berani jamin, ujung knalpot langsung mengeluarkan air hanya dalam waktu dua menit sejak mesin dihidupkan! Dan bisa dicek, saat menghirup hasil pembuangan di knalpot, mata tidak terasa pedih dan tidak menimbulkan bau emisi yang menyengat.

Ya, itu cerita masa lalu, ketika masih banyak dijumpai stasiun pengisian bahan bakar (SPBU) yang mengoplos premium dengan minyak tanah demi menambah keuntungan secara tidak sah. Mereka, para pengusaha jahat itu, tidak pernah memikirkan dampak buruk kerusakan mesin kendaraan bermotor, apalagi mikir kebersihan udara sebab minim polusi.

Kini, PT Pertamina sudah jauh lebih maju. Tak hanya mengontrol akurasi pengukuran penjualan dengan sertifikasi “Pasti Pas” pada setiap SPBU, layanan kepada konsumen dengan mengeluarkan produk baru Pertalite dengan RON lebih tinggi (90) dari premium (RON 88) memberikan keuntungan lebih banyak kepada konsumen.

Sekali-kali, sombong itu perlu! Perhatikan warnanya saja.

Dengan menggunakan bahan bakar berkadar oktan lebih tinggi, performa mesin jelas lebih cakep, lebih bertenaga akibat pembakaran lebih sempurna dan efisien bahan bakar. Sayang, banyak orang lebih suka melihat mahal-murahnya harga, misalnya premium yang Rp 6.550 dibanding Pertalite seharga Rp 7.250 per liter, apalagi Pertamax (RON 92) dengan harga Rp 8.250 per liternya.

Pengalaman saya, mendingan menggunakan Pertamax atau Pertamax Turbo (RON 98) meski harganya lebih mahal. Kalau diukur dengan menggunakan jarak, seliter premium paling terpakai 11-12 kilometer sedang dengan Pertamax bisa menjangkau minimal dua kilometer lebih jauh. Kesannya mahal, padahal efeknya panjang. Selain busi tidak mudah berkerak, karburator pun akan selalu terjaga kebersihannya, sehingga tidak boros uang karena jarang datang ke bengkel untuk perawatan mesin.

Odong-odong saya, meski sudah berusia lanjut (keluaran 1996), karena saya kasih minum Pertamax dan kadang-kadang saya manjakan dengan Pertamax Turbo, ia masih setia mengantar saya kulakan dan mengirim blontea, dan kuat saya ajak jalan-jalan naik lereng Gunung Sindoro (3.150 mdpl) lewat Wonosobo. Kalau cuma seputaran Tawangmangu atau lereng Lawu dan sekitaran Merapi-Merbabu, sih, Mazda Vantrend saya sudah biasa.

Kilometer pemakaian Fastron lebih panjang dibanding Prima XP. Seolah mahal, padahal jatuhnya masih hemat juga.

Tak hanya faktor bahan bakar saja yang producted by Pertamina untuk Si Odong-odong Tua. Oli mesin pun saya gunakan Fastron semisintetis (SAE 10/40). Kebetulan, saya orangnya malas memanaskan mesin setiap pagi. Maunya, kata orang Solo, yang ‘pancal mubal’ alias langsung jalan saja. Karakter pelumas yang satu ini, lumayan tahan panas dan sanggup bekerja saat mesin sedari dingin. Pingin sih menjajal yang lebih bagus dari Fastron warna hijau itu, tapi sayang masih sulit mendapatkannya di Solo, baik di SPBU-SPBU maupun di supermarket.

Ihwal perkenalan dengan Fastron, pun dikasih tahu oleh bengkel langganan, ketika saya melakukan perawatan pertama sepeda motor yang saya beli pada 2005. Sejak disarankan menggunakan pelumas produksi Pertamina, saya pun tidak pernah mengambil jatah fasilitas gratis penggantian oli dengan merek yang direkomendasikan pabrikan Yamaha untuk Vega saya.

“Jangan gunakan merek apapun, termasuk yang disebut hebat di luar negeri. Di pasaran ada banyak merek minyak pelumas, padahal cuma mengganti nama dan kemasan saja. Belinya juga dari Pertamina,” ujar mekanik dan pemilik usaha perawatan sepeda motor di Solo bagian barat itu. Saya pun percaya. Reputasi sang pemberi rekomendasi adalah ahli modifikasi mesin sepeda motor, yang sejak pertengahan 1980-an sudah jadi langganan pembalap-pembalap jalanan di Kota Solo itu.

Jadi, reputasi Pertamina dengan produk-produknya yang berkualitas itulah yang membuat saya setia menggunakan bahan bakar dan minyak pelumasnya hingga kini. Nyatanya, dua kendaraan bermotor yang saya punya, sampai sekarang masih halus mesinnya dan tak pernah ngadat, apalagi menyengsarakan di tengah sebuah perjalanan karena masalah mesin. Sekali pun, belum pernah saya alami! Itu alasan pertama.

Alasan kedua-nya, saya ingin berkontribusi langsung ke Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang satu ini agar kian kaya. Jika kita,  rakyat Indonesia bangga menggunakan produksi Pertamina, insya Allah, program satu harga di seluruh penjuru Nusantara akan berjalan selamanya. Dengan begitu, semua orang akan merasakan manfaatnya. Sebagai bangsa besar, kita harus makin malu jika Pertamina tak bisa mengungguli Petronas, perusahaan milik Pemerintah Malaysia yang dulu belajar pada Pertamina.

(Lupakan masa lalunya yang pernah ramai oleh kasus-kasus korupsi dan skandalnya. Semakin hari, toh Pertamina kian meningkat akuntabilitasnya, dan keuntungan besarnya juga kembali digunakan untuk membangun dan menyejahterakan rakyat Indonesia).

Tak kalah pentingnya, ketiga, adalah komitmen PT Pertamina dalam menjaga langit Indonesia agar tetap biru selalu akibat minimnya emisi atau timbal yang terbang ke udara, karena produk-produknya yang makin ramah lingkungan. Inovasi teknologinya demi menghasilkan bahan bakar beroktan tinggi,  tentu harus kita apresiasi dan didukung dengan cara menggunakan produk-produknya.

Biar mobil tua, yang penting perawatannya supaya tetap selalu prima.

Jangan mengaku Generasi Langit Biru jika sikap dan perlakuanmu terhadap mesin kendaraanmu masih mengabaikan kesegaran udara Nusantara demi gemilang masa depan anak-cucu! Sia-sia touring-mu jika tak mampu menjadikanmu sebagai pendukung militan #GenLangitBiru

 

Kewajiban Revolusi Mental Pendukung Jokowi

Tulisan ini dibuat dua bulan sebelum dipublikasikan. Saya unggah setelah melihat konsistensi seorang Jokowi dalam memaknai kekuasaan, dan memanfaatkannya untuk melakukan perubahan. Desakralisasi upacara peringatan hari kemerdekaan adalah contoh nyata, selain sikap dan perilaku kesehariannya.

Pada penghujung ramadan 2017, linimasa semua media sosial diramaikan dengan pamer pamer pujian, baik oleh para pendukung militan dan simpatisan Presiden Jokowi. Sebagian mengungkapkan tidak adanya aksi sweeping terhadap restoran dan rumah makan hingga tempat-tempat hiburan, oleh kelompok yang mengatasnamakan umat Islam. Sebagian lainnya menyebut kelancaran arus mudik, dengan bumbu sindiran kepada para ‘pembenci’ Jokowi yang kehabisan amunisi untuk mem-bully.

Sebagai pendukung Jokowi, saya risih dengan narasi-narasi sinikal yang sangat mudah kita dapati di layar gawai pribadi. Meski bisa mengerti kenapa itu bisa terjadi, namun yang demikian sejatinya menjadi bukti bahwa banyak di antara kita sudah kehilangan sikap rendah hati. Continue reading

Jangan Biarkan Indonesia Bubar

Surat Terbuka untuk Presiden Jokowi

Sugeng dalu, selamat malam, Pak Jokowi.

Saya mau matur, saat ini saya sangat lelah mengikuti perdebatan sekolah lima hari yang digagas dan dibuatkan peraturannya oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Muhajir Effendi. Hampir seluruh elemen Nahdlatul Ulama, apalagi para pengasuh pondok-pondok pesantren, pun menyuarakan penolakan. Madrasah diniyyah yang sudah ada sejak jauh sebelum Indonesia merdeka, tiba-tiba akan kena imbas kebijakan tersebut.

Jika kebijakan tersebut dalam rangka pembentukan karakter bangsa, kira-kira karakter seperti apa yang bakal muncul, jika kita dapati anak-anak PAUD dan TK ‘Islam moderen’ sudah fasih bicara ‘merokok itu haram’?

Ini bukan karena saya perokok dan mayoritas orang NU, santri dan kiai-kiainya banyak yang merokok. Bukan! Tak sedikit, kok, kiai dan santri NU yang meyakini merokok itu hukumnya makruh. Meski Allah dengan kun fayakun-Nya bisa membuat anak-anak PAUD dan TK kita menjadi cerdas secara nalar dan emosional secara mendadak, tapi saya lebih percaya kalimat ‘merokok itu haram’ adalah buah pendidikan guru-guru di sekolahnya, entah dia guru agama atau bukan. Continue reading

Menyoal Full Day School

Seorang keponakan baru lulus sekolah dasar. Ketika mendengar orangtuanya akan menyekolahkan lelaki sulungnya ke pondok pesantren, yang saya pesankan hanya satu: carikan pondok yang masih mengajari santrinya dengan sholawatan, tahlilan, yasinan dan sejenisnya. “Supaya setelah mondok, anakmu tidak melupakan orangtuanya!” pesan saya.

Dalam keyakinan saya, selama masih ada tahlilan dan sejenisnya, keponakanku pasti akan mencintai negeri ini. Nilai-nilai Pancasila pasti akan mewujud dalam perilaku kesehariannya, dan bisa dipastikan pula akan terjauhkan dari radikalisme dan pandangan sempit yang merasa diri dan kelompoknyalah yang paling benar.

Ya, sifat dan sikap merasa benar itulah yang belakangan sangat menghantui pikiran saya, juga jutaan bangsa Indonesia. Sungguh menyedihkan ketika teman-teman saya yang tinggal di kota, apalagi kota besar, mengeluhkan kian banyaknya anak-anak TK dan SD sudah fasih mengafir-kafirkan temannya sendiri karena berbeda agama. Lebih miris lagi, ketika beredar video, sebuah pawai anak-anak di Jakarta, yang meneriakkan kalimat-kalimat ‘bunuh Ahok’ dengan lantang berulang-ulang. Continue reading

ABU 96

Sumber: Infografis Tirto.id

Sumber: Infografis Tirto.id

Kalah jadi abu, menang jadi arang. Begitu peribahasa yang saya dapat sejak duduk di bangku sekolah dasar, yang maknanya kurang-lebih tidak ada gunanya bertarung, berperang atau bermusuhan satu sama lain.

Tapi, makna peribahasa itu bisa saja dimaknai berbeda dengan Rizieq Shihab dan para pengikutnya, yang hobi banget mengobarkan permusuhan kepada siapapun. Semua hal bisa dijadikan musabab. Entah orang hendak membangun gereja, bisnis tempat hiburan hingga warung makan buka siang hari di bulan Ramadhan.

Atas nama penegakan ketertiban dan menjaga keimanan sebagian orang, FPI dan kawan-kawan tak segan menggasak warung, tak peduli pemiliknya tua renta dan bermodal pas-pasan. Apalagi diskotik atau tempat hiburan malam yang dikelola dengan modal berlebih, tentu jauh lebih menggoda syahwat mereka dalam membentengi moral umat.

***

Saya sungguh gembira ketika Aksi Bela Ulama 9 Juni berakhir sepi. Jangankan 500 ribu seperti yang mereka teriakkan sebelumnya, bahkan seribu pun tak sampai. Continue reading