Peng-GusDur-an Jokowi yang Gagal

Insiden rusuh politik menyusul ‘Aksi Damai’, Jumat (4/11) malam bukanlah semata-mata demi menuntut keadilan (meski samar) terhadap tuduhan penistaan agama terhadap Ahok. Lebih dari itu, target utamanya adalah penurunan Jokowi dari kursi kepresidenan. Hingga detik ini, tak ada satupun alasan yang bisa diterima akal manusia waras, alasan penjatuhan Jokowi. Adakah pelanggaran konstitusi yang dilakukan Jokowi?

Jika pokok soalnya adalah tidak terimanya sebagian orang yang merasa sebagai tokoh Islam dan panutan muslim atas tuduhan bahwa Ahok melecehkan firman Tuhan pada Surat Al Maidah ayat 51, kenapa mereka tidak merunut kebenaran ucapan Ahok? Simak baik-baik, reaksi keras bermunculan setelah beredar video editan dan transkrip tak utuh yang diunggah Buni Yani di laman Facebook-nya.

Jika tidak ada udang di balik rempeyek, politisasi murahan semacam itu tak akan terjadi. Bahkan seorang doktor lulusan IPB, yang sidang promosinya dilakukaan saat yang bersangkutan menjabat Presiden, pun menampakkan rasa gerahnya dan geramnya lewat sebuah konperensi pers di kediamannya. Maaf jika saya harus berburuk sangka kepada sang doktor, yang menurut hemat saya bukanlah orang berotak cetek. Continue reading

Siapa Rindu Pamantyo?

Senin, 17 Oktober, merupakan hari yang menggembirakan bagi saya.  Bersama Kang Lantip, saya sengaja mampir ke kantor Beritagar untuk menjumpai senior dan tokoh yang dikagumi para blogger Indonesia, Pamantyo! Ya, hari itu, kami sengaja ke ibukota republik dalam rangka rapat penjurian lomba blogging KitaIndonesia, di mana Kang Lantip merupakan salah satu anggota dewan juri.

(kiri-kanan) Iqbal Gembul Prakasa, Lantip, Pamantyo, saya, Mas Didi Nugrahadi. Difoto oleh Cho-Ro pakai kamera Lumia saya :)

(kiri-kanan) Iqbal Gembul Prakasa, Lantip, Pamantyo, saya, Mas Didi Nugrahadi. Difoto oleh Cho-Ro pakai kamera Lumia saya :)

Kami senang karena Pamantyo terlihat sangat bugar dan gembira bertemu kami, teman lama yang suka bercanda dan ngobrol dengan bahasa Jawa semaunya. Dan itu merupakan kesukaan Sang Paman, ketemu kami-kami, orang desa. Sayang sekali, kami tidak membawa oleh-oleh kesukaan Pamantyo, semisal singkong, pepaya, kelapa muda dan buah-buahan lain yang bisa didapat di kebun kami, di desa. Bukan apa-apa. Oleh XL, sponsor  lomba blogging, kami dipaksa naik Garuda sehingga kami agak gengsi membawanya (sebab maunya masuk kabin, biar tidak rusak terbentur-bentur jika ditaruh di lambung pesawat). Continue reading

Juri Boleh Iri

Meski belum pernah bisa nulis bagus, saya punya banyak pengalaman penjurian lomba blogging. Di antaranya, beberapa kali menjadi anggota dewan juri Internet Sehat Blogging Award (ISBA) untuk memilih sejumlah blog terbaik Indonesia. Lalu, penjurian bertema antikorupsi yang diselenggarakan Transparency International Indonesia semasa dipimpin Kang Teten Masduki, dan beberapa lainnya.

Dalam setahun terakhir, sudah tiga lomba (dan akan menjadi lima hingga akhir tahun) dimana saya ikut serta sebagai tim yang membuat penilaian. Rasanya makin iri saja melihat kian banyak tulisan bagus bertebaran, dengan penulis beragam latar belakang. Ada pelajar (bahkan masih SMP), pengusaha, ibu rumah tangga, blogger kawakan, guru, petani, dan masih banyak lagi.

Tak hanya tema wisata yang kebanjiran peminat, pada tema-tema serius (antikorupsi, difabilitas) pun berjubelan pendaftar. Dan, satu hal yang menurut saya unik, blogger yang sudah lama malang-melintang dalam berbagai kopdar dan komunitas, malah sangat sedikit saya jumpai. Saya tidak tahu lagi ke mana mereka, meski sebagian masih sering ‘berjumpa’ karena sama-sama ‘aktivis’ linimasa media sosial seperti Twitter atau Instagram. Continue reading

Catatan Sebuah Lomba Blog

Pertengahan Oktober 2016 merupakan masa menggembirakan. Lomba blog yang kami selenggarakan kebanjiran peserta, hingga tiga juri (Wisnu Nugroho, Donny BU dan Rony Lantip) pening kepala. Hingga sepekan menjelang penutupan, sudah ada 150 postingan yang harus dinilai. Semula, kami mengira hanya akan ada 200 peserta hingga lomba ditutup. Dan, itu merupakan target optimis kami, dengan asumsi orang sudah pada meninggalkan blogging karena ada Twitter, Facebook dan sejenisnya.

kitaindonesia_logoSebagai penyelenggara, saya terbelalak ketika jumlah yang masuk melebihi 420, meski setelah disortir tinggal 369 postingan yang harus dinilai! Rupanya saya terburu-buru membuat prediksi. Blogging masih ramai. Tak hanya di Jawa. Bahkan, dari berbagai penjuru negeri, yang konon kecepatan akses internetnya terbatas dan lebih mahal, tulisan-tulisan bagus didaftarkan. Dari Papua, Ogan Komering di Sumatera Selatan, dari pedalaman Riau, Sulawesi, dan masih banyak lagi. Continue reading

Andai Aku Bos Rokok Kretek

rokok_WP_20160806_001

Seandainya aku jadi bos, pemilik pabrik rokok kretek seperti Djarum atau Gudang Garam, aku tak akan banyak kata untuk melawan gerakan Michael R. Bloomberg. Sebagian kekayaanku akan kupakai untuk membangun restoran-restoran nyaman di semua bandara dan stasiun kereta, terutama Bandara Soekarno-Hatta. Aku bangun restoran/kafetaria dengan fasilitas yang membuat nyaman para perokok, dengan sirkulasi udara yang tidak mengakibatkan mata merah karena asap.

Di berbagai sisi akan kupajang foto Michael Bloomberg yang menggelontorkan dana buat organisasi seperti PP Muhammadiyah, Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) untuk menjadi juru bicara antikretek di Indonesia. Selain Bloomberg, kupajang besar-besar foto banyak orang seperti Ignasius Jonan, lengkap dengan keterangan sepak terjangnya yang sudah sok-sokan mengharamkan merokok di stasiun, bandara dan fasilitas umum lainnya.

Dua wajah pengganggu perokok inilah yang harus dipampang besar-besar di semua sudut ruangan.

Dua wajah pengganggu perokok inilah yang harus dipampang besar-besar di semua sudut ruangan.

Wajah Tulus Abadi pun akan kupajang di tempat paling mencolok. Selain keterangan sepak terjangnya menyerang peredaran rokok dan perokok, juga ditampilkan kutipan-kutipan pernyataannya. Rakyat harus tahu.

Di restoran/kafetaria itu akan kujajakan menu-menu kuliner Nusantara, kubayar mahal chef dengan spesialisasi masakan-masakan tertentu. Yang penting semua masakan, kudapan dan minuman khas masyarakat dari Sabang sampai Merauke tersedia, dengan harga terjangkau. Sofa dan tempat-tempat duduk ergonomis menjadi prioritas, agar setiap asap yang mengepul benar-benar terasa nikmat.

Amati baik-baik: pemilik pabrik-pabrik rokok putih inilah yang sangat berkepentingan rokok kretek hancur, lalu pasarnya mereka kuasai. Begitulah watak kapitalisme global. Asal jangan lupa saja, asal perusahaan rokok putih itu dari Amerika dan Inggris. Kedua negara itu melakukan proteksi perdagangan tembakau, dan memberi subsidi petani tembakaunya. Jahat apa baik hati, mereka?

Amati baik-baik: pemilik pabrik-pabrik rokok putih inilah yang sangat berkepentingan rokok kretek hancur, lalu pasarnya mereka kuasai. Begitulah watak kapitalisme global. Asal jangan lupa saja, asal perusahaan rokok putih itu dari Amerika dan Inggris. Kedua negara itu melakukan proteksi perdagangan tembakau, dan memberi subsidi petani tembakaunya. Jahat apa baik hati, mereka?

Waiter/waitress juga akan kupilih yang terbaik, santun, tahu tata krama dan menguasai banyak bahasa daerah di Indonesia. Tentu saja, mereka akan kugaji tinggi, kalau perlu melebihi gaji resmi bulanan Tulus Abadi, atau beberapa ratus ribu lebih tinggi dari uang pensiunan menteri Jonan. Semua itu sebagai bentuk penghargaan atas pelayanan terbaik mereka kepada para perokok kretek, yang telah ikut membayar cukai dan pajak, sehingga pembangunan Republik Indonesia terus berjalan.

Tanpa perokok yang baik-baik itu,  bukan tidak mungkin banyak petani gulung tikar, menjadi miskin dan melahirkan generasi-generasi tak berpendidikan, sehingga kelak menjadi beban negara, juga para presiden, gubernur, bupati/walikota, yang mau tidak mau harus menjalankan amanat konstitusi seperti termaktub dalam Pasal 34 Undang-undang Dasar Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Di setiap restoran/kafetaria itu, tentu saja akan disediakan ruang terbuka, yang semilir anginnya bisa dinikmati oleh semua orang yang selama ini antirokok dan antiperokok demi menjaga kesehatan mereka. Ruangannya tak perlu berpengatur suhu ruangan, dengan meja dan bangku-bangku besi berbentuk memanjang. Luas ruangannya, tentu saja cukup lima persen saja dari total ruangan yang ada.

Khusus ruangan untuk kaum antirokok, akan saya pampang juga foto-foto para tokoh antirokok, termasuk para menteri kesehatan, juga nama-nama perusahaan farmasi, baik nasional maupun multinasional, lengkap dengan data angka keuntungan usaha mereka dengan cara menakut-nakuti banyak orang akan bahaya tembakau dan produk turunannya.

Gambar-gambar ini cocok dipasang di ruangan tempat kaum antirokok menikmati makan/minum mereka. Biar turut bisa merasakan....

Gambar-gambar ini cocok dipasang di ruangan tempat kaum antirokok menikmati makan/minum mereka. Biar turut bisa merasakan….

Tentu, foto-foto horor seperti jerohan manusia yang selama ini dipaksakan dicetak menonjol di kemasan rokok kretek, akan kupampang mencolok, supaya mereka bisa merasakan nikmatnya menyantap makanan Nusantara yang lezat-lezat sembari membayangkan jerohan manusia.

Sebagai orang yang sudah kaya karena tembakau, tentu saja niatku membangun restoran-restoran nyaman di setiap bandara sebagai wujud terima kasih kepada Tuhan, yang telah membuatku mampu bertahan mengelola badan usaha, menjadi kaya raya, dan kebingungan mencari cara menghabiskan kekayaan yang tak kunjung berkurang, meski sudah dipotong beraneka macam jenis pajak.

Perhatikan baik-baik. Itu gambar rokok putih. Rokok putih bikinan barat itulah yang merusak. Filternya bikin orang terpapar racun. Makanya gampang modar kalau mengonsumsi rokok putih yang tembakaunya gak jelas itu.

Perhatikan baik-baik. Itu gambar rokok putih. Rokok putih bikinan barat itulah yang merusak. Filternya bikin orang terpapar racun. Makanya gampang modar kalau mengonsumsi rokok putih yang tembakaunya gak jelas itu.

Tolong beritahu aku, dimana bandara/stasiun/terminal di Indonesia yang sudah menyengsarakan para perokok! Akan kusewa, jika perlu kubeli sebanyak mungkin ruangan. Jangan kuatir dengan saya. Cukup kuatirkan saja bos Djarum, Gudang Garam dan pemilik pabrik-pabrik rokok lainnya, yang tak kunjung cerdas melawan Bloomberg, dan repot-repot melobi kanan-kiri agar sukses memproduksi dan memasarkan produk-produk mereka.

PERINGATAN: Hormati orang yang tidak merokok! Jangan merokok di dekat bayi/kanak-kanak, ibu hamil, dan di tempat-tempat umum.

Tapi jangan segan melawan orang-orang sok suci, yang menyudutkan dan berlaku diskriminatif terhadap perokok, apalagi jika berdalih HAM padahal hidupnya disokong oleh funding agency.