Menyoal Full Day School

Seorang keponakan baru lulus sekolah dasar. Ketika mendengar orangtuanya akan menyekolahkan lelaki sulungnya ke pondok pesantren, yang saya pesankan hanya satu: carikan pondok yang masih mengajari santrinya dengan sholawatan, tahlilan, yasinan dan sejenisnya. “Supaya setelah mondok, anakmu tidak melupakan orangtuanya!” pesan saya.

Dalam keyakinan saya, selama masih ada tahlilan dan sejenisnya, keponakanku pasti akan mencintai negeri ini. Nilai-nilai Pancasila pasti akan mewujud dalam perilaku kesehariannya, dan bisa dipastikan pula akan terjauhkan dari radikalisme dan pandangan sempit yang merasa diri dan kelompoknyalah yang paling benar.

Ya, sifat dan sikap merasa benar itulah yang belakangan sangat menghantui pikiran saya, juga jutaan bangsa Indonesia. Sungguh menyedihkan ketika teman-teman saya yang tinggal di kota, apalagi kota besar, mengeluhkan kian banyaknya anak-anak TK dan SD sudah fasih mengafir-kafirkan temannya sendiri karena berbeda agama. Lebih miris lagi, ketika beredar video, sebuah pawai anak-anak di Jakarta, yang meneriakkan kalimat-kalimat ‘bunuh Ahok’ dengan lantang berulang-ulang. Continue reading

ABU 96

Sumber: Infografis Tirto.id

Sumber: Infografis Tirto.id

Kalah jadi abu, menang jadi arang. Begitu peribahasa yang saya dapat sejak duduk di bangku sekolah dasar, yang maknanya kurang-lebih tidak ada gunanya bertarung, berperang atau bermusuhan satu sama lain.

Tapi, makna peribahasa itu bisa saja dimaknai berbeda dengan Rizieq Shihab dan para pengikutnya, yang hobi banget mengobarkan permusuhan kepada siapapun. Semua hal bisa dijadikan musabab. Entah orang hendak membangun gereja, bisnis tempat hiburan hingga warung makan buka siang hari di bulan Ramadhan.

Atas nama penegakan ketertiban dan menjaga keimanan sebagian orang, FPI dan kawan-kawan tak segan menggasak warung, tak peduli pemiliknya tua renta dan bermodal pas-pasan. Apalagi diskotik atau tempat hiburan malam yang dikelola dengan modal berlebih, tentu jauh lebih menggoda syahwat mereka dalam membentengi moral umat.

***

Saya sungguh gembira ketika Aksi Bela Ulama 9 Juni berakhir sepi. Jangankan 500 ribu seperti yang mereka teriakkan sebelumnya, bahkan seribu pun tak sampai. Continue reading

Antara Afi, Amien, dan Anies…

(tulisan ini sejatinya untuk status di Facebook)

afi-detikcom

https://news.detik.com/berita/d-3519093/afi-nihaya-im-sorry-im-not-perfect

Andai kontroversi tulisan berjudul “Warisan” pada status Fesbuk Afi terjadi kira-kira sepekan menjelang putaran kedua Pemilihan Gubernur DKI, saya menduga Zara Zettira, Fahira Idris, Marissa Haque, hingga Anies Baswedan dan Profesor Amien Rais kok bakal ikut-ikutan berkomentar.

Tak hanya penulis-penulis blog dan media sosial, wartawan media mainstream pun seperti tak jemu-jemunya memberitakan Afi, pendukung dan penentangnya.

Terlepas dari perdebatan setuju atau menentang orisinalitas pikiran yang ditulis sebagai status perempuan muda bernama Asa Firda Inayah itu, kita bisa ‘menakar’ kelebihannya jika kita menyimak jawaban-jawaban yang dilontarkannya saat wawancara sejumlah stasiun televisi (seperti KompasTV dan MetroTV) yang disiarkan secara langsung. Continue reading

Ingatan tentang Pancasila

Hari ini, bangsa Indonesia diingatkan kembali tentang perlunya menghayati dan mengamalkan lima sila dalam Pancasila sebagai dasar negara. Dan, kita mesti berterima kasih kepada orang-orang seperti Rizieq Shihab, Bachtiar Nasir, Alfian Tanjung, Munarman, Eggi Sudjana, Kivlan Zein, Wiranto dan sederet nama populer di Republik Indonesia.

http://suarapesantren.net/2017/06/01/pesan-pancasila-era-walisongo/

http://suarapesantren.net/2017/06/01/pesan-pancasila-era-walisongo/

Tanpa mereka, saya jamin tak pernah ada gerakan pamer tagar #SayaIndonesia #SayaPancasila dan kampanye sejenisnya. Mereka yang usianya sudah melewati remaja pada 1998, pasti ingat hubungan Jenderal Purnawirawan Wiranto dengan orang-orang Rizieq Shihab, juga pasti mengerti apa itu Pam Swakarsa.

Dan, orang-orang yang sudah dewasa secara akal dan referensi politiknya pada menjelang reformasi, pasti paham bagaimana tokoh-tokoh Islam pada masa Orde Baru sangat diawasi, dikontrol, ditekan oleh ABRI (terutama Angkatan Darat). Bahkan bagi kelompok Islam yang dianggap ‘ngelunjak’, tak jarang segera dibereskan seperti ditunjukkan melalui peristiwa Priok (Jakarta), Talangsari (Lampung) atau operasi dukun santet di wilayah tapal kuda di Pulau Jawa.   *Alhamdulillah banget, kan, Islam dan tentara bisa bersahabat sedemikian rupa sejak Pam Swakarsa, padahal sebelumnya lebih mirip hubungan Tom & Jerry???* Continue reading

Peng-GusDur-an Jokowi yang Gagal

Insiden rusuh politik menyusul ‘Aksi Damai’, Jumat (4/11) malam bukanlah semata-mata demi menuntut keadilan (meski samar) terhadap tuduhan penistaan agama terhadap Ahok. Lebih dari itu, target utamanya adalah penurunan Jokowi dari kursi kepresidenan. Hingga detik ini, tak ada satupun alasan yang bisa diterima akal manusia waras, alasan penjatuhan Jokowi. Adakah pelanggaran konstitusi yang dilakukan Jokowi?

Jika pokok soalnya adalah tidak terimanya sebagian orang yang merasa sebagai tokoh Islam dan panutan muslim atas tuduhan bahwa Ahok melecehkan firman Tuhan pada Surat Al Maidah ayat 51, kenapa mereka tidak merunut kebenaran ucapan Ahok? Simak baik-baik, reaksi keras bermunculan setelah beredar video editan dan transkrip tak utuh yang diunggah Buni Yani di laman Facebook-nya.

Jika tidak ada udang di balik rempeyek, politisasi murahan semacam itu tak akan terjadi. Bahkan seorang doktor lulusan IPB, yang sidang promosinya dilakukaan saat yang bersangkutan menjabat Presiden, pun menampakkan rasa gerahnya dan geramnya lewat sebuah konperensi pers di kediamannya. Maaf jika saya harus berburuk sangka kepada sang doktor, yang menurut hemat saya bukanlah orang berotak cetek. Continue reading