Uneg-uneg tentang Ahok

Pilihan kendaraan Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok untuk maju kembali dalam pemilihan Gubernur DKI menarik buat tebak-tebakan. Akan mencalonkan melalui jalur perseorangan? Atau lewat partai politik, ketika Partai Nasdem, Hanura disusul Golkar menyatakan dukungannya, di mana perolehan kursi akibat bergabungnya tiga partai itu memenuhi syarat minimal pencalonan. Di persimpangan sinilah letak pertaruhan nama baik dan masa depan Ahok.

Ilustrasi: Dzofar (dzofar.com)

Ilustrasi: Dzofar (dzofar.com)

Jika memilih jalur perseorangan, maka nilai seorang Ahok akan meninggi, mengingat sikap tanpa kompromi terhadap partai politik yang selama ini sudah ditunjukkannya, bertemu dengan kekecewaan publik terhadap banyaknya kader dan tokoh partai politik terbukti tersangkut perkara hukum yang memalukan. Ada yang video mesumnya beredar luas, ada yang tertangkap tangan karena transaksi suap, hingga vonis penjara dan denda kasus korupsi dan gratifikasi.

Apa yang dilakukan TemanAhok ‘hanyalah’ terobosan kreatif anak-anak muda yang mulai muak dengan praktik politik transaksional alias dagang sapi. Andai publik tidak mengamini, dalam arti turut merasakan kemuakannya, tak mungkin sejuta lebih warga DKI Jakarta mau menyerahkan fotokopi KTP-nya sebagai bentuk dukungan nyata. Sehebat apapun pengorganisasian TemanAhok, juga tak bakal berhasil, jika tidak dipertemukan oleh keprihatinan yang sama. Kesediaan mendukung adalah protes perlawanan politik yang nyata.

Dalam hemat saya, hanya ‘kader-kader Golkar’-lah yang memiliki kelenturan bersiasat politik. Partai NasDem yang paling awal menyatakan dukungan, didirikan dan dikontrol penuh oleh seorang Surya Paloh yang tak lain adalah kader Golkar. Begitu pula Hanura yang dikendalikan sepenuhnya oleh Jenderal (Purn.) Wiranto. Golkar? Sudah sangat jelas! Continue reading

Menjauhkan Polisi dari FPI

Ketika Presiden Jokowi mengajukan nama Komjen Tito Karnavian sebagai calon tunggal Kapolri mendatang, saya merasa lega. Ia seorang perwira polisi dengan karir cemerlang, pengalaman segudang dan deretan prestasi yang membuat orang tercengang. Matang di detasemen khusus antiteror dan doktor dengan kajian khusus terorisme dan radikalisasi Islam, diharapkan bisa mewujudkan Indonesia sebagai negara demokrasi dengan hukum yang tegak.

Ilustrasi: NN

Ilustrasi: NN

Saya yakin, penunjukan itu bukan tanpa alasan. Sebagai jenderal muda, justru Tito akan punya waktu panjang menjadi pengendali kepolisian. Jika diasumsikan menjabat Kapolri hingga pensiun, ia punya waktu enam tahun untuk melakukan pembenahan institusi dan personil. Asal tahu saja, banyak perwira-perwira muda di kepolisian yang prihatin dengan nama buruk korps akibat ulah segeintir oknum.

Saya pernah punya kenalan polisi (mungkin sekarang sudah brigjen), yang semasa kuliah di PTIK, konon membuat skripsi tentang praktik sogok-menyogok untuk kenaikan pangkat dan memperoleh jabatan. Data-data semacam itu, saya kira sangat banyak di lembaga pendidikan kepolisian, namun tersimpan di almari sebagai arsip karya tulis. Hanya orang-orang dengan profesionalisme seperti Tito-lah yang mau membacanya, meski ia pun tahu itu bukan rahasia lagi di kalangan mereka. Continue reading

garuda_20150705_030

Pertimbangan Memilih Maskapai Penerbangan

Berita pembatalan sanksi kepada Lion Air (dan Air Asia) akibat kesalahan membawa penumpang terminal kedatangan luar negeri ke jalur domestik, sudah saya duga sebelumnya. Mau dibilang prasangka atau pendapat mengada-ada, silakan. Silakan pula menyimak ‘kemesraan’ Direktorat Perhubungan Udara dengan Lion Air, yang berulang kali menyodorkan fakta, tak pernah ada sanksi yang membuat Lioan Air jera lalu berbenah memanjakan konsumennya.

Jika Anda mengeluh tidak bisa melihat foto di atas dengan jelas, percayalah, permasalahan bukan pada mata Anda. Lion Air memang susah dilihat dengan mata telanjang semata.

Jika Anda mengeluh tidak bisa melihat foto di atas dengan jelas, percayalah, permasalahan bukan pada mata Anda. Lion Air memang susah dilihat dengan mata telanjang semata.

Semula, saya mengira di bawah Ignasius Jonan, Kementerian Perhubungan akan tegas seperti citra yang dibuatnya selama ini. Juga, harapan kepada Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) untuk bersikap keras (termasuk melakukan upaya hukum) menekan manajemen Lion Air memenuhi ‘hak dasar’ konsumen atas jasa penerbangan akan ketepatan jadwal keberangkatan. Tapi, ya saya maklum. Jonan dan orang YLKI hanya bisa bersuara keras melawan rokok. Itulah ‘spesialisasi’ mereka.

Tulisan di bawah ini sudah disiapkan dua hari sebelum pernyataan resmi pembatalan sanksi terhadap Lion Air (dan Air Asia) oleh Kementerian Perhubungan. Continue reading

Menyaksikan Al Quran Raksasa

Baru sekali saya menyaksikan Al Quran berukuran raksasa. Rangkaian huruf diukir pada sebuah kayu, ditata bertingkat dan berlapis-lapis, pada sebuah rumah berdekatan dengan pondok pesantren. Banyak tokoh Islam dunia pernah mengunjungi museum, kendati lokasinya agak di pinggiran Kota Palembang.

quran_palembang_20160511_026Saat mengunjungi museum itu, awal Mei, saya tak punya gambaran sama sekali penyajian karya seni itu. Saat memasuki ruangan, pun saya belum ngeh. Sekilas, yang saya lihat hanyalah tembok kayu terdiri dari susunan jendela bertingkat hingga setinggi 20-an meter. Ketika ada beberapa orang membuka ‘jendela’ di baris atas, barulah saya paham, rupanya itulah yang disebut Al Quran berukuran raksasa. Continue reading

triboatton_20160512_095

Manfaat Inflight Magazine dalam Promosi Wisata

Puas jalan-jalan selama lima hari di Palembang dan Musi Banyuasin, saya pulang ke Solo naik Nam Air ke Jakarta, lalu disambung dengan Sriwijaya Air turun Yogyakarta. Ya, saya tidak memilih penerbangan ke Solo karena masih ingn berbarengan dengan idola kaum muda Indonesia, Agus Mulyadi alias Gus Mul. Jalan-jalan yang asik: dolan, mangan, turu, dolan maneh! Jalan-jalan, makan, tidur, jalan-jalan lagi.

Sayang sekali ii majalah Sriwijaya Air edisi Mei 2016 ini tak ada informasi mengenai event Musi Triboatton 2016. Event-event lain pun kurang memperoleh ulasan memadai. Sebaiknya sih, minimal diberi ruang minimal dua halaman agar informasi wisata benar-benar menggelitik orang untuk datang berkunjung.

Sayang sekali ii majalah Sriwijaya Air edisi Mei 2016 ini tak ada informasi mengenai event Musi Triboatton 2016. Event-event lain pun kurang memperoleh ulasan memadai. Sebaiknya sih, minimal diberi ruang minimal dua halaman agar informasi wisata benar-benar menggelitik orang untuk datang berkunjung.

Kapan lagi bisa piknik seenak itu kalau tidak mencicipi duit APBN… Ya, benar-benar duit APBN karena kami memang di-hire Kementerian Pariwisata untuk membantu promosi wisata Indonesia (terima kasih Kemenpar…). Kebetulan, daerah tujuan wisatanya Palembang dan Musi Banyuasin, sengaja di-match-kan dengan Musi Triboatton 2016, yakni ajang lomba dayung tiga jenis tantangan berbeda, yakni rafting, kano dan perahu naga (dragon boat).

Memang kami tidak mengikuti seluruh rangkaian ajang lomba olahraga air yang digelar tahunan itu. Karena itulah, kami lebih banyak mengunjungi sejumlah lokasi wisata di Sumatera Selatan. Dengan berperahu di Sungai Musi, kami mengunjungi Pulau Kemaro dan kampung Arab Al Munawwar di Palembang kota. Kami juga mengunjungi Museum Sriwijaya, taman kota Kambang Iwan, sentra songket dan sejumlah tempat makan yang enak-enak.

Satu yang agak mengagetkan saya, justru ketika dalam penerbangan pulang. Di inflight magazine-nya Sriwijaya Air, event Musi Triboatton tidak terdapat di dalam agenda wisatanya. Yang terpampang di sana justru Solo Keroncong Festival, Gelar Budaya Wanurejo (Magelang, Jawa Tengah), Festival Sanrobengi (Takalar, Sulawesi Selatan), Festival Manggis (Badung, Bali) dan Bandung Laoetan Onthel (Bandung, Jawa Barat). Kok bisa???

Bisa saja… Ini kan Indonesia. Sudah lumrah kalau di Indonesia, banyak pihak meski secara ideal punya kepentingan yang sama, belum tentu bisa ‘bekerja sama’.

Mungkin, manajemen inflight magazine, termasuk perusahaan penerbangan yang dimiliki pengusaha asal Provinsi Bangka Belitung itu, tidak menganggap Musi Triboatton sebagai bagian dari mereka, yang menggunakan nama ‘Sriwijaya’ yang tidak lain merujuk pada satu kesatuan kultur dan geografis, yakni sesama warga bekas Kerajaan Sriwijaya yang masyhur hingga ke menembus luasan tak sekadar ASEAN saja. Continue reading