Didi Kempot dan Film Sobat Ambyar

Pernyataan Mas Didi Kempot yang menjadi pembuka film Sobat Ambyar (Heart Break Club) itu pasti akan mengaduk-aduk perasaan penggemarnya, para Sadbois dan Sadgirls yang tergabung dalam sebutan Sobat Ambyar. Begitu juga bagi Kempoters yang tersebar di berbagai benua.

“Ternyata lagu tidak membeda-bedakan. Lagu apa saja, genre apa saja, bagaimana kita menyuguhkan dan sekarang divisualisasikan lewat film, itu sangat membanggakan sekali. … Saya sudah suka dari awal, dan saya akan belajar menyesuaikan…”

Menyaksikan film ini, saya yakin mereka akan merasa disapa langsung oleh Mas Didi, seperti ketika menunggu di belakang panggung, di hotel tempatnya menginap, atau saat berjumpa tanpa sengaja di warung-warung makan, entah itu warung sate kambing, rumah makan padang, lesehan warung bestik atau di tempat-tempat lain. Almarhum selalu menyapa dengan ramah, hangat dan nyedulur (bagai saudara).

Saya menggarisbawahi pernyataan Mas Didi pada kalimat ‘..dan saya akan belajar menyesuaikan.”  Ini sungguh khas almarhum: selalu mendudukkan diri pada posisi lebih rendah di hadapan orang lain. Sifat yang kini kian langka dijumpai pada siapapun: orang kebanyakan, politikus, pejabat pemerintah/negara, artis, dan banyak lagi.

Pernyataan ingin belajar menyesuaikan (dalam proses produksi film) itulah yang menjadi kunci pembuka bagi suksesnya proses produksi film Sobat Ambyar. Betapa tidak? Mas Didi termasuk orang yang tidak mau terlibat dalam produksi film. Dia hanya menyebut ribet dan melelahkan, sebagai alasan.

Komunitas SobatAmbyar Cikarang berpose di depan tumpukan sembako untuk bantuan warga terdampak Covid-19, hasil donasi Konser Dari Rumah Didi Kempot pada 11 April 2020 yang disiarkan secara langsung di KompasTV bekerja sama dengan RBI dan Sobat Ambyar. Komunitas SobatAmbyar mendistribusikan 8.000 paket sembako ke 23 komunitas Sobat Ambyar dan berbagai komunitas seniman dan difabel di Yogyakarta, Kebumen dan Solo.

Saya berulangkali mendengar dari orang terdekat yang selalu menemani pada seluruh proses kreatif dan mengisi waktu luangnya, bahwa Mas Didi tidak mau terlibat dalam film, apalagi film tentang dirinya. Jawaban itu muncul ketika berulang kali saya sampaikan adanya beberapa pihak yang menelpon ingin membuat film tentang Mas Didi. Sekali saya mengonfirmasi kepada Mas Didi, saya makin percaya.

Sampun bola-bali tiyang ngajak damel film kula. Kula mboten purun,” ujarnya. Sudah berulang kali ada orang mengajak bikin film saya. Saya tidak mau.

Tak hanya film, banyak orang datang ingin membuat buku, baik mengenai jejak kesenimanan maupun biografinya, pun selalu ditolaknya. Dia hanya menyatakan kalau dirinya bukan siapa-siapa, karena itu, ia memilih membiarkan orang mengenang dirinya melalui ingatan masing-masing orang.

***

Khusus mengenai film Sobat Ambyar, itu ada cerita tersendiri.

Mungkin karena Mas Didi lagi naik daun, terbukti hampir setiap hari manggung dan kadang-kadang bisa tampil di dua sampai empat tempat berbeda dalam sehari, Mas Bagus Bramanti tergelitik mengulik profilnya. Singkat cerita, ia ingin mengangkat kisah Mas Didi ke panggung film. Begitu yang diceritakannya lewat beberapa kali telponan.

Suatu hari kami janjian ketemu, ngobrol sambil ngopo di Kafe Banaran, Colomadu. Waktu itu, Mas Bagus menanyakan fenomena komunitas fans yang menamakan diri sebagai Sobat Ambyar, Sadbois, Sadgirls, dan sebagainya. Panjang lebar saya ceritakan beberapa momentum ‘naik daunnya’ Mas Didi, mulai manggung pada acara Bakdan di Balekambang usai lebaran 2019, lantas disambung Munas Lara Ati di #RBI, Ngobam Off Air bersama Gofar Hilman, dan seterusnya dan sebagainya.

Saya sampaikan kepada Mas Bagus, beberapa nama yang telah bersinggungan dengan beberapa peristiwa itu. Di antaranya Fajar Romadhona (Jarkiyo), Kobar Nendrodewo, Sehat, Erwin, Nico, Bona, dan banyak lagi. Lantas, ditelusurilah cerita itu ke sumber-sumber otentiknya.

Yang jelas, saat itu saya hanya mengingatkan: jangan bikin film tentang Mas Didi, pasti tidak mau. Tapi kalau memutar lewat cara memotret fenomena Sobat Ambyar, mungkin Mas Didi malah mendukung. Alhasil, tak cuma mendukung, Mas Didi malam bersedia tampil sebagai salah satu pemain, dan bahkan menjadi produser eksekutif.

***

Mungkin sudah jodoh. Baik Mas Didi maupun kerabat produksi film pun bekerja sama. Lokasi syutingnya pun dipilih dipusatkan di Solo dan sekitar, demi menghemat biaya produksi dan memudahkan proses. Maklum, di awal gagasan dilontarkan, banyak produser memalingkan muka.

Yang unik dari prosesnya, adalah ketekunan dalam riset. Beberapa kali digelar focus group discussion yang melibatkan banyak sadbois/sadgirls untuk menjajagi minat dan arah film. Beberapa peristiwa yang dianggap bersejarah dalam proses booming-nya Didi Kempot diadopsi ke dalam ide cerita, hingga visualisasinya. Bahkan, adegan Munas Lara Ati divisualkan ulang, dengan Jarkiyo tampil sebagai cameo, memimpin munas. Ya, Jarkiyo adalah pencetus dan motor Munas Lara Ati yang dihadiri langsung oleh Lord Didi.

Secara keseluruhan, film Sobat Ambyar ini sangat mengena di kalangan Sadbois/Sadgirls. Tentang pemuda patah hati karena di-PHP perempuan cantik, memanfaatkan kesempatan, dan beragam pernak-pernik romantika percintaan kaum muda remaja. Tema ‘universal’ semacam itulah yang diprediksi akan menyedot perhatian penggemar film nasional. Menurut Mas Didi, lagu bertema cinta atau patah hati, itu bisa (dan hampir pasti) dialami siapa saja tanpa memandang usia, suku, bangsa, jenis kelamin. “Genre musik apapun, lagu cinta pasti akan ada sepanjang masa. Soal bagus atau tidak, itu tergantung masyarakat yang mengapresiasinya,” ujar Mas Didi.

Uniknya, produksi film ini seperti dibuat dengan semangat paseduluran. Komunitas Sobat Ambyar, beberapa orang kuncinya, hingga Rumah Blogger Indonesia yang halamannya pernah digunakan Jarkiyo dan kawan-kawan menyelenggarakan Munas Lara Ati yang dihadiri 300-an orang pada 15 Juni 2019, dilibatkan dalam diskusi awal pematangan ide cerita. Saat proses editing hampir final, pun kami diminta me-review yang dilanjutkan rapat dengan sutradara, para produser dan tokoh kunci produksi melalui zoom meeting. Soal penentuan poster pun, kami diajak diskusi dan dimintai saran/masukan. Sungguh keren dan menyenangkan. Kami diberi pengalaman baru, pengetahuan baru.

Tak hanya itu, kami pun diajak berembuk kapan enaknya tayang di bioskop, mengambil momentum apa dan sebagainya. Akhirnya, diskusi itu terbentur dengan jadwal buka bioskop yang tidak bisa diprediksi karena situasi pandemi Covid-19 yang tak kunjung usai. Saat ada tawaran tayang di Netflix pun sempat jadi perbincangan seru. Sebaga film ‘kerakyatan’, tayang di bioskop akan menjangkau dan bisa menjadi obat bagi seluruh penggemar Mas Didi yang masih terguncang situasi psikologisnya karena wafatnya yang mendadak. Andai memungkinkan diputar di bioskop, maka opsi dilempar ke Netflix usai turun layar bisa diambil.

Namun, meski agak berat hati, akhirnya dipilih ‘meninggalkan’ bioskop sebab tidak ada kepastian waktu tayang, dan memilih ‘dijual’ di Netflix dengan status ‘Original Netflix’ dan tayang secara lintas benua. Keuntungannya, fenomena Sobat Ambyar yang tak bisa lepas dari sosok maestro Didi Kempot bisa dibaca dan dinikmati oleh masyarakat dunia, tidak sebatas jutaan pekerja migran asal Indonesia di berbagai negara. Bahkan, warga Suriname, di mana Mas Didi sudah menjadi warga kehormatan dan idola masyarakat di sana, bisa turut menikmati dan mengobati rasa kehilangan sosok idolanya.

Silakan Anda membuktikannya sendiri di Netflix. Saya yakin, film Sobat Ambyar ini akan diterima siapa saja, tak sebatas Sobat Ambyar dan Kempoters di Indonesia. Walau para pemerannya bukan bintang-bintang film ternama, kemampuan aktingnya sangat layak dipuji. Keaktorannya merata, tak ada yang lebih menonjol. Kita harus mengapresiasi tinggi mereka yang terlibat dalam pemilihan pemain (casting).

Tak hanya itu, setiap kalimat dalam dialognya sangat kuat. Begitu pula sudut-sudut pengambilan gambarnya. Tak hanya cantik, tapi memang ciamik. Detil-detil adegannya pun tersuguhkan dengan baik. Pada bagian ini, kita patut mengacungi jempol pada director of photography, editor, dan tidak lupa set designer-nya. Hormat yang tinggi kepada Mas Charles Ghozali, sang sutradara. Juga kepada co-sutradara, Bagus Bramanti, sekaligus pemilik ide cerita dan penulis skenarionya.

Ramai-ramai Menelikung Jokowi

saya, adalah pendukung Jokowi. sampai detik ini!

jadi, kalau saya membelanya, adalah wajar-wajar saja. cap sebagai #buzzerRp adalah konsekwensi logis atas sikap dan aksi pembelaan itu.

sebaiknya Anda menjaga diri. jangan sampai terpengaruh sikap dan pernyataan saya. tetaplah istiqamah dengan keyakinan Anda, agar tak disebut plin-plan.

***

dulu, jaman Gus Dur jadi presiden, pernah membatalkan sebuah keputusan penting menyangkut aset-aset badan usaha milik negara, atau aset yang dikelola BPPN. saya lupa bentuknya peraturan presiden (perpres)  atau keputusan presiden (keppres) atau peraturan pemerintah. agar mudah, sebut saja dengan keputusan. 

usianya hanya dua hari saja keputusan penting itu.

syahdan, keputusan itu ditandatangani Gus Dur setelah dibacakan isinya. sehari kemudian, Presiden diingatkan oleh seorang pejabat penting yang juga ikut menangani nasib aset-aset itu. disebutkan, bahwa keputusan yang dibuat presiden memuat klausul/pasal yang  bakal merugikan keuangan negara, dan tidak adil.

rupanya, yang dibacakan berbeda dengan yang tertulis! ihwal aturan itu, saya baca di media ekonomi, dan mendapat cerita di baliknya, di kemudian hari.

saat itu saya mbatin, itu menteri sama saja (maaf) ‘micek-micekake (priyayi sing ndilalah tuna netra). kebangeten asunya!

untungya, sampai seda, Gus Dur tidak pernah mengungkap itu. gak kebayang kemarahan pendukungnya melihat perlakuan kurang ajar semacam ittu. kini, orang jahat itu tak jelas rimba dan nasibnya. apakah dia mati, atau sakit parah, tak pernah ada kabar keberadaannya. semoga ia menyesali perbuatannya.

***

seorang Jokowi juga manusia biasa. kemauan baiknya belum tentu diterima baik oleh para pembantunya.

keinginannya mempunyai undang-undang sapu jagad untuk kebaikan (yang diangankannya), bisa saja dibajak anak buahnya.

pasal-pasal penting bisa diselundupkan sedemikian rupa, di sana-sini, mumpung labelnya mengarah ke satu pokok soal: buruh atau karyawan alias pekerja!

sesuai namanya, Undang-undang Cipta Kerja terkesan hanya terkait dengan soal-soal ketemagakerjaan, hubungan buruh dengan majikan/perusahaan, dan sejenisnya. saya menduga, banyak orang terkecoh seperti saya.

Omnibus Law dan Komunikasi Publik yang Payah

Proses penyusunan undang-undang tentang Cipta Kerja yang dikenal dengan sebutan Omnibus Law Cipta Kerja sarat kontroversi sedari awal. Kesan kucing-kucingan tak bisa dihindari karena memang nyata tiada keterbukaan, bahkan tak ada sosialisasi yang memungkinkan munculnya tanggapan publik sehingga produk hukum itu kelak berisi pasal-pasal yang mendekati sempurna, melegakan semua kalangan.

Tapi, jangankan sosialisasi kepada publik. Terhadap pihak-pihak terkait seperti Kementerian Tenaga Kerja pun, rupanya tak semulus yang dilihat orang. Ketika saya mengonfirmasi hal tersebut kepada seorang pejabat yang cukup paham ide Presiden Jokowi membuat peraturan sapu jagad itu, pun dijawab dengan enteng: “Kami saja berulang kali meminta draf RUU Omnibus tak kunjung dikasih. Begitu pula kementerian terkait, banyak yang mengeluh.”

Sebagai seorang pendukung setia Pak Jokowi, tentu saya kaget. Ada juga kemarahan. Tapi ya mau bagaimana lagi, wong saya juga cuma rakyat biasa, yang tak punya hak apa-apa untuk ‘mengadvokasinya’. Marahnya, ya karena saya kebetulan pernah berada di antara sedikit orang yang diceritai langsung oleh Pak Jokowi mengenai rencananya menginisiasi terbitnya peraturan komprehensif itu.

Cah-cah Akademis dan Sobat Ambyar

Setahun silam, tepatnya Sabtu, 15 Juni 2019, digelarlah sebuah ontran-ontran kecil, yang dinamai Munas Lara Ati. Yakni, acara guyon, ajakan kumpul-kumpul para penggemar lagu-lagu sekaligus pengagum pencipta dan penyanyinya: Didik Prasetyo a.k.a. Didi Kempot.

Pemicu digelarnya Munas cukup sepele: sepekan sebelumnya, sejumlah anak muda yang sebagian pulang kampung dalam rangka lebaran mengajak kangen-kangenan, nonton penampilan Mas Didi di Taman Balekambang, Solo. Mereka antara lain adalah Fajar Jarkiyo, Nico, Erwin, Kobar, Bona Barcelona, Bona Sukarno, Aji dan banyak lagi.

Usai pertunjukan, mereka menemui Mas Didi. Kebetulan pula, Mas Didi senang melihat anak-anak muda turut menyanyi ketika Mas Didi melantunkan tembang-tembangnya. Semua hafal liriknya, dan ikut larut menyesuaikan semua syairnya. Rupanya, Mas Didi terpesona juga dengan anak-anak muda, yang disebutnya dengan istilah ‘Cah-cah akademis’.

Obrolan antara penggemar dan artis pujaan itu cukup membekas pada para pemuda itu, sehingga Jarkiyo dan kawan-kawan ‘iseng’ ingin menyikapi pertemuan bersejarah di Balekambang itu. Lalu, muncullah ide kumpul-kumpul antar penggemar, sekadar berbagi cerita.

Ambyar-nya Sebuah Film

Sebelum saya menyampaikan kritik alias beberapa catatan yang saya anggap penting, yang perlu Anda catat dan lakukan adalah: tonton filmnya! Mekah, I’m Coming adalah tontonan segar. Humornya cerdas!

Sempat terkecoh dengan judulnya, yang menggiring saya pada pertanyaan: film beginian kok tidak ditayangkan di bulan ramadhan, usai lebaran, atau pada musim haji?? Rupanya, itu siasat semata.

Kemeriahan dan sukacita penyambutan orang pulang berhaji adalah potret sosial. Itulah puncak manifestasi keimanan seorang muslim, yang tidak semua orang memiliki keberuntungan. Punya uang tidak otomatis terpilih (oleh Allah) untuk datang ke rumah-Nya, baitullah. Sebaliknya, Tuhan yang memiliki hak prerogatif bisa saja memanggil siapapun untuk berhaji, dengan aneka cara yang ajaib, bahkan di luar nalar. Entah tiba-tiba diajak orang mampu untuk menemani berhaji, dapat hadiah dari kantor/perusahaan, bahkan dari undian!

Emosi kita berhasil diaduk-aduk oleh Jeihan Angga, penulis naskah merangkap sutradara. Kita diajak berefleksi, dibawa masuk ke dalam suasana kebatinan yang sangat dalam, lalu dipaksa tertawa tiba-tiba. Getir.