Naik Dokar Keliling Solo

Akhir tahun kemarin, saya ikut teman-teman Blogger Bengawan keliling Kota Solo. Ceritanya, sekaligus merayakaan ulang tahun keempat komunitas blogger se-Solo Raya itu. Kami beruntung dihadiri beberapa sahabat Jamaah dari Yogyakarta dan beberapa penyimak timeline @tentangSolo sehingga lima dokar (delman atau andhong) yang berkapasitas enam orang (di luar sais/kusir) penuh terisi.

 

Molor sejam dari jadwal, rombongan konvoi dokar berangkat dari depan RBI

Saya hanya ikut-ikut, karena tidak numpak andhong, melainkan naik sepeda motor kesayangan. Urusan jalan-jalan dikomandoi Dony Alfan, Hendri, Ketua Bengawan Hassan dan Mursid Sekjen. Kata teman-teman sih, seru walaupun berasa kelamaan. Mungkin lantaran terganggu gerimis, sehingga keasyikan yang seharusnya didapat agak menyusut kwalitasnya.

(Dari kiri ke kanan) @argamoja, @jasoet, @si_enthon9 dan @iwnjw

Alhamdulillah, Arga, Jasoet, Enthong, Iqbal Rasarab, Iwan Jewe, Anto Lele (dan mbak-mbaknya, maaf lupa nama) pada suka, meski di kota mereka tinggal, delman tak selangka di Kota Solo, yang dulunya termasuk negerinya andhong.

Sekelumit tentang Delman Solo

Seingat saya, delman sudah tak populer, setidaknya sejak saya menetap di Solo pada akhir 1987. Beberapa memang masih ada yang ‘beroperasi’ di Pasar Legi, untuk sarana angkut kulakan para pedagang. Tapi, sebagai angkutan komersil yang bisa diakses masyarakat kebanyakan, sudah tak ada. Belakangan, delman-delman di Solo kerap disewa oleh berbagai pemerintah daerah atau event organizer, seperti Semarang, Cilacap, Jakarta, hingga Banyuwangi, Jawa Timur.

Bahkan, menurut penuturan Pak Bejo, tetangga saya, ia pernah diundang keluarga Presiden Yudhoyono ketika mantu Eddy Baskoro alias Ibas. Ia menjadi sais kereta untuk pengantin, yang juga didatangkan dari Solo, yakni kereta kencana milik Pemerintah Kota Surakarta. Kereta itulah yang kerap digunakan untuk mengangkut tamu-tamu khusus yang datang ke Solo, baik menteri, pejabat atau delegasi dari luar negeri.

Pak Bejo, termasuk juragan delman. Kini, ia memiliki beberapa kereta wisata berukuran kecil (populer dengan sebutan bèndi), hanya hanya muat dua orang. Ia juga memiliki banyak delman berkapasitas empat hingga enam orang dan merawat 23 ekor kuda di bagian belakang rumahnya!

Kak Mursid jadi asisten kusir...

Meski tak seperti tiga puluh tahun silam, kini ia merasa beruntung dengan banyaknya wisatawan yang datang ke Solo. Ia mengaku, delmannya sering disewa untuk turis keliling Kota Solo, selain pada menikmati bus tingkat Werkudara atau kereta uap Sepur Kluthuk Jaladara. Di luar kereta lama, bèndi lebih bisa dijadikan penopang ekonomi karena setiap akhir pekan selalu ramai disewa orang untuk mengeliling kota atau sekitar Stadion Manahan, tempat mereka mangkal.

Jumlah delman di Solo, kini tinggal 40-an. Tapi jika ada permintaan, ia bisa mendatangkan dari kota sekitar, seperti Karanganyar atau Boyolali. Sewanya pun tak mahal, antara Rp 250 ribu hingga Rp 350 ribu per hari, tergantung jarak/jumlah lokasi yang hendak dikunjungi.

Melongok Bunker Laweyan

Dalam acara jalan-jalan dalam rangka ulang tahun Bengawan, kemarin, kami hanya murni jalan-jalan, hendak mencari sensasi wisata dengan kereta tenaga kuda. Hanya empat lokasi utama yang dikunjungi: bunker di Kampung Laweyan, Solo Techno Park, Urban Forest di tepi Sungai Bengawan Solo dan hutan kota Taman Balaikambang.

Arga keluar dari bunker.....

Di Laweyan, Arga, Iwan Jewe dan Iqbal Rasarab kelihatan happy. Rasarab diwawancarai oleh Iwan dan direkam secara audiovisual dengan menggunakan gadget andalan. Mereka, juga sebagian besar peserta jalan-jalan, baru tahu kalau bunker di Laweyan itu, dulunya terhubung antarrumah. Bangunan yang kini terbuka untuk wisatawan adalah sebuah rumah berusia 525 tahun, peninggalan jaman Sultan Pajang. Bangunan itu pun baru dipugar pemerintah pusat dan dinyatakan sebagai benda cagar budaya.

Saya menduga, bunker itu dulu digunakan untuk sembunyi para pejuang, sekaligus tempat menghilang seusai menyergap dan merampas harta/senjata orang Belanda yang melintas di sekitar Laweyan. Kita tahu, Laweyan merupakan kampung pejuang, di mana kaum pergerakan kemudian yang mengorganisir diri dalam organisasi bernama Syarikat Islam (SI).

Mengunjungi Solo Techno Park

Dari Laweyan, rombongan berkeliling kota lagi, melewati Alun-alun Selatan Kraton Surakarta menuju Solo Techno Park (STP). Sesuai namanya, merupakan pusat ‘pemberdayaan’ publik milik Pemerintah Kota Surakarta. Di sanalah ada pusat inkubasi bisnis, kawasan perakitan mobil Esemka, hingga pusat pelatihan calon teknisi perawatan pesawat terbang, hasil kerja sama Pemkot Surakarta dengan Garuda Maintenance Facilities (GMF), yakni perusahaan satu payung dengan Garuda Indonesia. Asal tahu saja, GMF termasuk salah satu ‘bengkel’ pesawat terkemuka milik Indonesia, yang reputasinya diakui dunia penerbangan Internasional.

Mas Aam Enthong dan Arga, dua mekanik magang di PT Esemka Indonesia... :p

Menurut Pak Darsono, Direktur Umum STP, kelak di kompleks Solo Techno Park akan dibangun pusat pameran (exhibiton centre) dengan sejumlah fasilitas pendukung, seperti hotel dan showroom produk-produk Solo dan sekitarnya.

Singgah di Urban Forest

Dari Solo Techno Park, rombongan wisatawan delman singgah sebentar di Urban Forest, di pinggir Sungai Bengawan Solo. Tepatnya di Kampung Pucangsawit, tak jauh dari Taman Jurug.

Seperti namanya, Urban Forest dirancang sebagai hutan kota di pinggir Bengawan. Memang, jika terjadi banjir besar, kawasan itu akan tertutup luapan air. Tapi dalam situasi normal, kelak dipastikan bakal menjadi kawasan nongkrong paling nyaman di pinggiran Kota Solo, selain Taman Balekambang di tengah kota.

Kabarnya, kawasan yang dulunya kumuh itu, kelak akan dibangun taman bunga, dan jogging track dan lapangan futsal di ruang terbuka. Arena bermain untuk anak-anak sudah rampung dibuat, taman labirin sudah ditanami pepohonan. Semoga, Pemerintah Kota Surakarta juga segera merealisir kawasan itu sebagai taman wisata air, dengan memanfaatkan melimpahnya air Bengawan Solo yang tak pernah kering.

Cerita terkait ada di Suara Merdeka.

Ojek di Solo

Baru kali ini saya jumpai ada papan nama jasa angkutan ojek di Solo. Tepatnya di Jl. Adi Sucipto, Kerten. Tak ada motor parkir berjajar di sana, pada Sabtu (16/6) siang itu. Mungkin itu reklame penjaja koran eceran, yang juga menerima jasa pengantaran dengan menggunakan sepeda motor, sebagai pekerjaan sambilan. Saya agak terkejut jika ada wong Solo mau ‘bekerja’ sebagai tukang ojek.

Entah kenapa, saya cenderung menganggap orang Solo tak ada yang mau jadi tukang ojek. Di Stasiun Balapan, kadang ada beberapa orang menawarkan jasa transportasi personal. Begitu pula di sekitar Terminal Tirtonadi. Tapi, sejauh ingatan saya, tak ada yang memasang papan penunjuk adanya sekumpulan penjual jasa ojek.

Di Solo, becak masih menjadi alat transportasi populer. Bus kota lumayan eksis, tapi angkutan kota tak terlalu ramai, kecuali pada jam-jam tertentu, seperti jam masuk/pulang sekolah. Dan saya tak melihat tiadanya atau tak populernya jasa ojek lantaran ‘sungkan’ dengan penarik becak.

Menurut penuturan seorang teman aktivis lembaga swadaya masyarakat, populasi becak di Kota Solo sekitar 7.000-an. Pekerja kayuhnya bisa jadi jumlahnya lebih besar, sebab kebanyakan mereka berasal dari daerah-daerah satelit, yang berangkat pagi, petang kembali pulang. Ada pula yang bekerja secara musiman, di mana ketika musim bertani tiba, mereka tak datang ke kota menjual jasa sebagai pengayuh becak.

Saya mengenal banyak pengayuh becak, yang pernah jadi teman nongkrong. Peri, pengayuh becak dari Nogosari, Boyolali, misalnya, kadang tak ke Solo jika ia sedang musim bertani (palawija). Sesekali, ia membawakan sekarung ketela pohon ke rumah. Setia akhir pekan, Peri suka bekerja sambilan sebagai tukang cuci barang pecah belah di sebuah gedung pertemuan yang menjadi venue pesta pernikahan.

Andong atau dokar sudah langka di Solo. Tapi ada sejenis dokar mini, yang ditarik kuda, cukup populer sebagai sarana wisata. Di sekitar Stadion Manahan, banyak yang menjual jasa pada liburan atau akhir pekan.

 

Peri jagoan memijat. Kadang, sambil wedangan di Monumen Pers, saya dan teman-teman memanfaatkan jasanya memijat. Dan, ia tak sembarangan memijat. Badan tak enak bisa dibuatnya menjadi mudah tidur nyenyak. Beberapa sutradara dan pekerja film dari Jakarta, pernah merasakan pijatannya. Saya ‘menjual’ Peri kepada teman-teman, supaya ia bisa menyekolahkan anak-anaknya.

Selain Peri, ada Giyo, pengayuh becak asal Bayat, Klaten. Dulu saya suka memintanya memijat, ketika saya masih sering nongkrong di Jl. Slamet Riyadi. Ia juga kerap memijat tamu-tamu hotel di sekitar tempatnya mangkal.

Kembali ke soal ojek dan becak, rasanya kedua jenis alat transportasi itu tidak saling memengaruhi. Saya cenderung curiga, orang Solo lebih menghargai pengayuh becak dibanding ojek. Orang Solo, pun seperti malu bekerja sebagai tukang ojek. Entah apa hubungannya dengan feodalisme, yang memandang setiap jenis pekerjaan memiliki kasta atau semacam prestise. Sebagai pembanding, banyak orang Jawa lebih bangga jadj pegawai negeri sipil/militer, meski bergaji sedikit dibanding pekerjaan lain yang mungkin secara finansial memberi banyak manfaat.

Kalau ojek tidak mencemaskan saya terhadap nasib para pengayuh becak, kini saya justru terusik dengan kehadiran beberapa becak bermesin hasil modifikasi. Ini lebih mengancam nasib pengayuh becak yang mengandalkan tenaga dibanding moda transportasi lainnya.