Maju Makmur karena Listrik

Penduduk Pulau Jawa merupakan warga negara paling manja di Indonesia. Listrik hampir merata, hidup nyaris tanpa kendala. Sengitnya persaingan hidup lantaran lahan produktif kian menyusut seakan tak terasa. Terbatasnya ketersediaan lapangan kerja dibanding jumlah tenaga produktif, pun masih menyisakan peluang bagi mereka yang kreatif. Bermodal juicer dan sedikit bahan baku masih bisa untuk bertahan hidup selama masih ada aliran listrik.

Ironisnya, aneka produksi pertanian, perkebunan hingga produk kreatif penduduk di luar Pulau Jawa, seolah tak memberi manfaat perbaikan kwalitas hidup, lantaran ketiadaan pasokan listrik. Teknologi komunikasi dan informasi yang mestinya mampu memangkas kendala ruang dan waktu, tak bisa hadir dalam keseharian mereka, lantaran ketiadaan daya. Listrik menjadi syarat mutlak yang memungkinkan hadirnya teknologi, yang bakal memudahkan dan menyejahterakan.

Memang, Perusahaan Listrik Negara (PLN) sudah mengupayakan hadir di seluruh penjuru Nusantara. Aneka jenis pembangkit bertenaga air, panas bumi maupun bahan bakar gas, minyak atau batu bara pun sudah banyak dan masih bisa dibangun di mana-mana. Tapi, kondisi geografis masih menjadi kendala utama untuk pemerataan distribusinya. Di Pulau Papua, misalnya, saya tak bisa membayangkan nilai investasinya, apalagi jika dihadapkan pada hukum ekonomi, di mana pelayanan (produsen) menyesuaikan jumlah permintaan (konsumen).

Saya tak punya banyak referensi untuk menyoal terlalu detil perkara teknis, sehingga di sini saya ingin mengajak pembaca berandai-andai saja. Melalui tulisan ini, saya mau mengusulkan penggunaan dana tanggung jawab sosial perusahaan (corporate social responsibility/CSR) PT PLN (Persero), untuk memajukan rakyat, terutama di pedalaman dan daerah terpencil.

Jika pada 2012 direncanakan anggaran CSR sebesar Rp 30 milyar, mungkin strateginya sedikit diubah, dengan mengutamakan kelompok masyarakat yang belum terjangkau listrik. Sosialisasi instalasi listrik, SUTET dan sejenisnya yang dialokasikan untuk pelajar di Pulau Jawa dan Madura, misalnya, dialihkan saja ke luar Jawa, terutama Kawasan Timur Indonesia berupa perangkat pembangkit listrik tenaga surya, selain membantu pembiayaan pembuatan pembangkit listrik mikrohidro.

Meski untuk komunitas kecil, kehadiran listrik di daerah terpencil/pedalaman akan mampu mengubah kehidupan. Apalagi, jika PT PLN (Persero) melakukan upaya proaktif dengan mendekati pihak-pihak yang berkepentingan, seperti Kementerian Komunikasi dan Informatika, untuk membuat program bersama yang terintegrasi.

Secara konstitusional, Kemkominfo harus menghadirkan teknologi komunikasi dan informatika hingga tingkat kecamatan di seluruh pelosok tanah air lewat program Pusat Layanan Informasi Kecamatan (PLIK).

Dengan program PLIK, perangkat komputer dan koneksi Internet yang dihadirkan Kemkominfo banyak terkendala pasokan listrik. Solusinya, kebanyakan menyertakan generator sebagai sumber pembangkit listrik, namun bahan bakar tak mudah diperoleh di pedalaman. Padahal, program PLIK bertujuan mulia, yakni memangkas kesenjangan digital atau kesenjangan aksesibilitas. Sementara, teknologi komunikasi memungkinkan mengubah masyarakat lantaran ilmu pengetahuan akan hadir secara mudah dan murah lewat Internet. Informasi komoditi dan peluang usaha juga terbuka, sehingga potensi peningkatan kesejahteraan bisa digenjot.

Bahwa problem ego sektoral kerap terjadi, selama dilatari niat baik membangun Indonesia, semua bisa diupayakan, termasuk membuat aturan mainnya. Sederhananya, nota kesepahaman atau surat keputusan bersama (misalnya) antara Kementerian Kominfo, Kementerian BUMN dan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral bisa dijadikan sebagai payung. Konsideran atau rujukannya jelas, sila kelima Pancasila dan Pembukaan serta batang tubuh Undang-undang Dasar 1945, selain hak asasi manusia.

Rasanya, kita butuh terobosan-terobosan dalam rangka mewujudkan kesejahteraan bagi seluruh rakyat Indonesia. Angka Rp 30 milyar mungkin merupakan angka kecil untuk sebuah alokasi dana tanggung jawab sosial perusahaan (CSR), apalagi jika dibagi untuk banyak bidang yang (seharusnya) meliputi 33 provinsi di Indonesia.

Contoh sederhananya begini: PT PLN (Persero) mengalokasikan dana untuk penyediaan perangkat pembangkit listrik tenaga surya dan mendidik sejumlah orang untuk menangani perawatan di daerah tertentu. Sebagian di antara mereka ditunjuk sebagai penanggug jawabnya. Bisa pula, menyeleksi lokasi, di mana di sana terdapat relawan yang kini kian banyak dijumpai di pelosok-pelosok. Relawan tersebut bisa ditunjuk sebagai pendamping warga. Nah, komputer dan koneksi Internet bisa dikoordinasikan dengan Kemkominfo untuk alokasi PLIK.

Dengan demikian, kerja sama sinergis akan bermanfaat dan bisa berkelanjutan. Warga bisa menikmati listrik dan dampak ikutannya, termasuk memperoleh aneka informasi yang sesuai kebutuhan. Pengetahuan mengenai pertanian, perkebunan, budi daya ternak atau ikan, dan sebagainya, bisa diperoleh melalui kehadiran teknologi informasi.

Jika hal demikian bisa diwujudkan, saya yakin Indonesia akan maju dan kemajuan itu menjadi merata. Dampaknya pun bisa panjang, termasuk yang berdimensi ketahanan nasional. Gerakan-gerakan separatis, misalnya, bisa terkikis secara gradual, apalagi jika kita menyadari bahwa ketidakpuasan atas pemerataan pembangunan merupakan muara persoalan demikian.

Jadi, meski berangkat dadi persoalan dan tindakan yang seolah sederhana semacam itu, PT PLN (Persero) mampu berkontribusi lebih nyata mengukuhkan keIndonesiaan, memajukan penddidikan dan meratakan kesejahteraan, sekaligus mengokohkan persatuan dan kesatuan bangsa. Di situlah, saya berharap PT PLN (Persero) turut berperan kian nyata.

(Lokasi) Bencana adalah Zona Promosi


Banjir berarti petaka. Dan, petaka tak pernah pilih kasih. Tua-muda, kaya-miskin, semua sama-sama mengalami kepanikan, juga ketidakpastian. Meluapnya Bengawan Solo –sehari setelah hari raya Natal, mengusik 30 ribu lebih penduduk Kota Surakarta dari kedamaian rumah yang selama ini mereka diami.

Ada yang berpindah ke tenda-tenda di tengah jalan raya, ada pula yang berjejal di gudang-gudang toko, pabrik, dan aula gereja. Bagi mereka, dingin malam tak lagi terasa. Siang berkubang mencari sisa-sia harta benda yang bisa diselamatkan, sepanjang malam cemas berjaga, menanti kabar yang tiba-tiba datang bersama derasnya hujan.

Bila Waduk Gajah Mungkur tak meluap atau air sengaja digelontor sebab overload, maka tikar plastik segera mengantar lelap. Saat pagi tiba, yang ogah antri, cukup mengucek mata dengan punggung tangan. Saat sekitar sudah kembali terlihat jelas, barulah mereka beranjak. Menanti jatah nasi bungkus, suplai energi untuk kembali mengais remah-remah di rumah yang tampak sudah jadi bekas.

Hari pertama banjir, adalah pertanda solidaritas tulus dari sesama. Mobil berisi aneka jenis makanan –juga tikar dan selimut, datang dan pergi. Satu dua ada yang berusaha membaca situasi, kuatir bantuan tak sampai di tangan yang berhak. Gempa yang mengguncang Klaten-Yogya rupanya jadi tempat berkaca.

Dan, hari kedua dan sesudahnya, lokasi bencana lebih pantas disebut zona iklan. Bantuan memang diberikan, atas nama kemanusiaan. Ada makanan dan pakaian yang dibagikan, ada pula layanan kesehatan meski sebatas check up sederhana dan pemberian obat-obatan. “Kami tak bisa minta disuntik. Katanya, alatnya tidak ada,” tutur seorang kakek warga Kenteng, Joyosuran. Tiga hari sudah ia menderita demam, sementara tidur pun masih berjejalan di tenda setengah terbuka.

Tapi, zona iklan tetaplah lokasi promosi, meski belum tentu efektif. Posko-posko dengan logo partai yang mencolok seperti berebut lahan dengan tenda-tenda Posko Peduli yang dibangun sejumlah perusahaan –negara dan swasta. Semua minta perhatian. Kepedulian partai ditonjolkan dengan harapan kelak sukses mendulang suara dalam pemilu. Sedang show of force sejumlah perusahaan yang datang atas nama program corporate social responsibility, berharap bisa menancapkan citra kepedulian perusahaan pada sesama.

Apapun bentuknya, bantuan mereka memang cukup berarti bagi para pengungsi. Cuma, yang kelewat norak adalah cara menunjukkan kehadirannya yang abai pada etika. Simbol partai dan identitas perusahaan sengaja dipasang mencolok supaya in frame, baik pada lensa kamera televisi maupun juru foto media massa. Unpaid publication, teori usang dalam disiplin ilmu periklanan, rupanya masih diharapkan efektifitasnya, meski di tengah perjuangan para korban banjir untuk lepas dari kecemasan dan penderitaan.

+ Kontradiksi?
– Ya! Menurut saya.

Meski mengungsi, warga Kampung Sewu tetap berusaha merayakan pergantian tahun, meski hanya dengan api unggun dan lilin

Anehnya, ada saja politisi yang bertingkah konyol. Bak pahlawan kesiangan, seorang kandidat gubernur Jawa Tengah datang berombongan mendatangi pengungsi, pada hari kelima saat banjir sudah kembali surut. Pidato ‘standar’ dilakukan, sementara pengungsi sudah tak sabar berebut bantuan. Suasana gaduh. Lucunya, pemberian bantuan pada Minggu pagi itu hanya simbolis. Sebab usai bersalaman dengan wakil warga, sang calon gubernur ngeloyor pergi diiringi pengumuman singkat dan jelas: bantuan akan dibagikan pada pukul 12 siang!

Bagi saya, itu sama konyolnya dengan SMS panjang (SMS kan short message….., kenapa panjangnya bagai paper, ya?), yang dikirim seorang anggota DPR RI dari daerah pemilihan Surakarta kepada banyak jurnalis di Surakarta. Isinya, mengecam pemerintah yang kebetulan berseberangan dengan partainya. Dengan SMS, sang legislator berharap namanya dikutip dalam berita, meski kakinya tak menapak tanah bencana. Bencana dimanfaatkan untuk mendongkrak popularitas dengan cara nebeng kata-kata.

Bencana memang punya banyak sisi. Ekonomis. Juga politis.

(Meski bagi saya, bisa jadi pengendur tegang urat syaraf dan otot kaki. Apa yang dilakukan Pak Calon Gubernur dan Mas Wakil Rakyat itu, membuat saya sedikit ‘terhibur’ di tengah capeknya keliling ke beberapa lokasi bencana yang terjadi nyaris bersamaan: longsor Tawangmangu, Karanganyar dan Wonogiri serta banjir di Sragen)

Ya. Saya hanya bisa berkeliling dan melihat-lihat. Tak ada bantuan nyata yang bisa saya berikan kepada mereka, para korban itu. Semoga saya tidak dilaknat Tuhan karena perbuatan saya yang hanya bisa memandang ratap sedih mereka.