Dalan Anyar

Sala bakal duwe dalan anyar maneh. Kabare, bakal enggal digawe dalan layang kanggo nglumpati ril Purwosari. Bisa dibayangke, Kutha Sala bakal macet setaun suwene. Dalan Slamet Riyadi sisih kulon, wiwit wetan bangjo Rumah Sakit Panti Waluyo ditutup. Bayangna ruwet lan macete dalan-dalan sakutha Sala.

Tanpa tutup-tutupan dalan wae, saben dina wis macet, awit esuk tumekane sore. Mula iku sebabe, aku paling wegah mlebu kutha, apa maneh wayah awan. Sepedha motoran wae kangelan mlakune, apa maneh numpak odhong-odhong. Kamangka, aku tetep kudu kulakan menyang Pasar Gedhe utawa Pasar Legi. Barange mung ana neng kana.

Kanggo kanca-kancaku sing wis suwe ora neng Sala, sumangga padha cepak-cepak, nata ati ben ora kaget. Sebabe, dalan-dalan bakal ruwet, macet kedawa-dawa. Nunggang sepedha motor wae bakal kangelan golek plipiran, apa maneh mobilan.

Kanggo para warga Sala sing senengane ngeterke anak-anake budhal sekolah numpak mobil, sumangga enggal cepak-cepak nata ati ngeterke nganggo sepedha motor. Tinimbang ora tekan-tekan, malah anak-anake telat mlebu sekolah, lan padha bakal telat mlebu nyambut gawe.

Bahaya Sok Tahu Kesenian

Ketika membaca kabar bahwa Taman Ismail Marzuki Jakarta akan direvitalisasi, dibangun hotel berbintang lima hingga dibuatkan wisma seni, saya ikut jengkel. 

Bukan semata ikut arus teman-teman seniman/budayawan yang dimotori Radhar Panca Dahana yang lantang menentang rencana itu. Lebih dari itu, kejengkelan bermuara pada sikap sok tahu birokrat atas dunia kesenian, sementara mereka belum tentu pernah nonton pergelaran teater atau pertunjukan tari kontenporer.

Saya yakin, revitalisasi yang dibilang Gubernur Anies Baswedan untuk menyokong tumbuhnya ekosistem kesenian, justru akan menutup ruang-ruang ekspresi seniman. Tanpa ‘revitalisasi’ saja, seniman sudah kesulitan berproses di TIM. Wisma Seni yang dulu jadi tempat menginap seniman-seniman luar kota yang pentas di Jakarta, sudah hilang menjelang reformasi. Kini, sudah berdiri megah gedung teater, yang untuk mengaksesnya, seorang seniman harus memiliki dana puluhan juta untuk menyewa.

Tanyakan seniman-seniman Jakarta, seberapa berani mereka menggelar karya mereka di kompleks TIM, bahkan di Graha Bhakti Budaya yang kini kalah pamor dengan gedung baru di sampingnya. Saya yakin, mereka sudah lebih dulu pusing memikirkan biaya proses latihannya, andai pun sudah digratiskan penggunaan gedung dan fasilitasnya.

***

Saya hanya orang biasa yang pernah mengalami bergaul dengan seniman. Lumayan lama. Setidaknya sejak 1994, ketika lontang-lantung di Taman Budaya Surakarta, bahkan sampai menggelandang tidur di sela-sela gamelan, di pendopo, beberapa tahun lamanya.

Beruntung, ketika itu adalah masa-masa orang muak terhadap bentuk otoritarianisme kekuasaan Soeharto, di mana ABRI menguasai seluruh sendi kehidupan, termasuk kebudayaan bahkan kesenian. Untuk bisa mementaskan drama (teater) misalnya, selain harus ada ijin kepolisian, naskahnya pun diteliti hingga kata per kata, sebelum ijin dikeluarkan. Penelitinya adalah tentara, yang ketika itu ada di kantor sosial-politik. 

Semisal dalam naskah drama terdapat kalimat yang ditafsir menyinggung perilaku aparat, apalagi penguasa, bukan saja ijin tak keluar, sang penanggung jawab acara bisa diinterogasi, bahkan ditahan jika tak bisa menjelaskan dan meyakinkan sang interogator.

Bahkan, lolos penelitian naskah karena kelihaian seniman bersikat lidah bukan jaminan tidak ada masalah. Dalam ruang pertunjukan, intel biasa menyusup sebagai penonton dengan maksud utama untuk mengawasi konten. Salah sedikit, bisa dibubarkan atau sang seniman diambil paksa untuk menjalani interogasi.

Aparat tak mau tahu, bahwa untuk proses latihan teater (juga tari), para pemainnya butuh makan-minum. Bisa berbilang hari, bahkan bulan. Belum lagi menyiapkan kostum dan keperluan artistik, yang semua berkonsekwensi biaya. Jangan bicara sponsor untuk pergelaran kesenian. Rata-rata, pemilik gagasanlah yang banting tulang nyari sumbangan, atau menjual/menggadaikan barang yang dimilikinya.

***

Kembali pada masalah revitalisasi TIM. Cobalah cari tahu, bisa lewat pemberitaan media atau bertanya kenalan atau kolega. Dalam sepuluh tahun terakhir, ada berapa banyak grup kesenian (entah sastra, teater, tari dan musik) yang manggung di Graha Bhakti Budaya (GBB) TIM? 

Jika sudah diketemukan jumlahnya, cobalah cari tahu, siapa saja mereka, dari mana asalnya (Jakarta atau luar Jakarta), bagaimana/dari mana sumber pembiayaannya? Bisa jadi, mereka adalah undangan (biasanya dari Dewan Kesenian Jakarta/DKJ), yang bisa membantu digratiskannya beaya sewa gedung, dan disubsidi biaya transportasi dan akomodasinya. Intinya, sudah sangat beruntung jika ada sisa uang yang bisa dibagi sebagai honorarium pendukung kreatif.

Yang jelas, hanya seniman-seniman tertentu yang ketika melakukan lawatan pentas di Jakarta masing sanggup tidur di hotel, meskipun kelas melato atau apalagi berbintang meski hanya siji!

Keberadaan hotel bintang lima yang kelak akan berdiri di sana, saya bisa pastikan, tak akan dinikmati seniman, bahkan para penikmat kesenian atau karya seni yang berpentas di sana. Bisa pentas di TIM dan menginap di hotel Alia yang ada di seberangnya, pun kebanyakan seniman Indonesia tak berani membayangkannya.

Dengan keadaan TIM yang apa adanya seperti kini saja, tidak banyak seniman sanggup menikmatinya. Sehingga, sebaiknya pemerintah DKI Jakarta lebih baik mengalokasikan dana sedemikian rupa, sehingga siapapun senimannya, apapun cabang seni dan asal daerahnya, dapat menggelar karyanya di sana. 

TIM, karena kedudukannya di ibukota negara, sudah selayaknya dijadikan sebagai etalase unjuk keberagaman khazanah seni-budaya se-Nusantara. Disubsidi biaya proses (latihan), digratiskan penggunaan fasilitas gedung, hingga hasil penjualan tiketnya semua diberikan kepada seniman, pun saya jamin belum sepadan dengan jerih payah mereka berproses.

Kalau tidak percaya, kumpulkan semua kepala dinas kesenian/kebudayaan se-Indonesia, lalu paksa mereka ikut program ‘live in’ ke sanggar-sanggar atau kelompok seni, supaya mengikuti proses kreatif berkesenian di Indonesia. Saya yakin, itu pun tidak menjamin mata dan hati mereka terbuka.

Kebanyakan birokrat hanya sok tahu akan kesenian/kebudayaan. Alangkah celakanya suatu bangsa  jika mereka diberi keleluasaan mengatur kehidupan seni-budaya.

Catatan Konser Ambyar Didi Kempot?

19 Oktober 2019, kami keluarga besar Rumah Blogger Indonesia (RBI) menyelenggarakan konser unik. Benar-benar unik.

Keunikannya, kami menggelar konser tunggal Mas Didi Kempot tanpa keluar biaya sepeserpun untuk penyelenggaraan. Sungguh. Tak serupiahkan keluar dari kocek kami.

Pergelaran yang kami namai KonserAmbyar itu adalah bagian dari angan-angan kami: Kobar, Nico, Sehat, Fajar dan beberapa teman RBI, membuat sesuatu untuk Mas Didi. Kenapa???

Bagi kami, Mas Didi adalah sosok seniman yang rendah hati. Punya banyak tembang yang diciptakan dan dinyanyikannya sendiri, dengan perjalanan hidup yang konsisten. 

Menjadi seniman besar tidak membuatnya lupa diri. Ia bergaul baik dengan siapa saja, dari tukang parkir hingga jenderal, dari anak muda hingga pinisepuh, dari gembel hingga orang kaya dan bangsawan.

Kesan saya, Mas Didi kelewat matang menjalani proses kesenimanan. Dimulai dengan mengamen di Solo, hingga mengadu nasib di ibukota Jakarta, bahkan sampai nggembel segala. Perjuangan kerasnya sejak awal 1980-an baru berbuah di penghujung 1989, ketika dia dan lagunya masuk dapur rekaman, dari sebuah label besar pada masa itu.

700an karya lagu sudah dicipta. Namun hidupnya biasa saja, tidak berlebih karena hak cipta tak pernah dibayarkan oleh pihak-pihak yang mengontraknya di kemudian hari. Marahkah dia???

Jawabnya: Mas Didi tidak marah. Mengurus hak apalagi menggugatnya pun tidak pernah dilakukan. Hidupnya mengalir. Toh, rejeki sudah jadi jalan takdir. Makanya, ia enggan mikir daripada bikin kenthir. 

Histeria menonton konser. Njogeti sakit hati…

“Biarlah semua dikembalikan kepada kehendakNya.” Selalu begitu jika ia ditanya mengenai royalti karya-karyanya.

Bahkan, ketika lagu-lagunya banyak di-cover penyanyi lain hingga membuat mereka berjaya, hidup berkecukupan, pun ia tak pernah iri. “Rejeki sudah ada yang mengatur. Saya pasrah saja,” katanya.

***

Kedekatan Mas Didi dengan teman-teman RBI bermula dari konsernya yang tak banyak dihadiri orang, di Taman Balekambang, Solo, sekitar sepekan usai lebaran. Kebetulan, teman-teman RBI berniat reunian lebaran sambil nonton konser di kawasan taman yang dulunya pernah dihuni seniman-seniman lawak Srimulat dan ketoprak, termasuk almarhum Mbah Ranto Edi Gudel, ayah Didi.

Rupanya, foto-foto dan video pendek yang direkam sebagai bagian dari keceriaan reunian itu viral di media sosial. Bahkan trending topik selama dua hari. Kebetulan, dari atas panggung, Mas Didi memperhatikan tingkah anak-anak muda yang malam itu tampil rapi-rapi dan wangi, sehingga dihampirinya seusai pentas.

Pertemuan itu rupanya memberi kebahagiaan dan kebanggaan bagi anak-anak muda itu. Sejak kecil mereka menggemari lagu Mas Didi, sehingga mereka hapal semua tembang yang dilantunkan adik kandung almarhum pelawak Mamiek Prakoso itu. Singkat kata, mereka saling berkenalan.

Sepekan kemudian, digelarlah Musyawarah Nasional (Munas) Lara Ati, yang dihadiri 300-an kaum patah hati, di halaman sekretariat RBI. Mas Didi hadir mengejutkan malam itu. Peristiwa malam itu pun viral kembali. https://youtu.be/ndY3aQPZhY0

Sebutan Godfather of Brokerheart, Lord Didi dan penamaan sadbois dan sadgerls pun ditawarkan malam itu, termasuk istilah Sobat Ambyar untuk menamai kaum patah hati.

***

Dari Balekambang ke RBI, lantas disusul program off air Ngobam oleh YouTuber Gofar Hilman, yang mewawancarai Mas Didi. Pengunjungnya pun di luar perkiraan. 2.000an orang (hampir semua kaum muda) berjejalan di halaman sebuah tempat wedangan di Kartosuro. Wawancara malam itu rencananya untuk bahan unggahan di channel YouTube Gofar.

Ya, rejeki memang hak prerogatif Ilahi. Sejak viral di media sosial, undangan manggung tak pernah berhenti. Kian ramai semakin ke sini, hingga Mas Didi tak punya waktu cuti barang sehari, bahkan hingga berakhirnya tahun ini.

Jika semula penampilan Mas Didi banyak didominasi oleh undangan-undangan menghibur pada acara resepsi (hajatan pernikahan, sunatan hingga pertemuan-pertemuan kantor/perusahaan), kini berubah jadi panggung-panggung konser. Tak hanya di Solo Raya, namun hingga ke luar kota bahkan luar Pulau Jawa. Meski lagunya berbahasa Jawa berirama campursari, namun masyarakat berbeda budaya pun menerimanya tanpa ada kesan basa-basi. 

Pertunjukannya selalu ramai orang membanjiri, meski banyak lagunya bertema patah hati. Ya, mereka semua malah njogeti. Menari-nari meski melantunkan syair-syair menyayat hati, mengingatkan peristiwa-peristiwa perih yang pernah mereka alami.

***

KonserAmbyar diniatkan sebagai hadiah bagi konsistensi perjalanan kesenimanan Mas Didi. Tahun ini, kebetulan mencapai 30 tahun Mas Didi meniti karir sebagai penciptan dan penyanyi campursari. Kami, para pengagumnya ingin menghadiahi, meski bisa saja tidak begitu berarti.

Semua bermula dari kebetulan-kebetulan. 

Kebetulan pertama, manajemen Hotel The Sunan ingin mengundang Mas Didi tampil di sana. Adalah Mbak Retno Wulandari, general manager hotel itu yang mengontak saya mengenai rencananya.

Karena berteman sudah lama, maka saya memberanikan diri menantangnya: “Daripada keluar duit buat nanggap Mas Didi, bagaimana kalau kita berkolaborasi membikin konser khusus untuk Mas Didi? Kamu pinjamkan ballroom-mu, kami yang mengisi dengan konser Mas Didi.”

Gayung bersambut. Pihak The Sunan menyiapkan ruang, kami dari RBI mendesain konsernya, sambil mengatur siasat mencari sumber sumber dana untuk penyelenggaraan konser.

Saya menemui Mas Didi, meminta kesediaan dan mengalokasikan waktunya untuk tampil dalam konser. Tak ada kontrak tertulis. Hanya secara lisan disampaikan, konser akan dibuat sedemikian rupa, sehingga penyelenggara tidak nombok, dan ada sisa hasil yang bisa dibagi antara kami (RBI dan The Sunan) dengan Mas Didi. Deal!!!

Waktu kosongnya Mas Didi pun hanya tiga hari, 18-19 September. Kami bersepakat memilih malam Jumat untuk mewujudkan hajat. Tidak terikat pada tradisi bahwa konser harus di malam liburan kerja/sekolah.

Rupanya, Gusti Allah meridhoi niat kami. Konser disiapkan hanya dalam waktu kurang dari 30 hari!

Pembicaraan dengan target sponsor utama pun dijalin. Kami hanya minta Rp 50 juta, dengan kontraprestasi bisa disepakati melalui diskusi. Meski duit segitu termasuk kecil bagi target sponsor yang merupakan perusahaan sangat besar, rupanya di penghujung pembicaraan hanya sanggup mendanai sebesar Rp 20 juta. Kami tegas menolaknya. Mendingan kami tidak mendapat untung daripada menerima duit ‘receh’ dari perusahaan dengan kekayaan trilyunan. 

Dalam hitungan kami, uang segitu tidak berkontribusi signifikan untuk biaya penyelenggaraan. Mendingan mengandalkan pendapatan dari jualan tiket, sambil

menjaga ‘martabat’ agar tidak jadi remeh karena urusan duit ‘receh’. Toh kami, termasuk Mas Didi, tidak menyoal untung-rugi. Yang penting konser berjalan mulus, membuat banyak orang senang, dan tidak nombok.

Lagi-lagi, Tuhan menunjukkan kuasanya. Kurang dari sepuluh hari waktu pelaksanaan, pertolongan pun datang. Pak Agus dari Lotus Production mau mendukung konser kami, dengan biaya semampu kami. Singkat kata, tata cahaya, tata suara dan panggung hanya ‘dihargai’ Rp 20 juta!!!

Padahal, menurut rancangan pembiayaan kami, untuk menutup kebutuhan panggung dan pernik-perniknya itu memerlukan sedikitnya Rp 55 juta. Belum tarif sewa ballroom yang bisa mencapai puluhan juta.

Alhasil, konser berlangsung lancar dan memuaskan semua pihak. Semua pendapatan (semua dari jualan tiket) dikurangi biaya produksi, masih tersisa lumayan, sehingga bisa kami bagi bertiga: RBI dan The Sunan masing-masing 25 persen, dan setengahnya untuk Mas Didi. Tidak banyak, tapi juga tak terlalu kecil, meski yang diterima Mas Didi hanya kurang dari setengah honor rata-rata penampilannya. 

Keuntungan RBI, The Sunan dan Mas Didi hanyalah kepuasan penyelenggaraan. Sejak awal kami tak berniat mengejar profit, sehingga kami bisa menjual tiket cukup murah dan terjangkau kalangan manapun. Dengan begitu, kami tidak memaksa diri, yang penting tidak rugi.

Serunya proses penyelenggaraan KonserAmbyar akan saya tuliskan kemudian… Jadi, tulisan ini masih bersambung…

Ayo Kopdar Lagi…


Setelah beberapa kali gagal menggelar kopdar, insya Allah bulan ini bakal terwujud. Beberapa pihak sudah siap membantu penyelenggaraan, dan puluhan teman blogger yang selama ini sering tektokan secara offline maupun online juga sudah menyatakan tak sabar segera berkumpul. Perjumpaan warga maya di dunia nyata. “Kopdar (agar tidak) ambyar” jika menyitir kalimat #sobatambyar.

Tentu, #KopdarBlogger2019 kali ini akan berbeda dari sebelum-sebelumnya. Karena, kami mau ngajak ngobrol serius sedikit, semisal hak-hak atas akses komunikasi bagi masyarakat yang tinggal di daerah terpencil, bagaimana perkembangan layanan akses untuk saudara-saudara kita yang tunanetra, tunarungu/wicara dan sebagainya. Intinya, mencoba berkontribusi untuk sesama warga Indonesia.

Tapi, sebagaimana lazimnya kopdar, seneng-senengnya juga tetap ada. Malamnya bisa kulineran bareng, main musik rame-rame, atau ngegame juga bisa. Tergantung selera teman-teman saja. Seperti biasa juga, panitia cuma bisa menyediakan fasilitas menginap rame-rame, konsumsi selama di Solo dan kaos sekadar buat tidur. Buat ongkos pergi-pulang mohon merogoh kantongnya sendiri-sendiri.

Bagi yang berminat, dipersilakan mendaftar. Kami sediakan kuota untuk 20 peserta, sebab sebagian sudah ditarget dengan undangan… Jangan lupa, sebutkan nama blog dan akun media sosialnya. Jika kebanyakan peminat, panitia punya hak untuk melakukan seleksi.

Tempatnya sudah pasti di Solo (masih dirahasiakan). Harinya Kamis-Jumat, tanggalnya 19-20 September 2019. Peserta wajib datang sebelum jam 12.00 karena acara diawali dengan makan siang bersama, dan diakhiri dengan makan siang bersama lagi, esok harinya.

Rasan-rasan Sifat Prabowo dan SBY


Di luar posisi sebagai cebong, saya masih heran dengan gaya memimpinnya Prabowo dan SBY. Sampai urusan diksinya pun, sama-sama aneh. Ora nJawani menurut saya…

Kemiripan sifat keduanya adalah sama-sama menempatkan diri sebagai sosok penting, merasa arif bijaksana. 

Prabowo lebih suka mengundang orang ‘sowan’, datang kepadanya. Untuk forum kecil cukup di rumahnya di Jakarta. Kalau kolosal baru dikumpulkan di Hambalang, yang dalam imajinasi saya adalah sebuah kerajaan kecil. ada hall, ada tanah lapang, dan ada kediaman utama pribadi.

Kepada siapapun, asal jumlahnya majemuk, Prabowo lebih suka menggunakan diksi ‘kalian’. Dan jika tunggal cukup disebut dengan ‘kamu’. 

Entah saya yang kelewat feodal (sebab Jawa tulen) atau apa. 

Tapi, Prabowo selalu menempatkan siapapun selain dirinya selalu lebih kecil. Orang lain adalah kaum kebanyakan. Wartawan pun dinilainya sebagai orang miskin menderita, sehingga diibaratkannya jarang masuk mall. Mungkin Prabowo biasa jumpa wartawan pemburu isi amplop dan biasa membayarnya sehingga merasa leluasa memperlakukan mereka, termasuk mengejek dan menghardiknya.

Mungkin sifat seperti itu terbentuk karena dia sudah ‘besar’ sedari lahir. Lebih banyak hidup di luar negeri, berpendidikan dan bergaul ala barat, dan baru masuk ke Indonesia lagi ketika masuk Akabri. Sejarah pun membawanya ke posisi sebagai bagian dari kaum elit, karena menjadi menantu Presiden superkuat di kawasan Asia Tenggara. 

Lepas dinas ketentaraan, dia berbisnis dengan skala usaha yang tak bisa dibilang main-main alias recehan. Wajar jika kekayaannya trilyunan rupiah, sehingga ia berada di antara 1 persen penduduk Indonesia yang menguasai perekonomian bangsa, seperti sering diucapkannya.

***

Beda dengan Prabowo, SBY adalah orang desa, berasal dari kaum kebanyakan, yang dulunya termasuk hidup pas-pasan. Namun SBY sukses meniti karir militer, bahkan sampai diambil menantu oleh Gubernur Akabri, seorang jenderal yang cukup berpengaruh juga, sehingga menempatkannya dalam kelompok ningrat dalam strata sosial-politik Indonesia.

Karir militer SBY pun gemilang. Pernah jadi ajudan Soeharto yang maha kuasa dalan kemiliteran dan perpolitikan Indonesia, bahkan Asia.

Jika Prabowo gak pernah hidup susah, SBY saya anggap pernah mengalami hidup pas-pasan di kala remaja, lantas menjadi orang besar. Dugaan saya, ada benturan budaya pada dirinya, sehingga untuk menjaga kebesarannya, ia merintis bikin partai untuk membesarkan dirinya, dengan tanggal pendirian tepat pada hari ulang tahun kelahirannya. 

Ulang tahun SBY akan selalu ramai sepanjang Partai Demokrat masih bersifat hayat. Ini mirip perilaku raja-raja jaman dulu, yang selalu mengaitkan peristiwa besar dengan hari-hari spesialnya.

***

Tapi, kemistri Prabowo dan SBY tak bisa cocok. Di luar kisah insiden personalnya semasa di Akabri, sisi kejiwaan keduanya tidak memungkinkan hubungan personal yang setara. Prabowo merasa dirinya lebih senior dan lebih besar, sementara SBY meski yunior di militer, namun status jendralnya penuh, empat bintang, bahkan pernah menjadi panglima tertinggi militer selama satu dekade.

Menjelang persiapan debat dan kampanye pilpres, masih gak kebayang advis SBY akan mudah diterima Prabowo, jika sikap SBY tidak bisa ‘menempatkan diri’ sebagai ‘bawahan’. Prabowo yang kini calon presiden, dan partainya lebih besar dari Demokrat, cenderung membuatnya lebih besar dan lebih penting. Petunjuk banyak survei bahwa Gerindra akan jadi salah satu pemenang utama pemilu legislatif, bukan tidak mungkin akan berkontribusi signifikan bagi Prabowo menambah rasa percaya dirinya lebih besar dari SBY. 

Saya menduga, gesekan internal Prabowo-SBY akan melemahkan perjuangan kemenangan Prabowo-Sandiaga. Dalam imajinasi saya, kesalahan-kesalahan Prabowo dan Sandiaga selama ini akan disodorkan SBY, namun bakal ditolaknya dengan dalih itu semua sebagai strategi atau apapun namanya.

SBY sendiri, yang dalam hemat saya adalah tipe politikus pencari selamat, tidak akan mau total kampanye untuk kemenangan Prabowo. SBY pasti lebih berkepentingan menjadikan Demokrat sebagai partai pemenang, yang meraup banyak kursi sebagaimana didapatnya pada 2009 alias tak seredup saat ini. 

Konon, SBY masih terkesan berharap bisa diterima sebagai bagian dari faksi Jokowi. Itu ditunjukkan dengan cara membiarkan kader-kadernya di daerah melakukan deklarasi menjadi pendukung Jokowi. Sebagai jendral yang dikenal ‘baperan’, sulit untuk tidak menyebut sikap tidak reaktifnya itu sebagai sebuah standar ganda, main dua kaki. Cari aman.  

Mungkin ia berharap, sebagaimana raja-raja masa lalu, kelak bisa menitipkan putra mahkotanya, sang pangeran AHY bisa ‘magang’ di kabinet Jokowi jika kelak memimpin lagi, sehingga cukup jadi modalitas maju pilpres 2024.

Untuk soal mengarbit AHY, lupakan sang pangeran hanya pensiun diri sebagai mayor. SBY pasti sudah berhitung, karir kemiliteran sudah tak akan signifikan dalam dunia yang kian maju, dimana kwalitas seseorang bukan lagi diukur dari status kejendralan semata. Sudah basi, kata anak zaman now!

SBY pasti berhitung, 2024 adalah titik start bagi laga atletik, dimana para putra/putri mahkota elit politik akan berjajar di lintasan: Puan Maharani, Prananda Paloh, dan AHY. Sementara di lintasan lain, bisa saja muncul pelari ‘penggembira’ (saya sebut demikian karena tidak mengandalkan modalitas garis keturunan elit), seperti Muhaimin Iskandar, Romahurmuziy, Airlangga Hartarto, Ridwan Kamil, dan masih banyak lagi, termasuk Sandiaga Uno, jika pemilu depan menempatkan dia hanya jadi pecundang.

***

Pilpres dan pemilu legislatif 2019 dipastikan seru. Ini ajang pertarungan eksistensi Prabowo. Jika gagal, ia akan lewat. Pada 2024 sepertinya sudah tak layak maju lagi sebagai capres. Napasnya pasti lebih pendek dibanding pelari-pelari muda dan setengah uzur lainnya.

Makanya, mobilisasi kaum puritan dengan jualan agama akan digeber habis. Teriakan-teriakan tak punya modal (termasuk sindiran partai kolisi belum ikut aktif iuran dana kampanye), pastilah hanya modus pengalihan isu semata.

Sudah rahasia umum, pimpinan partai ibarat pengusaha angkutan carter atau bus pariwisata. dan capres/cawapres (begitu pun calon gubernur/bupati/walikota) adalah penyewa kendaraan. Justru menjadi aneh jika ada pengusaha carteran memberikan kendaraannya begitu saja tanpa imbalan.

Kita tunggu saja, kelak akan seperti apa….