Ramai-ramai Menelikung Jokowi

tebalnya lembaran undang-undang yang membuat orang malas baca (di luar persoalan sulitnya publik mengakses draf RUU-nya hingga menjadi UU), berbuah kericuhan. demo di mana-mana, dan kerugian sosial ekonomi dirasakan banyak orang.

muncul banyak pasal selundupan, tapi tak banyak jadi sorotan. ketentuan mendirikan perusahaan penerbangan, misalnya, dipermudah syaratnya. jika dulu harus mengoperasikan pesawat dengan jumlah tertentu, dan ada ketentuan minimal jumlah pesawat yang harus berstatus milik/aset perusahaan (bukan sewa), kini dipermudah, menjadi lebih ringan. itu berpotensi merusak iklim usaha, dan potensial merugikan konsumen karena dipastikan cepat gulung tikar.

ada juga pasal yang menyebut adanya insentif pembebasan pajak (karena hanya dikenai beban menjadi 0% atau nol persen) jika bla-bla-bla-bla. dan banyak lagi.

bahwa banyak aturan baru yang menguntungkan publik dan negara, iya. tapi potensi masuknya pasal selundupan, mana mungkin Pak Jokowi sebagai presiden memelototi satu per satu?!?

intinya, bawahan menjegal atasan itu bisa terjadi. bisa saja ada oknum bawahan yang melakukan barter dengan sejumlah konsesi, entah berupa uang, aset atau beraneka macam jenis sogokan lainnya.

jika argumentasi UU Cipta Kerja itu menguntungkan investor/pengusaha merujuk pada praktek permainan pasal, saya rasa bagus sekali. tapi jika hanya disempitkan pada urusan buruh-majikan, rasanya kok eman-eman. sayang energinya.

***

sebagai buzzer rupiah dan pendukung Jokowi, yang selalu berkacamata kuda, seneng njilat pantat majikan, saya hanya bisa berbagi apa yang saya kuatirkan dan curigai.

empat tahun lagi, berakhirlah masa bakti Pak Jokowi. pada pemilihan presiden 2024 nanti, semua partai harus menyiapkan amunisi. duit? itu pasti!

tapi, jabatan di kementerian, lembaga atau BUMN yang memungkinkan kemudahan menggangsir anggaran untuk dijadikan lahan ‘saving’ bagi pribadi/kelompok/partai harus dimaksimalkan.

tapi, lebih dari itu adalah melakukan proses cantik mendeligitimasi Jokowi, agar kelak dia tidak punya legacy! 

maka, diupayakan strategi jitu agar di akhir masa jabatannya, Pak Jokowi tak mampu menopang PDIP. maka, ia harus dijauhkan dari rakyat pendukungnya. jika para ‘Jokower’ berbalik memusuhi dan antipati sejak dini, maka orang akan melupakan prestasi dan capaian-capaiannya, juga menjauhi partai yang kini dikendalikan Megawati, sehingga kelak tak jadi pemenang lagi.

bagi saya, musuh Jokowi saat ini adalah musuh rakyat Indonesia kemarin. Yakni jaringan Orde Baru!

Loyalis Orae Baru ada di mana-mana. Sejak reformasi, mereka berpencar membuat banyak partai, membangun kekuatan secara ‘konstitusional’, supaya terkesan demokratis dan maju.

kini, rakyat diaduk-aduk emosinya, diadu domba dengan segala cara. soal saham Freeport dan pembangunan smelter, tentang kebijakan tataniaga dan eksplorasi sektor energi mineral dan batubara, usaha memburu aset koruptor di Swiss dan negara-negara lainnya, tax amnesty, kebijakan tataniaga aspal, semua itu merugikan klan oligark dan mafia lama.

mengakomodasi masuknya banyak tokoh terafiliasi Orba bisa disebut sebagai ‘kesalahan’ Pak Jokowi, meski saya yakin niatnya merangkul agar tak merecoki. sebab melawan mereka, tidaklah mudah dan butuh sekutu yang banyak.

sekali lagi, ebagai loyalisnya yang rasional, bahkan sering diklasifikasi sebagai #buzzerRp, bahkan ada yang menyindir sebagai penjilat pantat penguasa, saya hanya bisa memuntahkan uneg-uneg seperti ini.

saya jelas tak punya hak mengajak orang lain bersikap seperti saya. mungkin, referensi dan informasi yang mereka miliki berbeda dengan saya, sehingga bisa punya sikap berbeda, bahkan dengan sesama Jokowers lainnya.

yang pasti, saya masih meyakini jika hari-hari ini sedang berlangsung pembangunan kongsi politisi dan klan oligarki, untuk mendeligitimasi Jokowi. tujuannya, bagaimana Jokowi di akhir masa pengabdiannya tampak tidak memiliki legacy.

semoga masih ada banyak orang menyadari situasi begini. mereka bisa menemani Pak Jokowi dengan cara tetap mengkritisi kebijakannya secara obyektif dan fair. kritik sekeras apapun, saya yakin tak jadi soal baginya, asal ujungnya demi kemaslahatan bersama dan menjaga eksistensi bangsa dan negara.

Leave a Reply