Menyelamatkan Bahasa Ibu

Tulisan ini sudah dipublikasikan di Harian Suara Merdeka, 24 Pebruari 2013

Kata seorang kiai, media tulisan seperti surat kabar dan buku merupakan pembentuk peradaban. Beda dengan media auditif semisal radio, apalagi informasi yang disiarkan melalui media televisi. Mengamini itu, maka menjadi renungan menarik jika pada peringatan Hari Bahasa Ibu Internasional (21 Pebruari) ke-14, tahun ini, UNESCO memilih tema “Buku untuk  Pendidikan Bahasa Ibu”.

Menurut Organisasi Pendidikan, Ilmu Pengetahuan dan Kebudayaan (UNESCO), setengah lebih dari sekitar 7.000 bahasa (lisan) yang ada di dunia diperkirakan akan mati dalam beberapa generasi mendatang. Padahal, 96 persen dari bahasa (ibu) yang ada hanya digunakan secara lisan oleh empat persen dari total hampir tujuh milyar penduduk dunia, atau sekitar 280 juta saja!

Bagaimana masa depan Bahasa Jawa, yang jika menilik data statistiknya, diperkirakan masih ada 60 juta lebih orang yang menggunakan bahasa ibunya dengan beragam dialek? Sekilas memang masih dijumpai orang-orang fasih bertutur dengan Bahasa Jawa, namun yang menyedihkan, mayoritas dari mereka nyaris gagal jika memindahkannya ke bahasa tulisan, meski berhuruf Latin. Menuliskan kalimat ‘dua mata sakit semua” dalam Bahasa Jawa cenderung menjadi moto/mripat loro loro kabeh, bukan mata/mripat loro lara kabèh.

Kita tahu, memindahkan bahasa tutur/lisan ke dalam tulisan terkesan biasa saja dan mudah. Keprihatinan terbesar sebagian pemerhati Bahasa Jawa justru terletak pada lemahnya penguasaan kosakata atau diksi, untuk sebuah keperluan komunikasi, baik lisan maupun tertulis, terutama di kalangan anak-anak hingga remaja, bahkan kaum dewasa masyarakat Jawa masa kini. Menyebut diri tidur dengan saré, bukan tilem atau mengatakan nedhi (bukan dhahar) untuk makan, terhadap orang yang lebih tua sudah menjadi hal yang bisa dijumpai sehari-hari, di mana saja.

***

Saya jadi ingat keluhan seorang ibu di Solo, yang prihatin karena kian berjaraknya anak-anak sekarang dengan bahasa ibu, bahasa Jawa. Katanya, ia kesulitan mencari buku cerita berbahasa Jawa yang bisa digunakan untuk pengantar tidur anak. Yang klasik, seperti Dongeng Kancil, terlalu riskan dijadikan bahan penceriteraan karena sifat kancil yang selalu digambarkan licik dan kurang ajar.

Tak hanya soal buku cerita, menurut hemat penulis,  anak-anak Jawa masa kini, pun berjarak dengan tembang-tembang Jawa (gendhing dolanan) seperti Kupu Kuwi, Si Kucing dan sebagainya. Boleh jadi lantaran tembang-tembang untuk anak itu biasa dilantunkan dengan iringan gamelan (musik karawitan) yang dianggap ‘jadul’ atau tidak keren bagi anak-anak masa kini yang telinga dan rasanya sudah kelewat ‘terdidik’ musik pop.

Jadi, agak aneh rasanya, jika benar kelak kurikulum pendidikan nasional akan menghilangkan bahasa daerah (bahasa ibu), dan menempatkannya sebagai bagian dari kegiatan ekstrakurikuler. Padahal, pada praktek berbahasa Jawa, transformasi pendidikan kesusilaan dan pendalaman budi pekerti justru dimulai saat seseorang merancang kalimat. Diksi harus tepat karena harus sesuai konteks waktu dan usia/kedudukan mitra wicara, dan seterusnya. Kwalitas penghormatan seseorang terhadap orang lain akan tampak dari diksi, begitu pula sifat rendah hati seseorang akan mewujud lewat gaya bicara dan cara memilih dan merangkai sejumlah kata.

Bahasa Jawa sebagai Bahasa Ibu merupakan identitas penting bagi individu maupun kelompok. Ia juga memiliki peran mendasar dan menjadi ciri khusus kehidupan sosial, ekonomi dan kebudayaan sebuah kelompok masyarakat. Oleh karena itu, melestarikan bahasa ibu merupakan upaya mulia melestarikan sebuah peradaban. Sayang, nasib bahasa daerah terus terpinggirkan, tergerus bukan saja oleh bahasa nasional (yang memang penting), namun ironisnya justru dikalahkan oleh minat penguasaan bahasa asing seperti Inggris (dengan dalih bahasa ilmu pengetahuan internasional), bahasa Mandarin, Jepang, Korea dan sebagainya untuk kepentingan lebih pragmatis, juga bahasa untuk keperluan khusus seperti Arab dan Latin.

Bukan hendak mengabaikan pentingnya bahasa asing dalam tata pergaulan moderen dan global, namun komitmen merawat bahasa daerah justru seyogyanya difasilitasi oleh negara, dan dikukuhkan dengan produk-produk hukum yang memadai dalam konteks proteksi atas ancaman kepunahan. Jangan sampai, dalam beberapa generasi mendatang, nasib Bahasa Jawa (juga Sunda, Minang, Batak, dan sebagainya) menyusul 12 bahasa ibu yang dinyatakan sudah hilang oleh UNESCO, baru-baru ini.

Tak hanya melalui pendidikan di dalam keluarga, penyediaan materi-materi pendidikan dan pengajaran, baik melalui produk-produk cetakan seperti buku, namun juga menyesuaikan perkembangan jaman, ketika teknologi memegang peranan signifikan. Saatnya mulai diinisiasi gerakan bersama membuat beragam materi digital seperti lewat games (online), blog, kamus elektronik, buku elektronik atau e-book, dan sebagainya.

Media massa pun sudah waktunya mengambil peran merawat bahasa ibu/bahasa daerah dari ancaman kepunahan. Beragam dialek yang masih hidup di Jawa Tengah harus didorong dan difasilitasi hak tumbuh dan berkembangnya lewat penyediaan halaman khusus, jika perlu dalam satu hingga beberapa halaman, yang memuat/menampilkan beragam dialek dan tema-tema lokalitas, tergantung kelompok subkultur penggunanya.

Bisa dibayangkan, jika pada sebuah halaman koran terdapat aneka cerita yang bersandar pada khazanah lokalitas, maka pembaca di Jawa Tengah bisa serempak belajar memahami keragaman, sehingga terjadi dialog batin pada diri pembaca, yang pada gilirannya akan mengembang menjadi dialog sosial dengan cakupan khalayak lebih luas. Pada periode tertentu, semua materi bisa diterbitkan menjadi buku, sehingga kelak akan menjadi jejak dinamika peradaban, di mana kelestarian akan muncul sebagai akibat logis dan niscaya.

Pasar pembaca, rasanya masih terbuka lebar jika mengingat kini tak banyak terdapat buku sebagai bacaan, di pasaran. Dan, satu hal yang mesti dipertimbangkan adalah kesenjangan anak-anak, remaja dan kaum pemuda masa kini terhadap Bahasa Jawa, karena jika disimak dengan baik, sebagian besar buku-buku berbahasa Jawa yang menggunakan bahasa Jawa krama inggil. Sebagai ‘jalan tengah’ perlu diperbanyak referensi bacaan dengan pendekatan ngoko dan madya (ngoko alus) sebagai jembatan dan meminimalisir ‘ketakutan’ anak-anak muda berbahasa Jawa, terutama lewat bahasa tulisan.

Jika penerbitan buku (Bahasa Jawa) untuk pendidikan bahasa ibu masih dirasa mahal, maka peran suratkabar menjadi signifikan karena relatif murah, namun bisa dilakukan secara serentak dan massif. Dan, sebagiannya bisa dijadikan majalah dinding di sekolah-sekolah atau tempat-tempat umum sebagai media pembelajaran bersama.

 

7 thoughts on “Menyelamatkan Bahasa Ibu

  1. Memang sangat disayangkan melihat kenyataan bahwa bahasa ibu mulai perlahan ditinggalkan. Bahkan anak pada jaman sekarang cenderung tidak bisa dan tidak mengerti bahasa ibu. Orang tua saat ini juga sangat jarang yang masih menggunakan bahasa ibu dalam percakapan sehari-hari di rumah, sehingga menyebabkan anak semakin tidak mengenal bahasa ibu. Peran sekolah sangat penting dalam mempertahankan bahasa ibu, selain menjadi bahan pelajaran wajib, bisa juga dikenalkan dengan muatan-muatan lokal, pengadaan mading dengan bahasa ibu, ataupun dengan menggunakan satu hari dalam seminggu untuk berbahasa ibu.

  2. hal ini lebih diperparah ketika di tengah keluarga yang kedua bapak ibunya asli wong Jawa malah mengajarkan bahasa lain dalam kesehariannya, sehingga anak-anak tidak lagi berbahasa ibu dengan bahasa daerahnya….

  3. betul, harusnya memang ada pelajaran bahasa daerah di kurikullum. tapi coba kalau kita tanya pada diri kita sendiri waktu masih sekolah dulu. Siapa yang serius belajar bahasa daerahnya? pasti dikit banget tuh.

    Jadi antusiasme pelajar dalam mempelajari bahasa daerah perlu dipertimbangkan.. kalau tidak ya percuma saja bahasa daerah ditambahkan pada kurikullum.

Leave a Reply