Nasi Liwet Bu Sarmi

warung

Berada di Sala, rasanya kurang afdol kalau tidak mencicipi nasi liwet. Ada banyak pilihan untuk Anda. Pada pagi hari –biasanya antara jam 5 hingga 6.30, hampir di setiap gang di tengah kampung berserak dagangan nasi liwet. Selain nasi liwet, biasanya dijajakan pula bubur tumpang, pecel tumpang dan aneka gorengan seperti bakwan, tempe, tahu dan sosis. Dengan duit Rp 5.000 saja, dijamin sudah kekenyangan. 

Beda pagi, lain pula siang hari, dimana nasi liwet hanya ‘beredar’ di rumah-rumah makan. Di dekat Stasiun Purwosari, tepatnya di Jl. Slamet Riyadi, Anda bisa singgah di rumah makan Lampu Hijau. Agak mahal memang, tapi tak sampai menguras dompet. Dengan sepuluh ribu, sudah didapat santapan lezat, juga teh panas yang enak. Tak kental, tapi sepet-nya sungguh terasa.  

Di rumah makan itu, tersedia gudeg kendil, juga ayam goreng dan bakar. Dijamin asli ayam kampung. Gurih! Soal kehalalan, Insya Allah bisa dipertanggungjawabkan. Sebelum jadi loyal customer, saya mengenal rumah makan itu atas referensi seorang kiai, teman sekaligus mentor spiritual.  

Bagi muslim, urusan halal-haram itu sangat penting. Sang kiai moderat itu selalu menasihati saya dengan kalimat begini: 

Kalau berpakaian, sesuaikan dengan yang umumnya dipakai orang. Soal makan, gunakan ukuran dirimu sendiri. (Pantas saja, sang kiai kadang bercelana jeans dan t-shirt saat kumpul-kumpul dengan pastor, pendeta dan bhiksu. Sedang saat punya hajat, dia tak pernah lupa menyediakan menu vegetarian, agar sang bhiksu juga bisa turut kembul bujana andrawina).

pincuk nasi liwetKembali ke nasi liwet, ingatan kebanyakan dari Anda cenderung tertuju pada Bu Wongso Lemu di Keprabon. Ya, Keprabon memang wilayah jajan di malam hari, baik bagi warga sekitar maupun pelancong. Banyak penjual nasi liwet di sana. Juga gudeg dan masakan Jawa lainnya. Meski tak mahal untuk ukuran kocek pelancong, pembeli lokal cenderung sensitif pada harga. Kalau malas antri atau ingin berhemat –meski tak seberapa terpaut, Anda bisa bergeser sekitar sat kilometer ke timur. Tepatnya, di Jl. Kapten Mulyadi, Lojiwetan, sebelah timur Benteng Vastenburg terdapat warung tenda penjaja nasi liwet. Namanya Bu Sarmi. 

Seperti di tempat-tempat lain, Anda bisa memesan lauk khusus sesuai selera. Bila nasi liwet standar berisi daging suwir dan telur rebus, Anda bisa memesan kulit dan brutu (yang ini pantat ayam. Lezat, meski orang suka risih karena yang disantap adalah saluran BAB!). Atau uritan, yakni sebutan untuk telur yang belum bercangkang. 

suasana jajan

Mengunjungi warung Bu Sarmi, sebaiknya hindari jam-jam makan, sekitar pukul 19.00 hingga 20.30. Bila datang pada saat-saat itu, antrian bisa panjang sehingga Anda dipaksa sabar dan harus awas terhadap bangku yang ditinggalkan pelanggan. 

Soal rasa, saya lebih suka warung ini dibanding jualan Bu Wongso Lemu. Meski ada jaminan rasa dan namanya sudah jadi legenda dan bahkan punya cabang di kawasan superelit di (Hotel) Darmawangsa Jakarta, saya lebih memilih Bu Sarmi. Apalagi, di sampingnya terdapat warung susu segar Shi Jack, sehingga saya bisa memesan langsung lewat pramusaji Bu Sarmi. Ada beragam pilihan menus susu, baik panas maupun dingin. Ada susu-telur-madu-jahe (STMJ), susu coklat, dan belasan kombinasi lainnya. (Khusus susu Shi Jack, tunggu posting mendatang).    

2 thoughts on “Nasi Liwet Bu Sarmi

  1. ino

    Semalem mumpung lagi di Solo aku nyoba makan nasi liwet wongso lemu di keprabon, rasanya sih biasa saja. Cuma karena itu khas solo ya harus dicoba nggak perlu nyesel sekalipun hargaya lumayan mahal. Makan berdua sama minum 33 ribu. Cuma yg agak aneh, waktu itu ada pengamen sekitar 4 atau 5 orang nyanyi lagu campur sarinan, selama aku makan nyanyi sekitar 3 lagu. Waktu selesai makan tadinya aku mau kasih seribu tapi aku mikir2 jangan2 ntar kurang maka aku kasih 5 ribu aja, anehnya si wanita penyanyi itu nggak bilang terimakasih, bahkan senyum pun engak. selama perjalanan pulang aku mikir terus..apa 5 ribu masih kurang apa ya… atau gimana ya…aku cuma bisa nebak-nebak tapi belum terjawab sampe sekarang….
    Buat temen Solo yg kebetulan baca tulisan ini mungkin bisa ngasih komentar sekedar menjawab rasa penasaranku ini….. Salam

Leave a Reply