ABU 96

Sumber: Infografis Tirto.id

Sumber: Infografis Tirto.id

Kalah jadi abu, menang jadi arang. Begitu peribahasa yang saya dapat sejak duduk di bangku sekolah dasar, yang maknanya kurang-lebih tidak ada gunanya bertarung, berperang atau bermusuhan satu sama lain.

Tapi, makna peribahasa itu bisa saja dimaknai berbeda dengan Rizieq Shihab dan para pengikutnya, yang hobi banget mengobarkan permusuhan kepada siapapun. Semua hal bisa dijadikan musabab. Entah orang hendak membangun gereja, bisnis tempat hiburan hingga warung makan buka siang hari di bulan Ramadhan.

Atas nama penegakan ketertiban dan menjaga keimanan sebagian orang, FPI dan kawan-kawan tak segan menggasak warung, tak peduli pemiliknya tua renta dan bermodal pas-pasan. Apalagi diskotik atau tempat hiburan malam yang dikelola dengan modal berlebih, tentu jauh lebih menggoda syahwat mereka dalam membentengi moral umat.

***

Saya sungguh gembira ketika Aksi Bela Ulama 9 Juni berakhir sepi. Jangankan 500 ribu seperti yang mereka teriakkan sebelumnya, bahkan seribu pun tak sampai. Continue reading

Ingatan tentang Pancasila

Hari ini, bangsa Indonesia diingatkan kembali tentang perlunya menghayati dan mengamalkan lima sila dalam Pancasila sebagai dasar negara. Dan, kita mesti berterima kasih kepada orang-orang seperti Rizieq Shihab, Bachtiar Nasir, Alfian Tanjung, Munarman, Eggi Sudjana, Kivlan Zein, Wiranto dan sederet nama populer di Republik Indonesia.

http://suarapesantren.net/2017/06/01/pesan-pancasila-era-walisongo/

http://suarapesantren.net/2017/06/01/pesan-pancasila-era-walisongo/

Tanpa mereka, saya jamin tak pernah ada gerakan pamer tagar #SayaIndonesia #SayaPancasila dan kampanye sejenisnya. Mereka yang usianya sudah melewati remaja pada 1998, pasti ingat hubungan Jenderal Purnawirawan Wiranto dengan orang-orang Rizieq Shihab, juga pasti mengerti apa itu Pam Swakarsa.

Dan, orang-orang yang sudah dewasa secara akal dan referensi politiknya pada menjelang reformasi, pasti paham bagaimana tokoh-tokoh Islam pada masa Orde Baru sangat diawasi, dikontrol, ditekan oleh ABRI (terutama Angkatan Darat). Bahkan bagi kelompok Islam yang dianggap ‘ngelunjak’, tak jarang segera dibereskan seperti ditunjukkan melalui peristiwa Priok (Jakarta), Talangsari (Lampung) atau operasi dukun santet di wilayah tapal kuda di Pulau Jawa.   *Alhamdulillah banget, kan, Islam dan tentara bisa bersahabat sedemikian rupa sejak Pam Swakarsa, padahal sebelumnya lebih mirip hubungan Tom & Jerry???* Continue reading

Uneg-uneg tentang Ahok

Pilihan kendaraan Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok untuk maju kembali dalam pemilihan Gubernur DKI menarik buat tebak-tebakan. Akan mencalonkan melalui jalur perseorangan? Atau lewat partai politik, ketika Partai Nasdem, Hanura disusul Golkar menyatakan dukungannya, di mana perolehan kursi akibat bergabungnya tiga partai itu memenuhi syarat minimal pencalonan. Di persimpangan sinilah letak pertaruhan nama baik dan masa depan Ahok.

Ilustrasi: Dzofar (dzofar.com)

Ilustrasi: Dzofar (dzofar.com)

Jika memilih jalur perseorangan, maka nilai seorang Ahok akan meninggi, mengingat sikap tanpa kompromi terhadap partai politik yang selama ini sudah ditunjukkannya, bertemu dengan kekecewaan publik terhadap banyaknya kader dan tokoh partai politik terbukti tersangkut perkara hukum yang memalukan. Ada yang video mesumnya beredar luas, ada yang tertangkap tangan karena transaksi suap, hingga vonis penjara dan denda kasus korupsi dan gratifikasi.

Apa yang dilakukan TemanAhok ‘hanyalah’ terobosan kreatif anak-anak muda yang mulai muak dengan praktik politik transaksional alias dagang sapi. Andai publik tidak mengamini, dalam arti turut merasakan kemuakannya, tak mungkin sejuta lebih warga DKI Jakarta mau menyerahkan fotokopi KTP-nya sebagai bentuk dukungan nyata. Sehebat apapun pengorganisasian TemanAhok, juga tak bakal berhasil, jika tidak dipertemukan oleh keprihatinan yang sama. Kesediaan mendukung adalah protes perlawanan politik yang nyata.

Dalam hemat saya, hanya ‘kader-kader Golkar’-lah yang memiliki kelenturan bersiasat politik. Partai NasDem yang paling awal menyatakan dukungan, didirikan dan dikontrol penuh oleh seorang Surya Paloh yang tak lain adalah kader Golkar. Begitu pula Hanura yang dikendalikan sepenuhnya oleh Jenderal (Purn.) Wiranto. Golkar? Sudah sangat jelas! Continue reading

Tentang Memilih Presiden

Kalau hari-hari ini saya banyak nyinyir kepada Gita Wirjawan, sejatinya disebabkan oleh keyakinan bahwa ia hanyalah satu-satunya yang diharap jadi penerus rezim Susilo Bambang Yudhoyono. Dengan naiknya Gita, maka serangan-serangan lawan politik SBY tak akan mengancam kenyamanan masa pensiunnya. Skandal Bank Century dank asus korupsi Wisma Atlet/Hambalang, bukan tak mungkin menyeret keluarga istana ke pusaran peradilan, kendati (mungkin) cuma jadi saksi.

Selain itu, estafet hubungan baik SBY dengan Amerika bisa diteruskan jika Presiden Indonesia mendatang merupakan rekomendasi rezim saat ini. Tak hanya Freeport, kepentingan Amerika di Indonesia kelewat banyak, dan multisektor. Motif ekonomi jelas utama dan politik pun tak kalah penting strategis nilainya. Ibaratnya, Indonesia adalah potensi sekutu diam, informal, yang tak perlu dilembagakan menjadi bagian dari blok mereka.

Kebetulan, semua prasyarat ‘ramah Amerika’-nya ada pada sosok Gita: ia lama sekolah di sana, dan lama malang-melintang di aneka perusahaan yang berpusat di negeri yang dipimpin Obama itu. Dan SBY, selepas masa jabatan presiden, masih punya kendaraan yang bisa mengantarkan bakal calon presiden, yakni Partai Demokrat. Soal terpuruknya elektabilitas partai, tentu merupakan soal lain. Tapi posisi-posisi strategis pemerintahan, seperti Kapolri, Panglima TNI dan sebagainya, adalah orang-orang yang dipilihnya, yang masih bisa diharapkan ‘membantu’ kelancaran suksesi.

Dan, melihat rasa percaya diri yang ditunjukkan Gita belakangan ini, rasanya bisa dilihat sebagai indikasi restu konvensi mengarah kepada dirinya, dibanding sosok-sosok lain seperti Dahlan Iskan dan Anies Baswedan. Iklan jor-joran di aneka media dan media sosial pasti tak berbiaya ringan. Dan, saya ragu tak ada tendensi pada Gita, mengeluarkan banyak dana tanpa tujuan memenangkan pertarungan kursi kekuasaan.

Dan, ketika saya mengeluh di timeline Twitter, bahwa belum ada calon presiden yang sreg bagi saya, ada yang menyodorkan nama Prabowo. Katanya, ia sosok yang menjunjung tinggi kepentingan manusia se-Indonesia.

OK. Jika kata kuncinya adalah “menjunjung tinggi kepentingan manusia se-Indonesia”, maka bisa kita ajukan pertanyaan lanjutan: kepentingan seperti apa?

Menyimak iklan-iklan Prabowo yang gencar dua-tiga tahun terakhir, memang bagus. Ia menjanjikan kemandirian, perlindungan petani, melawan kepentingan perusahaan-perusahaan multinasional dan sebagainya. Dan itu penting, sebab selama dua periode masa jabatan kepresidenan SBY, kita kelewat banyak didikte kepentingan asing. Utang luar negeri terus merangkak naik, dan kesejahteraan semu ada di mana-mana.

Tapi, semudah itukah Prabowo memenangi pertarungan pada Pemilihan Umum Presiden 2014? Saya tak yakin dan tidak setuju ia memimpin negeri ini. Sosoknya kelewat dingin dan misterius. Andai tak terkait peristiwa penculikan aktivis, mungkin saya akan bersikap sebaliknya. Dan, faktor itu pula yang potensial jadi batu sandungan pencalonannya. Lawan politik lokal akan ramai-ramai menghadang, dan Amerika pasti akan menjadikan hal itu sebagai amunisi untuk menjegalnya, lewat tangan-tangan kekuatan politiknya di Indonesia, sebagaimana dulu menjatuhkan Gus Dur lewat figur Amien Rais dan sekutu ‘ad hoc’-nya.

Amerika dan sekutu-sekutunya pasti tak mau Indonesia dipimpin sosok yang tak mudah didikte, juga memghambat kepentingan ekonomi dan politik internasional mereka. Dunia, harus di bawah kendalinya. Kira-kira demikian maunya, sehingga suksesi pemerintahan Indonesia selalu menjadi prioritas politik luar negerinya. Indonesia adalah pasar yang menggiurkan, sekaligus penyedia sumberdaya yang melenakan pula. Posisinya pun strategis di ASEAN, Asia-Pasifik, hingga di negara-negara Islam (OKI) dan nonblok. Komplit!

Sebenarnya, masih ada nama Wiranto, yang sejak jauh hari sudah mendeklarasikan diri sebagai calon presiden bersama pasangannya, Hari Tanoe. Tapi, bagi saya, Wiranto pun tidak layak dipilih sebab aroma Soeharto-nya kelewat kental. Lagian, ia terlalu tua dan konservatif, tak punya sikap kritis terhadap Amerika dan sekutunya, terhadap WTO, dan lain sebagainya.

Jika bukan Gita, Prabowo dan Wiranto, lantas siapa?

Entahlah. Yang jelas jangan Megawati. Ia sudah terlalu tua  dan tak cukup memiliki prestasi memadai ketika kapan hari mau dipaksa menurunkan dan menggantikan Gus Dur secara tak elok itu. Jangan pula dari klan PKS supaya negeri ini tak jadi basis wahabi dan menjadi negeri filial Arab Saudi.

Lalu, siapa lagi?

Entahlah. Saya pun tak punya sosok idola atau yang pantas diharapkan. Yang penting, akan menarik jika tahun depan PDI Perjuangan dan Partai Kebangkitan Bangsa pada bahu-membahu memperjuangkan prinsip kecintaan mereka kepada NKRI dan bangsa Indonesia. Indonesia  tidak didikte kekuatan asing, namun juga tak semata-mata antiasing.

Kita butuh sosok yang fleksibel: mampu berdiplomasi, teguh pada prinsip kemandirian dan pemberdayaan bangsa, dan bersih dari dosa-dosa masa lalu, baik itu terkait dengan hak asasi manusia, korupsi, maupun tindak pidana dan perilaku amoral lainnya. Tentang siapanya, terserah Anda.

Yang pasti, kelak, masalah telekomunikasi dan energi, masih akan menjadi faktor kunci perekonomian global. Kita butuh pemimpin yang sadar akan dua hal strategis ini. Di sektor telekomunikasi, Indonesia tak hanya pasar menggiurkan, tapi juga menyangkut keamanan data dan kerahasiaan negara. Pada sektor energi, sudah pasti, ketergantungan manusia kelewat tinggi, dan kita memiliki semuanya untuk obyek eksploitasi, oleh siapapun. Perang dunia bisa berawal dari kedua sektor ini.

Apakah Anda yakin Gita Wirjawan memiliki komitmen dan keberpihakan kepada NKRI? Saya ragu. Dan, kalau sudah sampai urusan dua itu tadi, rasa-rasanya, negara-negara maju tak akan segan menghancurkan Indonesia dengan metode Balkanisasi, yakni memecah kesatuan negara menjadi negara-negara kecil berdasar etnisitas, golongan, agama, dan sebagainya, demi penguasaan sumber-sumber energi. Dan, FPI dan laskar-laskar sok suci di sini, secara tidak sadar sudah melibatkan diri, menyemai perpecahan keutuhan bangsa Indonesia.

Menjaga Jokowi

Demam Jokowi boleh saja menjangkiti sebagian dari bangsa Indonesia. Harapan perubahan Indonesia, pun boleh saja disandarkan kepada Pak Joko Widodo, Tapi, memaksanya menjadi bakal calon presiden pada Pemilihan Presiden 2014, sebaiknya dihindari. Termasuk dengan cara memobilisasi dukungan dalam bentuk tanda tangan dan sebagainya, seperti diucapkan aktor Roy Marten.

“Gerakan relawan ini, untuk menekan dan mendesak Ketua Umum DPP PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri agar mengusung Jokowi sebagai capres pada pilpres 2014 mendatang.”

Bagi saya, berita yang sebagian kalimatnya saya kutip di atas, juga member isyarat ‘aneh’. Di mana dan dalam acara apa, kok rasanya tak disebutkan di berita itu. Padahal, penulis (reporter) dan awak redaksinya saya kenali dengan cukup baik, bukan wartawan abal-abal alias tanpa reputasi memadai. Setidaknya, dari afiliasi organisasi jurnalis yang (pernah) dipilihnya.  Teledor? Hampir tak mungkin…..

Baiklah, saya tak hendak menyoal kutipan berita di atas. Tapi saya akan mengajak Anda, para pembaca yang budiman, untuk berandai-andai dan berhitung secara cermat.

Mendesak dan menekan dengan mobilisasi massa (dukungan) memang menjadi kebiasaan bangsa kita, yang kian terasa tak sabaran dan cenderung pemarah. Mungkin karena tiap hari terpapar ketimpangan sosial-ekonomi, inkonsistensi penegakan hukum, juga ketidaktegasan Susilo Bambang Yudhoyono sebagai masinis lokomotif penarik banyak gerbong (etnis, agama, dll) bernama Indonesia. Dari sanalah kegeraman muncul dan terpupuk hingga subur, lantas dipilih jalan pintas dengan mengatasnamakan ‘menyelamatkan Indonesia’.

Memangnya, dengan Jokowi maju jadi calon presiden pada 2014 lantas ia akan menang dengan mudah?

Andai terpilih jadi presiden menggantikan SBY, memangnya Pak Jokowi bisa menyelesaikan semua masalah di republik ini?

Mari kita berhitung:

Jika semua lembaga survey menempatkan Pak Jokowi sebagai kandidat paling popular, ya wajar saja. Proses terpilihnya menjadi Gubernur DKI, mau tak mau selalu menyedot perhatian publik, lewat pemberitaan media massa. Beliau berpasangan dengan Basuki Tjahaja Purnama yang peranakan Cina dan seorang Kristiani yang taat, dan didukung mantan Pangkostrad Letjen (Purn.) Prabowo yang kontroversial dengan isu penculikannya.

Basuki dan Prabowo pastilah menjadi daya tarik pemilihan agenda setting media massa, ditambah lagi rival pencalonannya yang merupakan tokoh-tokoh besar, seperti Hidayat Nurwahid (dengan dukungan PKS) dan Fauzi Bowo, incumbent yang didukung rezim berkuasa, Partai Demokrat. Semua lini bisa dipertentangkan, atau dijadikan kajian tersendiri, lantas dipublikasikan lantaran ‘keunikan’ pokok soalnya.

Ada unsur Islam-Kristen, ada Jawa-Cina, ada orang daerah-orang metropolis, ada bersih-tak bersih, dan banyak lagi. Itu semua pasti menjadi faktor-faktor menarik dan seksi untuk ‘dijual’ kepada publik, utamanya lewat saluran media massa. Rating televisi dan radio bisa naik, tiras Koran/majalah bisa terdongkrak, jumlah visitor media online pun bisa melonjak. Ujung-ujungnya, posisi tawar media jadi tinggi, iklan berjibun, uang menumpuk. Itu yang paling pragmatis.

Seiring dengan itulah, popularitas Jokowi terus meroket. Hingga, semua bakal-bakal calon presiden (dan wakil presiden) mendekat kepada Pak Jokowi, demi nebeng popularitas. Pak Jokowi pun bergeser menjadi ‘media’ publikasi murah bagi semua yang butuh mendongkrak popularitasnya, sebab dengan berada di dekat Jokowi, akan berbuah publikasi. Gratis.

Jika kini semua lembaga survei menempatkan nama Jokowi dengan popularitas tertinggi, sadarkan Anda, jika secara diam-diam, para ‘rival’ yang ketakutan namanya tenggelam, lantas memanfaatkan situasi untuk mengadu Jokowi dengan Megawati?

Mari buktikan. Jika Mega mengisyaratkan dia bakal maju lagi, pastilah segera berbuah bully. Bisa jadi ia akan diserang dengan kemasa isu tak tahu diri, kelewat berambisi, dan seterusnya. Sebaliknya, jika PDI Perjuangan bersama Megawati member sinyal memberi kesempatan kepada Jokowi maju pada pemilu nanti, hampir bisa dipastikan, ia akan dikeroyok ramai-ramai. Partai-partai seperti Golkar, Demokrat, PPP, PKS dan lain-lain, saya jamin akan kompak melakukan pembusukan.

Bahan pembusukannya sudah tersedia. Intinya, menempatkan isu sentral: Jokowi adalah seorang haus kekuasaan, penuh ambisi, dan pernyataan-pernyataan sejenis itu.

Siapa pemilik saluran penyebar ‘isu’? Ada Harry Tanoe dengan MNC Grupnya yang kini mencalonkan diri jadi pasangan Wiranto, ‘pemilik’ Partai Hanura. Ada juga Surya Paloh yang punya Metro TV dan Media Indonesia. Di luar mereka, ada Chaerul Tanjung, pemilik jaringan televisi TransCorp dan Detikcom, yang kecenderungan politiknya mengarah ke lingkaran dalam rezim berkuasa.

Jokowi pasti akan diadu dengan Megawati. Dan itu komoditi informasi yang hingga saatnya tiba nanti, yakni pada Pemilu 2014, masih akan seksi sekali.

Bagi saya, apa sikap dan semua tindakan yang dilakukan Jokowi, sebenarnya ‘biasa saja’.  Ia adalah sosok manusia Jawa yang sesungguhnya, yang sikap dan perilakunya selalu didasari rasa. Persoalan lainnya, ‘manusia Jawa yang sesungguhnya’ pun kian langka, sehingga menempatkannya menjadi seperti ‘sosok aneh’ yang pada gilirannya menjadi buah bibir, bahan perbincangan.

Kesantunannya seperti saya tulis di Jokowi Ngaji, misalnya, bertolak belakang dengan hampir semua politikus, yang bahkan untuk kepentingan subyektifnya, tega membajak acara-acara keagamaan dengan kekuatan uang dan politiknya. Spontanitas dan kepolosannya, pun bertolak belakang dengan mayoritas pejabat dan politikus yang serba eufemistik, gaya dan nada bicara dihalus-haluskan, padahal yang sesungguhnya terjadi, sedang menyembunyikan sesuatu.

Siapapun orangnya, mau orang Jawa, Papua, Sumatera, Kalimantan atau dari manapun, sepanjang memiliki ‘diferensiasi’ yang kuat, apalagi seperti Pak Jokowi yang seolah menegasikan realitas sosial, budaya dan politik terhadap yang mayoritas, pastilah akan menjadi pusat perhatian, jadi bahan sorotan. Lumrah saja sejatinya…..

Kembali ke soal pencalonan, coba mari kita simak baik-baik. Mereka yang kemarin nyinyir dan menentang pencalonannya di DKI, kini ramai-ramai berbalik mendukung, bahkan mendorongnya menjadi salah satu kandidat presiden. Bahwa ada kelompok masyarakat yang benar-benar tulus dan rindu akan perubahan, saya tak menampik. Masih wajar jika kemudian mereka memiliki ekspektasi tinggi, agar Jokowi segera menjadi Presiden NKRI.

Yang tak wajar justru mereka yang cepat berkilah, dengan justifikasi macam-macam, termasuk dengan mengatakan –kurang lebih, “Tuh, baru setahun saja di Jakarta, mulai kelihatan geliat perubahannya. Masyarakat kini semangat membangun lingkungan sekitar dan Kota Jakarta karena pemimpinnya mau hadir dalam keseharian mereka.” Dan seterusnya, dan sebagainya…..

Tapi, coba kita cermati baik-baik. Kebijakan apa yang sudah dibuat duet Jokowi-Basuki? Bukankah yang dilakukan kini barulah ‘improvisasi dan modifikasi’ atas kebijakan-kebijakan peninggalan gubernur-gubernur sebelumnya? Sudah adakah Peraturan Daerah yang dibuatnya, yang menjadi kerangka acuan pembangunan hingga sekian tahun ke depan seperti halnya dilakukannya di Solo?

Coba, mari kita jujur, deh. Hingga setahun ke depan, kira-kira Pak Jokowi dan Pak Basuki bisa berbuat apa, lantas cukupkah ‘reputasi’ setahun lebih kepemimpinannya menakhodai Jakarta itu dijadikan modal pencalonannya pada Pemilu 2014?

Taruh kata, ‘sejarah menuntut’  Pak Jokowi tampil, berlaga di Pilpres 2014. Akan seperti apakah nasib Pak Basuki yang berlatar peranakan dan Kristiani, di hadapan kaum fundamentalis (tak sedikit pula yang rasis) dan sebagian politikus Machiavellian, yang menghalalkan segala cara untuk meraih kekuasaan?

Sungguh saya tak sangggup dibayangkan, ketika atas nama harapan perubahan, lantas orang ramai-ramai menjadikan Pak Jokowi sebagai tumbal sebuah harapan, yang sejatinya semu, emosional belaka.

Belum lagi kalau memasukkan variabel lama, yakni adanya sejumlah pensiunan jenderal dan pejabat militer/kepolisian yang selama ini juga bersimbiosis dengan aktor-aktor pelaku kekerasan atas nama agama, yang tak sulit ‘berkoalisi’ dengan politikus-politikus bandit untuk sebuah kepentingan tertentu. Itu, pasti akan memperumit peta konflik dan konfigurasi kekuatan antiperubahan. Kenyamanan mereka, pasti terganggu dengan sejumlah gebrakan awal Jokowi-Basuki.

Keberadaan kelompok-kelompok relawan, termasuk Barisan Relawan  Jokowi for President 2014 (Bara JP 2014) yang kian gencar mendeklarasikan ‘organisasi’ penekan Megawati, sejujurnya saya ragukan. Mereka bukanlah kumpulan orang tak berpendidikan. Pemilihan akronim dengan diksi ‘Bara’ saja, sudah membuat saya curiga.

Sebuah niat tulus, saya kira akan menuntun seseorang untuk memilih kata yang tepat, bagus dan sesuai dengan karakter yang hendak diperjuangkannya. Bara memang merah. Tapi ia panas dan bisa melukai siapa saja. Sementara karakter Pak Jokowi lebih dekat dengan air, atau tanah, yang netral, dan mau menerima apa saja untuk berbaur dengannya.

Itu saja. Silakan direnungkan kembali. Saya harap tak ada emosi, ambisi, apalagi ilusi saat dihadapkan pada sebuah masalah, apalagi harapan. Kita harus jujur dan jernih menimbang, sebab kita sedang menyiapkan masa depan untuk sebanyak mungkin orang, tak peduli suku, agama, golongan maupun afiliasi politiknya.