Kelompok Payung Hitam

Teman-teman di Bandung lebih suka menyebut Ka Pé Ha (KPH), akronim dari Kelompok Payung Hitam. Pertama kali saya jatuh hati pada grup ini ketika mereka mementaskan naskah Peter Handke (Jerman) berjudul Kaspar di Taman Budaya Surakarta, 1995. Saat itu, seniman se-Indonesia kumpul dalam hajatan besar merayakan Refleksi Setengah Abad Indonesia Merdeka.

Puisi Tubuh yang Runtuh

Puisi Tubuh yang Runtuh

Pertunjukan yang tata artistiknya ditangani perupa Tisna Sanjaya, dengan iringan musik kaleng Harry Roesli itu sungguh mencengangkan banyak kalangan. Meski sama-sama fenomenal ketika itu, Ka Pé Ha sempat ‘menggusur’ Teater SAE-nya Boedi S Otong dan Afrizal Malna dari perbincangan teater modern Indonesia. Keduanya sama-sama menonjolkan kekuatan tubuh aktor sebagai inti eksplorasi, juga sama-sama minim dialog.

Rupanya, Kaspar menjadi masterpiece Kelompok Payung Hitam. Dan, foto yang saya buat atas pertunjukan itu pun akhirnya saya anggap sebagai karya masterpiece saya pula. Baru dua tahun belajar motret, saya sanggup membekukan peristiwa panggung itu dengan shutter speed 4 detik, dengan FujiFilm ISO 1600. Tanpa tripod, hanya mengandalkan pernafasan mulut agar tangan tak bergerak mengikuti tarikan atau hembusan nafas.

Kaspar (solo, 1995)

Kaspar (Solo, 1995)

Itulah sebabnya, kenapa sebagian dari koleksi saya atas foto Kaspar saya jadikan banner resmi di blog yang sedang Anda baca ini. Kaspar-lah gerbang yang saya lalui ketika memasuki Bandung, juga dunia seni pertunjukan Indonesia.

Sejak itu, saya menjadi dekat dengan kerabat Ka Pé Ha: Kang Rahman, Rusli Keleeng, Tony Broer, Yadi Bagong, Alit, Tatang Pahat, dan banyak lagi. Dari perkenalan itu, saya menjadi senang ke Bandung, apalagi bila Ka Pé Ha mau mementaskan. Beberapa karya mereka, pun saya dokumentasikan. Harus saya katakan di sini, saya merupakan salah satu fans beratnya.

Tubuh adalah kekuatan inspirasi dan sumber eksplorasi

Tubuh adalah kekuatan inspirasi dan sumber eksplorasi

Dari mereka, saya berkenalan dengan banyak teman seniman Bandung. Dengan aktor-aktor Studiklub Teater Bandung (STB) seperti Mohamad Sunjaya, Iman Soleh, Wawan Sofwan, dan banyak lagi. Kang Tisna Sanjaya dan Mbak Molly termasuk pasangan yang baik hati, yang selalu menampung saya setiap berkunjung ke Bandung, karena tanpa pemberitahuan, tiba-tiba saya mengetuk pintu rumahnya pagi-pagi sekali, ketika Zico dan Ayang belum pergi sekolah.

Pertunjukan Puisi Tubuh yang Runtuh karya/sutradara Kang Rahman Sabur yang dipentaskan di Taman Budaya Surakarta, 29 Oktober malam ini, seolah menjadi pengingat. Salah satunya, kepada almarhum Pak Suyatna Anirun yang perannya sangat besar sehingga saya mencintai pendokumentasian peristiwa seni pertunjukan sebagai proyek pribadi, setidaknya hingga kini.

Puisi Tubuh yang Runtuh masih memukau saya, juga ratusan penonton yang datang dari berbagai kota di Jawa Tengah dan Jawa Timur. Kekuatiran saya akan redupnya Ka Pé Ha, ternyata tak terbukti. Apalagi, semenjak Kang Rahman menderita stroke cukup parah.

“Saya justru merasakan bisa sembuh total ketika berguling-guling dan berporses kembali bersama anak-anak,” cerita Kang Rahman kepadaku, sesaat sebelum kami menyaksikan Mainteater mempertunjukkan karya terbarunya, Ladang Perminus di tempat yang sama.

Pertemuan saya dengan urang-urang Bandung kali ini seperti menjadi kado ulang tahun termewah untuk saya. Setidaknya, saya merasa diingatkan untuk tak melewatkan peristiwa seni pertunjukan, meski tak sanggup ke luar kota sepekan sekali seperti dulu. Jaman sudah berubah, tanggung jawab sebagai suami juga tak bisa dilepas.

Seniman-seniman Bandung, bagi saya adalah orang-orang terhormat, yang semua memiliki jasa besar terhadap perjalanan hidup saya. Tak terkecuali, Edy Purnawady, orang terpenting di balik terciptanya persahabatan saya dengan orang-orang Bandung, selain Nandang Gawe yang paling sering saya paksa menemani jalan-jalan. Tanpa mereka, mungkin saya bukan siapa-siapa.

Kehadiran KPH selalu memukau

Kehadiran KPH selalu memukau

Kalau tulisan ini kuat aroma romantisme masa silam, ya begitulah kenyataannya. Belu sempat saya ke Bandung menengok Kang Rahman, beliau sudah hadir di Solo. Saya sengaja tak pernah menelepon, karena ingin datang dadakan sebagai kejutan seorang fans kepada orang yang dikaguminya.

Sakitnya mengingatkan saya pada stroke yang juga diderita bapak saya. Saya memetik hikmah dari perbincangan kami yang tak seberapa lama, padahal sebelumnya sudah terpisah sangat lama.

Kang Rahman, semoga sehat selalu. Saya, juga banyak teman pencinta seni drama di Indonesia, masih dan akan selalu menanti karya-karya baru Kang Rahman… Sukses selalu untuk Kang Rahman, keluarga besar Ka Pé Ha, teman-teman di Buah Batu 212, juga para seniman-seniman merdeka di Bandung.

Dua Drama Teror

Dua pertunjukan drama yang kusaksikan pada Rabu (28/10) malam sungguh merupakan teror buatku. Secara pemanggungan, keduanya sama-sama bagus. Sayang, penampilan Teater Studio Indonesia kelewat meneror penontonnya, dalam arti yang sesungguhnya. Pada sajian Perempuan Gerabah, beberapa penonton nyaris cedera wajah.

Pementasan "Perempuan Gerabah" oleh Teater Studio Indonesia, Serang

Pementasan "Perempuan Gerabah" oleh Teater Studio Indonesia, Serang

Grup teater asal Serang, Banten ini, sejatinya sudah memukau publik teater Solo sejak beberapa hari sebelum pementasan. Sebuah instalasi bambu menyerupai arena sabung ayam bediameter delapam meter dibangun di atas pelataran parkir. Ada dua tingkat untuk tempat duduk penonton, mengitari stage area berbentuk lingkaran yang tak seberapa luas, namun bisa berputar layaknya papan rolet.

Di atas lingkaran itulah, enam pemain menabuh aneka bentuk gerabah, yang sekaligus menjadi properti pertunjukan. Hasil eksplorasi yang sejatinya unik, dengan capaian artistik yang bisa dibilang bagus. Ada tawaran baru menurut istilah nyeni-nya. Sayang, sutradara Nandang Aradea tidak memperhatikan aspek kenyamanan dan keselamatan penonton, yang dalam konteks pertunjukan itu justru ditempatkan sebagai bagian dari pertunjukan.

Gerabah yang dikibar-kibaskan salah satu aktornya terlempar keluar. Untung beberapa penonton memiliki refleks yang bagus sehingga gerabah yang mengarah ke wajah dapat ditepis mereka. Seorang penonton bereaksi, meninggalkan arena sembari menyatakan takut terkena lemparan.

Penampilan yang bagus, tapi sadis

Penampilan yang bagus, tapi sadis

Pada sisi yang lain, banyak penonton terbatuk-batuk terkena debu yang dihasilkan dari tumpukan jerami sebagai alas pentas. Hentakan kaki enam pemain dengan tempo cepat menghamburkan debu-debu kotor yang membuat perih mata dan hidung. Penonton terteror luar-dalam. Puncaknya, banyak wajah penonton ‘tompel-tompel’ karena ‘adonan’ tanah sebagai properti pentas yang dilemparkan para aktor/aktrisnya kian tak terkontrol.

Sadis, memang. Apalagi, jarak stage area dengan penonton hanya satu setengah meter saja! Sebelum pertunjukan berakhir, penonton pada ngacir, menyaksikan dari kejauhan.

***

Teror kedua, justru mengancam keluarga, tetangga, teman-teman bahkan sosok-sosok terkenal yang hanya dikenal penonton lewat media massa. Sebuah potret kejahatan korupsi, yang dilakukan secara terang-terangan lewat sajian Ladang Perminus oleh Mainteater, Bandung.

Mainteater, Bandung menyajikan "Ladang Perminus"

Mainteater, Bandung menyajikan "Ladang Perminus"

Naskah drama besutan FX Rudy Gunawan yang mengadaptasi novel Ramadhan KH dengan judul sama itu menceritakan pat-gulipat usaha menggerogoti uang rakyat melalui persekongkolan pejabat perusahaan minyak milik negara dengan para cukong di Singapura.

Pusat cerita ada pada Hidayat (diperankan Wawan Sofwan), seorang pegawai menengah PT Perminus (Perusahaan Minyak Nusantara) yang relatif jujur, yang ogah menerima suap kelewat besar. Hadiah mobil mewah dari rekanan perusahaan misalnya, ia serahkan kepada atasannya. Namun gratifikasi receh yang dianggap ‘biasa’ dalam sebuah bisnis,ia coba menerapkan prinsip pemerataan.

Sebagian ia berikan kepada rekan-rekan sekantornya, sebagian yang lain digunakannya untuk bersenang-senang dengan kekasih gelapnya di luar negeri. Hidayat ditampilkan sebagai orang yang bersih seutuhnya, yang oleh Rudy Gunawan dikatakan sebagai bentuk-bentuk sisi manusiawinya. Sebaik apapun, seseorang tak mungkin bisa hidup tanpa cacat atau noda, apalagi di dalam sebuah perusahaan yang budaya korupsinya sudah mengakar kuat seperti Per….. itu.

Hanya nurani yang sanggup menahan nafsu korupsi

Hanya nurani yang sanggup menahan nafsu korupsi

Kahar (Fajar Emmillianus) yang berada di posisi atasan memetik keuntungan pribadi dari Hidayat yang jujur dan suka berterus terang. Sogokan mobil yang akan dikembalikan lagi oleh Hidayat dicegah Kahar dengan dalih berpotensi merusak ‘hubungan baik’ dengan mitra usaha. Lebih baik dimasukkan sebagai tambahan aset perusahaan lewat dirinya daripada si pemberi kecewa, meski kemudian beralih ke istri simpanan.

Pada kali lain, Hidayat diminta melakukan negosiasi ulang atas sebuah kontrak kerja sama baru dengan peusahaan asing. Ia berhasil menurunkan nilai kontrak, namun di-mark up kembali oleh Kahar demi memetik keuntungan. Konflik pun meruyak ketika Hidayat tahu, hasil renegosiasi dinaikkan kembali dalam kontrak resmi.

Korupsi, bisa hadir dalam bentuknya yang manis, seperti tawaran uang saku pada sebuah kunjungan atau lawatan sebagaimana diterima Hidayat dari suruhan cukong. Namun ia bisa mewujud dalam praktek yang terang benderang liciknya seperti dimainkan oleh Kahar.

Sama dengan keseharian kita, ketika nomor-nomor seri kertas parkir atau retribusi –yang  nominalnya hanya antara berhisar antara Rp 200 hingga Rp 1.000 – tak berguna. Dinas Pendapatan Daerah yang menjadi institusi pengelola resminya, sanggup ditarget untuk memasukkan kas (berapapun besarnya) ke dalam pos pendapatan asli daerah (PAD). Nomor seri hanyalah deretang angka, yang tidak mesti masuk dalam hitungan rinci jumlah uang yang terkumpul dari publik.

Pelakunya bisa siapa saja, mungkin teman atau bahkan keluarga kita. Pemanggungan Ladang Perminus, bukan saja menarik ditonton. Lewat teater, pesan antikorupsi bisa dihayati lebih halus dan menancap di benak. Apalagi, di tengah situasi dimana minta baca karya satra masih rendah di tengah-tengah kita.

Wawan Sofwan yang tampil sebagai pemeran utama, kelihatan sangat piawai menjalani perannya sebagai sutradara. Pertunjukan berdurasi hampir dua jam terasa tak lama. Artistiknya sempurna, jeda pergantian adegannya juga tak terasa. Sebuah kerja seni yang mengagumkan, ketika stage crew juga bisa menunjukkan kerapiannya bekerja.

Atasan yang korup potensial menjangkiti bawahan yang jujur

Atasan yang korup potensial menjangkiti bawahan yang jujur

Korupsi, terlalu banyak di sekitar kita. Tak perlu jauh-jauh memelototi kasus skandal Bank Century atau perseteruan Cicak dengan Buaya. Bagi kita, mungkin cukup menoleh pada penarikan (dan setoran) retribusi. Di Solo, misalnya, kita bisa mengendus potensi praktek korupsi yang begini. Pelaksana, biasa menaikkan tarif parkir dua kali lipat dari harga yang tertera di zona padat..…

Konon, ada target setoran yang tinggi dari bagi penguasa lahan kepada para juru parkir. Alhasil, publiklah yang dirugikan…

Korupsi, sesungguhnya merupakan teror yang nyata, yang mengancam masa depan negara dan rakyatnya.

Kontrabass

Wawan Sofwan adalah aktor tulen. Ia mematangkan talenta keaktorannya di Studiklub Teater Bandung (STB), sebuah kelompok teater yang pamornya dan reputasinya belum tertandingi dalam hal penyutradaraan naskah-naskah realis. Dari bekal itu, kini ia memilih mengembangkan format pertunjukan ‘serba tunggal’ seperti monolog, monoplay atau drama-reading lewat MainTeater, sebuah organisasi ramping yang terdiri para penggiat seni pertunjukan, khususnya teater di Bandung.

Kontrabass di Goethe Institut, Jakarta, Maret 2004

Kontrabass di Goethe Institut, Jakarta, Maret 2004

Kontrabass hanyalah salah satu dari sekian karya pertunjukan yang disutadarai sekaligus dimainkannya sendiri, tak terbatas di Bandung dan Jakarta, namun hingga ke beberapa pusat kesenian di Eropa. Pertunjukan yang mengangkat karya Patrick Süßkind berjudul Der Kontrabass di GoetheHaus, Jakarta 9 Maret 2004 lalu, merupakan salah satu unjuk kemampuan Wawan dalam akting tragikomedi tentang sosok lelaki pecundang.

Kontrabass di Goethe Institut, Jakarta, Maret 2004

Kontrabass di Goethe Institut, Jakarta, Maret 2004

Kontrabass, berkisah tentang sosok musisi yang memainkan kontrabass dalam sebuah kelompok orkestra dengan latar belakang Jerman tempo dulu. Lelaki itu, piawai membawakan komposisi karya Mozart, Beethoven, Schubert dan banyak lagi, seperti Cosi van tutte atau semacam Symphony no. 5. Tapi, ada konflik pada dirinya, yang mencintai Sarah, seorang penyanyi sopran di kelompoknya. Harga dirinya terusik, karena ia merasa perannya sebagai pemain kontrabass tak diperhitungkan. Sementara ia berkeyakinan, harmoni sebuah orkestrasi menjadi mustahil bila terdapat penyimpangan dari salah satu atau lebih instrumen musik yang dimainkan.