Bom Solo Siapa Punya

Saya sedang santai di rumah ketika BBM dan Twitter terdapat beberapa mention menanyakan kabar bom bunuh diri di Solo. Saya masih belum percaya ada bom, apalagi kejadian bom bunuh diri di Solo. Saya buka inbox SMS, imfonya lebih heboh: ada bom bunuh diri di gereja, lima tewas dan banyak yang terluka. Saya terdiam, cari informasi, dan menyatakan tak akan ngetwit jika belum melihat sendiri apa yang terjadi.

Dan benar feeling saya, yang sesungguhnya terjadi tak seheboh seperti bunyi banyak pesan yang dikirimkan kepada saya. Beberapa teman mengungkapkan kekecewaan karena ketiadaan update lewat Twitter, bahkan dengan nada sinis, pun saya diamkan. Saya bukan siapa-siapa, tapi takut ngetwit hal-hal yang saya tak tahu, atau me-retweet informasi yang belum saya verifikasi. Informasi mengenai insiden bom, apalagi di gereja, bukan perkara sederhana.

Dua jam setelah peristiwa yang terjadi pada Minggu (25/9) pukul 10.55 WIB itu, saya baru bisa mendekati lokasi. Barikade ada di mana-mana, semua penjuru menuju Gereja Bethel Injil Sepenuh (GBIS) Kepunton. Polisi bersenjata berjaga, begitu pula anggota Linmas (dulu bernama Hansip) dan tentara. Sekilas tampak mencekam, walau saya paham sejatinya tak seseram yang dipertontonkan.

Saya memutuskan ke RS dr. Oen, tempat sebagian besar korban dirawat. Hingga menjelang sore saya di sana, dan (maaf) tak melihat ‘apa-apa’. Maksudnya, tak seheboh informasi yang beredar dari mulut ke mulut, perangkat telepon bergerak, hingga internet.

Dari belasan korban yang saya lihat dari bilik ke bilik ruang gawat darurat, lukanya memang, sekali lagi MAAF, ‘tak seberapa’. Dari situ saya menyimpulkan, pelaku pemboman adalah seorang ERRORIST. Tukang bikin error jelas beda dengan teroris. Cara bisa sama, tapi targetnya bisa beda.

Menurut saya, bom di Solo itu hanya untuk pengalihan isu. Saya menghubungkannya dengan banyaknya perkara serius di Jakarta, yang menyita perhatian siapa saja, dan mendominasi semua halaman dan jam tayang media massa, juga Internet. Prasangka saya, si ERRORIST tak mau bangsa Indonesia kian senewen membaca berita media massa, sehingga ia melakukan kebiadaban baru, walau alasannya tak bisa dibenarkan dari kacamata apa saja. Setan itu ya begitu: biadab, keji!

Sejak 2002, saya telah mengikuti isu-isu terorisme. Ya liputan, ya pernah juga bantu riset baik untuk penelitian ilmiah maupun untuk perencanaan bikin film semidokumenter seorang sutradara kontroversial asal Australia. Sejak 2002, peta kelompok garis keras kian banyak. Ada yang steril, ada yang terkontaminasi.

Ketika orang mengarahkan perhatian dan tuduhan ke Ngruki, saya melihat yang lain. Ada sempalan, ada yang ‘bermusuhan’ dengan mereka. Saya pun mendapat jawaban, walau cuma berupa semacam isyarat, dari Ustad Ba’asyir bahwa memang ada ‘anak-anak muda’ yang berpikiran sempit, emosional karena terlalu bersemangat, hingga memasukkan Indonesia dalam kategori ‘zona perang’ sehingga orang bisa berbuat apa saja, menggunakan ‘hukum’ yang diyakini sendiri atau bersama kelompoknya.

Kadang saya ngeri dengan sikap pengelola media massa yang lebih suka memandang persoalan dari sisi keramaiannya saja. Bukan saja hal itu akan membuat persoalan bias ke mana-mana, tapi lebih dari itu, publik dibuat bingung olehnya. Alhasil, orang lantas mengembangkan imajinasinya, bukan menganalisa dengan berbekal data, petunjuk dan fakta.

Jika media massa sudah turut (sengaja atau tanpa sengaja) memperkeruh suasana, apakah onliner harus mengikuti jejak mereka? Pada sisi itulah saya mengambil sikap berbeda. Tak mau buru-buru mengabarkan sesuatu tanpa ada bekal yang saya merasa tidak tahu. Coba kita berkaca, apa yang sudah dihasilkan dari riuh kicauan asal-asalan?

Jurnalisme damai, pemberitaan tentang konflik, bukan perkara sederhana. Kita masih ingat, bagaimana akibat kecerobohan jurnalisnya, TV One pernah dilarang meliput peristiwa terkait keluarga tersangka teroris. Kita tak bisa menyalahkan pihak yang beperkara, atau jurnalis lantas tersinggung dan ‘menyerang’ pihak lain dengan menggunakan pasal menghalang-halangi kerja jurnalistik seperti diatur dalam UU tentang Pers.

Baik di dunia jurnalistik maupun media sosial, semua orang harus mengedepankan hak orang lain untuk mendapatkan informasi yang jujur, berimbang, dan akurat. (Sementara berhenti di sini dulu, ah… Nanti dilanjut lagi)

Bersambung ke Bom Solo Siapa Punya (2)

Karnaval Minim Lampu

Hanya dalam hitungan menit usai barisan terakhir meninggalkan lokasi pemberangkatan, Solo Batik Carnival 2011 sudah menuai protes. Banyak keluhan terpampang pada linimasa Twitter. Ada yang mengeluhkan tata cahaya yang kurang memadai, soal kemacetan di mana-mana akibat penutupan jalur, dan masih banyak lagi.

Persiapan menjelang karnaval

Mengenai minimnya tata cahaya, saya sudah memprediksi lewat catatan saya sebelum ini. Daya listrik besar untuk menyalakan lampu membutuhkan pembiayaan besar. Satu lampu berdaya 1.000 watt hanya cukup untuk menerangi beberapa belas meter bidang, sementara karnaval menempuh rute sejauh tiga kilometer. Berapa banyak lampu diperlukan di kedua sisi jalan, selain kebutuhan filter dan penyangganya?

Semua memang soal angka. Niat bisa melahirkan kreativitas mencari solusi sumber dana, demi memecahkan kebutuhan akan angka. Beberapa panggung yang diinisiasi swasta memang membuat nyaman pengunjung yang membeli tempat duduk yang dijual penggagasnya. Kenyamanan menuntut konsekwensi yang logis. Memang, itu pertanda baik. Swasta mau menyukseskan acara, sebagian dari masyarakat bersedia membayarnya.


Akankah karnaval batik yang menjadi ikon wisata nasional itu juga memberi ruang apresiasi bagi publik yang lebih luas, masyarakat kebanyakan itu? Sepertinya masih ada jarak. Kesenjangan akses tepatnya.

Tapi, apakah lantaran nonton karnaval secara gratisan, publik harus nrima, mengalah dengan cara rela berdesakan dan menyaksikan penampilan para peragawan/peragawati dengan pencahayaan lampu merkuri semata, yang tiap beberapa menit butuh ‘istirahat’ alias mati dulu beberapa saat supaya tak lekas aus?


Tentu saja tak bisa dijawab dengan argumentasi diplomatis yang dibuat logis, bahwa karena publik cuma bayar pajak penerangan jalan umum (PPJU) sekali setiap bulan, lantas ‘haknya’ dibuat sepadan dengan bea yang dikeluarkan. Jer basuki mawa beya tak berlaku di sini.

Solo Batik Carnival digagas dan didesain untuk memberi kemanfaatan kepada semua pihak. Bukan asal bisa menghibur.

Karnaval hanyalah cara mewujudkan upaya Pemerintah Kota Surakarta mengangkat pamor industri batik. Jika batik dan industrinya maju, maka identitas kultural masyarakatnya kian menonjol, dikenal hingga belahan dunia lain. Aspek ekonominya bukan terentang di seputar lokasi produksi batik. Tengkulak, pengecer dan tukang becak pun bakal menikmati gurihnya dampak kuatnya mata rantai industri batik.

Peserta karnaval diseleksi panitia, dibagi ke dalam beberapa kelompok, selebihnya mmproduksi dengan biaya sendiri. Murni partisipasi...

Jadi, jika karnaval tahunan itu hendak digelar pada malam hari tahun-tahun mendatang, maka tata cahaya menjadi faktor penting. Event organizer yang berpengalaman perlu digandeng agar Dinas Pariwisata tidak kedodoran mengurus pwehwlatan sebesar itu sendirian.saa akin ada banyak event organizer yang mampu membawa sponsor untuk menutup pembiayaan.

***

Sejujurnya, saya mendapat pemberitahuan seorang teman melalui telepon. Dia bercerita, di lobi hotel tempatna menginap, banang orang memperbincangkan karnaval batik itu. Bagus, tapi sayang, kata sang teman. Tata cahaya adalah satu pokok soal yang paling sering dikeluhkan banyak orang. Mereka datang dari Jakarta dan kota-kota lain di Indonesia, bahkan luar negeri, demi menyaksikan sensasi karnaval. Mereka keluar banyak dana untuk melunaskan rasa ingin tahunya.

Soal lain, semrawutnya pelaksanaan, sehingga ribuan penonton merangsek ke tengah jalan sepanjang rute karnaval. Rumput dan tanaman penghijau kota rusak seketika terinjak-injak massa tanpa mau tahu,bahwa untuk menanam dan merawatnya pun butuh biaya. Publik memang ingin melepaskan rasa penasaran. Antisipasinya saja yang masih kurang.

Abdi dalem QWERTY

Belum kemacetan di berbagai ruas jalan yang diakibatkan berjubelnya kendaraan, baik yang mau menyaksikan karnaval maupun sekadar melintas, akibat penutupan ruas jalan dan pengalihan rute jalan. Tak sedikit yang mengeluh lewat Twitter, mempertanyakan keberadaan polisi lalu lintas di sejumlah kawasan, termasuk macetnya Manahan yang dekat dengan kantor pusatnya polisi di Solo.

Di mana petugas DLLAJ atau polisi lalu lintas? Semoga itu menjadi catatan untuk perbaikan kelak. Banyak orang berharap karnaval pada malam hari digelar kembali, karena memang lebih memberi kelebihan nilai sensasi, selain tidak membuat peserta karnaval kegerahan seperti jika digelar sore hari.

***

Satu hal penting lainnya, adalah melakukan edukasi kepada publik, para calon penonton. Nyaris di antara sepuluh orang, satu penonton di antaranya membawa kamera, entah kamera yang menyatu dengan telepon seluler maupun kamera saku. Mereka ingin merekam segala ragam dan pernik-pernik karnaval sebaik mungkin. Maka, merangseklah mereka ke tengan catwalk panjang… Jalanan pun riuh, crowded.

Semua foto ilustrasi di postingan ini, dibikin pakai BlackBerry Gemini yang tanpa lampu flash itu...

Upaya memang sudah dilakukan sebagai antisipasi agar tak ada pihak yang merugi. Termasuk, dibuatkanlah sejumlah kartu identitas untuk wartawan foto dan televisi. Itu menjadi solusi setelah para pewarta mengeluhkan sulitnya memperoleh gambar memadai untuk keperluan penyebaran informasi.

Banyak wartawan merasa terganggu dengan ulah kebanyakan penggemar fotografi, yang demi mengejar hasil foto bagus, mereka tak jarang menodai keindahan itu sendiri. Dengan lensa sudut lebar demi mengejar detil, mereka menempel peserta karnaval. Jumlahnya tak satu-dua orang atau belasan. Mereka bisa puluhan!

Pada karnaval kemarin, malah para fotografer amatir itu membuat identitas sendiri, setengah resmi alias berlisensi. Alhasil, para pewarta foto kembali ngamuk-ngamuk, baik spontan secara lisan maupun di jejaring sosial lewat tulisan bernada kemarahan, hingga wacana boikot. Mereka merasa tak berdaya, identitas khususnya pun tak berguna.

Yang berkaos merah (kiri) itu wartawan. Selebihnya, pemburu gambar yang kerap bikin kotor obyek bidikan kamera pewarta foto dan televisi

Jika pemburu gambar indah saja tak tahu memaknai dan mengupayakan terwujudnya rekaman indah, bagaimana penonton kebanyakan tak terdorong untuk ikut-ikutan? Singkat cerita, jalanan menyempit, peserta karnaval pun tak leluasa berjalan. Keindahan, pun tinggal kenangan.

Siapa yang rugi ketika situasi berubah seperti demikian?

Semua rugi. Jerih payah peserta, yang menyiapkan diri secara swadana hingga memakan dana jutaan rupiah seperti sia-sia. Promosi wisata yang dirintis pun kembali sia-sia karena terlalu banyak catatan kekurangan tertanam di benak khalayak. Publik harus introspeksi atas perilakunya, begitu juga pemerintah sebagai penyelenggara mesti lebih tegas membuat aturan main.

Bagaimana peserta karnaval nyaman mewujudkan amal kebaikannya, penonton bisa menikmati jalannya acara, dan tanaman di sepanjang pembatas jalan tak rusak karena terinjak-injak ribuan pasang kaki yang tak peduli. Itu merupakan pekerjaan rumah yan tak sederhana, terutama bagi Dinas Pariwisata.

Bahwa secara animo khalayak bisa diprediksi, mestinya pemerintah gencar melakukan sosialisasi dan edukasi, sehingga semua target pemangku kepentingan bisa terpenuhi. Sukses sudah pasti ada pada sejumlah sisi. Hanya perlu penyempurnaan di kemudian hari. Empat kali penyelenggaraan sudah cukup jadi bekal evaluasi, lantas jadi bahan untuk memperbaiki.

Semoga, Solo Batik Carnival 2012 lebih bisa dinikmati. Selamat kepada Pemerintah Kota Surakarta yang sudah berhasil mencetak ikon wisata baru Indonesia.

Lihat pula koleksi foto Solo Batik Carnival 2011

Anyel Marang Pulisi

Kemis Kliwon, 24 September watara tabuh 2 awan, kanca-kanca wartawan ribut. Padha misuh-misuh dhéwé, gemremeng, anyel marang tumindaké pulisi Dalmas sing rata-rata isin nom-nom, kaya durung suwé anggoné rampung pendhidhikan. Ujaré kanca-kanca kang anyel mau, para pulisi nom kuwi nggetak-nggetak wartawan sing lagi padha motrèt lan nyoting.

Embuh apa wegah kétok rupané utawa embuh apa karepé, pulisi-pulisi mau nyentak-nyentak, wartawan ora olèh nyedhak.

“Yen butuh waé ngajak-ngajak, yèn ora rumangsa ana butuh nggetak-nggetak! Ngono kok ngaku mitra…..,” ujar sawijining kanca.

Sing liyané mèlu nyaut, banjur ngandhakaké yèn galaké para pulisi mau kaya wektu njaga Dhésa Kepuhsari, wektu nggrebek teroris. Ndilalah wektu gègèran téroris kuwi, aku dhéwé mèlu ngadhepi pulisi nom-nom sing jebulé ora bisa diajak rembugan. Ngertiné mung tembung kuwasa: ini perintah komandan!

Critané, wektu kuwi ambulans sing ngusung mayit téroris arep liwat. Kanca-kanca tukang motrèt lan tukang nyoting arep ngrekam gambar. Karepé golèk panggonan ana pinggir dalan sisih kidul, nanging diusir kanthi alesan ngganggu liwaté iring-iringan anbulans.

Aku nyoba njelasaké yèn ana pinggir kono ora bakal ngganggu, apa manèh ana watu gedhé-gedhé sing bisa dadi wates. Ambulans ora bakal nerak watu, mula kanca-kanca wartawan ora bakal ngganggu. Kabèh padha bisa ngatur awaké dhéwé-dhéwé, amrih pada adilé. Jenengé waé pulisi nom durung pengalaman, bisané ya mung nggetak, mencereng lan nesu-nesu.

Wektu aku mbengok apa ora ana perwira ana kana ben bisa diajak rembugan, ééé… ana siji pulisi sing mliriki aku, mandeng rada suwé. Mbokmenawa niyat nitèni. Nanging aku ora urusan, yèn ana apa-apa, ya dakperkarakaké. Wong aku nyambut gawé uga linambaran ukum, tur ora ana niyat ganggu gawé.

Nanging kanggoku, kelakuan kaya ngono kuwi ya mung dakmaklumi. Paribasan sansaya akèh sing lucu-lucu trékahé, malah aku duwé sangu kanggo ngeblog, kaya sing daktulis iki. Sapérangan, bisa waé dadi gampang nesu jalaran kepanasen lan rumangsa wis nyambut gawé rada abot, sanajan isih ana siji loro sing pancèn duwé modhal kanggo kemaki, banjur pamèr siung. Wong ya isih nom-noman, lumrah yèn gampang nesu, sanajan tumindak kaya ngono kuwi klebu wagu.

Sing aku ora mudheng nganti saiki iku malah kedadèyan seminggu kepungkur. Wengi kuwi, aku sakanca mèlu kemruyuk wawancara marang Pak Kapolda Alex Bambang Riyatmojo, nakokaké kepriyé mbésuké, apa sing bakal dilakoni pulisi sawisé Noordin M Top tiwas, mati kebedhil ana Sala. Apa lan sapa sing kudu diwaspadakaké, sebab Noordin M Top kondhang pinter anggoné golèk bala lan gawé anthèk kan padha setya.

Aku nyebutaké, isih ana pirang-pirang nama sing awit jaman Bom Bali I taun 2002 wis katut klebu ana ing gerombolané téroris, nanging durung ketangkep tumekané saiki. Embuh dianggep apa lan kepriyé, ééé, Pak Kapolda kok malah ngelokaké mangkéné: jangan-jangan kamu mata-matanya mereka…

Dakbolan-baleni nerusaké takon, jawabané Pak Kapolda ora adoh saka kaya ngono kuwi. Sanajan nganggo mèsam-mèsem sajak sumèh, nanging iku isih marakaké ngganjel ana ing atiku. Nganti sepréné…..

Coba, kudu piyé yèn mangkéné iki: sing dhapukané anak buah padha galak ing tumindak, sing nyepuhi ngguya-ngguyu nanging ngendikané nylekit ngono kuwi, lha aku kudu piyé anggonku kudu ngajèni?

Gandhèng aku wong Islam, tur didhawuhi sabar marang ajaran agamaku, ya wis, dakdongakaké waé, nanging khusus Pak Kapolda énggal munggah pangkat lan pindhah ana Mabes kana. Muga-muga Pak Kapolda pirsa, ngendika kaya ngono kuwi ora becik, lan bisa marakaké ati dhekik. Yèn ora kersa njawab, cukup mèlu-mèlu wong-wong penting kaé, ngapalké basa Inggris mung rong tembung waé: no lan comment.

(Ngapurané, dongaku rada larang. Dadi yèn mung kanggo pulisi nom-noman mau, aku isih éman-éman….. Pak Alèx, mugi-mugi panjenengan énggal dados Kapolri, nggih. Sing sabar ngadhepi wartawan wagu kados kula….. Amin)


Cathetan/Pepéling: Saumpama anyel, tulung aja pisan-pisan nggebyah uyah marang lembagané. Sebab, kita butuh lembaga Kepolisian sing kuwat, apik, lan pulisi-pulisi jujur. Ya mung pulisi sing bakal bisa njaga lan njejegaké démokrasi lan jejegé undhang-undhang. Indonésia iku negara dhémokrasi, lan negara dhémokrasi iku ora liya kanggo mulyakaké adil lan makmuré bangsa.

Mula, ayo kita dhukung anané lembaga kepolisian sing apik lan kuwat, nanging aja wedi ngritik yèn pancèn meruh klèruné siji-loro apa sapérangan oknum sing bakal ngèlèk-èlèki lembaga kepolisian.  Ya iku sing diarani ‘partisipasi aktip’ (basané Or-Ba banget, ya?)

Rahman Sabur Sudah Datang?

Pada suatu siang, pertengahan 1990-an, di pendapa Taman Budaya Surakarta, saya tengah ngobrol, kangen-kangenan dengan seorang sahabat yang baru datang dari Bandung. Hampir setengah tahun tak bertemu dan jarang telepon, meski setiap saya ke Bandung, sering diminta menginap di rumahnya.

Tiba-tiba, seorang wartawan datang, nimbrung pembicaraan. Saya, yang kebetulan kurang respek pada lelaki tambun, itu memilih menyingkir. Saya pamit meningalkan mereka, dan menyatakan akan menunggu sahabat itu di warung yang terletak tak jauh dari pendapa.

Bukan lantaran punya persoalan apalagi dendam, namun saya kurang suka saja dengan lelaki tambun yang saya nilai sok tahu itu. Datang sebagai wartawan budaya sebuah koran lokal, ia tampil arogan, seperti biasanya. Apalagi, ia juga kerap bercerita mampu mencipta puisi, meski kadar kepenyairannya belum diterima komunitas penyair di Surakarta. Kebetulan, ia berstatus pendatang dari Surabaya.

Ahaa… Siang itu, rupanya menjadi hari sial baginya. Sepanjang berbincang dengan sahabat saya itu, ia memperlakukannya seperti menghadapi pendatang luar kota yang belum banyak kenal dengan komunitas Taman Budaya. Seperti yang sudah diduga sebelumnya, meninggalkan mereka adalah pilihan terbaik bagi saya.

Ketika networker kebudayaan Halim HD melintas tak jauh dari tempat duduknya, si wartawan itu bertanya dengan setengah berteriak. “Hai, Lim… Rahman Sabur dimana, katanya sudah datang pagi ini?” ujarnya, tanpa mendahuluinya dengan kata Kang, Mas atau Pak.

Yang ditanya hanya menukas pendek. “Lha itu!” jawab Halim, seraya menunjuk ke arah lelaki paruh baya berkumis tebal, berbadan gempal dengan warna kulit kehitaman, yang duduk di sebelah sang penanya.

“Oalah… Kok saya bisa pangling, ya?” ujar si wartawan. Intonasinya menurun, wajahnya setengah menunduk.

Kang Rahman Sabur, pendiri dan sutradara Kelompok Payung Hitam (KPH) itu hanya diam. Dia tahu, sebagai sutradara teater harus mampu bermain watak, kuat dalam spontanitas dan cerdas membangun bahasa tubuh serta memilih ekspresi wajah yang tepat, agar orang di sebelahnya tidak tambah jatuh malu.

Mbak, Anda Siapa?

Suatu siang, seorang wartawan koran nasional ikut mengerubuti seorang aktris sinetron di sebuah gedung, usai konferensi pers. Belasan pekerja media menyodorkan banyak pertanyan kepada si aktris. Mulai sinetron baru yang dibintangi, hubungannya dengan seorang lelaki, hingga soal-soal seputar kehidupan pribadinya.

Sang wartawan, yang kebetulan belum lama pindah tugas di Jakarta, dan memperoleh pos di desk hiburan itu pun hanya ikut mendengarkan sambil mengacungkan alat perekam. Tampak belum kenal medan, tapi berani. Sialnya, ia tak bisa mendekat sehingga tak mendengar dengan jelas apa yang diucapkan sang aktris.

Entah karena tak kenal dengan pekerja media yang kebanyakan dari kru infotainment atau gengsi dengan popularitas media tempatnya bekerja, lelaki itu enggan bertanya kepada sesama pemburu berita yang turut mengerubuti si artis.

Ketika sang aktris cantik itu hendak memasuki mobilnya, sang wartawan berteriak memanggil, sambil bergegas mendekat. Si artis memberi isyarat menunggu, meski tampak buru-buru.

“Mbak… Mbak itu siapa?”

Si artis bengong. Mungkin juga bingung, hendak memulai menjelaskan dari mana. Sepertinya, sang artis mafhum, sebab yang bertanya termasuk ‘orang baru’ di lingkungannya. Maklum, umumnya artis sudah hafal dengan wajah-wajah pemburu berita, baik berita baik maupun gosip selebritis, karena orang-orangnya hanya itu-itu saja.

“Maksud Mas, nama saya?”

Yang ditanya mengangguk. Wartawan itu buru-buru mengucap terima kasih, lalu cepat berbalik badan begitu si perempuan cantik menyebut nama dirinya…..