Kenangan Sang Guru (2)

Obrolan lewat telepon selama hampir satu jam pada akhir November kemarin, rupanya menjadi pembicaraan terakhir saya dengan Pak Murtidjono. Beliau titip salam dan minta saya meminta maafkan kepada Mbak Retno Maruti, sebab tak bisa datang menyaksikan pentas toue Savitri di ISI. Pak Murti mengaku sedang jalani proses penyembuhan leukemianya dengan membatasi ketemu banyak orang.

“Secara medis saya, sebenarnya saya bisa menonton. Tapi, karena harus selalu mengenakan masker selama proses penyembuhan, saya pekewuh (sungkan) jika nanti ketemu banyak orang dan harus ngobrol tanpa membuka masker. Tolong diaturke (disampaikan) Mbak Mbuk (panggilan orang-orang dekat Retno Maruti di Solo) dan Mas Sentot, saya tak bisa datang. Mugi-mugi sukses,” begitu pesannya.

Saya tahu persis, Pak Murti selalu menonton pertunjukan siapapun, apalagi jika diundang dan waktunya tidak bertubrukan dengan kepentingan lain. Ketika menjabat Kepala Taman Budaya pun, Pak Murti selalu hadir dan paling sering bersam Bu Ning, istrinya. Jika tak ada undangan, Pak Murti meminta istrinya yang membeli tiket, apalagi jika yang pentas adalah kelompok atau seniman muda. Ia selalu konsisten mendukung dan menyemangati sebuah proses berkesenian, termasuk ‘nyumbang’ produksi dengan membeli tiket.

Soal menonton pertunjukan pun, ia memberlakukan prinsip yang sangat personal. Jika Pak Murti bertahan lebih dari lima menit, maka itu berarti dia menganggap ada sesuatu yang menarik dari garapan yang ditawarkan sang penampil, sekalipun itu kelompok teater pelajar SLTA. Sebaliknya, terhadap grup/seniman terkenal sekalipun, ia bisa meninggalkan ruangan ketika Pak Murti menganggapnya ‘biasa-biasa saja’.

Silakan simak komentar Titus berikut:

Jika meninggalkan ruang pertunjukan lebih awal, pun ia tak langsung pulang, melainkan menunggu kelar pertunjukan di wedangan, duduk-duduk sambil minum teh tawar kesukaannya. Pak Murti pun tak segan menghampiri seniman yang sedang punya hajat, menyalami untuk memberi semangat.

***

Murtidjono adalah pribadi yang unik. Tak hanya mendukung sebuah proses kesenimanan, ia pun memiliki keberpihakan yang kuat terhadap sebuah program di Taman Budaya. Pernah suatu malam, Pak Murti menelepon seorang pejabat RRI. Intinya, RRI yang bekerja sama dengan Taman Budaya diminta mencopot kurator pementasan kroncong yang rutin diselenggarakan sebulan sekali di Pendapa Ageng, TBS, yang gratis untuk umum dan disiarkan langsung di RRI Surakarta.

Pak Murti, rupanya sudah melakukan proses verifikasi tentang gosip yang lama didengarnya, bahwa grup orkes kroncong yang tampil di acara rutin itu pada membayar alias nyogok sang kurator yang ditunjuk RRI agar bisa tampil. Padahal, urusan penyelenggaraan pentas dan honor disediakan Taman Budaya Surakarta, sementara RRI yang menyiarkan dan menyediakan kurator. Pak Murti marah besar, sebab kualitas penampil cenderung menurun dari waktu ke waktu, sehingga terjadilah telepon ancaman malam itu, yang kebetulan saya sedang berada di sampingnya, nonton dari sisi barat pendapa.

Dalam hal memajukan kesenian, Pak Murti tak pernah takut berhadapan dengan siapapun. Pada masa Orde Baru yang sangat ketat mengontrol kesenian, pun dihadapinya dengan santai. Intel militer atau polisi yang kerap mondar-mandir setiap ada seniman-seniman kritis berpentas, justru didatanginya, diceramahi. Tapi di balik itu, ia sering berkomunikasi dengan pejabat militer daerah, menyatakan diri sebagai penjamin jika terjadi sesuatu yang dianggap berbahaya bagi aparat keamanan.

***

Demi kemajuan kesenian pula, Pak Murti melibatkan orang di luar staf sebagai programmer acara. Ada penyair seperti Sosiawan Leak, networker kebudayaan Halim HD, keduanya untuk seni pertunjukan dan sastra, atau perupa Hajar Satoto untuk urusan seni rupa. Stafnya yang PNS dan birokrat, diasumsikan tak ngerti dinamika kesenian yang berkembang di luar Taman Budaya.

Alhasil, Taman Budaya Surakarta (TBS) selalu memiliki program paling bagus dibanding taman budaya lain yang ada di Indonesia. TBS bahkan menjadi kiblat dinamika kesenian/kebudayaan di Indonesia, yang masa keemasannya terjadi pada dekade 1990. Pada 1995, misalnya, sanggup mengorganisir event besar bertajuk Refleksi Setengah Abad Indonesia Merdeka, yang menghadirkan seribuan seniman dan pekerja seni dari berbagai disiplin kesenian, dari seluruh Indonesia.

Pada saat itu pula, baru sekalinya digelar upacara bendera (kalau tak salah ingat) di pendapa, pada peringatan kemerdekaan 17 Agustus, yang kalau tak salah dengan inspektur upacaranya budayawan Umar Kayam. Ada parade penyair, pameran senirupa, pentas teater, termasuk Kaspar, karya masterpiece Rahman Sabur dan Kelompok Paayung Hitam bersama perupa Tisna Sanjaya dan komponis Harry Roesli, serta pentas wayang kulitnya Ki Hadi Sudjiwotedjo yang berkolaborasi dengan komponis I Wayan Sadra dan Studio Karawitan (waktu itu bernama) Sekolah Tinggi Seni Indonesia (STSI).

Wartawan senior atau redaktur budaya dari hampir semua media massa terkemuka di Indonesia hampir kerap bertandang di Taman Budaya Surakarta. Maka, publikasi pun ada di mana-mana. Dan saya pun termasuk yang beruntung, mengenal banyak redaktur sehingga mereka pun mulai mengenal kualitas foto-foto dokumentasi peristiwa seni pertunjukan yang saya buat, lalu kerap dipesan untuk dipublikasikan di sejumlah media. Dari sana pula, saya jadi merasa mampu menulis features sederhana tentang peristiwa seni pertunjukan, sebelum lantas jadi wartawan beneran.

Taman Budaya Surakarta adalah surga bagi sebuah proses kreatif dan interaksi intelektual, baik bagi seniman maupun masyarakat di luar kesenian. Pak Murti sanggup membangun itu, yang oleh pelukis Djoko Pekik, disebut dengan istilah babat alas, menyiapkan lahan bagi persemaian benih-benih kesenian dan kebudayaan.

(bersambung)

Artikel terkait:

Kenangan Sang Guru (1)

Ayam Tim Goreng Mbok Iyem

Dilihat dari namanya saja sudah kelihatan kerendahhatiannya. Mbok Iyem! Sebuah nama, yang karena menyertakan kata mbok bisa disalahpahami anak-anak Jakarta sebagai penuntun sebuah identifikasi yang merujuk pada eksistensi seorang pembantu. Oke lah, kita pakai saja kesalahan itu.

Mbok Iyem memang orang desa, dan hingga kini dia tinggal di sebuah desa. Rumahnya agak njlepit, tersembunyi, di kaki Gunung Lawu tepatnya.

Jangan lihat hasil jepretannya, tapi buktikan saja rasanya...

Jangan lihat hasil jepretannya, tapi buktikan saja rasanya...

Andai Mbah Umar Kayam masih sugeng, mungkin saya masih akan ditugaskan Pak Murtidjono menjemput pesinden yang berpakaian adat Jawa lengkap, dengan jarit dan kebaya plus selendang. Tidak untuk nyindhen, namun hanya menemani makan di ruang tengah rumah Mbok Iyem.

Dhahar atau bersantap di ayam tim goreng Dewi Sri alias Bu Better saja, Mbah Kayam sebagai pemilik indikator rasa terhebat yang saya kenal, pun sudah terkesima. Apalagi di rumah Mbok Iyem yang ndesa, dan khas rumah Jawa. Mr Rigen, juru masak kampiun keluarga Pak Ageng dalam serial Mangan Ora Mangan Kumpul sekali pun pasti akan iri pada Mbok Iyem.

Di ruang itulah, Mbok Iyem benar-benar melayani setiap tamu, khushushon yang hobi keplèk ilat, memanjakan lidah dengan menyantap ayam yang sebelum digoreng sudah ditim terlebih dahulu. Tidak melunakkan tulang, memang. Tapi dagingnya, luar biasa empuknya!

So, ayam goreng itu layak disebut kelewat ramah, bahkan bagi yang berumur kelewat uzur. Sang anak atau cucu tak perlu ragu gigi kakek/neneknya bakal tanggal ketika menggigit. Lebih empuk dibanding irisan mentimun yang disajikan sebagai lalapan, pelengkap sambal lombok hijau yang sedap. Nyam..nyam nyammm!!!

Mbok Iyem, sungguh ‘pelayan’ yang sempurna. Masakannya kelewat enak, dijamin tak bakal mengecewakan setiap ‘majikan’. Tak heran, kendati lokasinya njlepit dan tanpa papan nama penunjuk di pinggir jalan raya sekalipun, banyak pelanggan dari luar kota rela berbondong-bondong datang, padahal halamannya cuma cukup untuk parkir empat mobil saja.

Karena berada di kawasan berhawa dingin, warung Mbok Iyem memanjakan para ‘majikan’ agar tak kelesotan di lantai keramik putih yang membuat orang gampang kedinginan lalu kerap buang air. Di antara lantai keramik dan tikar plastik, ditaruhlah anyaman sabut kelapa setebal hampir lima sentimeter. Tamu bisa nyaman duduk dan diterpa dinginnya semilir angin sambil menikmati seduhan teh melati, yang meski tak kental, tapi sangat terasa pahit dan sepat, juga aroma wanginya.

Dimana lokasinya? Kalau dari arah Solo, rumah Mbok Iyem terletak di kiri jalan lima belas menit menjelang obyek wisata Tawangmangu. Daripada disebut nama desanya malah membuat Anda susah mengingat, paling gampang adalah penanda, ancar-ancar saja.

Bila di kiri jalan sudah terlihat bangunan kompleks pesantren dengan masjid yang megah, mulai saja mengurangi kecepatan. Tepat di tikungan jalan utama, ada belokan ke kiri satu-satunya. Silakan masuki hingga kira-kira seratus meteran, hingga Anda dapati tulisan ala kadarnya pada sebuah papan tripleks yang disandarkan pada pagar pembatas jalan: Ayam Tim Goreng Mbok Iyem.

Beloklah ke kiri beberapa meter saja, lalu arahkan mata Anda ke sebelah kanan. Melihat rumahnya sekilas saja, hanya akan membuat Anda terkecoh. Maklum, itu rumah tinggal yang disulap jadi warung.

Jika Anda pernah merasakan enaknya ayam goreng dan sambal Mbak Ning di Wonogiri atau ayam goreng Mbok Karto di Sukoharjo, jangan kuatir. Ketiganya sangat berbeda, sehingga lidah Anda punya tambahan referensi rasa. Gudhangan (urap) daun pepayanya dahsyat (makanan kok dahsyat! Abis, saya kesulitan menggambarkannya dengan kata-kata, je).

Silakan Anda coba. Ayam tim goreng Mbok Iyem disajikan kepada Anda dengan paket sayur tiga rupa: lalap, urap daun pepaya, serta sejenis trancam. Nasinya, pun pulen. Seperti dimasak pakai kendhil, baunya harum, jauh lebih sensasional dibanding matang karena magic jar, bahkan yang model tercanggih sekalipun.