Dansa-dansi di Sriwedari

Suatu malam, saya menemani sutradara film Jagad X-Code, Herwin dan Gunawan, jalan-jalan melakukan riset kecil di THR Sriwedari. Melihat lelaki kekar bertato di lengan kanan, mengajar dansa perempuan-perempuan berusia separuh baya, keduanya menahan tawa. Gunawan menyebutnya absurd. Mereka menari mengikuti irama lagu-lagu Koes Plus. Bukan irama salsa atau jenis musik yang lazim untuk menari dansa.

Sepertinya, si kakek ini datang sendirian. Ia keasyikan, berjoget ala pedangdut jempolan.

Sebagai penggila bacaan sastra dan filsafat sejak mahasiswa, saya mengerti kenapa Gunawan menyebutnya begitu. Di beberapa sudut lain di kompleks yang sama, ada pula beberapa grup dansa. Sebagian, ada pula satu-dua yang sudah bapak-bapak. Mereka berhenti jika sebuah tembang usai dilantunkan, dan seterusnya menari-nari lagi ketika musik kembali berbunyi.

Asal tahu saja, di THR Sriwedari, selalu ramai setiap konser rutin tembang Koes Plus-an, yang dimainkan oleh beberapa grup lokalan. Nusantara adalah salah satu nama kelompok band unggulan. Penontonnya multiusia. Muda, tua, hingga kakek-kakek dan nenek-nenek yang tak jarang mengajak serta cucu-cucunya.

Profil pengunjungnya juga beragam: ada polisi, pegawai negeri, pejabat, tukang parkir, dan juga orang-orang yang dikenali sebagai preman jalanan. Tak pernah ada keributan, selalu damai. Bau alkohol kadang dijumpai jika rajin jalan-jalan berkeliling area, tapi tak ada yang menguatirkan, sebab tak ada yang rese. Pokoknya, unik seunik-uniknya. Wong yang joged ala dangduter juga tidak sedikit. Prinsipnya, happy se-happy-happy­-nya. Cool, peace….. Damai.

Seperti Senin malam kemarin, ketika Nomo, Yon dan Yok Koeswoyo tampil sepanggung bergantian dengan grup tuan rumah, para pengunjung berjubel. Mereka datang dari berbagai penjuru: Ngawi, Tuban, Jepara, Wonogiri, Yogyakarta, dan banyak daerah lagi, selain orang Solo sebagai tuan rumah. Para pedansa pun tampil lebih meriah dibanding biasanya. Malah, ada beberapa ibu-ibu dari grup penari yang memadukan dasi dengan kaos berkrah mereka. Lucu. Unik. Dan, memancing geli…..

Saya, yang datang bersama Hendri, memilih jalan-jalan mengamati ‘perilaku’ para pedansa, sambil jeprat-jepret dengan kamera DSLR dan kamera fasilitas BlackBerry. Saya tak terlalu menyimak penampilan Koes Bersaudara, namun memilih motret sambil ikut menyanyi pelan, supaya suara fals yang saya punya tak terdengar yang lain. Pokoknya, happy.

Grup dansa ibu-ibu, di mana sebagian mengenakan dasi yang lucu.

Satu pemandangan yang hilang dalam konser kemarin, adalah sosok anak muda yang biasa joged dangdut sendirian, di sisi timur dekat loudspeaker, dalam keadaan mabuk seperti biasanya. Mungkin ia tergusur karena dance floor­-nya ‘diserobot’ pengunjung yang kebanyakan datang berombongan. Ia tak pernah diusik, apalagi diusir. Semua berjalan normal, apa adanya dan apa yang seharusnya. Damai.

Karakter penikmat Koes Plus-an sangat berbeda dengan massa penyuka dangdut atau campur sari. Jangankan terpengaruh alkohol, yang ‘waras’ alias tak mimik ciu atau topi miring, saja mudah beringas hanya lantaran bersenggolan saat joged berjamaah. Khusus penonton Koes Plus, mereka bahkan berulang kali mendesak penyelenggara menaikkan harga tiket masuk (HTM) lantaran dianggap kemurahan. Logikanya sederhana: jika tiket naik, honor band juga meningkat, sehingga bermusiknya pun kian bersemangat. Sedang penonton, pastilah dapat nikmat. Asik.

THR Sriwedari, memang selalu ngangeni, bikin kangen. Banyak teman atau kenalan yang lama tak bersua, bisa-bisa malah seperti  berjumpa atau dipertemukan di sana. Mirip Facebook atau Twitter di ranah maya. Aneh, unik. Seperti tadi, saya bertemu teman, seorang penulis naskah drama dan sutradara teater ternama di Surakarta, yang datang bersama istrinya. Baru sekali saya berjumpa ia datang menonton ke sana, setelah sekian puluh kali saya sambangi Koes Plus-an di THR Sriwedari.

Hendri yang mengikuti saya ke toilet, akhirnya hanya senyam-senyum saja. Bukannya hendak pipizz saya ke sana, tapi ingin membuat foto setelah sekian kali saya lupa bawa kamera. Sebuah toilet, yang memberi penanda, di mana waria diberi tempat yang sama dengan para pria. Bukan digabung ke kelompok wanita, seperti keinginan rata-rata para pemilik organ genital pria, namun lebih merasa diri sebagai wanita.

Toilet saja bisa unik, apalagi komunitas dansa-dansinya…. Itulah salah satu wajah Solo, atau Surakarta. Keramahannya selalu untuk siapa saja, termasuk pedansa yang diberi ruang berkespresi, juga para waria yang hendak buang hajatnya…

Catatan: jika hasil fotonya jelek, harap dimaklumi karena motretnya cuma pakai BlackBerry tanpa fasilitas lampu kilat.

Biyèn Kakus Saiki Toilèt

Biyèn kakus saiki toilèt, biyèn prengus saiki jètsèt! Sopo kuwi? Akèh contoné, mung gelem apa ora awaké dhéwé nyawang kiwa-tengené. Mesthi ana waé, embuh kanca, sedulur, kenalan lan sapanunggalané, sing mbiyèné sengsara nanging saiki bisa kanggo tuladha. Sing wingi-wingi kéré, saiki wis bisa gawé balé. Kabèh gumantung usahané, temen lan orané berjuwang kanggo ndandani uripé dhéwé-dhéwé.

Kakus utawa toilèt bisa dadi seksi. Saumpama bisa crita, embuh pirang èwu pawongan, klebu seniman sing plèngah-plèngèh utawa mrengut sawisé metu saka toilèt. Nanging, toilèt sing paling sugih critané ana pirang-pirang panggonan. Jaman dhisik, toilèt ana tobong kethoprak utawa gedhung wayang wong paling sugih.

Continue reading