Cerita Tiga Pengelana

Logo resmi BolaKelana?

Kicauan pendek mengabarkan tiga pemuda gila akan singgah di Solo, untuk mengajak orang nonton bareng siarang langsung Piala Dunia. Yang disambangi pun orang biasa-biasa saja, mereka yang terkendala untuk menonton suka-suka. Hingga berjumpa tiga (semoga) bujang kelana, saya tak tahu konsep ‘nobar’ mereka.

Hingga bersua, sebelumnya mereka ‘bukan siapa-siapa’ bagi saya. Mengenal gank bolakelana pun karena rekomendasi teman, yang juga baru sekali bersua: Dicky namanya, dixxieland identitas di Twitter-nya. Perkanalan dengan Dicky pun tanpa sengaja, via Gembul, orang asal Solo yang berkelana di ibukota, yang persahabatannya bermula dari dunia maya.

Pengaruh penggunaan internet, memang benar-benar luar biasa. Kenal orang begitu gampang, bahkan kepada orang-orang yang tak mudah diakses secara offline, apalagi untuk berteman atau karena sebuah urusan.

Dari internet yang hebat, saya mengenal orang-orang hebat, dengan gagasan dan laku yang luar biasa dahsyat. Seperti kerelaan tiga pemuda penggila bola itu, yang menyisihkan 30 hari untuk menempuh perjalanan panjang: dari Jakarta hingga Bali dan akan berakhir di Bandung. Tujuannya sangat sederhana, namun mulia: menemani orang yang ingin nonton, tapi tak bersarana.

Tanpa sponsor, mereka singgah di satu kota, observasi seperlunya. Mendekati jam tayang, mereka menawarkan kepada sejumlah orang, untuk nonton bareng. Maka, di halaman Polsek pun jadi, di warung remang-remang pun tak soal. Niatnya, mengajak semua orang bergembira, nonton bola dengan televisi bodi tipis alias LCD TV merek Samsung 32 inchi, yang mereka bawa ke mana-mana.

Tak ada rotan, akar pun jadi. Bila tak beroleh sedekah listrik, maka televisi dinyalakan dengan pasokan listrik dari mobil Honda Jazz yang mengantar mereka ke mana saja. Siang di jalanan, petang observasi, malam nyetèl tivi, dinihari berkemas untuk kembali pergi. Ganti lokasi. Tidur di mobil, nyopir bergantian.

Ini kaos kenangan, yang sejatinya masuk kategori 'jatah preman' alias JP

Menurut Paijo, salah satu personil @bolakelana yang bernama asli Christian Harahap, mereka ingin membuat film pendek dan membuat buku yang berisi catatan perjalanan mereka, kelak seusai Piala Dunia. Soal dana, itu urusan nanti. Sebab yang penting, proses mesti dijalani, sementara hasil akhir –yang mungkin belum pasti, juga urusan nanti. Enjoy dulu, kata mereka.

Jangan tanya suka-duka selama perjalanan. Di Bali, mereka tak jadi nyetèl tivi karena berurusan dengan polisi, pecalang dan banyak lagi. Di Probolinggo, mereka jumpai semarak warga menyambut Piala Dunia dengan mengibarkan aneka rupa bendera ukuran besar kesebelasan negara pujaan mereka, namun ternyata sedikit saja yang saksikan siaran.

Di Solo, mereka ditemani 70-an anggota klub pengendara RX King, yang setiap pergerakan mereka menghasilkan superbising di kuping. Kata mereka, menonton siaran pertandingan pertama malam itu sangat meriah, walau malamnya payah. Yang menatap televisi hanya tinggal beberapa wajah.

Kembali kepada personil bolakelana, ternyata mereka bukanlah orang yang sama sekali tak saya kenal. Paijo, yang asli Samirono, Sleman, ternyata pengelola infojogja. Sedang Tjoek Widharyoko alias Uchuk, yang warga Bandung, ternyata murid bimbingan Tisna Sanjaya, seorang sahabat yang juga penggila bola, yang karyanya lukisnya pernah jadi materi pendukung kegiatan resmi Piala Dunia, kalau tak keliru delapan tahun silam. Satu lagi personil mereka, adalah Danang Yogaheratno.

Bersama Dicky, Uchuk mengelola infobandung, yakni tempat berbagi informasi di situs jejaring sosial Twitter. Sementara saya, sedang belajar dari mereka, mengelola tentangSolo, yang maunya menjadi support informasi bagi pengguna Twitter.

Alangkah indahnya pertemuan kami, pada sebuah peristiwa mengejutkan… Padahal, beberapa pekan sebelumnya, saya sedang menggagas pertemuan para admin/pengelola aneka info di berbagai daerah, seperti @LiburanLokal, @infomalang, @samTUG, @visitsemarang,@infolombok, dan banyak lagi….

Selamat berjuang, semoga sukses berbagi, hingga berakhir Piala Dunia…

Kelompok Payung Hitam

Teman-teman di Bandung lebih suka menyebut Ka Pé Ha (KPH), akronim dari Kelompok Payung Hitam. Pertama kali saya jatuh hati pada grup ini ketika mereka mementaskan naskah Peter Handke (Jerman) berjudul Kaspar di Taman Budaya Surakarta, 1995. Saat itu, seniman se-Indonesia kumpul dalam hajatan besar merayakan Refleksi Setengah Abad Indonesia Merdeka.

Puisi Tubuh yang Runtuh

Puisi Tubuh yang Runtuh

Pertunjukan yang tata artistiknya ditangani perupa Tisna Sanjaya, dengan iringan musik kaleng Harry Roesli itu sungguh mencengangkan banyak kalangan. Meski sama-sama fenomenal ketika itu, Ka Pé Ha sempat ‘menggusur’ Teater SAE-nya Boedi S Otong dan Afrizal Malna dari perbincangan teater modern Indonesia. Keduanya sama-sama menonjolkan kekuatan tubuh aktor sebagai inti eksplorasi, juga sama-sama minim dialog.

Rupanya, Kaspar menjadi masterpiece Kelompok Payung Hitam. Dan, foto yang saya buat atas pertunjukan itu pun akhirnya saya anggap sebagai karya masterpiece saya pula. Baru dua tahun belajar motret, saya sanggup membekukan peristiwa panggung itu dengan shutter speed 4 detik, dengan FujiFilm ISO 1600. Tanpa tripod, hanya mengandalkan pernafasan mulut agar tangan tak bergerak mengikuti tarikan atau hembusan nafas.

Kaspar (solo, 1995)

Kaspar (Solo, 1995)

Itulah sebabnya, kenapa sebagian dari koleksi saya atas foto Kaspar saya jadikan banner resmi di blog yang sedang Anda baca ini. Kaspar-lah gerbang yang saya lalui ketika memasuki Bandung, juga dunia seni pertunjukan Indonesia.

Sejak itu, saya menjadi dekat dengan kerabat Ka Pé Ha: Kang Rahman, Rusli Keleeng, Tony Broer, Yadi Bagong, Alit, Tatang Pahat, dan banyak lagi. Dari perkenalan itu, saya menjadi senang ke Bandung, apalagi bila Ka Pé Ha mau mementaskan. Beberapa karya mereka, pun saya dokumentasikan. Harus saya katakan di sini, saya merupakan salah satu fans beratnya.

Tubuh adalah kekuatan inspirasi dan sumber eksplorasi

Tubuh adalah kekuatan inspirasi dan sumber eksplorasi

Dari mereka, saya berkenalan dengan banyak teman seniman Bandung. Dengan aktor-aktor Studiklub Teater Bandung (STB) seperti Mohamad Sunjaya, Iman Soleh, Wawan Sofwan, dan banyak lagi. Kang Tisna Sanjaya dan Mbak Molly termasuk pasangan yang baik hati, yang selalu menampung saya setiap berkunjung ke Bandung, karena tanpa pemberitahuan, tiba-tiba saya mengetuk pintu rumahnya pagi-pagi sekali, ketika Zico dan Ayang belum pergi sekolah.

Pertunjukan Puisi Tubuh yang Runtuh karya/sutradara Kang Rahman Sabur yang dipentaskan di Taman Budaya Surakarta, 29 Oktober malam ini, seolah menjadi pengingat. Salah satunya, kepada almarhum Pak Suyatna Anirun yang perannya sangat besar sehingga saya mencintai pendokumentasian peristiwa seni pertunjukan sebagai proyek pribadi, setidaknya hingga kini.

Puisi Tubuh yang Runtuh masih memukau saya, juga ratusan penonton yang datang dari berbagai kota di Jawa Tengah dan Jawa Timur. Kekuatiran saya akan redupnya Ka Pé Ha, ternyata tak terbukti. Apalagi, semenjak Kang Rahman menderita stroke cukup parah.

“Saya justru merasakan bisa sembuh total ketika berguling-guling dan berporses kembali bersama anak-anak,” cerita Kang Rahman kepadaku, sesaat sebelum kami menyaksikan Mainteater mempertunjukkan karya terbarunya, Ladang Perminus di tempat yang sama.

Pertemuan saya dengan urang-urang Bandung kali ini seperti menjadi kado ulang tahun termewah untuk saya. Setidaknya, saya merasa diingatkan untuk tak melewatkan peristiwa seni pertunjukan, meski tak sanggup ke luar kota sepekan sekali seperti dulu. Jaman sudah berubah, tanggung jawab sebagai suami juga tak bisa dilepas.

Seniman-seniman Bandung, bagi saya adalah orang-orang terhormat, yang semua memiliki jasa besar terhadap perjalanan hidup saya. Tak terkecuali, Edy Purnawady, orang terpenting di balik terciptanya persahabatan saya dengan orang-orang Bandung, selain Nandang Gawe yang paling sering saya paksa menemani jalan-jalan. Tanpa mereka, mungkin saya bukan siapa-siapa.

Kehadiran KPH selalu memukau

Kehadiran KPH selalu memukau

Kalau tulisan ini kuat aroma romantisme masa silam, ya begitulah kenyataannya. Belu sempat saya ke Bandung menengok Kang Rahman, beliau sudah hadir di Solo. Saya sengaja tak pernah menelepon, karena ingin datang dadakan sebagai kejutan seorang fans kepada orang yang dikaguminya.

Sakitnya mengingatkan saya pada stroke yang juga diderita bapak saya. Saya memetik hikmah dari perbincangan kami yang tak seberapa lama, padahal sebelumnya sudah terpisah sangat lama.

Kang Rahman, semoga sehat selalu. Saya, juga banyak teman pencinta seni drama di Indonesia, masih dan akan selalu menanti karya-karya baru Kang Rahman… Sukses selalu untuk Kang Rahman, keluarga besar Ka Pé Ha, teman-teman di Buah Batu 212, juga para seniman-seniman merdeka di Bandung.