Good News itu Kabar Baik

Jika kalangan jurnalis menyukai bad news is good news, saya menyebut aktivitas blogging dengan istilah good news is good news, kabar baik. Saya sebut kabar baik, karena mayoritas blogger lebih banyak mengisi blog-nya dengan materi-materi opini dan testimoni positif, baik berupa tulisan, foto, audio, video, maupun gabungan di antaranya.

Kalaupun ada segelintir yang nyinyir, seperti saya, anggap saja karena masih terpengaruh gaya pelaporan dan penulisan seorang jurnalis, dengan dalih budaya industri media mengarahkan pada bad news is good news tadi. Selain itu, ada keharusan berpihak pada seorang jurnalis (dan media) untuk membantu pihak yang voiceless dalam pengertian yang sangat luas, utamanya antara hak publik dengan kewajiban (penyelenggara) negara.

Tapi soal blogging, kini kian memiliki peran penting. Hal-hal yang dianggap remeh oleh industri pers kini bisa dipublikasikan oleh siapa saja, tanpa berhitung lagi siapa (jumlah) yang akan membaca. Rating menjadi tak penting, sebab setiap orang bisa mendapatkan informasi (penting) yang dibutuhkan lewat googling, sebutan baru untuk aktivitas pencarian lewat Internet.

Blogger lambat laun menggerogoti peran jurnalis hingga dijuluki sebagai pewarta warga karena ketiadaan ikatan industrial dengan institusi bisnis media dan sifatnya yang cenderung ‘kesaksian’ dan keinginan berbagi ceritera atau informasi.

Dan, seperti layaknya penceritera pun, kredibilitas blogger sebagai pewarta akan dinilai publik secara terbuka. Yang lebay, berlebihan karena penyampaian yang berbusa-busa justru akan menurunkan kepercayaan dari penerima informasinya. Tapi penyampaian spontan, apa adanya, bisa membuahkan kecintaan dan menaikkan tingkat kepercayaan.

Penyodoran data pendukung dan kutipan pernyataan (quotation) dari pihak yang relevan dengan pokok bahasan kian mengukuhkan kualitas informasi. Soal seseorang bisa menuturkan secara runtut atau tidak, bahkan bisa dianggap bukan sebagai persoalan yang mengganggu, lantaran komunikan akan bersikap lebih toleran, bisa memaklumi sebuah keterbatasan kemampuan blogger dalam menyampaikan pesan. Intinya, publik tak terlalu banyak menuntut.

Cerita tentang sebuah obyek wisata, misalnya, bisa disampaikan dengan model laporan pandangan mata. Spontanitas penuturan terhadap obyek yang dilihat dan dirasakan sudah cukup menjelaskan dan bisa memancing rasa penasaran orang lain. Apalagi jika disertai tips-tips yang dibutuhkan, seperti cara menjangkaunya dari lokasi tertentu seperti terminal bus/kereta api, pusat kota, dan sebagainya. Foto/video bisa disertakan, bahkan kini bisa menambahkan peta dan koordinat sehingga pelancong tak mudah tersesat.

Berangkat pada prinsip good news is good news dalam kegiatan blogging itulah, saya sering menyerukan kepada teman-teman blogger untuk tak segan mengunggah pesan, lewat blog dan media jejaring sosial lainnya. Kalau perlu, ditambah review singkat, bagaimana ketersediaan akses telekomunikasi, baik yang berbasis suara maupun Internet. Tampaknya sepele, tapi hal ini penting untuk orang-orang jaman sekarang.

Hanya bercerita tentang sebuah obyek tujuan wisata, kita bisa mengembangkan cerita hingga merambah ke banyak hal. Pelancong kadang butuh angkutan umum atau sewa mobil/sepeda motor, informasi kuliner, hingga buah tangan untuk dibawa pulang. Secara tidak langsung, seorang pencerita akan memberi manfaat ekonomis kepada supir dan keluarganya, pedagang cinderamata dan pengusahanya, serta keluarga besar mereka.

Blogging, menurut saya adalah aktivitas penting dan mulia, karena ia bisa memberi manfaat kepada siapa saja, bahkan orang-orang yang tak kita kenal, beserta keluarga besar mereka. Bisa dilakukan sesuka hati, tanpa beban, tanpa pretensi muluk-muluk bisa mengubah dunia, namun akan terasa benar buahnya.

Asal tahu saja, tulisan ini pun sejatinya muncul secara spontan saja, meski kegelisahan sudah lama mendera. Sering saya mengikuti ajang kumpul-kumpul komunitas blogger di berbagai daerah, namun masih banyak yang lupa  terhadap hal-hal ringan demikian. Pernah misanya, saya bersama 250-an blogger diajak mengunjungi sebuah pabrik boneka dengan luas ruang kurang memadai. Saya merasa tak bisa mengamati secara detil lokasi dan produknya, sehingga sepulang dari sana, saya tak bisa bercerita apa-apa meski punya beberapa rekaman fotonya.

Pernah pula, dalam jumlah ribuan, kami ada di satu kota selama beberapa hari. Lantaran setiap hari kepada kami disodorkan materi-materi ‘perkuliahan’, maka hanya sebagian kecil dari kami yang bisa berinteraksi dengan lingkungan setempat. Kebanyakan dari kami tak sempat bisa merasakan banyak hal terkait dengan kekayaan materi lokalitas untuk kami ceritakan kembali kepada orang banyak. Momentum yang bagus, tapi sayang lantaran tak memperoleh tambahan bahan cerita.

Dalam konteks pertemuan komunitas blogger, hal demikian layak menjadi pertimbangan. Orang yang sudah jauh-jauh datang bertandang, punya kecenderungan bisa mendapat oleh-oleh untuk dibawa pulang, walau sekadar ceritera semata. Pembaca blog saya akan percaya jika saya bercerita banyak hal tentang Solo, lantaran tahu saya tinggal di Solo.

Tapi sebagai orang dari Solo, cerita saya tentang keindahan dan kekayaan wisata Jayapura atau Malang yang saya kunjungi, akan lebih bernilai dan menarik perhatian orang dibanding cerita-cerita tentang Solo.

Apalagi jika saya bercerita tentang maraknya pemakaian baju batik bermotif burung Cenderawasih atau tifa di kalangan masyarakat Papua (lihat foto ilustrasi). Masyarakat Jayapura, yang tak memiliki tradisi membatik pada kain katun akan menjadi cerita tersendiri. Begitu pula dengan pemakaian batik secara resmi oleh karyawan di instansi pemerintahan dan swasta di sana.

Akan kian menarik pula cerita tentang orang Jayapura yang memelopori pembuatan batik setelah belajar di Pekalongan, Jawa Tengah, lantas menularkan kepada tetangga kiri-kanan hingga pembatik tulis di jayapura mencapai jumlah hampir seratus orang banyaknya. Belum lagi dengan cerita keberhasilan sang pelopor batik Papua yang memiliki gerai bergengsi di Denpasar dan Jakarta, dengan corak dan motif ‘asli Papua’ dan sebagainya. Itulah good news is good news-nya.

Tentu hasilnya akan sedikit berbeda kalau cerita batik Papua itu diangkat ke ranah jurnalistik mainstream, yang masih berpedoman bad news is good news. Hampir bisa dipastikan, keberadaan beberapa toko batik besar milik pendatang dari Jawa akan dimasukkan juga ke dalam laporan. Termasuk, adanya industri batik di Yogyakarta yang turut membanjiri pasar batik Papua, meski corak dan motifnya tetap lokal.

Demikian…..

Internet untuk Papua

Hampir seratus orang, mayoritas perajin, memadati ruang workshop Dinas Pengelolaan Teknologi Informasi dan Komunikasi (DPTIK) Provinsi Papua di Jayapura, 21 Oktober silam. Mereka antusias mengikuti sharing pengalaman pemanfaatan teknologi informasi dan workshop pembuatan website untuk penyebaran informasi potensi dan produk kultural kreatif. Sayang, koneksi Internet melambat sehingga workshop terganggu ketika 100 komputer digunakan bersamaan.

Suasana workshop Internet untuk menunjang industri kreatif Papua

Akhirnya, disepakati pembuatan website, khusus untuk ajang distribusi informasi dan promosi. Lima orang bersedia menjadi Relawan Teknologi Informasi dan Komunikasi (Relawan TIK) inti, untuk mendesain website dan mengisinya, termasuk perwakilan dari beberapa kabupaten dan kota di provinsi itu. Di sana, saya mendampingi Ketua Relawan TIK, Mas Indriyatno Banyumurti yang difasilitasi Kantor Kementrian Komunikasi dan Informasi.

Terbayang dalam benak saya, betapa kesenjangan teknologi akan meneguhkan isolasi, mengingat kondisi geografis wilayah tersebut yang berbukit-bukit. Transportasi darat yang mengenaskan di pedalaman, dan transportasi udara yang pasti mahal secara biaya, hampir bisa dipastikan menghambat kemajuan. Teknologi informasi pun menjadi sulit dihadirkan karena pasti memakan biaya besar.

Kondisi geografis Pulau Papua yang berbukit-bukit memuat investasi pembangunan menara BTS menjadi mahal, karena pengangkutan material hanya bisa dilakukan dengan helikopter.

Kian rumit persoalan jika dihadapkan pada realitas potensi ‘pasar’ yang tak sebanding, jika berharap keterlibatan para penyelenggara jasa internet swasta (termasuk operator telekomunikasi) di Papua, atau daerah-daerah lain yang kondisi geografisnya menjadi kendala. Pendapatan per kapita penduduk pasti jadi acuan awal hitung-hitungan lembaga usaha swasta karena terkait dengan Return on Investement (RoI) atau tingkat (kecepatan) kembalinya modal usaha.

***

Memang, kini mulai ada ‘terobosan baru’, semacam politik etis (begitu saya menyebutnya) di mana lembaga-lembaga profit akan mengembalikan sebagian keuntungannya kepada publik yang telah menghidupinya, dalam bentuk tanggung jawab sosial perusahaan atau corporate social responsibility (CSR). Bagus secara misi dan terminologi, meski kemudian lebih berat ke arah pembentukan citra positif perusahaan alias strategi public relations (PR).

Lukisan burung Cendrawasih dengan pewarna alam pada kulit kayu khas Papua (kiri) dan patung Asmat, dua jenis karya seni bernilai tinggi.

Tak soal bagi saya jika kegiatan CSR menjadi sebatas kegiatan PR, sepanjang aksinya bisa bermanfaat bagi publik. Seperti di Provinsi Papua, misalnya, akan menarik jika dana CSR diarahkan kepada pendirian base transceiver stations (BTS) di pedalaman. Memang mahal, dan bisa jadi perlu koreksi strategi, sebab konon, CSR sering dipahami sebagai ‘pengembalian’ sebagian keuntungan kepada masyarakat di sekitar lokasi usaha.

Kebijakan penggunaan menara bersama untuk penempatan BTS sejumlah operator telekomunikasi bisa menjadi solusi karena biaya menjadi lebih murah karena bisa ditanggung bersama sejumlah operator. Cuma, lagi-lagi pertanyaannya sederhana: maukah operator seluler melakukan investasi di daerah terpencil dan pedalaman dengan konsekwensi jangka kembali modalnya akan lama?

Jawa, Bali dan Sumatera, sepertinya bisa ‘ditinggalkan’ dulu. Investasi dialihkan ke Sulawesi, Maluku, Kalimantan hingga Papua, supaya kesenjangan telekomunikasi (digital) bisa dikurangi. Investasi backbone Palapa Ring Timur Papua, misalnya, diperkirakan Bank Dunia, membutuhkan biaya sebesar US$ 145 juta (Jan van Rees, tanpa tahun), padahal hanya mencakup 11 kabupaten/kota di Provinsi Papua. Angka yang tidak tinggi jika disikapi demi meningkatkan pendapatan dan pemerataan kesejahteraan warga Papua. (Ingat, nilai itu ‘hanya’ setara dengan biaya keamanan PT Freeport untuk kepolisian setempat selama 30 bulan, lho!)

Padahal, dari backbone itu memungkinkan operator telekomunikasi hadir dengan biaya lebih murah, sehingga aksesibilitas komunikasi bagi warga Papua menjadi terjangkau. Dampaknya? Pasti sangat banyak dan panjang. Tuntutan keadilan ekonomi dan peningkatan kesejahteraan yang selama ini memicu naik-turunnya suhu politik Papua-Jakarta, tak lepas pula dari ‘saluran komunikasi’ yang terbatas, dalam pengertian sangat luas.

***

Kembali pada soal pemanfaatan teknologi informatika dan komunikasi (TIK), ketersediaan infrastruktur telekomunikasi di Papua pasti akan meningkatkan literacy dan mendorong munculnya generasi baru yang lebih maju. Dengan demikian, rakyat Papua bisa menempati posisi-posisi strategis dalam aneka peran sosial, birokrasi, ekonomi dan sektor-sektor lainnya. Dengan begitu, kehadiran TIK bisa memajukan pendidikan, meniadakan kesenjangan antara pedalaman dan kota-kota di Jawa.

Asal tahu saja, masih menurut riset Bank Dunia, kapasitas Internet di seluruh Jayapura sebagai ibukota provinsi, masih lebih kecil dibanding kapasitas yang dimiliki sebuah apartemen di Hongkong atau Singapura. Ironis, bukan?

 

Tampak udara menara-menara di pedalaman Sulawesi Selatan

Banyaknya warga non-Papua di kantor-kantor pemerintahan, lembaga swasta hingga di sektor-sektor informal, menurut hemat saya, hanya bagaikan menanam bom waktu, karena pemerataan peran warga negara akan memiliki dampak yang sangat kompleks. Kota Jayapura yang sangat indah, eksotis, dengan kota di tepi lautnya, dan kondisi geografis yang berbukit-bukit, menyimpan potensi mendatangkan wisatawan dari berbagai daerah, baik nasional maupun mancanegara.

Promosi wisata (alam, produk budaya, kerajinan, dll) bisa dilakukan lewat website, disebarluaskan via Internet dan seterusnya. Jujur, ketika saya turut serta dalam workshop singkat itu, cukup senang ketika banyak warga perajin antusias memanfaatkan teknologi Internet untuk sarana promosi. Ada yang memproduksi tas dan lukisan berbahan kulit kayu khas Papua, sebab jenis kayunya hanya ada di pulau itu, ada yang memproduksi batik.

Lansekap Jayapura dilihat dari restoran sebuah hotel

Dan, khusus batik, walau itu kerajinan baru hasil ‘impor’ dari Jawa, tapi saya senang mendengar sudah ada 100-an perajin batik cap dan tulis di Jayapura. Adalah Pak Jimmy yang memperkenalkannya. Ia belajar dari Pekalongan, lantas dikembangkan di Jayapura dengan corak dan motif khas Papua dengan beberapa ikon khusus seperti tifa, burung Cendrawasih, dan jenis-jenis dedaunan khas pepohonan Papua.

Produksi batik Papua mestinya juga bisa semaju industri serupa di Jawa, sehingga tidak sampai didominasi pedagang-pedagang Jawa di sana, yang meski mengedepankan motif Papua, namun memproduksinya di Jawa. Yang pasti, permintaan sudah begitu tinggi, baik jika disimak dari omzet penjualan beberapa toko batik di sana, maupun usaha Pak Jimmy yang sudah melebar pemasarannya hingga ke Ambon, Denpasar dan Jakarta.

Teknologi komunikasi, semestinya memberi manfaat, mendekatkan yang berjauhan, membuat murah ongkos produksi dan promosi, dan bukan sebaliknya. Apakah operator seluler seperti XL juga hanya akan berkutat di Jawa, Bali, Sumatera dan Sulawesi? Papua, begitu pula pulau-pulau terpencil di Indonesia, membutuhkan kehadirannya. Pasar bisa diciptakan, tidak perlu menunggu. Itu jika ingin selalu membuat penggunanya selangkah lebih maju.