Gedung Kesenian Solo

Saya merasa terganggu dengan twit seperti terpampang di postingan ini. Mau disebut membela Pak Jokowi atau apa, terserah saja. Saya tak peduli soal begituan. Concern saya hanya pada potensi fitnah, atau setidaknya bisa mendiskreditkan Pak Jokowi, yang selama ini dikenal memiliki kepedulian pada pengembangan budaya dan pemberdayaan warga melalui sejumlah kebijakannya selama menjabat Walikota Surakarta.

Makna kalimat ini yang saya kuatirkan berdampak negatif karena menyangkut nama baik seseorang...

Kalau merunut twit dan retweet, saya kok menduga Swastika hanya melemparkan wacana untuk mencari bukti konsistensi seorang Jokowi. Saya yakin tak ada tendensi negatif pada diri Swastika. Masih dengan modal dugaan, mungkin Swastika mendapat informasi sepihak dari teman-teman yang selama ini memanfaatkan bangunan mangkrak yang kini dinamai Gedung Kesenian Solo, bahwa di tempat tersebut akan dibangun mall, atau setidaknya berubah peruntukan.

Kata ‘kesenian’ memang seksi, apalagi jika dilekatkan dengan kata ‘gedung’ dan sebagainya. Sebagai manusia setengah seniman, yang separuh lebih dari usia saya, banyak bersinggungan dengan seni, seniman dan pusat kesenian, maka saya ingin memberi gambaran sekadarnya, sepanjang yang saya ketahui.

Gedung kesenian di Solo, dalam arti tempat dilangsungkannya beragam aktivitas kesenian, yang saya kenal adalah Taman Budaya Jawa Tengah atau dikenal dengan Taman Budaya Surakarta (TBS). Sebelum era otonomi daerah, TBS berada di bawah Direktorat Jenderal Kebudayaan alias pemerintah pusat. Hampir semua provinsi memiliki taman budaya. Kebetulan, untuk Jawa Tengah terletak di Solo.

Sebelum terpusat di Kentingan, dulu ‘markas’ seniman berada di Kamandungan, kompleks Kraton Surakarta dan kampus Mesen, dengan nama Pusat Kesenian Jawa Tengah. Baru pada awal 1980an (kalau tak salah) PKJT dipecah menjadi dua, yang bergerak di pendidikan kesenian bernama Akademi Seni Karawitan Indonesia (ASKI) lantas berubah nama menjadi Sekolah Tinggi Seni Indonesia (STSI) dan kini bernama Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta. Untuk ‘showroom’ produk seni, ya di TBS itu.

Selain itu, ada Taman Balekambang yang pernah jadi markas Srimulat dan grup kesenian ketoprak. Kini, setelah penataan kawasan, gedung ketoprak dipindah dan dibuatkan bangunan baru yang dikelola Dinas Pariwisata Kota Solo, dengan penampilan rutin grup Kelompok Ketoprak Seniman Muda Surakarta.

Di kawasan Sriwedari, ada gedung Wayang Orang Sriwedari yang masih beroperasi hingga kini. Sekadar mengingatkan, Sriwedari dulu dikenal sebagai Kebon Raja, yakni taman milik Kraton Surakarta. Dulu, kebun binatang juga di situ sebelum dipindah di Jurug, pinggir Bengawan Solo.

Di kompleks Sriwedari ada Museum Radya Pustaka yang beberapa tahun silam ketahuan kehilangan banyak asetnya. Ada juga THR alias Taman Hiburan Rakyat. Orang luar sering rancu, menyebut Taman Sriwedari sebagai Taman Budaya Surakarta. Padahal, jelas beda. Sriwedari, tentu saja masuk kawasan cagar budaya karena peran sejarahnya. Di THR, kini rutin untuk pentas musik dangdut, lagu-lagu Koes Plus dan tembang kenangan, selain ada aneka permainan anak-anak seperti bom-bom car dan sejenisnya.

Ini lho, bekas gedung bioskop, yang diberi label Gedung Kesenian Solo itu...

Di antara Museum Radyapustaka dan THR ada gedung pertemuan bernama Graha Wisata Niaga. Dan tepat di belakang gedung pertemuan itulah, dulu terdapat Solo Theatre, yakni gedung film yang masuk jaringan Cineplex 21-nya Sudwikatmono. Kalau tak salah ingat, dulu manajemen usaha bioskop itu dimiliki keluarga SJS, Solo Jasa Sarana, sebuah biro iklan di Solo.

Sejak awal 2000an, gedung Solo Theatre mangkrak karena usaha bioskop tak sekinclong dulu. Soal kepemilikan tanah, saya kurang tahu persisnya. Yang pasti, beberapa  tahun silam disengketakan para ahli waris (kerabat Kraton Surakarta) dengan Pemerintah Kota Surakarta. Bisa jadi, manajemen bioskop hanya menyewa atau memiliki hak guna saja.

Karena mangkrak itulah, tempat itu pernah digunakan untuk aneka kegiatan, termasuk sebuah komunitas (pembuat dan apresian) film MataKaca membersihkan dan memanfaatkan tempat itu sepengetahuan Kepala Dinas Pariwisata setempat. Beberapa kali digunakan untuk pemutaaran film alternatif, juga beberapa kegiatan seni lainnya. Yang pasti, tidak ada kegiatan seni rutin atau periodik. Jangan membayangkan ada ruang pertunjukan teater, musik dan sebagainya dengan fasilitas tata cahaya dan tata suara memadai layaknya gedung-gedung kesenian seperti yang diketahui umum.

Saya mengenal Yayok, pekerja iklan berlatar belakang senirupa. Ia termasuk salah satu fasilitator kegiatan anak-anak muda Solo yang sering menggunakan dan berkumpul di sana. Nama Gedung Kesenian Solo, kok saya yakini diberikan oleh teman-teman yang suka kumpul di sana, dan kini sedang berjuang menjadikan tempat itu sebagai gedung kesenian (maaf) beneran.

Asal tahu saja, tempat semacam itu memang langka di Solo. Berbeda dengan Yogya atau Bandung dan Jakarta yang memiliki ruang-ruang publik untuk mengekspresikan citarasa seni dan sebagainya, di Solo nyaris tak ada. Seniman tengah dan arus utama banyak berekspresi di Taman Budaya, ISI dan beberapa tempat lain, sementara yang di Sriwedari masuk kategori ‘pinggiran’.

Bukan melecehkan, ‘pinggiran’ yang saya maksud di sini adalah teman-teman yang sedang berjuang akan hadirnya ruang-ruang publik, tempat di mana segala macam ekspresi kesenian bisa dikomunikasikan kepada publik. Seperti kita tahu, awam masih merasa ‘berjarak’ untuk nonton pertunjukan atau karya seni di pusat-pusat kesenian yang sudah mapan. Sehingga, apa yang dirintis teman-teman di Sriwedari, untuk menghadirkan ‘gedung kesenian’ di tengah publik awam, sehingga semua melek kesenian.

Perlu Anda ketahui juga, di sekitar ‘Gedung Kesenian Solo’ ini, setiap hari Minggu atau libur selalu penuh sesak manusia dan mobil-mobil tertata rapi, karena di situlah seni hidup sesungguhnya sedang dipertontonkan dan melibatkan banyak orang. Ya, di situlah pusat bursa aneka mobil bekas!

Soal kenapa saya harus memberi penjelasan sepanjang ini, jujur saya kuatir twit Swastika dan retweet teman-teman lain bisa berakibat fatal, seolah seorang Jokowi tidak paham budaya, tidak peduli kesenian dan sejenisnya, dus tak ngerti komunikasi.

Hingga dua tahun awal pemerintahannya, Pak Jokowi melakukan survei potensi seni-budaya hingga tercatat 400-an kelompok dan sanggar tari, musik, teater dan senirupa. Ia lantas menyimpulkan kuatnya Solo pada seni pertunjukan (performing arts) dibanding Yogyakarta yang kuat di senirupa dan industri kreatif lainnya.

Jelek-jelek, saya juga pernah menginsiasi obrolan serius untuk merancang aneka festival seni pertunjukan di Solo. Saya menjadi pihak pengundang, dengan menghadirkan Mas Goenawan Mohamad, Mbak Sari Madjid, Kang Sitok Srengenge, sastrawan Triyanto Triwikromo, dan almarhum komponis I Wayan Sadra. Malam dan siang hari kami diskusi intensif di rumah dinas walikota, dan Pak Jokowi membawa bukut notes kecil, menyimak, tanka sedetik pun meninggalkan forum.

Saya pula yang pernah mengantar Pak Jokowi main ke Salihara hingga beliau ingin membangun pusat kesenian terpadu. Pada masa itu, beliau mewacanakan perlunya Solo memiliki opera house seperti di Sydney atau Esplanade, Singapura, sehingga ditentang ramai-ramai oleh seniman karena dianggap ambisius. Padahal, semua baru wacana, karena komitmen Pak Jokowi pada seni budaya (dan senimannya), selain sebagai prestise kota untuk menjadi daya tarik wisata budaya.

Kembali soal bekas gedung film itu mau jadi mal atau apa, saya kira bukan urusan saya menyoalnya. Sepanjang tak merusak kawasan cagar budaya atau menyalahi peruntukan, ya boleh-boleh saja. Namun kalau dengan yang dikembangkan adalah isu mal untuk menggusur eksistensi gedung kesenian, saya kira itu sudah berlebihan. Kita hatrus proporsional dalam menilai dan menyikapi sesuatu, apalagi jika hany sebatas rumor.

Sekian saja, semoga teman-teman paham apa yang terjadi sesungguhnya, syukur bisa memberi gambaran gedung kesenian yang ideal itu seperti apa…

Dansa-dansi di Sriwedari

Suatu malam, saya menemani sutradara film Jagad X-Code, Herwin dan Gunawan, jalan-jalan melakukan riset kecil di THR Sriwedari. Melihat lelaki kekar bertato di lengan kanan, mengajar dansa perempuan-perempuan berusia separuh baya, keduanya menahan tawa. Gunawan menyebutnya absurd. Mereka menari mengikuti irama lagu-lagu Koes Plus. Bukan irama salsa atau jenis musik yang lazim untuk menari dansa.

Sepertinya, si kakek ini datang sendirian. Ia keasyikan, berjoget ala pedangdut jempolan.

Sebagai penggila bacaan sastra dan filsafat sejak mahasiswa, saya mengerti kenapa Gunawan menyebutnya begitu. Di beberapa sudut lain di kompleks yang sama, ada pula beberapa grup dansa. Sebagian, ada pula satu-dua yang sudah bapak-bapak. Mereka berhenti jika sebuah tembang usai dilantunkan, dan seterusnya menari-nari lagi ketika musik kembali berbunyi.

Asal tahu saja, di THR Sriwedari, selalu ramai setiap konser rutin tembang Koes Plus-an, yang dimainkan oleh beberapa grup lokalan. Nusantara adalah salah satu nama kelompok band unggulan. Penontonnya multiusia. Muda, tua, hingga kakek-kakek dan nenek-nenek yang tak jarang mengajak serta cucu-cucunya.

Profil pengunjungnya juga beragam: ada polisi, pegawai negeri, pejabat, tukang parkir, dan juga orang-orang yang dikenali sebagai preman jalanan. Tak pernah ada keributan, selalu damai. Bau alkohol kadang dijumpai jika rajin jalan-jalan berkeliling area, tapi tak ada yang menguatirkan, sebab tak ada yang rese. Pokoknya, unik seunik-uniknya. Wong yang joged ala dangduter juga tidak sedikit. Prinsipnya, happy se-happy-happy­-nya. Cool, peace….. Damai.

Seperti Senin malam kemarin, ketika Nomo, Yon dan Yok Koeswoyo tampil sepanggung bergantian dengan grup tuan rumah, para pengunjung berjubel. Mereka datang dari berbagai penjuru: Ngawi, Tuban, Jepara, Wonogiri, Yogyakarta, dan banyak daerah lagi, selain orang Solo sebagai tuan rumah. Para pedansa pun tampil lebih meriah dibanding biasanya. Malah, ada beberapa ibu-ibu dari grup penari yang memadukan dasi dengan kaos berkrah mereka. Lucu. Unik. Dan, memancing geli…..

Saya, yang datang bersama Hendri, memilih jalan-jalan mengamati ‘perilaku’ para pedansa, sambil jeprat-jepret dengan kamera DSLR dan kamera fasilitas BlackBerry. Saya tak terlalu menyimak penampilan Koes Bersaudara, namun memilih motret sambil ikut menyanyi pelan, supaya suara fals yang saya punya tak terdengar yang lain. Pokoknya, happy.

Grup dansa ibu-ibu, di mana sebagian mengenakan dasi yang lucu.

Satu pemandangan yang hilang dalam konser kemarin, adalah sosok anak muda yang biasa joged dangdut sendirian, di sisi timur dekat loudspeaker, dalam keadaan mabuk seperti biasanya. Mungkin ia tergusur karena dance floor­-nya ‘diserobot’ pengunjung yang kebanyakan datang berombongan. Ia tak pernah diusik, apalagi diusir. Semua berjalan normal, apa adanya dan apa yang seharusnya. Damai.

Karakter penikmat Koes Plus-an sangat berbeda dengan massa penyuka dangdut atau campur sari. Jangankan terpengaruh alkohol, yang ‘waras’ alias tak mimik ciu atau topi miring, saja mudah beringas hanya lantaran bersenggolan saat joged berjamaah. Khusus penonton Koes Plus, mereka bahkan berulang kali mendesak penyelenggara menaikkan harga tiket masuk (HTM) lantaran dianggap kemurahan. Logikanya sederhana: jika tiket naik, honor band juga meningkat, sehingga bermusiknya pun kian bersemangat. Sedang penonton, pastilah dapat nikmat. Asik.

THR Sriwedari, memang selalu ngangeni, bikin kangen. Banyak teman atau kenalan yang lama tak bersua, bisa-bisa malah seperti  berjumpa atau dipertemukan di sana. Mirip Facebook atau Twitter di ranah maya. Aneh, unik. Seperti tadi, saya bertemu teman, seorang penulis naskah drama dan sutradara teater ternama di Surakarta, yang datang bersama istrinya. Baru sekali saya berjumpa ia datang menonton ke sana, setelah sekian puluh kali saya sambangi Koes Plus-an di THR Sriwedari.

Hendri yang mengikuti saya ke toilet, akhirnya hanya senyam-senyum saja. Bukannya hendak pipizz saya ke sana, tapi ingin membuat foto setelah sekian kali saya lupa bawa kamera. Sebuah toilet, yang memberi penanda, di mana waria diberi tempat yang sama dengan para pria. Bukan digabung ke kelompok wanita, seperti keinginan rata-rata para pemilik organ genital pria, namun lebih merasa diri sebagai wanita.

Toilet saja bisa unik, apalagi komunitas dansa-dansinya…. Itulah salah satu wajah Solo, atau Surakarta. Keramahannya selalu untuk siapa saja, termasuk pedansa yang diberi ruang berkespresi, juga para waria yang hendak buang hajatnya…

Catatan: jika hasil fotonya jelek, harap dimaklumi karena motretnya cuma pakai BlackBerry tanpa fasilitas lampu kilat.