JIPA, SIPA dan Seterusnya

Meski baru bisa menyaksikan hari kedua Jogja International Performing Arts Festival (JIPA), saya sudah merasa senang. Kebagian empat penampil, dua dari Jepang dan masing-masing seorang koreografer Indonesia dan Perancis, pun sudah cukup melegakan. Salut atas kerja keras Mas Bambang Paningron dan teman-teman Jaran Productions menggelar festival tari selama dua malam itu.

Koreografi Bimo Wiwohatmo (Yogyakarta) dalam JIPA 2009

Koreografi Bimo Wiwohatmo (Yogyakarta) dalam JIPA 2009

Hari pertama, festival diisi dengan penampilan seniman dari Austria, Korea dan Jepang. Dari negara yang disebut terakhir, dua kelompok datang atas biaya sendiri, satu grup lagi dibiayai sepenuhnya oleh The Japan Foundation. Selebihnya, nyaris dengan pembiayaan sendiri-sendiri.

Itulah uniknya dunia kesenian. Ibarat dengan modal cekak, pun masih bisa membuat event bermutu, dengan sajian karya-karya bermutu. Yang demikian, tentu tak lepas dari komitmen pertemanan yang lantas melembaga menjadi sebuah network. Sulit bagi awam untuk membayangkan penyelenggara mampu menyediakan dana sedikitnya Rp 1 miliar, bila seluruh keperluan biaya transportasi, akomodasi serta honor artis menjadi tanggung jawabnya.

Penampilan Veronique Delarche, koreografer Perancis

Penampilan Veronique Delarche, koreografer Perancis

Ketika dukungan pemerintah nyaris nihil dan sponsor enggan berderma, maka artis seperti didatangkan secara cuma-cuma. Panitia, bisa dikata menjadi pihak paling ‘menderita’ kalau penilaiannya menggunakan ukuran-ukuran material. Siapa bertugas sebagai apa dengan honor berapa menjadi tidak relevan dibahas. Dedikasi dan komitmen mereka pada kerja-kerja kebudayaanlah yang menggerakkan mereka rela bersusah payah.

Siapa yang diuntungkan? Jawabannya jelas: masyarakat dan pemerintah!

Masyarakat diuntungkan lantaran memperoleh wahana apresiasi sehingga memperkaya pengalaman rohaniahnya. Kesenian tak bisa mengenyangkan, juga tak mungkin mendongkrak status sosial-ekonomi seseorang, termasuk penyelenggaranya. Pada ruang tak seberapa luas, concert hall Gedung Societet paling hanya menampung seribuan apresian selama dua hari. Artinya, dengan tiket masuk seharga Rp 20.000, total pendapatannya tak cukup untuk membiayai dua artis yang datang dan harus pulang kembali ke Perancis.

Dimana pemerintah memperoleh imbas positif dari peristiwa demikian? Citra kota meningkat, karena warganya dianggap beradab, memiliki tingkat apresiasi seni memadai sehingga pantas dipuji.

Butoh Sha Tenkei, Jepang

Butoh Sha Tenkei, Jepang

Keberadaan Dinas Pariwisata dan Budaya, misalnya, seperti tak berarti manakala kegiatan-kegiatan seni bermunculan, justru karena warga yang menginisiasi. Dimana-mana di Indonesia, sungguh sulit meyakinkan aparatur Dinas Pariwisata dan Budaya bahwa kerja-kerja kebudayaan tak bisa semata-mata dengan kalkulasi ekonomis-matematis.

Pengeluaran akan bisa dianggap sangat besar dan boros -karena itu harus dihindari, jika yang dijadikan ukuran adalah banyaknya penonton yang bisa dihadirkan. Gelaran teater atau tari tak bisa disamakan dengan penyelenggaraan konser Nidji atau Kenny G. Keramaian publik jenis ini, toh masih sangat jauh melampaui pengunjung pertunjukan orkestra atau konser piano, bahkan mereka yang bergelar maestro.

Jujur, penyelenggaraan event serupa di Solo yang bertajuk Solo International Performing Arts Festival (SIPA), awal Agustus lalu, merupakan potret kekeliruan penyikapan atas sebuah peristiwa kebudayaan yang menampilkan kerja-kerja kesenian yang ‘serius’ alias bukan pop, bukan budaya massa.

Bisa jadi, pelaksana juga kesulitan membuat pilihan ketika disodorkan ketentuan ‘harus’ menghadirkan banyak orang yang bisa diklasifikasikan sebagai ‘massa’. Namun, hal sebaliknya juga bisa terjadi, ketika pemerintah sebagai pemilik gagasan dan merasa tidak menguasai bidang demikian, sang pelaksana tak punya cukup referensi karena kegagalan membuat definisi dan menerjemahkannya ke dalam produk event seni.

Sajian "Tribut to Michael" oleh Broadway Dance Center, Jepang

Sajian "Tribut to Michael" oleh Broadway Dance Center, Jepang

Tak semua cabang seni bisa ditampilkan di tempat terbuka, apalagi di antara riuh dan hiruk pikuk penonton. Begitu sebaliknya, tak sembarang bentuk ekspresi seni cocok dipanggungkan di dalam ruang tertutup. Beberapa jenis tari atau teater, mungkin baru bisa diapresiasi bila lingkungan mendukung sehingga kelima panca indera bisa bekerja bersama-sama dengan olah rasa dan aktivitas pikir.

Sungguh menarik ketika beberapa waktu lalu, mantan Direktur Jenderal Kebudayaan Edi Sedyawati mengusulkan keberadaan kebudayaan diurus oleh departemen tersendiri. Bergabung dengan bidang pendidikan pada masa lampau, menimbulkan kerancuan sebab kebudayaan hanyalah subpendidikan. Sementara digabungkannya dengan urusan kepariwisataan hanya melahirkan kebijakan dengan pendidikan turistik, sehingga mudah terjerumus pada misi mendongkrak devisa semata.

Kebudayaan, tentu saja tak sebatas urusan ‘pentas seni’ semata. Ia mencakup semua aspek kehidupan, berpijak pada yang lampau demi menghadapi masa depan. Kerusakan lingkungan, maraknya bentuk-bentuk baru kemiskinan hingga praktek korupsi dan penyalahgunaan kekuasaan, itu semua berawal dari abainya sebuah bangsa terhadap pentingnya sebuah sikap sehingga menuntun kita pada penyusunan strategi kebudayaan.

Butoh Sha Tenkei, Jepang

Butoh Sha Tenkei, Jepang

Kesenian hanya noktah kecil dalam cakupan kebudayaan yang maha luas. Namun, sikap bangsa yang meremehkan terhadap cabang kebudayaan yang satu ini, sudah cukup untuk menjuluki sebuah bangsa sebagai tak berbudaya.

Lalu, apa yang seharusnya dilakukan? Saya bukan siapa-siapa dan tak punya referensi (apalagi kompetensi) untuk menjawabnya. Serahkan saja pada ahlinya, yang sejatinya sangat banyak kita miliki. Dari pemikir hingga orang-orang yang tak pernah kenal lelah menjalaninya sebagai pelaku, bahkan tanpa support pemerintah sama sekali.

Kalaupun ada yang harus saya diusulkan (supaya tampak bertanggung jawab kerna sudah membuat posting ini), rasanya cukup sederhana: sebaiknya pemerintah mengalokasikan sebagian dana yang dihimpun dari berbagai jenis pugutan pajak pada warganya,untuk mendukung kegiatan-kegiatan atau misi-misi kebudayaan.

Sajian Bimo Wiwohatmo

Sajian Bimo Wiwohatmo

Syukur membuat regulasi, dimana badan-badan usaha negara dan swasta yang telah menjadikan rakyat sebagai ‘pasar’ produk-produk mereka, dipaksa untuk mengalokasikan sebagian keuntunannya ke sana pula. Jangan lagi dana corporate social responsibility (CSR) mereka kelola sendiri, lalu membuat laporan resmi demi mendapat beragam fasilitas dan dispensasi. Sebab jika itu yang terjadi, baik badan usaha maupun pemerintahnya, bisa dikategorikan keji. Atau, setidaknya tumpul nurani.

Mendokumentasi Peristiwa Panggung

Goethe Institut Jakarta, sebuah lembaga kebudayaan yang dibiayai Pemerintah Jerman mengundang saya untuk memamerkan foto-foto pentas tari yang telah saya buat. Dua repertoar dicetak ukuran besar dalam jumlah cukup banyak. Keduanya, tari Opera Diponegoro karya Sardono W Kusumo dan Dirada Meta, sebuah hasil penggalian sebab telah 100 tahun lebih tak pernah dipentaskan.

Keduanya menjadi subyek bahasan menarik bagi puluhan koreografer, kritikus tari dan para staf bagian program Goethe Institut dari berbagai negara se-ASEAN plus Australia dan New Zealand. Pembicaranya adalah budayawan Goenawan Mohamad, dedengkot Komunitas Salihara serta Sardono W Kusumo, koreografer papan atas yang juga Rektor Institut Kesenian Jakarta (IKJ).

Presentasi, eh membual. Sok tahu dunia soal dunia seni pertunjukan

Presentasi, eh membual. Sok tahu dunia soal dunia seni pertunjukan

Itulah diskusi puncak dalam Regional Dance Summit bertema Transforming Tradition yang diselenggarakan Goethe Institut Jakarta. Selain diskusi itu, juga dipertunjukkan sejumlah koreografi dari Philipina, Thailand, Kamboja, Malaysia dan Indonesia, serta pemutaran video tari dari berbagai negara peserta, yang diikuti sesi diskusi sesudahnya.

Sungguh saya merasa terhormat diundang dalam event itu, bahkan diberi sesi khusus untuk presentasi tentang apa saja, terkait dengan kerja pendokumentasian peristiwa seni pertunjukan, yang bahkan tak terbatas pada lingkup tari. Ya, ratusan peristiwa teater, musik, dan tari di kota-kota utama seperti Jakarta, Bandung, Solo dan Yogyakarta telah saya saksikan dan saya buat dokumentasinya, sejak 1993.

Semua bermula dari kesukaan saya menonton seni pertunjukan dan hobi fotografi yang saya pelajari secara otodidak. Tak lebih dan tak ada maksud lain kecuali niat sok-sokan, mimpi punya koleksi foto hasil bidikan sendiri. Bahwa semula ada niat membantu teman-teman yang (maaf) tak sanggup mengeluarkan bujet untuk mendokumentasi karya-karya mereka sendiri, itu terjadi pada awal-awal saya memotret, ketika saya belum ‘berjarak’ dengan mereka.

Sejak akhir 1990-an hingga kini, saya merasa masih ada ‘jarak’ dengan para seniman. Entah dimulai dari mana dan oleh siapa, namun saya menduga itu semua disebabkan oleh ‘citra’ yang dibangun oleh kalangan mereka sendiri. Mungkin, karena foto-foto yang saya buat atas pertunjukan karya-karya mereka, sebagian dipublikasikan (tepatnya saya jual) oleh Pikiran Rakyat semasa Pak Suyatna Anirun menjabat redaktur budaya di koran Bandung itu. Dari sana, lalu muncul kesan, seolah-olah saya menjadi profesional.

Dari kesan dan ‘profesional’ itu, lalu mereka –terutama generasi akhir 1990-an hingga sekarang, sungkan meminta, baik hasil cetak maupun file foto. Padahal, bagi teman-teman yang biasa bergaul pada awal 1990-an, mereka sudah cukup tahu dan mengerti. Karena mereka butuh ‘bukti pementasan’ karya, maka foto-lah bukti satu-satunya, sebab rekaman video jauh lebih mahal biaya produksinya.

Masih membual, tapi dimoderatori oleh pejabat setingkat direktur program. Bikin grogi...

Masih membual, tapi dimoderatori oleh pejabat setingkat direktur program. Bikin grogi...

Asal tahu saja, satu roll film berikut proses cuci, pada awal 1990-an berkisar pada angka Rp 20 ribu. Kalau dicetak semua, maka akan memakan biaya hingga Rp 50 ribu. Sebuah angka yang tinggi, ketika uang sebesar itu senilai dengan biaya hidup sepekan seorang mahasiswa, atau bisa untuk biaya konsumsi dua hari bagi sebuah grup kecil. Perlu dipahami juga, tak cuma kini, dulu pun tak mudah mencari donatur apalagi sponsor untuk sebuah proses atau proyek kesenian. Entah musik, tari atau teater.

Maka, ketika Goethe Institut Jakarta memastikan akan memajang karya-karya saya dalam forum sebagus itu, giranglah hati saya. Karena itu, kalau saya boleh menyebut, Goethe Jakarta-lah institusi kedua setelah Ford Foundation yang sepuluh tahun silam memberikan hibah dana kepada saya lewat Taman Budaya Surakarta, untuk memamerkan koleksi foto-foto yang dibuat pada ‘era film’ atau analog di tiga kota: Jakarta, Bandung dan Solo.

Untuk itu, Noviami (Goethe) menjadi orang kedua setelah Mbak Jennifer Lindsay (dulu Direktur bidang Kebudayaan Ford Foundation, Jakarta) yang sungguh-sungguh mengapresiasi atas apa saja yang telah saya lakukan hingga kini. Tentu, saya tak bisa melupakan Pak Suyatna Anirun (almarhum), yang ternyata suka dengan foto-foto yang saya buat. Otoritasnya mengelola halaman budaya di Pikiran Rakyat dan kepeduliannya pada seni pertunjukan, memungkinkan foto-foto saya yang nyaris tak pernah absen di koran itu, setiap edisi Minggu atau rubrik Khazanah yang terbit setiap Kamis.

Dari sanalah saya memperoleh berkah. Tak hanya akses yang memudahkan saya kenal dengan banyak seniman performing arts dari berbagai kota, namun juga menjadi dikenali para petugas gedung-gedung kesenian, baik di Bandung maupun Jakarta, yang lantas memungkinkan saya keluar-masuk gedung tanpa tiket.

Hingga akhir 1990-an, saya bisa menjalani gaya hidup ‘mewah’. Dalam sebulan, saya bisa tiga-empat kali bolak-balik ke Bandung, Jakarta, Solo naik kereta api bisnis atau eksekutif, hanya dari memotret peristiwa performing arts, lalu menjualnya ke Pikiran Rakyat, sebelum kemudian melebar hingga sesekali ke majalah DR dan Forum.

Seorang peserta Regional Dance Summit sedang mengamati foto Opera Diponegoro

Seorang peserta Regional Dance Summit sedang mengamati foto Opera Diponegoro


Dan, sungguh besar jasa Pak Suyatna pada saya. Satu foto yang dimuat dihargai Rp 40 ribu, sementara pernah sembilan foto tari dari Indonesian Dance Festival (IDF) pertama pada 1996, dimuat bersamaan, satu di antaranya dicetak warna dengan ukuran cukup besar. Terutama bila beliau memergoki saya sedang memotret pertunjukan di Bandung, maka keesokan harinya saya ‘diwajibkan’ datang ke kantornya.

Dengan membawa beberapa hasil cetakan, Pak Suyatna memilih satu dua untuk dimuat di edisi kemudian, sebagian dimintanya (dengan bahasa yang sangat halus) untuk disimpan, sebagai koleksi pribadi. Biasanya, ritual selanjutnya adalah secarik kertas disposisi, sebuah perintah kepada bagian keuangan agar membayar tunai kepada saya, bahkan sebelum diterbitkan. Mungkin, Pak Suyatna tahu, saya butuh uang untuk beli film, cuci-cetak dan ongkos makan dan tiket kereta.

Bahwa kemudian saya jatuh cinta dan peduli pada seni pertunjukan, itu hanyalah soal kebetulan semata. Dan niat mendokumentasi, tak lebih hanya untuk menyalurkan hobi bidang fotografi. Bila saya lantas menampilkan di blog, juga semata-mata sebagai penghargaan kepada pemilik karya (tari, musik, teater), sebab karya-karya mereka layak diapresiasi publik yang lebih luas.

Dan, dengan semangat meneladani apa yang sudah dilakukan Pak Suyatna kepada saya, sejatinya saya hanya ingin berbagi kepada siapa saja, untuk menyukai dan peduli pada masa depan seni pertunjukan Indonesia. Kepada merekalah, saya kira, foto-foto yang saya buat ingin saya persembahkan. Sehebat apapun seorang fotografer, ia tak akan punya karya foto yang bagus andai kerja para seniman itu juga tak bagus dan layak apresiasi.

Seperti yang sudah saya saksikan sendiri ketika koreografer dari berbagai negara di mempresentasikan karyanya di Goethe Institut Jakarta itu, nyatanya hasil koreografi seniman-seniman kita tak bisa dibilang kalah bagus dibanding karya-karya mereka. Pada forum itulah, saya bangga dengan pemanggungan karya seniman-seniman kita. Kenyataan itu, rasanya lebih dari cukup untuk menyemangati saya, untuk terus membuat dokumentasi atas karya-karya seniman Indonesia. Semoga Anda suka.

Foto-foto: Bodi Ch