Drama Minim Improvisasi

Seni drama rupanya menjadi cabang kebudayaan paling diminati kelas menengah Indonesia. Ia setingkat lebih tinggi dibanding seni musik, lantas disusul cabang paling sepi peminat:seni tari! Andai Iman Soleh, Wawan Sofwan, Sitok Srengenge, Yudi Ahmad Tadjudin, Muhamad Sunjaya, Landung Simatupang, dan kawan-kawan mau buka kursus privat, dijamin laku keras.

Potensi ‘pasar’ calon-calon aktor/aktris handal sungguh luar biasa. Dan kepada merekalah, sesungguhnya kita bisa menggantungkan harapan luar biasa akan masa depan seni drama. Selama ini, kebanyakan dari peminat seni drama masih lemah dalam reading, intensitas penjiwaannya pun lemah. Akibatnya, kerap muncul kekacauan saat pemanggungan.

Untuk menghasilkan tontonan yang sempurna, seharusnya aktor/aktris sudah paripurna dalam hal penghayatan naskah. Ide-ide cerita drama kontemporer Indonesia sudah sangat banyak, kendati harus jujur diakui pula, tak banyak yang mampu menuliskannya. Padahal, ukuran keberhasilan pemanggungan sebuah drama itu sederhana saja: penikmat bisa larut dan merasakan apa yang terjadi di panggung.

Jadi, selain harus didukung naskah yang bagus, aktor/aktrisnya pun harus sempurna membawakan perannya, termasuk harus mampu melakukan improvisasi jika lupa dialog. Memang, untuk mencapai ke sana, sebaiknya dilakukan latihan sesering mungkin, dan tidak cukup dengan acting course yang singkat.

Dulu, semasa Pak Suyatna Anirun masih hidup, Studiklub Teater Bandung (STB) sering menggelar acting course, namun kini sepertinya sudah tak ada lagi. Akademi Seni Drama dan Film (Asdrafi) Yogyakarta, konon masih hidup, tapi entah seberapa banyak mahasiswa dan tenaga pengajarnya. Hanya saja, para calon-calon seniman drama kita, kebanyakan tak punya cukup waktu untuk bersekolah dalam waktu yang cukup lama.

Calon-calon aktor/aktris handal kita, kebanyakan memiliki kesibukan di pemerintahan, legislatif, yudikatif dan bidang-bidang lain, termasuk di lembaga kepolisian.

Cak Munir (2004) adalah salah satu naskah drama yang sejatinya nyaris sempurna, yang pernah kita punya. Meski penulis dan sutradaranya sengaja dibuat anonim, namun pemanggungannya nyaris sempurna. Coba cermati kehadiran arsenik, pemindahan tempat duduk dari kelas ekonomi ke eksekutif untuk Munir. Sebagai drama realis, alur cerita dan konflik yang dibangunnya nyaris sedahsyat Julius Caesar yang ditulis William Shakespeare pada 1599.

Mari kita renungkan baik-baik. Seandainya naskah Simulator SIM yang dibuat secara keroyokan oleh penulis-penulis di Mabes Polri diperankan oleh mereka-mereka yang khatam seni peran, saya yakin baik Kapolri, Kabareskrim, Gubernur Akpol Djoko Susilo dan kawan-kawan akan mampu melakukan improvisasi meyakinkan, sehingga tidak memberi ruang wartawan kriminal dan politik membuat tafsirnya sendiri-sendiri.

Presiden, bahkan akan tetap terjaga kewibawaannya, karena akan mampu bertindak sigap dan sitematis menyelesaikan kebocoran pemanggungan naskah drama. Dengan demikian, tidak akan ada ruang bagi diplomat-diplomat asing di Jakarta untuk mengirimkan kawat atau nota diplomatik bagi kepala negara yang menugaskan mereka, tanpa tertawa-tawa mencemooh kita.

Tentu, kita akan sangat malu kepada Duta Besar Polandia, Rusia, Inggris, Perancis, Jerman, Norwegia, Jepang dan banyak lagi, sebab naskah-naskah drama mereka terlalu banyak dipelajari mahasiswa sastra dan pekerja seni Indonesia. Padahal kita tahu, naskah-naskah lama mereka teramat hebat, bahkan banyak yang masih relevan hingga masa kini.

Saya yakin, sebagian besar legislator, jaksa, hakim, polisi, bahkan para petinggi negeri ini, sangat membutuhkan referensi dan kursus seni peran. Saya yakin pula, mereka sejatinya malu dan menyesali kegagalan proses penyutradaraan/pemanggungan naskah-naskah mereka.

Pada drama Simulator SIM (2012), misalnya, terdapat kegagapan ketika aktor-aktor KPK mendatangi Markas Korlantas Mabes Polri. Improvisasi gagal dilakukan ketika pemeran pembantu yang tidak pernah mempelajari naskah (apalagi ikut proses reading), tiba-tiba enggan membuka portal dan pintu gerbang yang memungkinkan mobil-mobil KPK mengangkut barang bukti.

Kekacauan kian menjadi-jadi, ketika pejabat kehumasan yang seharusnya berperan sebagai narator, pengantar ceritera, gagal mengatur pemunculan aktor-aktor pendukung dengan dialog yang seharusnya taat naskah. Tapi apa lacur, bisa jadi lantaran naskah tidak pernah dibagikan kepada semua aktornya (termasuk kepada penata artistik), maka pemanggungannya benar-benar kedodoran.

Drama kian terasa konyol dan justru membuat penonton kian marah dan geram, sebab improvisasi-improvisasinya sangat minim ditunjukkan oleh semua pemainnya. Penonton yang merasa sudah membayar mahal harga tiket (berupa aneka macam pajak) dan memiliki harapan terhibur, tiba-tiba disuguhi cerita yang tak tuntas, bahkan terkesan tanpa persiapan memadai. Seburuk-buruknya penonton, pastilah mereka punya standar umum, mana cerita yang enak mudah diikuti, dan mana yang membuat kerut kening dan dongkol.

Pada drama politik Ceramah SARA (anonim, 2012), misalnya, lebih parah lagi bukti kedodorannya penyutradaraannya. Pelakon ustad (ada yang biasa-biasa saja, ada yang aktor pesohor) yang mengusung dialog-dialog nyinyir dan menyodorkan permusuhan di dalam masjid, misalnya, disebut pelakon Pak Gubernur sebagai wajar karena pilihan kata (diksi) sang pendakwah.

Anehnya, aktor dangdut yang juga terkenal sebagai artis musik, pun yakin apa yang dikatakannya di masjid sebagai bentuk ‘penerangan’ semata, bukan bertujuan memojokkan orang lain dengan muatan SARA. Untungnya, sang pedangdut yang lagi akting ustad, tidak dihadapkan pada sumpah di bawah Al Qur’an, sehingga tidak menyulitkannya di dunia nyata.

Andai para politisi, legislator dan pejabat-pejabat negeri mau belajar seni sastra dan drama, pastilah pemanggungan kebohongan mereka tak mudah ditebak penontonnya. Mereka beruntung, penonton drama Indonesia bukan tipe penonton brutal, yang lantas menyerang pemain atau membakar gedung ketika pertunjukan yang disaksikannya tak sebanding dengan harga tiket yang sudah dibelinya.

tulisan ini juga diunggah di Kompasiana

Kenangan Sang Guru (1)

Bagi saya, almarhum Murtidjono bukanlah seniman. Tapi, perhatiannya terhadap kesenian, seniman dan kebudayaan tak pernah ada sanggup membantahnya. Ia pemikir kebudayaan yang eksentrik. Sikapnya tegas: memilih dipensiun diri jika harus pindah ke Jakarta, walau pangkat dan jabatannya naik. Ia merasa belum tuntas menjadi fasilitator bagi seniman di Jawa Tengah.

Saya beruntung pernah menjadi muridnya, terutama di Akademi Ngisor Pelem. Ya, sebuah sebutan untuk warung di bawah pohon mangga, di kompleks Taman Budaya Jawa Tengah di Surakarta (TBS), di mana banyak seniman, mahasiswa, aktivis, wartawan selalu mendiskusikan banyak hal, dengan cara yang kadang-kadang penuh canda, kadang pula dengan disertai tarik-ulur otot leher.

Selain di kampus Akademi Ngisor Pelem, saya menjadi kerap sopirnya. Di antara sekian banyak orang ‘penganggur’ yang kerap nongkrong di sana, sayalah yang easy going, gampang diajak bepergian karena selalu nganggur, serta bisa nyopir dan punya SIM A. Kebetulan, Pak Murti bukan tipe pejabat pada umumnya, yang mau dilayani sopir dinas ke mana ia pergi.

Kami sering pergi berdua ke berbagai kota, ketemuan dengan sesama kepala taman budaya (tingkat provinsi), atau menghadiri sebuah acara kesenian. Satu  pelajaran termahal yang saya dapat dari Pak Murti, ia hobi mencibir atau meledek seniman beserta karya-karyanya di depan orang banyak. Satu-dua membencinya, tak sedikit yang marah karena tak terima, namun tetap jauh lebih banyak yang suka.

Seperti dengan banyak orang, kepada saya yang jauh lebih muda, pun Pak Murti selalu berbahasa Jawa halus (krama inggil). Sehingga orang yang tak mengenalnya jadi sulit menebak, Pak Murti itu kasar atau seorang yang halus budi. Saya memilih yang kedua.

Pada pertengahan 1990an, saya sering diajaknya jalan-jalan ke berbagai kota, seperti Surabaya, Semarang, Yogya dan Bandung. Selain beberapa kali bertemu dengan Kepala-kepala Taman Budaya, juga ketemu seniman atau budayawan sekaliber Mbah Umar Kayam. Bersama Mbah Kayam, termasuk paling sering, terutama ketika budayawan itu di Solo, sekadar memenuhi rasa kangen wisata kuliner sambil menemui Pak Murti, sang murid kesayangan.

Kedekatan Pak Murti dengan Mbah Kayam bisa dilihat dari pilihan bahasanya. Keduanya selalu ngoko, menggunakan bahasa Jawa kasar. Dari materi obrolan di tempat-tempat makan seperti RM Centrum, Ayam Tim Bu Better Palur, dan sebagainya, saya merasa beruntung bisa mencecap ilmu langsung dari orang-orang hebat itu.

***

Pak Murti betul-betul sosok eksentrik. Ia mengelola Taman Budaya Surakarta menjadi surga bagi seniman. Pada masa kepemimpinannya (sejak masih bernama Pusat Kesenian Jawa Tengah/PKJT) hingga pensiunnya (2007), seniman selalu dimanja. Selain bisa memanfaatkan semua fasilitas untuk latihan secara gratis, pentas pun digratiskan. Malah, kadang ada subsidi biaya produksi dengan bonus uang hasil penjualan tiket menjadi hak sepenuhnya seniman.

Maka, tak mengherankan jika pada masa kepemimpinannya, Solo (dan Taman Budaya Surakarta) selalu jadi tempat pertunjukan seniman-seniman besar dari berbagai kota, yang selain jadi suguhan menarik, juga bisa menjadi ruang apresiasi dan pembelajaran bagi seniman-seniman muda.

Simak komentar perupa Djoko Pekik melalui video berikut:

 

Teater Gandrik (Yogyakarta), Teater Satu Merah Panggung, Teater SAE (Jakarta), Studiklub Teater Bandung dan Kelompok Payung Hitam (Bandung), Teater Kita (Makassar) termasuk yang sering manggung di Solo. Rendra, Putu Wijaya, Suyatna Anirun, Djoko Pekik, Butet Kartaredjasa, Emha Ainun Nadjib, Tisna Sanjaya, adalah beberapa nama beken dalam peta kesenian Indonesia, yang juga pernah singgah pentas, atau sekadar mampir jalan-jalan.

Pak Murti memang unik. Seniman yang dicibir di muka umum, selalu dipuji di belakangnya, lengkap dengan catatan-catatan kritisnya. Ini saya tahu ketika beberapa pejabat taman budaya provinsi lain meminta nasihatnya untuk diundang. Ketika banyak orang suka memuji di depan dan menjelek-jelekkan di belakangnya, Pak Murti memilih yang tak lazim. Padahal, risikonya ia dibenci dan dimusuhi.

Simak pula komentar Joko Porong yang karya musiknya pernah dikatai ‘tai!’ oleh Pak Murti:

 

Belakangan baru saya ketahui, rupanya itu merupakan cara dia menguji mental seseorang.

Sanggupkah seseorang menerima kritik untuk bergerak maju, atau sebaliknya justru menjadi nglokro atau kendor semangat, lantas menyerah. Pak Murti, rupanya hendak menyiapkan mental seseorang sebelum tampil di kancah perang sesungguhnya, di area publik dan ranah persaingan pasar seni kreatif.

Saya termasuk yang merasakan dampratannya. Walau kami sering pergi berdua dan berkomunikasi dengan krama inggil, Pak Murti tak segan-segan menggojlok dan meledek karya-karya fotografi saya. Yang lebih gila lagi, gojlokan itu disampaikannya dalam pidato resmi pembukaan, di mana Pak Murti yang saya minta membuka/meresmikan pameran tunggal saya. Padahal, dalam rangkaian pameran itu, saya beroleh pujian dan apresiasi, baik di Galeri Lontar (Jakarta) maupun di Galeri Taman Budaya Jawa Barat (Bandung). Rupanya, itulah caranya memberi bekal kepada saya.

***

Terkait dengan pameran dokumentasi foto seni pertunjukan itu, pun saya punya pengalaman unik. Pada pertengahan 1998, saya mengirim proposal lewat e-mail kepada Mbak Jennifer Lindsay¸ penanggung jawab program kebudayaan di Ford Foundation, Jakarta. Singkat cerita, Ford Foundation tidak bisa memberi grant kepada perseorangan. Karena Mbak Jenny tertarik dengan konsep yang saya tawarkan, beliau menyarankan saya mencari lembaga resmi, sehingga saya menyodorkan nama Taman Budaya Surakarta.

Saat saya menemui Pak Murti untuk meminjam nama lembaga, rupanya Pak Murti sudah ditelepon Mbak Jenny. Beliau sudah tahu dan membolehkan. Dan, selang beberapa hari kemudian, Mbak Jenny datang ke Solo untuk ngobrol lebih dalam tentang konsep yang saya tawarkan. Di Akademi Ngisor Pelem, saya ngobrol bertiga dengan Mbak Jenny dan Pak Murti.

Dan, berangkat dari tawaran konsep saya mengenai pendokumentasian peristiwa seni pertunjukan, Mbak Jenny lantas bertanya banyak hal tentang sistem dokumentasi foto, rekaman audio dan video di Taman Budaya Surakarta. Alhasil, TBS memperoleh hibah pembuatan master rekaman dan kopian (audio dan video) yang bisa dipinjamkan untuk publik, serta pembuatan dokumentasi beberapa tokoh seni tradisional di Jawa Tengah yang sudah lanjut usia. Dari ajuan proposal saya yang hanya Rp 20 juta, TBS memperoleh hibah hingga Rp 500 juta lebih.

Itulah salah satu pengalaman saya yang tak pernah terlupakan..

***

Kepergian Pak Murti pada Selasa (3/1) itu menjadi pukulan berat bagi banyak teman di Solo dan berbagai kota. Muhamad Sunjaya atau Kang Yoyon, aktor senior Studiklub Teater Bandung (STB) dan Actors Unlimited itu sangat sedih ketika saya telepon menyampaikan kabar duka itu.

Kang Yoyon, Kang Tisna Sanjaya, Kang Rahman Sabur, Iman Sholeh dan banyak seniman di Bandung, selalu menanyakan keadaan Pak Murti dan berkirim salam setiap kami berjumpa atau sekadar berkabar lewat telepon. Mereka selalu menyebut Pak Murti dengan sebutan Kepala ‘gelo’ atau sableng lantaran keberaniannya meloloskan pertunjukan teater, pentas sastra atau pameran senirupa yang di tempat-tempat lain terkendala ketatnya perijinan Orde Baru.

Pak Murti adalah sosok unik kepala taman budaya di Indonesia. Ia birokrat yang berani menentang arus, dan tak pernah mau mengadakan upacara bendera setiap Senin pagi atau tiap tanggal 17 seperti lazimnya kantor-kantor pemerintah di jaman Orde Baru. Ia pula yang justru menyuruh pegawainya ‘ngobyek’ nyari uang tambahan dari berkesenian daripada di kantor cuma baca-baca koran atau main catur.

Seluruh aset yang ada di Taman Budaya, bahkan boleh digunakan siapapun, seniman pemula atau yang sudah mapan untuk berlatih. Ia pun membebaskan jika staf-stafnya ada yang membuka kursus kesenian.

(bersambung)

Simak pula:

Kenangan Sang Guru (2)

Kelompok Payung Hitam

Teman-teman di Bandung lebih suka menyebut Ka Pé Ha (KPH), akronim dari Kelompok Payung Hitam. Pertama kali saya jatuh hati pada grup ini ketika mereka mementaskan naskah Peter Handke (Jerman) berjudul Kaspar di Taman Budaya Surakarta, 1995. Saat itu, seniman se-Indonesia kumpul dalam hajatan besar merayakan Refleksi Setengah Abad Indonesia Merdeka.

Puisi Tubuh yang Runtuh

Puisi Tubuh yang Runtuh

Pertunjukan yang tata artistiknya ditangani perupa Tisna Sanjaya, dengan iringan musik kaleng Harry Roesli itu sungguh mencengangkan banyak kalangan. Meski sama-sama fenomenal ketika itu, Ka Pé Ha sempat ‘menggusur’ Teater SAE-nya Boedi S Otong dan Afrizal Malna dari perbincangan teater modern Indonesia. Keduanya sama-sama menonjolkan kekuatan tubuh aktor sebagai inti eksplorasi, juga sama-sama minim dialog.

Rupanya, Kaspar menjadi masterpiece Kelompok Payung Hitam. Dan, foto yang saya buat atas pertunjukan itu pun akhirnya saya anggap sebagai karya masterpiece saya pula. Baru dua tahun belajar motret, saya sanggup membekukan peristiwa panggung itu dengan shutter speed 4 detik, dengan FujiFilm ISO 1600. Tanpa tripod, hanya mengandalkan pernafasan mulut agar tangan tak bergerak mengikuti tarikan atau hembusan nafas.

Kaspar (solo, 1995)

Kaspar (Solo, 1995)

Itulah sebabnya, kenapa sebagian dari koleksi saya atas foto Kaspar saya jadikan banner resmi di blog yang sedang Anda baca ini. Kaspar-lah gerbang yang saya lalui ketika memasuki Bandung, juga dunia seni pertunjukan Indonesia.

Sejak itu, saya menjadi dekat dengan kerabat Ka Pé Ha: Kang Rahman, Rusli Keleeng, Tony Broer, Yadi Bagong, Alit, Tatang Pahat, dan banyak lagi. Dari perkenalan itu, saya menjadi senang ke Bandung, apalagi bila Ka Pé Ha mau mementaskan. Beberapa karya mereka, pun saya dokumentasikan. Harus saya katakan di sini, saya merupakan salah satu fans beratnya.

Tubuh adalah kekuatan inspirasi dan sumber eksplorasi

Tubuh adalah kekuatan inspirasi dan sumber eksplorasi

Dari mereka, saya berkenalan dengan banyak teman seniman Bandung. Dengan aktor-aktor Studiklub Teater Bandung (STB) seperti Mohamad Sunjaya, Iman Soleh, Wawan Sofwan, dan banyak lagi. Kang Tisna Sanjaya dan Mbak Molly termasuk pasangan yang baik hati, yang selalu menampung saya setiap berkunjung ke Bandung, karena tanpa pemberitahuan, tiba-tiba saya mengetuk pintu rumahnya pagi-pagi sekali, ketika Zico dan Ayang belum pergi sekolah.

Pertunjukan Puisi Tubuh yang Runtuh karya/sutradara Kang Rahman Sabur yang dipentaskan di Taman Budaya Surakarta, 29 Oktober malam ini, seolah menjadi pengingat. Salah satunya, kepada almarhum Pak Suyatna Anirun yang perannya sangat besar sehingga saya mencintai pendokumentasian peristiwa seni pertunjukan sebagai proyek pribadi, setidaknya hingga kini.

Puisi Tubuh yang Runtuh masih memukau saya, juga ratusan penonton yang datang dari berbagai kota di Jawa Tengah dan Jawa Timur. Kekuatiran saya akan redupnya Ka Pé Ha, ternyata tak terbukti. Apalagi, semenjak Kang Rahman menderita stroke cukup parah.

“Saya justru merasakan bisa sembuh total ketika berguling-guling dan berporses kembali bersama anak-anak,” cerita Kang Rahman kepadaku, sesaat sebelum kami menyaksikan Mainteater mempertunjukkan karya terbarunya, Ladang Perminus di tempat yang sama.

Pertemuan saya dengan urang-urang Bandung kali ini seperti menjadi kado ulang tahun termewah untuk saya. Setidaknya, saya merasa diingatkan untuk tak melewatkan peristiwa seni pertunjukan, meski tak sanggup ke luar kota sepekan sekali seperti dulu. Jaman sudah berubah, tanggung jawab sebagai suami juga tak bisa dilepas.

Seniman-seniman Bandung, bagi saya adalah orang-orang terhormat, yang semua memiliki jasa besar terhadap perjalanan hidup saya. Tak terkecuali, Edy Purnawady, orang terpenting di balik terciptanya persahabatan saya dengan orang-orang Bandung, selain Nandang Gawe yang paling sering saya paksa menemani jalan-jalan. Tanpa mereka, mungkin saya bukan siapa-siapa.

Kehadiran KPH selalu memukau

Kehadiran KPH selalu memukau

Kalau tulisan ini kuat aroma romantisme masa silam, ya begitulah kenyataannya. Belu sempat saya ke Bandung menengok Kang Rahman, beliau sudah hadir di Solo. Saya sengaja tak pernah menelepon, karena ingin datang dadakan sebagai kejutan seorang fans kepada orang yang dikaguminya.

Sakitnya mengingatkan saya pada stroke yang juga diderita bapak saya. Saya memetik hikmah dari perbincangan kami yang tak seberapa lama, padahal sebelumnya sudah terpisah sangat lama.

Kang Rahman, semoga sehat selalu. Saya, juga banyak teman pencinta seni drama di Indonesia, masih dan akan selalu menanti karya-karya baru Kang Rahman… Sukses selalu untuk Kang Rahman, keluarga besar Ka Pé Ha, teman-teman di Buah Batu 212, juga para seniman-seniman merdeka di Bandung.

Pak Suyatna Mana?!?

Awal 2000-an, sekeluar gedung Graha Bhakti Budaya, Taman Ismail Marzuki (TIM), Jakarta, saya, seorang teman menemani Kang Butet Kartaredjasa yang sedang asyik ngobrol dengan Mas Slamet Rahardjo Djarot. Kami sama-sama usai menghadiri sejumlah pementasan teater, pembacaan puisi dan testimoni, mengenang dua tokoh teater Indonesia yang belum lama berpulang. Karenanya, acara malam itu diberi judul Mengenang Teguh Karya dan Suyatna Anirun.

Di tengah perbincangan kami, dua lelaki mendekat. Ingin nimbrung pembicaraan namun diurungkan. Bahasa tubuhnya menunjukkan keraguan. Berulang kali ingin terlibat, namun kembali diurungkan, hingga akhirnya kami berjalan mengarah keluar kompleks TIM, meninggalkan kedua orang itu.

Dengan bisik-bisik, Kang Butet bertanya padaku. “Kowe kenal orang itu, Le?” Aku menggeleng. “Jangan-jangan (wartawan) bodrex, ya?” Kang Butet melanjutkan pembicaraan.

Salah seorang, rupanya terus mengikuti di belakang kami, hingga akhirnya berhenti memberanikan diri menghentikan langkah kami. “Mas Butet, saya anu dari xxxxxx,” ujar lelaki itu seraya menunjukkan kartu pengenal sebuah surat kabar nasional. Seperti halnya saya, Kang Butet kaget, seperti merasa bersalah telah menuduh lelaki itu sebagai wartawan pemburu duit dari narasumber.

“Ooo… ya wis. Ayo, sampeyan ikut kami saja, sekalian ngobrol-ngobrol di sana,” ujar Kang Butet.

Mas Wartawan mengangguk setuju, bersama kami berjalan kaki makan nasi di warung Sunda, di bawah rel kereta api Gondangdia. Asyik kami berbincang kesana-kemari, tentang kesenian dan juga tentang kesibukan Kang Butet yang banyak ditanyakan sang wartawan. Menurut naluri jurnalistik saya, muncul dugaan Mas Wartawan itu sedang menggali cerita untuk bahan rubrik singkat tentang aktivitas seorang tokoh (termasuk selebritis) di medianya.

Di tengah enak-enaknya kami melahap nasi dengan lalapan segar dan sambal setengah pedas itu, tiba-tiba kami dikejutkan dengan pertanyaan Mas Wartawan. “Mas…Mas Butet. Pak Suyatna itu yang mana, kok tadi gak kelihatan?”

Kang Butet tersedak. Mulutnya yang penuh makanan seperti hendak disemburkan, namun urung lantaran tak enak dengan pengunjung warung kakilima yang malam itu cukup ramai. Selain, tentu saja tak enak dengan sang wartawan, yang notabene adalah anak buah teman-teman Kang Butet.

Sambil menahan tertawa, dengan sangat hati-hati dan disopan-sopankan, teman saya menjawab, “Kan judul acaranya mengenang…..”

Mas Wartawan sadar. Sejenak terdiam, lalu tampak salah tingkah. Wajahnya menatap piring yang nasi, lauk dan lalapannya tinggal setengah. Gerak pipinya melamba, tampak enggan mengunyah.

Mendokumentasi Peristiwa Panggung

Goethe Institut Jakarta, sebuah lembaga kebudayaan yang dibiayai Pemerintah Jerman mengundang saya untuk memamerkan foto-foto pentas tari yang telah saya buat. Dua repertoar dicetak ukuran besar dalam jumlah cukup banyak. Keduanya, tari Opera Diponegoro karya Sardono W Kusumo dan Dirada Meta, sebuah hasil penggalian sebab telah 100 tahun lebih tak pernah dipentaskan.

Keduanya menjadi subyek bahasan menarik bagi puluhan koreografer, kritikus tari dan para staf bagian program Goethe Institut dari berbagai negara se-ASEAN plus Australia dan New Zealand. Pembicaranya adalah budayawan Goenawan Mohamad, dedengkot Komunitas Salihara serta Sardono W Kusumo, koreografer papan atas yang juga Rektor Institut Kesenian Jakarta (IKJ).

Presentasi, eh membual. Sok tahu dunia soal dunia seni pertunjukan

Presentasi, eh membual. Sok tahu dunia soal dunia seni pertunjukan

Itulah diskusi puncak dalam Regional Dance Summit bertema Transforming Tradition yang diselenggarakan Goethe Institut Jakarta. Selain diskusi itu, juga dipertunjukkan sejumlah koreografi dari Philipina, Thailand, Kamboja, Malaysia dan Indonesia, serta pemutaran video tari dari berbagai negara peserta, yang diikuti sesi diskusi sesudahnya.

Sungguh saya merasa terhormat diundang dalam event itu, bahkan diberi sesi khusus untuk presentasi tentang apa saja, terkait dengan kerja pendokumentasian peristiwa seni pertunjukan, yang bahkan tak terbatas pada lingkup tari. Ya, ratusan peristiwa teater, musik, dan tari di kota-kota utama seperti Jakarta, Bandung, Solo dan Yogyakarta telah saya saksikan dan saya buat dokumentasinya, sejak 1993.

Semua bermula dari kesukaan saya menonton seni pertunjukan dan hobi fotografi yang saya pelajari secara otodidak. Tak lebih dan tak ada maksud lain kecuali niat sok-sokan, mimpi punya koleksi foto hasil bidikan sendiri. Bahwa semula ada niat membantu teman-teman yang (maaf) tak sanggup mengeluarkan bujet untuk mendokumentasi karya-karya mereka sendiri, itu terjadi pada awal-awal saya memotret, ketika saya belum ‘berjarak’ dengan mereka.

Sejak akhir 1990-an hingga kini, saya merasa masih ada ‘jarak’ dengan para seniman. Entah dimulai dari mana dan oleh siapa, namun saya menduga itu semua disebabkan oleh ‘citra’ yang dibangun oleh kalangan mereka sendiri. Mungkin, karena foto-foto yang saya buat atas pertunjukan karya-karya mereka, sebagian dipublikasikan (tepatnya saya jual) oleh Pikiran Rakyat semasa Pak Suyatna Anirun menjabat redaktur budaya di koran Bandung itu. Dari sana, lalu muncul kesan, seolah-olah saya menjadi profesional.

Dari kesan dan ‘profesional’ itu, lalu mereka –terutama generasi akhir 1990-an hingga sekarang, sungkan meminta, baik hasil cetak maupun file foto. Padahal, bagi teman-teman yang biasa bergaul pada awal 1990-an, mereka sudah cukup tahu dan mengerti. Karena mereka butuh ‘bukti pementasan’ karya, maka foto-lah bukti satu-satunya, sebab rekaman video jauh lebih mahal biaya produksinya.

Masih membual, tapi dimoderatori oleh pejabat setingkat direktur program. Bikin grogi...

Masih membual, tapi dimoderatori oleh pejabat setingkat direktur program. Bikin grogi...

Asal tahu saja, satu roll film berikut proses cuci, pada awal 1990-an berkisar pada angka Rp 20 ribu. Kalau dicetak semua, maka akan memakan biaya hingga Rp 50 ribu. Sebuah angka yang tinggi, ketika uang sebesar itu senilai dengan biaya hidup sepekan seorang mahasiswa, atau bisa untuk biaya konsumsi dua hari bagi sebuah grup kecil. Perlu dipahami juga, tak cuma kini, dulu pun tak mudah mencari donatur apalagi sponsor untuk sebuah proses atau proyek kesenian. Entah musik, tari atau teater.

Maka, ketika Goethe Institut Jakarta memastikan akan memajang karya-karya saya dalam forum sebagus itu, giranglah hati saya. Karena itu, kalau saya boleh menyebut, Goethe Jakarta-lah institusi kedua setelah Ford Foundation yang sepuluh tahun silam memberikan hibah dana kepada saya lewat Taman Budaya Surakarta, untuk memamerkan koleksi foto-foto yang dibuat pada ‘era film’ atau analog di tiga kota: Jakarta, Bandung dan Solo.

Untuk itu, Noviami (Goethe) menjadi orang kedua setelah Mbak Jennifer Lindsay (dulu Direktur bidang Kebudayaan Ford Foundation, Jakarta) yang sungguh-sungguh mengapresiasi atas apa saja yang telah saya lakukan hingga kini. Tentu, saya tak bisa melupakan Pak Suyatna Anirun (almarhum), yang ternyata suka dengan foto-foto yang saya buat. Otoritasnya mengelola halaman budaya di Pikiran Rakyat dan kepeduliannya pada seni pertunjukan, memungkinkan foto-foto saya yang nyaris tak pernah absen di koran itu, setiap edisi Minggu atau rubrik Khazanah yang terbit setiap Kamis.

Dari sanalah saya memperoleh berkah. Tak hanya akses yang memudahkan saya kenal dengan banyak seniman performing arts dari berbagai kota, namun juga menjadi dikenali para petugas gedung-gedung kesenian, baik di Bandung maupun Jakarta, yang lantas memungkinkan saya keluar-masuk gedung tanpa tiket.

Hingga akhir 1990-an, saya bisa menjalani gaya hidup ‘mewah’. Dalam sebulan, saya bisa tiga-empat kali bolak-balik ke Bandung, Jakarta, Solo naik kereta api bisnis atau eksekutif, hanya dari memotret peristiwa performing arts, lalu menjualnya ke Pikiran Rakyat, sebelum kemudian melebar hingga sesekali ke majalah DR dan Forum.

Seorang peserta Regional Dance Summit sedang mengamati foto Opera Diponegoro

Seorang peserta Regional Dance Summit sedang mengamati foto Opera Diponegoro


Dan, sungguh besar jasa Pak Suyatna pada saya. Satu foto yang dimuat dihargai Rp 40 ribu, sementara pernah sembilan foto tari dari Indonesian Dance Festival (IDF) pertama pada 1996, dimuat bersamaan, satu di antaranya dicetak warna dengan ukuran cukup besar. Terutama bila beliau memergoki saya sedang memotret pertunjukan di Bandung, maka keesokan harinya saya ‘diwajibkan’ datang ke kantornya.

Dengan membawa beberapa hasil cetakan, Pak Suyatna memilih satu dua untuk dimuat di edisi kemudian, sebagian dimintanya (dengan bahasa yang sangat halus) untuk disimpan, sebagai koleksi pribadi. Biasanya, ritual selanjutnya adalah secarik kertas disposisi, sebuah perintah kepada bagian keuangan agar membayar tunai kepada saya, bahkan sebelum diterbitkan. Mungkin, Pak Suyatna tahu, saya butuh uang untuk beli film, cuci-cetak dan ongkos makan dan tiket kereta.

Bahwa kemudian saya jatuh cinta dan peduli pada seni pertunjukan, itu hanyalah soal kebetulan semata. Dan niat mendokumentasi, tak lebih hanya untuk menyalurkan hobi bidang fotografi. Bila saya lantas menampilkan di blog, juga semata-mata sebagai penghargaan kepada pemilik karya (tari, musik, teater), sebab karya-karya mereka layak diapresiasi publik yang lebih luas.

Dan, dengan semangat meneladani apa yang sudah dilakukan Pak Suyatna kepada saya, sejatinya saya hanya ingin berbagi kepada siapa saja, untuk menyukai dan peduli pada masa depan seni pertunjukan Indonesia. Kepada merekalah, saya kira, foto-foto yang saya buat ingin saya persembahkan. Sehebat apapun seorang fotografer, ia tak akan punya karya foto yang bagus andai kerja para seniman itu juga tak bagus dan layak apresiasi.

Seperti yang sudah saya saksikan sendiri ketika koreografer dari berbagai negara di mempresentasikan karyanya di Goethe Institut Jakarta itu, nyatanya hasil koreografi seniman-seniman kita tak bisa dibilang kalah bagus dibanding karya-karya mereka. Pada forum itulah, saya bangga dengan pemanggungan karya seniman-seniman kita. Kenyataan itu, rasanya lebih dari cukup untuk menyemangati saya, untuk terus membuat dokumentasi atas karya-karya seniman Indonesia. Semoga Anda suka.

Foto-foto: Bodi Ch