Tentang Memilih Presiden

Kalau hari-hari ini saya banyak nyinyir kepada Gita Wirjawan, sejatinya disebabkan oleh keyakinan bahwa ia hanyalah satu-satunya yang diharap jadi penerus rezim Susilo Bambang Yudhoyono. Dengan naiknya Gita, maka serangan-serangan lawan politik SBY tak akan mengancam kenyamanan masa pensiunnya. Skandal Bank Century dank asus korupsi Wisma Atlet/Hambalang, bukan tak mungkin menyeret keluarga istana ke pusaran peradilan, kendati (mungkin) cuma jadi saksi.

Selain itu, estafet hubungan baik SBY dengan Amerika bisa diteruskan jika Presiden Indonesia mendatang merupakan rekomendasi rezim saat ini. Tak hanya Freeport, kepentingan Amerika di Indonesia kelewat banyak, dan multisektor. Motif ekonomi jelas utama dan politik pun tak kalah penting strategis nilainya. Ibaratnya, Indonesia adalah potensi sekutu diam, informal, yang tak perlu dilembagakan menjadi bagian dari blok mereka.

Kebetulan, semua prasyarat ‘ramah Amerika’-nya ada pada sosok Gita: ia lama sekolah di sana, dan lama malang-melintang di aneka perusahaan yang berpusat di negeri yang dipimpin Obama itu. Dan SBY, selepas masa jabatan presiden, masih punya kendaraan yang bisa mengantarkan bakal calon presiden, yakni Partai Demokrat. Soal terpuruknya elektabilitas partai, tentu merupakan soal lain. Tapi posisi-posisi strategis pemerintahan, seperti Kapolri, Panglima TNI dan sebagainya, adalah orang-orang yang dipilihnya, yang masih bisa diharapkan ‘membantu’ kelancaran suksesi.

Dan, melihat rasa percaya diri yang ditunjukkan Gita belakangan ini, rasanya bisa dilihat sebagai indikasi restu konvensi mengarah kepada dirinya, dibanding sosok-sosok lain seperti Dahlan Iskan dan Anies Baswedan. Iklan jor-joran di aneka media dan media sosial pasti tak berbiaya ringan. Dan, saya ragu tak ada tendensi pada Gita, mengeluarkan banyak dana tanpa tujuan memenangkan pertarungan kursi kekuasaan.

Dan, ketika saya mengeluh di timeline Twitter, bahwa belum ada calon presiden yang sreg bagi saya, ada yang menyodorkan nama Prabowo. Katanya, ia sosok yang menjunjung tinggi kepentingan manusia se-Indonesia.

OK. Jika kata kuncinya adalah “menjunjung tinggi kepentingan manusia se-Indonesia”, maka bisa kita ajukan pertanyaan lanjutan: kepentingan seperti apa?

Menyimak iklan-iklan Prabowo yang gencar dua-tiga tahun terakhir, memang bagus. Ia menjanjikan kemandirian, perlindungan petani, melawan kepentingan perusahaan-perusahaan multinasional dan sebagainya. Dan itu penting, sebab selama dua periode masa jabatan kepresidenan SBY, kita kelewat banyak didikte kepentingan asing. Utang luar negeri terus merangkak naik, dan kesejahteraan semu ada di mana-mana.

Tapi, semudah itukah Prabowo memenangi pertarungan pada Pemilihan Umum Presiden 2014? Saya tak yakin dan tidak setuju ia memimpin negeri ini. Sosoknya kelewat dingin dan misterius. Andai tak terkait peristiwa penculikan aktivis, mungkin saya akan bersikap sebaliknya. Dan, faktor itu pula yang potensial jadi batu sandungan pencalonannya. Lawan politik lokal akan ramai-ramai menghadang, dan Amerika pasti akan menjadikan hal itu sebagai amunisi untuk menjegalnya, lewat tangan-tangan kekuatan politiknya di Indonesia, sebagaimana dulu menjatuhkan Gus Dur lewat figur Amien Rais dan sekutu ‘ad hoc’-nya.

Amerika dan sekutu-sekutunya pasti tak mau Indonesia dipimpin sosok yang tak mudah didikte, juga memghambat kepentingan ekonomi dan politik internasional mereka. Dunia, harus di bawah kendalinya. Kira-kira demikian maunya, sehingga suksesi pemerintahan Indonesia selalu menjadi prioritas politik luar negerinya. Indonesia adalah pasar yang menggiurkan, sekaligus penyedia sumberdaya yang melenakan pula. Posisinya pun strategis di ASEAN, Asia-Pasifik, hingga di negara-negara Islam (OKI) dan nonblok. Komplit!

Sebenarnya, masih ada nama Wiranto, yang sejak jauh hari sudah mendeklarasikan diri sebagai calon presiden bersama pasangannya, Hari Tanoe. Tapi, bagi saya, Wiranto pun tidak layak dipilih sebab aroma Soeharto-nya kelewat kental. Lagian, ia terlalu tua dan konservatif, tak punya sikap kritis terhadap Amerika dan sekutunya, terhadap WTO, dan lain sebagainya.

Jika bukan Gita, Prabowo dan Wiranto, lantas siapa?

Entahlah. Yang jelas jangan Megawati. Ia sudah terlalu tua  dan tak cukup memiliki prestasi memadai ketika kapan hari mau dipaksa menurunkan dan menggantikan Gus Dur secara tak elok itu. Jangan pula dari klan PKS supaya negeri ini tak jadi basis wahabi dan menjadi negeri filial Arab Saudi.

Lalu, siapa lagi?

Entahlah. Saya pun tak punya sosok idola atau yang pantas diharapkan. Yang penting, akan menarik jika tahun depan PDI Perjuangan dan Partai Kebangkitan Bangsa pada bahu-membahu memperjuangkan prinsip kecintaan mereka kepada NKRI dan bangsa Indonesia. Indonesia  tidak didikte kekuatan asing, namun juga tak semata-mata antiasing.

Kita butuh sosok yang fleksibel: mampu berdiplomasi, teguh pada prinsip kemandirian dan pemberdayaan bangsa, dan bersih dari dosa-dosa masa lalu, baik itu terkait dengan hak asasi manusia, korupsi, maupun tindak pidana dan perilaku amoral lainnya. Tentang siapanya, terserah Anda.

Yang pasti, kelak, masalah telekomunikasi dan energi, masih akan menjadi faktor kunci perekonomian global. Kita butuh pemimpin yang sadar akan dua hal strategis ini. Di sektor telekomunikasi, Indonesia tak hanya pasar menggiurkan, tapi juga menyangkut keamanan data dan kerahasiaan negara. Pada sektor energi, sudah pasti, ketergantungan manusia kelewat tinggi, dan kita memiliki semuanya untuk obyek eksploitasi, oleh siapapun. Perang dunia bisa berawal dari kedua sektor ini.

Apakah Anda yakin Gita Wirjawan memiliki komitmen dan keberpihakan kepada NKRI? Saya ragu. Dan, kalau sudah sampai urusan dua itu tadi, rasa-rasanya, negara-negara maju tak akan segan menghancurkan Indonesia dengan metode Balkanisasi, yakni memecah kesatuan negara menjadi negara-negara kecil berdasar etnisitas, golongan, agama, dan sebagainya, demi penguasaan sumber-sumber energi. Dan, FPI dan laskar-laskar sok suci di sini, secara tidak sadar sudah melibatkan diri, menyemai perpecahan keutuhan bangsa Indonesia.

SBY bukan Soeharto

Nonton siaran berita di televisi, beberapa waktu lalu, saya geli sendiri. Dari tayangan itu saya jadi tahu kalau Pak Susilo Bambang Yudhoyono ternyata pernah mau mengangkat Fuad Bawazier jadi salah satu menterinya. Tapi, niat itu diurungkan karena, kata Pak SBY, Fuad memiliki persoalan yang potensial bermasalah di kemudian hari. Dengan pembatalan itu, ia merasa telah ‘menyelamatkan’ Fuad.

Gara-gara pernyataan resmi presiden seperti itu, tergelitiklah naluri nyinyir saya kepada sosok yang saya juluki sebagai Mr. Prihatin ini. ‘Keinginan’ menjadikan Fuad sebagai pembantunya (yang diurungkan), jelas tak perlu diceritakan. Apalagi kalau pokok soal SBY menyatakan itu terkait beredarnya dokumen pajak keluarga Presiden.

Stiker bergambar Soeharto dengan teks "Piye...enak jamanku, taa??" kini mulai banyak bermunculan. Ada yang ditempel di bak truk, di mobil angkutan hingga dipasang di tengah jalan rusak di tengah Kota Solo seperti di foto ini.

Saya, jujur saja, menganggap Pak Susilo ingin berlaku bak Soeharto dalam hal memaknai kuasa. Dalam membangun kekuatan politik, sejatinya SBY masih jauh tertinggal, timpang dalam segala hal. Mendiang Soeharto mengontrol penuh kekuatan politik. Militer dan badan intelijen ia kendalikan, Golkar dikuasai sepenuhnya (bahkan partai politik seperti PPP dan PDI). Semua kunci ekonomi pun di bawah kontrol Cendana sepenuhnya. Bagaimana dengan SBY? Bahkan di Partai Demokrat pun, ‘kerajaan kecilnya’ itu, tak sepenuhnya mampu ia kuasai. (Simak saja sepulang dari lawatan luar negerinya, saya tak yakin ia mampu secara mulus menggusur Anas Urbaningrum dari Partai Demokrat (sebagaimana dikehendaki sebagian pendukungnya).

SBY jauh dari sebutan mampu mengontrol partai, yang bahkan secara resmi membuat kontrak politik berkoalisi dengan partai bentukannya. Slogan antikorupsinya justru terbukti sebaliknya di lapangan. Nazarudin, Angelina Sondakh, Hartati Murdaya dan Andi Mallarangeng, kita tahu, terjerembab di kubangan perkara korupsi.

Ada banyak pelajaran penting dari Soeharto yang gagal dimengerti, apalagi lantas dijalankan SBY. Kalaupun dibuat-buat atau didesain skenario tingkah laku dan cara berpidato, Soeharto melakukannya dengan sangat baik. Bagai dramawan ulung, Soeharto mampu menjalankan peran ‘keaktoran’ secara total, penuh penghayatan, sehingga bahasa tubuh dan mimiknya tak pernah luput. Karena itu, sulit orang menyebut Soeharto sedang bersandiwara atau tidak. SBY?

Bahkan, untuk sebuah upacara panen raya padi, misalnya, ia masih tampak sosok jenderalnya. Dengan kata lain, ia tak mampu ajur ajer atau berlaku total laiknya petani, yang tidak menganggap lumpur atau kotoran di sawah sebagai sesuatu yang menurunkan eksistensi kemanusiaannya, yang kebetulan sedang menjadi presiden.

KaAKUan Pak Susilo kelihatan lebih menonjol. Ia kelewat sering dan merasa ‘harus’ menyampaikan sendiri secara verbal akan apa yang sudah dan akan diperbuatnya kepada publik. Juru bicara kepresidenan, pun kerap lupa menjalankan perannya. Alih-alih menyampaikan (kepada publik) atas semua hal terkaut dengan tugas dan tanggung jawab kepresidenan, yang sering terjadi justru ia memuji presiden. Dalam kapasitas sebagai ‘mulut’ presiden, tentu menjadi norak dan mengesankan derajad kenarsisan sang presiden. Celakanya, Pak Presiden pun membiarkan hal itu berlangsung terus, berulang, sehingga saya harus menyimpulkan ia tak paham filosofi tubuh.

Lazimnya, power seseorang itu tampak dan dirasakan oleh siapapun di luar pemilik ‘kuasa’. Bukan dipamerkan, padahal yang dipameri malah tertawa, atau malah terang-terangan berpaling, atau menutup telinga. Dulu, Soeharto berdehem saja sudah membuat orang buru-buru ‘introspeksi’ diri. Raut wajah pun tak pernah menampakkan ada kemarahan ketika ada hal yang tak berkenan. Namun, ketika satu-dua kata diucapkan, semua pihak yang disasar sudah gemetaran. Kata ‘digebuk’ yang dilontarkan Soeharto misalnya, sudah bikin nyali ciut orang-orang yang sedang melakukan perlawanan terhadapnya.

Bandingkan dengan pernyataan Pak Susilo alias SBY, yang meminta kader yang tak sejalan dengan Partai Demokrat segera hengkang, dimana nyata terlihat tak dihiraukan. Anas Urbaningrum yang diamputasi kekuasaannya sebagai ketua umum masih melenggang menerima kunjungan sejumlah politisi separtainya. Ia pun masih bisa beraktivitas biasa selayaknya Ketua Umum  Partai Demokrat sebelum rapat Majelis Tinggi mengeluarkan keputusan amputasi. Andai kejadian itu muncul di masa Soeharto, dijamin tak seorang pun berani mendekat Anas. Berkomunikasi lewat telepon pun tak akan dilakukan daripada ketahuan disadap.

Mestinya, SBY paham situasi demikian, kalau ia benar-benar menghayati ‘ajaran’ Soeharto, dimana ia pun pernah dekat dalam kapasitasnya sebagai ajudan. Kekuasaan Soeharto demikian efektif, termasuk ketika memilih pejabat tinggi, ia selalu mempertimbangkan kapasitas, kapabilitas individu, serta membaca rekam jejaknya. Sangat sedikit orang yang ditunjuknya untuk menduduki jabatan tertentu tak memenuhi kwalifikasi sehingga jadi perbincangan rakyat, bahkan yang awam sekalipun. Soeharto tak perlu membawa ‘tim hore’ untuk memancing tepuk tangan sebagai ‘respon’ atas penampilannya.

Di masa-masa akhir periode kepresidenannya (bedakan dengan istilah kepemimpinan :)), saya berharap SBY bisa menunjukkan ketegasannya jadi presiden. Tak perlu mengancam atau menyindir menteri yang tak becus bekerja atau hanya mengendepankan kepentingan partai/kelompok ia berasal, tetapi bisa menggunakan hak prerogatif (yang dijamin konstitusi) untuk memecat dan menggantinya.

Boleh saja dibilang mengigau kalau saya berharap sekali-kali SBY mau tampil tidak hanya ngagar-agari atau menakut-nakuti dengan ancaman, namun melakukan tindakan tanpa dipilemikkan sebelumnya. Tak usah tampil sok demokratis kalau hasil akhirnya justru menampakkan keragu-raguannya. Sederhananya: ia mau memecat satu saja (syukur beberapa) menteri yang kinerjanya buruk, lantas menggantinya dengan yang lebih mampu.

Kadang saya berpikir agak ekstrim. Misalnya, SBY tiba-tiba tampil otoriter, atau menjadi diktator sekalian, di akhir periode keduanya ini. Caranya pun bebas. Suka-suka Pak SBY saja. Mau disebut antidemokrasi pun bukan soal bagi saya. Yang penting saya tahu, Pak Susilo berani tampil beda, berubah, alias move on. Jika itu terjadi, kegagahan Pak Susilo akan menjadi sempurna. Bukan semata gandar atau postur tubuhnya semata.

Pak SBY, saya merestuimu jadi ‘diktator’. Cobalah! (Sebenarnya gak mudah juga jadi diktator -walau terpaksa, kalau dia bukan seorang pemberani).

Dengan menjadi diktator, saya yakin SBY baru bisa berbenah, membuat orang mau mengikuti semua perintahnya, bahkan hanya lewat berdehem atau mengisyaratkan dengan bahasa tubuh atau mimik wajah. Bangsa ini sudah kelewat lama vakum, merindukan ketegasan seseorang dalam posisi sebagai pemimpin.

Rakyat juga sudah bosan dengan jargon, himbauan dan sejenisnya. Belum kesulitan mencari makan akibat keriuhan/keributan politik saling sandera antarelit dan sesama kooruptor. Kita harus membenahi keadaan, supaya ‘kerinduan’ masyarakat terhadap masa-masa Soeharto yang reprresif-intimidatif, tidak terwujud. Gejala di masyarakat sudah sedemikian mencemaskan, menganggap Soeharto sebagai pemimpin terbaik, yang memberi ketenteraman, ketenangan dan kemudahan mencari uang serta stabilitas keamanan dan harga-harga kebutuhan hidup yang terjamin.

Masih banyak orang yang tak tahu, apalagi generasi kelahiran setelah pertengahan 1980-an yang kini mendominasi piramida kelompok usia produktif. Mereka tak tahu bagaimana pers diintimidasi, sehingga tak ada berita kegagalan pembangunan, penyingkiran aktivis sosial dan kelompok kritis.

Tak hanya SBY, semua elit dan masyarakat, termasuk penulis, harus terus mengupayakan persebaran pemahaman bahwa reformasi sejatinya menjanjikan perbaikan. Hanya saja, kini sedang dibajak elit-elit politik haus kekuasaan dan yang kapok miskin (dan dimiskinkan semasa Soeharto), sehingga kini rajin menumpuk kekayaan dengan memperalat kekuasaan.

Jaman Soeharto tetap tidak boleh lebih baik dari masa depan kita, bangsa dan negara Indonesia.

Indonesia Tanah Surga

Halloo apa kabar….bila  berkesempatan (harus) nonton film  TANAH SURGA…KATANYA utk membangkitkan  rasa nasionalisme kita…..

Hampir lupa saya menunaikan janji hati untuk menonton film itu. Pesan pendek dari Herwin Novianto yang dikirim pada 17 Agustus 2012 pukul 10.59 WIB itu, memang sengaja tidak saya jawab. Rencananya, saya akan menjawab setelah selesai membuat resensi atas film itu yang saya yakini menarik itu.

Dan, ternyata benar. Film Tanah Surga… Katanya benar-benar mengaduk-aduk emosi, rasa nasionalisme saya (kita) sebagai Bangsa Indonesia. Anak-anak sekolah di perbatasan Kalimantan Barat dengan Entikong, Malaysia itu, tak kenal lagu Indonesia Raya. Mereka lebih fasih lagu Kolam Susu-nya Koes Plus yang didengarnya dari siara radio. Keseharian penduduk di sana, pun lebih menghargai mata uang Ringgit dibanding Rupiah.

Asal tahu saja, meski itu film fiksi, namun sebagiannya adalah fakta. Kenyataannya, mereka tak ‘menghargai’ Rupiah dan tak bisa menyanyikan lagi Indonesia Raya. Beruntung saya bisa menggali sebagian cerita tentang proses pembuatan film tersebut, dari co-director-nya, teman kuliah saya yang bernama Gunawan Raharja.

 

***

Singkat cerita, film itu berkisah tentang kehidupan sebuah desa terpencil, yang dikeliling rawa dan sungai. Adalah keluarga Hasyim (diperankan Fuad Idris), yang tinggal bersama dua cucunya, kakak beradik Salina (Tissa Biani Azzahra) dan Salman (Aji Santosa). Sedang Harris (Ence Bagus), ayah Salina-Salman, memilih menetap di wilayah Malaysia dan mengawini penduduk setempat agar mudah berdagang, mengumpulkan uang.

Di desa itu hanya ada satu sekolah dasar dengan satu guru, Astuti (Astri Nurdin) dan, untungnya ada seorang dokter dropping pemerintah yang datang dari Bandung, bernama Anwar (Ringgo Agus Rahman). Sang dokter harus menggantikan tugas mengajar jika Astuti pergi ke kota, mengambil gaji. Sang dokter pun harus bisa mengobati hewan yang sakit manakala dibutuhkan oleh penduduk setempat.

Konfliknya berserakan di mana-mana. Dari Hasyim, veteran perang Operasi Dwikora yang mencintai Indonesia dalam keadaan apapun jua, hingga sang anak yang ingin membawa cucu-cucunya hijrah ke tanah harapan, di Malaysia. Juga, kecintaan Salman kepada sang kakek, yang tak mau mengikuti adiknya hijrah bersama sang ayah ke ‘negeri surga’, bahkan rela meninggalkan bangku sekolah untuk mengumpulkan duit 400 Ringgit demi biaya pengobatan sang kakek.

Transaksi barter sarung dengan bendera merah-putih antara Salman dengan pedagang Malaysia (Foto: Blontank Poer)

Ketika Salman mengais rejeki dengan menjadi buruh menjualkan produk-produk kerajinan warga sekitar desa ke wilayah Malaysia yang bertetangga, misalnya, ia marah ketika menjumpai bendera merah-putih jadi alas dagangan di pasar (Malaysia). Padahal, Salman juga baru bisa menggambar bendera Indonesia setelah diajari Bu Guru Astuti yang datang dari Pontianak. Ia hanya ingat nasihat sang kakek, veteran perang konfrontasi Malaysia-nya Soekarno, agar mencintai Indonesia, dalam situasi apapun juga.

Dari Ringgit demi Ringgit yang dikumpulkan dengan susah payah untuk biaya pengobatan sang kakek, Salman sempat menyisihkan untuk membeli dua sarung. Satu untuk sang kakek yang selalu shalat dengan membalut kaki dengan sprei, dan satunya lagi untuk ditukarnya dengan bendera sangsaka, yang di pasar Malaysia digunakan untuk alas dagangan.

***

Secara visual, apa yang disajikan Herwin Novianto dan kawan-kawan tidaklah gambaran negeri yang indah seperti pada Laskar Pelangi. Pada Tanah Surga… Katanya, kita justru disodori fakta-fakta sosial, budaya dan lingkungan seperti film-film dokumenter. Anggi Frisca sebagai director of photography yang masih muda, sanggup menahan godaan untuk tidak terjebak royal menyajikan gambar, meski kekuatannya menentukan angle dan pilihan setting lokasi cukup menjanjikan. 

Padahal, lingkungan lokasi syuting Tanah Surga… Katanya sudah sangat dikenalinya, lantaran ia pernah membuat film dokumenter di sana. Di film itu, Anggi Frisca justru terbilang sukses menggabungkan pendekatan dokumenter yang serius dengan film cerita yang kerap dituntut untuk kompromi dengan selera penonton.

***

Tanah Surga… Katanya, film kedua Herwin, setelah Jagad X-Code, bisa disebut kado ulang tahun  ke-67 Republik Indonesia. Tanah Surga… Katanya merupakan film tragi-komedi yang mengingatkan betapa Pemerintah di Jakarta masih lalai menjalankan mandat konstitusi, bukan hanya untuk menyejahterakan rakyatnya, namun juga untuk menjaga eksistensi kebangsaan dalam bingkai negara kesatuan.

Kegembiraan Salman, kebanggan kita sebagai bangsa (Foto: Blontank Poer)

Selain kita, film ini sejatinya lebih pantas ditonton oleh para penyelenggara negara, menteri hingga presiden, para gubernur, bupati dan sebagainya. Juga menarik dijadikan bekal bagi legislator sebelum terbang jauh ke Brazil, Australia atau negara-negara lainnya, hanya untuk studi banding, sehingga di sana, mereka punya bekal untuk bertanya di sela-sela wisata belanjanya.

Film itu juga mengingatkan saya akan Pacitan, kota kelahiran Pak Susilo Bambang Yudhoyono, yang belum lama ini saya datangi. Jika melihat alangkah ndeso-nya Pacitan yang masih di Pulau Jawa, maka saya jadi paham betapa buruknya perhatian pemerintah pusat kepada warga dan wilayah-wilayah pedalaman, dan perbatasan.

Film bermutu yang dikemas secara jenaka untuk semua umur itu, menurut saya juga wajib ditonton oleh Menteri Percepatan Daerah Tertinggal dan staf-stafnya, supaya tak keliru membuat kebijakan. Syukur Presiden SBY pun mau menontonnya.

Yang jelas, adegan-adegannya cukup natural, dengan kemampuan akting pemain yang sepadan dan merata membuat film ini enak ditonton, mudah dinikmati, banyak adegan yang membikin kita tertawa, meski perih di dada. Tontonlah sendiri, biar saya tak terbukti ngibul. Sebanyak 90 kopi film telah beredar sehingga bisa ditonton secara serempak oleh masyarakat di banyak kota di Indonesia.

Semoga, dari film itu kita juga makin tahu, apakah Indonesia masih merupakan tanah surga seperti diceritakan Koes Plus atau surga yang (masih) katanya, hingga 67 tahun merdeka.

Etika Penggunaan Media Internet

Beberapa teman penggiat penggunaan Internet secara ‘benar, baik dan bertanggung jawab’ baru saja melayangkan sebuah undangan kepada saya. Intinya, mengajak diskusi, membicarakan etika atau tatakrama dalam menggunakan Internet, baik dalam blogging maupun aktivitas microblogging, seperti penggunaan Twitter, Facebook dan sebagainya. Faktanya, Internet sudah banyak memakan korban.

Inilah karya besar Pak Mentri Tifatul Sembiring dan Pak Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) mengebiri hak asasi WNI

Salah satu contoh kontroversial adalah tuntutan perdata dan pidana terhadap Prita Mulyasari. Ia dituduh mencemarkan nama baik RS Omni, lantaran keluhannya ditulis melalui surat elektronik untuk ‘curhat’ beberapa teman dekatnya. Selain itu, sudah banyak pengguna Internet yang tertipu secara material dan bahkan dirugikan secara moral yang tak ternilai harganya, lewat Facebook atau blog.

Di luar aksi tipu-tipu, kini marak pula penggalaangan dukungan terhadap seseorang, lembaga atau sebuah kepentingan (ekonomi, sosial, budaya, politik, dll) lewat jejarig sosial Facebook. Contoh paling nyata adalah pembelaan terhadap dua komisioner KPK, yakni Bibit Samad Rianto dan Chandra M Hamzah, ketika publik menganggap kedua orang tersebut hendak ditahan lantaran aktivitasnya yang sejatinya merupakan kewenangan yang dilindungi hukum.

Di bidang lain, terutama yang terkait hak cipta, terbukti sebagian besar dari kita juga mengabaikan kepemilikan hak cipta. Anehnya, tak sedikit media massa mainstream yang justru terlibat menyiarkan praktek pelanggaran. Contohnya, mengambil gambar/foto/grafis dari Internet seperti Google, Yahoo!, atau jejaring sosial penyedia foto seperti Flickr.com atau YouTube.com, dengan akreditasi Flickr atau YouTube, tanpa menyebut si pemilik karya.

Kita tahu, Flickr atau YouTube tidak mengambil dengan sendirinya atau secara otomatis, namun para pemilik akun di situs itulah yang sengaja mengunggahnya. Selain alasan pragmatis mudah menyimpan gambar, ada pula alasan subyektif (dan obyektif), agar pemilik karya foto atau video itu bisa mempublikasikan karya-karya kreatif mereka dengan aneka tujuan.

Saya, sebagai penulis maupun fotografer (maksudnya kerap membuat karya fotografi), selalu mengunggah karya-karya saya di blog dengan harapan orang lain mendapatkan sesuatu dari yang saya ‘pamerkan’. Ada harapan pula, dari karya tulis maupun foto, orang lain bisa mengetahui portofolio saya secara utuh, sehingga memungkinkan terbukanya kesempatan untuk saling berinteraksi saling menguntungkan, baik diukur dengan pendekatan kemanfaatan, dampak sosial, hingga (jika mungkin) ekonomis.

***

Ada banyak hal bisa kita diskusikan di sini, jika Anda berkenan memberi masukan.

Saya, misalnya, akan selalu memberikan keterangan atau catatan, jika postingan di blog saya telah mengalami perubahan, baik pengurangan atau penambahan data, foto atau keterangan tambahan lainnya untuk penyempurnaan postingan atau penyesuaian dengan perkembangan. Intinya, saya ingin memberitahu kepada pembaca (blog saya), supaya tak kaget ketika menjumpai telah terjadi perubahan ketika ia membaca pertama kali dan ketika berselang waktu tertentu.

Terhadap komentar pun saya berusaha memperlakukan secara fair. Andai ada orang memaki-maki sebagaii ekspresi ketidaksetujuannya dengan postingan saya sekalipun, tak pernah saya sunting. Saya biarkan apa adanya, dengan asumsi setiap orang memiliki kecakapan dan kriteria penilaian yang bisa diterima oleh banyak orang. Namun demikian, jika orang yang sama menuliskan berulang-ulang yang bertendensi menyerang, barulah saya melakukan blocking, termasuk menyurati yang bersangkutan jika  meninggalkan alamat email yang benar.

Pada ranah Internet seperti Twitter dan Facebook pun, saya bertanggung jawab atas semua pesan yang saya buat dan sebarkan. Sebagai orang nyinyir atau sok-sok kritis, saya selalu punya pertimbangan tertentu sebelum pesan (status atau kicauan) saya broadcast. Sebagai pendukung gerakan InternetSehat, saya selalu berpikir sebelum melakukan publikasi sesuatu (think before posting). Saya sadar atas semua risiko yang bisa saya hadapi atas tindakan saya di Internet.

Di blog saya, pun saya sering mengambil gambar/foto/grafis dari sumber lain. Untuk itu, selalu saya sebutkan sumbernya, baik berupa alamat blog/website, scan dari buku atau materi publikasi lainnya. Jika tak ada keterangan sama sekali, artinya itu semua merupakan karya saya, di mana saya memiliki hak cipta dan hak penyiaran/publikasinya.

Saya juga pernah mengalami, tulisan-tulisan saya berikut foto ilustrasi mengenai seni pertunjukan, diambil utuh lantas dipindahkan di blog seseorang di (kalau tak salah) Sumatera Barat. Saya pernah memperoleh backlink-nya, dan ketika saya cek di blog tersebut, hampir semua postingan saya ada di sana. Saya merasa ‘sudah cukup’ dengan memperoleh backlink-nya, meski si ‘penjiplak’ tak menyebutkan sumber/asal postingannya alias tak ada disclaimer.

Dalam kasus demikian, saya hanya mendasarkan pada keyakinan, bahwa publik akan tahu atau mengenali kompetensi saya, sehingga saya tak merasa dirugikan. Justru, si pemilik karya seni pertunjukan yang saya ulas melalui blog, bisa dibaca oleh lebih banyak orang selain dari blog saya.

Asal tahu saja, beberapa tulisan saya juga dicomot mentah-mentah oleh banyak blogger. Namun, mayoritas menyebutkan sumber otentik, yakni URL dari blog saya. Dan, untuk yang seperti ini, saya kira sah adanya, sehingga orang yang bersangkutan tak bisa disebut plagiat atau penjiplak, meski tidak mengajukan ijin/pemberitahuan kepada saya.

Jujur, dari tulisan-tulisan dan foto-foto yang menyertainya di blog, saya pernah memperoleh banyak manfaat. Salah satunya, ada seorang produser/maesenas seni pertunjukan asal Belanda yang menjalin korespondensi dengan saya, lantas dilanjutkan dengan pertemuan informal. Ia mengaku tertarik dengan kritik-kritik saya terhadap sejumlah karya pertunjukan dari sejumlah seniman Indonesia. Malah, karya-karya foto saya dimintanya untuk dipamerkan di Belanda, melalui sebuah forum dan di gedung pertunjukan yang setahu saya, cukup ternama dan tepercaya.

Melalui postingan ini, saya berharap teman-teman berkenan berbagi catatan dan memberi masukan, supaya saya bisa memiliki lebih banyak bekal untuk diskusi, yang rencananya, membuat semacam panduan, kode etik, atau apapun namanya, yang intinya berupa penyikapan terhadap media baru dengan pendekatan Internet. Tentu, diskusi mendatang tak ingin terburu-buru, lantas mengklaim sebagai ‘pemilik otoritas’ membuat kode etik atau apapun namanya.

Justru masukan dari banyak pihaklah yang nantinya akan menyempurnakan, sehingga tidak merugikan siapapun, bahkan sebaliknya, justru memberi manfaat. Yang pasti, kami semua hampir sependapat, kebebasan berekspresi harus dijamin undang-undang, sebab konstitusi manapun, sepanjang bangsa itu beradab, selalu menjamin hak-hak individu. Konstitusi kita, UUD 1945 tegas menjamin itu, begitu pula lembaga sekaliber Perserikatan Bangsa-bangsa.

Bahwa dalam produk turunan konstitusi masih banyak celahnya, seperti Kementerian Komunikasi dan Informatika yang memasang jebakan pidana dan pengebirian kebbebasan berekspresi lewat Pasal 27 ayat 3 UU tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (UU ITE), itu perkara lain, yang harus kita perjuangkan bersama-sama, agar ia lenyap dari sana.

Saya tunggu masukan Anda. Boleh tidak setuju, tapi sebaiknya jangan mengumpat dan memaki…. Salam.

Surat untuk Pak Sus

tulisan ini merupakan versi Bahasa Indonesia dari tulisan berbahasa Jawa: Serat Kagem Pak Sus

Kepada Yth.

Bapak Susilo Bambang Yudhoyono

di kediaman

Assalamu’alaikum Wr. Wb.

Semoga Allah ta’ala selalu melimpahkan ampunan untuk panjenengan sekeluarga.

Pak Sus, mohon diluberkan maaf seluas samudera jika saya terlalu berani menyampaikan pernyataan kepada panjengengan. Jangan salah mengerti, bahwa tidak ada niat lain, kecuali ingin mengungkapkan uneg-uneg saya, terkait tangisan dan rasa haru panjenengan.

Pak Sus, saya percaya, panjenengan tidak membaca Twitter, Facebook dan sebagainya. Padahal, banyak saudara yang membicarakan panjenengan, dan ada pula yang sepertinya malah mencibir, tidak percaya kepada panjenengan. Bahwa tangisan dan rasa sesak panjenengan ketika di Bogor tidak lebih seperti kanak-kanak yang cengeng, merajuk lantas mengadu kepada ibunya, dengan harapan memperoleh belas kasihan.

Sungguh, saya termasuk golongan dari orang-orang yang berprasangka terhadap tangisan panjenengan. Menangis tanpa air mata itu bukan tangis sembarangan sembarangan. Apalagi bagi lelaku atau orang tua seperti panjenengan.

Tentang nasib orang miskin, sudah bertahun-tahu, sejak Bung karno hingga guru panjenengan, Pak Harto, selalu bannyak jumlahnya. Panjenengan tidak perlu sedih untuk hal itu.

Seumpama tangis panjenengan karena memperoleh kabar dari Sidoarjo, bahwa masih ada ribuan saudara, bayi atau dewasa, yang masih belum memperoleh ganti kerugian yang pantas, dari Grup Bakrie karena lumpur Lapindo yang telah menenggelamkan sawah, ladang dan mengubur ternak, saya bisa ikut merasakan tangisan Anda yang disorot kamera televisi.

Atau, kalau Anda kecewa karena tidak bisa bertindak seperti yang dilakukan Presiden chile, yang rela menunggui buruh tambang yang terpendam dua bulan lamanya. Andai demikian, mungkin saya dan saudara-saudara senusantara juga bakal ikut menangis haru, kalau perlu meraung-raung supada pada tahu, betapa sakitnya hati pemimpin karena melihat rakyatnya sedang celaka.

Padahal, untuk meninjau korban banjir bandang di Wasior saja, Anda seperti tergantung hari baik, sehingga telat berhari-hari. Padahal, ibarat sabda pandhita ratu, sekali Anda bertitah, semua akan dilayani. Garuda tersedia, Hercules untuk mengangkut bantuan juga sudah siaga.

Coba Anda renungkan, seperti apa kecewanya saudara-saudara kita di Wasior seandainya bisa nonton siaran televisi, tentang halus budi dan besarnya tanggung jawab Presidennya.

Sekarang Anda menangis. Dulu, Anda sudah berulangkali mengadu kepada rakyat Anda, padahal Anda tahu, seorang bocah seperti saya tidak bisa bertindak apa-apa demi membantu Anda yang berkedudukan sebagai Presiden. Kalau sedikit-sedikit mengadu, menangis, apa tidak sayang jika Anda dijuluki besar tubuhnya semata, namun tak memiliki kekuatan apa-apa.

Orang agung, lelaki atau perempuan, akan memperoleh julukan cengeng manakala murah tangis, terlalu sering mengadu.

Sungguh, saya tidak terima jika mendengar Anda ditertawakan, apalagi oleh seorang pengayuh becak  atau pedagang kakilima. Keinginan saya, itu semua hanya ada di alam mimpi semata. Apalagi, Anda telah digembleng dalam dunia ilmu keprajuritan dan kanuragan, karena Anda dinantikan sebagai pagar bangsa dan negara.

Pak Sus, rasanya saya tidak terimaa kalau Anda meenangis seperti itu. Saya malu jika para duta besar atau turis lantas cerita kepada orang sebangsanya, jika lelaaki Indonesia itu murah tangis, gampang terharu terhadap kenyataan, padahal belum pernah mencoba mengubah keadaan supaya lebih baik dan selayaknya.

Pak Sus, saya harap Anda segera menyingsingkan lengan baju, memperbaiki keadaan, jangan sampai telanjur berantakan. Coba tunjukkan kepada saya dan bangsa Indonesia, bahwa Anda lebih baik, cerdas dan jeli menata keadaan dibanding Gus Dur dan Bu Megawati, yang Anda tinggalkan karena tak mampu memperbaiki negeri.

Mari Pak Sus, saya bantu bertapa mbisu. Tidak menghiraukan siapa saja, tidak tolah-toleh kiri-kanan, yakin menggunakan sisa waktu untuk berbenah, hitung-hitung untuk melunasi utang. Tak usah mikir Bank Century daripada bikin risi di hati. Begitu juga, tak perlu mengingat-ingat keberanian Kapolri Bambang Hendarso Danuri yang memilih meninggalkan sidang kabinet, daripada bikin sakit kepala.

Sungguh, mari mengingat, menyebut dan mengadu hanya kepada Tuhan Sang pencipta Alam, semoga masih dikaruniakan kekuatan dan waktu untuk menggenapkan waktu hingga 2014. Sungguh memalukan jika mengadu dan menangis menjadi kebiasaan. Bikin malu kaum lelaki, sungguh tak baik.

Mari, silakan marah kepada saya, tapi jangan sampai seperti ketika Pak Harto memimpin, menangkap dan menyiksa orang yang tak sepaham atau tak suka yang teriak-teriak seperti saya sekarang ini.

Selamat malam, Pak Sus. Semoga tidur Anda pulas malam ini, supaya besok memperoleh pencerahan, lantas bersama-sama membangun negeri. Belum terlambat bagi Anda untuk menyemai kebajikan.

Seumpama ingin tetangisan, cukup sekali lagi saja. Menurut hemmat saya, tangis terakhir silakan dilakukan di Tanggulangin, Sidoarjo sana. Anda cukup menyebut minta maaf kepada Tuhan, karena gagal menuntaskan perkara. Supaya ringan beban, coba sebut saja, siapa yang harus bertanggung jawab.

Insya Allah mujarab. Rakyat akan gembira. Selanjutnya, saya yakin bila seketika bakal ada tangisan saudara-saudara senusantara. Bedanya, tangis bersama yang menunjukkan tangis haru sukacita…..

Mohon maaf, Pak Sus, jika kata-kata saya berbusa-busa, seperti seorang bocah mengigau atau sedang tak waras. Dianggap demikian, pun saya ikhlas, rela, asal Indonesia kian maju dan makmur, tenteram lahir dan batin seluruh rakyat. Terima kasih.

Wassalamu’alaikum Wr. Wb.

Sala, 21 Oktober 2010

Hormat saya,

Blontank Poer

Rumah Blogger Indonesia

Jl. Apel III No. 27, Jajar, Sala