Pah, Lawan!

Suatu siang pada akhir pekan, hati Senthun panas bukan kepalang. Ia merasa terganggu perjalanannya lantaran dihentikan paksa oleh polisi, yang sedang melakukan razia beberapa puluh meter setelah tikungan pada sebuah perempatan jalan. Di lokasi itu, memang sudah menjadi keharusan jalan terus bagi kendaraan yang berbelok ke kiri.

Seperti umumnya refleks pengemudi kendaraan bermotor, Senthun mengurangi kecepatan menjelang belokan, lalu menambah kecepatan begitu situasi lalu lintas dan jalan memungkinkan. Sepeda motor baru dipacu, tahu-tahu di depannya sudah ada beberapa polisi menghalaunya, memaksa segera menepi.

Sebagai orang yang merasa sudah berusaha tertib di jalan raya, Senthun merasa terganggu. Pertama, cara polisi menghalang-halangi dan menghalau pengendara sepeda motor, dan kedua, pemilihan lokasi razia (bahasa halusnya pemeriksaan kelengkapan kendaraan dan pengendara), hanya beberapa puluh meter dari tikungan.

Seorang polisi menghampiri, memberi salam hormat dan melakukan tindakan standar: menanyakan surat-surat. Senthun yang sedang panas hati dan dongkol lantas mengambil dompet dari saku celananya, lalu menyerahkan dompet itu kepada polisi.

“Nih, silakan ambil sendiri!” ujar Senthun, datar.

“Maaf, Pak. Bisa lihat SIM dan STNK?” ujar polisi.

“Ambil sendiri. Semua ada di dompet.”

Polisi menggeleng, masih meminta Senthun mengambil surat-surat yang dimintanya dari dompet dengan bahasa yang datar dan halus. Senthun yang telanjur panas hati, sebab sudah kepanasan di jalan dan ingin segera sampai rumah, ikutan menggeleng. Ia sengaja ingin mempermainkan polisi, apalagi dia merasa terganggu betul dengan cara polisi memilih tempat razia yang tak lazim.

Razia di sebuah tikungan yang mewajibkan kendaraan belok kiri jalan terus, bagi Senthun lebih membahayakan keselamatan banyak orang dibanding mengendarai motor kebut-kebutan di jalan raya. Apalagi, jalan itu merupakan jalur utama angkutan umum seperti truk dan bus yang biasanya melaju kencang ugal-ugalan.

Polisi pemeriksa tetap kukuh pada pendirian, meminta Senthun menyerahkan SIM dan STNK, yang lagi-lagi, ditanggapi Senthun dengan tatapan mata marah, enggan menyerah. Adegan yang berlangsung lama itu menyita perhatian sejumlah polisi yang terlibat dalam operasi itu. Seorang polisi marah-marah dan membentak Senthun begitu melihat duduk perkara. Sang polisi pemarah menganggap Senthun melecehkan tugas polisi.

Tak terima dibentak, Senthun gantian menghardik si polisi. Ia balas membentak polisi hingga memancing perhatian pengguna jalan lainnya, yang kebetulan berhenti akibat razia yang sama. Banyak pengendara mengerubungi Senthun yang sedang berbalas kata dengan polisi.

Kerumunan makin banyak sehingga jalan kian macet. Bus-bus dan truk yang jalannya tertahan akibat razia, membuat deretan kemacetan kian panjang setelah adu mulut Senthun dengan polisi berubah kerumunan massa. Seorang polisi datang lagi menghampiri, menghardik Senthun seraya menyebutnya melawan aparat.

Gawat. Senthun kiat kalap. Ia marah disebut melawan aparat. Ia merasa, apa yang dilakukannya semata-mata demi mengingatkan polisi, agar dalam memilih lokasi razia pun dipertimbangkan masak-masak. Ia tak ingin citra polisi lalu lintas rusak gara-gara gagal menciptakan ketertiban dari yang seharusnya membuat lancarnya arus lalu lintas.

“Ayo, Paaah… Lawan, Pah!!” teriak Aryo Gendir, anak lelaki yang baru saja dijemputnya sepulang sekolah dari sebuah SMA swasta, tak jauh dari lokasi razia. Aryo, rupanya menganggap papanya sedang dikeroyok polisi, makanya ia berusaha menyemangati. “Lawan, Pah…. Ayo, Paahh…. Lawan!”

Senthun kian larut terbawa emosi. Teriakan anaknya bagai energi perlawanan tiada tara.

“Hai, Pak! Saya ini mendambakan polisi kian berwibawa di negeri ini! Kalian itu ujung tombak baik-buruknya polisi di mata rakyat, sebab polisi lalu lintaslah yang paling sering berhubungan dengan masyarakat. Main mata Anda dengan cara damai di jalan lebih mudah menyebar jadi fitnah lembaga dibanding para koruptor atau bandar narkoba yang cincai di ruang pemeriksaan!” ujar Senthun, seperti orang ceramah.

Pak polisi yang semula marah-marah itu diam-diam beringsut, satu-persatu pergi meninggalkan Senthun yang kian kesetanan, berteriak-teriak menyebut banyak praktek kebobrokan polisi, termasuk meneriakkan istilah cicak lawan buaya. Rupanya, para polisi itu cukup terpukul ketika korps-nya diidentikkan dengan gerombolan buaya.

Polisi yang pertama kali menghampiri Senthun dan meminta ditunjukkan surat-suratnya kembali mendekati Senthun. Dengan halus ia kembali menyapa Senthun seraya berkata,

“Maaf, Pak. Kami hanya menjalankan tugas. Kami tidak boleh melawan keputusan atasan, termasuk masalah penentuan lokasi pemeriksaan kelengkapan kendaraan.”

“Baik, saya paham dengan posisi sampeyan. Tapi tolong diingat: bapak itu polisi, bukan tentara yang menganut garis komando. Kalau tahu model razia begini salah dan justru mengganggu lalu lintas, sampaikan kritiknya kepada atasan. Tak perlu takut. Hukum harus ditegakkan, supaya rakyat bisa meneladani kalian.”

“Ini negara demokrasi yang mengedepankan hukum dan kedaulatan sipil. Kalau kalian lemah dan tak berdaya mengawal tegaknya hukum dan keadilan, jangan salahkan keadaan kalau gaya kepemimpinan otoriter serba komando bangkit lagi di negeri ini. Bapak rela kembali seperti masa lalu?”

Si polisi hanya menggeleng setengah tertunduk. Di hatinya, ia berharap Senthun segera berlalu. Pergi. Ia merasa tak butuh warga keminter, sok tahu.

Tulisan ini diilhami oleh kejadian razia lalu lintas di lokasi ‘sembarangan’, sekaligus sumbangan bahan renungan pada peringatan Hari Pahlawan

Pengalaman Dicegat Gali (2)

Selasa, 14 April sekitar jam 10.20 pagi, kembali saya diberhentikan seorang gali, tepatnya di Makamhaji. Naik motor sendirian, dia meminta saya berhenti lalu menanyakan asal-usul motor saya. Berlogat Madura, usianya di atas 40 tahun, yang belakangan aku ketahui dia bernama serapan dari bahasa Arab…….., dan panggilannya hanya empat huruf: U**n!

“Ini motor siapa, Mas?” tanya si gali setelah kami berhenti.

“Punya saya sendiri. Sampeyan DC**), ya?” tanya saya. Di bawah stang motornya, saya lihat ada tiga atau empat buku kecil persegi panjang, mirip punya tukang kredit alias mindring seperti sering saya jumpai di pasar-pasar.

Lelaki menjelang separuh baya itu belum sempat menanyakan atau melihat STNK saya ketika tiga motor berhenti tepat di depan saya. Yang dua berboncengan, satu lagi sendirian. Total, berarti enam orang ‘menghadang’. Wajahnya tampak diramah-ramahkan, walau tetap kotor dan seram.

“Sampeyan mau apa? Sana tanya He** di AD***!” saya setengah membentak.

“Oo… barusan dapat lelang ya dari Pak He**, ya?” dia menyergah, berusaha tersenyum sambil berusaha mengalihkan pembicaraan.

Benci dengan gaya premannya, saya menyebut satu organisasi pemuda yang banyak anggotanya bekerja sebagai debt collector. “Kalau mau tahu, silakan tanya He** atau A*y yang mencegat saya tempo hari!” hardik saya.

“Kerja yang bener, Mas. Untung waktu dicegat A*y tidak saya teriakin rampok. Kalau saya teriakin, dia bisa mati dikeroyok orang di depan PKU sebab dia mencegat dan meminta motor saya begitu saja, tak menyebutkan identitasnya,” ujarku.

Ternyata, si preman berlogat Madura itu ngeper. Dia meminta maaf, tapi lantas mengumpat nama He** yang dianggap kelewatan, tidak menghapus nama saya sebagai debitor di AD***, padahal sudah melunasi kewajiban.

Tapi, dunia preman tetaplah begitu rupa. Mungkin dia iseng-iseng berhadiah, siapa tahu dapat hasil buruan. Setidaknya, upah Rp 500 ribu segera di tangan kalau berhasil mendapatkan buruan.

Seandainya di preman, eh, gali itu tak menyurutkan niat, entah apa jadinya. Bisa saja saya kalah, atau sebaliknya justru memancing datangnya orang-orang di tengah keramaian jalan raya. Di motor saya, kebetulan tergantung sebuah tas berisi aneka kunci dengan beragam ukuran. Tangan sudah saya arahkan mencabut kunci kalau mereka turun dari motor dan mendekati saya yang kebetulan hari itu sedang akan memeriksa mobil tamu teman yang mogok.

*) Saya tetap mengidentifikasi orang begini sebagai gali sebab tetap bekerja tanpa etika.
**) DC, debt collector atau tukang tagih yang biasanya bekerja atas suruhan seseorang atau lembaga.

Cerita terkait, baca di sini: Pengalaman Dicegat Gali

Tulisan ini pernah diposting di Facebook, pada Jumat, 17 April 2009 pukul 14.59 WIB

Pengalaman Dicegat Gali

Tengah hari pada 19 Maret, aku dicegat gali di Jl. Ronggowarsito, tepatnya di depan PKU Muhammadiyah, Surakarta. Dua orang yang semula saya kira polisi itu mengendarai sepeda motor. Yang membocengkan lelaki berambut gondrong dengan tas diselempangkan di badan, satu lagi berbadan gempal. Tampangnya mirip intel polisi, yang gayanya ‘standar’ dan bagi orang berprofesi seperti saya akan mudah mengenali.

Cara memberhentikannya pun mirip polisi. “Mas, tolong berhenti sebentar,” kata si pengemudi. Dia pun menanyakan darimana saya pergi, yang saya jawab baru jalan-jalan dari balaikota. Saya masih terus menjalankan sepeda motor ketika orang itu meminta saya, yang berboncengan dengan seorang teman, menepi dan berhenti.

Saya masih yakin keduanya intel polisi, yang saya kira sahabat dari teman yang saya boncengkan. Akhirnya, saya pun menepi. Begitu berhenti, orang itu menanyakan STNK saya. Saya tanya untuk apa dan atas kesalahan apa, dia tak menjawab. Saya berbaik sangka, mungkin mereka intel yang sedang mencari buruan. Apalagi, sepeda motor saya termasuk salah satu primadona buruan pencuri motor.

Rupanya, teman saya mengira kedua lelaki itu intel kenalan saya. Lalu, teman saya pun berseloroh, “Kami bukan maling, lho!” Orang itu merasa agak tersinggung, lalu mengucap dengan intonasi marah. “Kalau ngomong hati-hati, Mas!”

Orang itu lalu membuka buku. Mungkin berisi catatan tentang ciri-ciri fisik kendaraan. Lalu, dia meminta SIM saya. Mengira untuk pencocokan kepemilikan, saya menyerahkan SIM kepada si lelaki kurus itu. Tanpa ba-bi-bu, SIM dan STNK dimasukkan ke dalam buku kecilnya.

“Mari ikut saya ke kantor,” hardiknya. “Motor Anda saya bawa, Anda membonceng teman saya,” masih dengan cara ketus.

Saya sempat berpikir untuk menanyakan surat tugas dan kartu identitas keduanya, tapi urung karena saya pikir itu merupakan model guyon gaya intel. Kebetulan, saya masih yakin, salah satu dari keduanya adalah teman sahabat saya tadi.

Sambil jalan, saya tanya si gemuk yang memoncengkan saya. Saya tanya kantornya dimana, orang itu tak mau jawab. Insting saya dituntun untuk menuduh mereka sebagai preman yang bekerja legal, sebagai debt collector. Melalui tattoo pada lengan kirinya yang tidak ‘nyeni’, hampir bisa dipastikan dia lelaki jalanan, yang ditato oleh teman ‘senasib-sepenanggungan’.

Saya banyak kenal lelaki bertato, padahal mereka lelaki atau perempuan terhormat. Cirinya hampir sama, tato adalah bagian dari seni yang bisa menambah bobot keindahan pada tubuh. Karena permanen menempel pada tubuh, mereka pasti tak main-main, sehingga tato pun dibuat berdasar konsep dan dengan pertimbangan estetika senirupa. Sebaliknya bagi preman, tato umumnya sebagai penanda: sebuah gank atau pengingat pernah sekolah di balik tembok penjara.

“Dari AD*** ya, Mas?” tanya saya yang akhirnya diiyakannya. “Lha njenengan merasa punya masalah nggak?” dia balik bertanya. Saya iyakan, lalu diam. Kebetulan saya ingat, masih punya kekurangan satu bulan angsuran di AD***. Memang sudah lama, tapi saya berpikir sembrono: tinggal sebulan, ngapain dikejar-kejar? Toh mereka bisa memperoleh bunga tunggakan, dan masih ‘menyita’ BPKB saya.

Sesampai di kantor AD*** Solo Baru, saya diminta masuk ke sebuah ruangan. Tak lama, seorang pegawainya keluar, lalu menyodorkan selembar print out untuk saya tanda tangani. Saya menolak, karena ingin membacanya terlebih dahulu.

“Sudah, silakan tanda tangan dulu, nanti saya jelaskan!” katanya. Nada bicara dan intonasinya persis sama dengan sang preman pencegat tadi. “Ee…. tunggu dulu. Saya harus membacanya,” sergah saya. Lelaki yang berinisial H itu menyerah.

Rupanya, surat tadi berisi berita acara serah terima barang alias penyitaan. Bajingan! Saya mengumpat dalam hati. Begini rupanya bisnis leasing. Apalagi, orang dalam posisi seperti saya, akan merasa bersalah karena telah bertindak wanprestasi. Membodohkan orang/nasabah, dengan pola intimidasi. Mungkin itu sebuah pola psy war untuk dijalankan.

Lelaki berinisial H itu lantas menjelaskan, tunggakan saya sembilan bulan, dengan total bunga Rp 10 juta. Sebuah angka yang sama dengan harga pokok sepeda motor saya, bila dibeli secara tunai.

Saya kaget lalu saya jelaskan kalau hutang saya cuma satu bulan plus denda. Dia menyodorkan bukti rekaman angsuran. Dan benar, di sana tertulis saya kurang sembilan bulan angsuran. Saya sodorkan bukti angsuran delapan bulan sekaligus, yang kebetulan ada di dompet. Dia pun kaget. Lalu, ia meminjam kwitansi saya itu untuk dicocokkan ke salah satu bagian keuangan di kantor itu.

Baru setelah itu, sikap H melunak, lantas ramah terhadap kami. Lalu, saya pun bercerita pengalaman sebelumnya. Pernah saya dianggap tidak membayar tiga bulan angsuran dan seorang debt collector sudah berada di rumah saya dengan membawa sebuah surat perintah penyitaan. Dia menyerah, mengaku salah setelah saya tunjukkan bukti pembayaran.

Lalu, si debt collector telepon pejabat AD*** sambil marah-marah, merasa dipermalukan. Si DC (sebutan untuk tukang tagih) lalu mengaku, pengalamannya dengan saya itu merupakan kejadian yang kesekian kalinya di AD***. Katanya, sering tagihan demikian tak masuk ke catatan pembukuan.

Yang pasti, saya kapok berurusan dengan perusahaanleasing. Beberapa teman saya yang bekerja sebagai DC bercerita, banyak perusahaan leasing mempekerjakan para preman demikian. Praktis, sebab mereka hanya dibayar kalau berhasil. Tarifnya, minimal sekitar Rp 500 ribu, tergantung jauh-dekatnya jangkauan.

Untung, sepekan setelah pertemuan (dan pembayaran angsuran plus tawar-menawar denda), BPKB diserahkan. Andai tidak, pasti sudah saya buat perhitungan dengan mengadukan mereka ke polisi. Ada perampasan dan tindakan di luar kewenangan, serta praktek ‘penggelapan’. Apalagi, meski menunggak, saya merasa dipermalukan. (Dan ini ada pasalnya pula di KUHP).

Asal tahu saja, bahwa saya BERHAK mengadukan gali (DC yang ‘baik, pasti punya etika, dan yang suka merampas hanya gali) dari sebuah organisasi kepemudaan di Surakarta itu justru saya peroleh setelah berkonsultasi dengan seorang anggota Polwil Surakarta.

Saran saya untuk Anda yang baru mampu kredit untuk memiliki sesuatu, jangan ragu memperkarakan DC nakal, yang bekerja tanpa etika. Beberapa di antaranya adalah:

1. Laporkan ke polisi, jangan lupa siapkan bukti dan saksi
2. Usahakan jangan sendirian ketika berhadapan dengan debt collector
3. Jangan mau diajak bertemu di jalan atau di luar rumah Anda
4. Kalau sampai merampas seperti kasus saya, usahakan jangan berteriak minta pertolongan, meski kita berhak. Salah-salah, mereka dihakimi massa. Kirim saja ke penjara sebab ada undang-undang yang menyebutkan hanya polisi yang berhak melakukan pemeriksaan apalagi penyitaan surat-surat, seperti SIM dan STNK

*) saya menyebutnya gali, sebab bertindak di luar kewenangan, tanpa etika: tak menunjukkan identitas diri dan sebagainya

Cerita ini sudah di-posting di Facebook, pada Senin, 6 April 2009 pukul 14.25 WIB

Baca juga Pengalaman Dicegat Gali (2)