Festival Seni untuk Solo

*Sebuah catatan tentang SIPA

Selintas membaca kekecewaan orang terhadap pelaksanaan Solo International Performing Arts Festival (SIPA), saya jadi teringat obrolan dengan Pak Jokowi pada awal 2009. Kala itu, kami ngobrol mengenai penyelenggaraan festival seni (pertunjukan) yang berbobot, namun hemat biaya. Intinya, bagaimana pengeluaran dana APBD untuk penyelenggaraan tak perlu berjumlah besar, namun mengalihkan pembiayaannya dengan format kerja sama antarbangsa.

blog-GM_jokowi_sadra_etc

Obrolan santai antara alm. I Wayan Sadra, Mas Goenawan Mohammad, Kang Sitok Srengenge, Triyanto Triwikromo, Kang Bambang Paningron, Pak Jokowi dan teman-teman lain, seperti Mbak Sari Madjid di Pendapa Loji Gandrung, 15 Maret 2009.

Kira-kira, saya menyampaikan begini: dengan membuat festival seni pertunjukan (performing arts) bergengsi, maka akan mudah mencari sponsor. Minimal, pusat-pusat kebudayaan asing yang memiliki kantor cabang di Indonesia, seperti The Japan Foundation, British Council, Goethe Institut, Erasmus Huis, Pusat Kebudayaan Perancis, dan sebagainya, bisa diajak kerja sama mendatangkan artis-artis terbaik dari negeri mereka.

Rupanya, Pak Jokowi tertarik dengan gagasan itu. Maka, kami pun diskusi kecil, merancang sebuah pembahasan serius untuk menyiapkan sebuah kelembagaan festival. Artinya, sebuah festival dirancang serius dengan melibatkan para ahli di bidangnya. Prinsipnya, Solo sebagai kota dengan segudang maestro dan seniman musik dan tari bisa jadi alasan kuat menggelar festival, dan festival tersebut bisa menjadi aikon kota, yang memiliki dampak tak hanya penguatan kebudayaan, namun juga aspek sosial-ekonominya. Dengan banyak event bergengsi, maka akan banyak kelompok masyarakat yang turut menikmati.

Dengan festival, arus kunjungan orang dari berbagai daerah akan berimbas pada lakunya kamar hotel, mobil sewaan, pusat oleh-oleh (termasuk kerajinan batik), penjaja makanan dan warung-warung kuliner, dan seterusnya. Hal semacam itu sudah menjadi ciri Pak Jokowi. Mungkin karena latar belakangnya sebagai pengusaha, dia menjadi paham aspek monetizing sebuah event.

blog-kontrabass_goethe_9maret2004_0947

Pertunjukan Teter berjudul “KontraBass” oleh Wawan Sofwan (Bandung) di Goethe Institut ini hanya cocok dipentaskan di ruang pertunjukan mini, dengan dukungan akustik memadai.

Hasilnya, pada 14-15 Maret 2009, saya mengundang Mas Goenawan Mohamad, Sitok Srengenge, Bambang Paningron, Triyanto Triwikromo, Mbak Sari Madjid dan almarhum I Wayan Sadra untuk berbincang secara santai dengaan Pak Jokowi. Selain mereka, hadir juga Kepala Dinas Pariwisata Pak Purnomo Subagyo yang mengajak Mbak Irawati “Iil Kusumorasri.

Dimulai Sabtu (14/3) malam, sebagai moderator saya memulai dengan mempersilakan Pak Jokowi menyampaikan keinginannya. Pak Jokowi menjawab singkat, “Saya tak tahu kesenian, maka sebaiknya Pak Goen, Mbak Sari Madjid dan teman-teman saja yang berbagi bercerita. Nanti, kalau tidak tahu, saya akan bertanya,” ujarnya. Di tangannya, tergenggam buku catatan dan pulpen. Ia mencatat apa yang dianggapnya penting.

Esoknya, obrolan dilanjutkan di pendopo Loji Gandrung. Kami ngobrol santai, namun akhirnya direkomendasikan beberapa hal, seperti:

Menyiapkan yayasan sebagai lembaga pengelola festival. Lembaga demikian diperlukan, supaya aneka festival bisa berlangsung dalam jangka waktu lama, dan tidak terpengaruh pergantian rezim, baik walikota maupun kepala dinas pariwisata. Hal seperti itu dianggap penting, supaya ada keleluasaan mencari dana dari pihak ketiga, sehingga tidak memberatkan anggaran pemerintah.

Menyusun dewan kurator, supaya materi dan konsep festival menjadi kuat, kredibel dan dibutuhkan keberadaannya oleh banyak pihak. Tidak hanya oleh senimannya, namun juga warga kota, publik dalam arti luas, dan pemerintahnya. Intinya, manfaat festival benar-benar dirasakan oleh banyak kalangan.

Dari dua poin penting itu, sempat disepakati rancangan awal, berupa launching gagasan festival. Ketika itu, Pak Purnomo sebagai Kepala Dinas Pariwisata menyatakan masih punya alokasi dana sekitar Rp 140-an juta. Dana itu bisa dipakai untuk membuat festival.

blog_sapuan_langkah_panjang_13agt2005-0259

Pergelaran tari “Sapuan Langkah Panjang”-nya Mbak Wied Senjajani di Teater Arena Tamab Budaya Surakarta, 13 Agustus 2005 ini, pasti tak akan mudah dinikmati penonton jika dipentaskan di tempat terbuka.

Oleh Mbak Sari Madjid yang dikenal sebagai manager handal festival, diusulkan dana itu untuk launching saja. Jadi, cukup memilih sejumlah seniman penampil dengan pertimbangan kuratorial tertentu, untuk dipresentasikan pada sebuah gelaran sederhana. Rencananya, Pemerintah Kota Surakarta  akan mengundang semua direktur pusat kebudayaan asing di Jakarta, serta duta besar dari sejumlah negara.

Pertimbangannya, peristiwa seni pertunjukan juga bisa menjadi sarana pelaksanaan soft diplomacy, untuk merajut kerja sama antarbangsa melalui kebudayaan. Toh nyatanya, selama ini Kementerian Luar Negeri kerap menghadirkan wakil-wakil bangsa dari berbagai negara untuk belajar kesenian Indonesia. Kementerian Pendidikan pun juga punya program dharmasiswa, yakni semacam beasiswa untuk mahasiswa asing yang belajar di berbagai perguruan tinggi seni di Indonesia.

blog-takiko_iwabuchi_16juli2004-035

Koreografi Takiko Iwabuchi (Jepang) yang dipentaskan di Graha Bhakti Budaya, Taman Ismail Marzuki, Jakarta, 16 Juli 2004 ini merupakan salah satu bentuk kerjasama kebudayaan antarbangsa. Pertunjukan semacam ini, pun akan kehilangan ruhnya jika digelar di tengah lapangan.

Kelak, melalui forum tersebut, bisa dikemukakan agar pemerintah asing yang memiliki perwakilan di Indonesia, bisa memfasilitasi kehadiran seniman-seniman dari negara mereka untuk tampil di sebuah festival di Solo, sementara Pemerintah Kota Surakarta, melalui sebuah yayasan festival, tinggal menanggung biaya akomodasi dan transpor lokal untuk delegasi seni mereka.

Menanggapi itu, Pak Jokowi setuju, hingga Pak Purnomo menawari saya menjadi ketua panitia penyelenggara. Saya jawab begini, “Pak, saya ngerti sedikit-sedikit soal begituan. Tapi, karena saya tak punya track record sebagai organizer, posisi saya malah akan mengundang banyak pertanyaan. Kalaupun dipaksakan, saya minta ijin diberi keleluasaan menunjuk pelaksana yang saya anggap lebih paham dan memiliki jam terbang tinggi.”

Usai pertemuan, hingga beberapa saat tak ada jawaban atau respon tegas. Hingga, tiba-tiba saya kaget, ketika ada publikasi rencana menggelar Solo International Performing Arts Festival (SIPA). Kecewa sih iya. Selain terburu-buru, saya mendapati banyak kejanggalan di kemudian hari. Mbak Iil, bahkan meminta kontak sejumlah seniman tari dan teater dari saya.

Mbak Iil, misalnya, lupa nama koreografer Bali, namun ingat karyanya. Begitu juga, ia meminta kontak Kang Rahman Sabur, pendiri Kelompok Payung Hitam, Bandung. Peristiwanya, kira-kira setengah bulan sebelum pelaksanaan acara.

Saya bingung. Karya koreografi I Nyoman Sura berjudul Bulan Mati yang ingin ditampilkan di SIPA pertama di panggung terbuka di Pamedan, Pura Mangkunegaran membutuhkan ruang tertutup dengan kwalitas akustik gedung memadai untuk bisa menangkap karya itu dengan segenap indera, yang tak cukup mata dan telinga saja. Sementara, untuk  karya teater khas Kelompok Payung Hitam, setengah bulan bukan waktu masuk akal untuk mempersiapkan karya mereka. Selain kuat pada eksplorasi fisik yang membutuhkan latihan hingga berbulan-bulan, gagasan-gagasan artistik sejumlah karya Kelompok Payung Hitam juga belum tentu cocok dipentaskan di tempat terbuka.

Bagi saya, hal itu menjadi kunci penilaian saya, betapa sangat serampangannya Mbak Iil dalam mengelola SIPA-nya. Dari tahun ke tahun, SIPA juga tak kunjung menunjukkan kekuatan konsep pemanggungannya, sehingga saya merasa tak perlu lagi menontonnya, termasuk gelaran tiga malam, 19-21 September 2013 ini. Seringkali terjadi, beberapa penampil yang dipublikasikan sebagai representasi sebuah negara, sejatinya ‘belum seniman’. Mungkin mereka penari di negaranya. Namun, lantaran sedang bersekolah di ISI Surakarta, misalnya, lantas dilabeli sebagai seniman dan mewakili negara mereka.

blog_hartati_ritus_diri_GKJ_15sep04_003

“Ritus Diri” karya Hartati ini dipentaskan di Gedung Kesenian Jakarta, 15 September 2004. Meski secara visual cukup kuat dan mudah dinikmati, namun iringan musiknya tak akan bisa membawa penonton memasuki ruang dialog yang disodorkan koreografernya.

Jika mengingat peristiwa itu, saya jadi kian sedih saja. Ketika menjabat Walikota, Pak Jokowi sangat gelisah dengan obsesinya membangun Kota Solo. Aneka festival lahir pada masa kepemimpinannya, berduet dengan FX Hadi Rudyatmo sebagai wakil walikotanya. Saya ingat betul bagaimana di awal terpilihnya, saya tanya mengenai konsepnya tentang memajukan kebudayaan di kotanya. Kala itu, dia menjawab singkat: saya baru akan meminta dilakukan pendataan cabang seni dan potensinya, baru dibuat strateginya.

Pernyataan itu hampir selalu saya tagih setiap tahun, hingga pada tahun kedua masa baktinya, sudah bisa menyatakan dengan detil: jumlah sanggar seni, cabang seni dan jumlah seniman, termasuk para maestronya. Singkat kata, dia melakukan pekerjaan dengan terukur dan punya dasar. Maka, pada masa kepemimpinannya, di Solo lahir aneka festival seperti SIEM, SIPA, Solo Kroncong Festival (SKF), Solo Jazz Festival, dan banyak lagi, termasuk Solo Batik Carnival.

Keinginan Pak Jokowi menghadirkan aneka festival bergengsi dan tepercaya, rupanya kian sia-sia saja. Semoga, Pak Widhi sebagai Kepala Dinas Pariwisata bisa membenahi sistemnya. Paling tidak, supaya gelaran festival tak sekadar dapat ramainya saja, namun juga bisa memberi makna bagi kejayaan seni pertunjukan di Indonesia. Selain itu, Solo bisa menjadi kota alternatif untuk peristiwa budaya yang bengengsi, yang tidak hanya terpusat di Jakarta sebagai ibukota negara.

Bukan bermaksud mengecilkan jerih payah Mbak Iil, tulisan ini saya tujukan untuk seluruh seniman, pemikir budaya dan seluruh pemangku kepentingan, termasuk Dinas Pariwisata Kota Surakarta sebagai salah satu sponsor utama SIPA daan festival-festival lainnya.

Hari Batik Nasional

Saya baru ingat kalau hari ini, 2 Oktober, diperingati sebagai Hari Batik Nasional setelah membaca berita di media online. Adalah Mari Elka Pangestu, Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif yang jadi narasumber berita tersebut. Mari, batik, Solo dan Jokowi merupakan empat kata kunci di balik hari bersejarah itu.

Kalau tak salah ingat, penentuan tanggal itu berkaitan dengan pengakuan UNESCO terhadap batik sebagai warisan budaya dunia milik bangsa Indonesia, pada 2009.

Mengapa keempatnya menjadi kata kunci, seingat saya, itu berkait erat dengan Solo Batik Carnival yang digagas Walikota Solo Joko Widodo, atau yang akrab dengan nama panggilan Jokowi. Ya, Bu Mari, ketika itu masih menjabat Menteri Perdagangan, yang kerap ‘mondar-mandir’ ke Solo.

Seingat saya pula, Bu Mari terpikat dengan gaya kepemimpinan Pak Jokowi dalam menata perekonomian kota, dengan pendekatan ‘tak lazim’, yang berpihak kepada warga miskin, pelaku usaha mikro, kecil dan menengah, pariwisata dan industri kreatif.

Ada banyak jejak kontribusi Bu Mari dalam pengembangan perekonomian Kota Solo. Gladag Langen Bogan, pusat kuliner Malak yang populer dengan sebutan Galabo, lahir dari bantuannya. Puluhan hingga ratusan gerobak until pedagang kakilima di sana dan beberapa shelter lainnya, merupakan bantuannya semasa menjabat Menteri Perdagangan.

Pasar malam Ngarsopuro dan penataan kawasan pasar barang antik Triwindu, pun merupakan jejak lain yang ditinggalkan Bu Menteri yang sebelumnya dikenal sebagai ekonom CSIS itu.

Solo Batik Carnival yang melambungkan batik sebagai produk budaya bercorak khas Indonesia, pun berbuntut pada pesatnya perkembangan industri kain itu. Jika semula hanya digunakan sebagai pakaian untuk kondangan atau acara-acara resmi, kini  varian produk batik kian banyak. Tas, sepatu, kaos, dan aneka jenis cinderamata, kini banyak bermotifkan batik.

Tak aneh, jika kemudian batik menjadi pakaian ‘keseharian’, baik dipakai untuk bersantai, kerja kantoran atau keperluan lainnya. Batik lantas meluas, tak cuma milik orang Solo, Yogya, Madura, Pekalongan, Cirebon, Lasem, dan beberapa kota saja, kini banyak orang Papua memproduksi batik dengan corak lokal, yang berciri utama unsur Cenderawasih dan tifa.

Di kota-kota atau kultur masyarakat yang sebelumnya tak memiliki ajar batik, pun kini mulai menggali potensi lokalnya, terutama dalam corak dan motif. Di Kota Solo dan sekitarnya, seperti penuturan seorang pengusaha batik di Kampung Laweyan, Solo, industri batik meningkat pesat dalam lima tahun terakhir. Tak tanggung-tanggung, omzet penjualan batik diperkirakan mencapai 400 persen dari sebelumnya.

Seorang pemilik toko obat-obat/kimia batik di Solo, membenarkan pernyataan pengusaha batik itu. Pembelian lilin dan pewarna meningkat pesat. Padahal, sebagian pewarna berkualitas utama, masih diimpor dari Jerman dan Jepang, atau Cina untuk yang bermutu sedang dan biasa-biasa saja.

Seorang perajin pembuatan cap di Pajang, pun mengaku terus kebanjiran pesanan. Seperti toko bahan kimia batik, pemesan cap berbahan tembaga pun berasal dari berbagai kota, termasuk Banyuwangi, Jakarta, Kalimantan dan Papua. Tentu, selain pemesan dari kota-kota atau daerah yang selama ini dikenal sebagai penghasil batik.

Padahal, pada 1970-1990, industri batik terus meredup. Banyak pengusaha batik di Laweyan gulung tikar dan harus banting setir usaha di liar batik. Tak sedikit yang alih profesi dengan jual-beli mobil, kontraktor, atau usaha lainnya. Pun pedagang dan produsen batik di Kampung Kaufman, Solo. Penyebab utamanya, adalah hadirnya mesin-mesin tekstil, yang memproduksi batik printing, yang oleh pelaku usaha batik tradisional dianggap sebagai ‘batik palsu’ atau batik-batikan.

Menurut praktisi batik, ciri utama batik ada di proses pembuatan, yang menggunakan bahan baku utama berupa lilin (makan) dan pewarna batik. Soal teknik pembuatan, dalam batik hanya dikenal tiga jenis: batik cap, batik tulis dan kombinasi cap dan tulis. Proses pembuatannya pun mengenal beberapa hal baku, seperti dhasaran atau pembuatan pola, proses mewarnai dan menutupnya dengan lilin, dan nglorot, yakni proses meluruhkan lilin.

Jadi, pada peringatan Hari Batik Nasional ini, saya pun ingin mengingatkan kepada siapa saja, supaya tak latah cinta batik, namun hanya melihat dari sisi motif semata. Jika itu bikinan pabrik, keluaran mesin cetak, maka jangan lagi menyebutnya sebagai batik.

Kasihan para pembatik tulis halus yang kini masih banyak tersebar di Klaten, Sukoharjo, Wonogiri, Sragen dan Karanganyar serta daerah-daerah lain, tidak kehilangan gairah mempertahankan warisan budaya leluhur yang sangat kreatif itu. Asal tahu saja, dua produsen batik ternama asal Solo, yang produknya mendunia dengan harga lebih dari lima juts rupiah per potong, itu sejatinya dibuat oleh nenek-nenek di perkampungan nun jauh dari Solo, dengan upah tak sampai sejuta per poring. Padahal, masa pengerjaan batik tulis bisa memakan waktu sebulan hingga tiga bulan, tergantung tingkat kerumitannya.

Kebanyakan para pembatik tulis itu, pun menggunakan pola kerja borongan, yakni dibayar per potong, bukan berhonor bulanan yangj upahnya mengacu UMR, UMK, UMP, atau apapun namanya. Ironisnya, sangat sedikit generasi muda yang menyukai profesi membuat batik tulis. Bisa jadi, tingginya pendidikan dan upah ‘tak seberapa’ yang membuat generasi muda kini memilih kerja di pabrik atau sektor lain di kota.

Jadi, percayalah. Jika Anda mengenal batik yang sesungguhnya dan mau membelinya untuk aneka macam kegunaan, maka mulialah hidup Anda, sebab ada rangkaian panjang orang-orang yang terkait dengan industri rakyat bernama batik itu. Tentu, akan dicap sebaliknya, andai batik yang Anda kenakan masih hasil produksi massal, lewat mesin-mesin raksasa yang cukup dikendalikan satu-dua orang buruh saja untuk menghasilkan ribuan meter dalam sekejap.

Mari kita cintai dan lestarikan batik Nusantara…

Karnaval Minim Lampu

Hanya dalam hitungan menit usai barisan terakhir meninggalkan lokasi pemberangkatan, Solo Batik Carnival 2011 sudah menuai protes. Banyak keluhan terpampang pada linimasa Twitter. Ada yang mengeluhkan tata cahaya yang kurang memadai, soal kemacetan di mana-mana akibat penutupan jalur, dan masih banyak lagi.

Persiapan menjelang karnaval

Mengenai minimnya tata cahaya, saya sudah memprediksi lewat catatan saya sebelum ini. Daya listrik besar untuk menyalakan lampu membutuhkan pembiayaan besar. Satu lampu berdaya 1.000 watt hanya cukup untuk menerangi beberapa belas meter bidang, sementara karnaval menempuh rute sejauh tiga kilometer. Berapa banyak lampu diperlukan di kedua sisi jalan, selain kebutuhan filter dan penyangganya?

Semua memang soal angka. Niat bisa melahirkan kreativitas mencari solusi sumber dana, demi memecahkan kebutuhan akan angka. Beberapa panggung yang diinisiasi swasta memang membuat nyaman pengunjung yang membeli tempat duduk yang dijual penggagasnya. Kenyamanan menuntut konsekwensi yang logis. Memang, itu pertanda baik. Swasta mau menyukseskan acara, sebagian dari masyarakat bersedia membayarnya.


Akankah karnaval batik yang menjadi ikon wisata nasional itu juga memberi ruang apresiasi bagi publik yang lebih luas, masyarakat kebanyakan itu? Sepertinya masih ada jarak. Kesenjangan akses tepatnya.

Tapi, apakah lantaran nonton karnaval secara gratisan, publik harus nrima, mengalah dengan cara rela berdesakan dan menyaksikan penampilan para peragawan/peragawati dengan pencahayaan lampu merkuri semata, yang tiap beberapa menit butuh ‘istirahat’ alias mati dulu beberapa saat supaya tak lekas aus?


Tentu saja tak bisa dijawab dengan argumentasi diplomatis yang dibuat logis, bahwa karena publik cuma bayar pajak penerangan jalan umum (PPJU) sekali setiap bulan, lantas ‘haknya’ dibuat sepadan dengan bea yang dikeluarkan. Jer basuki mawa beya tak berlaku di sini.

Solo Batik Carnival digagas dan didesain untuk memberi kemanfaatan kepada semua pihak. Bukan asal bisa menghibur.

Karnaval hanyalah cara mewujudkan upaya Pemerintah Kota Surakarta mengangkat pamor industri batik. Jika batik dan industrinya maju, maka identitas kultural masyarakatnya kian menonjol, dikenal hingga belahan dunia lain. Aspek ekonominya bukan terentang di seputar lokasi produksi batik. Tengkulak, pengecer dan tukang becak pun bakal menikmati gurihnya dampak kuatnya mata rantai industri batik.

Peserta karnaval diseleksi panitia, dibagi ke dalam beberapa kelompok, selebihnya mmproduksi dengan biaya sendiri. Murni partisipasi...

Jadi, jika karnaval tahunan itu hendak digelar pada malam hari tahun-tahun mendatang, maka tata cahaya menjadi faktor penting. Event organizer yang berpengalaman perlu digandeng agar Dinas Pariwisata tidak kedodoran mengurus pwehwlatan sebesar itu sendirian.saa akin ada banyak event organizer yang mampu membawa sponsor untuk menutup pembiayaan.

***

Sejujurnya, saya mendapat pemberitahuan seorang teman melalui telepon. Dia bercerita, di lobi hotel tempatna menginap, banang orang memperbincangkan karnaval batik itu. Bagus, tapi sayang, kata sang teman. Tata cahaya adalah satu pokok soal yang paling sering dikeluhkan banyak orang. Mereka datang dari Jakarta dan kota-kota lain di Indonesia, bahkan luar negeri, demi menyaksikan sensasi karnaval. Mereka keluar banyak dana untuk melunaskan rasa ingin tahunya.

Soal lain, semrawutnya pelaksanaan, sehingga ribuan penonton merangsek ke tengah jalan sepanjang rute karnaval. Rumput dan tanaman penghijau kota rusak seketika terinjak-injak massa tanpa mau tahu,bahwa untuk menanam dan merawatnya pun butuh biaya. Publik memang ingin melepaskan rasa penasaran. Antisipasinya saja yang masih kurang.

Abdi dalem QWERTY

Belum kemacetan di berbagai ruas jalan yang diakibatkan berjubelnya kendaraan, baik yang mau menyaksikan karnaval maupun sekadar melintas, akibat penutupan ruas jalan dan pengalihan rute jalan. Tak sedikit yang mengeluh lewat Twitter, mempertanyakan keberadaan polisi lalu lintas di sejumlah kawasan, termasuk macetnya Manahan yang dekat dengan kantor pusatnya polisi di Solo.

Di mana petugas DLLAJ atau polisi lalu lintas? Semoga itu menjadi catatan untuk perbaikan kelak. Banyak orang berharap karnaval pada malam hari digelar kembali, karena memang lebih memberi kelebihan nilai sensasi, selain tidak membuat peserta karnaval kegerahan seperti jika digelar sore hari.

***

Satu hal penting lainnya, adalah melakukan edukasi kepada publik, para calon penonton. Nyaris di antara sepuluh orang, satu penonton di antaranya membawa kamera, entah kamera yang menyatu dengan telepon seluler maupun kamera saku. Mereka ingin merekam segala ragam dan pernik-pernik karnaval sebaik mungkin. Maka, merangseklah mereka ke tengan catwalk panjang… Jalanan pun riuh, crowded.

Semua foto ilustrasi di postingan ini, dibikin pakai BlackBerry Gemini yang tanpa lampu flash itu...

Upaya memang sudah dilakukan sebagai antisipasi agar tak ada pihak yang merugi. Termasuk, dibuatkanlah sejumlah kartu identitas untuk wartawan foto dan televisi. Itu menjadi solusi setelah para pewarta mengeluhkan sulitnya memperoleh gambar memadai untuk keperluan penyebaran informasi.

Banyak wartawan merasa terganggu dengan ulah kebanyakan penggemar fotografi, yang demi mengejar hasil foto bagus, mereka tak jarang menodai keindahan itu sendiri. Dengan lensa sudut lebar demi mengejar detil, mereka menempel peserta karnaval. Jumlahnya tak satu-dua orang atau belasan. Mereka bisa puluhan!

Pada karnaval kemarin, malah para fotografer amatir itu membuat identitas sendiri, setengah resmi alias berlisensi. Alhasil, para pewarta foto kembali ngamuk-ngamuk, baik spontan secara lisan maupun di jejaring sosial lewat tulisan bernada kemarahan, hingga wacana boikot. Mereka merasa tak berdaya, identitas khususnya pun tak berguna.

Yang berkaos merah (kiri) itu wartawan. Selebihnya, pemburu gambar yang kerap bikin kotor obyek bidikan kamera pewarta foto dan televisi

Jika pemburu gambar indah saja tak tahu memaknai dan mengupayakan terwujudnya rekaman indah, bagaimana penonton kebanyakan tak terdorong untuk ikut-ikutan? Singkat cerita, jalanan menyempit, peserta karnaval pun tak leluasa berjalan. Keindahan, pun tinggal kenangan.

Siapa yang rugi ketika situasi berubah seperti demikian?

Semua rugi. Jerih payah peserta, yang menyiapkan diri secara swadana hingga memakan dana jutaan rupiah seperti sia-sia. Promosi wisata yang dirintis pun kembali sia-sia karena terlalu banyak catatan kekurangan tertanam di benak khalayak. Publik harus introspeksi atas perilakunya, begitu juga pemerintah sebagai penyelenggara mesti lebih tegas membuat aturan main.

Bagaimana peserta karnaval nyaman mewujudkan amal kebaikannya, penonton bisa menikmati jalannya acara, dan tanaman di sepanjang pembatas jalan tak rusak karena terinjak-injak ribuan pasang kaki yang tak peduli. Itu merupakan pekerjaan rumah yan tak sederhana, terutama bagi Dinas Pariwisata.

Bahwa secara animo khalayak bisa diprediksi, mestinya pemerintah gencar melakukan sosialisasi dan edukasi, sehingga semua target pemangku kepentingan bisa terpenuhi. Sukses sudah pasti ada pada sejumlah sisi. Hanya perlu penyempurnaan di kemudian hari. Empat kali penyelenggaraan sudah cukup jadi bekal evaluasi, lantas jadi bahan untuk memperbaiki.

Semoga, Solo Batik Carnival 2012 lebih bisa dinikmati. Selamat kepada Pemerintah Kota Surakarta yang sudah berhasil mencetak ikon wisata baru Indonesia.

Lihat pula koleksi foto Solo Batik Carnival 2011

Karnaval Malam Hari

Sabtu, 25 Juni 2011 akan menjadi catatan sejarah, kiat Pemerintah Kota Surakarta menyuguhkan peristiwa wisata. Solo Batik Carnival keempat akan dilangsungkan pada malam hari. Kalau tak salah, Festival Rio de Janeiro-lah yang dijadikan rujukan, lantas dibumikan, dengan rasa Solo yang kental. Ya dengan batiknya itulah, Solo dihadirkan.

Dari segi kenyamanan, publik memang dimanjakan. Setidaknya, tidak kepanasan seperti karnaval batik yang sudah digelar tiga kali sebelumnya. Peserta karnaval, yang tahun ini terdiri dari 500 orang, pun tidak kuatir dengan rusaknya riasan akibat gerusan peluh yang mengucur akibat kegerahan.

Soal apakah tata lampu akan mampu memuaskan rasa ingin tahu publik, sudah barang tentu menjadi tantangan tersendiri. Catwalk aspal sepanjang tiga kilometer perlu daya ratusan kilowatt jika kualitas penerangan hendak disamakan dengan tata cahaya panggung peragaan busana seperti digelar para perancang busana ibukota.

Menjadi catatan menarik ketika banyak industriawan lokal mau terlibat dengan membangun sejumlah panggung di sejumlah titik di sepanjang Jl. Slamet Riyadi. Menjual tempat duduk juga bisa disikapi sebagai upaya mendidik publik untuk mengapresiasi sebuah kerja kesenian, selain untuk mengongkosi produksi.

Bahwa akan ada yang nyinyir, menyebut Solo Batik Carnival sebagai kegiatan hura-hura dan hanya menjadi forumnya kaum kaya, biarlah itu ditepis dengan fakta. Bahwa industri batik menggeliat lantas membuat sejumlah pengusaha kian kaya, itu sebuah konsekwensi logis dalam sebuah hukum ekonomi.

Toh, kian banyak orang yang turut menikmati geliat batik, baik secara langsung maupun tidak langsung. Ada buruh batik yang kian terjamin pendapatannya, ada sopir mobil carteran yang mendapat tambahan komisi, ada pengayuh becak yang kian sering mendapat tamu, dan masih banyak lagi. Terutama orang-orang dekat para buruh batik, sopir taksi, pengayuh becak, seperti anak, suami/istri dan anggota keluarga lainnya.

Tentu, itu belum termasuk pemilik dan anggota keluarga pemilik warung-warung yang disinggahi wisatawan, pekerja hotel dan penginapan, pedagang sayur-mayur, dan banyak lagi. Sangat panjang mata rantai dan efek dari geliat industri batik. Semua saling menopang, saling memperoleh manfaat.

Partisipasi publik, termasuk industriawan yang turut meramaikan dan menjadi sponsor aneka event pendukung Solo Batik Carnival pun bisa dilihat sebagai jalan keluar mengatasi keterbatasan dana pemerintah untuk sebuah perhelatan akbar semacam itu. Sangat keliru jika beranggapan Pemerintah Kota Surakarta harus menanggung semuanya, sebab dengan begitu berarti mengurangi porsi anggaran untuk memenuhi hak warga kota, seperti sektor kesehatan, pendidikan, dan banyak lagi yang juga sama pentingnya.

Yang perlu disadari banyak pihak justru bagaimana warga Kota Solo bisa memanfaatkan momentum keramaian Solo Batik Carnival sebagai sarana mempromosikan apa saja. Para pelukis bisa menggelar karya-karyanya melalui pameran atau bazar, begitu pula produsen aneka kerajinan dan aneka kuliner.

Bahwa penyelenggaraan Solo Batik Carnival pada malam hari kali ini masih diragukan kesuksesannya, dalam arti sepanjang Jl. Slamet Riyadi akan benderang bagai catwalk sebagaimana diangankan banyaak orang, biarlah waktu yang membuktikan. Toh, karnaval batik juga mengundang kontroversi pada awalnya, namun diakui dan dinanti adanya di kemudian hari.

Kita tak bisa melihat dan menilainya hanya pada satu sisi semata. Ada banyak hal dan beragam faktor yang bisa dan akan menjadi catatan untuk perbaikan pada penyelenggaraan kemudian. Saya optimis, walaupun di beberapa spot akan tampak temaram lantaran karya-karya kreatif peserta hanya kena terpaan lampu merkuri yang cenderung meniadakan warna asli, publik masih akan bisa menyadari kekurangan ini.

Namun, dari situlah akan muncul gagasan perbaikan di kemudian hari. Mari kita sambut Solo Batik Carnival keempat nanti dengan lapang hati. Tema legenda pasti akan menghadirkan sensasi baru, setelah tema topeng pada karnaval lalu. Welcome The Legends, selamat datang Solo Batik Carnival…