Menyoal Full Day School

Seorang keponakan baru lulus sekolah dasar. Ketika mendengar orangtuanya akan menyekolahkan lelaki sulungnya ke pondok pesantren, yang saya pesankan hanya satu: carikan pondok yang masih mengajari santrinya dengan sholawatan, tahlilan, yasinan dan sejenisnya. “Supaya setelah mondok, anakmu tidak melupakan orangtuanya!” pesan saya.

Dalam keyakinan saya, selama masih ada tahlilan dan sejenisnya, keponakanku pasti akan mencintai negeri ini. Nilai-nilai Pancasila pasti akan mewujud dalam perilaku kesehariannya, dan bisa dipastikan pula akan terjauhkan dari radikalisme dan pandangan sempit yang merasa diri dan kelompoknyalah yang paling benar.

Ya, sifat dan sikap merasa benar itulah yang belakangan sangat menghantui pikiran saya, juga jutaan bangsa Indonesia. Sungguh menyedihkan ketika teman-teman saya yang tinggal di kota, apalagi kota besar, mengeluhkan kian banyaknya anak-anak TK dan SD sudah fasih mengafir-kafirkan temannya sendiri karena berbeda agama. Lebih miris lagi, ketika beredar video, sebuah pawai anak-anak di Jakarta, yang meneriakkan kalimat-kalimat ‘bunuh Ahok’ dengan lantang berulang-ulang. Continue reading