Drama Minim Improvisasi

Seni drama rupanya menjadi cabang kebudayaan paling diminati kelas menengah Indonesia. Ia setingkat lebih tinggi dibanding seni musik, lantas disusul cabang paling sepi peminat:seni tari! Andai Iman Soleh, Wawan Sofwan, Sitok Srengenge, Yudi Ahmad Tadjudin, Muhamad Sunjaya, Landung Simatupang, dan kawan-kawan mau buka kursus privat, dijamin laku keras.

Potensi ‘pasar’ calon-calon aktor/aktris handal sungguh luar biasa. Dan kepada merekalah, sesungguhnya kita bisa menggantungkan harapan luar biasa akan masa depan seni drama. Selama ini, kebanyakan dari peminat seni drama masih lemah dalam reading, intensitas penjiwaannya pun lemah. Akibatnya, kerap muncul kekacauan saat pemanggungan.

Untuk menghasilkan tontonan yang sempurna, seharusnya aktor/aktris sudah paripurna dalam hal penghayatan naskah. Ide-ide cerita drama kontemporer Indonesia sudah sangat banyak, kendati harus jujur diakui pula, tak banyak yang mampu menuliskannya. Padahal, ukuran keberhasilan pemanggungan sebuah drama itu sederhana saja: penikmat bisa larut dan merasakan apa yang terjadi di panggung.

Jadi, selain harus didukung naskah yang bagus, aktor/aktrisnya pun harus sempurna membawakan perannya, termasuk harus mampu melakukan improvisasi jika lupa dialog. Memang, untuk mencapai ke sana, sebaiknya dilakukan latihan sesering mungkin, dan tidak cukup dengan acting course yang singkat.

Dulu, semasa Pak Suyatna Anirun masih hidup, Studiklub Teater Bandung (STB) sering menggelar acting course, namun kini sepertinya sudah tak ada lagi. Akademi Seni Drama dan Film (Asdrafi) Yogyakarta, konon masih hidup, tapi entah seberapa banyak mahasiswa dan tenaga pengajarnya. Hanya saja, para calon-calon seniman drama kita, kebanyakan tak punya cukup waktu untuk bersekolah dalam waktu yang cukup lama.

Calon-calon aktor/aktris handal kita, kebanyakan memiliki kesibukan di pemerintahan, legislatif, yudikatif dan bidang-bidang lain, termasuk di lembaga kepolisian.

Cak Munir (2004) adalah salah satu naskah drama yang sejatinya nyaris sempurna, yang pernah kita punya. Meski penulis dan sutradaranya sengaja dibuat anonim, namun pemanggungannya nyaris sempurna. Coba cermati kehadiran arsenik, pemindahan tempat duduk dari kelas ekonomi ke eksekutif untuk Munir. Sebagai drama realis, alur cerita dan konflik yang dibangunnya nyaris sedahsyat Julius Caesar yang ditulis William Shakespeare pada 1599.

Mari kita renungkan baik-baik. Seandainya naskah Simulator SIM yang dibuat secara keroyokan oleh penulis-penulis di Mabes Polri diperankan oleh mereka-mereka yang khatam seni peran, saya yakin baik Kapolri, Kabareskrim, Gubernur Akpol Djoko Susilo dan kawan-kawan akan mampu melakukan improvisasi meyakinkan, sehingga tidak memberi ruang wartawan kriminal dan politik membuat tafsirnya sendiri-sendiri.

Presiden, bahkan akan tetap terjaga kewibawaannya, karena akan mampu bertindak sigap dan sitematis menyelesaikan kebocoran pemanggungan naskah drama. Dengan demikian, tidak akan ada ruang bagi diplomat-diplomat asing di Jakarta untuk mengirimkan kawat atau nota diplomatik bagi kepala negara yang menugaskan mereka, tanpa tertawa-tawa mencemooh kita.

Tentu, kita akan sangat malu kepada Duta Besar Polandia, Rusia, Inggris, Perancis, Jerman, Norwegia, Jepang dan banyak lagi, sebab naskah-naskah drama mereka terlalu banyak dipelajari mahasiswa sastra dan pekerja seni Indonesia. Padahal kita tahu, naskah-naskah lama mereka teramat hebat, bahkan banyak yang masih relevan hingga masa kini.

Saya yakin, sebagian besar legislator, jaksa, hakim, polisi, bahkan para petinggi negeri ini, sangat membutuhkan referensi dan kursus seni peran. Saya yakin pula, mereka sejatinya malu dan menyesali kegagalan proses penyutradaraan/pemanggungan naskah-naskah mereka.

Pada drama Simulator SIM (2012), misalnya, terdapat kegagapan ketika aktor-aktor KPK mendatangi Markas Korlantas Mabes Polri. Improvisasi gagal dilakukan ketika pemeran pembantu yang tidak pernah mempelajari naskah (apalagi ikut proses reading), tiba-tiba enggan membuka portal dan pintu gerbang yang memungkinkan mobil-mobil KPK mengangkut barang bukti.

Kekacauan kian menjadi-jadi, ketika pejabat kehumasan yang seharusnya berperan sebagai narator, pengantar ceritera, gagal mengatur pemunculan aktor-aktor pendukung dengan dialog yang seharusnya taat naskah. Tapi apa lacur, bisa jadi lantaran naskah tidak pernah dibagikan kepada semua aktornya (termasuk kepada penata artistik), maka pemanggungannya benar-benar kedodoran.

Drama kian terasa konyol dan justru membuat penonton kian marah dan geram, sebab improvisasi-improvisasinya sangat minim ditunjukkan oleh semua pemainnya. Penonton yang merasa sudah membayar mahal harga tiket (berupa aneka macam pajak) dan memiliki harapan terhibur, tiba-tiba disuguhi cerita yang tak tuntas, bahkan terkesan tanpa persiapan memadai. Seburuk-buruknya penonton, pastilah mereka punya standar umum, mana cerita yang enak mudah diikuti, dan mana yang membuat kerut kening dan dongkol.

Pada drama politik Ceramah SARA (anonim, 2012), misalnya, lebih parah lagi bukti kedodorannya penyutradaraannya. Pelakon ustad (ada yang biasa-biasa saja, ada yang aktor pesohor) yang mengusung dialog-dialog nyinyir dan menyodorkan permusuhan di dalam masjid, misalnya, disebut pelakon Pak Gubernur sebagai wajar karena pilihan kata (diksi) sang pendakwah.

Anehnya, aktor dangdut yang juga terkenal sebagai artis musik, pun yakin apa yang dikatakannya di masjid sebagai bentuk ‘penerangan’ semata, bukan bertujuan memojokkan orang lain dengan muatan SARA. Untungnya, sang pedangdut yang lagi akting ustad, tidak dihadapkan pada sumpah di bawah Al Qur’an, sehingga tidak menyulitkannya di dunia nyata.

Andai para politisi, legislator dan pejabat-pejabat negeri mau belajar seni sastra dan drama, pastilah pemanggungan kebohongan mereka tak mudah ditebak penontonnya. Mereka beruntung, penonton drama Indonesia bukan tipe penonton brutal, yang lantas menyerang pemain atau membakar gedung ketika pertunjukan yang disaksikannya tak sebanding dengan harga tiket yang sudah dibelinya.

tulisan ini juga diunggah di Kompasiana

Mengatur Adegan Foto

Ketika foto yang saya ambil secara candid itu diunggah ke Facebook, sang fotografer yang saya tampilkan di foto itu mencak-mencak. Apalagi, dia sudah mewanti-wanti agar saya tidak meng-upload foto yang satu itu, saat saya tunjukkan kepadanya. Andai petang itu terjadi deal, entah disogok apa, mungkin saya rela menghapus file-nya. Hahaha…..

Aksi fotografer ini menarik diabadikan. Orangnya serius, maka tak aneh karyanya masuk nominasi dalam lomba foto Pesta Blogger 2009

Aksi fotografer ini menarik diabadikan. Orangnya serius, maka tak aneh karyanya masuk nominasi dalam lomba foto Pesta Blogger 2009

Rupanya, lelaki muda yang blog dan salah satu karya fotonya masuk nominasi pada ajang lomba foto Pesta Blogger 2009, itu risih, setengah malu. Dia protes, sambil membawa-bawa istilah semiotika gambar segala, sebab orang yang melihat foto itu bisa saja menafsir sang fotografer sedang nginceng daleman seorang perempuan yang melintas di depannya.

Memang, gaya memotretnya tak lazim, meski harus dipahami itu sebagai upaya kreatif sang fotografer untuk memperoleh gambar yang bagus, meski yang sedang dia bidik adalah bangunan tua, yang tak bakal beringsut kemana-mana, yakni Gereja Blenduk di kawasan Kota Lama, Semarang.

Namun, justru cara memotretnya yang tak lazim itulah yang menggelitik saya untuk mengabadikannya. Kebetulan, saya sudah memperhatikan gayanya memotret belasan menit lamanya. Pinginnya, bidikan terfokus pada dia, dengan foreground roda kendaraan bermotor yang melintas di depannya. Dalam benak saya, citra blur atau panning pada latar depan akan dramatik.

Dasar memang tolol dan amatiran, beberapa frame hasil rekaman masuk kategori layak hapus. Tiba-tiba, saya melihat seorang perempuan mengayuh sepeda secara melawan arus. Sang fotografer yang memicingkan mata di balik kamera terlalu memfokuskan perhatiannya pada bidikannya, hingga tak sadar ada yang hendak melintas di depannya. Maka, dari seberang jalan kutekan tombol pelepas rana kamera saya yang selalu pada status continuous mode.

Seperti saya sebutkan pada awal cerita, sang fotografer yang gagal nego dengan saya, mencoba mengajukan jurus yang diyakininya bakal jitu. Katanya, orang akan menuduh foto itu sebagai hasil setting-an, atau adegan yang diatur, dipersiapkan demi hasil yang bagus, sesuai keinginan sang pemotret. Dia tahu, nyetting termasuk perbuatan hina, karena itu akan menjadi aib bagi yang melakukannya.

Kalau ini foto setting-an. Mas Goen tiba-tiba bilang menarik kalau difoto buat stok ganti profil Facebook

Kalau ini foto setting-an. Mas Goen tiba-tiba bilang menarik kalau difoto buat stok ganti profil Facebook

Karena memang ndableg, saya tak peduli dengan bujukannya. Orang mau bilang apa kepada saya, tak bakal ada pengaruhnya buat saya. Bisanya juga cuma pertunjukan yang menggunakan penerangan lampu sangat terang. Lagi pula, hasilnya juga untuk menghibur harddisk komputer, supaya keberadaannya di rumah saya menjadi lebih berarti. Itu saja.

*****

Bahwa nyetting itu aib, apalagi bagi foto jurnalis, toh masih ada saja yang melakukannya. Demi gambar bagus, dramatik, menyentuh perasaan, dan entah apalagi alasannya, ada saja yang rela melakukannya. Posisi sebagai fotografer pun dilengkapi dengan kemampuan menjadi sutradara.

Di beberapa tempat, malah saya sering mendengar seorang fotografer meminta demonstran bergaya, berteriak sembari mengepalkan tangan agar didapat hasil foto yang ‘berbicara’, seolah-olah spotnews sungguhan. Pada bentuk lebih halus, meski sejatinya sadis, fotografer sengaja ngompori polisi agar mau merazia atau menghardik orang berpacaran di taman, sementara dari kejauhan ia mengarahkan lensa tele-nya sambil menebak-nebak seperti apa reaksi targetnya.

Apakah peran demikian itu hanya menjadi monopoli fotografer? Tidak! Kameraperson televisi pun banyak yang melakukan hal serupa. Penyutradaraan malah sering lebih terencana, sehingga hasilnya bisa disebut sempurna. Memang agak panjang cerita, semoga Anda tak bosan membacanya.

Suatu ketika, jurnalis televisi mendatangi sebuah pertemuan sekelompok orang di sebuah gedung. Ia sudah selesai mengambil stockshots, baik berupa jalannya acara beserta pernik-perniknya hingga wawancara tokohnya. Merasa kurang hot, ia pun menelepon sekelompok orang yang memusuhi kelompok pertama, untuk mereaksi atas kegiatan yang baru saja diliputnya.

Tak lama berselang, sekelompok orang datang, berteriak-teriak mengecam pertemuan dan menuntut pembubaran dengan segera. Sang kameraperson pun memperoleh gambar dramatik, ekspresi orang kesetanan karena bernafsu menyerang musuhnya, juga suasana kekacauan di ruang pertemuan, serta bumbu reaksi masyarakat awam yang menghentikan perjalanan atau berbondong-bondong menyaksikan ‘keributan’.

Tukang setting kebanyakan peka dalam selera, meski sejatinya mati rasa.