Untuk Apa LSM Kesenian?

Semula, saya mengira hanya sendirian memiliki prasangka demikian. Yakni, curiga pada sebuah organisasi nirlaba yang bergerak dalam bidang seni pertunjukan. Prasangka yang saya punya, lembaga itu tak tulus memajukan seni pertunjukan di Indonesia. Seniman dan seni pertunjukan menjadi aset bagi mereka, terutama ketika berhadapan dengan funding agency yang memang tak seberapa jumlahnya.

Pertunjukan Butoh dalam Jogja International performing Arts Festival 2009

Pertunjukan Butoh dalam Jogja International performing Arts Festival 2009

Saya tidak menyebutnya sebagai ‘tak berguna’, sebab nyatanya, lembaga itu bisa menjadi semacam penghubung dan penjamin, antara seniman sebagai (maaf) produsen dengan konsumen yang beraneka rupa. Ada festival dan ada pusat-pusat kebudayaan, yang semuanya menjadi ajang dialog multikultural. Sangat jarang ada individu yang bersedia menghadirkan seniman ke dalam ruang-ruang sosial mereka, kecuali seniman-seniman yang memilih jalur pop culture atau mainstream.

Saya ingat, setahun silam, ada seorang teman yang baru beberapa bulan bekerja di lembaga itu menelepon dan meminta saya menyampaikan catatan-catatan saya atas keberadaan lembaga itu. Dengan tangkas saya menukas, ”Maaf, saya tak mau memberi penilaian terhadap lembagamu. Orang-orang yang ada di situ sudah tahu apa yang seharusnya mereka lakukan untuk memajukan seni pertunjukan di Indonesia!”

Teman itu ngotot, mencoba merayu saya untuk berpendapat. Beberapa kalimat pendek meluncur tak terbendung, lalu menutup harapannya dari saya:

Saya sudah tahu dan merasakan sendiri, dimana lembagamu tak pernah menghargai seniman. Merajuk-rajuk agar saya mau membuat dokumentasi event mereka, namun menawar honor seperti orang jual-beli di pasar loak. Kalau cara mereka memperlakukan orang lain seperti itu, bagaimana mereka bisa mengangkat citra dan kesejahteraan seniman???

Banyak kritik terhadap institusi yang saya sebut sebagai Lembaga Sedot Money itu. Pertama, mereka tahu banyak seniman yang ‘belum berdaya’, bahkan untuk mengakses sebuah bisa tampil di pusat kesenian kredibel di tanah air. Terhdap mereka, mestinya bisa menjadi jembatan, termasuk support pembiayaan produksi.

Kenangan Sang Daster, koreografi Iik Suryani

Kenangan Sang Daster, koreografi Iik Suryani

Mungkin, mereka akan berkilah sudah turut memberikan dana berstatus hibah. Namun, yang terjadi seniman ora bisa obah, tak leluasa bergerak, melakukan akrobat anggaran. Contohnya, bila dalam proposal dibuat anggaran tiket pesawat lalu dibelanjakan kapal laut agar bisa berhemat lantas bisa dikonversi sebagai tambahan honor artis, dipersalahkan. Pengeluaran anggaran harus dibuktikan dengan nota dan sebagainya, dan bila terdapat sisa akan ditarik kembali.

Kedua, sistem kuratorial. Seseorang atau grup kesenian yang mengajukan proposal diseleksi oleh tim yang terdiri dari ‘orang-orang pusat’, yang sebagian dikenali sebagai orang yang jarang menyaksikan peristiwa seni pertunjukan, bahkan di berbagai tempat pertunjukan di Jakarta.

Bila mereka yang tinggal di Jakarta saja jarang menonton pertunjukan di sekitar mereka, bagaimana mereka tahu track record seniman-seniman di ‘pedalaman’? Mengandalkan kliping media massa jelas tak cukup untuk dijadikan acuan penilaian. Tak banyak jurnalis yang mau membuat laporan (apalagi paham) peristiwa seni pertunjukan, kecuali nama-nama seniman beken.

Dokumentasi video proses atau pementasan sebuah karya pun tak cukup untuk dijadikan acuan untuk memutuskan layak-tidaknya seseorang memperoleh support, entah dalam bentuk sponsorship biasa maupun hibah pembiayaan seluruh proses produksi. Padahal, asal tahu saja, lembaga kebudayaan semacam itu memiliki jaringan funding atau donor dengan aliran pembiayaan yang bisa dibilang besar.

Satu hal yang sering terlewat adalah kriteria seseorang layak di-support. Menurut saya, seseorang yang memiliki konsistensi dan dedikasi tulus pada seni pertunjukanlah yang mesti diprioritaskan. Pada kelompok ini, rekam jejaknya akan kelihatan melalui karya-karya yang diciptakan. Sebaliknya, orang-orang baru bisa saja menciptakan karya yang megejutkan.

Namun sering terlupakan, kadang ada faktor orang lain di belakang si seniman yang cukup mendominasi, dari sejak berupa ide hingga visualisasi atau ekspresi gagasan. Sehingga, si seniman lebih pantas disebut boneka, sebab pada dasarnya produknya tak murni lahir dari proses kreatifnya sendiri.

Benar, lembaga itu sudah cukup sering memberikan pelatihan, dari sisi manajemen maupun capacity building yang sejatinya masih terkait dengan urusan tata kelola organisasi. Namun, yang sering membuat frustrasi adalah perbedaan parameter dan latar belakang mentor dengan peserta pelatihan.

Seorang fasilitator atau narasumber dari Amerika bisa bercerita panjang lebar mengenai bagaimana mengelola grup kesenian dan penyelenggaraan pementasan yang baik. Namun, mereka lupa atau tak tahu, bahwa di Indonesia, seorang seniman masih harus menabung atau bahkan menjual barang-barang milik pribadi demi bisa sukses tampil. Tak ada seniman yang saat ‘nganggur’ atau sepi order memperoleh santunan dari negara.

Namun, kadang-kadang jengkel juga ketika melihat teman-teman seniman, yang karena ‘rindu pentas’ atau kebelet manggung sudah merasa ‘sangat terhormat’ ketika memperoleh dana hibah untuk sebuah proses produksi. Apalagi, ketika berhasil memperoleh tambahan sponsor dari sana-sini, keseluruhan pengeluarannya lantas diminta untuk dilaporkan seutuhnya, padahal di luar dana hibah yang telah dikeluarkannya.

Sudah waktunya, lembaga demikian tidak hanya ‘menjual’ seniman, namun pelan-pelan memberdayakan mereka, sehingga mampu mandiri, termasuk di antaranya sanggup membangun jaringan yang diwariskan melalui metode pelatihan-pelatihan. Tapi kapan?

Saya yakin, besaran nominal yang bisa disisihkan untuk para artis dan pencipta dari dana hibah melalui proses tiga bulan hingga setahun tak sebanding dengan gaji/honor para staf di lembaga sedot money (LSM) kesenian. Kalau mereka bisa menikmati gaji besar, yang diperoleh seniman belum tentu lebih besar dari upah minimum regional.

Kartu Nama untuk Yeyen

Tersebutlah nama Yeyen di keremangan jagad Kota Surakarta. Ya, konon Yeyen merupakan idaman semua orang. Ada yang menjulukinya gemati alias penyayang, ada yang menjulukinya perempuan trampil trengginas. Usianya, konon kelewat muda dibanding teman-teman seasramanya, sebuah motel kuno yang terletak di tengah sebuah perkampungan.

Banyak orang datang kepadanya, bahkan pelanggan setianya datang dari luar kota. Ada yang harus menyediakan waktu semalam berkereta eksekutif, ada pula yang rela menempuh satu setengah jam perjalanan dengan mengendarai mobil pribadi. Tak mahal untuk ukuran beberapa pelanggan setia, yang berpendapatan bulanan layaknya kontraktor bangunan kelas C di Surakarta.

Tarif yang kudengar dari bisik-bisik mereka, hanya sepertiga dari sejawat Yeyen yang bekerja dalam sebuah sindikasi akuarium berlampu terang.

Si A dari Kota Z, misalnya, menyebut Yeyen punya totalitas berbeda dengan kebanyakan perempuan yang pernah dikencaninya. “Dia akan memanggilmu Den bila memberi lebih, dan akan takzim menyebutmu Ndoro bila engkau melebihi lima puluh ribu saja dari tarifnya,” ujar A.

Si B lain lagi menjuluki Yeyen. Katanya, dia jagoan (eh, betinaan) mandi kucing. “Ia sanggup dan rela menjadi kucing, memandikan kamu dengan lidahnya,” ujar Si B.

Si D dan Si E pasti punya impresi lain lagi. Subyektifitas selalu melekat dalam diri mereka, yang kebetulan berprofesi nyari sama: s.e.n.i.m.a.n! Maka, idiom yang dilekatkan untuk Yeyen pun tak bakal jauh menyimpang dari istilah-istilah seni.

Di kalangan mereka, malah ada julukan atau sandi khusus yang diambil dari tokoh dalam novel Romo YB Mangunwijaya. Lusi Lindri dilekatkan pada perempuan berusia lebih dari 35 tahun, yang entah apa nama sebenarnya.

Pernah, suau ketika, Yeyen tertimpa musibah. Seorang pelanggannya tewas di dalam mobil pribadinya, tak lama seusai berkencan dengannya. Yeyen masih di kamar saat ditinggalkan lelaki setengah baya itu. Polisi lantas memeriksa Yeyen, sebab nomor teleponnya belum hilang dari call lists di telepon genggam lelaki bejat nan malang itu.

Akibat kasus itu, kabarnya Yeyen sempat menghilang dari asrama. Kabarnya, ia ngengleng, menjadi tidak waras lantaran diperas hingga belasan juta rupiah, lalu ia pulang ke kampung halamannya di Jawa Timur sana. Anehnya, mungkin juga karena seniman suka bermain-main dengan mood dan rasa, ada saja gagasan mewujudkan keprihatinan yang diwujudkan dalam semangat solidaritas.

Seorang dari komunitas pelanggan, mencari alamat dan mendatangi rumahnya dan menyerahkan sejumlah uang patungan sebagai tali asih dan bentuk perhatian. Mungkin saja tulus, meski juga tak mustahil hal itu didorong oleh semangat kehilangan. Kehilangan seseorang yang bisa dengan rela dan ringan memanggil Ndoro atau Den di depan nama-nama lelaki yang ndilalah tak pernah menyamarkan namanya.

Di antara para pelanggan, kata si empunya cerita, ada seniman kondang hingga mancanegara, yang karena kelewat terpesona oleh kegematian Yeyen, ia sampai menyerahkan secarik kartu nama seusai ‘olah rasa’.

Teman-temannya menduga, cara meninggalkan kartu nama itu dimaksudkan, agar Yeyen bisa menjadikannya sebagai bekal bercerita kepada para tetangganya di kampung halamannya. Agar tak ketahuan menjalani profesi purba (dan nista bagi sebagian orang) di Kota Surakarta, karenanya bisa ia berteman dengan seniman besar Indonesia. Entah, kepada tetangganya, Yeyen mengaku berprofesi sebagai apa di kota.

Dunia seniman memang aneh. Kadang sulit dipahami, kalau kita tak pandai-pandai memaklumi.

Tali Kutang yang Terabaikan

Drama atau teater, entah kenapa masih menjadi cabang seni seni pertunjukan yang menurut saya masih memperhatikan detil, baik artistik, properti maupun pemeran (aktor).  Setidaknya, begitulah yang saya rasakan ketika menyaksikan beberapa pertunjukan tari di Jakarta dan Solo dalam beberapa tahun terakhir.

Di Solo, misalnya, masih sering kita jumpai beberapa koreografer yang lengah dalam hal detil, yang biasanya mudah kita temukan pada kostum atau performa penari.

Pernah, pada malam usai general rehearsal, saya ditanya seorang koreografer. Intinya, dia minta pendapat mengenai impresi saya terhadap persiapan pertunjukan untuk keesokan malamnya. Karena tak paham dan tak mau masuk ke proses sebuah penciptaan, saya hanya menanyakan dua hal.

Pertama, saya bertanya soal warna tali kutang. Yang berikutnya mengenai perhiasan berupa cincin dan kalung yang dikenakan penari. Ada satu penari yang mengenakan tali kutang berwarna gelap, sementara kira-kira enam penari perempuan lainnya mengenakan tali kutang berwana putih, sebagian malah berbahan plastik bening.

“Apakah warna gelap tali kutang itu disengaja, mungkin si penari itu mendapat peran khusus dalam jalinan sebuah koreografi?” tanya saya. “Cincin dan kalung yang dikenakan beberapa penari, apakah itu juga menjadi bagian dari konsep artistik atas cerita yang hendak dibangun?”

Si koreografer menggeleng. Ia mengakui hal itu sebagai sesuatu yang terlewat, tak ada unsur kesengajaan. Apalagi dimaksudkan untuk mendukung atau memperkuat sebuah pesan atau gagasan yang hendak disodorkan kepada penonton sebagai lawan dialognya.

Sebagai tukang foto, saya mudah terganggu dengan kejanggalan di atas panggung, yang mungkin oleh orang lain atau bahkan koreografernya sendiri dimasukkan pada kategori ‘bisa diabaikan’. Sementara lewat lensa (mata atau kamera), pantulan cahaya sebuah lampu panggung bisa datang dari cincin, kalung atau tali kutang berbahan plastik yang bening.

Detil lain yang kerap ‘diabaikan’ adalah tata rambut. Pada teater, panjang-pendek rambut, model sisiran, perlu dibalur jelly atau tidaknya, sangat berpengaruh karena seorang actor/aktris memerankan sebuah karakter. Belum lagi kostum, model pakaian, hingga aksesori yang dikenakan, semua menjadi sesuatu yang tak bisa dilewatkan begitu saja.

Contoh dengan kontras paling kentara adalah make up dan desain kostum sinetron-sinetron kita dengan film-film layar lebar, terutama besutan sutradara-sutradara tertentu. Pada sinetron, kita sangat mudah menemukan penampilan pengemis, namun mengenakan pakaian yang masih tampak baru dibeli. Pada karya-karya film layar lebar, kostum dan properti akan selalu nyambung, kontekstual. Maka tak aneh, riset menjadi keharusan dalam satu kesatuan perencanaan produksi.

Yang masih saya rasakan hingga kini, masih banyak koreografer yang abai pada soal-soal ‘remeh’ demikian. Contohnya, ada satu-dua penari –kebetulan keduanya laki-laki, yang penampilannya tak pernah berbeda, baik dalam keseharian maupun di atas panggung. Yang satu selalu mengenakan kalung berbahan kulit, satu lagi mengenakan anting-anting besar. Keduanya mencolok secara visual.

Kebetulan, keduanya kerap tampil dalam sejumlah karya beberapa koreografer. Tata rambut dan penampilannya nyaris sama, baik selagi nongkrong maupun ketika berada di atas panggung. Satu-satunya yang membedakan, sepertinya hanya terletak pada kostum yang dikenakan.

Kalau sudah begitu, maka pertanyaan yang mesti dijawab hanyalah soal definisi kata profesional. Rasanya, jawabannya tak jauh berbeda, baik penari maupun koreografer.

Bacaan terkait: Problem Seniman dan Manajemen Seni; Kisah Ranjang Garin Nugroho; Mendokumentasi Peristiwa Panggung

Nisan Jangan Jadi Beban

Tanpa angin pada siang yang terik membuat pengunjung warung Ngisor Pelem kegerahan. Obrolan serius menjadi tak menarik, apalagi sebagiannya adalah para seniman bertubuh kegemukan. Maka, canda yang memancing tawa dan gojèg kéré atau lelucon garing menjadi keisengan yang sanggup mengalihkan konsentrasi akan gerah. Setelah mencari-cari, ditemukanlah sebuah topik: makam seniman!

“Kita sudah pada tua, mbok ayo mikir masa depan kita. Guyub itu akan baik kalau bisa sampai akherat,” ujar Mas Plukis, seorang perupa.

Ho’oh…. Aku setuju. Aku usul sekalian, kita patungan lalu nyari tanah sehektar atau berapa di dekat Candi Sukuh,” sergah Pak Birok, “Di dekat Candi Sukuh itu enak, dingin dan pepohonan masih rindang. Kita tak akan kepanasan.”

“Mati kok masih merasakan kepanasan. Mati ya mati saja. Mana ada orang mati masih merasakan sumuk?”

Kontan, kalimat Mas Yoyok yang menyanggah dua pembicara sebelumnya itu berbuah amarah, kemarahan yang tak serius khas seniman. Maka, Mas Yoyok jadi bulan-bulanan kemudian.

“Kamu itu, lho… Kita ini seniman, biasa menggunakan perasaan, jadi akan peka terhadap apa saja. Itu, kan anugerah Tuhan yang memang hanya diperuntukkan bagi seniman. Kalau yang lain, gak bakalan bisa merasakan. Kamu saja belum tentu, kok,” tukas Mas Plukis.

“Belum tentu!” Mas Yoyok memotong.

“Ya jelas iya, to….. Kamu, kan belum bisa disebut seniman. Rasamu pasti belum sampai, durung gaduk!” ujar Mas Plukis, sengit.

Wis, biarkan saja Yoyok ngoceh dhéwé. Toh dia tak akan masuk dalam daftar calon penghuni astana yang akan kita bangun,” Pak Birok menimpali.

Dengan pembaringan kekal seperti di pegunungan dimana Candi Sukuh berada, maka itu akan memudahkan ruh seseorang segera mencapai surga. Kerindangan pepohonan dan sejuknya hawa pegunungan, akan membuat jasad seniman merasa nyaman, tak risau menunggu hari penantian, kelak bila kiamat tiba.

“Kata kitab suci, Tuhan baru akan memanggil ruh-ruh kita setelah kiamat tiba. Nah, kalau kita masih kumpul, maka tak bakalan terasa jenuh menanti. Apalagi, kita tak tahu secepat apa hari kiamat itu tiba… Coba bayangkan kalau kita tak bersama, siapa yang memberi penghibur para arwah-arwah yang kesepian? Di dunia, kita sudah menggugah rasa dan mengajak banyak orang mengoptimalkan fungsi seluruh indera dan nalar,” ujar Mas Birok. Mimiknya serius.

Pak Jojo, yang sedari tadi kipas-kipas cari angin di pojok Bangsal Mara Klasa mengajak tujuh orang yang meriung di warung segera membuat keputusan. “Wis, konkretnya piyé? Lebih baik kita segera mendata saja, siapa saja teman-teman kita yang mau diajak dan pingin ikut. Luasnya jatah kapling kita sesuaikan saja dengan persentase iurannya.”

“Aku manut iurannya berapa. Pokoknya aku mathuk. Setuju,” tambah Pak Jojo. “Aku usul, Pak Darno ditawari. Walaupun dosen bukan jurusan kesenian, dia sudah kita anggap seperti keluarga juga. Lalu Mas Sabri. Dia pasti mau karena ia dan istrinya sudah sama-sama tua, bakoh, anak-anaknya sudah pada berhasil dan tinggal di luar negeri semua.”

Gelem… Aku melu! Aku mau ikut karena di situlah sebenarnya semangat kebersamaan kita diuji,” Mas Yoyok menyela kembali.

Mas Plukis yang membuka obrolan dan mengajukan ide kompleks makam seniman tak terima. Dia yang sedari awal sudah pasang kuda-kuda ingin menjatuhkan mental Mas Yoyok, langsung mengambil alih pembicaraan. Kali ini, dia menunjukkan mimik sangat serius, dengan kalimat-kalimat datar dan berusaha tampil bijak.

Ngéné Yok. Kowé bolah-boleh saja ikut ngapling di sana. Bahkan, aku rasa kanca-kanca juga akan rela memberimu beberapa meter persegi seperti yang kamu butuhkan. Tapi, apa kamu sudah berpikir panjang soal semua konsekwensi keikutsertaanmu nanti? Tenan, tak usahlah kamu ikut iuran segala,” ujar Mas Plukis.

“Iya, Yok. Aku mau kok membagi jatahku denganmu. Bener omongannya Pakdhe Plukis, apa sudah kamu pikir masak-masak. Abot, lho sanggané?” tukas Pak Jojo.

“Wis.Kebersamaan, guyub­-nya kita sebagai seniman lebih penting dari segalanya…,” sambung Mas Yoyok.

Sik ta, Yok. Pikiren kanthi wening! Dengan jernih dan tenang berpikir, kamu akan tahu bagaimana menentukan sikap. Aku itu tahu betul kamu, dan tak ingin menyulitanmu dalam urusan beginian,” ujar Mas Plukis.

Mas Birok yang sehari-harinya adalah atasan Mas Yoyok tak segan membuka borok. “Kowe itu lho, Yok, mèlu-mèlu waé. Tak usah ikut-ikutan, wong slip gajimu selalu habis buat ngangsur utangan gitu, kok!”

“Apa ora mesakaké anak-cucumu kelak, rekasa kalau mau nyekar tiap malem Jum’at. Ziarah nyadranan saja, belum tentu bisa datang membersihkan nisanmu, lho,” ujar Mas Birok.

Mas Yoyok terdiam. Dia merasa sudah di-skaak mat oleh para koleganya sendiri. Berpikir ia untuk menyerang balik, menyelamatkan muka sekaligus balik mempermalukan. “Wah, kok jadi buka-bukaan gaji? Ini tak fair,” ujarnya. Mas Yoyok hanya membatin, lalu berhitung ulang. Mau menyanggah, takut semakin banyak boroknya diuarkan. Dari kesukaannya mabuk yang menggerogoti uang belanja, hingga dimana SK PNS-nya diagunkan.

Ngéné, lho Yok… Pikiren! Kita mati dan nyaman di sana. Kita bisa membuat pentas ketoprak atau kolaborasi wayang orang lalu manggung di pelataran Candi Sukuh. Bahkan, bila saatnya tiba, kita bisa ancik-ancik puncak candi lalu melompat ke surga. Tapi apa kita tega?

Dari dunia kita, yang bisa melihat ke dunia dengan terang benderang, lalu kita saksikan anak-cucumu pontang-panting nyari pinjaman kendaraan hanya untuk sekadar menengok kita di sini, apa saya tak ikut nggrantes, prihatin kepada mereka?” imbuh Mas Plukis.

Ho’oh Yok. Mendingan kamu tak usah ikut program ini. Siapa tahu anak-cucumu tak berani bilang kepada anak-anak kami untuk nunut, nebeng nyekar kemari. Kalau anak-anak kami menghampiri, mungkin tak bakal keberatan. Tapi kalau terlalu sering dan itu membuat anak-cucumu sungkan, gimana? Apa kamu tidak kasihan kepada mereka.” Mas Birok terus nyerocos, sampai akhirnya sebuah tawa meledak, ditujukan untuk mengolok-olok Mas Yoyok.

Merasa kalah dan tak punya bahan berkilah, Mas Yoyok berusaha mengusir galau. Diraihnya cerutu bawaan Mas Plukis yang sengaja digeletakkan di atas meja warung. Ingin sekali ia mencicipi cerutu seharga Rp 125 ribu per batang itu, apalagi bungkus rokok kretek kesayangannya sudah dibuangnya sejak setengah jam lalu.

Ééé….!” ujar Mas Plukis.

Halahhh! Aku nyoba satu saja, mosok nggak boleh?!?” jawab Mas Yoyok.

“Aku nggak tanggung lho, ya….. Itu mahal! Kalau sampai ketagihan, aku gak tanggung jawab,” kata Mas Plukis.

Mas Yoyok mencoba membakar cerutu berwarna coklat tua itu. Baru sekali menghisap, ia terbatuk.

“Bu, minta teh. Jangan terlalu panas…,” ujar Mas Yoyok kepada pemilik warung.

Wis, minumlah, biar aku yang bayar. Duitmu buat ke dokter saja. Bu, semua yang dimakan Yoyok masukkan ke tagihanku saja,” tukas Mas Plukis.

Mas Willy Telah Pergi…..

Kerabat dan sejumlah seniman mendoakan almarhum WS Rendra di kediaman Clara Sinta

Kerabat dan sejumlah seniman mendoakan almarhum WS Rendra di kediaman Clara Sinta

Kopi Wetiga baru saya minum beberapa teguk ketika seorang teman menanyakan kebenaran kabar meninggalnya Mas Willy. Belum sempat menanyakan kabar itu ke keluarga Mas Willy, Happy datang mengabarkan hal itu. Namun, saya baru yakin ketika Mbak Itut, istri penyair Sitok Srengenge menangis terisak ketika menjawab panggilan telepon saya, bahkan ketika sebelum sepatah kata pun terucap.

Padahal, baru pada malam sebelumnya, Mbak Itut bercerita panjang lebar tentang kondisi kesehatan Mas Willy, penyair dan tokoh teater modern Indonesia kelahiran Solo, 7 November 1935 itu. Diceritakan, Mas Willy sudah kembali sehat. Sebuah kabar yang menggembirakan setelah sepekan sebelumnya, saya dan teman-teman SonoSeni Ensambel batal berkunjung ke Bengkel Teater.

Mas Willy yang saya kenal suka memberi nasihat, tidak pelit berbagi ilmu dan pengalaman dengan seniman-seniman Solo tanpa pandang bulu, ternyata benar-benar pergi, harus menghadap Illahi. Tiga tahun bolak-balik Solo-Depok, Mas Willy benar-benar telah menjadi sahabat banyak orang, sehingga kepergiannya sungguh mengagetkan.

Jumlah seniman besar Indonesia yang hanya sedikit kian berkurang. Mas Willy menyusul kolega-koleganya sesama seniman dan pemikir kebudayaan yang lebih dahulu berpulang, seperti dua sutradara ternama, Suyatna Anirun dan Teguh Karya serta skenograf Roedjito.

Memang, masih beruntung saya masih bisa menyaksikan wajah Mas Willy yang terbaring dengan balutan kain batik di rumah anaknya, Clara Sinta. Masih bisa pula mengucap bela sungkawa kepada Mbak Ida serta keluarga. Namun, tetap saja ada yang kurang. Ada penyesalan, kenapa kemarin-kemarin tak menyempatkan hadir, meski sekadar memancing memori-memori yang indah dan menyenangkan selama tinggal di Wisma Seni, bergaul dengan seniman di kota kelahirannya.

Mengenang jasa-jasanya dalam dunia kesenian dan pemikiran kebudayaan Indonesia, saya sungguh merasa sangat beruntung telah mengenalnya lebih dekat. Maka, ketika diminta membantu mengemas perkakas dan buku-buku di rumah kontrakannya di kompleks Wisma Seni Taman Budaya Surakarta, untuk dibawa ke Depok, senangnya luar biasa.

Ketika saya bersama istri berkunjung ke Bengkel Teater, lalu dikasih uang saku Rp 500 ribu saat pamit pulang, juga masih terkenang hingga sekarang. Apalagi kalau ingat peristiwa ’serah-terima’ uang, dimana saya berulangkali menolak, sebanyak itu pula Mas Willy menunjukkan mimik marahnya. Bukan upah, namun semacam uang jajan selama perjalanan kami pulang ke Solo, seperti lazimnya paman yang ketemu keponakan.

Mas Willy juga sosok yang menurut saya cukup bisa membahagiakan anak-anak seperti saya. Dengan gembira, beliau menunjukkan dimana foto pentas duet Mas Willy dan istrinya, Mbak Ken Zuraida berjudul Kereta Kencana di Taman Ismail Marzuki, dipajang. Sebuah naskah drama karya Eugene Ionesco yang diterjemahkan ke bahasa Indonesia oleh Mas Willy, yang bertutur tentang pasangan renta berandai-andai dan menyambut datangnya ajal. Sebuah pementasan panjang yang memikat, yang menunjukkan kemampuan keduanya sebagai aktor/aktris berpenghayatan kuat, tanpa terlihat terengah-engah sekejap pun. Atas kekaguman pada pasangan itulah, saya memberikan foto itu, sebagai tanpa penghormatan serta penanda persaudaraan.

Selamat jalan Mas Willy…. Semoga panjenengan berbahagia, di sana bertemu ’teman-teman sepermainan’ seperti Pak Yatna, Pak Teguh, Mbah Djito, dan tentu saja tukang gendong: Mbah Surip yang terlebih dahulu menyiapkan karpet merah untuk menyambut kedatangan panjenengan. Semoga khusnul khotimah, surga menanti. Amin.