Perokok Butuh Fatwa

Halal-haram merokok, sebaiknya disudahi saja. Bukan karena saya perokok, lalu alergi dengan fatwa yang dikeluarkan PP Muhammadiyah dan didukung Majelis Ulama Indonesia itu. Jelek-jelek begini, saya perokok intelek. Selalu melarang orang belajar merokok, dan mengajak selalu baik hati dan tidak sombong.

Anak merokok, harus dicegah! Yang sudah dewasa pun harus dicegah kalau pada belajar merokok

Saya juga berusaha menjauhi anak-anak dan ibu hamil saat merokok, agar mereka tak terkena racun, seperti digembar-gemborkan kebanyakan ahli kesehatan. Sebagai perokok intelek (bedakan dengan intelek perokok), saya tak rela bila petani tembakau dan buruh yang jumlahnya jutaan itu kian tak jelas masa depannya. Terasa betul, fatwa haram merokok diperjuangkan kaum agamawan menjadi hukum positip di Indonesia.

Kalau memang konsisten meyebut rokok itu haram, pajak tembakau atau cukai rokok itu juga haram hukumnya. Karena itu, para ulama di MUI, yang memperoleh gaji dari negara, juga sudah meracuni tubuhnya dengan rejeki haram. Makanya, saya sangat hati-hati menyebut mereka yang duduk di MUI itu sebagai ulama, sebab keulamaan mereka hanya atribut semata.

Kalau memang konsisten, mestinya mereka mendesak pemerintah supaya tak memasukkan uang yang diperoleh dari cukai rokok dan pajak tembakau ke dalam pos penerimaan anggaran negara, supaya hidup rakyat dan pembangunan Indonesia baik adanya, berkah selamanya. Itu kalau memang mereka konsisten terhadap dalil-dalil agama yang diyakininya. Kalau pemerintah menolak, ya keluar saja mereka dari MUI!

Hidup itu yang simpel sajalah, Ul… Ulama! Seperti PP Muhammadiyah yang sampai bikin konperensi pers segala, membantah tidak menerima duit dari yayasan antibahaya rokok, apakah mereka berani bersumpah atas nama Allah bahwa fatwa itu tak ada kaitannya dengan bantuan itu? Saya kok tidak yakin mereka berani disumpah di bawah Al Quran untuk urusan itu.

Sejatinya, saya curiga kampanye antirokok itu cuma skenario kapitalis Barat untuk menghancurkan perekonomian Indonesia sebagai produsen tembakau (dan rokok) terbesar di dunia. Buktinya, mereka masih menganggap rokok putih ‘lebih sehat’ dibanding rokok kretek dengan mengacu pada kadar tar dan nikotin pada setiap batang rokok.

Mereka iri, para pemilik pabrik rokok kretek di Indonesia tercatat dalam daftar orang-orang kaya sedunia. Sementara, Philip Morris dan British American Tobacco (BAT) tak sekaya pengusaha rokok Indonesia, sehingga namanya tak berkibar di jagad raya. Mungkin, banyak orang tak tahu, produsen rokok putih pernah melobi Presiden Habibie untuk membatasi produksi rokok kretek, namun usaha mereka gagal.

Mengapa para penggiat antirokok kretek itu menggunakan jalur MUI dan Muhammadiyah untuk menghasilkan kampanye yang efektif? Saya punya kecurigaan yang bagi banyak orang akan dianggap sangat berlebihan. MUI belakangan ini dipenuhi perwakilan kelompok garis keras, dalam arti memiliki keyakinan bahwa merokok itu haram. Sementara, perwakilan umat Islam terbesar, yakni NU, sudah bertahun-tahun ‘tersingkir’.

NU, selain banyak kiainya dikenal sebagai perokok, namun basis massanya tersebar di daerah-daerah penghasil tembakau, seperti Temanggung (Jawa Tengah), Bojonegoro, Situbondo, dan banyak lagi di Jawa Timur. Pabrik-pabrik rokok yang menyerap tenaga kerja dalam jumlah besar pun terkonsentrasi di kantong-kantong NU, seperti Kudus, Kediri, Malang dan Surabaya.

Jadi, keberhasilan kampanye antirokok kretek akan berimplikasi nyata, berupa pemiskinan warga NU. Dan, asal tahu saja, meski prinsip-prinsip keberagamaan NU yang toleran disukai barat, namun sebagai organisasi Islam terbesar di dunia, kaum nahdliyin merupakan potensi ancaman serius bagi industrialis kapitalis barat.

Jika berjumpa pengemis yang membelanjakan duitnya untuk membeli rokok, jangan lagi dikasihani. Begitu pula bila menjumpai pengamen sambil merokok. 'Moral' ngemis dan ngamennya diragukan kalau hasil 'kerja keras' mereka bukan untuk mencukupi kebutuhan pokok: pangan, sandang dan papan.

Lihat saja perputaran ekonomi di ribuan pesantren dengan jutaan santri. Dari aspek minuman saja, mereka lebih menyukai kopi dan teh yang murni berasal dari petani dalam negeri dibanding Fanta dan Coca Cola yang Amerika. Pada pakaian pun banyak sarung dan peci buatan dalam negeri dibanding jins yang berbahan baku impor. Jangankan ayam goreng Kentucky Fried Chicken, mereka lebih suka menyembelih ayam lalu dimasak opor. Burger Mc Donald’s juga tak dikonsumsi karena masih ada nasi dan ubi dari sawah-sawah petani.

Apakah ini berarti saya sedang berprasangka dengan bersandar pada teori konspirasi yang dianggap basi? Biarin! Saya meyakini, banyak ahli sosial-politik mencitrakan teori itu sebagai ‘sudah basi’, sebab itu memang konsumsi elit dan permainan tingkat tinggi. Rakyat kebanyakan tak boleh meyakini teori yang diciptakan barat itu, meski diam-diam mereka terapkan untuk membedah anatomi politik-ekonomi.

Sebagai perokok intelek, saya juga layak dibilang konsumen rokok ideologis. Dulu, saya merokok Bentoel dengan konsumsi rata-rata tiga bungkus sehari, hingga bertahun-tahun lamanya. Gara-gara perusahaan itu dicaplok Tommy Soeharto, saya memilih berganti merek seketika, meski tak enak di indera perasa. Kebetulan, momentumnya juga tepat, sebab saya membenci Tommy yang mengusai tata niaga cengkih secara monopolistik dan ditopang kekuasaan ayahnya.

Andai para petani tembakau sudah punya alternatif pemasukan selain dari tanaman itu, atau para buruh pabrik rokok tidak lagi tergantung pada upah melinting tembakau, saya masih bisa menerima. Karena itu, pemerintah mestinya melakukan upaya pemberdayaan ekonomi rakyat dengan tidak menempatkan dua kaki pada dua kepentingan berbeda. Teriak soal kesehatan, namun pendapatan belanja negara dari cukai rokok terus diharap dan ditingkatkan dari tahun ke tahun. Korupsi, pun tak kunjung dihapuskan dari kosa kata Indonesia.

Bagaimana saya akan percaya pada pemerintah yang tak konsisten dan segelintir ulama yang bersikap ambivalens? Daripada ngotot bikin fatwa haram merokok, para ulama itu membenahi umatnya dulu, agar lurus hidupnya, dan tidak membiarkan korupsi meraja lela. Sekali-sekali, para ulama itu lebih baik memaksa pemerintah bertindak keras terhadap koruptor, di antaranya dengan memproduksi fatwa yang lebih masuk akal, yakni menghukum mati koruptor itu dapat pahala dan masuk surga karena korupsi jelas membuat jutaan rakyat sengsara.

Syukur mereka membuat fatwa, bahwa penegak hukum yang celaka oleh mafia hukum dan koruptor itu bakal menjadi mujahid yang dijamin masuk surga. Satu fatwa lagi yang sebaiknya dikeluarkan oleh majelis ulama, bahwa membuat laskar dan front mengatasnamakan agama lalu menyerang tempat-tempat hiburan itu haram hukumnya, dan orang yang tak berdosa terkena sabetan pedang laskar dihalalkan membalas dendam dan dibebaskan dari ancaman pidana, manakala polisi tak bisa menjalankan tugasnya.

Sederhana, bukan?

Dewa Tokai

Tokai bukan nama benda asing bagi saya, sebagai perokok aktif. Sejak SMA, atau sekitar 25 tahun lalu, saya mengenal produk Indonesia bermodal Jepang itu. Malah, pada awal 1980-an itulah, saya menjumpai Tokai berfungsi ganda: sebagai korek sekaligus bisa digunakan menulis. Hampir satu boks yang entah isinya berapa, pemberian sepupu saya itu bawa pulang dari Jakarta. Sebagai oleh-oleh yang tak lazim pada masa itu.

Unik memang. Entah kenapa fungsi Tokai sebagai lighter disandingkan dengan ballpoint. Yang jelas, dulu saya suka pamer di kelas, menulis dengan menggunakan korek berwarna hitam doff itu. Eh, jangan-jangan, seperti produsen rokok, kalangan pelajarlah yang dijadikan target pasar Tokai, ya? Sebab ibu-ibu rumah tangga, cenderung lebih memilih korek api batangan bermerek Polar Bear atau bergambar seorang pemikul berkulit hitam sebagai pasangan tungku.

Yang pasti, Tokai lantas bersahabat dengan saya. Kokoh dan tahan panas, sudah terbukti. Pesaingnya hanya satu, kalau tak keliru bermerek Crick(l)et? Korek kompetitor Tokai ini paling mudah dijumpai di supermarket, terutama Hero. Biasanya, bersanding atau berdekatan dengan kasir. Merek lain? Banyak jenis abal-abal, dengan merek yang tak perlu saya sebut di sini.

Dua kali saya mengalami celaka. Pertama, saat mengemudi mobil bersama teman, korek di atas dashboard meledak, casing-nya berkeping-keping. Andai saya atau teman saya sedang merokok ketika itu, entah seperti apa nasib kami. Pengalaman kedua, dada saya tiba-tiba terasa dingin, sesaat setelah terdengan suara dub!. Usut punya usut, korek gas abal-abal itu pecah di saku jaket yang saya kenakan. Kapok!

Di Solo misalnya, saya hampir hafal kios-kios dan warung mana saja yang menjual Tokai. Maklum, persebaran korek ini tak sebanyak kini, yang bahkan kios-kios rokok kelas kakilima pun sudah tersedia. Dulu, beberapa teman, bahkan kaget ketika tiba-tiba saya berhenti di sebuah warung, hanya untuk membeli korek branded itu. Sejak berharga Rp 1.250 hingga kini mendekati Rp 2.000 per buah. Langganan saya, di antaranya warung di Jl. Yosodipuro, Jl. Dr. Supomo, Jl. Ronggowarsito dan Jl. MH Thamrin.

Oh, ya, berani taruhan, orang yang diceritakan dalam blog sebelah itu, pastilah saya. Saya lebih baik kehilangan rokok sebungkus daripada kehilangan korek. Karena itu, saya suka ribut kalau kehilangannya. Sama jengkelnya ketika lupa memasukkan ke dalam bagasi, korek itu disita petugas bandara.

Asal tahu saja, warna hijau atau putih merupakan pilihan favorit saya. Kalau kebetulan tak dijumpai kedua warna itu, barulah saya memilih seadanya. Yang pasti, saya sama sekali tak suka warna biru. Mendingan saya membeli korek lidi daripada warna itu, walau bermerk Tokai. Soal kenapanya, tak perlulah saya jelaskan di sini. Intinya, beraroma ideologis……

Bahkan, ketika awal 1990-an dulu, saya sering mengisikan gas di alun-alun utara Solo atau di sekitar supermarket. Sekali refill, bayar cepek. Anehnya, tradisi refill itu saya dapati di kampung saya juga. Sebab bapak yang dulu perokok, ternyata punya kebiasaan sama dengan anaknya. Tapi, itu cerita masa lalu.

Beda waktu, beda kasus. Sekali waktu, saya menjumpai seorang teman sedang membakar putaw (keluarga sabu-sabu). Dengan korek Tokai juga. Kenapa? Sebab jenis lighter ini bisa diatur hingga nyalanya kecil, warna apinya biru, tanpa unsur kuning sama sekali. Konon, itu menjadi ‘alat kontrol’ sehingga pembakaran putaw jadi ekonomis. Gila!!!

Dari kejadian itu, saya jadi mafhum, sampai dimana ‘varian’ fungsi lighter itu. Sampai-sampai, di kemudian hari (bahkan hingga kini), saya sering menuduh seseorang sebagai pemadat kalau saya menjumpai seseorang itu membawa korek dengan ciri melepas logam pelindung api dari bodinya. Hampir bisa dipastikan, para pemadat menggunakan cara yang demikian seragam. Berani taruhan, deh………..

Singkat kata, Tokai menjadi benda yang sangat berarti. Baik bagi perokok seperti saya, atau beberapa pemadat, drug abuser yang pernah saya kenali. (Tapi, untuk yang saya sebut belakangan, sebaiknya dijauhi dan dihindari. Jangankan menjadi pengguna yang bikin parno alias paranoid dan merusak masa depan, dekat dengan abuser saja, kalau timing-nya tak tepat, bisa celaka. Misalnya, Anda sedang berdekatan dengan seseorang yang jadi target operasi/TO polisi, lalu ikut digerebek atau istilahnya kegèp. Emang enak?) Hehehe…. merokok saja tak baik untuk kesehatan, apalagi jadi pemadat!

Namun, selain bersahabat dan berguna, Tokai bisa menjadi pemicu sakit hati. Kasusnya, bisa jadi sederhana menurut Anda, namun ternyata menjadi kenangan sepanjang masa, bagi saya dan teman-teman.

Pada suatu malam, seorang teman mabuk berat akibat berbotol-botol minuman dia tenggak di sebuah kafe kecil. Karena remang-remang, dan waktunya tak banyak menyodorkan pilihan, maka dua waitress kafe sudah ‘layak’ dijadikan harapan. Kebetulan, seorang teman kami masuk kategori doyan perempuan.

Posisi giting, tak cuma membikin tubuh kepayahan. Nalar dan rasa, pun ikut sempoyongan sehingga menuntunnya kepada imajinasi yang bukan-bukan. Intinya, ia ingin menutup malam bersama salah satu waitress yang diam-diam sudah diincarnya sejak pertama kali memasuki kafe.

Dengan jalan memesan menu tambahan, sang teman memanggil si waitress sekaligus ingin memastikan. Tubuh sih tampak seksi, apalagi di bawah penerangan yang serba minim. Kalaupun bisa memandang, pastilah hanya siluetnya semata. Ketika sang waitress datang mengantar pesanan, sang teman menyalakan Tokai yang sengaja disetel menyala agak besar agar terang. Puas memandang, datanglah kecewa. Rupanya, wajah si perempuan cukup ‘sederhana’, tak secantik imajinasinya. Bisa ditebak, datanglah kecewa.

Sejak malam itu, sang teman memperkenalkan istilah baru: Dewa Tokai!

Kini, ia tak lagi sembarangan berfantasi setiap memasuki kawasan remang-remang. Dengan korek, eh Dewa Tokai, ia akan selalu menguji sebelum menjelajahi dunia fantasi yang penuh imajinasi……….