Partai Baru untuk Jokowi?

Banyak kalangan menyebut Jokowi bisa memenangi rivalitas melawan Prabowo dalam pemilihan presiden 2013 lantaran peran relawan. Sebagian relawan pun mengklaim peran mereka sangat menentukan, sehingga cenderung menafikan peran partai politik, terutama PDI Perjuangan sebagai partai dimana Jokowi ‘berasal’. Oleh karena itu, sesaat setelah Jokowi terpilih dan disebut sebagai petugas partai oleh penguasa PDI Perjuangan, bereaksi keraslah para relawan. Lalu, muncullah wacana perlunya bikin partai sendiri.

Pernyataan terbuka semacam ini merupakan cara Jokowi menghindari korupsi. Publik bisa menagih janji terbukanya ini, kapan saja.

Pernyataan terbuka semacam ini merupakan cara Jokowi menghindari korupsi. Publik bisa menagih janji terbukanya ini, kapan saja.

Merespon wacana pendirian partai baru untuk Jokowi, saya kok merasa menjadi salah satu relawan (meski ecek-ecek) yang meragukan terwujudnya. Ada beberapa alasan yang melatari keyakinan atas pendapat saya.

Pengelolaan partai politik bukanlah perkara sederhana. Membangun jaringan hingga seantero Nusantara bukan saja memerlukan ketersediaan waktu, namun juga energi yang tak main-main. Selain itu, dibutuhkan sosok organisator yang mumpuni dalam segala bidang, sehingga benar-benar mampu merekrut kader-kader yang memiliki militansi tinggi dan kesamaan sikap dengan Jokowi, jika ia dijadikan patron/simbol.

Seorang Jokowi yang saya pahami adalah sosok yang konsisten, selalu berusaha menyamakan tutur dan tindakan untuk hal-hal prinsip, meski masih bisa melakukan kompromi untuk perkara-perkara teknis. Satu hal yang tak bisa diabaikan dalam menilai sikap dan perilaku Jokowi, adalah sapek kejawaannya. Continue reading

Curhat Lagi kepada Pak Jokowi

Pak Joko, hari-hari ini saya larut dalam kegalauan nasional. Galau, cemas, kuatir, campur aduk tak karuan. Nalar saya tergiring ke satu titik tragedi: panjenengan dimakzulkan!

Bener lho, Pak. Saya sangat menguatirkan panjenengan dimakzulkan. Orang Jawa bilang, jalarané wis ana. Penyebabnya sudah ada. Yakni, penunjukan Budi Gunawan sebagai calon Kapolri, tempo hari. DPR yang menerima ajuan nama calon sudah memroses dan menyetujui, kendati KPK menetapkannya sebagai tersangka penerima gratifikasi sehingga rekeninngnya disebut gendut.

Dari perkara itu, lalu muncullah isu pelemahan KPK, satu-satunya lembaga antikorupsi yang dipercaya mayoritas rakyat. Institusi lainnya, seperti kepolisian, kejaksaan dan lembaga peradilan, suka-tak suka, nyaris kehilangan kepercayaan publik.

Pak Jokowi, saya yakin, sejak menjelang penentuan nama calon Kapolri, panjenengan sudah gundah pula. Mungkin situasinya sangat dilematis. Calon Kapolri disetujui semua politikus, baik dari koalisi partai pendukung maupun koalisi rival. Sebuah peristiwa ‘aneh’ jika mengingat sengitnya pertarungan politik menjelang pemilihan presiden hingga penentuan komposisi pimpinan DPR dan alat kelengkapannya. Continue reading