Berkedip itu Sehatkan Mata

Jumlah kedipan mata setiap menit pun berguna untuk merawat mata agar tetap sehat dan bekerja dengan baik. Kian jarang berkedip, produksi pelumas pun berkurang sehingga gerakan bola mata tak leluasa. Kalau sampai terasa perih, memerah, itu berarti merupakan pertanda sang mata mulai berunjuk rasa, yang jika dibiarkan bisa berlanjut boikot memproduksi cairan.

Mas @HarryVanYogya termasuk manusia gadget dan 'korban' teknologi. Matanya tajam, tanpa alat bantu lensa kontak atau kacamata. Sepertinya, karena beliau punya kebiasaan bagus, menghadapi layar monitor dengan pencahayaan alami (Foto: Blontank Poer)

Jika itu terjadi, celakalah sang pemilik mata. Apalagi bagi yang punya hobi lirik sana lirik sini, gangguan fungsi mata pasti terasa menyiksa. Tapi itu masih ‘mending’ karena yang dirugikan hanya seorang saja. Jika yang menderita gangguan mata adalah seorang pialang di bursa saham, kelelahan mata bisa berakibat fatal, sebab yang dipertaruhkan adalah nilai uang yang dikelola. Andai salah membedakan angka 3 dan 8 di belakang koma sih tak celaka-celaka amat. Terbayangkah jika yang bergeser adalah posisi tanda koma yang berkaitan dengan ribuan lembar saham?

Jangankan bermain saham, typo saat ngetwit atau blogging saja bisa mengundang protes dan menerbitkan malu tak berkesudahan, kok…

Kita tahu, kian hari semakin banyak jumlah orang yang tersandera teknologi. Lepas dari personal computer atau laptop di kantor, ganti menyambar tablet atau gadget saat istirahat makan siang, atau ketika dalam perjalanan pulang.  Bahkan rebahan di kasur pun masih melototin gadget, dengan alasan pengantar tidur. Entah itu dengan baca-baca gosip via Twitter, atau cek kabar teman via Facebook.

Melupakan hak mata untuk beristirahat pun bisa berbuah petaka. Secara medis, mata manusia berkedip rata-rata 14 kali setiap menit, sehingga produksi air mata mencukupi untuk pelumasan, sehingga bola mata bergerak dengan nyaman. Semakin berkurang kedipan, mata akan mudah mengalami iritasi.

Mata merah, perih, gatal, bengkak/sembab, lelah dan tegang adalah beberapa cirinya, yang jika dibiarkan bisa lebih parah dampaknya. Apalagi, jika mengacu pada penelitian di Amerika, sedikitnya 60 juta alias dua dari lima orang di sana sudah mengalami gangguan mata kering dan perih. Dari sebanyak itu, seperempatnya adalah pengguna komputer!

Dengan memperhatikan aspek pencahayaan yang baik, maka bekerja di depan komputer menjadi nyaman dan menghindarkan dari kelelahan.

Maka, kini populer nama baru bagi penyakit mata: Computer Vision Syndrome (CVS). Ciri-cirinya, pandangan kabur alias tidak fokus, mata lelah bahkan terasa tegang, kering dan perih, bahkan sakit kepala. Apakah Anda termasuk pengidap ‘penyakit kontemporer’ alias penyakit ‘gaya hidup’ ini? Semoga tidak.

Asal sudah memberikan hak kepada mata ‘bersenang-senang’ atau rekreasi, kita bisa bangga terbebas dari ‘CVS Club’, yang konsekwensinya sebagai pemegang kartu ‘keanggotaannya’ sangat berat di ongkos. Periksa ke dokter spesialis mata sudah pasti, obat-obatan segera mengikuti. Beli kacamata juga harus memilih lensa dan memilah model dan merek, begitu pula ketika harus belanja lensa kontak. Itu belum lagi kalau dituntut operasi, sebab katarak menjadi muara dari semua gejala buruk itu.

Padahal, kalau mau mencegahnya tersedia cukup banyak cara. Membiasakan mengalihkan pandangan sekitar sepuluh kali hitungan setiap melototin layar monitor atau televisi selama 15 menit. Bagus jika melempar pandangan sejauh mungkin, pun tak soal jika hanya scanning suasana ruang kerja. Jangan lupa istirahatlah selama seperempat jam setelah dua jam bekerja dengan komputer.

Mengurangi bekerja di depan komputer dalam situasi kurang cahaya juga merupakan upaya cerdas mengurangi efek radiasi. Kalaupun terpaksa menggunakan alat bantu penerangan, lampu bohlam lebih aman dibanding neon atau fluorescent. Lebih dari semua itu, penerangan alami yang bersumber dari sinar matahari, jelas segala-galanya. Yang pasti, jika posisi monitor sekitar 30 derajat di bawah garis horizontal terhadap mata akan terasa nyaman dan aman (lihat gambar).

Satu catatan penting jika Anda beraktivitas di ruangan berpengatur suhu, sifat air conditioner (AC) adalah kering sehingga membuat air mata mudah menguap. Alhasil, ia bagai booster yang mempercepat proses iritasi mata, sehingga lekas pedih/perih. Jika itu terjadi, maka pilihannya Anda harus mengompres dengan air hangat beberapa saat dalam kondisi mata tertutup, merambang mata dengan air sirih. Tapi, itu tak praktis, bukan?

Jika ingin menjaga kelembaban mata tetap stabil, maka obat tetes mata Insto Moist disarankan selalu tersedia. Apalagi jika Anda termasuk orang yang beraktivitas di depan komputer hingga delapan jam setiap harinya, maka hak rileks mata pasti terganggu karena ia tak sanggup menjalankan tugas pokoknya: memproduksi air mata. Andai mata punya perasaan, mungkin ia akan menangis ketika dipaksa melototin komputer seharian, dan dengan demikian, ia akan memproduksi air mata berlebih. Sayang, mata tak punya perasaan. Ia bekerja mekanis, sesuai kodrat default-nya.

Lantas, siapa lagi kalau bukan kita yang merawat mata kita sendiri? Kalau ada waktu, bagus juga jika mata kerap diajak melihat pemandangan alam, minimal hijau tanaman di taman. Dan yang tak boleh dilupakan, memperbanyak minum air putih dan aneka buah dan sayuran yang mengandung vitamin A dan vitamin C akan turut akan efektif membantu dampak buruk radiasi komputer atau televisi, apalagi di ruang ber-AC.

***

Apakah cuma pengguna komputer saja yang perlu merawat mata demi memberi hak berkedip? Sebagai peramu teh #blontea a.k.a. #tehpokil, pun saya harus selalu memberi hak agar bola mata bergerak leluasa tanpa berakhir perih. Setetes Insto juga diperlukan ketika debu-debu halus beterbangan ketika saya mengaduk, mencampur teh.

Asal tahu saja, debu-debu halus –yang sejatinya bukan kotoran pada teh, perlu juga dikurangi, apalagi pada setiap bahan baku teh yang saya gunakan, selalu ada bagian yang masuk kategori ‘residu’. Bentuknya serbuk akibat guguran daun teh olahan. Beberapa  pelanggan, terutama satu restoran besar di Jakarta, tidak suka ada kandungan serbuk teh dalam jumlah tertentu agar seduhan tampak cantik, apalagi disajikan pada gelas bening.

Tapi, di luar itu semua, ada satu profesi yang sebaiknya tidak menagabikan obat tetes mata, yakni fotografer. Entah itu yang bekerja di dalam studio maupun non-studio. Ketika musim pemilihan umum beberapa tahun silam, kebetulan saya memperoleh pekerjaan membuat foto profil sejumlah kandidat untuk keperluan kampanye. Kejernihan mata menjadi sangat penting, karena bukan saja membuat mata tampak indah, namun lebih dari itu, penilaian publik terhadap kepribadian seorang kandidat bisa ditentukan lewat mata.

Jika mata tampak merah, walau sejatinya karena kelelahan, kurang tidur, atau terlalu lama di depan komputer atau faktor-faktor lain, bisa-bisa disalahartikan bahwa sang kandidat doyan minum alkohol. Apalagi jika foto dipampang dalam poster berukuran raksasa. Pasti bisa celaka. Untuk mengatasi hal itu, biasanya saya membawa beberapa botol Insto: satu untuk dibawa ajudan sang kandidat, satu ditaruh di mobil yang bersangkutan, dan satu lagi, saya taruh di tas kamera. (updated 21/5/2011 pk 10.33 WIB)

Ilustrasi gambar diambil dari sini.