Perang-perangan Event

Ada kabar event Pesta Blogger yang dulu ‘prestisius’ diundur, dari semula akhir Oktober menjadi Desember. Saya sebut prestisius di masa lalu, sebab kini cuma jadi bagian. Blogger diperlakukan sebagai ‘a part of’ pengguna sosial media yang beragam. Adakah kaitan pengaruh dari gelaran kopdar akbar Blogger Nusantara di Sidoarjo, 28-30 Oktober?

Saya ingin menjawab pertanyaan di atas dengan kata: YA!  Meski tak serta-merta, namun titik singgungnya mudah dibaca, gampang dipetakan.  Ada banyak pihak yang tak rela, jika ngeblog dianggap kalah ‘mulia’ dibanding ngetwit, mainan Twitter dengan muatan aneka pesan. Apalagi, belakangan kian terasa komersialisasi Twitter lebih menonjol dibanding media lainnya, baik itu Facebook, Instagram, hingga blog.

Blogging, seberapapun ‘remehnya’, jelas lebih banyak menguras energi kreatif. Menyusun kalimat butuh referensi, apalagi jika pesannya harus diuraikan secara panjang-lebar. Keterbatasan ketersediaan jumlah karakter pada Twitter tak mungkin disandingkan dengan aktivitas blogging. Itu menurut saya….

Tweeting, boleh jadi memang penting, walau dilakukan sambil (maaf) ngising alias buang air besar. Penting, sebab tren komersialisasi teks bagi sebagian aktivis daring dianggap turut mewarnai perjalanan bangsa ini, sehingga masuk klasifikasi perkara genting.

Kebutuhan pencitraan, entah itu produk barang, jasa maupun lembaga dan seseorang, seperti urusan hidup-mati. Sah-sah saja menurut saya, sepanjang tidak berlebihan dan tidak menjerumuskan dengan mengecoh. Twit yang membawa kode URL bermuatan komersil, misalnya, ditandai khusus agar pembaca sadar ketika ngeklik rekomendasi. Itu sekadar contoh, ketika kesepakatan pembakuan kode twit komersil belum ada.

Bagaimana dengan postingan blog berbayar alias komersil sepeerti review? Untuk yang satu ini, ‘hukum’-nya lebih jelas: pembaca punya pilihan alasan untuk segera meninggalkan atau tidak meneruskan pembacaan. Di Twitter, satu klik bisa menjadi indikator pengunjung unik yang cukup berarti.

Lantas, apa bedanya ratusan (mungkin ribuan seperti diklaim inisiator pertemuan) Blogger Nusantara yang bakal berkumpul di Sidoarjo, Jawa Timur? Saya melihatnya sebagai sesuatu gelaran yang berbeda. Bahwa sebagian blogger ada yang berharap bisa memperoleh ‘pekerjaan’ (baca: penghasilan) dari ngeblog, ya memang begitu sebagian nyatanya. Tapi, mayoritas yang menyatakan akan hadir, saya takin lebih banyak dilatari keinginan untuk kopi darat, bertemu atau berkenalan dengan blogger dari berbagai penjuru Nusantara, lantas membangun jejaring dengan ikatan paguyuban. Bukan model patembayan yang mirip-mirip penganut paham Weberian.

Saya dan teman-teman dari beberapa komunitas blogger maupun blogger independen alias nonkomunitas, termasuk yang ingin datang dengan niat menjalin pertemanan secara lintas daerah, sekaligus menjadikannnya sebagai ajang kangen-kangenan, terutama bagi yang merasa kenal lewat media Internet atau saling komentar do blog.

Bagi saya, ini merupakan kesempatan mahal untuk dilewatkan. Soal ada ‘berkah’ dari kopdar, itu soal lain lagi. Kumpul ya kumpul, mangan-mangan ya mangan-mangan, ya berkumpul, ya makan-makan. Sesimpel itu kira-kira.

Di luar itu, ada juga kekecewaan saya terhadap event tahunan yang katanya HARUS diselenggarakn di Jakarta, sementara kali ini, yang baru akan menjadi perhelatan akbar yang kelima, nama blogger ditenggelamkan begitu rupa, turun kasta dibanding pekicau dan sebangsanya.

Kita tahu, follower sebuah akun Twitter bisa jadi hanya sosok anonim, atau individu yang percaya tanpa syarat kepada pihak yang selalu disimak linimasanya. Beda dengan blog, meski namanya pemiliknya disembunyikan atau anonim, pesan-pesan yang disampaikan lebih ‘berkarakter’ alias ‘lebih sesuatu banget’.

Semua muatan pesan dari sebuah blog, pasti sudah melalui pertimbangan tertentu sebelum dibuat hingga dipublikasikan. Capek-capek nulis, memelototi referensi atau informasi rujukan, paling banter dibayar ratusan ribu, meski itu merupakan sebuah paostingan bermutu. Orang bisa meninggalkannya segera jika postingan dianggap tak berguna, beda dengan Twitter yang sekali berkicau sudah ada mesin argo(meter).

Jujur, saya tak tertarik dengan twit komersial. Kalau sedekah retweet, asal bermanfaat bagi orang banyak, pastilah saya lakukan. Soal ada yang curiga, apalagi jika menyalahpahami dampak hanya dengan merujuk jumlah penyimak linimasa saya.di Twitter, pastilah ia terjebak pada kekeliruan mengambil kesimpulan.

Dari rencana perhelatan Kopdar Blogger Nusantara dan Pesta On/Off alias kumpul blogger alpa’ update blog, saya ingin berharap, para pemilik akun Facebook, instagram dan terutama Twitter, menjadi lebih aware sehingga kelak lebih selektif, bijak dan dewasa mengikuti linimasa, siapapun yang di-follow-nya, agar tak tersesat sia-sia di mayantara.

Bahwa ada gosip terdapat kerepotan lain untuk menyukseskan KTT ASEAN di Bali, sehingga harus memundurkan acara hingga dua bulan lamanya, anggap saja itu cuma kicauan ‘nyari’ gara-gara. Walau, sejatinya lucu juga, kula event yang biasanya didekatkan dengan tanggal peringatan ‘Hari Blogger Nasional’ harus dijauhkan. Secara ilmu public relations, agak musykil juga sebuah pengunduran kegiatan tak main-main, tanpa.mempertimbangkan ‘situasi sosial-politik’ dunia blogging Indonesia kontemporer.

Agak janggal juga, kula untuk berpartisipasi memeriahkan KTT ASEAN saja harus melibatkan institusi kedutaan negeri perkasa hingga penanggung jawab kegiatan berskala regional itu harus mengundang pengurus ASEAN Blogger Community yang telah merintis upaya-upaya membangun ‘dialog kawasan’ bersama Kementrian Luar Negeri, untuk duduk bersama dan berkompromi dan bekerja sama.

Satu pertanyaan yang masih saya cari jawabannya hingga kini, adalah apa yang sudah dilakukan para bloggerwan/bloggerwati bagi bangsa dan negeri ini? Pengguna media Internet Indonesia saat ini, menurut saya, mirip populasi yang berada pada puncak piramida manusia. Yang sedikit secara kwantitas, namun potensial menciptakan gaduh dan ketenangan. Populasi terbesar yang berada pada posisi paling bawah hanya menjadi penonton. Ada jarak, pastinya…..

Lantas, kenapa saya harus bikin postingan demikian? Ya, minimal supaya menyenangkan pembuat aplikasi plugin gratisan yang menampilkan secara acak sebuah postingan lama. Kalaupun harus nongol #oldposting, supaya waktunya tak terpaut terlalu lama dengan postingan ini.

Yang juga jadi harapan saya, adalah agar teman-teman blogger semakin tidak rela jika ada pihak Yang ingin memasukkan blog yang dikelolanya ke dalam klasifikasi heritage blog. Saya tahu persis, mandat UNESCO tidak sampai jenis arsitektur maya ini. Beda jauh dengan artefak bangsa Maya.

Damai Sony dengan Sony

Sebagai peminat ilmu komunikasi, termasuk public relations, saya salut dengan langkah Sony Corp. dalam menyelesaikan sengketa domain dengan Sony AK. Kehadiran Presiden Direktur Sony Indonesia dalam proses mediasi dan pernyataan permintaan maaf dari Vice President Sony Corp. Jepang menunjukkan keseriusan korporasi itu mencegah krisis berkepanjangan.

Solidaritas publik Indonesia terhadap Sony Arianto Kurniawan di situs jejaring sosial Facebook yang mencapai 14 ribu pendukung pada Rabu (17/3), bukan tak mungkin bisa menggelinding menjadi bola salju. Ujungnya, selain citra Sony Corp. bisa ambruk. Omzet penjualan pun bukan tak mungkin tergerus andai insiden Goliath versus David berbuah sentimen hingga boikot produk.

Saya seperti diingatkan kembali pada materi pelatihan PR di Yogyakarta awal 1990, tentang langkah-langkah strategis yang harus dilakukan sebuah perusahaan multinasional ketika produk susunya diisukan mengandung lemak babi. Semua mafhum, betapa sensitifnya isu lemak babi di sebuah pasar yang mayoritas terdiri umat muslim.

Kata Ainur Rofiq, praktisi Fortune PR yang mengajar sesi Manajemen Krisis, salah satu rekomendasi konsultan PR terhadap perusahaan tersebut adalah bagaimana meyakinkan umat Islam di Indonesia, bahwa produk tersebut bebas dari unsur haram yang harus disingkiri umat Islam. Maka, langkah jitu yang ditunjukkan kepada publik adalah beberapa tokoh Islam (kalau tak salah dari MUI Pusat) meminum susu yang ditayangkan televisi.

Namun, proses meyakinkan ulama pun bukan soal mudah. Perusahaan itu harus mencarter pesawat untuk menerbangkan mesin khusus (kalau tak salah) dari Swiss dalam waktu hanya 24 jam. Melalui mesin itu, unsur apa saja dalam proses produksi susu bisa ketahuan. Begitu kira-kira. Saya percaya, sebab Mas Ainur ketika itu terlibat dalam proses pengambilan keputusan pencegahan krisis tersebut, sebab perusahaan tempat dia bekerja merupakan konsultan produsen tersebut.

Dalam kasus Sony Corp. versus Sony AK, tampaknya pokok soal bermula dari firma hukum yang menjadi lawyer Sony Corp. di Indonesia. Dugaan saya, firma hukum itu mengambil langkah ‘kebablasan’ karena hanya memberi dua opsi yang semuanya memojokkan Sony AK. Mereka lupa menelisik content situs pribadi yang dikelola praktisi IT itu, yang nyata-nyata tak berpotensi merugikan nama baik Sony Corp. , Sony AK bahkan tegas menyatakan bahwa situsnya, Sony AK Knowledge Center is not related to or affiliated in any way with Sony Corporation Japan.

Langkah Sony Corp. tidak lagi melibatkan firma hukum tersebut dalam proses mediasi dengan Sony AK mengindikasikan keseriusan raksasa elektronik global itu ‘mencuci tangannya yang sempat ternoda’. Pernyataan Sony Corp. bahwa Sony AK dipersilakan tetap mengelola domain-nya sony-ak.com juga mempertegas siapa sesungguhnya yang lebih berhak atas domain tersebut, sekaligus pengakuannya terhadap kedaulatan hukum Indonesia serta perlindungan hukum atas sebuah hak atas kekayaan intelektual (HAKI) yang dimiliki secara sah oleh Sony AK.

Berakhirnya sengketa dengan win-win solution itu, jelas memberi dampak positif bagi citra Sony Corp. Perusahaan itu tak jadi terjerembab ke jurang krisis, termasuk ada tanda-tanda terbebasnya korporasi multinasional itu dari potensi kerugian akibat menyusutnya omzet penjualan. Banyak orang tahu, banyak produknya masih favorit di pasar konsumen kamera digital, telepon genggam, televisi, hingga kamera videonya, yang hingga kini masih menjadi salah satu produk terbaik di dunia.