Siapa Rindu Pamantyo?

Senin, 17 Oktober, merupakan hari yang menggembirakan bagi saya.  Bersama Kang Lantip, saya sengaja mampir ke kantor Beritagar untuk menjumpai senior dan tokoh yang dikagumi para blogger Indonesia, Pamantyo! Ya, hari itu, kami sengaja ke ibukota republik dalam rangka rapat penjurian lomba blogging KitaIndonesia, di mana Kang Lantip merupakan salah satu anggota dewan juri.

(kiri-kanan) Iqbal Gembul Prakasa, Lantip, Pamantyo, saya, Mas Didi Nugrahadi. Difoto oleh Cho-Ro pakai kamera Lumia saya :)

(kiri-kanan) Iqbal Gembul Prakasa, Lantip, Pamantyo, saya, Mas Didi Nugrahadi. Difoto oleh Cho-Ro pakai kamera Lumia saya 🙂

Kami senang karena Pamantyo terlihat sangat bugar dan gembira bertemu kami, teman lama yang suka bercanda dan ngobrol dengan bahasa Jawa semaunya. Dan itu merupakan kesukaan Sang Paman, ketemu kami-kami, orang desa. Sayang sekali, kami tidak membawa oleh-oleh kesukaan Pamantyo, semisal singkong, pepaya, kelapa muda dan buah-buahan lain yang bisa didapat di kebun kami, di desa. Bukan apa-apa. Oleh XL, sponsor  lomba blogging, kami dipaksa naik Garuda sehingga kami agak gengsi membawanya (sebab maunya masuk kabin, biar tidak rusak terbentur-bentur jika ditaruh di lambung pesawat). Continue reading

Kemenlu, ASEAN Blogger, dll

Masih banyak yang apriori terhadap lembaga bernama Kementerian Luar Negeri. Apalagi jika dikaitkan dengan ASEAN Blogger Community. Ya, dua kali pelaksanaan pertemuan besar yang diinisiasi ASEAN Blogger Community, baik di Bali (2011) maupun di Solo, tempo hari, telah menerbitkan pro-kontra di kalangan narablog Indonesia. Saya mencoba berdiri di tengah, silakan jika berkenan menyanggah.

Kebetulan, saya menjadi salah satu deklarator. Tak tahu alasannya, tiba-tiba saya dihubungi penyelenggara deklarasi, kala itu timnya Mubarika dari IDBlogNetwork. Saya mengiyakan, sebab menganggap perlu adanya komunitas semacam itu. Alasan lain, niat baik Kementerian Luar Negeri membuka diri, perlu diapresiasi. Asumsi saya, komunitas semacam ABC itu akan bersifat lebih cair, dan bisa menjadi forum baru bagi blogger, yang dalam beberapa tahun terakhir kian terbelah. Yang serius ngeblog ya ngeblog, namun selalu kritis ketika menyimak gejala dunia blogging ‘digiring’ kea rah monetizing.

Fenomena buzzer, yang sejatinya merupakan gejala lumrah atas sebuah penyikapan terhadap media baru, seperti merenggangkan pola relasi narablog. Monetizing dengan cara optimasi mesin pencari pelahan tampak usang, digusur dengan janji kemudahan mendapatkan uang lewat kicauan di Twitter, unggah pernyataan/gambar/video ke Facebook hingga review aneka produk di blog.

Mau cari uang dengan jadi reviewer atau buzzer sejatinya hal biasa. Lumrah saja. Tapi banyak kalangan tak sependapat dengan cara pengaburan pesan, yang dianggap mengecoh. Maksudnya, model kicauan atau pesan bermuatan rupiah, namun dikaburkan sebagai pernyataan biasa. Sejatinya, sih, tak apa-apa juga kan, ya? Baiklah, kita tinggalkan sejenak soal itu.

Yang jelas, fenomena twit berbayar dan sejenisnya, menyilaukan mata ‘orang-orang baru’ sehingga berlomba-lomba menjadi buzzer, dengan cara memperbanyak follower di akun Twitter, atau memperbanyak teman di jejaring Facebook, atau menaikkan jumlah kunjungan di blog masing-masing. Maka, ‘pesan sampah’ lantas bertebaran di mana-mana. Orang lantas risih. Intinya, etika bermedia kebanyakan orang dirasa menjadi sangat parah.

ABF dan NgopiKere

Kita masuk ke masa ‘kontemporer’.  Hanya karena ada sejumlah teman lama berkumpul di Gunungkelir yang sejatinya hendak reunian, kangen-kangenan, maka ada sebagian orang memelintir sebagai acara tandingan. Celakanya lagi, tanggalnya berbarengan dengan ASEAN Blogger Festival di Solo, yang didukung oleh Direktorat Kerjasama ASEAN, Kementerian Luar Negeri. Kebetulan, venue utama ABF di hotel berbintang, dan di event lain, bertempat di rumah juragan kambing etawa, dan mengabadikan momentum reunian dengan sebutan NgopiKere.

Lantas, berkembanglah asumsi. Yang di Solo, karena berbau pemerintah, lantas diasosiasikan kaum ningrat, karenanya penuh hura-hura. Sebaliknya, yang reunian di sekitar pegunungan Menoreh, karena sangat egaliter dan cair, terdistorsi esensi kekerabatannya sebagai berkumpulnya para ‘kere’.

Mestinya, saya (dan sejumlah teman Bengawan) pun ingin ke Gunungkelir. Tapi, berhubung telanjur terlibat dalam penyusunan acara ASEAN Blogger sedari awal, maka jadilah kami tuan rumah. Apapun, Bengawan dan komunitas online lainnya di Solo, merupakan stakeholder di wilayah kami. Ada sinergi, tapi tetap independen. Pemerintah (daerah) tak bisa  mengintervensi, dan sebaliknya, kami tak tergantung pula kepada mereka. Sama persis keberadaan kami, terhadap Kementerian Luar Negeri dalam gelaran ASEAN Blogger Festival.

Ziarah wali Blogger dan Jamasan Blogger

Tapi, kalau mau kita teliti lebih jauh, Gunungkelir punya sejarah tak asyik dalam konteks hubungan antarkomunitas. Niat tulus teman-teman Surabaya (ketika itu Komunitas Blogger TPC) menggelar safari persaudaraan bertajuk Ziarah Wali Blogger. Mereka selalu singgah ke komunitas blogger di setiap kota yang dilewati, termasuk di Solo. Muter-muter, berakhir di Gunungkelir, di ‘padepokan benwit’ Kang Toto Sugiharto.

Di sanalah ada beberapa teman Jakarta (dan sejumlah anggota komunitas yang dekat dengan mereka) membuat pernyataan yang kemudian menyinggung perasaan teman-teman peserta Ziarah Wali Blogger. Secara pribadi, saya juga kurang sreg ketika ada sekelompok teman yang merespon Ziarah itu dengan istilah ‘jamasan’, yang secara kultural kurang pas, bahkan terkesan meremehkan. Maka, perang dingin pun muncul, bahkan (menurut saya) hingga kini.

Secara kebetulan pula, ‘kelompok jamasan’ cenderung berkiblat ke (figur-figur) ibukota, seperti ditunjukkan lewat dukungan mereka ke event-event yang digelar teman-teman di Jakarta. Repotnya, gelaran-gelaran di Jakarta selalu ‘bergelimang’ pendana (setidaknya bisa dilihat dari logo-logo lembaga dan brand besar pada materi publikasi acara).

Awalnya, gelaran di Jakarta menyilaukan ‘orang-orang desa’. Banyak blogger dari berbagai kota (kecil) datang ke Jakarta secara swadana, sekaligus ingin bertemu muka (kopdar) dengan nama-nama beken yang selama ini sudah saling kenal lewat media maya. Kekecewaan bermula, (menurut sejumlah pencerita) lantaran keramahan di dunia maya tak sama dengan di alam nyata. Tahun berganti, keadaan tak banyak berubah. Kekecewaah kian membuncah. Lantas, benih prasangka pun muncul.

Kekecewaan terhadap gelaran nasional di Jakarta ditumpahkan lewat gelaran Kopdar Blogger Nusantara di Sidoarjo. Benar, banyak teman blogger yang semula tidak muncul ke permukaan lewat komunitas, tumpah ruah di sana. Banyak orang tercengang, tak menyangka begitu banyak blogger di luar komunitas yang selama ini dianggap telah ‘eksis’. Yang kecewa dengan gelaran semacam Pesta Blogger, pun meramaikan event yang dihadiri lebih dari 1.300 blogger, dari seluruh penjuru Indonesia, dan bertepatan dengan peringatan Hari Sumpah Pemuda.

‘Pengelompokan’ lantas muncul. Sebagian orang menganggap Kopdar Blogger Nusantara adalah saingan Pesta Blogger (yang kemudian berganti tajuk event: ON|OFF). Meski sejatinya saling mewarnai dan member warna dunia blogging Indonesia, tapi dasar manusia, blok-blokan pun kian tegas ‘mengidentitas’. Tapi, semua kalangan malu-malu mengakui adanya ‘perang dingin’ ala peta politik dunia.

 

Sharing Online Lan Offline

ABF 2013 dan NgopiKere menurut saya, hanyalah imbas adanya blok-blokan alias perkubuan yang prosesnya sangat panjang itu. Komunitas Blogger Bengawan, termasuk saya, memilih netral terhadap semuanya. Kami memilih ‘nonblok’, atau dengan bahasa sok-sokan, meniru Indonesia yang menerapkan prinsip ‘politik luar negeri’ yang bebas dan aktif. Bebas menentukan jalinan relasional tanpa membeda-bedakan latar belakang dan kecenderungan, tapi aktif ikut mewarnai dinamika blogging di Indonesia.

Maka, dalam rangka mengeliminasi prasangka kepada siapa saja, kami menggelar sejumlah pertemuan. Sharing Online Lan (Jawa, maksudnya dan) Offline (SOLO) yang pertama kali digelar pada 2010. Kami pun menyelenggarakan workshop penguatan kapasitas (capacity building) untuk sejumlah komunitas blogger (terutama dari kota-kota kecil dan menengah). Niat kami, agar teman-teman di daerah (seperti Bengawan) bisa lebih ‘berdaya’.  

Di daerah, kita tahu, nyaris tak ada brand atau perusahaan mau melirik blogger. Pun pemerintah dan lembaga manapun. Maka, workshop selama tiga hari (yang didanai Hivos dan disumbang XL Axiata). Karakteristik anggota komunitas pun kebanyakan pelajar dan mahasiswa, yang ‘hidupnya’ nyaris tergantung pada uang saku dari orangtua.

Intinya, dengan workshop sederhana, kami belajar bersama cara membuat program, termasuk mencari terobosan pendanaan. Kebanyakan blogger yang bersemangat bebas, tidak mau dikendalikan siapa saja, dan serba sukarela harus terus didukung ‘kemmerdekaannya’. Tapi, bekerja sama bukanlah hal tabu, dengan siapa saja, sepanjang setara dan tidak ada satu pihak pun yang menghegemoni sehingga ada yang merugi. Karakteristik utama blogger adalah: tidak mau diatur-atur.

Tak hanya itu, kami selalu berbagi, membangun komitmen bersama, termasuk jika ada pihak yang berkepentingan menjalin kerja sama. Maka, program pelatihan untuk pelaku usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) bersama PANDI, pun ditempuh. Itu hanya sebagian cara dan strategi memberdayakan diri, supaya kami bisa selalu berbagi dengan publik, masyarakat di luar blogger.

Pemerintah dan Blogger/Netizen

Belakangan, banyak pemerintah daerah mulai melirik individu maupun komunitas blogger dan praktisi Internet (netizen). Ini perkembangan menarik, sebab mereka mulai ‘melek’, melakukan sinergi dengan berbagai pihak untuk beragam kepentingan, terutama untuk kemanfaatan sebanyak mungkin masyarakat. Kementerian Komunikasi dan Informasi (Kemenkominfo) menggalakkan program kemitraan dengan netizen lewat Relawan Teknologi Informasi dan Komunikasi (Relawan TIK), juga Kementerian Luar Negeri yang ikut menginisiasi dna memfasilitasi ASEAN Blogger Community.

Saya pun pernah disinisi oleh seorang ‘seleb’ melalui kicauan di Twitter gara-gara terlibat di berbagai kegiatan Relawan TIK. Ketika bersama ASEAN Blogger Community pun, tak sedikit yang menyayangkan. Tak soal bagi saya. Di kedua lembaga itu, saya menjalin banyak komunikasi dengan intensitas memadai. Wakil-wakil kedua kementerian juga pernah beberapa kali singgah di sekretariat Bengawan, yang kami namai Rumah Blogger Indonesia.

Kami tak merasa terkooptasi, namun sebaliknya justru merasa bisa ikut mewarnai. Kepada kedua wakil lembaga itu, kami selalu berdiskusi dan mendorong agar mereka membuka diri dan melibatkan partisipasi publik sebanyak dan seberagam mungkin. Alhasil, kedua lembaga negara itu sangat terbuka kepada siapa saja.

Dalam konteks hubungan Kementerian Luar Negeri dan ASEAN Blogger Community, misalnya, sejauh saya diskusi dengan Pak Hazairin Pohan dan beberapa staf Kemenlu, termasuk Ditjen Kerjasama ASEAN, tak pernah saya mendapati kalimat pesanan agar begini-begitu. Sebaliknya, justru ABC diberi kebebasan menentukan sendiri cara dan strategi membuat desain program dan melaksanakannya sendiri, dan kementerian menempatkan diri sebagai fasilitator, termasuk akses pendanaan sepanjang memungkinkan (dalam arti dibenarkan/sejalan dengan ‘hukum’ keuangan birokrasi). Hanya itu. Tidak lebih dan tak kurang!

Karena itulah, saya juga merasa bebas bersikap. Menjelang pertemuan Blogger ASEAN di Bali (2011), misalnya, saya menarik dukungan lantaran melihat gejala tak profesional dalam perencanaan (dan terbukti kemudian di pelaksanaan). Ketika kemudian mau terlibat penyelenggaraan ASEAN Blogger Festival 2013 di Solo, konteksnya justru dalam rangka ‘turut menyelamatkan’ gagasan besar dan mengawal komitmen Kementerian Luar Negeri.

Makanya, secara personal saya meminta sejumlah teman dari sejumlah komunitas untuk turut menyukseskan ABF 2013 di Solo. Saya tahu dan dapat banyak masukan (tepatnya ‘curhat’) sejumlah teman blogger, yang masih masygul dengan keikutsertaan mereka di Bali, lalu apriori dengan event di Solo. Maka, kami, Komunitas Bengawan turut ikut menjamin, bahwa ABF 2013 akan berbeda dengan pelaksanaan sebelumnya.  Apakah kemudian kehadiran teman-teman yang sebelumnya apriori menjadi ikut menghadiri merupakan hasil ‘kasak-kusuk’ kami, tak pantas jika kami melakukan klaim atas ‘keberhasilan’ penyelenggaraan event kemarin. Sangat mungkin kami salah!

Intinya, kami tak ingin keterbukaan Kemenlu tidak bisa dimanfaatkan banyak pihak. Oleh karena itu, saya justru mengajak dan mengampanyekan agar sebanyak mungkin orang terlibat di dalamnya. Prinsipnya, merdeka saja. Seperti saya terhadap Kemenlu, jika tak memungkinkan ruang dialog yang setara, ya bebas-bebas saja meninggalkannya. Satu hal yang pasti, ketidakcocokkan kepasa satu-dua orang (katakanlah begitu) janganlah digunakan  untuk menyamaratakan, bahwa Kemenlu begini atau begitu. Saya berani menjamin hal itu, karena saya merasa (sok) tahu karena sejumlah proses diskusi intensif.

Saya kira, segitu dulu… Esok kita lanjutkan lagi… Percayalah, saya tidak dibayar untuk bicara semacam ini (bersambung…).

2012: Kebangkitan Lokalitas

Setelah beberapa hari ingin menuliskan catatan namun tak kunjung kesampaian, hari ini saya mendapat pemicunya, yakni prediksi Donny Verdian mengenai media sosial Indonesia pada 2012. Menurut saya, walau blogging terasa kian mengering, namun secara kwantitatif, konten tetap akan tumbuh. Namun, semua akan bermuara ke ‘daerah’.

Saya meyakini itu sejak dulu. Mau pakai alat analisis psikososial, geopolitik, sosiokultural atau antropologi politik, semua akan bermuara ke ‘daerah’ atau yang berbau lokalitas. Sekarang, kita akan memasuki wilayah geotagging. Lat-long akan kian nampak jelas dengan bercirikan keunikan lokalitasnya. Kultur dan pariwisata menjadi pesona utama, selain keragaman produk kreatif lokal.

Berangkat dari pemahaman itulah, saya mengajak teman-teman di Solo dan sesama blogger dari daerah lain, untuk tidak mudah latah mengikuti tren yang diciptakan oleh ‘centrum’ yang menggunakan label lokalitas sebagai bumbu untuk memberi bobot kebersamaan atas nama ke-Indonesia-an.

Andai ada ‘komunitas’ atau gerakan IndonesiaBerteriak misalnya, saya tak menginginkan ada ‘produk turunan’-nya seperti SoloBerteriak, MalangBerteriak, dan sebagainya. Kenapa? Sebab teriakan tak bisa diseragamkan, atau dimassalkan. Cara dan bentuk teriakan tak bisa diduplikasi, atau diimitasi. Alasan berteriaknya pun pasti berbeda-beda. Jadi?!?

Fakta menunjukkan, masih banyak praktisi (baca: pengguna) media sosial di daerah yang terkesima dengan hal-hal berbau centrum, pusat, atau metropolitan. Memang itu gejala lumrah, seperti halnya cara berpakaian, gaya berbicara dan sebagainya, yang berkiblat pada budaya massa yang sengaja direproduksi kebanyakan penggiat media sosial. Banyak yang tak tahu, mereka sejatinya adalah ‘korban’ rekayasa budaya yang diciptakan industri televisi. Silakan menyimak nasihat-nasihat Neil Postman.

Ijinkan saya menyebut Pesta Blogger sebagai event blogger yang kian gagal dari tahun ke tahun, hingga perlu mengganti nama menjadi ON|OFF, sebagai contoh. Ramainya blogger datangi pesta pada awalnya, lantaran dorongan tradisi orang Indonesia yang lebih suka ketemuan secara fisik. Kopi darat atau kopdar yang merupakan tradisi pertemuan fisik pengguna SSB, CB atau handy talky, diteruskan lantaran sifat komunikasinya yang sama: tanpa tatap muka. Ini kepanjangan bentuk ngerumpi atau kongkow di lapau, pos ronda atau perempatan kampung.

Para onliners merasa perlu mempererat persahabatan, yang semula terbangun lewat peran medium (teknologi) sehingga mendorong untuk jumpa darat. Ada yang mirip jumpa fans, sebab satu-dua pasti dipaksa situasi untuk menjadi selebriti lantaran popuparitasnya. Ibarat grup musik, seorang vokalis akan menjadi pusat perhatian dibanding gitaris atau pemegang alat musik lainnya, betapapun hebatnya dia.

Sayangnya, niat baik sejumlah inisator Perta Blogger beserta konsultan komunikasinya adalah makhluk gado-gado. Ada yang memiliki referensi dan berpreferensi barat/metropolis, ada pula yang meski berasal dari ‘daerah’, namun sudah tercerabut budayanya. Petunjuknya sederhana, orang-orang demikian lebih terkesima dengan eksotisme akan hal-hal yang baru dilihat/diketahuinya, meski pada masa lalu pernah mengakrabi atau bahkan kental dengan kulturnya.

Mereka juga terpenjara oleh asumsi, bahwa di luar mereka (termasuk hal-hal yang ada di pelosok negeri) sebagai subordinatnya. Itu kesalahan fatal lainnya, sehingga dengan latar belakang yang bla-bla-bla lantas dibuatkan treatment yang template sifatnya. Keunikan yang ada di luar mereka dinafikan. Bisa karena kesengajaan lantaran merasa lebih tahu solusinya, bisa pula sebaliknya, lantaran tak tahu-menahu apa fakta dan dinamika seperti apa yang ada di luar mereka.

Asumsi bahwa blogging sudah surut, saya duga, menjadi pemicu reposisi dari Pesta Blogger (yang menekankan blogger sebagai subyek) menjadi ON|OFF, di mana onliners, terutama aktivis media sosial (terutama Twitter) menjadi pelaku kunci. Cepatnya pertumbuhan pengguna Twitter (seperti halnya Facebooker) dibanding blogger, menyilaukan para pemrakarsa pesta tahunan itu, sehingga perlu banting setir.

Sayang, arah banting setirnya tanpa perhitungan matang, sehingga seolah-olah ajang yang diniatkan pesta paling prestisius praktisi online di Indonesia itu mengarah ke jurang. Jika ketika masih bernama Pesta Blogger dulu banyak orang bisa ‘on’ berjamaah, tapi dengan nama baru, semua seolah-olah ngedrop jika menggunakan istilah clubber. Off!

Sejujurnya, saya masih memandang perlu adanya event semacam Pesta Blogger dahulu. Ketidakmauan saya hadir di sana, lantaran tak cocok saja dengan konten dan desain acaranya. Onliners lebih diposisikan sebagai pasar sekaligus buzzer sebagai jembatan produsen dengan publik sebagai konsumen. Offliners di Jakarta sebagai locus de licti tak merasakan manfaatnya.

Bandingkan jika event serupa digelar di daerah. Publik dan daerahnya akan mendapat manfaat lantaran bakal ada posting dan kicauan dari orang-orang yang datang ke sana. Tentang kekayaan budaya, suasana kota, kuliner, dan sebagainya. Ini salah satu contohnya. Di Jakarta? Pendatang bisa takut tersesat jika jalan-jalan sendirian tanpa tahu peta. Belum faktor macet dan biaya yang membuat seseorang tak mudah menjangkau atau menemukan yang diinginkannya.

Bandingkan dengan Kopdar Blogger Nusantara di Sidoarjo 28-30 Oktober lalu. Sedikitnya 1.200 orang berkumpul selama tiga hari untuk mengikuti sesi-sesi yang serius. Bahkan, pada hari terakhir masih ada 200 tambahan peserta. Kebersamaannya sangat terasa walau pada tidur beralas terpal plastik di sebuah gelanggang olahraga. Mandi dan kakus pun terbatas, harus antre seperti di pengungsian. Betahnya mereka bertahan, lantaran ada harapan keleluasaan bercengkerama, ngrumpi ngobrol ini-itu yang memang naluriah.

Awal Januari nanti, saya yakin acara ulang tahun Blogger Malang akan ramai meriah karena banyak pendatang dari luar daerah ingin menuntaskan naluriahnya mereka dengan kumpul, ngrumpi secara berjamaah. Di kota yang tak terlalu hiruk-pikuk dan memiliki banyak pesona, saya yakin akan banyak foto, tulisan dan kicauan tentang kekayaan dan keunikan lokalitas bakal bertebaran dari sana. Melihat, merasakan (pengalaman) dan hasrat berbagi itu sudah naluri. Bahwa kelatahan akan menjadi bumbu, itu sudah pasti, meskipun saya tak yakin teman-teman blogger yang akan datang ke sana, kelak, akan berbagi cerita berbekal kelatahan semata.

Saya kira, aura dan dampak kumpul blogger di Malang, Wonosobo, Solo, Ponorogo, Bangkalan Madura, akan sangat berbeda dengan dua event serupa di Bekasi. Lingkungan dan kultur yang berbeda mendorong kreativitas yang berbeda pula, sehingga akan menciptakan sesuatu dan dampak yang tidak bakal persis sama. Dan itu lumrah-lumrah saja.

 Mari kita simak saja. Prediksi saya, 2012 akan menjadi tahun kebangkitan lokalitas. Keunikan akan menjadi daya tarik utamanya. Jika dikaitkan dengan teori pasar, mengingat para onliners akan selalu bersentuhan dengan produk gadget dan perangkat telekomunikasi lainnya, maka bukan tak mungkin para produsen (dan pemasar) bakal ramai-ramai menyerbu daerah.

Pada situasi yang niscaya itulah, orang-orang daerah harus berbenah. Kalau mau agak politis, harus mau dan siap membuat bargaining, tawar-menawar dengan pemasar. Lengah atau tak mau belajar pada sejarah, maka daerah akan kembali dijajah.

Perang-perangan Event

Ada kabar event Pesta Blogger yang dulu ‘prestisius’ diundur, dari semula akhir Oktober menjadi Desember. Saya sebut prestisius di masa lalu, sebab kini cuma jadi bagian. Blogger diperlakukan sebagai ‘a part of’ pengguna sosial media yang beragam. Adakah kaitan pengaruh dari gelaran kopdar akbar Blogger Nusantara di Sidoarjo, 28-30 Oktober?

Saya ingin menjawab pertanyaan di atas dengan kata: YA!  Meski tak serta-merta, namun titik singgungnya mudah dibaca, gampang dipetakan.  Ada banyak pihak yang tak rela, jika ngeblog dianggap kalah ‘mulia’ dibanding ngetwit, mainan Twitter dengan muatan aneka pesan. Apalagi, belakangan kian terasa komersialisasi Twitter lebih menonjol dibanding media lainnya, baik itu Facebook, Instagram, hingga blog.

Blogging, seberapapun ‘remehnya’, jelas lebih banyak menguras energi kreatif. Menyusun kalimat butuh referensi, apalagi jika pesannya harus diuraikan secara panjang-lebar. Keterbatasan ketersediaan jumlah karakter pada Twitter tak mungkin disandingkan dengan aktivitas blogging. Itu menurut saya….

Tweeting, boleh jadi memang penting, walau dilakukan sambil (maaf) ngising alias buang air besar. Penting, sebab tren komersialisasi teks bagi sebagian aktivis daring dianggap turut mewarnai perjalanan bangsa ini, sehingga masuk klasifikasi perkara genting.

Kebutuhan pencitraan, entah itu produk barang, jasa maupun lembaga dan seseorang, seperti urusan hidup-mati. Sah-sah saja menurut saya, sepanjang tidak berlebihan dan tidak menjerumuskan dengan mengecoh. Twit yang membawa kode URL bermuatan komersil, misalnya, ditandai khusus agar pembaca sadar ketika ngeklik rekomendasi. Itu sekadar contoh, ketika kesepakatan pembakuan kode twit komersil belum ada.

Bagaimana dengan postingan blog berbayar alias komersil sepeerti review? Untuk yang satu ini, ‘hukum’-nya lebih jelas: pembaca punya pilihan alasan untuk segera meninggalkan atau tidak meneruskan pembacaan. Di Twitter, satu klik bisa menjadi indikator pengunjung unik yang cukup berarti.

Lantas, apa bedanya ratusan (mungkin ribuan seperti diklaim inisiator pertemuan) Blogger Nusantara yang bakal berkumpul di Sidoarjo, Jawa Timur? Saya melihatnya sebagai sesuatu gelaran yang berbeda. Bahwa sebagian blogger ada yang berharap bisa memperoleh ‘pekerjaan’ (baca: penghasilan) dari ngeblog, ya memang begitu sebagian nyatanya. Tapi, mayoritas yang menyatakan akan hadir, saya takin lebih banyak dilatari keinginan untuk kopi darat, bertemu atau berkenalan dengan blogger dari berbagai penjuru Nusantara, lantas membangun jejaring dengan ikatan paguyuban. Bukan model patembayan yang mirip-mirip penganut paham Weberian.

Saya dan teman-teman dari beberapa komunitas blogger maupun blogger independen alias nonkomunitas, termasuk yang ingin datang dengan niat menjalin pertemanan secara lintas daerah, sekaligus menjadikannnya sebagai ajang kangen-kangenan, terutama bagi yang merasa kenal lewat media Internet atau saling komentar do blog.

Bagi saya, ini merupakan kesempatan mahal untuk dilewatkan. Soal ada ‘berkah’ dari kopdar, itu soal lain lagi. Kumpul ya kumpul, mangan-mangan ya mangan-mangan, ya berkumpul, ya makan-makan. Sesimpel itu kira-kira.

Di luar itu, ada juga kekecewaan saya terhadap event tahunan yang katanya HARUS diselenggarakn di Jakarta, sementara kali ini, yang baru akan menjadi perhelatan akbar yang kelima, nama blogger ditenggelamkan begitu rupa, turun kasta dibanding pekicau dan sebangsanya.

Kita tahu, follower sebuah akun Twitter bisa jadi hanya sosok anonim, atau individu yang percaya tanpa syarat kepada pihak yang selalu disimak linimasanya. Beda dengan blog, meski namanya pemiliknya disembunyikan atau anonim, pesan-pesan yang disampaikan lebih ‘berkarakter’ alias ‘lebih sesuatu banget’.

Semua muatan pesan dari sebuah blog, pasti sudah melalui pertimbangan tertentu sebelum dibuat hingga dipublikasikan. Capek-capek nulis, memelototi referensi atau informasi rujukan, paling banter dibayar ratusan ribu, meski itu merupakan sebuah paostingan bermutu. Orang bisa meninggalkannya segera jika postingan dianggap tak berguna, beda dengan Twitter yang sekali berkicau sudah ada mesin argo(meter).

Jujur, saya tak tertarik dengan twit komersial. Kalau sedekah retweet, asal bermanfaat bagi orang banyak, pastilah saya lakukan. Soal ada yang curiga, apalagi jika menyalahpahami dampak hanya dengan merujuk jumlah penyimak linimasa saya.di Twitter, pastilah ia terjebak pada kekeliruan mengambil kesimpulan.

Dari rencana perhelatan Kopdar Blogger Nusantara dan Pesta On/Off alias kumpul blogger alpa’ update blog, saya ingin berharap, para pemilik akun Facebook, instagram dan terutama Twitter, menjadi lebih aware sehingga kelak lebih selektif, bijak dan dewasa mengikuti linimasa, siapapun yang di-follow-nya, agar tak tersesat sia-sia di mayantara.

Bahwa ada gosip terdapat kerepotan lain untuk menyukseskan KTT ASEAN di Bali, sehingga harus memundurkan acara hingga dua bulan lamanya, anggap saja itu cuma kicauan ‘nyari’ gara-gara. Walau, sejatinya lucu juga, kula event yang biasanya didekatkan dengan tanggal peringatan ‘Hari Blogger Nasional’ harus dijauhkan. Secara ilmu public relations, agak musykil juga sebuah pengunduran kegiatan tak main-main, tanpa.mempertimbangkan ‘situasi sosial-politik’ dunia blogging Indonesia kontemporer.

Agak janggal juga, kula untuk berpartisipasi memeriahkan KTT ASEAN saja harus melibatkan institusi kedutaan negeri perkasa hingga penanggung jawab kegiatan berskala regional itu harus mengundang pengurus ASEAN Blogger Community yang telah merintis upaya-upaya membangun ‘dialog kawasan’ bersama Kementrian Luar Negeri, untuk duduk bersama dan berkompromi dan bekerja sama.

Satu pertanyaan yang masih saya cari jawabannya hingga kini, adalah apa yang sudah dilakukan para bloggerwan/bloggerwati bagi bangsa dan negeri ini? Pengguna media Internet Indonesia saat ini, menurut saya, mirip populasi yang berada pada puncak piramida manusia. Yang sedikit secara kwantitas, namun potensial menciptakan gaduh dan ketenangan. Populasi terbesar yang berada pada posisi paling bawah hanya menjadi penonton. Ada jarak, pastinya…..

Lantas, kenapa saya harus bikin postingan demikian? Ya, minimal supaya menyenangkan pembuat aplikasi plugin gratisan yang menampilkan secara acak sebuah postingan lama. Kalaupun harus nongol #oldposting, supaya waktunya tak terpaut terlalu lama dengan postingan ini.

Yang juga jadi harapan saya, adalah agar teman-teman blogger semakin tidak rela jika ada pihak Yang ingin memasukkan blog yang dikelolanya ke dalam klasifikasi heritage blog. Saya tahu persis, mandat UNESCO tidak sampai jenis arsitektur maya ini. Beda jauh dengan artefak bangsa Maya.

Blogging yang Mengering

Artikel Kang Nukman mengingatkan kegelisahan saya akan prasangka terhadap banyak blogger yang kian jauh dari aktivitas blogging. Twitter saya anggap sebagai faktor ‘pengganggu’ utama gairah blogging. Meski cuma dibatasi 140 karakter, tapi Twitter lebih menggiurkan, apalagi sejak ramai twit berbayar.

Saya tak menolak keberadaan twit komersil, walau sampai sekarang saya masih berjanji pada diri sendiri, untuk tidak masuk ke ranah ini. Kalaupun kicauan saya pernah menyinggung brand, produk atau kegiatan tertentu, saya jamin tak ada udang di baliknya, dalam arti saya memperoleh imbalan tertentu. Saya ngetwit suka rela. Merdeka.

Terhadap kicauan yang saya anggap memiliki nilai manfaat bagi orang lain, maka saya rela me-retweet, dan kalau perlu saya tambahkan seperlunya. Istilahnya, ikut nge-buzz. Tak jarang, dari ‘perdebatan’ di linimasa yang saya baca, lantas menginspirasi untuk ‘menyatakan sikap’ dengan membuat postingan di blog.

Di Twitter, saya berprinsip akan me-retwet kicauan teman yang menyebutkan adanya posting baru di blognya. Saya yakin, dari sekian penyimak (maaf, saya kurang sreg dengan istilah pengikut atau follower) timeline saya, pasti ada yang membutuhkan, seraya berharap, siapa tahu bisa memberi dampak peningkatan jumlah kunjungan ke blog teman-teman saya.

Di Twitter pula, saya akan mem-follow akun-akun baru, yang jumlah penyimaknya kurang dari 10. Kenal atau tidak, saya akan lakukan follback dengan niat membuat seseorang itu bergairah pula dalam menggunakan social media. Meski tak sedikit yang membuat kicauan (maaf) sampah, saya meyakini jenis media baru ini memiliki kekuatannya sendiri, sehingga jika disikapi secara benar dan bijak, akan memberikan kemanfaatan bagi orang lain.

Dengan keterbatasan hanya 140 karakter di Twitter, pelan-pelan seseorang akan terbiasa menyusun kalimat efektif. Jika berhasil membuatnya, maka saya meyakini seseorang akan suka merangkai kata lebih panjang dan bermakna. Dan blog masih merupakan satu-satunya media penampung tulisan panjang, sehingga seseorang akan lebih leluasa menyatakan pendapatnya, dibanding status atau catatan di Facebook.

Update blog bukan soal gampang bagi banyak orang. Sama dengan mengelola blog, banyak orang selalu terganggu dengan anggapan, bahwa ngeblog harus bisa menulis dengan standar tertentu. Padahal, untuk blogging, tak ada keharusan ini-itu, apalagi berpretensi menjadikan blog seperti layaknya jurnal atau situs media massa. Pingin ngeblog, ya ngeblog saja. Bahasa dan isinya suka-suka. Mau berupa tulisan, foto, audio, video atau paduan di antaranya, tak ada beda.

Kalau mau kritis terhadap sesuatu atau menyinggung seseorang atau lembaga, memang sebaiknya berhati-hati akan risiko atau dampak hukumnya. Tapi kalau bercerita yang happy-happy saja, atau good story, jelas tak perlu takut risiko ini-itu. Konsumen blog pasti sudah mampu memilih dan memilah mana yang disuka atau dibutuhkannya, sehingga kita tak perlu risau terhadap konten yang kita bikin.

***

Kembali ke masalah sepinya minat blogging, saya termasuk salah seorang yang mencemaskannya. Komunitas blogger ada di mana-mana, tapi pertumbuhannya masih begitu-begitu saja. Tak tumbuh besar secara kwantitas, tapi yang meningkat secara kwalitatif justru surut.

Twitter masih saja ‘mengganggu’. Tak sedikit malah selalu berpikir memperbanyak jumlah follower karena bercita-cita memperoleh keuntungan material dari sana. Semacam metamorfosa dari monetized blogging, lantaran Google Adsense tak lagi bisa diandalkan lantaran kian ketat bikin aturan, sementara ‘harga’ pay per click dan sejenisnya kian rendah. Fenomena twit berbayar begitu menggoda mereka.

Hingga di sini, saya masih belum paham, mengapa banyak orang terobsesi monetize lewat Twitter. Sama dengan ketidakpahaman saya dengan tren konsultan pemasaran dan komunikasi yang menempatkan Twitter seolah-olah menjadi media paling efektif untuk beriklan. Lebih tak paham lagi, jika ada yang percaya bahwa penyimak linimasa (ya para follower itu) akan selalu mempercayai nilai pesan berupa kicauan.

Jujur, saya kian tak paham dengan adanya event baru bernama ON|OFF, yang menempatkan forum Pesta Blogger sebagai bagiannya. Pengguna social media seolah-olah berada setingkat di atas blogger. Sementara, kicauan di Twitter sejatinya menjadi kian bermakna jika mengarahkan pada pesan ditampilkan secara lebih utuh dan memadai di blog atau website. Pesan melalui kicauan serial, menurut saya, masih potensial menemukan kegagalan lantaran masih banyaknya pengguna socmed yang masih awam, sehingga tak memiliki tradisi merunut pesan yang saling berbalas/bersahutan.

Saya justru menjadi bingung, mengapa para blogger penggagas ON|OFF menjadi kurang pede dengan menempatkan blogger hanya sebagai bagian dari pekicau dan pengguna jenis jejaring sosial lainnya. Kenapa tidak dibalik, misalnya, justru menempatkan pertemuan para aktivis dan pengguna socmed sebagai bagian dari blogosphere, terlebih jika Twitter, Facebook dan sejenisnya disebut sebagai microblogging. Lantas, siapa yang ada di posisi ‘makro’-nya?

 ***

Sejujurnya, saya tertarik dengan gagasan Idblognetwork terang-terangan menawarkan review produk lewat aktivitas blogging. Saya pun merasa lebih nyaman melakukan ‘monetize’ lewat cara ini dibanding kicauan komersial di Twitter. Saya merasa tidak ada beban membuat postingan komersil, karena pembaca blog saya bisa meresponnya sesuka hati. Bisa memaki jika tak setuju melalui fasilitas komentar yang tak saya moderasi, atau merespon positif jika berkenan.

Sementara di Twitter, saya akan merasa sangat bersalah jika menyebarkan pesan-pesan terselubung padahal bernilai komersil. Andai ada kejelasan berupa tagar semacam (misalnya) #iklan atau #komersil pada sebuah twit berbayar, mungkin baru saya mau menerima tawaran demikian. Intinya, ‘pembaca’ harus tahu dan bisa membedakan mana yang komersial dan mana yang bukan, sehingga mereka bisa membuat keputusan yang tepat.

Saya termasuk orang yang meyakini konten blog akan memiliki peran strategis, kini maupun kelak. Promosi sebuah daerah, produk kreatif masyarakatnya, dan masih banyak lagi, bisa dilakukan melalui blog. Sifat subyektif dan testimonial justru menjadi kekuatan, karena kejujuran isi pesan akan bisa dirasakan dan dinilai pembaca.

Kalau boleh berharap, saya ingin pemasar dan produsen bidang apapun turut menyemarakkan gairah blogging melalui aneka lomba, walau tak harus menyingkirkan kuis atau lomba ngetwit dan sejenisnya. Award untuk blogger juga penting, supaya InternetSehat tidak ‘kesepian’ menjadi penyelenggara tunggal.

Perlunya award atau penghargaan tahunan, juga lomba, adalah memacu gairah blogger untuk memproduksi sebanyak mungkin konten-konten bermutu dan bermanfaat untuk apa saja dan siapa saja. Tema bisa dibuat dan keragamannya pun bisa diperhitungkan sesuai keperluan. Yang pasti, konten-konten dari jutaan blog akan memiliki arti dan kontribusinya sendiri.

Contoh paling sederhananya begini: sebuah perusahaan mengurangi satu kali tayang iklannya di televisi yang tarifnya puluhan juta, dan dikonversi sebagai hadiah lomba. Jika perusahaan-perusahaan lain pun melakukan hal serupa, maka akan terdapat banyak lomba, sehingga dengan sendirinya akan terdapat banyak postingan, yang artinya kian banyak tersedia referensi digital di Internet.

Yang jadi persoalan, maukah agensi atau konsultan komunikasi menjadikan hal demikian sebagai salah satu butir rekomendasi kepada kliennya? Ya, hitung-hitung biar dunia blogging tidak kering….