Mengenang Gus Dur

Santri Pondok Pesantren Tebuireng memasang bendera setengah tiang, tanda berkabung atas wafatnya KH Abdurrahman Wahid

Pagi, 31 Desember 2009, tepat tiga tahun silam, seorang santri Pondok Pesantren Tebuireng, Jombang mengibarkan bendera setengah  tiang.  Seluruh penghuni pondok berduka karena salah satu kiai yang mereka hormati, telah berpulang menghadap Sang Khalik.

Laporan pagi...

Tak hanya para santri di lingkungan Ponpes Tebuireng, dimana KH Abdurrahman Wahid alias Gus Dur merupakan keturunan langsung Hadratus-syeikh KH Hasyim Asy’ari, seluruh warga Indonesia dan dunia berduka atas kepulangan mantan Presiden Republik Indonesia. Semua stasiun televisi nasional menyiarkan prosesi pemakaman secara langsung.

Bahkan, semua kantor berita media asing yang punya kantor di Indonesia, pun meliput kepergian tokoh penting, yang semasa hidupnya dikenal pemberani, kontroversial, namun konsisten dalam perjuangan penegakan hukum, hak asasi manusia, dan terutama hak-hak kaum minoritas dan kaum tertindas. Betapa petingnya mengabarkan kepergian sang tokoh.

Mengusung parabola, demi kelangsungan siaran...

Di seluruh penjuru negeri, jutaan pasang mata menyimak semua perkembangan dan laporan langsung prosesi pemakaman sang tokoh besar. Dari rumah-rumah, hotel, tempat-tempat umum hingga warung-warung, tak ketinggalan tetangga sekitar pondok yang tak bisa menyaksikan langsung dari dekat.

Warga sekitar pondok dan para pelayat menyimak prosesi pemakaman Gus Dur melalui siaran televisi...

Gus Dur, adalah Presiden Rakyat Indonesia, selamanya. Ia bukan hanya milik warga muslim, atau sekadar milik Nahdlatul Ulama.

Kaum minoritas agama dan etnis, barangkali menjadi pihak yang merasa paling memiliki Gus Dur. Bagi peranakan Cina di Indonesia, misalnya, Gus Dur tercatat pernah menunggui proses pernikahan menurut tata cara Konghucu. Ia pun membuka kran kebebasan semua warga negara mengekspresikan agama dan kebudayaannya, seperti perayaan Imlek hingga penggantian nama Irian Jaya menjadi Papua seperti semula.

Ayah-anak membawa dupa sebagai pelengkap doa untuk Gus Dur

Tak heran jika banyak pendeta, pastur, biksu dan tokoh-tokoh berbagai agama turut berdesakan terlibat dalam upacara pemakaman almarhum.

Dan, satu hal menarik, betapa Gus Dur dan pondok-pondok NU seperti Tebuireng sangat terbuka bagi kehadiran umat dengan perbedaan agama dan keyakinan. Saya menyaksikan sendiri, rombongan berkostum kiai atau ulama  belum tentu diperbolehkan memasuki pelataran pondok menjelang proses pemakaman berlangsung.

Saya dengar, Banser yang ‘berkuasa penuh’ membuka dan menutup pintu gerbang pondok dipilih gabungan dari Klaten, Jawa Tengah dan dari kota-kota lain, selain Jombang dan sekitarnya. Itu merupakan cara menghindari pemberian proritas kepada ulama-ulama setempat yang berakibat sesaknya halaman pondok, yang juga bakal dipenuhi oleh rombongan Presiden dan tamu negara.

Para Banser memberi prioritas masuk bagi pendeta, pastur, biksu dan para diplomat asing, sementara untuk kiai hanya terbatas yang sudah dikenali kerabat almarhum dan keluarga besar pondok. Itu menunjukkan, betapa Banser dan kalangan nahdliyin cukup toleran dan terbuka terhadap keragaman sebagaimana diperjuangkan Gus Dur dan ribuan ulama, terutama NU.

Para biksu hendak ber-takziah

Selain umat berbagai etnis/agama, banyak aktivis sosial-politik yang sangat kehilangan Gus Dur, sosok demokrat sejati yang tak ragu berada di garis depan melawan ketidakadilan.  Gus Dur bukan hanya menjadi patron, namun juga sahabat diskusi mereka, membahas beragam ketimpangan serta mencari solusi memperjuangkannya.

Aktivis FPPI, sebagian dari banyak penerus perjuangan Gus Dur

Front Perjuangan Pemuda Indonesia (FPPI) termasuk salah satunya. Organisasi anak-anak muda dengan slogan “Rakyat Kuasa” itu, dari dulu dikenal sangat cinta NKRI, dan merasa menjadi penerus perjuangan Gus Dur. Di luar mereka, ada pula Perguruan Rakyat Merdeka (PRM) dan masih banyak lagi.

Lautan pelayat...

Lantaran Gus Dur ‘dimiliki’ semua orang, tak heran jika jalan sepanjang lima kilometer yang membentang di depan pondok menjadi lautan manusia.

"Liberal"-nya santri sarungan...

Sebagai sosok toleran dan makhluk multikultur, Gus Dur bahkan dipahami santrinya sebagai sosok terbuka dan modernis. Piercing atau tindik bahkan ‘diadopsi’ oleh santri, seperti halnya cat rambut warna-warni. Yang penting, tak bertentangan secara syariah, seperti misalnya, rambut orang Indonesia yang hitam tak boleh  diganti warna putih uban dan sebaliknya, putih rambut lantaran uban tak boleh dicat hitam, sebab itu menipu. Warna lain, seperti merah atau hijau dianggap boleh, lantaran sudah jelas tak ada rambut orang Indonesia berwarna demikian secara alamiah, sehingga tak perlu diharamkan.

Memerhatikan aneka jenis pin...

Lihatlah para prajurit TNI yang takzim menyimak pernik-pernik souvenir bergambar  wajah Gus Dur. Juga kesigapan mereka menjaga keamanan selama proses pemakaman.

Saya yakin, mereka paham keinginan Gus Dur memisahkan lembaga ketentaraan dengan kepolisian semasa beliau menjabat Presiden. Semua demi profesionalitas militer, yang memiliki peran strategis menjaga keutuhan NKRI dan menjauhkan mereka dari politik praktis.

Hingga akhir hayatnya, Gus Dur masih memrihatinkan profesionalisme militer yang belum didukung sepenuhnya oleh DPR dan presiden-presiden penggantinya.  Pengadaan alat utama sistem persenjataan masih minim, pun anggaran operasional untuk mereka.

Lembaga kepolisian yang sudah dipisahkan dari institusi ketentaraan, pun belum sepenuhnya profesional. Ujung tombak penegakan hukum dan supremasi sipil masih compang-camping, hingga di kemudian hari, tercatat memiliki banyak kasus korupsi dan pelanggaran hukum.

Usai bertugas mengamankan upacara pemakaman...

Karangan bunga dukacita dari Panglima.

Gus Dur adalah bapak dan guru bagi semua orang. Tak aneh pula jika sebagian dari masyarakat Indonesia mengkultuskannya. Ada yang berebut bunga seusai pemakamannya, juga menyimpan tanah dari pusaranya. Ada yang memercayai tuahnya, sehingga pengurus pondok perlu tegas membuat aturan tak boleh peziarah mengambil apa saja yang menyebabkan perbuatan mereka menjadi syirik dan dilarang dalam ajaran Islam.

Berebut tempat di dekat pusara...

Semua merasa kehilangan dan ingin bersaksi melepas kepergian...

Ya, semua orang merasa kehilangan Gus Dur. Rakyat kecil atau rakyat ‘besar’ merasa kehilangan pegangan dan sosok panutan.

Tangis santri untuk Sang Kyai

Kini, setelah tiga tahun kepergian almarhum, ribuan peziarah masih terus berdatangan ke Jombang. Doa Yasin dan Tahlil terus berkumandang, bersahut-sahutan antara rombongan/kelompok peziarah dari asal daerah berbeda. Kompleks makam dipugar oleh pemerintah setempat, dan disiapkan pintu khusus dari belakang Pondok Tebuireng, untuk peziarah yang tak pernah surut, selama 24 jam.

Jalur khusus peziarah...

Puluhan kios dan ratusan pedagang kakilima menjajakan aneka rupa. Mereka memperoleh rezeki dari para peziarah. Puluhan rumah dipugar untuk dijadikan lahan usaha, dari jualan minuman seperti kopi hingga bakso dan aneka ragam jajajan, oleh-oleh, hingga dijadikan tempat buang air alias WC umum.

Deretan warung di belakang pondok/kompleks makam.

Namun, Gus Dur yang bersahaja semasa hidupnya, masih menjadi inspirasi bagi siapa saja warga Indonesia. Masih banyak yang meneladani jalan hidupnya, dan meneruskan perjuangannya.

Namun sayang, pemugaran kompleks makam yang diperuntukkan bagi peziarah justru didesain seperti layaknya obyek wisata. Saya yakin, Gus Dur tak menyukai perlakuan demikian, meski memahami niat baik Pemerintah, baik Provinsi Jawa Timur maupun Kabupaten Jombang.

Makam Gus Dur yang sedang dipugar...

Berharap pada Cina

Malam ini, asyik juga nonton Rossy, yang menghadirkan peranakan Cina yang jadi polisi untuk diwawancarai. Sayang. perempuan polisi itu menuliskan namanya Yolla di setelah pangkatnya: Brigadir Satu. Sungguh menarik kalau ia menuliskan nama kecilnya, sebauh nama Cina, Chiang Mei Xiang (semoga saya tak salah menuliskan namanya).

Peranakan Cina menjadi polisi baru saya tahu kini, meski (kalau tak salah ingat) pernah ada sebelumnya. Di TNI, saya malah belum pernah mendengar, apalagi tahu atau bertemu. Kalau pegawai negeri, saya sudah pernah menjumpai, meski hanya beberapa. Salah satunya bernama Oh Bun Lan, yang kini sudah pensiun dari pegawai Kantor Pajak di Semarang.

Oh Bun Lan, bagi saya, bukan seorang Cina. Ia seperti orang Jawa kebanyakan, hanya berdialek Semarangan. Sering dia, itri dan anak-anaknya berkunjung ke rumah saya, dan masuk rumah tidur di atas tikar sambil menunggu ibu atau bapakku pulang kerja. Kami seperti keluarga, padahal kenalnya juga tak terduga. Hanya karena ia sekantor dengan paman saya.

Sama seperti Mei Xiang yang ‘bernama’ Yolla, Om Bun Lan memakai Buntoro sebagai nama resmi ‘kedinasan’. Sekilas pilihan nama itu merupakan kerelaan. Padahal, itu merupakan catatan sejarah kelam kebangsaan. Sebuah kebijakan yang direka-reka Soeharto pada masa-masa awal berkuasa, demi pembeda semata. Yang ‘ikut’ Soeharto harus membumikan nama, terserah mau beraroma Jawa, Sunda atau suku-suku yang menjadi mayoritas di mana ‘Si Cina’ tinggal. Pokoknya, asal jangan Cina!

Karena itu, identitas kultural mereka harus disembunyikan. Soeharto yang suka hal-hal serba mono, tunggal dan seragam, pun terus membuat kebijakan-kebijakan yang mengukuhkan atribut sosial peranakan Cina ke dalam satu sektor semata: bisnis! Ya, hanya di sektor ekomoni saja mereka dikotakkan. Dalam rentang waktu sangat panjang, Presiden Kedua Indonesia itu membatasi peranakan Cina menjadi pegawai negeri, polisi atau militer.

Kita tahu, stereotip bahwa peranakan Cina itu pengejar untung semata, pelit dan asosial lahir dari situasi politik yang serba monolitik, dikendalikan oleh rezim yang sangat kuat. Ujung-ujungnya, prasangka sosial yang dibumbui penyakit cemburu sosial akut, terbukti menorehkan luka yang teramat dalam lewat Kerusuhan Mei 1998. Banyak peranakan Cina mati sia-sia, sebagiannya diperkosa, dan yang terbanyak: dihanguskan rumah dan lahan usahanya setelah dijarah hartanya.

Memang, prasangka terhadap peranakan Cina masih ada di mana-mana, meski sudah mereda setelah Tragedi Mei itu. Kerusuhan 1998 menjadi titik balik bagi interrelasi peranakan Cina dengan suku-suku lain di Indonesia, apalagi banyak orang merasa, penjarahan dan penghangusan Cina pada tahun itu hanya buah provokasi politik semata.

Dan, KH Abdurrahman Wahid sebagai presiden membuka pintunya, dengan menyerahkan kembali hak-hak peranakan Cina yang telah dirampas penguasa Indonesia, yakni menjalankan syariat ke-Cina-an yang tak mungkin dipungkiri. Kita tahu, tak cuma Cina, semua bangsa di dunia memiliki tradisi meneladani budaya nenek moyang mereka. Imlek, barongsai, Taoisme, Konghucu dan tetek bengek yang berbau Cina, sama derajadnya dengan sadranan atau tradisi bersih desa.

Beruntung, Pemerintahan Megawati meneruskan pembangunan rumah kebangsaan yang pondasinya telah dibuat oleh Gus Dur. Tahun baru Imlek dinyatakan sebagai hari libur nasional, Surat Bukti Kewarganegaraan Republik Indonesia (SBKRI) dihapuskan dan sederet kebijakan yang menjunjung tinggi hak-hak sipil dan kulturalnya.

Ingin sekali rasanya, saya segera melihat peranakan Cina menadi polisi, pegawai negeri, tentara, atau profesi-profesi lain yang berhubungan dengan publik luas, sehingga bisa mempercepat terjadinya silang budaya, akulturasi yang sesungguhnya, dan sebagainya. Selain Briptu Chiang Mei Xiang, saya juga bermimpi ada infanteri bernama Liem, penerbang Han, atau marinir Tan.

Tak cukup rasanya saya hanya mengenal Oh Bun Lan, Sofyan Tan, Chiang Mei Xiang, Margarita Astaman, Tiki Budiono, Amin Santoso, Stanley Adi Prasetyo, dan entah siapa lagi. Dulu, banyak nama Cina terlibat dalam pergerakan kemerdekaan, juga membangun pondasi demokrasi di negeri ini. Tak perlu lagi orang Jawa, Sunda, Batak, Padang, Bugis dan sebagainya merasa lebih pribumi, dibanding peranakan Cina, Arab, India. Sebaliknya, tak perlu pula kita menganggap orang barat serba hebat. Kita semua sama.

Kalau kita mau mengupayakan mewujudkan Indonesia yang bhinneka, lebih beradab dan kian maju, maka inilah kado terindah di tahun macan. Sekaligus memaknai Valentine’s Day tahun ini dengan menebar kasih sayang tanpa membeda-bedakan suku, ras, agama dan sebutan-sebutan tak bermutu lainnya.

Gong Xi Fat Chai

Kabar Segar Duta Peranakan

Adalah sebuah berkah bagi saya. Duduk bersanding dengan Margie (Margy?) dalam rangka promosi bukunya, Have a Sip of Margarita, di Gramedia, Solo, sepekan silam. Bukan cuma buku yang jadi ‘imbalan’. Lebih dari itu, saya merasa dipertemukan oleh Tuhan, dengan seorang dewi, seorang duta peranakan Cina yang berpotensi mengurangi prasangka antaretnis, juga agama.

Judul: Have a Sip of Margarita: Love, Live, and Journey Penulis: Margareta Astaman Tebal	: 198 hal + ix Penerbit: AzkaMedia Cetakan Pertama: Nopember 2009

Judul: Have a Sip of Margarita: Love, Live, and Journey Penulis: Margareta Astaman Tebal : 198 hal + ix Penerbit: AzkaMedia Cetakan Pertama: Nopember 2009

Banyak orang tak paham, terlalu banyak kelompok kepentingan yang masih suka bermain-main, di antaranya dengan memanipulasi atribut-atribut kemanusiaan. Konflik Dayak-Madura di Sampit, Islam-Kristen di Ambon, serta monumen drama bertema prasangka yang mewujud pada tragedi bakar-bakaran serta perkosaan etnis Cina pada 1998, adalah beberapa contoh, betapa semangat ke-Indonesia-an kita masih rapuh.

Cukup banyak saya berkawan dengan peranakan Cina, yang egaliter-soliter, dan asyik untuk sodaraan. Tapi pada Margie, saya merasa menemukan sosok yang jauh berbeda dengan orang-orang peranakan Cina yang selama ini saya kenal. Maaf, saya kurang suka dengan eufemisme ala Soeharto dengan menggantinya dengan istilah Tionghoa, sebab model penghalusan demikian justru menjadikan kita mengeramatkan sesuatu yang tak perlu.

Meski baru kenal sehari, tapi dari Have a Sip of Margarita saya menemukan potret utuh seorang perempuan muda metropolitan yang sangat gaul, dan (karenanya jadi) kaya pengalaman. Pengakuan kecintaannya pada bahasa Indonesia ditunjukkan dengan tulisan-tulisannya yang nyaris terhindar dari kesalahan, meski ada satu-dua (yang jelas kurang dari lima!) kekeliruan menempatkan di sebagai kata depan dan awalan. Diksinya bagus, metaforanya luar biasa!

Margie bukan tipe peranakan yang berani membuka identitas diri dan keluarganya, ketika banyak teman sebayanya (apalagi senior-seniornya) yang masih mengidap trauma kecinaan. Sebuah situasi psikososial yang hanya bisa dimaklumi oleh orang-orang yang mau membuka pikiran dan menanggalkan atribut-atribut bawaan dalam merajut persaudaraan.

Ia banyak melontarkan bahan-bahan renungan, paparan otokritik, terutama menyangkut latar belakang ras dan agama, dua hal yang selama puluhan tahun ditanamkan sebagai tabu di bumi Indonesia, yang sejatinya multietnis, agama dan multisegalanya. Tulisan-tulisannya sangat menggugah, terutama penghargaan terhadap keragaman yang selama ini justru dijadikan sebagai pijakan untuk berpaling.

Reaksinya tentang Singapura yang saya sebut sebagai negeri dengan pemerintahan paranoid cukup menarik. Ia bahkan bercerita, semasa kuliah di Nanyang Technological University, kerap ditegur (bahkan didenda) oleh pemerintah setempat karena ia terlalu keras menuliskan kerisauannya atas berbagai hal. Mungkin, ia merasa sedang di Indonesia, yang relatif bisa bercerita apa saja.

Di blog (dan bukunya), ia juga menulis betapa di Singapura, manusia tak pernah dihargai, bahkan hanya disamakan dengan robot. Sehingga, sifat bosan dan frustrasi yang dimiliki manusia normal bisa dengan cepat mengubahnya menjadi fatalis atau berperilaku destruktif lantaran terlalu ditekan dengan tuntutan produktifitas, ciri kaum ultra-homo economicus.

Kembali pada sebutan saya untuk Margie sebagai Duta Peranakan Cina Indonesia, sejujurnya, berpijak pada kekaguman dan apresiasi saya atas keberaniannya menyuarakan semua hal yang dialami dan dirasakannya. Kritiknya atas sikap diskriminatif, seperti ditunjukkannya pada cerita tentang priviledges yang dimiliki oleh seseorang yang dicitrakan sebagai ras kaya, sehingga tak perlu membayar di depan atas semua yang dipesannya di sebuah restoran.

Juga, tentang perilaku pamer kapling untuk kuburan orang-orang kaya hanya demi gengsi saat berbincang dengan teman dan relasi saat menghadiri pesta, diceritakannya dengan lugas, enteng, namun sarat dengan pesan moral. Belum lagi mengenai kisah persahabatannya dengan seorang muslim, yang terpaksa dipisah lantaran prasangka masih menghantui keluarga si muslim.

Sebagai perempuan peranakan Cina, yang kebetulan beragama Katholik, sosok Margie adalah contoh manusia Indonesia yang seharusnya dimiliki siapapun, yakni mereka-mereka yang mengaku ‘lebih pribumi’ dan merasa ‘lebih berhak’ akan tanah air Indonesia.

Andai lahir banyak Margie-Margie di Indonesia, alangkah damainya masa depan negeri ini, sehingga tak cuma julukan Macan Asia yang pantas disematkan pada kata Indonesia.

Kalaupun ada kekurangan dari Margie, menurut saya, hanyalah kenapa ia masih ‘menyembunyikan’ tulisan-tulisannya di Multiply. Andai ditempatkan di weblog yang bisa diakses bebas oleh banyak orang, saya yakin manfaatnya akan kian terasa. Terutama bagi mereka-mereka yang mungkin tak seberuntung saya bisa memiliki bukunya secara gratis (plus tanda tangan penulisnya), sehingga bisa turut membaca dan memperoleh ‘pencerahan’ dari celoteh-celotehnya.

Terima kasih, Margaretha Astaman. Tulisan-tulisanmu telah menyemangatiku untuk terus merajut kebersamaan dalam beragam perbedaan. Selamat merayakan Natal. Semoga tahun barumu menyenangkan, entah bersama atau tanpa si mantan. Hehehe……