Laskar Suci

Jika ada orang yang dilarang melakukan ritual sesuai keyakinan mereka, pastilah perintah itu berasal dari pimpinan lembaga bernama Laskar Suci. Pun jika ada orang menenggak minuman keras lantas tubuhnya ditebas, hampir bisa dipastikan pelakunya adalah anggota Laskar Suci. Polisi? Mereka memilih ngumpet, sembunyi karena malu, sebab merasa kalah suci, kalah religius dibanding anggota laskar.

Jadi, maklumi saja jika polisi tampak tak berarti. Kasihani saja, atau jika ada waktu, ajari saja mereka memahami makna rangkaian kata dalam kita-kitab pidana dan perdata. Syukur jika berkenan, berikan pemahaman tentang hak asasi, khususnya untuk manusia. Tolong, jangan menyinggung deklarasi universal Perserikatan Bangsa-bangsa. Terlalu berat bagi mereka.

Laskar Suci, terbukti lebih mengerti cara bekerja yang benar, memberi pelajaran kepada orang-orang yang dianggap mengotori kesalehan sosial, sebab suka menenggak alkohol di sembarang tempat. Laskar Suci tahu, mabuk pun harus dilakukan dengan cara dan pemilihan tempat yang dibenarkan, yakni yang tak ddipertontonkan. Mereka tak ingin aksi minum-minum memicu orang lain meniru.

Laskar Suci hanya membolehkan peminum alkohol mabuk di restoran, klub malam atau rumah hiburan yang telah mereka sertifikasi, dengan cara menarik royalti atas seluruh keuntungan dari penjualan alkohol kemasan. Semua anggota laskar itu tahu, bahwa meminum air beralkohol itu merupakan bentuk pamer kemewahan. Dan, karena segala bentuk tindakan mempertontonkan kemewahan, berarti kesombongan dan menyakiti perasaan kaum miskin, yang bahkan minum teh atau kopi pun tidak mampu.

Sebab itulah mereka mencegah tindakan-tindakan yang mengarah kepada unjuk kesombongan.

Laskar Suci adalah penyelamat kedaulatan negara. Diadakannya hukum atau aturan negara, sejatinya untuk menciptakan harmoni. Sebuah tatanan, di mana antara manusia satu dengan yang lain tidak boleh menyakiti. Dan polisi (juga jaksa dan hakim), yang diberi wewenang mengawal hukum kelewat sering absen, maka tampillah Laskar Suci.

Sukses di satu tempat, Laskar Suci menginspirasi individu-individu kurang kerjaan di lain tempat, untuk membentuk laskar serupa. Tujuannya sama, meski bentuk aksinya bervariasi di berbagai penjuru kota dan pelosok desa. Tergantung kecerdasan dan derajad kreativitas pemimpin/inisiatornya.

Keberhasilan demi keberhasilan yang ditunjukkan laskar-laskar suci, yang dipublikasikan seragam oleh semua media massa maupun media sosial, membuat kian kecut polisi. Nyali anggotanya kian menciut, apalagi ketika mereka tahu banyak orang di sekitarnya terlibat perkara-perkara kusut.

Sementara, Laskar Suci selalu rajin mencatat kekurangan demi kekurangan polisi, lalu mereka kelola menjadi senjata untuk memojokkan kegagalan demi kegagalan polisi menjalankan mandat konsitusinya untuk menjaga ketertiban sosial, berbangsa dan negara. Singkat kata, dipakailah jurus pamungkas: kerja sama!

Polisi dan Laskar Suci saling berbagi. Ya rejeki, ya eksistensi. Keduanya sama-sama manusiawi.

Saya memilih tidak mau membayangkan bagaimana masa depan sebuah negeri, ketika polisinya diam-diam mengakui dirinya sudah tak suci lagi. Tempat-tempat judi atau lokasi-lokasi jualan whiski yang telah lama mereka lindungi secara diam-diam ternyata ketahuan Laskar Suci, maka ujung-ujungnya menjadi sesuatu yang pasti: harus kompromi.

Jadi, tak usah heran lagi jika Laskar Suci mengibarkan bendera kelewat tinggi. Kita hanya bisa berharap, polisi berani menggergaji tiang yang dipakai Laskar Suci mengibarkan panji-panjii supremasi tirani. Walaupun hal itu kini seakan merupakan keniscayaan, sebaiknya kita tak putus harapan.

Mari kita doakan keberanian rakyat teraniaya, atau tindakan warga yang terintimidasi lantas melawan aksi-aksi polisional Laskar Suci, membuat polisi jadi sadar akan kewajiban konstitusionalnya menjaga da menciptakan ketertiban sosial. Jika ada sebagian rakyat yang brutal, maklumi saja. Persetan dengan HAM dan taik kucing lainnya.

Sesekali, rakyat boleh mengekpresikan kekecewaannya, dengan caranya sendiri pula. Salah sendiri polisi kelewat sering absen dan minder kepada Laskar-laskar Suci, yang ke mana-mana selalu membawa petikan ayat kitab suci, namun sejatinya masih takut mati. Saya yakin, semua anggota dan pimpinan Laskar Suci paham, mati sahid yang mereka pahami tetaplah sesuatu yang suci sejati. Sementara, mereka tetap sadar bahwa hati dan tindakannya masih kotor senantiasa.

*tulisan ini didedikasikan untuk warga yang secara beramai-ramai berani melawan arogansi Laskar (sok) Suci, yang telah secara congkak mengambil alih peran polisi yang memilih sembunyi saat dibutuhkan publik pembayar pajak dan pengumpul gaji untuk menghidupi keluarga polisi*

Pemabuk Intelek dan The Twitters

Kata twit menurut AlfaLink berpadanan dengan mengejek, menggoda. Sedang twitter dipadankan dengan cicit-cicit, kicau. Apapun padanannya, kini saya sedang tergoda dengan kicauan di situs jejaring sosial Twitter. Namanya saja kicauan, tentu ada yang merdu, tapi tak sedikit pula yang berisik dan mengganggu.

Uniknya, kicauan para tweeps bisa jadi rujukan informasi yang menarik, menggoda untuk ingin lebih (mencari) tahu. Mulai cerita macetnya jalan akibat adanya rombongan demonstran, hingga kicauan tentang konflik dua menteri, yang menurut saya mengganggu. Kenapa terganggu, sebab nalar dan feeling saya belum bisa menautkan perihal konflik dua orang berinisial ARB dan SMI dengan aliran dana bailout Bank Century, yang saya yakini bocor ke mana-mana.

Membingungkan memang. Makanya, saya tetap yakin dengan pendirian saya, bahwa skandal Bank Century bukan urusan Robert Tantular dan teman-temannya sebagai pemilik saham. Ada misteri yang belum terungkap gamblang hingga kini. Ribut menjelang berakhirnya Pansus Century dan berita tarik-ulur anggota koalisi, bagi saya, itu memberi petunjuk mengenai besaran persentase tingkat keraguan yang saya miliki.

Sungguh, ribuan kicauan yang dipancarkan oleh jutaan orang tiap hari, menyodorkan kepada kita sebuah puzzle yang bisa kita susun sendiri sehingga menemukan kebenaran subyektif. Saya termasuk jenis orang suka ngotak-atik pesan, mencermati arah dan maksud si pembuatnya, dengan berpedoman pada fakta-fakta subyektif yang sudah saya miliki sebelumnya.

Mari kita simak baik-baik. Seburuk-buruknya isi pesan atau kicauan, tampak tak banyak yang punya niat bermain-main, kecuali satu dua yang berbagi joke atau cerita-cerita ringan sebagai penghiburan bagi para followers­-nya. Boleh saja Anda menyebut pekicau itu seperti kalimat-kalimat yang terlontar dari mulut seorang pemabuk.

Sebagai orang yang lama bergaul dengan pemabuk, saya justru mengapresiasi keberadaan mereka. Terlepas dari soal setuju dan tidak setuju pada perbuatan mabuk, saya justru banyak menemukan pelajaran hidup dari mereka. Tak jarang, pada posisi mabuk seseorang bisa lebih jujur mengungkapkan perasaan dan pendapatnya dibanding saat waras. Apalagi bagi orang-orang introvert.

Sewaktu kuliah dulu, saya memilih ‘belajar’ dari teman-teman pemabuk. Dari 200-an teman seangkatan, terdapat sekitar tujuh orang pemabuk yang membentuk gank. Di sini, saya ingin menyebut mereka sebagai pemabuk intelek. Saya sebut demikian, sebab keseharian mereka sangat lekat dengan buku. Akrab dengan teks.

Hampir semuanya menggemari novel dan bacaan-bacaan filsafat. Seperti berlomba, masing-masing pada kontes banyak-banyakan sumber bacaan. Banyak nama yang sering mereka sebut. Ada K. Bertens, Bertrand Russel,  Erich Fromm, F. Schumacer, Alvin Toffler, Neil Postman, Jalaludin Rahmad, Leo Tolstoy, Anton Chekov, Jujur Prananto, Sindhunata, YB Mangunwijaya, dan entah siapa lagi.

Saya tak tahu siapa nama-nama yang mereka sebut itu. Karena malas belajar saja, kadang saya melontarkan pertanyaan terkait mata perkuliahan yang saya tak paham, ketika mereka sedang berkumpul, dan sedang mabuk! Ramai diskusi antarpemabuk hanya saya dengarkan, sambil diam-diam mencari bahan untuk kemudian saya cocokkan dengan referensi seadanya yang saya punya. Aman, walau rata-rata cuma dapat nilai dua koma, namun sedikit banyak bisa mengendap di kepala.

Karena membahas satu tema sambil mabuk berjamaah secara panjang lebar, sayalah yang sangat diuntungkan. Apalagi, ketika itu mereka rajin baca Kompas Minggu, yang selain menampilkan cerpen-cerpen bermutu, juga artikel-artikel budaya yang dilontarkan pemikir-pemikir kebudayaan kontemporer di Indonesia. Dari sana, teman-teman jadi kerap berlomba, cepet-cepetan membuat artikel untuk dikirim ke berbagai media massa.

Unik dan asyik. Honor tulisan mereka yang diterbitkan lantas dibagi dua: separuh dibelikan buku dan sebagian lainnya dijadikan modal untuk beli gepengan (sebutan untuk Mansion House atau Vodka), agar lancar dan berani menyerang lawan diskusi dengan argumentasi (dari buku-buku yang mereka punya, tentunya).

Apakah orang mabuk itu hilang kesadaran sehingga pernyataannya tak memiliki makna? Sejauh pengalaman yang saya rasakan, saya harus menjawab tidak! Sama halnya dengan orang berkicau di Twitter, saya tak menganggapnya sebagai mengirim pesan tanpa makna. Tinggal bagaimana kita memilah dan menyikapi pesan-pesan yang terlontar dari mereka. Pemabuk dan pekicau, sekilas tak ada beda.

Sependapat atau tidak, ya terserah Anda. Wong di sini, saya juga cuma meracau…….

* terima kasih pada Zam yang sudah mengingatkan kekeliruan penyebutan hingga perlu ralat.