Menyaksikan Al Quran Raksasa

Baru sekali saya menyaksikan Al Quran berukuran raksasa. Rangkaian huruf diukir pada sebuah kayu, ditata bertingkat dan berlapis-lapis, pada sebuah rumah berdekatan dengan pondok pesantren. Banyak tokoh Islam dunia pernah mengunjungi museum, kendati lokasinya agak di pinggiran Kota Palembang.

quran_palembang_20160511_026Saat mengunjungi museum itu, awal Mei, saya tak punya gambaran sama sekali penyajian karya seni itu. Saat memasuki ruangan, pun saya belum ngeh. Sekilas, yang saya lihat hanyalah tembok kayu terdiri dari susunan jendela bertingkat hingga setinggi 20-an meter. Ketika ada beberapa orang membuka ‘jendela’ di baris atas, barulah saya paham, rupanya itulah yang disebut Al Quran berukuran raksasa. Continue reading

Nonton Musi Triboatton

Sungai Musi bisa disebut anugerah bagi masyarakat Provinsi Sumatera Selatan. Soal lebar dan kedalamannya, sungai sepanjang 700-an kilometer dengan hulu di Kabupaten Empat Lawang ini memang tak seberapa dibanding sungai-sungai yang pernah saya arungi di Kalimantan Timur  dan Kalimantan Utara. Tapi, justru di situlah terletak berkah, apalagi di pelesiran sedang nge-hits di seluruh dunia ini. Dan, Musi Triboatton menjadi satu event yang menarik dikembangkan.

Sekayu Waterfront merupakan wajah Sekayu, ibukota Kabuupaten Musi banyuasin. Di tempat inilah peserta lomba dayung MusiTriboatton2016 yang berasal dari berbagai negara, diberangkatkan menuju Palembang. Pada hari biasa, kita bisa berwisata di sini dengan naik perahu motor dengan tarif Rp 10 ribu per orang.

Sekayu Waterfront merupakan wajah Sekayu, ibukota Kabuupaten Musi banyuasin. Di tempat inilah peserta lomba dayung MusiTriboatton2016 yang berasal dari berbagai negara, diberangkatkan menuju Palembang. Pada hari biasa, kita bisa berwisata di sini dengan naik perahu motor dengan tarif Rp 10 ribu per orang.

Karena sungainya hanya sedalam enam hingga delapan meter, maka tak memungkinkan kapal-kapal besar memasuki pedalaman. Dengan demikian, bisa menjadi rem alamiah atas kerakusan manusia mengeksploitasi alam secara massif, yang lantas membawanya ke luar. Dengan eksplorasi skala sedang, maka masih memungkinkan terlibatnya masyarakat lokal (dengan modal kecil hingga sedang) dalam setiap mata rantai pengelolaan kekayaan alam.

Sisi menarik lainnya, tak seperti di Kalimantan Timur dan Kalimantan Utara yang tepian sungainya sepi penduduk, di Sumatera Selatan justru terdapat banyak konsentrasi penduduk. Oleh karena itu, gelaran olahraga air berskala regional/internasional perlu dikelola untuk mendatangkan berkah ikutan alias multiplier effects, khususnya dari segi ekonomi.

Kehadiran peserta lomba (dan para pendukungnya) dari daerah atau negara lain bisa diproyeksikan menjadi penutur potensi wisata, baik alam, seni-budaya, maupun sejarahnya. Apalagi jika dirunut ke belakang, Kerajaan Sriwijaya termasyhur hingga India, China, Persia, Arab, Kamboja dan sebagian negara ASEAN lainnya, akibat hubungan ekonomi dan budaya. Continue reading

Jalan-jalan ke Bumi Sriwijaya

Menyongsong Asian Games 2018, Palembang tampak terus berbenah. Kotanya tambah rapi, pembangunan infrastrukturnya  pun dipacu.  Taman pun terus dibangun sehingga bisa dijumpai di mana-mana. Sungguh perkembangan yang menggembirakan, menjadi jauh lebih indah dibanding 2013, ketika saya sempat tinggal di kota ini selama hampir dua bulan lamanya.

Pagoda di Pulau Kemaro, Palembang. Tiang listrik (dan kabelnya) merusak kenyamanan orang yang ingin menikmati indahnya pemandangan.

Pagoda di Pulau Kemaro, Palembang. Tiang listrik (dan kabelnya) merusak kenyamanan orang yang ingin menikmati indahnya pemandangan.

Palembang benar-benar tumbuh menjadi kota wisata. Daerah yang kaya ragam kulinernya, tempat-tempat bersejarah, hingga keragaman budayanya, termasuk produk-produknya. Sungguh memesona. (Terima kasih Kementerian Pariwisata yang telah memberi fasilitas jalan-jalan dan makan-makan gratis selama lima hari kepada sejumlah teman, termasuk saya).

Dulu, tiga tahun lalu, saya nyaris tidak sempat mencicipi kelebihan Kota Palembang. Jembatan Ampera pun hanya sekali saya nikmati pada malam hari, meski beberapa kali melintasi. Maka, giranglah saya ketika ditawari ikut jalan-jalan ke Palembang, apalagi mendengar ada rencana menikmati Sungai Musi, dalam arti berperahu di atasnya. Ternyata, saya baru tahu, Musi merupakan kali lebar yang sangat sibuk, dan menjadi urat nadi penentu kelangsungan kehidupan masyarakat, tidak hanya Palembang, namun juga kota/kabupaten lain di Sumatera Selatan, juga provinsi-provinsi lain. Continue reading

Mahakarya Tenun Indonesia

“Memintal Benang” karya Aris Daeng,  pemenang Dji Sam Soe Potret Mahakarya Indonesia. (Sumber: www.djisamsoe.com)

“Memintal Benang” karya Aris Daeng, pemenang Dji Sam Soe Potret Mahakarya Indonesia. (Sumber: www.djisamsoe.com)

Menyimak foto “Memintal Benang” karya Aris Daeng, saya jadi teringat akan kekayaan bangsa Indonesia akan produk-produk lokalnya. Yang ditunjukkan melalui foto pemenang Dji Sam Soe Potret Mahakarya Indonesia tentang pemintal benang di Tanah Toraja, Sulawesi Selatan, hanyalah salah satu locus dimana tangan-tangan piawai berada. Kerajinan serupa hampir ada di setiap suku atau rumpun budaya Indonesia.

Di Palembang (Sumatera Selatan), Lombok (Nusa Tenggara Barat), Jepara dan Pedan (Jawa Tengah) dan banyak daerah lagi, masih bisa dijumpai jejaknya, hingga kini. Aneka ragam bahan, seperti benang kapas dan sutera yang tersedia di seluruh Nusantara, terbukti melahirkan aneka motif dan corak kain, untuk aneka keperluan.

Di antara sekian banyak sentra perajin pemintalan benang dan pembuat kain tradisional, saya kira hanya di Palembang yang bisa disebut ‘kurang berkembang’. Maksudnya, sentranya sudah ada, regenerasi perajinnya masih berlangsung, namun varian produk relatif terbatas. Kebanyakan produk tenun Palembang masih berorientasi untuk pemenuhan kebutuhan upacara adat seperti upacara pernikahan dan ritual lainnya, belum merambah ke produk-produk terapan yang kian dibutuhkan untuk menopang penampilan  keseharian (fesyen atau fashion).

lurik pedan

Kerajinan tenun Lurik Pedan, Klaten, Jawa Tengah, kembali menggeliat seiring dengan mulai ramainya pemakaian kain batik untuk beragam keperluan. Varian lurik, kini sudah mulai dipadu dengan teknik batik, juga pengembangan sistem pewarnaan berbahan kimia alam. Sentra lurik, pun kian meluas, tak hanya di Kecamatan Pedan, namun hingga Kecamatan Cawas. Banyak lembaga sosial dan lembaga swadaya masyarakat turut melakukan bimbingan teknis produksi, desain motif dan strategi pemasaran kepada perajin, terutama sejak wilayah itu dilanda gempa dahsyat pada 2006.

Berbeda dengan kain sutra Bugis yang varian penggunaannya sudah merambah pada tas, dompet, syal, dan untuk pakaian sehari-hari, kain songket Palembang ibarat masih jalan di tempat. Sama-sama berbahan baku sutera, produk tenun Bugis sudah banyak digunakan untuk pakaian harian, seperti halnya pemakaian batik dan lurik (Jawa Tengah). Sayang, orientasi produksi songket Palembang masih terbatas untuk penopang keperluan upacara adat.

Dengan orientasi pada upacara adat, maka motifnya pun menjadi terbatas. Pasarnya menjadi sempit, eksklusif. Akibat lainnya, harga jual menjadi sangat mahal, tidak terjangkau oleh masyarakat kebanyakan, sehingga laju produksi pun tidak bisa massif. Andai para perajin songket Palembang mau ‘mempublikkan’ produknya, saya yakin geliat industri rakyat di sana akan cepat meningkat pesat.

Geliat pembangunan Provinsi Sumatera Selatan sejak menjelang pelaksanaan SEA Games 2011 tidak pernah surut, bahkan terus meningkat hingga kini. Sektor-sektor usaha modern tumbuh pesat dan memiliki kontribusi sangat signifikan terhadap perekonomian wilayah, karena memiliki multiplier effects yang panjang.

Hingga pertengahan 2013, misalnya, lalulintas keluar/masuk penumpang di Bandara Sultan Mahmud Badaruddin II mencapai 2,5 juta orang setiap tahunnya. Jika 10 persen dari mereka adalah para traveler, potensi belanja produk-produk masyarakat Sumatera Selatan (selain krupuk dan pempek) pun terbuka lebar. Dampaknya, pasti akan bisa dirasakan 600-an pelaku industri kecil dan menengah (IKM) seperti produsen tenun songket, blongsong, jumputan, dan sebagainya.

songket-palembang-WP_20130527_021

Kerajinan songket Palembang relatif kurang berkembang, sebab kebanyakan pelakunya masih berorientasi untuk pemenuhan kebutuhan upacara adat. Varian produk turunannya, pun masih sangat terbatas, tidak seperti halnya tenun sutra Bugis, Lurik Pedan atau kain batik, yang sudah merambah ke aneka jenis perlengkapan fesyen, seperti dompet, aneka tas, juga pakaian keseharian.

Entah terwujud atau belum, Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan pernah merancang pendirian Graha Songket, yang konon akan dijadikan showroom terpadu untuk aneka produk rakyat, seperti songket, produk kerajinan, pempek dan krupuk khas Palembang untuk memudahkan pelancong mendapatkan oleh-oleh khas Sumatera Selatan.

Pertumbuhan ekonomi yang meningkat dari 4,5 persen pada 2008 menjadi 6,5 persen pada 2012, kehadiran fasilitas-fasilitas moderen seperti hotel yang menunjang industri meeting, incentive travel, convention and exhibition (MICE) di Kota Palembang dan kabupaten/kota sekitar, serta kuatnya geliat usaha sektor riil, merupakan petunjuk nyata adanya kemajuan yang signifikan Sumatera Selatan, bersaing dengan kota-kota di Pulau Sumatera seperti Medan dan Padang.

Saya kira, yang diperlukan kemudian adalah intervensi pemerintah provinsi serta pemerintah kabupaten/kota sekitar dalam rangka mengembangkan potensi industri rakyatnya. Dalam hal tenun/songket, misalnya, dirangsang lewat lomba desain produk songket, memfasilitasi perajin melakukan pameran di luar provinsi/negara, pelatihan/workshop desain dan motif, dan sebagainya, sehingga 12 motif utama bisa dikembangkan ke lebih banyak varian atau motif baru.

Jika Jl. Somba Opu, Makassar bisa menjadi pusat oleh-oleh khas Sulawesi Selatan, sudah semestinya Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan juga bisa membangun kawasan wisata belanja khas produk Wong Kito. Tak hanya makanan tradisional, produk lokal lainnya seperti minyak tawon, minyak kayu putih, kopi, aneka cinderamata serta aneka varian produk seperti aneka tas dan dompet berbahan sutra Bugis sangat mudah dijumpai di banyak toko di Jl. Somba Opu.

Palembang, yang hanya berjarak satu jam penerbangan dari Jakarta dan kaya obyek wisata sejarah, bahari dan alam, mestinya bisa belajar dari kota-kota lain. Ketika industri kecilnya maju, serapan tenaga kerjanya pun akan tinggi, tak terbatas di bagian produksi, namun hingga jalur pemasok bahan baku dan distribusi. Jika rakyat sejahtera, maka masyarakat dalam satu wilayah akan tenteram, dan pemerintah bisa fokus menata pembangunan.

Tulisan ini dibuat sekaligus sebagai apresiasi program Dji Sam Soe Potret Mahakarya Indonesia, yang dengan sengaja diniatkan untuk menggali potensi kekayaan Nusantara. Ini program menarik, menurut saya. Sebab, dampaknya pasti akan sangat panjang dan bisa dinikmati sebanyak mungkin orang, semua lapisan, dan di semua penjuru Nusantara.

Sudah saatnya publikasi tentang Indonesia diperbanyak supaya sesama bangsa bisa saling tahu kekayaan dan keragamannya, syukur-syukur merangsang minta orang mancanegara datang menjelajah Indonesia. Saatnya, kita mempromosikan kekayaan kita, bukan sebaliknya mendorong bangsa kita jalan-jalan wisata dan berbelanja ke mancanegara. 

Cerita dari Makassar

Ini kalimat mesra LHI dan AF kepada fustun-fustun, kayaknya... Ada bau Arabnya, tapi tetep gaul kebarat-baratan... #yora

Ini kalimat mesra LHI dan AF kepada fustun-fustun, kayaknya… Ada bau Arabnya, tapi tetep gaul kebarat-baratan… #yora

Ketemu teman di ‘perantauan’ memang menyenangkan, meski tak bisa menghapus kangen kepada yang di rumah. Apalagi, jika orangnya rame, kocak, sableng, tapi cerdas seperti Imun. Tapi, dari ke-sableng-an itu, ia hampir mencelakakan Albert, seorang perantau yang membantu kami menjaga rumah kontrakan, termasuk melayani kebutuhan sehari-hari kami: menyiapkan minum dan membereskan urusan domestik lainnya.

Andai tak dapat bocoran cerita, sebuah ‘skenario jahat’, mungkin Albert sudah pergi meninggalkan kami. Mungkin ia pulang ke kampong asalnya, di Manggarai, Nusa Tenggara Timur.

Cerita bermula ketika saya pindah ke rumah kontrakan untuk kami tinggali hingga beberapa bulan ke depan. Baru masuk, Kang Begi –‘kepala rumah tangga’ kami, tertawa-tawa sambil berkata: “Adikmu itu edan tenan. Asu banget.” Berulang-ulang ia mengatakan itu, hingga akhirnya tak tahan memulai cerita yang mungkin menggelisahkannya.

Kata Begi, Imun memberitahu Albert bahwa sebentar lagi akan tambah seorang di rumah yang sebelumnya dihuninya bertiga. Diceritakan, Albert diminta berhati-hati terhadap pendatang baru. Ia diwanti-wanti agar tidak mengenakan celana pendek, dan jika tidur supaya mengunci kamar.

Singkat cerita, Albert panik. Ia meminta Kepala Rumah Tangga memasang kunci baru di kamarnya. Kepada Imun yang membuat cerita, pun ia menunjukkan kecemasannya, dan kembali mendesak agar segera disiapkan kunci pengaman.

Hingga saya ‘memasukkan’ perbekalan di rumah kontrakan itu sebagai pertanda ‘resmi’ menjadi penghuni baru dan lantas berbincang berempat di ruang tengah, Albert masih menatap tajam kepada saya, penuh selidik. Saya  ajak bercanda, ia masih tegang, sebelum kemudian saya kasih tahu bahwa semua cerita Imun hanya lelucon semata, karangan edan-edanan. Rupanya, Albert tak kunjung percaya.

Lama juga meyakinkan dirinya, bahwa tak akan ada apa-apa di rumah itu.

Yang lebih ndladhuk dari Imun, malam sebelum keesokan harinya saya resmi tinggal di rumah itu, Albert sudah sempat curhat setelah didesak kenapa wajahnya murung dan ketakutan. Albert cerita punya trauma. Di desanya, sekian tahun silam, ia pernah ditindih tetangganya, sesama lelaki, saat ia lelap tidur di tengah malam. Lelaki tetangganya itu, memang sengaja menginap di rumahnya, yang lantas secara refleks ia tampar hingga lari tunggang langgang menembus kegelapan malam.

Andai tak dapat cerita Begi, dan saya coba cairkan suasananya, mungkin Albert sudah pergi. Ia remaja lugu, hanya tamat sekolah menengah pertama di kampung halamannya. Setahun ia merantau ke Makassar, menumpang di rumah sepupunya, dan bekerja serabutan saja.

Katanya, setelah semua jadi benderang, ia cerita sempat hendak keluar rumah membeli pulsa, untuk menelpon pemilik rumah dan mohon pamit karena ketakutan. Dikiranya, saya adalah lelaki tukang tindih sesama, seperti cerita Imun yang sableng kepada dirinya.

Tapi, sekali asu, Imun memang ndladhuk! Soal mengarang cerita begituan, tak soal bagi saya. Wong kami biasa cengengesan model demikian. Di Palembang, saya dan Imun tidur sekamar, malah seperti soulmate luar-dalam. Kami pun saling memanggil dengan kata-kata mesra, menirukan sebuah graffiti yang kami jumpai di tepi Sungai Musi. Kadang saya memanggilnya ‘Abi’ atau ‘bebeb’, sekaligus untuk menirukan ‘sapaan’ mantan Presiden PKS Lutfi Hasan Ishak kepada istri sangat mudanya.