Catatan Kecil Opera Jawa

Karena pernah nonton The Iron Bed, menyaksikan Opera Jawa kali ini, saya merasa kurang nyaman. Terasa betul, Garin Nugroho ingin menumpahkan semua kegelisahan artistiknya ke dalam satu karya. Sekilas, karya ini bakal berat. Penuh beban.

Adegan Rama dan Sinta

Tapi, itu cuma kesan subyektif saya. Ke depan, sebelum karya itu dipentaskan perdana di Tropen Museum, pasti akan dilakukan banyak pembenahan. Apalagi kalau menyimak proses kreatif seorang Garin, yang menurut saya, termasuk rajin dan berani bereksperimen untuk menemukan bentuk garapan yang permanen, dan paten.

Perselingkuhan Sinta dengan Rahwana?

Ya. Paten dan keren seperti The Iron Bed, dua tahun lalu, yang konon bahkan membuat iri sejumlah koreografer yang sama-sama tampil di Indonesian Dance Festival 2008. Namun, itu tak berarti ia terbebas dari prasangka para kritikus (yang sejatinya jarang nonton karya-karya tari, apalagi koreografer muda), tentang kemampuan Garin menyutradarai sebuah karya tari.

Karya rupa Heri Dono dalam Opera Jawa versi kedua

Sepanjang yang saya tahu, Garin sangat longgar dalam penyutradaraan. Maksudnya, ‘improvisasi’ sering dilakukan ketika capaian artistik tak memuaskan, atau ketika ia tergelitik mencoba hal-hal yang baru saja melintas di benaknya. Proses Bulan Tertusuk Ilalang menunjukkan itu. Juga karya-karya sesudahnya.

Kini, Opera Jawa versi dua mencoba memasukkan karya rupa Heri Dono. Pada satu-dua boneka (mirip angkrok, menurut orang Solo), bisa memberi kesan kuat surealisme yang dibangunnya. Tapi, ketika boneka-boneka itu tampil ‘kolosal’, maka yang terasa kemudian adalah, para penari (berikut peran-perannya) tengelam. Silep, kata orang Jawa.

Masih ada sepekan efektif sisa waktu latihan sebelum semua terbang ke Amsterdam. Sebagai penikmat, saya berharap masih menjumpai perubahan-perubahan yang signifikan, supaya 90 menit durasi pertunjukan tak terasa menbosankan. Tulus, saya rindu alur yang lurus-halus seperti pada The Iron Bed, yang merasa getun, kecewa, karena tiba-tiba pertunjukan sudah berakhir.

Dan, begitulah saya. Sering tak bisa menerima ending hanya karena nyaman menyaksikan, dan rasa telanjur disandera lewat jalinan ceritera. Pada pertunjukan yang bagus, tentu saja.

Opera Jawa Versi Dua

Garin Nugroho seperti kesengsem pada dua hal: kisah Ramayana dan penyutradaraan tari. Setidaknya, itulah yang saya perhatikan dalam empat tahun terakhir.

Pada kisah Ramayana yang berintikan peperangan Rama (sebagai simbol kebaikan) versus Rahwana yang berkonotasi jahat dengan bumbu pesona kecantikan Sinta, itulah Garin mengeksplorasi habis-habisan. Lewat film Opera Jawa (2006), ia bahkan menyabet pujian publik film tingkat dunia.

Dari film itu, ia lantas mengembangkan pada bakat keduanya, sebagai sutradara tari. Dengan melibatkan koreografer Eko Supriyanto (Solo) dan Martinus Miroto (Yogya), Garin melahirkan The Iron Bed (2008). Hasil pernyutradaraan dengan pendekatan filmis itu bahkan memukau seniman dari beragam cabang dan aliran yang berkumpul di Swiss dalam forum Zurcher Theater Spektakel, pada pertengahan 2008.

Sukses di festival seni yang melibatkan puluhan seniman dari 40 negara di Asia, Amerika Latin dan Afrika itu, The Iron Bed lantas diminta tampil dalam Indonesian Dance Festival di Jakarta, tahun lalu. Sebuah apresiasi yang menarik, mengingat Garin ‘hanya’ pendatang baru di dunia seni pertunjukan, meski ia pernah menyutradarai pertunjukan drama semasa SMA di Semarang dulu.

Oh, ya, hampir saya lupa. Kata Garin, sepulang dari Swiss, resensi The Iron Bed yang saya buat dan dipublikasikan di The Jakarta Post, katanya memperoleh pujian dari Robert Wilson, art director kelas dunia yang menjadi penggagas acara di Swiss itu. Aha!! Senangnya hati saya…..

Saat diberitahu soal itu, pun saya berlagak merendah dengan mengatakan tak mungkin ada resensi yang bagus kalau materi yang diresensi jelek.

Tapi, sungguh menarik mengamati metamorfosa Garin. Semula, saya mengenalnya sebagai penulis yang kritis. Ketika itu, akhir 1980-an hingga pertengahn 1990-an, karya-karya tulisnya kerap mejeng di halaman opini harian Kompas. Dia masih menyebutkan identitasnya sebagai mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Indonesia.

Beberapa teman kuliah saya yang kagum padanya, sudah dua orang yang meniru jejaknya, menekuni dunia tulis-menulis dan menjadi sineas andal. Keduanya pernah meraih penghargaan kelas dunia pula.

Kembali ke soal penyutradaraan tari, harus diakui dia memang piawai. Talentanya kuat, bahkan garapannya lebih detil dari koreografer pada umumnya.

Tapi, yang selalu menggelitik saya hanya satu: soal penampilan sosok perempuan sebagai tokoh sentral. Baik pada film Surat untuk Bidadari, Bulan Tertusuk Ilalang, Daun Di Atas Bantal, hingga Opera Jawa, Garin menempatkannya sedemikian rupa. Simbol-simbol feminin juga kuat pada semua karyanya, termasuk pada karya tari The Iron Bed dan yang kedua, yang diberi judul sama dengan filmnya: Opera Jawa.

Semoga, Opera Jawa yang menonjolkan ciri Langendriyan atau operet versi Jawa menuai sukses dipentaskan di Belanda, paruh kedua tahun ini. Melihat pertunjukan ‘perdana’ di ISI Surakarta, tiga hari lalu, saya optimis Garin sanggup mempertanggungjawabkan orisinalitas garapannya, meski koreografinya ditangani Eko Supriyanto.