Laboratorium Kroncong

  Saya menyebut OK Swastika sebagai salah satu laboratorium kroncong yang hidup di Kota Solo. Berlatih rutin setiap Rabu, publik pun bisa ikut berlatih bersama mereka. Seperti tadi malam, seorang remaja yang baru duduk di bangku SMP turut menjajal kemampuannya memetik cello bersama seniornya, termasuk Mbah Sayuti atau Eyang Yuti, peniup flute berusia 70an tahun.

Biasanya, ada seorang warga sekitar turut meniup seruling di pelataran, atau juga tetamu yang ikut berlatih dengan cara menirukan nada-nada yang sedang dimainkan. Tempat latihan selalu tetap, di rumah Kang Nyapto, yang merupakan salah satu dedengkot kelompok ini. Beberapa anggota tetapnya, antara lain Danis Sugiyanto, Doel Sumbing, Mas Dwi dan beberapa lainnya.

 Orang yang datang menonton, pun ditawari ikut memainkan salah satu instrumen atau menyanyikan lagu apa saja, tidak harus langgam atau lagu kroncong, untuk mereka iringi. Yang jelas, semua alat musiknya adalah instrumen kroncong klasik, meski yang dilantunkan tembang pop barat atau lagu dangdut sekalipun.

Sekadar informasi saja, hampir setiap kampung di Solo memiliki grup kroncong amatiran, meski tak sedikit yang kerap memperoleh undangan pentas lantaran dinilai memiliki kecakapan dan standar kelayakan menurut khalayak. Dan uniknya, ada model dangan istilah pethilan atau ngebon, yakni meminjam pemain flute, biola atau vokalis dari grup (kampung) lain, lantaran satu dengan grup lain membentuk semacam jejaring.

Apakah Anda tertarik dengan musik kroncong, atau penikmat lagu-lagu kroncong?