Jangan Biarkan Indonesia Bubar

Surat Terbuka untuk Presiden Jokowi

Sugeng dalu, selamat malam, Pak Jokowi.

Saya mau matur, saat ini saya sangat lelah mengikuti perdebatan sekolah lima hari yang digagas dan dibuatkan peraturannya oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Muhajir Effendi. Hampir seluruh elemen Nahdlatul Ulama, apalagi para pengasuh pondok-pondok pesantren, pun menyuarakan penolakan. Madrasah diniyyah yang sudah ada sejak jauh sebelum Indonesia merdeka, tiba-tiba akan kena imbas kebijakan tersebut.

Jika kebijakan tersebut dalam rangka pembentukan karakter bangsa, kira-kira karakter seperti apa yang bakal muncul, jika kita dapati anak-anak PAUD dan TK ‘Islam moderen’ sudah fasih bicara ‘merokok itu haram’?

Ini bukan karena saya perokok dan mayoritas orang NU, santri dan kiai-kiainya banyak yang merokok. Bukan! Tak sedikit, kok, kiai dan santri NU yang meyakini merokok itu hukumnya makruh. Meski Allah dengan kun fayakun-Nya bisa membuat anak-anak PAUD dan TK kita menjadi cerdas secara nalar dan emosional secara mendadak, tapi saya lebih percaya kalimat ‘merokok itu haram’ adalah buah pendidikan guru-guru di sekolahnya, entah dia guru agama atau bukan. Continue reading

101010 – 10:10

Deretan angka (huruf) kembar bisa ditafsir dan dimaknai macam-macam. Angka cantik juga bisa jadi penanda, atau kode seperti halnya pengulangan huruf ke-24 dalam abjad. Sebagian menganggap satu atau dua huruf lebih akomodatif terhadap ruang imajinasi, tapi ada juga yang suka hurufnya banyak lantaran maka suka yang to the point!

Kode X, XX, XXX memang beda makna dengan, misalnya, 6-6-6 yang dulu dipilih Happy sebagai tanggal pengakhiran masa membujang, pada 6 Juni 2006. Besok, 10 Oktober 2010 juga dianggap kombinasi kode-kode unik, menjadi angka cantik, di mana tanggal, bulan dan tahun, berunsur 10, sehingga kombinasinya mudah diingat: 101010.

Mas Didi Nugrahadi daan Mbak Tutik tersenyum, sudah berhasil 'netepi darmaning asepuh', menikahkan sang putri tercinta.

Boleh jadi, pemilihan tanggal perkawinan Anindita ini sama dengan alasan yang dibikin Happy, atau Mas Didi Nugrahadi. Kesannya sederhana, sepele. Padahal, banyak orang mengincar tanggal itu, dengan beragam alasan, sehingga tidak aneh jika restoran, hotel, gedung pertemuan penuh terisi sebab sudah banyak orang booking sejak jauh-jauh hari.

Pada urusan angka cantik, dengan tujuan kemudahan mengingat, sekaligus turut menandai tanggal unik dan sebagainya, tak ada yang aneh bagi saya. Orang merancang tanggal pernikahan bahkan lima atau sepuluh tahun sebelum 10-10-10 pun tidak mengagetkan, wong setiap manusia pasti punya harapan, keinginan dan optimisme serta cara menandai peristiwa istimewa dalam sejarah hidup.

Yang justru aneh, menurut saya, adalah ketika ada pemujaan berlebihan atau sakralisasi terhadap masa atau peristiwa. Bayi yang belum takdirnya lahir, misalnya, dipaksa keluar lewat bedah cesar demi tanggal keramat atau hari pasaran supaya weton-nya bagus. Walau ‘memenuhi syarat’ secara medis dan dokter bisa melakukannya kapan saja, namun keputusan melahirkan bayi demi kemudahan mengingat tanggal ulang tahun, tetap tak bisa diterima akal sehat saya.

Terhadap orang-orang demikian, saya anggap sebagai pemberani yang kelewatan. Mungkin percaya kleniknya kelewat berlebihan, sehingga tak peduli keputusannya itu seperti membuat takdir tandingan, memutuskan sesuatu yang belum tentu sesuai kehendak Sang Pemilik Waktu dan Pencipta Kehidupan.

Tapi, berhubung sekarang jamannya orang mengedepankan toleransi, penghargaan akan perbedaan pendapat dan keyakinan, ya saya hanya harus membiarkan, tidak akan mengganggu, apalagi menghakimi, lantas menyebut mereka kafir lantaran percaya pada takhayul terhadap waktu atau kombinasi angka keberuntungan.

Percaya hoki boleh dan sah-sah saja, menganggap keramat sebuah angka pun tak mengapa. Di NU saja, kiai-kiainya juga sering membuat keputusan, pernyataan atau himbauan dengan menggunakan 9 sebagai kebiasaan. Mungkin, itu hanya demi mencocok-cocokkan dengan bintang sembilan yang menjadi simbolnya. Atau boleh jadi cuma tiruan dengan alasan yang disesuaikan, seperti halnya angka 99 yang merupakan jumlah sifat Tuhan, asma’ul husna.

Peranakan Cina juga banyak yang menyukai 9 (dan kombinasinya, bahkan jumlah dari sekian angka) karena merupakan bilangan tertinggi sebelum kembali ke nol lagi, sehingga membawa hoki. Orde Baru, pun pernah menjadikaan 5 sebagai angka keramat.

Lagi-lagi, menganggap sesuatu sebagai keramat atau tidak, menjadi urusan orang-perorang. Tak boleh kita mengusiknya, seperti halnya kalau saya meminta Anda menghormati keyakinan dan prinsip saya.

Misalkan saja saya harus membatalkan sejumlah rencana bepergian karena hari pasaran atau arah mata angin yang saya tuju, tidak sesuai dengan weton, hari kelahiran saya sesuai penanggalan Jawa, maka hormati itu sebagai hak saya. Persoalan Anda memilih menggunakan kalender Masehi atau almanak Islam, ya silakan saja, asal jangan mengganggu pemegang teguh isi kitab primbon Betaljemur Adammakna, seperti saya.

Untuk urusan cari makan demi kesejahteraan rumah tangga, misalnya, jika ternyata saya tak boleh memilih kota-kota arah barat dari tanah kelahiran saya, mau apa? Atau untuk perkara menengok saudara yang sedang tertimpa celaka, ternyata primbon dhawuh, memerintahkan, agar saya menghindari perjalanan ke Timur pada pasaran Kliwon dan Legi, mau gimana lagi?

Terserah Anda, mau percaya atau tidak soal klenik-klenikan angka.

Tapi ada satu hal, yang sepertinya saya harus setengah memaksa Anda, agar meluangkan waktu beberapa menit saja untuk mengira-ira bagaimana nasib Mbak Sri, pedagang kakilima di Pasar Klewer. Kabarnya, pendapatannya kian menyusut setelah batik printing murah bikinan Cina mulai membanjiri pasar lokal, ya celakanya disukai masyarakat yang beerpendapatan pas-pasan dan sungguh cinta batik, tak peduli itu batik betulan atau batik look alias batik-batikan.

Jangan pula bertanya bagaimana kabar Mas Mulyono, yang ternak kambingnya mulai kesulitan merumput karena sawah-sawah sudah dikeringkan, lalu di atasnya berdiri pabrik-pabrik megah, serta sebagiannya dikapling untuk tower-tower BTS yang gagah menjulang menggantikan pohon-pohon randu turus jalan.

Selamat datang Srimulyono, Mbak Sri dan Mas Mulyono, yang katanya akan memperkenalkan keluarga barunya, pada 10 Oktober 2010 pukul 10:10 WIB.

Makam

Makam adalah tempat peziarah merenungkan banyak hal, untuk memperbaiki laku sisa hidup dan berkaca pada perilaku yang mati semasa hayat. Karena itu, orang lalu mendaras doa. Memintakan ampunan dan ruang di surga bagi yang mati. Fisik makam hanya sarana untuk memasuki ruang-ruang spiritualitas.

Tak aneh, banyak orang Jawa mengutamakan pulang dari perantauan untuk berziarah ke makam-makam kerabat sepekan menjelang ramadhan. Bahwa tradisi itu bernuansa sinkretisme kepercayaan Jawa kuno dan pengaruh Hindu tak bisa dinafikan. Namun, justru tradisi semacam itu yang dijadikan pintu masuk bagi Wali Sanga ketika mendakwahkan ajaran Islam di Jawa.

Makam atau kuburan adalah ruang kontemplasi

Pelan-pelan, Wali Sanga mengajak peziarah untuk tidak meminta sesuatu dari yang mati, namun justru mendoakan mereka, memanjat kepada Sang Maha Kuasa. Dari pendekatan semacam itulah, Islam menyebar di tanah Jawa. Sebuah cara jitu pada masa itu, dengan menonjolkan kearifan berupa penghormatan terhadap keragaman.

Kita masih ingat, Syeh Ja’far Shadiq yang lantas bergelar Sunan Kudus melarang pengikutnya menyembelih sapi, sebab hewan itu dikeramatkan umat Hindu. Jejaknya masih terasa hingga kini, di mana masakan daging kerbau lebih mudah dijumpai di Kudus. Kerbau menggantikan lembu.

Ciri arsitektur masjid dan kompleks makam yang Hindu pun dipertahankan hingga kini, sebab ruang spiritualitas berada jauh di dalam dari yang bendawi, material. Isi lebih penting daripada kulit, yang fisik. Termasuk dalam tradisi ziarah, tak bisa dinilai dari perilaku kasat mata.

Tradisi Sadranan, yakni nyekar atau ziarah massal di bekas wilayah Mataram merupakan wujud kejeniusan para wali memodifikasi tradisi lama, yang bagi sebagian kelompok yang mengklaim sebagai ‘pembaru’ Islam dianggap bid’ah, tak ada landasan hukumnya.

Mendoakan kerabat, bukan meminta kepada yang sudah mati

Tak cuma Sadranan yang tahunan, malam Jumat juga dikeramatkan. Orang Jawa akan memilih itu sebagai ‘hari baik’ untuk berziarah, meski sejatinya bisa dilakukan kapan saja. Sebagian pemakaman umum di Jepara, bahkan ramai orang datang dengan kostum gamis dan bersarung pada Kamis sore hingga petang. Mereka membaca Yaasin dan Tahlil di samping pusara.

Begitu lekatnya tradisi ziarah kubur, lantas menjadikan makam bukan sekadar gundukan penutup jasad semata. Pada makam terdapat teladan, yang bisa ditiru dan dipraktekkan ke dalam kehidupan bermasyarakat sehari-hari. Makam adalah pengikat, bukan semata bagi yang bertalian darah, namun juga tali penghubung antara murid dengan guru, antara santri dengan kiai, antara yang hidup dengan telada si mati.

Andai pejabat Pemda DKI memahami aspek kultur dan spiritualitas seperti ini, mungkin tak akan terjadi amuk massa di Koja. Andai persoalan utamanya adalah sengketa kepemilikan lahan, biarlah itu diselesaikan dengan pendekatan hukum. Namun yang tak bisa diabaikan, adalah keberadaan makam Mbah Priok, orang suci yang berjasa bagi persebaran Islam di Batavia.

Mungkin, PT Pelindo, Pemda DKI hingga Kepala Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) menganggap hubungan warga dengan Mbah Priok hanyalah hubungan irasional. Mereka lupa, ada pola hubungan yang bisa diterima dengan nalar, bahwa dari makam itu, berbagai etnis merasa dipersatukan sehingga menghasilkan relasi sosial yang harmonis, dan berlangsung secara turun-temurun.

Sedikit banyak saya juga tahu, populasi masyarakat miskin di daerah itu cukup besar. Kesulitan ekonomi yang menghimpit mereka lantas memunculkan sifat/karakter keras akibat persaingan hidup yang sengit. Penghasilan pas-pasan, fasilitas umum yang minim kian menambah peliknya kompleksitas persoalan. Jangankan untuk mandi, air untuk makan, minum dan kebutuhan sanitasi sangat mahal di sana.

Persoalan-persoalan sosial yang begitu nyata, tak kunjung menemukan solusi. Pada masyarakat demikian, aspek spiritualitas lantas menjadi satu-satunya medium katarsis, sekaligus ruang kontemplasi, yang pada gilirannya mampu berperan sebagai rem bagi nafsu-nafsu emosional sesaat.

Pada situasi psikososial yang ‘buruk’ itulah, kehadiran ratusan Satpol PP yang dipersepsikan sebagai alat kekuasaan (PT Pelindo) dicurigai akan menggusur Mbak Priok atau Habib Hasan bin Muhammad Al Hadad, satu-satunya suh, medium perekat relasi sosial antaretnis. Pada titik itulah mereka menemukan ruang ‘katarsis’, yang sayangnya, menjadi kelewat anarkis.

Atas dasar itulah, saya bisa memahami kemarahan mereka. Saya juga meyakini, pola dan bentuk komunikasi kedua belah pihak yang bersengketa tak mempertimbangkan aspek-aspek kultur yang hidup di tengah-tengah mereka. Bahkan, saya masih kuatir dengan pernyataan Wakil Gubernur Prijanto, yang menyebut ada pihak yang sengaja ‘ngompori’ sehingga peristiwa tragis itu terjadi.

Tak bijak seorang pemimpin membuat pernyataan yang justru berpotensi memperkeruh suasana. Yang perlu dicari adalah solusi meredam ketegangan, termasuk memilih pihak-pihak yang dilibatkan dalam proses dialog dan mediasi. Menghadirkan Habib Rizieq dalam penyelesaian sengketa, pun bakal menjadikan runyamnya suasana.

Di makam, yang hidp mendaras doa dan membacakan ayat-ayat suci

Ketokohan Rizieq dalam ‘kelompok Islam’ hanya karena FPI-nya. Sementara, dalam konteks tradisi ziarah kubur, ia termasuk kelompok orang yang menentang tradisi ‘bid’ah’ itu. Kalau gagal mengidentifikasi persoalan, nampaknya persoalan Mbah Priok bakal jadi panjang.

Salah satu harapan, justru keterlibatan Gubernur Fauzi Bowo atau Foke. Sebagai orang NU, pasti dia sangat tahu seluk-beluk ziarah dan makam orang-orang yang dianggap suci.

Séjé Silit Séjé Anggit

Aku seneng karo unèn-unèn lawas iki: Ésuk témpé, soré dhelé lan séjé silit, séjé anggit. Sajaké trep marang kahanan saiki. Tembung makelar kasus, garong Bank Century, muktamar NU wis cetha wéla-wéla nuduhaké sasmitané.

Isih kelingan gègèran baya arep ‘nguntal’ cecak, ta? Wektu semana, Pak Susno dibéla pol-polan déning kanca-kancané sasami pulisi. Ora mung nalika Pak Susno adhep-adhepan marang rakyat sing béla asih marang KPK, para jéndral pulisi uga ndèkèngi priyayi siji kuwi ngadhepi para jaksa.

Saiki piyé nyatané? Ésuk dhelé, soréné wis dadi témpé. Sésuké, mbokmenawa wis dadi ta*! Saiki, sing arané Ssusno Duadji wis kaya ora aji tumrapé sapérangan pulisi.  Ora mung lungguhané sing diprèthèli, sikilé uga di-amputasi. Wis salumrahé wong anyel, dianiaya kanthi caran diwirang-wirangaké, banjur aras-arasen mlebu kantor. Ééé…lha kok undhuh-undhuhané didakwa nglanggar dhisiplin.

Sajak durung entèk anyelé, Pak Susno banjur miyak wadi para pulisi. Dikandhakaké menawa ana sapérangan jéndral pulisi padha makelaran kasus utawa perkara (sinebut markus), saperlu supaya bisa mèlu bancakan dhuwit pajek, sing jaré Rp 25 milyat akèhé.

Jiann… gayeng tenan rekiblik iki. Kabèh umyek. Layang kabar lan tipi banjur kaya pitik pethuk ta*, cepet-cepetan nyaut lan gedhèn-gedhènan siyaran. Apa manèh bareng pulisi malah mriksa Pak Susno, ora ndhisikaké nyidik perkara. Tambah ramé, sansaya ndadra.

Saiki, wong sakarat-arat dadi lali perkara garong Bank Century. Sapa sing nguntal ora cetha, malah saiki Robert Tantular (sing wingi-wingi didakwa nilep dhuwit nasabah) malah gawé nggugat sing dianggep ngundhat-undhat. Sapa sing salah, sajaké ora bakal sèlèh. Awaké dituwak nganggo cagak, lan cagaké wujud gendruwo. Dadi, ya padha wedi, ora ana sing wani (mbokmenawa tinimbang mati).

Sing jenengé miyak perkara, jebul ora gampang. Bisa dirasa, nanging ora kasat mata jalaran akèh pedhut sing ngaling-alingi. Lan manèh, pedhut mau sajaké digawé déning para-para buto lan gendruwo sing gedhéné ngédap-édapi. Lagi mbayangké waé wis mrinding, apa manèh yèn nganthi adhep-adhepan.

Ora mung ana ing perkara colong-colongan dhuwit sing mambu-mambu panguwasa, rebut kuwasa uga kedadèyan ing laladan para ngulama. Nèng Makassar kana, jaré Pak Hasyim Muzadi krenteg banget mimpin NU. Yèn wingi wis bisa kuwasa nggèrèt NU ngalor-ngidul, klebu kanggo dèkèng nyalon wakil presidhèn bareng Megawati, saiki mburu kuwasa dadi gegedhugé NU.

Rékaké, pingin ‘nyingkiraké’ Mbah Kiai Sahal, lali marang adab para ngulama, ora olèh umuk kabisan lan kapinteran. Apa manèh, sing kaya mangkono ora becik kanggo tuladha marang santri lan rakyat.

Ning arep kepriyé manèh, wong anggité Pak Hasyim bisa majokaké NU kanthi cara rebut kuwasa. Yèn kersané para ngulama, NU kuwi aja nganti gluprut regetan dosa politik, mula isih padha ngersakaké Mbah Sahal jumeneng mandhégani NU. Muga-muga waé kabar sing dakkrungu kliru, menawa Pak Hasyim nggunakaké cara dhedhuwitan kanggo nglèngsèr Mbah Sahal.

Muga-muga, akhlak-é Pak Hasyim isih kiai, dudu politisi… Semono uga tumindaké Pak Susno wingi-wingi, muga dudu jalaran pamrih kuwasa utawa mbéla sing lagi nyandhang kuwasa..

ngAlkamdulillaahhh…. mung kacèk limolas menit sawisé tulisan iki kapacak, wis ana kabar nyenengaké: Mbah Kiai Sahal Mahfudz kapilih manèh ngesuhi NU. Gusti Allah ora saré, ora marengaké Éndhonésa bubruk jalaran NU-né remuk.

Berharap Kejutan Makassar

‘Sepinya’ pemberitaan Muktamar ke-32 Nahdlatul Ulama di Makassar, semoga bukan pertanda apatisme publik terhadap organisasi Islam, konon, terbesar di dunia itu. Sebagian menganggap tak seru, sebab Gus Dur tak lagi berada di tengah-tengah muktamar, yang 25 tahun selalu riuh, bahkan nyrempet-nyrempet ricuh.

Saya berharap, NU sepeninggal Gus Dur justru akan lebih mapan, sanggup mengawal dinamika politik Indonesia dan menurun kadar tarik-ulur kepentingan sebagian elitnya.

Yang saya maksud menjadi ‘lebih mapan’ sepeninggal KH Abdurrahman Wahid, tentu bukan karena meremehkan almarhum. Justru sebaliknya, ‘ketidakhadiran’ beliau secara fisik justru membangkitkan ingatan para kiai, bahwa kontroversi yang selama ini sengaja dimunculkan Gus Dur semata-mata merupakan strategi pendewasaan kaum nahdliyyin secara ‘alamiah’.

Tanpa kontroversi, baik kiai, pengurus dan warga NU bisa jadi terlena dengan kebesaran kwantitatifnya, sementara secara kwalitatif tak banyak kontribusinya terhadap ke-Indonesia-an seperti diangankan Gus Dur. Islam yang menjadi rahmat bagi seluruh alam, tanpa membeda-bedakan suku, ras, agama dan keyakinan.

Mungkin banyak yang tidak tahu, bahwa sebagai organisasi keagamaan, NU merupakan satu-satunya organisasi Islam yang tidak terkontaminasi paham khilafah yang diperjuangkan ‘evangelis’ Wahabi. Hingga detik ini dan seterusnya, sikap NU terhadap bentuk negara Indonesia sudah final.

Haram hukumnya bagi warga NU, memberontak sebuah pemerintahan yang menjamin umat Islam menjalankan syariat agamanya, yakni rukun Islam yang lima. Selebihnya, termasuk di dalamnya hukum tata negara, hanya merupakan alat, siasat. Mungkin, itu yang dimaksud dengan pengertian fiqh siyasah.

Ketika menginisiasi berdirinya Partai Kebangkitan Bangsa, dugaan saya, itu semata-mata sebagai bentuk kanalisasi atas tingginya hasrat (ghiroh) politik warganya. Tanpa penyaluran yang benar, mustahil bisa diperoleh hasil yang besar, terutama menjadikan Indonesia Raya yang tenar, yang diperhitungkan perannya oleh negara-negara besar.

Yakin hasrat politik belum sebanding dengan kedewasaan bernegara, Gus Dur mengambil risiko besar. Membentuk struktur organisasi dengan dewan syuro sebagai posisi tertinggi yang diketuainya sendiri, sekilas tampak feodal, otoriter dan antidemokrasi. Saya yakin, Gus Dur sangat paham itu. Apalagi, di kemudian hari terbukti, PKB tak punya bargaining position yang berarti setelah perannya sebagai pemimpin tertinggi dilucuti secara sistematis lewat konspirasi tingkat tinggi.

Bahwa Gus Dur ingin selalu bisa mengontrol PKB, menurut saya, YA! Dalam angan idealnya, PKB ‘hanya’ merupakan alat untuk memperjuangkan kepentingan NU. Dan, kepentingan NU menurut Gus Dur, ya NU yang bukan sebatas jumlah warganya semata, namun lebih dari itu NU dalam konteks mengawal NKRI, yang terdiri bukan cuma segolongan saja. Bagi NU, terlalu banyak umat Kristen yang turut memanggul senjata memperjuangkan kemerdekaan Indonesia, sehingga anak-cucu mereka berhak menuai perjuangan leluhurnya. Begitu pula kaum peranakan Cina, India, Arab, bahkan orang Belanda seperti Douwes Dekker alias Multatuli.

Islam bagi NU dan Gus Dur bukanlah yang mau menang-menangan dan merasa sebagai satu-satunya pemilik sah sebuah negara bernama Indonesia. Kata ‘Kristen’ tak bisa dipersepsikan sebagai ‘budaya’ penjajah. Sama halnya ketika warga peranakan Cina yang diberi tempat istimewa oleh Belanda demi memecah belah bangsa lantas dicap sebagai ‘antek’ mereka, sehingga harus dimusuhi.

Memang, pada tataran persepsi terhadap negara, bagi NU sudah selesai. Yang menjadi soal justru ketika sebagian elit NU melibatkan diri dalam kancah politik tanpa ketegasan sikap, maka yang dirugikan adalah umat. Politisi berlatar nahdliyyin yang tersebar di semua partai masih enggan tulus berkhidmad. Yang di PKB ingin menyeret NU ke PKB, begitu pula yang berada di Partai Golkar, PPP, dan partai-partai lainnya.

Mereka berharap NU membesarkan partai-partai mereka, bukan sebaliknya, bagaimana dari dalam partai-partai itu, mereka menyuarakan politik keumatan, sambil membesarkan NU dengan cara membiarkannya tetap netral, berdiri di atas semua golongan.

Satu pertanyaan saja yang perlu dijawab dengan sikap dan tindakan oleh para peserta muktamar: sanggupkah mereka memilih pimpinan NU yang bisa dimiliki pula oleh umat dari berbagai agama dan etnis seperti halnya ditunjukkan mereka terhadap Gus Dur?

Sejatinya, saya berharap pada KH A. Mustofa Bisri bersedia dicalonkan sebagai Ketua Tanfidziah NU, dengan KH A. Sahal Mahfudz sebagai pemimpin tertinggi syuriah. Terbukti, beliau belum pernah terkotori oleh noda-noda politik, dan memiliki moralitas yang sangat baik, seperti ditunjukkan keengganannya dicalonkan (apalagi mencalonkan diri) menjadi Ketua Tanfidziah atau Ketua Umum PBNU, setidaknya yang saya ikuti sejak Muktamar Lirboyo pada 1999.

Dengan dipimpin kiai tanpa noda politik, NU akan mampu menjaga jarak yang sama terhadap semua partai politik, kekuasaan, juga semua golongan. Dalam keyakinan saya, mungkin kali ini Gus Mus akan kersa, ketika figur perekat antarakiai nyaris tinggal sedikit jumlahnya, dan masa depan Indonesia sudah di ambang bahaya, ketika gerakan-gerakan khilafah terus menjamur di seluruh penjuru Indonesia.

Sejatinya, keyakinan saya juga dilatari curiga. Bukan tak mungkin, kunjungan Gus Dur ke kediaman Gus Mus, beberapa hari menjelang wafatnya, telah menitipkan pesan atau wasiat kepada Kiai Mustofa Bisri. Sebuah pesan, agar beliau bersedia ‘turun gunung’ untuk memimpin NU, untuk mewujudkan cita-cita ke-Indonesia-an yang digagas para pendirinya, dan telah lama diperjuangkan Gus Dur, setidaknya dalam tiga dasawarsa terakhir.

Semoga, ada kejutan dari Makassar, demi Indonesia Raya yang bhinneka.