Bukan Event Cacat

Kota Solo kembali dipilih menjadi tuan rumah event besar olahraga bagi kaum difabel. ASEAN Paragames 2011 bakal digelar di Solo, 12-22 Desember mendatang. Ribuan atlet dan ofisial dari 11 negara ASEAN menyemarakkan Kota Rehabilitasi dengan adu prestasi dari 11 cabang olahraga.

Event itu seperti mengukuhkan Surakarta atau Solo sebagai kota yang banyak melahirkan atlet-atlet dan usahawan dari kelompok masyarakat difabel atau memiliki cacat fisik, sehingga kemampuannya berbeda dengan kebanyakan orang. Event berskala besar serupa pernah juga berlangsung di Solo pada 31 Agustua-7 September 1986,  di mana 834 atlet dari 19 negara di Timur Jauh dan Pasifik Selatan berlaga. Kala itu, 4th FESPIC (Far East and South Pacific Games for Persons with Disability) Games, digelar.

Zebra cross di perempatan Fajar Indah, Jl. Adi Sucipto ini bisa menyulitkan para tuna netra karena memungkinkan penyeberang menabrak pembatas jalan.

Solo memang pantas menjadi tuan rumah penyelenggaraan event bagi kaum difabel. Prof. DR. Soeharso telah merintis pusat rehabilitasi berskala nasional sejak awal kemerdekaan, meski awalnya diperuntukkan bagi korban perang yang mengalami kecacatan permanen. Tapi, di kemudian hari, toh memberi manfaat bagi banyak orang yang mengalami perubahan pola hidup yang drastis, akibat kecelakaan, bencana alam dan sebagainya.

Wajar pula Paragames 2011 digelar di Solo, hitung-hitung sebagai apresiasi atau hadiah bagi pemerintahan di daerah yang menjadi pionir akan lahirnya Peraturan Daerah tentang Kesetaraan Difabel nomor 2 tahun 2008. Itu termasuk maju jika disimak dari perjalanan panjang para aktivis yang memperjuangkan hak-hak dan kesetaraan difabel di seluruh dunia, termasuk Solo.

Perserikatan Bangsa-bangsa saja baru menyepakati adanya Konvensi Hak-hak Penyandang Disabilitasvpada 13 Desember 2006, dan Indonesia menjadi negara ke-107 ketika meratifikasi konvensi tersebut pada Maret 2007. Uniknya, Solo menjadi pemerintah daerah pertama di Indonesia yang memiliki Perda, dan hanya berselang setahun sejak Indonesia melakukan ratifikasi.

Asal tahu saja, seketariat nasional organisasi olahraga difabel juga berada di Solo, termasuk pusat latihan nasionalnya (Pelatnas). Kini, induk organisasiny bernama National Paralympic Committee (NPC), menggantikan yang lama, Badan Pembina Olahraga Cacat/BPOC. Sebelumnya, olahraga ini dinaungi oleh sebuah yayasan, yakni Yayasan Pelaksana Olahraga Cacat (YPOC).

Atlet cabang atletik Indonesia sedang menjalani latihan di Stadion Manahan. Kursi roda yang mereka gunakan, konon bukan yang berkwalitas bagus.

Nah, bagaimana kesiapan Kota Solo terkait dengan penyelenggaraan ASEAN Paragames 2011, apalagi jika dikaitkan dengan adanya Perda Kesetaraan Difabel? Untuk venue atau tempat digelarnya 11 cabang olahraga, memang sudah tak masalah. Tapi, mengenai fasilitas umum, terpaksa saya harus menyebutnya sebagai cukup menggemaskan.

Sebuah hotel yang belum genap setahun beroperasi, misalnya, sok-sok ramah atau peduli dengan difabel. Ram atau akses jalan untuk pengguna kursi roda atau pejalan kaki berpenyangga (kruk), memang sudah dibuat. Tapi, karena tak ngerti (arsiteknya pasti payah secara ilmu dan tak punya rasa solider), ramp dibuat sangat curam, hampir 45 derajat! Jangankan pengguna kursi roda, orang tanpa handicap saja enggan melewatinya, lantaran berisiko.

Anggap saja, hotel memang bukan ‘tempat layak’ untuk difabel (walau ino sadis juga) karena dianggap bukan merupakan ruang publik (walau tak demikian seharusnya), lantas bagaimana dengan fasilitas umum seperti halte bus??? Ndilalah (saya tak tahu padanan bahasa Indonesia yang tepat), hampir semua halte tidak ramah untuk difabel. Kalau tak terlalu curam, lebar ram pun cuma pas buat kursi roda. Kalaupun ada selieih, paling kurang dari sepuluh sentimeter. Seorang teman pengguna kursi roda yang pernah mencobanya, mengaku aksesnya tak layak untuk diri dan teman-teman sesama pengguna kursi roda.

Ram di sebuah hotel di Solo ini berpotensi mencelakakan pengguna, khususnya penyandang difabilitas.

Yang demikian, tentu kabar tak enak dibaca. Tapi, ya mau bagaimana lagi. Ini fakta pahit, yang harus diketahui banyak orang, supaya semua pihak mau berbenah. Kesetiakawanan bukan ungkapan lisan semata, dan tanggung jawab penyelenggara negara kian nyata. Tidak hanya sekadar formalitas belaka, sebagai siasat memenuhi unsur yang diamanatkan oleh perda, undang-undang, konvensi atau apapun namanya.

Jujur, saya sedih melihat atlet-atlet nasional kita yang sudah berbulan-bulan masuk Pelatnas di Solo, namun hanya diinapkan di hotel-hotel yang menurut saya, kelas melati pun belum! Salah satu hotel (kecil, nyaris melati) tempat mereka menginal selama berbulan-bulanpun, meski dua lantai, tak ada lift atau akses ramp.

Mungkin, perlakuan semacam itulah yang lantas memberi gambaran kepada kita (saya, tepatnya), bahwa seperti itulah perhatian negara kepada merwka, kaum difabel. Jika atlet yang memiliki prestasi saja diperlakukan seperti warga negara kelas dua, bagaimana mereka yang ‘tak berprestasi’?

Halte yang baru dibangun di dekat RS Kasih Ibu, Jl. Slamet Riyadi ini sudah jauh lebih manusiawi karena memenuhi syarat aksesibilitas untuk difabel.

Maka, saya pun makljm adanya, jika seluruh atlet dari berbagai negara ditempatkan di Asrama Haji Donohudan, yang kini sedang diperbaiki di sana-sini supaya memenuhi unsur aksesibel bagi semua delegasi. Hotel-hotel, dari yang melati hingga berbintang, masih belum banyak yang ramah terhadap difabel. Menyedihkan, memang…..

Semoga ASEAN Paragames 2011 tak menjadi event yang cacat. Entah cacat definisi maupun cacat pelaksanaan. Repot jika pesimisme dan prasangka saya terbukti benar adanya…..