Awas Ada Ayam!

Tersebutlah kisah, tentang seorang musisi gaek, yang berjiwa muda dan suka bercanda. Setiap usai manggung di pub hotel atau kafe, ia selalu menyempatkan nongkrong. Kadang dengan formasi lengkap, kadang hanya berdua atau bertiga dari lima orang anggota grupnya.

Sesekali, ia masih pula menenggak minuman barang beberapa sloki sebagai penghangat. Kerap tamu pub atau kafe mengirim minuman pesanan khusus, sebagai wujud apresiasi sekaligus menunjukkan diri sebagai fans, meski di sisi lain ingin pula menunjukkan kedermawanan sekaligus kelebihan isi tabungan.

Sang musisi tinggal dalam sebuah perkampungan tak seberapa padat meski ramai. Seiring pesatnya kemajuan Kota Solo, sebagian kepemilikan rumah dan tanah berpindah tangan. Wajah-wajah asing pun kian mewarnai kampungnya. Kebetulan, wajah-wajah baru itu kelewat mampu, sehingga wajah kampung tampak baru oleh kehadiran rumah-rumah yang baru pula. Dari yang berupa cat dan eksterior baru, tak kurang yang mendesain rumah baru dengan merobohkan bangunan yang dulu.

Orang mampu, dimana-mana cenderung ‘pemalu’. Pagar tertutup dibuat tinggi-tinggi, mengelilingi bangunan sebagau pembatas dengan tetangga di kiri dan kanan, juga depan atau belakang. Untuk bertamu, pun butuh cara tertentu, entah dengan telepon atau kirim SMS terlebih dahulu.

Kalau tak melakukan prosedur baku semacam itu, jangan kecewa jika yang menyambut kedatangan di pintu bukan lagi pembantu, melainkan sahabat-sahabat Rin Tin Tin. Bagi yang berniat jahat, sudah tentu sudah dikasih rambu-rambu, biasanya berupa gambar kambing balap atau kepala hewan dengan lidah menjulur ala Rolling Stones.

Rambu-rambu itulah yang menjadi satu kelebihan utama orang-orang mampu, yang semula diperuntukkan bagi penjahat agar tak coba-coba menggoda ketenangan, namun berimbas kepada tetangga kiri-kanan. Pak RT, Pak RW atau satpam kampung, termasuk sedikit orang yang sering disambut teriakan RinTin Tin, sebab sang empunya jarang mau datang ke rumah Pak RT, walau sejatinya mereka yang butuh.

Untuk urusan ronda kampung, sudah jamak kalau orang-orang demikian tak pernah datang. Mereka memilih menyuruh duit untuk mewakilinya berjaga, dan terserah si duit mau memilih siapa.

Hidup dalam pola relasi sosial yang kian longgar dan tak hangat seperti masa-masa sebelum banyak pendatang, sang musisi tak bisa berbuat lebih. Ia sadar, karena menggerutu hanya akan membuatnya capek dan sirik, maka dipilihnya cara yang sedikit kocak. Di pagar depan rumahnya, ia memasang gambar ayam jago hasil menggunting sebuah kalender bekas, lalu ditambahkan tulisan sederhana: Awas Ada Ayam!

Secara berkelakar, sang musisi bercerita tujuannya memasang gambar dan tulisan peringatan itu, agar orang yang hendak bertamu tak meninggalkan soto ayam sebagai kekayaan kuliner Solo, serta berhati-hati terhadap ayam peliharaannya. Katanya,

Suatu saat, ayam itu bisa kuajak ke pasar, lalu kutukar dengan beras dan sayur-sayuran segar. Demi kesehatan keluarga, kami harus mengkonsumsi jenis ini…..

Bilm Forno atawa Bokèp

…Dinihari, pada sebuah perjalanan darat ke Jakarta. Belasan penumpang yang terdiri dari musisi, kru artistik dan tim manajemen tengah lelap tertidur dalam kenyamanan bus berpendingin udara. Hanya sopir dan seorang awak yang berjaga, mengantar sukses pertunjukan esok malamnya…..

Seorang dari belasan penumpang ternyata rela menahan kantuk. Pura-pura tidur, sehingga ia melewatkan keriuhan teman-temannya mendengarkan (lalu tertawa terbahak-bahak) dagelan Basiyo. Begitulah, mereka semua memang penikmat dan pemuja pemain monolog terbaik Indonesia itu. Nyaris hafal semua materi monolognya, termasuk gending dan tembang pengiringnya.

Seorang yang sengaja tak tidur itu mengendap-endap, berjalan mendekati sopir. Lalu, dia memasukkan kaset ke dalam tape recorder dan menyetelnya. Rencana sudah matang: bahkan ia memperhitungkan kapan pita kaset mulai mengeluarkan suara, menyesuaikan waktu tempuhnya dari samping kemudi hingga ke bangku paling belakang yang sengaja diincarnya.

Dari bangku pojok di belakang, di samping toilet, lelaki itu mengamati semua penumpang. Dialog-dialog monoton berbahasa Inggris dari pita kaset itu timbul- tenggelam, sesekali dengan tempo lambat, kadang pula cepat. Hingga lima menit awal, belum ada tanda-tanda kehidupan.

Barulah mendekati menit ke-15, satu-persatu tampak bergerak, ada pula yang beringsut. Selimut yang mereka kenakan, mulai terlihat ada yang disibakkan. Satu, dua…, tiga……, lalu tujuh penumpang menegakkan bangku sandaran. Celingukan, lihat kiri-kanan, lalu tersenyum. Lantas, semua mengarahkan pandangan ke layar televisi 14 inchi di bagian kiri atas sopir. Gelap, posisi off!

Suara-suara lelaki yang baru terbangun dari tidur itu nyaris seragam, meminta awak bus menghidupkan televisi. Mereka tak mau hanya mendengar suara semata, yang baginya dianggap baru.

“Wah, anyar iki…,” teriak seorang.

“Ayo dong, nyalakan tivinya!” teriak seorang yang lain kepada si pembantu sopir.

Beberapa yang lain terlibat diskusi, memperbincangkan dan menebak-nebak adegan. Sudah biasa mereka, setiap perjalanan ke luar kota dengan bus, ada saja di antara mereka yang membawa cakram padat. Malah, perjalanan demikian sudah menjadi forum penanda tingkat kemelekan seseorang di antara mereka, terhadap perkembangan industri film saru.

Dan, malam itu nyaris semua seperti bersepakat, bahwa yang didengarnya saat itu merupakan barang baru. Sebagai orang yang melek musik dan drama, mereka bisa dengan mudah menarik kesimpulan, bahkan hanya dari suara dan dialog-dialog yang sedemikian monoton. Jangankan yang berbahasa Inggris, yang berbahasa Jepang, Perancis, Latin dan India, pun mereka sangat melek.

Klik! Sang pembantu sopir menekan tombol ON pada pojok kiri bawah televisi. Hanya tulisan VIDEO berwarna hijau muda yang tampak di layar, di kanan atas.

Suasana pun gaduh. Sebagian meminta awak bus agar mengecek CD/DVD Player, menganggap ada yang tak beres di sana. Sebagian yang lain mencoba mengajari, agar kabel yang menghubungkan dengan televisi dicek kembali. Semua normal, tak ada soal.

Gaduh, kian bergemuruh. Semua ingin mencocokkan, yang auditif selaras dengan visualisasi adegannya. “Plot-nya bagus. Kayaknya, adegannya oke, nih!” teriak seseorang yang duduk di tengah.

“Mas… Ini bukan video atau tivinya, kok!” teriak awak bus yang sedari tadi menelusuri sumber bunyi. “Ini kaset biasa, kaset audio!”

“Setan!” teriak yang di bangku depan.

Sopo iki yang bawa? Kurang ajar, mengganggu orang tidur saja!” sahut yang lain.

Malam itu, semua penumpang terjaga pada seperempat perjalanan menjelang Jakarta. Sementara si lelaki yang duduk di bangku pojok belakang hanya diam sambil tertawa ditahan. Ia merasa sukses mengecoh, ngerjain teman-temannya, setelah dua hari bersusah payah memilah suara dengan gambar dari BF alias bilm forno, alias bokèp di rumahnya.

Ooh.. no.. Yes..yesss! Ooo……… yes! Hmm… ou..yeaaa…!

Begitulah, dialog berbahasa Inggris yang monoton dengan latar musik sayu-sayup itu telah ‘membangunkan’ sebagiannya dan menjadikan semua terjaga. Dan kecewa…

Makanan Tak Enak, Dada Sesak

I Wayan Sadra main bola bersama Gombloh, Rudy dan Donny

I Wayan Sadra main bola bersama Gombloh, Rudy dan Donny

Ketika cahaya kekuningan mentari digantikan sinar putih, terang dan mulai panas, singgahlah kami di Rumah Makan Pring Sewu, Tegal, sebuah rumah makan taman yang menjanjikan kenikmatan bersantap. Saung yang dinaungi rindangnya pepohonan yang membatasi sebuah tambak yang tak seberapa luas menjadi pilihan kami, para seniman yang menyukai tempat terbuka. Open air, open mind…..

Pesanan sudah dicatat oleh seorang siswi SMK yang sedang kerja praktek di restoran berjaringan luas itu. Manis, berjilbab, hingga beberapa dari kami usil, berebut menggoda. Cari-cari perhatian, malah ada yang sampai menunjukkan tabiat penggodanya dengan show of force, merekam dengan kamera video di telepon genggam barunya. Ada pula mengeja nama yang tertera di dada kirinya. Seolah-olah terbata-bata, padahal semua tahu, yang begitu merupakan cara lama, meski tak pernah usang. Hmmm…

Gondrong main sepeda

Gondrong main sepeda

Karena menunggu bakal membuat jemu, sebagian bermain otoped, ada yang main egrang, juga ada yang menyepak bola plastik. Meriah, meski kami hanya bersebelas. Asyik dan happy seperti memperoleh energi pagi. Tiba saat makanan yang kami pesan datang, bubarlah semua permainan. Yang pertama, pesanan saya: nasi timbel.

Karena kelewat lapar, saya menyantap duluan, meninggalkan teman-teman yang belum sampai giliran datangnya pesanan. Ternyata saya lupa memerhatikan lantaran kelewat nafsu. Rupanya ada beberapa yang asing di lidah: sambal cenderung manis, wangi nasi terbungkus daun pepaya juga tak menggugah selera. Ujungnya, tak sampai setengah makanan itu kusantap.

Tiga teman pemesan menu yang sama saling pandang. Rupanya, kami berempat punya penilaian yang senada (kami adalah rombongan komponis dan musisi yang kebetulan baru pulang ngamen di ibukota. kalau kami rombongan Menwa, pasti akan bilang seragam). Mungkin karena lama tinggal di Solo atau Surakarta, lidah kami kelewat manja. Sensitif terhadap semua jenis makanan, sebab terbiasa dipaksa mencecap makanan serba enak. Ckk….ck….ck…..

Duduk santai menunggu pesanan

Duduk santai menunggu pesanan

Sesuai istilahnya, dalam situasi darurat sebagian dari kami memaksa menjejalkan makanan yang dipesan ke mulutnya. Lidah bisa diajak kompromi, namun perut belum tentu mudah diajak cincai. Pankreas harus punya kesibukan, belum lagi masalah nalar yang sudah membawa kami untuk mengingat istilah populer bagi masyarakat Jawa: ana rega, ana rupa. Ada harga, ada wujud (yang sepadan). Mahal tak soal, asal membuat puas. Enak, meski tak harus mengenyangkan.

Donny adalah orang paling sial, meski kemudian dibuat seolah-olah beruntung oleh manajemen restoran. Dia dibebaskan dari kewajiban membayar, padahal para waiter/waitress tak melihat bagaimana dia cengar-cengir sejak pertama mengunyah ikan ayam-ayaman (namanya aneh, ya?) bakar. Selera hilang seketika, apalagi setelah berusaha membau. “Sepertinya ikan lama…,” ujarnya.

“Atau karena terlalu lama di freezer,” sahut Gondrong, yang ikut mencicipi, dan berakhir pada kesimpulan yang sama dengan Donny.

Melihat dua ekor kucing berbadan ramping, bangkitlah naluri iba yang dipadu dengan sifat kedermawanan kami. Sekali-dua dilemparkan daging ikan pada si kucing, yang lantas disambarnya dengan penuh antusias. Kian iba kami pada keduanya. Sebagai bentuk apresiasi atas lahapnya menyantap, muncul ide saya untuk memuliakan sang kucing. Piring lantas kami pindahkan ke tanah, supaya mereka mudah mengakses makanan mewah itu. (Sesungguhnya, alasan kami memindah piring ke tanah karena sifat feodal yang kami miliki sebagai akibat lama tinggal di Solo)

Kucing rakus, menyantap pesanan Donny yang tak dimakan

Kucing rakus, menyantap pesanan Donny yang tak dimakan

Lima menit kami memerhatikan, rupanya satu kucing lebih cerdas. Yang berbulu kelabu, mendekat pun tidak, sedang yang kuning rakusnya bukan main. Persis seperti sikap kami pada awal-awal menerima pesanan. Malah, ketika piring saya tarik kembali, dia berusaha mengejar, malah sempat memandang saya, seolah tak rela. Kecewa.

Rupanya, adegan kucing menyantap ikan bakar itu disaksikan tiga pramusaji dari kejauhan. Tak lama berselang, mereka datang menawarkan sebuah permainan. Mungkin, maksudnya hendak menghibur. Beberapa helai kartu digenggamnya, lalu ramah menawari kami. Kami menolak, tapi si pramusaji gigih. Berusaha merayu kami lagi, tapi lagi-lagi kami menolak.

Dalam hati, saya paham tindakan itu sebagai bentuk tindakan yang baik, responsif terhadap gelagat  kekecewaan konsumen. Sayang, tawarannya kurang bermutu. Referensi kami tak sebanding. Banyak naskah sandiwara yang pernah kami baca, begitu pula jalan cerita aneka jenis drama –dari yang realis hingga absurd, pernah kami nikmati. Trik apa lagi yang bisa memuaskan kami, hingga sanggup menghapus kekecewaan kami?

Seperti menyerah karena rayuannya selalu mentah, para pramusaji menghilang. Mungkin mereka berunding dengan manajer, mencari solusi terbaik bagi kasus yang kami alami. Terasa agak lama, saya menelpon kantor rumah makan itu. “Tolong bill segera dibawa ke sini. Ini saya yang datang berombongan dan duduk di dekat tambak!” ujar saya pura-pura galak.

Kucing kurang ajar, difoto malah menantang

Kucing kurang ajar, difoto malah menantang

Segera saja, tiga pramusaji datang bersama-sama. Yang satu menjelaskan, dua pesanan ikan bakar dicoret dari daftar. Donny dan Rudy, si pemesan, dibebaskan dari kewajiban membayar. Sementara yang lain, walau komplain atas makanan yang rasanya biasa-biasa saja, tetap membayar. Tak apa, memang begitu seharusnya.

Dalam perjalanan pulang, kami banyak membicarakan menu dengan rasa usang itu. Kami lantas memupuk dendam selama perjalanan. Enam jam tak soal. Karena begitu memasuki Boyolali, kami berencana mampir ke Rumah Makan Tegal di Ampel. Teh kental yang enak dan panas, pecel yahud dan menyehatkan serta otak goreng yang sanggup memaksa air liur mengucur segera kupesan. Nyam…nyam…. nyamm…

Bergegas meneruskan perjalanan, ternyata dendam tak juga sirna. Mungkin sudah sifat saya. Ya sudah, saya tak akan kembali ke Pring Sewu Tegal lagi. Mendingan ke Rumah Makan Tegal. Tak ada permainan bukan soal, yang penting saat makan selalu diiringi kroncong live, oleh kelompok penyanyi jalanan (harap diingat, kami seniman. sebutan pengamen hanya pantas diberikan kepada peminta-minta yang pura-pura menyanyi, bergitar, berketipung, namun segera berlalu ketika uang sudah berpindah tangan).