Sniper

Setiap menjelang musim mudik lebaran, Kepolisian Negara Republik Indonesia selalu menjanjikan ketenteraman kepada rakyat pemudik. Caranya, mengumumkan keberadaan sniper alias penembak jitu, dimana-mana. Namun, usai lebaran, tak pernah ada pengumuman, sudah berapa banyak pelaku kriminal sudah ditembak secara jitu.

Yang lazim diumumkan hanyalah jumlah pemudik dan status peningkatan jumlahnya, serta persentase naik/turun angka kecelakaan dan jumlah korban. Standar memang.

Sesekali, ingin betul dapat kabar polisi pamer prestasi, terutama hasil penembakan yang jitu itu. Ya, seperti laporan para pemburu, yang bangga ketika cerita sudah berhasil membunuh sekian babi ketika memasuki rimba raya.

Kalau cuma diam saja, orang seperti saya pasti sulit mengapresiasi dan membanggakan punya lembaga penegak hukum yang hebat.

Apalagi, selama ini kelewat sering merasa dibohongi, sebab banyak penanganan kasus kriminal, tak tuntas terselesaikan. Begitu juga, ketika sebuah perkara menyangkut laskar-laskar semacam FPI atau Front Pembela Islam, yang cara berdakwahnya selalu berjamaah dan cenderung intimidatif. Bahkan, tak segan menganiaya, atau merusak semua yang dijumpainya: manusia maupun harta benda.

Sesekali, ingin juga mendengar kabar sniper itu telah berhasil menembak sekiam anggota FPI yang bertindak anarkis ketika beraksi, apalagi secara konvoi.

Sungguh tak asik, seumpama saya berjumpa teman dari mancanegara, lalu ditanya kenapa insiden salah tembak kerap terjadi, dan saya gagal menjelaskannya. Alangkah malunya saya punya institusi resmi bernama Polri.

Coba, apa jawaban Anda manakala ditanya: apa sebab sniper dipiara, sementara peluru nyasar dan salah tembak masih terjadi?

Yang jelas, saya pusing…

Cerita Pulkam

Lebaran adalah saat saudara, kerabat, teman dan sahabat bertemu. Jauh-dekat sama saja. Ceritanya aneka rupa, tergantung pengalamannya, meski bisa juga berasal dari cerita orang lain. Yang sedang pulkam, bisa jadi cuma memancing obrolan agar suasana kangen-kangenan lebih berasa. Maka, kenduri pun jadi bahan renungan sangat menarik.

Di desa saya, misalnya, mulai berkurang peserta kendurinya. Kata ibu, yang ikut Muhammadiyah sudah menarik diri dari partispasi: mengirim nasi tumpeng dengan jajan pasar dan sayur aneka rupa ke balai warga, yang letaknya bersebelahan dengan makam. Keluargaku masih mengirimnya. “Itu cuma ngikuti adat, bukan kirim makanan bagi yang mati,” kata ibu.

Waktu kecil hingga remaja, akulah yang membawa tumpeng itu. Dulu, sebelum ada balai warga, kenduri dilakukan di rumah salah satu tetua desa. Ia punya menantu, Hasan Mustaji namanya, yang konon tokoh penting Darul Hadist –organisasi keagamaan yang kini bermetamorfosa menjadi LDII.

Hasan Mustaji, tinggal di Kediri, dan sudah lama mati. Tapi sang istri tak pernah kembali, hingga kedua orang tuanya dipanggil Sang Pencipta. Mungkin, karena beda keyakinan, maka aliran darah pun diputus paksa. Selera beragama, memang aneka rupa layaknya bunga.

Tapi, saya yakin bukan soal kenduri kampung yang selalu di rumahnya yang bisa menampung lima puluhan orang plus perangkat kenduri sekaligus, yang memisahkan ibu-anak. Eh, bisa jadi juga, wong kenduri itu juga dianggap tak ada tuntunan agamanya, meski ritualnya didoakan mbah kaum, yang doanya nyaris sama dengan doa-doa yang dibaca mbahlik (kakek saudara kakek saya), seusai shalat wajib di surau dekat rumahnya.

Kalaupun ada yang ‘beda’, dalam setiap kenduri selalu disebutnya Baginda Kilir, yang tak lain adalah Nabi Khidzir, seusai menyebut Rasulullah dan tiga sahabatnya: Abu Bakar, Ngusman dan Ngali. Ya, sebutan lumrah dalam lafal lidah Jawa.

Saudaraku yang Kristen, lantas menimpali cerita soal kenduri tadi. Katanya, di kompleks ia tinggal di Plamongan, Demak sana, ia masih dapat bingkisan kenduri berupa nasi sayur aneka rupa setiap Ruwahan, yakni pekan terakhir bulan Sya’ban sebelum berganti Ramadhan. Pada pekan itu, biasanya orang Jawa datang ke makam, berziarah dan mendoakan bagi sanak-kerabat yang sudah meninggal. Mungkin kata ruwahanarwah, hasil akulturasi yang konon warisan para wali. berasal dari kata

Kata bulik saya, bingkisan nasi kenduri dikirim para tetangganya, dengan suka rela tanpa bedakan agama. “Tapi kalau hari raya kurban, kami tak memperoleh jatah pembagian,” ujarnya. Ia tak menyoal, karena dianggapnya itu sudah jadi ‘hukum agama’. Ia bahkan merasa bisa memahami yang begini.

Terhadap pembagian daging kurban, ibu menimpali. Katanya, di desaku daging kurban dibagikan secara merata, tanpa membeda-bedakan agama. Tetangga kami yang Katholik pun bisa memasak gule atau membakar sate, sama dengan tetangga kiri-kanannya.

Begitulah sedikit cerita, tentang serba-serbi hubungan antar-penganut agama. Semua sama dan setara hak-hak sosialnya. Soal dosa dan pahala, semua dikembalikan kepada Sang Pencipta, pemilik semua yang ada di dunia. Manusia tinggal merawatnya, demi kebersamaan dan ketentraman bersama.

Maka, alangkah sejuknya hidup di desa. Setiap orang memahami hak dan kewajiban sosialnya dengan kearifan yang diwariskan para leluhur, turun-temurun. Mereka tak pernah dakit-dakik (muluk-muluk) menyitir ayat untuk mengais perbedaan dan menjadikannya jurang.

Berbeda dengan orang kota, seperti tecermin di Depok, Jakarta dan banyak yang lain di Indonesia. Hanya karena beragama sama dengan mayoritas, lantas menuntut hak secara berlebihan dan brutal, bahkan tega mengorbankan yang minoritas. Orang beribadah dihalangi hanya lantaran umatnya dinyatakan lebih sedikit dari kaumnya. Padahal, mereka lupa, mayoritas orang yang seagama dengan mereka pun tak suka dengan cara dan tindakan yang dipertontonkannya.

Sayang, masih banyak media massa, terutama televisi masih suka memberi ruang dan waktu tayang, sehingga mereka merasa besar. Belum lagi dukungan oknum pemilik kuasa dan kewenangan, yang menutup mata dan membiarkan perilaku mereka, demi dukungan suara dan pelindung kepentingan mereka.

Semoga Indonesia tak lekas bubar oleh karena perilaku segelintir pejabat dan penguasa, yang membiarkan anrkisme merajalela di mana-mana.