3Gmerapi

Istilah 3Gmerapi disodorkan Suryaden dalam obrolan di sela makan (selepas) siang. Tiga jam pembahasan materi dan bentuk acara, semua lancar jaya, kecuali nama kegiatan. Intinya, bikin aksi untuk recovery Merapi pasca-erupsi. Ya lingkungannya, ya masyarakatnya. Sejumlah komunitas menginisiasi, lalu membuka diri bagi partisipasi.

3G merupakan akronim dari Guyub Gugur Gunung. Guyub (Jw.) itu bersama-sama, bahu-membahu. Sedang gugur gunung berpadanan dengan kerja bakti atau gotong royong guna mempercantik atau perbaikan. Secara indrawi, aktivitasnya akan tampak pada banyaknya kehadiran orang di suatu tempat secara sukarela, digerakkan oleh berat sama sipikul, ringan sama dijinjing.


Yang menjadi tuan rumah, sejatinya adalah Komunitas JalinMerapi. Beberapa komunitas lain memposisikan sebagai panyengkuyung atau tim hore, supaya event yang akan digelar Jumat, 18 Maret 2011 di Gedung Societet, Taman Budaya Yogyakarta itu kian ramai. Hore-hore, tapi bukan hura-hura. Bukan pula meratap.

Berbagai acara akan digelar, seperti aneka bazar, pentas seni Jathilan, wayangan dan pemutaran Linimas(s)a, film dokumenter (pertama di Indonesia) tentang manfaat penggunaan social media oleh publik untuk aneka tujuan. InternetSehat turut serta, begitu pula Komunitas Joglo Abang. Komunitas Blogger Bengawan juga ikut sebagai penggembira.

Ada pula lelang lukisan karya beberapa seniman yang dibuat pada hari penyelenggaraan. Beberapa foto bertema erupsi Gunung Merapi juga akan dilelang untuk publik, yang semua hasilnya akan digunakan untuk membantu recovery pasca-erupsi Gunung Merapi. Kemal Jufri, yang esai fotonya tentang Merapi memperoleh penghargaan World Press Photo tahun ini, memastikan akan menyumbangkan karyanya untuk dilelang. Juga Achmad Ibrahim, fotografer Associated Press.

Pakar Internet Indonesia, Mas Onno W Purbo juga akan hadir dan berbagi, rasan-rasan, ngobrol tentang internet dan beragam manfaat untuk kehidupan dan kemanusiaan, dan sebagainya.


Pengunjung juga diharapkan untuk membawa bibit tanaman, buku, atau apa saja yang disumbangkan, asal jangan berupa pakaian. Beberapa warga kampung-kampung di sepanjang sungai yang berhulu di Merapi, misalnya, membutuhkan handy talkie untuk bisa meng-update perkembangan. Kita tahu, lahar dingin masih belum berhenti, di musim hujan berkepanjangan kali ini.

Apapun partisipasi Anda, bahkan kehadiran untuk meramaikan acara, sudah cukup membahagiakan kami semua. Sebagian dari kami yang menginisiasi kegiatan ini, adalah kaum pengguna teknologi komunikasi, baik radio, telepon genggam, maupun internet. Tanpa peran teknologi itu, saya yakin, tak ada yang namanya JalinMerapi.

Ribuan relawan dan ratusan atau ribuan ton bantuan, mungkin tak terditstribusi seefektif kemarin. Tanpa peran aktif publik dalam berbagi informasi dari seluruh penjuru negeri (mungkin malah luar negeri), barangkali banyak yang kapiran (terbengkalai), atau mungkin celaka.  Hal ‘remeh’ seperti hewan ternak yang kelaparan karena ditinggal mengungsi, bahkan disantuni dan dirawat oleh relawan.

Memang, ketika erupsi berhenti dan pengungsi telah pulang meski harus bersusah payah membersihkan puing-puing hingga tempat berteduh tegak kembali, para korban seperti kembali harus mengatasi masalahnya sendiri. Partisipasi dan aksi peduli susut, tak semassif dulu lagi.

Event 3Gmerapi nanti, mungkin hanya jadi ajak refleksi. Meski, tak bisa dipungkiri, akan berguna bagi JalinMerapi untuk sedikit bertutur mengenai capaian hasil kerja bakti selama ini, mengurus distribusi informasi, relawan, dan bantuan dari publik, kepada yang berhak, ya para korban dampak erupsi Gunung Merapi.

Bisa jadi, teman-teman JalinMerapi juga akan berbagi informasi, mengenai apa yang masih luput dari perhatian publik awam, atau siapa di mana saja yang masih perlu ditemani. Guyub gugur gunung, sepertinya tidak boleh berhenti. Silakan kontak JalinMerapi, jika Anda ingin berpartisipasi…..

Relokasi

Hari-hari ini, saya cemas terhadap perkembangan penanganan pengungsi korban erupsi Gunung Merapi. Wacana relokasi dan transmigrasi bagi mereka yang terpaksa mengungsi, semoga cuma basa-basi. Berbeda dengan pernyataan janji Presiden akan membeli sapi-sapi dan ternak para pengungsi, yang memang harus ditagih kembali.

Saya yakin, relokasi dan transmigrasi hanya akan diberlakukan ‘secara terbatas dan mengikat’ bagi warga di kawasan Kabupaten Sleman, DIY. Untuk yang berada di wilayah Jawa Tengah, rasanya tak seburuk keadaan saudara senasib-sepengungsiannya di provinsi tetangga.

Kita tahu, alam pegunungan di lereng Merapi indah menawan, maka jadi kawasan favorit incaran orang-orang kaya dari berbagai kota. Bukan hanya Kaliurang yang nyaman untuk pelesiran, namun nyaris semua pedesaan di kawasan Sleman cocok dijadikan tempat tinggal. Belum lagi faktor kesuburan tanah dan bagusnya infrastruktur, yang membuat nilai jual obyek pajak (NJOP) terus membubung.

Erupsi besar dan lama Gunung Merapi kali ini, bukan tak mungkin akan dijadikan justifikasi untuk menyebut kawasan tersebut tak lagi layak dijadikan tempat hunian. Bahwa siklus ‘geliat’ Merapi berbilang ratusan tahun, tak perlulah dimunculkan, atau kalau perlu ditutup-tutupi, supaya memudahkan gagasan relokasi, atau bahkan transmigrasi.

Terus terang, saya punya prasangka begini: warga direlokasi, banyak desa dikosongkan. Entah secara formal akan dinyatakan sebagai daerah tertutup untuk hunian, atau dijadikan kawasan perhutanan. Intinya, karena relokasi dibiayani negara, maka tanah yang ditinggalkan menjadi milik negara. Nah, kelak, negara akan ‘menjual’ dalam bentuk hak pakai atau hak guna, yang sifatnya sementara alias jangka pendek, namun bisa diperbarui ijin perpanjangannya, asal bukan untuk rumah tinggal permanen.

Bila demikian adanya, maka kelak akan banyak vila atau rumah-rumah sewa yang dikelola swasta dengan status menyewa tanah negara dari pemerintah.

Potensi wisatanya jelas: pemandangan alam Merapi yang indah akan menarik minat berkunjung banyak orang. Potensi ‘sejarahnya’ pun demikian. Erupsi Merapi akhir Oktober hingga sepanjang November 2010 bisa jadi bumbu cerita menarik, dan situs-situs yang hangus oleh panas api dari perut bumi kian menguatkannya sebagai daya tarik kunjungan wisata (alam dan pengetahuan).

Bisa jadi, sekian puluh tahun kemudian daerah itu akan kemabnjiran para transmigran eks-Sleman, yang datang untuk ‘berwisata’ sambil menengok kembali tanah leluhur.

Masih mending kalau kawasan tersebut dinyatakan sebagai taman nasional sekalian, sehingga tak berpotensi melukasi perasaan warga yang (bisa jadi) akan segera direlokasi. Dengan penetapan status baru sebagai taman nasional, sehingga akan terbebas dari kepemilikan privat, kelak juga akan memberi manfaat bagi kawasan Yogyakarta dan sekitarnya, yang mulai kekurangan sumber air baku akibat hilangnya sumber-sumber resapan.

Semoga, pemerintah bisa membuat keputusan yang jernih, adil dan mendasarkan pada jalan keluar terbaik untuk ratusan ribu warga yang sempat mengungsi, menyelamatkan diri dari murka Gunung Merapi. Bukan apa-apa, munculnya tulisan ini semata-mata karena tak percaya pada mental para penguasa republik kita. Buktinya, menangani bencana yang kecil-kecil saja, mereka tak ada yang bisa. Apalagi menyangkut nasib ratusan ribu jiwa warga negaranya.

Media Sosial dan Bencana

Bencana alam yang bertubi-tubi mendera Indonesia membuka ‘aib’ banyak pihak. Lambannya penanganan korban oleh aparatur pemerintah terkuak jelas. Pemanfaatan pencitraan oleh organisasi kemasyarakatan, partai politik dan badan usaha juga menjadi sorotan publik, sementara buruknya praktek pewartaan oleh media massa pun menuai kecaman.

Tak bisa dibayangkan, bagaimana nasib para korban bencana, baik banjir di Wasior, gempa dan tsunami di Mentawai; erupsi Gunung Merapi dan banjir Sulawesi Tengah andai penggunaaan media sosial seperti Facebook, Twitter dan blog tak semaju sekarang.

Tekanan publik lewat aneka jejaring sosial cukup efektif menggerakan aparatur negara, termasuk keputusan Presiden Yudhoyono ngantor di Yogyakarta demi menunggui penanganan dampak erupsi Gunung Merapi, menyusul kebijakannya menentukan siapa saja penanggung jawab penanganan dampak musibah. Apalagi, sepekan lebih sejak erupsi pertama, tak ada kejelasan penanggung jawabnya, sementara solidaritas sosial telah menggerakkan ribuan relawan dan distribusi bantuan seperti ditunjukkan oleh @jalinmerapi yang dikooordinir Combine, sebuah lembaga swadaya masyarakat di Yogyakarta.

Pada sisi yang lain, banyak organisasi sosial kemasyarakatan, partai politik dan puluhan badan usaha justru memanfaatkan konsentrasi massa sebagai obyek pencitraan. Aneka materi publikasi dari beragam institusi bersaing, saling berlomba mengotori jalanan dan posko, demi mencuri perhatian untuk penguatan brand dengan dibungkus aksi kepedulian atau tanggung jawab sosial (CSR).

Tindakan kurang pantas, yang disebut oleh pengamat komunikasi visual Sumbo Tinarbuko sebagai kelompok ‘gemar menolong’ itu, berupa aktivitas marketing (komunikasi dan politik), agar 127 ribu orang yang mengungsi mengingat ‘jasa’ para pemasar. Asal tahu saja, ketika segerombolan masyarakat berkumpul dalam satu tempat dan keadaan tertentu, maka di situlah mereka menunjukkan kelemahannya akan kedaulatan dirinya atas pemilihan produk barang dan jasa yang ‘dikonsumsi’.

Maka, yang terjadi kemudian adalah terjadinya praktek manipulasi bantuan, muatan kepentingan atas sebuah aksi kepedulian. Dalam hitung-hitungan pemasaran, tentu saja bencana Merapi menjadi lebih seksi, lebih menggoda dibanding petaka yang tak kurang mengenaskannya seperti di Wasior dan Mentawai, karena memang terkesan lebih seksi.

Kita bisa membandingkan perhatian dan keterlibatan kelompok ‘gemar menolong’ di tiga zona bencana tersebut. Tidak menariknya Wasior dan Mentawai, jangan-jangan lantaran tak banyak media massa yang memberi perhatian ‘total’ pada sisi kwantitas dan kwalitas liputan, selain tidak menyangkut jumlah jiwa yang banyak. Jika demikian kenyataannya, alangkah tumpulnya nurani para pemasar tersebut.

Sungguh menarik ketika Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta, Sri Sultan Hamengkubuwono X melakukan kritik keras kepada partai politik dan produsen barang/jasa agar tak memanfaatkan zona bencana sebagai alat promosi. Kalau memang peduli, kata Sultan, cukup ditunjukkan dengan tindakan nyata dan menggunakan bendera yang lebih netral, bendera Merah-Putih alias solidaritas kebangsaan.

Yang tak kalah mengenaskannya, adalah kebanyakan media massa yang justru lebih berpihak ke peristiwa Merapi. Pada media cetak, porsi bisa dikatakan lebih berimbang dibanding media elektronik, terutama televisi.

Kelebihan media televisi yang bisa menyiarkan secara realtime dengan jangkauan sangat luas, menjadikan peristiwa erupsi Gunung Merapi sebagai ‘alat berjualan’ paling efektif. Setiap stasiun televisi berlomba adu cepat, bahkan menyiarkan secara live hampir selama 24 jam penuh, dengan melibatkan puluhan anggota tim reportase.

Ironisnya, pengelola media televisi tidak memiliki kecakapan reportase memadai. Nafsu adu cepat demi menyedot perhatian pemirsa dari channel-channel mereka lantas mengabaikan kepentingan publik akan informasi yang benar, seimbang dan akurat. Nyaris semua reporter dari berbagai stasiun televisi mengabaikan data, bahkan tak jarang memicu kepanikan publik akibat lemahnya akurasi.

Dari waktu ke waktu, reporter yang memburu kecepatan update lantas memilih mewawancarai narasumber secara asal-asalan dan tidak mengindahkan kompetensi pada persoalan yang dihadapi atau hendak digali. Tak jarang pula, eksklusivitas pemberitaan ditunjukkan lewat praktek mewawancarai korban, tak peduli apakah si korban dengan merintih kesakitan atau sedang dalam kesedihan mendalam akibat kehilangan sanak saudara.

Terlalu sering seorang reporter hanya melakukan klaim telah memperoleh informasi dari pihak-pihak yang dianggap berkompeten namun tanpa menunjukkan hasil wawancara dalam tayangannya. Belum lagi jika ditambahkan dengan fakta-fakta, di mana reporter cenderung melakukan framing, membuat berita seperti yang dikehendaki dan menampilkan hasil wawancara dengan target jawaban ya atau tidak.

Kecerobohan media televisi yang lain, seringnya menampilkan rekaman-rekaman lama sebagai ilustrasi pemberitaan dalam breaking news tanpa menyebut atau mencantumkan waktu. Pada tayangan demikian, publik pemirsa bisa terkecoh, apalagi dalam situasi seperti Gunung Merapi yang selama sepekan terakhir, terjadi beberapa kali erupsi dengan volume dan skala dampak berbeda-beda.

Nyata sudah kini, betapa sejumlah peristiwa bencana alam telah menguji kesiapan dan kedewasaan semua pihak dalam menyikapinya.

Kita tentu tak ingin pemerintah tampak lemah dan kehilangan kredibilitasnya di hadapan bangsanya sendiri. Kita juga tak rela jika partai politik dan badan usaha memanfaatkan bencana untuk aktivitas promosi, karena dana yang mereka keluarkan untuk pembuatan aneka materi promosi lebih bermanfaat jika diwujudkan dalam aneka bentuk barang yang dibutuhkan para korban bencana.

Terakhir, media massa juga mesti lebih berhati-hati dan selektif dalam menyiarkan berita. Sungguh disayangkan jika kredibilitas dan efektivitas kerja media justru dikalahkan oleh praktek penggunaan media sosial.

Ironis, memang, para korban di Wasior dan Mentawai yang masih membutuhkan perhatian kita semua, pun rupanya masih harus ‘mengalah’ dari perhatian banyak pihak. Untung, masih ada perhatian dan kepedulian para pengguna media sosial.

Sasmita Udan Awu

Gunung Merapi sangsaya ndadra. Geni ndlèdèk ora nganggo lèrèn. Sawayah-wayah bakal nggugah sapa waé sing pénak-pénak ana omah: ésuk, awan, soré, wengi utawa tengah wengi. Lemah glondhongan sing warnané abang mbranang tumurun saka pucuking gunung, nerjang wit-witan lan ngrusak sadhéngah papan. Kabèh kang tinerak bakal kobong, pungkasané dadi awu.

Udan awu uga tumurun saben dina, malah wis luwih saka sepasar. Paribasan Gusti Allah nembé andum klilip, nyasmitani wong-wong saiki sing padha lirwa nindakaké kabecikan marang sasama, uga tumrap alam paringané Gusti sing kuduné padha dirumat. Para pemimpin sing ora naté nyawang rakyaté, didhodhog atiné lumantar gludhug Merapi, ombak laut Mentawai, uga banjir bandhang ing Wasior, Papua.

Coba digatèkaké, apa tandang gawéné para pemimpin marang sedulur-sedulur kang nembé nampa pacoban ing Wasior sing kaya-kaya dilalèkaké sawisé ana tsunami ing Mentawai. Semono uga, sedulur-sedulur kita sing nembé nandang cilaka uga énggal dilalèkakké saploké Gunung Merapi nyuntak geni lan méga mawa wisa.

Bukti ora sithik. Ana wakil bupati pilih lunga menyang Bali, ana gubernur lunga menyang negara manca kamangka rakyaté lagi padha nandang sungkawa kélangan papan lan kulawarga. Wakil rayat semono uga, isih tegel, téga meksa mlancong menyang negara liya kamangka wektuné bisa diganti sawanci-wanci.

Ing jaman sing sarwa gampang lan maju, para mitra ing negara liye mesthi padha priksa lan bisa nglengganani menawa para penggedhé lan wakil rakyat iku pamit, mbatalaké lelaku. Apa manèh yèn mung kanggo keperluwan sing arané studi bandhing. Nanging kabèh wis padha ngerti, rakyat wis ngawuningani, menawa para wakil rakyat lan penggedhé pancèn ora duwé rasa welas asih, padha luru maremé atiné dhéwé-dhéwé.

Para juru warta semono uga. Kaya golèk kepénak lan ngirit, padha nglalèkaké Wasior lan Mentawai. Rasané dumèh ora ‘kemedol’ banjur padha mlayu menyang Merapi kang nggegirisi. Saben dina, ésuk tumeka ésuk manèh siyaran langsung terus-terusan saka sakiwa tengené Merapi. Prasasat tanpa kendhat, perkara Merapi ngalahaké perkara Wasior, Mentawai lan Poso sing jaréné uga nembé ketekan banjir.

Udan awu sasmitané. Donya katon peteng. Manungsa didhawuhi setiti lan ngati-ati. Sésuk bakal kepriyé ora ana sing mangertèni. Montor mabur akèh sing ora wani muluk jalaran awuné Gunung Merapi bisa njalari mesin mati. Bis-bis akèh sing ora bisa mlaku, truk sing gawéné momot ijon-ijon lan beras saka kutha siji menyang kutha liyané uga kangèlan mlaku.

Ora maido, tumrapé warga Klatèn, Sléman, Boyolali lan Magelang, saiki dadi larang sandhang-pangan. Tandhon beras lan palawija bakal entèk saumpama Merapi ora énggal lèrèn anggoné andum rabuk awujud udan awu lan banjir lahar.

Begjané, ana ing kahanan sing kaya mangkéné, malah akèh wong sing ènthèng ati lan tangané, padha gugur gunung paring pambiyantu marang sedulur-sedulur kang nembé nampa pacoban sing wujudé kaya pageblug. Pirang-pirang truk tandha asih kinirim saka sedulur-sedulur ing kutha liya, éwadéné wong-wong sing kuduné tumandang cèkat-cèket kayata para mentri, gubernur, bupati lan saandhahané malah isih akèh sing lirwa marang kuwajibané.

Pancèn bener ngendikané Mbah Maridjan, menawa saben ana dlèdèkan geni mengangah sakan pucuké Merapi iku mertandhani Mbah Merapi lagi duwé kajat andum rejeki awujud awu kang nyuburaké bumi pertiwi. Nanging ya kuwi, Mbah Merapi ngiras-ngirus ngélingaké para manungsa supaya ora kemaruk marang kadonyan, ora lali jalaran kecèh bandha iku sejatiné nembé diuji déning Gusti.

Coba, apa ora gawé sepeté mripat lan panasé ati, menawa ana satengahé wong-wong kang nembé nandang sengsara malah dipamèri warna-warna: réklame obat rosa, spanduk partai lan umbul-umbul para bakul. Ngakuné padha paring pambiyantu, nanging nyatané malah isih akèh sing tawa, bakulan apa-apa, nganti Ngarsa Dalem Sri Sultan Hamengkubuwana Kaping Sadasa duka, ngélingaké menawa para asung bela sungkawa lan pambiyantu ora perlu mélik warna-warna.

Yèn pancèn ikhlas mbantu, ya ora perlu pamèr gendéra. Cukup sang dwiwarna, abang-putih. Mangkono ngendikané Sultan.

Jawa atau Java?

Jalan-jalan itu bepergian untuk dinikmati. Jadi, pasti happy. Apalagi bersama teman-teman, pasti akan lebih fun. Nyenengkèh! Begitu istilah orang Solo, kini. Banyak berjumpa dengan hal-hal yang tak terduga. Wujudnya bisa apa saja.

Sayang, orang gila berusia separuh baya yang membungkus tubuhnya secara sekenanya, tak sempat saya jepret. Padahal, fotonya bisa untuk oleh-oleh. Berjalan menyusuri jalan protokol Boyolali, lelaki yang membungkus tubuhnya bekas bendera dan spanduk Partai Demokrat. Maklum, siang itu saya memerankan diri jadi sopir, dan tak bisa menghentikan mobil secara mendadak.

The Next Einstein...akankah muncul dari Boyolali?

Yang pertama menggelitik saya adalah papan nama sebuah lembaga pendidikan di Cepogo, Boyolali. Di pinggir jalan menuju Selo saya dapati sebuah optimisme, bahwa orang cerdas sekaliber Albert Einstein pun bisa lahir dari pedusunan itu. Maka, tak tanggung-tanggung, seseorang berjiwa pendidik membuka tempat kursus dengan nama mentereng: The Next Einstein.

Optimisme yang wajar. Kepintaran bisa dilatih dan Tuhan selalu berkuasa menghadirkan Einstein di belahan dunia mana saja. Nyatanya, di negeri yang jadi bahan olok-olok dunia karena korupsinya, juga punya ratusan jagoan kimia, matematika, biologi, fisika, astronomi, dan masih banyak lagi. Semua masih muda, dan berkelas olimpiade, sejagad levelnya.

Jajan soto berhadiah liontin (emas). Bisa dijual lagi buat beli buku...

Kaya-miskin bukan soal. Asal bersungguh-sungguh dalam belajar, semua orang bisa jadi pintar. Perpustakaan sekolah sudah cukup memadai, sudah bisa jadi lumbung ilmu. Andai beruntung, pun bisa menguangkan liontin hasil undian lantaran jajan soto. Di Boyolali, ada warung soto yang memberi iming-iming hadiah emas. Bisa ditukar jadi buku dan buku-buku bacaan, atau akses internet.

Pokoknya, dari kota kecil pun bisa lahir apa saja, karena bisa berbuat apa saja yang berguna. Kreativitas itu milik siapa saja, dan bisa muncul kapan saja. Toh, helikopter dan pesawat terbang pun dulunya diilhami oleh seekor capung.

Kalau tak sabar, silakan Anda mendahului. Siapa tahu kendaraan Anda sudah mampu terbang

Maka, kendaraan bisa terbang bukan mustahil, meski untuk sejenis sepeda motor atau mobil, belum ada fasilitas untuk meniru si burung besi. Tapi kelak? Bukan sesuatu yang mustahil, bukan?

Makanya, jangan remehkan truk tangki butut yang sudah tak bisa bergerak gesit menyarankan orang-orang di belakangnya, yang tak memiliki kesabaran memadai, diminta terbang saja agar bisa mendahului. Yèn ora sabar, maburo. Kalau tak sabar, ya terbanglah.

Anda orang pujangga Jawa atau orang gaul seperti lakon F4?

Ya, begitulah. Hanya sedikit oleh-oleh yang bisa saya bagi kepada Anda. Mungkin saja, dari yang sedikit ini, Anda bisa melihat Jawa yang sudah berubah. Seperti keinginan melahirkan Einstein-Einstein baru, bukan orang hebat berpredikat pujangga, yang kewaskitaannya ‘hanya’ dicapai lewat olah rasa, kebatinan dan ilmu titen, mengingat dan mencermati.

Dan kita tahu, setiap mendengar kata pujangga disebut, asosiasinya kira-kira hanya bakal seperti ini: Jawa, tua, bersorban atau menutup kepala dengan blangkon, bersarung atau mengenakan jarik. Padahal, generasi Jawa kontemporer sudah ikut tepercik globalisasi. Lihat saja, orang Jawa kini sudah fasih mengucap: think globally, act locally atau memplesetkaannya dengan think locally, act globally.

Walau tak paham bahasa komputer sekalipun, toh pemangkas rambut di Cepogo, nun di kaki Gunung Merapi-Merbabu, mengekspresikan harapan perubahan Jawa selaras dengan perkembangan teknologi informasi. Dia tak lagi menyebut Jawa, namun Java. Mirip gambar cangkir berasap di atasnya…..

Dan, seperti Anda lihat, baik potongan rambut maupun uniform-nya, sudah tidak seperti jaman hidupnya para pujangga….. Cut locally for global style!