Panggung Spektakuler Matah Ati

Tulisan ini sudah dipublikasikan di majalah Rolling Stone Indonesia, edisi Oktober 2012

Untuk pergelaran tari tradisi (Jawa), pemanggungan Matah Ati di Pamedan, Mangkunegaran, Solo, 8-10 September, boleh disebut paling spektakuler di Indonesia. Ia menjadi produk eksperimentasi pemanggungan unik, yang berhasil memadukan unsur-unsur artistik pop dengan tradisionalitas.

Secara umum, pertunjukan itu juga layak dicatat sebagai keberhasilan manajemen pemanggungan karya tradisi, baik dari sisi ‘penaklukan’ ruang hingga kehebohan event. Hari-hari itu, Solo dibanjiri pendatang dari luar kota, bahkan semua penerbangan dari Jakarta dipenuhi calon penonton, yang sebagiannya adalah pesohor dan selebritas industri pop, selain kelas menengah perkotaan.

Adalah Matah Ati, kisah percintaan pendiri Pura Mangkunegaran, Raden Mas Said (1725-1795) dengan gadis kebanyakan dari desa, Rubiyem, yang dipadukan dengan heroisme perlawanan terhadap Belanda di tanah Jawa pada pertengahan abad XVIII. Rubiyem adalah spirit sekaligus pelaku gerilya melawan Perserikatan Perusahaan Hindia Timur Belanda (Vereenigde Oost-Indische Compagnie/VOC), cikal bakal penjajahan Belanda.

Dikisahkan, putra Pangeran Arya Mangkunegara dari Kraton Kartasura itu gemar olah fisik dan kebatinan, yang dalam pengembaraannya di pegunungan kapur selatan Wonogiri bertemu dengan gadis desa di Nglaroh, Selogiri. Dari perjumpaan dengan gadis desa itulah, hati Raden Mas Said tertambat dan lantas memperoleh sokongan moral luar biasa untuk gigih memberontak dominasi asing, yang turut merongrong kerajaan Kartasura melalui pemberontakan Raden Mas Garendi, hingga seluruh keluarga kraton menyingkir ke Surakarta.

Tak hanya mendukung moral perlawanan, Rubiyah yang kelak berjejuluk Bandara Raden Ayu Matah Ati, pun turut berperang dengan memimpin kaum perempuan petani. Maka, lengkaplah sudah semangat Raden Mas Said dan Rubiyah untuk melakukan perlawanan pantang menyerah. Jika harus berkalang tanah, maka semua harus rela menghadapi. Pun, begitu sebaliknya jika menang, maka kemuliaan menjadi milik semua.

Tiji tibeh, mati siji mati kabeh, mukti siji mukti kabeh. Tiji Tibeh, mati satu mati semua, mukti satu mukti semua. Begitu ‘wangsit’, semacam bisikan halus yang diterima lewat mimpi Raden Mas Said, sebagai jawaban atas pengembaraan laku batinnya yang panjang, sebagai respon atas penderitaan akibat penjajahan bangsa asing. Sebuah dendam bersama terhadap penindas, yang dirasakan pemimpin dan rakyatnya, yang dikelola dengan baik oleh Pangeran Sambernyawa.

***

Semangat kebersamaan –dalam suka atau duka, yang kian meredup dalam relasi sosial belakangan, itulah yang hendak diingatkan kembali oleh Atilah Soeryadjaya, melalui Matah Ati. Atilah kebetulan merupakan salah satu trah Pura Mangkunegaran, yang merasa ingin nguri-uri ajaran moyangnya.

Menggandeng Jay Subyakto sebagai Direktur Artistik, yang mengomandoi 250 penari, dan puluhan pengrawit dan kru panggung, Atilah dan kawann-kawan sukses menghadirkan pertunjukan menarik, yang tak hanya menghibur, namun juga meninggalkan pelajaran berharga bagi banyak orang, terutama seniman pertunjukan dan penyelenggara pertunjukan di Solo.

Kehadiran kembang api untuk menghadirkan efek dramatis adegan-adegan tertentu pada pentas langendriyan (semacam opera) cukup mengejutkan. Begitu pula penggunaan efek visual yang diarahkan ke tembok gedung Kavallerie-Artillerie, sehingga menghadirkan citra baru mampu menghadirkan panggung baru, cukup memukau penonton, sehingga repertoar sepanjang dua jam tak terasa panjang.

Satu sukses Matah Ati adalah kemampuan Jay menaklukkan ruang. Tak mudah menyulap lapangan terbuka menjadi panggung baru yang membuat penonton serasa menikmati sajian di dalam gedung pertunjukan beratap langit gemintang. Untuk menghadirkan suasana itu, Jay menutup sisi yang menghadap jalan raya dengan kain hitam setinggi lima meter, dan penutupan jalan menciptakan keheningan lantaran tak ada deru mesin mobil/motor terdengar.

Jay Subyakto memang tak sembarangan melakukan persiapan. Hampir sebulan sebelum pergelaran, kerangka panggung sudah didirikan, sekaligus untuk uji coba sistem panggung hidrolis. Meski pemanggungan sebelumnya di Esplanade, Singapura dan  Jakarta sudah terbukti sukses, Jay pun ingin mengulangnya kali ini. Balutan kain hitam pada kerangka panggung seperti menggenapkan capaian artistik lelaki kelahiran Ankara, Turki ini.

“Saya ingin menyajikan konsep pemanggungan dan pertunjukan yang tak hanya spektakuler, tapi mengena secara artistik. Dan, menggabungkan unsur moderen pada seni tradisi itu sangat menantang,” ujar Jay, beberapa hari menjelang pentas.

Dan, ucapan Jay terbukti. Rata-rata enam ribuan pengunjung memadati areal Pamedan, Mangkunegaran, setiap malam selama tiga hari berturut-turut. Bahkan, sebagian di antaranya berdatangan dari berbagai kota: Yogya, Semarang, Surabaya, Jakarta hingga luar Pulau Jawa.

Tata musik yang digarap Blasius Subono, dan koreografi yang ditangani trio koreografer Sudaryo-Kembul Nuryadi-Eko Supendi sanggup mengawal penampilan Fajar Satriadi (sebagai Raden Mas Said) dan Rambat Yulianingsih (Rubiyem).

Antusiasme penonton di luar area pertunjukan. Sebuah layar lebar dipasang untuk publik yang tidak kebagian tiket/undangan.

Kalaupun harus disertakan catatan, vokal Fajar dan Rambat kurang terjaga pada pemanggungan malam terakhir. Boleh jadi, mereka terkena imbas angin malam yang kencang menyapu lapangan. Kekurangpaduan gerak tari dengan musik iringan, meski tak terlalu mengganggu di beberapa adegan, menjadi alihkan oleh tata panggung dan tawaran artistik yang memukau. Kekurangan hanya bisa dirasakan oleh mereka yang terbiasa menyaksikan pertunjukan tari di panggung-panggung kesenian.

 Satu lagi ‘keuntungan’ Jay dan penyelenggara, jarak panggung yang jauh dari penonton (jarak terjauh sekitar 70 meter) akan menjadikan orang terlena pada detil. Padahal, pada satu hal itulah, kekurangan Jay dan koreografer bisa dijumpai.

Catatan:

Harus diakui, pementasan Matah Ati cukup sempurna untuk media belajar manajemen penyelenggaraan sebuah pementasan. Selain detil artistik yang dipersiapkan, aspek promosinya pun luar biasa. Saya belum pernah menjumpai seniman-seniman Solo dan sekitar menggarap sebuah pertunjukan dengan perencanaan yang komprehensif. Memang, orang bisa saja berkomentar, “Wajar, Matah Ati bisa digarap seperti itu, wong dananya kuat.”

Meski aspek pendanaan menjadi faktor dominan, namun bukan mustahil untuk menirunya dengan cara membuat perencanaan yang matang. Dari sisi tata panggung, misalnya, Jay dan kawan-kawan sudah menyiapkan sejak sebulan sebelumnya. Mungkin itu sekaligus digunakan untuk ujicoba sistem hidrolis dan memastikannya bisa digunakan tanpa kendala. Dari aspek publikasi pun cukup mencengangkan. Semua orang seperti diiming-imingi sajian yang lain daripada yang lain.  Secara subyektif, saya bisa mengatakan memang akan jelas perbedaannya pementasan Matah Ati di Solo dengan di Jakarta dan Singapura yang digelar di area tertutup (indoor).

Yang sering terlewat, adalah mempertimbangkan potensi wisata dari sebuah gelaran event. Hotel-hotel di Solo penuh hari-hari itu untuk menampung penonton yang berasal dari luar kota. Tempat-tempat wisata kuliner, batik, kerajinan pun kebanjiran rejeki, begitu pula dengan taksi, usaha carter mobil, hingga pengayuh becak.

 

Lambat Merayap Kereta Uap

Tak lama lagi, kita akan menjumpai kereta uap merayap, membelah Kota Solo. Menyusuri jalur protokol Jl. Slamet Riyadi dari Purwosari, di Stasiun Sangkrah kereta itu akan berhenti, lantas berbalik arah. Kembali ke Purwosari. Ujicoba sudah dilakukan, perbaikan rel juga hampir kelar. Tuutt…tuttt…. Siapa hendak turut….?

Kereta Uap bakal membelah Kota Solo (Foto: Anjas W)

Kereta Uap bakal membelah Kota Solo (Foto: Anjas W)

Ya, itulah kereta wisata yang bakal dioperasikan Pemerintah Kota Surakarta bekerja sama dengan PT Kereta Api Daop VI/Yogyakarta. Sesuai namanya, kereta itu digerakkan dengan tenaga uap, yang dihasilkan dari ‘tungku berjalan’ berbahan bakar kayu. Hitam legam lokonya, berbahan kayu gerbongnya.

Sayang, pada liburan lebaran ini, kereta buatan 1896 yang dulunya dioperasikan di Cepu itu belum bisa dinikmati wisatawan tahunan alias pemudik. Setelah sukses ujicoba pertama 13 September lalu, kereta uap akan dijalankan kembali pada Minggu sore, 27 September mendatang. Sekadar meyakinkan, perbaikan rel sudah sempurna, dan aman terhadap pengguna jalan raya.

Perbaikan rel dan penggantian bantalan rel (Foto: Blontank Poer)

Perbaikan rel dan penggantian bantalan rel (Foto: Blontank Poer)

Menurut Kepala PT KA Daop VI/Yogyakarta, Rustam Harahap, sekali jalan pergi-pulang memerlukan biaya operasional sekitar Rp 3,2 juta. Dua gerbong dengan kapasitas total 76 orang, berarti harga satu tempat duduk mendekati Rp 50 ribu. Mahal? Tentu masih bisa disebut murah lantaran itu buka kereta reguler, dan tujuannya semata-mata untuk rekreasi yang sifatnya memang untuk bersuka cita. So? Tak asyik menyoal harga tiket.

Sisi menarik berwisata dengan kereta itu, menurut saya, adalah kita akan singgah beberapa saat di beberapa tempat perhentian dalam satu trip pergi-pulang. Di antaranya di sekitar Loji Gandrung, Ngapeman, Pasar Pon, dan Gladak. Foto-foto pasti mengasyikkan, bisa dibawa pulang sebagai kenang-kenangan, demi melengkapi cerita menyusur Kota Solo sepanjang 5,6 kilometer itu. Di Pasar Pon, misalnya, Anda bisa mengunjung pasar antik Triwindu yang kini berubah nama mejadi Windu Jenar serta pasar malam Ngarsopura, yang tak lain merupakan ‘reinkarnasi’ Pasar Yaik di masa lalu.

Sejatinya, ada potensi cerita masa lalu, yang bisa disertakan dalam brosur atau dituturkan pemandu wisata. Dulu, kalau tak salah pada akhir abad ke-19, pernah terdapat jalur kereta (api) yang mengitari Kota Solo, yakni rute Purwosari-Jebres-Sangkrah-Purwosari. Sebagai stasiun tua, Jebres bahkan memiliki ruang tunggu khusus untuk keluarga Raja Kasunanan Surakarta.

Gerbong khusus keluarga kerajaan, pun hingga kini masih bisa kita saksikan di alun-alun kidul, meski (jangan kaget) kalau kondisinya tampak kusam tak terawat. Lalu dimana jalur rel yang dulu pernah ada? Argumentasi klasik yang bakal kita dapat, bisa jadi tak bakal lebih dari pernyataan demikian: sudah dijadikan kawasan hunian demi tuntutan perkembangan kota.

Dan mesti dicatat pula, Solo termasuk kota bersejarah dalam urusan perkeretaapian di Indonesia. Adalah penguasa Pura Mangkunegaran, Mangkunegara IV (1811-1881)  yang menjadi salah satu pemrakarsa bersama Gubernur Jenderal Belanda L.A.J. Baron Sloet Van De Beele, yang pada 17 Juni 1864 meresmikan pembukaan jalur kereta api Semarang-Solo dan Semarang-Yogyakarta. Pembangunan Stasiun Balapan, pun tak lepas dari peran penguasa yang juga dikenal sebagai sastrawan mumpuni itu.

Melewati rel bengkong, memotong Jl. Slamet Riyadi (Foto: Anjas W)

Melewati rel bengkong, memotong Jl. Slamet Riyadi (Foto: Anjas W)

Sebelum lupa, sekadar catatan saja. Kereta uap yang bakal dioperasikan di Kota Solo itu diperoleh dari museum kereta api Ambarawa. Dan, Solo menjadi kota kedua yang membuat gebrakan wisata dengan mengoperasikan kereta uap setelah Sawahlunto, Sumatra Barat, pada awal 2009. Di museum itulah, kereta-kereta uap tua itu diperbaiki.

Anda tertarik mencoba? Nantikan kabarnya setelah ujicoba terakhir, 27 September mendatang.

Menanti Pasar Cinderamata

Tak lama lagi, bakal ada pasar khusus cinderamata alias produk-produk kerajinan di Kota Surakarta. Tepatnya di sepanjang Jl. Diponegoro, seberang pintu gerbang Pura Mangkunegaran. Rencananya, pasar itu akan dikenalkan kepada public sebagai night market. Pasar yang dibuka hanya pada malam hari, bukan pasar malam yang diramaikan dengan komidi putar atau tong setan.

Suasana Jalan Sekitar Pasar Triwindu

Bagi Anda yang kemarin mudik Natalan atau liburan, mungkin kaget melihat kiri-kanan jalan sekitar Pasar Triwindu terbebas kemacetan akibat padatnya parkiran di depan kios-kios elektronik. Jalanan menjadi lancar dilalui. Mungkin kaget dan mengira ada program ‘sapu bersih’ bagi para pedagang di sana.

Justru yang terjadi adalah sebaliknya. Pemerintah sedang menata kawasan Triwindu menjadi lokasi jalan-jalan yang menyenangkan, seperti Malioboro di Yogyakarta, meski saya yakin tak bakal dibiarkan sedemikian semrawut. Pasar itu juga untuk memenuhi kebutuhan para pelancong –entah dengan alasan bisnis, pakansi atau sekadar nengok teman kencan, akan buah tangan khas Surakarta yang bisa dibawa pulang untuk keluarga, sahabat dan kerabat.

Operasi pembersihan itu juga menjadikan Jl. Diponegoro kian luas, setidaknya lebih lebar empat meter dari sebelumnya. Dari arah perempatan Pasar Pon, lansekap Pura Mangkunegaran juga bakal tampak menonjol. Dan, Pamedan akan tampak lebih berdaya sebelum mata tertuju ke pendapa utama peninggalan Pangeran Sambernyawa itu.

Kata Pak Jokowi, sang walikota, night market itu untuk melengkapi keberadaan Gladag Langen Bogan (Galabo), yakni arena khusus bagi pengelana rasa atau penggembala lidah manja. “Kalau kebutuhan perut dan rasa telah dipenuhi, kenapa wisatawan tak diajak berbelanja cinderamata,” begitu katanya.

Tikungan Mangkunegaran

Ada cerita begini dari Pak Walikota. Kalau dulu pedagang dibujuk mengisi gerobak kuliner di Galabo dengan komposisi 60:30:10 bagi pengusaha makanan yang beken : setengah beken : dan pendatang baru, di night market justru akan dibalik. Pemilik brand hanya sekitar 10 persen, 30 persen lainnya perajin yang sedang naik daun dan selebihnya bagi pemain-pemain baru.

Kemana pedagang lama, penghuni kios-kios di sepanjang jalan itu? Rupanya, mereka tak dibuang begitu saja. Dan mereka tak merasa sedang digusur pemerintah, sebab kini juga sudah dibuatkan bangunan permanen mirip mal di belakang kios lama mereka. Jadi, ayam goreng Malioboro atau Denai, warung masakan Padang yang ada di ujung jalan pun tidak hilang dari orbit mereka.

Saran saya, menabunglah mulai sekarang. Mungkin, pertengahan tahun ini Anda harus memenuhi nafsu Anda menyimpan pernik-pernik khas Surakarta sembari mengantar liburan anak-anak sambil menenggok eyang, paklik/bulik, pakdhe/budhe atau sobat lama Anda. Bagi pemudik lebaran atau Natalan, tenanglah. Waktu masih panjang………


Bedhaya Cacat Ilmiah?

Pura Mangkunegaran meriah, Sabtu (17/3) malam lalu. Meski hujan mengguyur kota sepanjang sore hingga malah, ratusan orang -pejabat dan pengusaha, hadir berbaur dengan keluarga dan kerabat kerajaan kecil pecahan Kraton Kasunanan Surakarta itu. Makan malam hanya menjadi ‘asesoris’ tambahan karena yang mereka tunggu hanyalah pertunjukan tari Bedhaya Dirada Meta.

Dirada Meta, yang makna harfiahnya Gajah Mengamuk, adalah tarian agung, pusaka peninggalan Raden Mas Said (1725-1795), gerilyawan perang, pendiri Pura Mangkunegaran. Selain Dirada Meta, RM Said juga menciptakan dua karya bedhaya lainnya, Anglir Mendhung dan Sukapratama.

Secara umum, pertunjukan malam itu bisa disebut sukses. Gerak tarinya bisa dinikmati, sementara suasana yang agung dan heroik bisa dibangun oleh Daryono dan kawan-kawan. Pertunjukan itu pasti akan sempurna andai mata tombak Trisula tak terlepas dari tongkat penyangga. Tak apa. Never mind!, menyitir Tukul Arwana. Kejadian semacam itu bisa dialami siapapun, meski sesungguhnya bisa diperhitungkan antisipasinya.

Yang mengganggu, menurut hemat saya, adalah proses ‘penciptaan’ tari Dirada Meta itu. Kecuali tembang Durma, tak ada lagi dokumentasi yang bisa dijadikan rujukan untuk menyusun gerak, apalagi untuk urusan pengadeganan. Riset pustaka memang sudah setahun dilakukan, tapi tak ada petunjuk yang bisa dijadikan acuan.

Lalu, jadilah Anglir Mendhung -satu-satunya peninggalan RM Said yang masih sering dipentaskan, sebagai rujukan utama. Dari sana, para periset yang hampir semuanya penari sekaligus dosen Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta mencoba mengembangkan penggalian pada vokabuler gerak tari Wireng Wirun dan Bedhaya Bedhah Madiun. Kebetulan, kedua tarian itu merupakan karya tari klasik yang memiliki pola, gaya dan vokabuler gerak baku tari Mangkunegaran.

Sampai di sini, pencarian sudah bisa disebut okay. Soal properti pentas, seperti tombak Trisula dan panah, bisa saja dipilih lantaran bisa dikaitkan dengan tema cerita, yakni perjuangan RM Said melawan gabungan pasukan Belanda, prajurit Kasunanan Surakarta dan Kasultanan Yogyakarta. Saya (mungkin kita) bisa memaklumi kesulitan Daryono dan kawan-kawan dalam merekonstruksi tarian yang konon sudah 100 tahun lebih tak dipentaskan itu.

Tapi, ada satu hal yang mengganjal dan menurut saya bisa disebut dengan ‘cacat ilmiah’. Para pelaku riset dan rekonstruksi tari telah gegabah, mencomot batik motif Alas-alasan karya desainer Iwan Tirta sebagai kostum utama. Bukan soal cocok-tak cocoknya motif batik itu digunakan untuk tarian itu. ‘Pemenuhan unsur gegabah’ itu lantaran motif tersebut dipersembahkan oleh Iwan Tirta kepada keluarga Pura Mangkunegaran. Lain cerita kalau dia terlibat riset lalu sengaja menciptakan motif itu untuk kostum Dirada Meta.

Dalam Bedhaya Anglir Mendhung memang digunakan dodotan berbahan batik motif Alas-alasan. Hanya saja, Alas-alasan dalam Anglir Mendhung tak ada corak binatang seperti belalang, melainkan lebih banyak tetumbuhan hutan dan kaligrafi.

Kalau saja para aktor di balik rekonstruksi tari itu tak berpretensi mencipta Dirada Meta seperti aslinya, mungkin tak perlu lagi disoal. Rujukan kostum, mungkin bisa digali lewat produk-produk motif batik yang semasa dengan RM Said, misalnya Parang Rusak dan tentu masih ada beberapa yang lain.

Kenapa saya menjadi sewot dan cerewet dengan urusan beginian, tak lebih karena para aktor rekonstruksi itu masih ingin mencipta ulang Bedhaya Sukapratama. Karya ini, dipastikan akan lebih sulit untuk direkonstruksi. Sebab, hingga kini masih belum diketahui, kapan Sukapratama pernah dipentaskan. (Atau, jangan-jangan malah belum pernah sekalipun ditampilkan di muka umum, kecuali saat menghibur gerilyawan yang menyertai RM Said di sela-sela jeda perang mereka?!?)