Kekalahan Sepele PDIP

Hampir sebulan, PDI Perjuangan menunjukkan letoy-nya. Megawati yang sanggup survive melawan penindasan politik Soeharto, ternyata tak sanggup melawan nafsunya sendiri mendudukkan Komjen Budi Gunawan menjadi Kapolri. Budi, yang diragukan kekayaannya karena transaksi 50-an milyar rupiahnya terendus aparat Pusat Pelaporan dan Anlisis Transaksi Keuangan (PPATK), dan dinyatakan sebagai tersangka oleh KPK, terus saja dibela. Malah, Presiden Jokowi yang diusungnya seperti sengaja diblondrokkan alias dicelakakan. Revolusi Mental pun menguap tak berbekas.

Anak-anak muda, terutama pemilih pemula, yang tak pernah tahu represifnya mesin politik Orde Baru (termasuk kepada PDI bentukan Megawati), bahkan bisa mencibir partai yang mengaku penerus ajaran Soekarno itu. Jokowi yang sejatinya hanya ‘dipinjam’ PDIP untuk mendongkrak kemenangan pada pemilu 2014, kini dibiarkan kelimpungan sendirian. Dari sana-sini, bahkan para relawan sejati yang kemarin mengorganisir diri memenangkan Jokowi dalam pemilihan presiden, kini kian ilfil, hilang feeling, bahkan balik badan mengancam menarik dukungan.

Elit dan politikus PDIP rupanya lupa, tanpa Jokowi, magnet pilpres tak segempita kemarin. Bahkan, demi mengusung Jokowi, mereka rela memilih partai bentukan Megawati Soekarnoputri di bilik-bilik tempat pemungutan suara, kendati sebelumnya apolitis alias cuek terhadap proses politik bernama pemilu. Sungguh tragis, elit partai nasionalis itu gagal mengelola animo berpolitik kaum muda, dari Sabang hingga Merauke. Continue reading