INDONESIA

Hanya pada kata, “Indonesia” serba berlimpah pesona. Hanya yang indah-indah semata, seperti diceritakan Koes Plus lewat Kolam Susu dan Nusantara atau Pak Tani. Hanya dengan ditancapkan, tongkat menjadi tanaman. Tapi, coba sandingkan dengan kata “menteri; politisi; lingkungan” hingga diksi kontemporer seperti “blogger; socmed” dan sebagainya, maka kita akan menemukan kebalikan-kebalikannya. Sedih. Suram.

Kalau boleh memilih, mungkin, siapapun rakyat Indonesia pasti berharap apa yang diceritakan guru geografi, sejarah, ekonomi, juga guru matematika di sekolah dasar, benar adanya hingga masa tuanya. Masih ada anak gembala menunggang kerbau, di antara hamparan padi menguning, dengan latar hutan dan gunung seperti karya-karya lukis kodian Sokaraja. Kalau dulu penggembala meniup seruling bambu, yang ‘kontemporer’ bisa diwakili flute Armstrong atau memainkan jemari pada tuts-tuts piano di layar tablet dengan earphone tersambung.

Begitulah keinginan atau harapan jutaan orang Indonesia masa kini, yang menjumpai kenyataan-kenyataan pahit. Kehadiran teknologi informasi begitu cepat dan mudah membalikkan keadaan yang diceritakan para guru di masa lalu. Lebat dan hijaunya hutan dimentahkan dengan warna kuning dan merah oleh citra satelit yang disodorkan oleh Google Map kepada kita.

Google (juga mesin pencarian seperti Yahoo!, dll) juga begitu cerdas menyediakan banyak rujukan manakala kita mencari data ‘politisi-politisi Indonesia’ atau ‘lingkungan Indonesia’. Berharap petunjuk dan penegas bahwa politisi Indonesia konsisten memperjuangkan hak-hak rakyat seperti dijanjikannya saat meminta dukungan, yang didapat justru informasi data kekayaan yang meningkat pesat, atau nama-nama pengusaha atau rekanan yang membelitnya dalam perkara penyalahgunaan jabatan hingga bersinggunggan dengan jaksa atau komisioner KPK. Belakangan, citra politisi justru identik dengan mafia.

Maka, andai bisa melakukan sortir secara sistematis, pastilah rezim yang menonjolkan citra dan mimpi akan menjauhkan fakta-fakta dan data-data dari mesin-mesin pencari, daripada membuat rakyat kian marah dan berkurang kepercayaan kepada diri dan lembaga yang kini diduduki dengan nikmatnya.

***

Begitulah, mencintai Indonesia tak ubahnya sedang gebetan dengan setan. Serba nikmat yang ditawarkan, supaya orang lupa yang seharusnya dihadapinya. Begitu mahal harapan, hingga merancang kebajikan pun tak ubahnya beroleh cap ingin menggenggam angin, menyimpang dari kelaziman. Ikut arus tak sanggup, melawannya pun beroleh kesia-siaan. Seperti digiring pada putus asa.

Jika sudah demikian, maka tak jarang mempertahakan sikap skeptis bisa membuat seseorang tergelincir pada apatisme. Apalagi ketika kebencian turut merasuki, maka kita akan cenderung lupa terhadap wajah Indonesia yang diimpikan. Pada titik inilah kita bisa turut menciptakan celaka kolektif, sebab cenderung menjauhkan kita dari upaya-upaya perbaikan. Soal cara dan strategi, itu pilihan. Kita bisa memilih jalan yang diyakini lebih efektif (dan efisien) dengan berbekal kesadaran akan risiko dan konsekwensi ‘perjuangan’.

Dalam konteks pemanfaatan teknologi informasi dan komunikasi, misalnya, bisa saja ditempuh cara memperbanyak konten-konten positif dan progresif, dengan menawarkan gagasan-gagasan baru, sambil terus mengupayakan terjadinya perluasan jejaring sehingga kian banyak orang yang terlibat.

Blogger sebagai produsen konten, misalnya, bisa turut bersama-sama masyarakat sipil lainnya, mengambil peran dalam penyebaran gagasan-gagasan perubahan lewat posting di blog, pemanfaatan media-media sosial seperti Twitter, Facebook, YouTube dan masih banyak lagi.

Fokus dan tujuannya, hanya mengembalikan “Indonesia” menjadi kosakata yang netral, yang tidak membuat mayoritas rakyatnya terbebani, menyandang rasa malu, dan seterusnya, ketika pada kata itu disandingkan dengan kata atau sebutan apa saja, seperti politisi, lingkungan, polisi, socmed specialist dan sebagainya.

Saya yakin, sangat berat beban malu para Tenaga Kerja Indonesia di luar negeri. Mulut-mulut mereka pasti tercekat ketika ditanya sesama buruh migran beda asal negara, misalnya tentang nasib mereka di perantauan yang tak dilindungi negaranya, bahkan menteri yang seharusnya mengurus mereka pun terseret pada sebuah perkara memalukan. Perasaan mereka, boleh jadi akan sama dengan yang dialami para pelajar Indonesia di Amerika, ketika harus menjawab pertanyaan tentang Papua, Freeport, Munir, Wahabi, dan sebagainya.

Saya sangat mencintai Indonesia. Oleh karena itu, tulisan semacam ini harus Anda baca.

 

 

 

 

Dansa-dansi di Sriwedari

Suatu malam, saya menemani sutradara film Jagad X-Code, Herwin dan Gunawan, jalan-jalan melakukan riset kecil di THR Sriwedari. Melihat lelaki kekar bertato di lengan kanan, mengajar dansa perempuan-perempuan berusia separuh baya, keduanya menahan tawa. Gunawan menyebutnya absurd. Mereka menari mengikuti irama lagu-lagu Koes Plus. Bukan irama salsa atau jenis musik yang lazim untuk menari dansa.

Sepertinya, si kakek ini datang sendirian. Ia keasyikan, berjoget ala pedangdut jempolan.

Sebagai penggila bacaan sastra dan filsafat sejak mahasiswa, saya mengerti kenapa Gunawan menyebutnya begitu. Di beberapa sudut lain di kompleks yang sama, ada pula beberapa grup dansa. Sebagian, ada pula satu-dua yang sudah bapak-bapak. Mereka berhenti jika sebuah tembang usai dilantunkan, dan seterusnya menari-nari lagi ketika musik kembali berbunyi.

Asal tahu saja, di THR Sriwedari, selalu ramai setiap konser rutin tembang Koes Plus-an, yang dimainkan oleh beberapa grup lokalan. Nusantara adalah salah satu nama kelompok band unggulan. Penontonnya multiusia. Muda, tua, hingga kakek-kakek dan nenek-nenek yang tak jarang mengajak serta cucu-cucunya.

Profil pengunjungnya juga beragam: ada polisi, pegawai negeri, pejabat, tukang parkir, dan juga orang-orang yang dikenali sebagai preman jalanan. Tak pernah ada keributan, selalu damai. Bau alkohol kadang dijumpai jika rajin jalan-jalan berkeliling area, tapi tak ada yang menguatirkan, sebab tak ada yang rese. Pokoknya, unik seunik-uniknya. Wong yang joged ala dangduter juga tidak sedikit. Prinsipnya, happy se-happy-happy­-nya. Cool, peace….. Damai.

Seperti Senin malam kemarin, ketika Nomo, Yon dan Yok Koeswoyo tampil sepanggung bergantian dengan grup tuan rumah, para pengunjung berjubel. Mereka datang dari berbagai penjuru: Ngawi, Tuban, Jepara, Wonogiri, Yogyakarta, dan banyak daerah lagi, selain orang Solo sebagai tuan rumah. Para pedansa pun tampil lebih meriah dibanding biasanya. Malah, ada beberapa ibu-ibu dari grup penari yang memadukan dasi dengan kaos berkrah mereka. Lucu. Unik. Dan, memancing geli…..

Saya, yang datang bersama Hendri, memilih jalan-jalan mengamati ‘perilaku’ para pedansa, sambil jeprat-jepret dengan kamera DSLR dan kamera fasilitas BlackBerry. Saya tak terlalu menyimak penampilan Koes Bersaudara, namun memilih motret sambil ikut menyanyi pelan, supaya suara fals yang saya punya tak terdengar yang lain. Pokoknya, happy.

Grup dansa ibu-ibu, di mana sebagian mengenakan dasi yang lucu.

Satu pemandangan yang hilang dalam konser kemarin, adalah sosok anak muda yang biasa joged dangdut sendirian, di sisi timur dekat loudspeaker, dalam keadaan mabuk seperti biasanya. Mungkin ia tergusur karena dance floor­-nya ‘diserobot’ pengunjung yang kebanyakan datang berombongan. Ia tak pernah diusik, apalagi diusir. Semua berjalan normal, apa adanya dan apa yang seharusnya. Damai.

Karakter penikmat Koes Plus-an sangat berbeda dengan massa penyuka dangdut atau campur sari. Jangankan terpengaruh alkohol, yang ‘waras’ alias tak mimik ciu atau topi miring, saja mudah beringas hanya lantaran bersenggolan saat joged berjamaah. Khusus penonton Koes Plus, mereka bahkan berulang kali mendesak penyelenggara menaikkan harga tiket masuk (HTM) lantaran dianggap kemurahan. Logikanya sederhana: jika tiket naik, honor band juga meningkat, sehingga bermusiknya pun kian bersemangat. Sedang penonton, pastilah dapat nikmat. Asik.

THR Sriwedari, memang selalu ngangeni, bikin kangen. Banyak teman atau kenalan yang lama tak bersua, bisa-bisa malah seperti  berjumpa atau dipertemukan di sana. Mirip Facebook atau Twitter di ranah maya. Aneh, unik. Seperti tadi, saya bertemu teman, seorang penulis naskah drama dan sutradara teater ternama di Surakarta, yang datang bersama istrinya. Baru sekali saya berjumpa ia datang menonton ke sana, setelah sekian puluh kali saya sambangi Koes Plus-an di THR Sriwedari.

Hendri yang mengikuti saya ke toilet, akhirnya hanya senyam-senyum saja. Bukannya hendak pipizz saya ke sana, tapi ingin membuat foto setelah sekian kali saya lupa bawa kamera. Sebuah toilet, yang memberi penanda, di mana waria diberi tempat yang sama dengan para pria. Bukan digabung ke kelompok wanita, seperti keinginan rata-rata para pemilik organ genital pria, namun lebih merasa diri sebagai wanita.

Toilet saja bisa unik, apalagi komunitas dansa-dansinya…. Itulah salah satu wajah Solo, atau Surakarta. Keramahannya selalu untuk siapa saja, termasuk pedansa yang diberi ruang berkespresi, juga para waria yang hendak buang hajatnya…

Catatan: jika hasil fotonya jelek, harap dimaklumi karena motretnya cuma pakai BlackBerry tanpa fasilitas lampu kilat.

Sahuleka Plus Yok & Yon

Tiada kegembiraan yang layak diceritakan kecuali seorang penggemar dicari artis yang diseganinya. Ya, itulah pengalaman yang mau saya ceritakan di sini, ketika seusai pertunjukan di The Sunan Hotel, Daniel Sahuleka bercerita mencari-cari saya. Katanya, saya termasuk ‘orang lain’ yang menyambut kedatangannya, dan ikut memeriahkan acara makan siangnya, beberapa menit setelah ia menginjakkan kakinya di Solo.

“Saya cari-cari kamu tadi… Mana orang yang kemarin sudah menyambut ramah kedatangan saya?” ujar Daniel. Asal tahu saja, ia bercerita begitu dengan tulusnya. Bahasa tubuhnya dan kontak matanya menegaskan keramahan dan sifat rendah hatinya. Lebih dari tiga puluh menit, kami mengobrol sambil berdiri, hingga ia bercerita betapa malamnya ia tidur sangat pulas dan bangun bugar.

Ketika saya menyahut bahwa itu disebabkan kelelahan karena setengah hari di Bandara Soekarno-Hatta akibat jadwal penerbangannya yang delayed, ia sontak menolaknya. “No! Bukan karena itu atau lelah… Tapi saya benar-benar merasa comfort dengan suasana hotel juga kamar sehingga tidur saya enak sekali,” ujarnya.

Daniel tak hanya ngobrol sambil berdiri tentang pertunjukannya, yang menurut dia, kurang memuaskan penonton akibat kekuatan sound system yang tak cukup menjangkau penonton di bagian belakang. Ia juga mengeluarkan banyak sanjungan tentang keramahan orang Solo dan banyak penggemarnya, yang menurutnya, sangat membahagiakan.

Seperti tak puas ngobrol, ia pun melanjutkan obrolan dengan beberapa teman yang duduk semeja dengan saya. Daniel terus bertukar cerita, masih sambil berdiri, hingga lebih dari setengah jam lamanya. Kami heran, ia tak memiliki sindrom popularitas, seperti sebagian artis, apalagi debutan yang tiba-tiba melejit nama dan nilai kontraknya.

Dari pengamatan selama pertunjukan, Daniel tampak menikmati berada di tengah-tengah penggemarnya. Vokalnya yang khas, kepiawaian memetik gitar dan dipadu dengan kemampuannya menjadikan mulut sebagai sumber bunyi, sungguh memukau audiens. Sayang, banyak tuturan cerita menarik di sela-sela pergantian repertoar, tak direspon memadai oleh penonton akibat kesulitan menyimak kata demi kata yang terucap, lagi-lagi karena tata suara yang boleh disebut buruk, dan noise-nya sering muncul tiba-tiba.

“Saya senang bisa menyanyi di tengah-tengah saudara kita, tapi kasihan kepada penonton yang tak bisa menikmati dengan baik. Yang seperti itu akan sulit dilupakan,” tutur Daniel dengan santun, tanpa pretensi marah atau menyalahkan siapapun. Dan, sikap itulah yang membangkitkan respek dan kagum saya kepadanya, yang meski baru kenal tak genap setengah hari, namun serasa sudah berkawan tahunan lamanya.

Beberapa lagunya memang tak saya kenali, namun seluruh pertunjukannya sangat bisa saya nikmati. Hanya You Make My World So Colorful dan Don’t Sleep Away The Night yang sudah saya dengar sejak 25 tahun silam, seakrab ingatan saya terhadap My Way yang dilantunkan Nat King Cole, atau Ciquitita atau Fernando (ABBA), Word dan Stayin’ Alive-nya Bee Gees.

***

Kegembiraan lain malam itu, selain menikmati tembang-tembang Daniel Sahuleka, adalah penampilan Koes Plus edisi ‘lengkap’ karena Yok Koeswoyo tampil bareng saudaranya, Yon Koeswoyo. Selama ini, selain versi mp3 bajakan, tembang-tembang Koes Plus hanya saya nikmati sesekali di THR Sriwedari, pada jadwal rutin setiap Kamis malam.

Dua dedengkot Koes Plus, Yok (kiri) dan Yon Koeswoyo

Ketika saya mengunggah foto Yok dan Yon di Twitter, seorang teman merespon dengan menunjukkan kekagetannya. Rupanya, dua sosok kakak-beradik musisi legendaris itu sudah lama purik alias tak akur. Pada malam menjelang ulang tahun grup musiknya, yang pada 19 Januari ini genap 40 tahun, keduanya kompak tampil bersama, bahkan saling ledek dan bercanda di atas panggung. Bahkan, menjelang berakhirnya pertunjukan, Yok Koeswoyo sempat ‘melantai’, berjoged di tengah-tengah penonton.

Penonton riang, Yok dan Yon Koeswoyo juga girang. Artis dan penonton nyanyi bersahutan, hingga suasana ballroom hangat penuh keakraban. Andai Nomo Koeswoyo dan Murry masih bersama, pasti akan menggenapkan kemeriahan. Apalagi, Solo dikenal sebagai gudang fans Koes Plus, juga penggemar lagu-lagu yang populer pada era 1970 hingga 1980-an, yang kini dilabeli publik sebagai tembang kenangan.

Penggemar lagu-lagu Panbers, misalnya, juga punya wadah seperti halnya penyuka lagu country dan fans Koes Plus. Di kalangan muda, banyak Slankers, yakni para pengidola Slank, dan ada pula Orang Indonesia (OI) yang menjadi organisasi cair pengikut Iwan Fals. Semua punya forum, dalam arti ruang apresiasi berupa pertunjukan terjadwal atau insidental namun sering, di beberapa tempat di Kota Solo.

Malam itu, dua legenda Indonesia bertemu dan memuaskan publik yang kebetulan ‘beririsan’ atau bisa bersanding dan menyatu. Penggemar Daniel Sahuleka, kebanyakan juga penyuka lagu-lagu Koes Plus. Sebaliknya, para fans berat Koes Plus juga akan fasih menembangkan Don’t Sleep Away Tonight-nya Daniel. Klop!

Penampilan kedua legenda Indonesia, walau yang satu sudah berkebangsaan Belanda, benar-benar menyemarakkan dan turut memperkuat citra Solo sebagai kota seni pertunjukan. Selamat ulang tahun Koes Plus, selamat datang Daniel Sahuleka. Kalian sama-sama membangkitkan gairah seni, juga turut mengawal citra kultur warga Solo, yang hendak mewujudkan Solo Masa Depan adalah Solo Masa Lalu. Solo Future is Past Solo.

***

Terkait future dan past pada pertunjukan duo-mestro itu, saya ingin memberikan sedikit catatan. Bahkan, tanpa cerita Daniel sekalipun, saya sudah merasakan adanya kekurangan pada peristiwa yang semestinya sangat layak dinamakan konser akbar itu.

Pertama, Daniel dan Koes Plus memiliki karakter penggemar yang hampir sama: berkepribadian matang atau dewasa. Pada audiens jenis ini, kecil kemungkinan ada keributan, atau histeria pada penampilan idola. Karena itu, pola festival kurang cocok sebab membuat artis dengan audiens terasa berjarak. Bentuk arena, di mana penonton mengelilingi artis, rasanya lebih pas karena suasana intim lebih dibutuhkan.

Kedua, dari segi tata suara juga kurang memadai. Di deretan sepertiga bagian belakang, saya yakin penonton tinggal mendengar suara (musik dan vokal) Daniel secara sayup-sayup. Penuturannya tentang latar belakang penciptaan lagu atau upayanya membangun dialog dengan penonton, gagal karena faktor ‘pesan’ yang hilang ‘dicuri’ sound system yang diletakkan hanya di kanan-kiri panggung.

Ketiga, tata panggung dengan pencahayaan yang monoton. Yang tampak hanya sepuluh lampu, masing-masing lima buah di kanan dan kiri atas panggung. Masing-masing tiga lampu dengan filter netral di kedua sisi back drop mengarah ke panggung, yang celakanya, justru membuat silau penonton. Suasana panggung tak terbangun, sebab lampu seperti sengaja dibiarkan rata atau flat. Andai ada lampu follow, ia akan membantu penonton untuk fokus pada satu titik.

Yon Koeswoyo (tengah) disalami Walikota Solo, Joko Widodo (kanan)

Keempat, dua layar lebar yang diletakkan mengapit panggung utama terasa sia-sia karena pasokan gambarnya kurang memadai. Sayang saya lupa jenis kamera yang dipakai, yang seingat saya, hanya ada satu dengan posisi center. Saya menduga yang digunakan hanya jenis kamera biasa-biasa saja, terbukti pantulan di screen tak tajam, seperti out of focus, sehingga tak sanggup menolong penonton di bagian belakang menyimak aktivitas di atas panggung.

Alhasil, jika penonton di bagian belakang lantas gaduh, banyak mengeluh, menurut saya sangatlah wajar. Karena mereka membayar, maka lumrah menuntut ‘imbalan’ sepadan. Jadi, cerita sedih Daniel juga wajar semata. Untungnya, ia dan Koes Plus sama-sama sabar, sehingga tak perlu mengeluh, apalagi menampakkan kemarahan.

Nakil Nganggo Perasaan…

Sing ngati-ati urip nèng Sala. Lena sithik bisa kena godha sing pungkasané mung tuna lan gawé gela. Apa manèh yèn sira dhemen ndadèkaké kafé lan diskotik iku papan kanggo saba. Ora usah adoh-adoh, contoné kancaku sing yèn daksebut nganggo tembungé Koes Plus klebu nakil jalaran nakalé wis kliwat saka lumrahé liyan.

Ing sawijining wengi, kancaku sing aran Senthun nembé gegojègan karo kanca-kancané. Milih papan ana pojok kafé sing ora patiya larang nanging kepénak kanggo mat-matan, dhèwèké sakanca padha cekikikan. Limun Landa pancèn wis akèh katenggak, gendul-gendulé pating gléthak ana ndhuwur meja.

Satengahé guyon lakak-lakak mau, Senthun pandeng-pandengan karo wong wédok sing lagi teka, banjur lungguh ing table liya, ora adoh saka lungguhané. Wong iku sajaké wis kencanan, nyatané tekané mrono karo kanca wédok uga, marani wong lanang setengah tuwa sing wis lungguh ijèn sawetara.

Wong wédok sijiné lungguh jèjèr karo wong lanang mau, sing katon gemati marang dhèwèké. Ora let suwé, wong loro mau padha séngak-séngok, sajak pamèr katresnan marang liyané, ana satengahé swasana kafé sing ramé nanging lampuné remeng-remeng. Sajak mèri karo kancané, cah wédok mau terus mandeng, nggatèkaké sapolah-polahé Senthun. Saben adu pandengan karo Senthun, wong wédok iku banjur mèsem.

Sajak rumangsa digatèkaké wong wédok saka kadohan kanthi èseman sajak tulus, Senthun sansaya ndadra. Dhèwèké golèk-golèk alesan, embuh kanthi cara nyanyi bengok-bengok utawa ngadeg jogèdan dhéwé, nuruti swarané penyanyi kafé kuwi. Sanajan wis rada mabuk, nanging mripaté Senthun isih awas yèn mung kanggo mangertèni polahé wong wédok mau kanthi nglirik sakedhèpan.

Senthun bungah atiné. Wengi kuwi dhèwèké rumangsa bakal olèh mangsa, bisa dolan-dolan mubeng kutha karo kenya.

Senthun banjur mlaku menyang toilèt. Niyaté éthok-éthok nguyuh, kamangka mung arep raup karo njajal kasektèné dadi Arjuna. Dhasar kulitané rada kuning, bagus, tur ya pancèn alus yèn pitutur, senthun rumangsa bisa njiret atiné wong wédok mau. Saben saraupan, Senthun banjur ngilo, mandeng rainé dhéwé. Isih bagus, rumangsané matané uga durung kétok abang.

Ora let suwé, bocah wédok mau njedhul banjur sapa aruh. “Yèyèn,” ujaré wong wédok mau karo ngulungaké tangané.

“Senthun…..,” jawabé.

“Sajak ramé temen méjamu, apa nembé ana sing ulang taun?” pitakoné Yèyèn.

“Ora kok, mung lagi cocok waé gojègané,” sumauré Senthun, sing banjur njaluk idin pamit bali menyang mejané, ngumpul manèh karo kanca-kancané. Yèyèn sajak owel, nanging ora kuwawa menggak lungané Senthun.

Senthun mbatin, wong wédok sing lagi ditinggal mau jebul pancèn ayu. Salawasé saba menyang kafé kuwi, Senthun durung tau pethukan babar pisan. Ana kafé-kafé utawa diskotik lan pub liyané, dhèwèké uga rumangsa durung tau ketemu. Atiné sansaya mbulat-mbulat, rumangsa wis kasil njiret atiné kanthi luwih kenceng.

Dhasar cah nakil, feeling-é pancèn titis. Nganti bubaran kafé, wong wédok mau ijèn nèng parkiran. Kancan wédoké sing teka bareng karo dhèwèké wis ndhisiki lunga karo wong lanang sing disusul mau.

Senthun pamit misah marang kanca-kancané, omong pingin nerusaké laku karo wong wédok sing lagi ngadeg ijèn ana parkiran. Dhèwèké nyedhaki Yèyèn, banjur nakokaké kancané. “Wis lunga dhisik, kok,” jawabé.

“Lha saiki kowé arep mulih menyang endi? Ayo dakteraké, timbang ijèn ana kéné. Timbang numpak taksi,” ujaré Senthun.

“Aku arep mulih menyang Solo Baru. Yèn ora kabotan ngeteraké, aku matur nuwun banget,” jawabé Yèyèn.

“Mangan sik waé, ya…. Aku rada keluwèn.”

Yèyèn manthuk. Senthun luwih mathuk, olèh kanca tamba ngantuk.

Sinambi mangan soto nèng Gladak, Senthun mbujuk Yèyèn supaya gelem diajak dolan-dolan ing bengi kuwi. Rada alot rembugé, jalaran wong wédok kuwi njaluk énggal-énggal mulih. Yèyèn ngaku gelem ngancani mangan jalaran dadi carané males kabecikané si Senthun sing janji ngeteraké mulihé.

Pungkasané, saking lunyuné Senthun anggoné ngrayu, wong wédok iku banjur gelem. Malah, wektu diajak nginep hotèl ya ora kabotan. Penjaluké Yèyèn mung siji, kudu digugah sadurungé jam pitu jalaran ngaku kudu budhal nyambut gawé, jam sanga mlebuné. Ditakoni ana ngendi anggoné megawé, Yèyèn mung semaur kanthi ghèdhèg. Senthun uga ora butuh jawaban samesthiné, wong niyaté ya mung kanggo abang-abang lambé.

Cekaké, bareng wis olèh kamar hotèl, Senthun terus mancing-mancing, ngrayu ngajak olah kadiwasan. Pisan-pindho rada kangèlan, nanging suwé-suwé Senthun rumangsa nemu kamulyan. Sawisé bisa gelem diambungi, Yèyèn meneng waé wektu Senthun nglukari kaosé Yèyèn, lan sapituruté. Kocap kacarita, bengi kuwi Senthun pesta, sing tundhané pada keturon lan karipan tanginé.

Ndhisiki adus lan dandan ayu, Yèyèn nyekel sikilé Senthun saperlu nggugah pamit énggal-énggal mulih. Melèk gragapan, Senthun nyawang jam. Dhèwèké njaluk ngapura wis njalari telaté Yèyèn anggoné budhal nyambut gawé.

“Mas, aku njupuk dhuwit saka dompètmu kanggo sangu numpak taksi, ya. Kowé ora usah ngeteraké aku,” ujaré Yèyèn karo nuduhaké dhuwit atusan èwu cacah telu.

Senthun mung bisa manthuk. Sanajan rumangsa nggondhok, dhèwèké tetep ngatonaké polatan sumèh.

Sapungkuré Yèyèn, Senthun dheleg-dheleg. Dhèwèké rumangsa kapusan, sebab wektu padha olah kadiwasan wengi kuwi, tandang gawéné Yèyèn sajak ora baèn-baèn lan pinter sandiwara saéngga ora ngétokaké yèn pakaryan satenané ya mung ngono kuwi, mblithuk wong lanang, apa manèh sing thokmis, bathuké klimis.

“Wong édan! Tiwas diréwangi golèk hotèl rada larang lan nganggo perasaan, jebul njaluk bayaran…..”

Senthun mung bisa ndremimil karo sikatan. Orang nganggo adus, dhèwèké énggal-énggal ninggalaké hotèl banjur mulih. Sadurungé tekan omah, Senthun mampir Puskesmas golèk layang katrangan lara, supaya sésuk ora didukani atasané.