Reformasi di Jalan Raya

Jika Anda pengguna jalan raya Yogya-Solo, saya pastikan Anda termasuk orang yang kesal di jalur Gondang, Klaten-Kartosuro. Jalan rusak tak karuan akibat tak kuasa menanggung beban truk-truk pengangkut pasir sarat muatan. Perjalanan menjadi tak lancar, selain truk berjalan bagai siput, juga karena parahnya kondisi jalan.

Jembatan di Desa/Kecamatan Karangnongko Klaten ini ambrol lantaran tiap hari dilintasi truk-truk bermuatan pasir. Kategorinya hanya jalan penghubung antarkecamatan, yang tidak diperuntukkan muatan berat.

Benar kata Kang Teten Masduki dari Indonesian Corruption Watch (ICW) yang menyebut reformasi sudah terbukti gagal memberantas korupsi. Kesuksesannya hanya mengubah bentuk dan pelaku korupsi semata, yang tentu saja merata dari Jakarta hingga pelosok Nusantara. Kita bisa berkaca dari kondisi jalan raya kita. Tampak sederhana, namun nyata terasa dampaknya.

Batasan tonase atau berat maksimal muatan, semua terlampaui, karena semua truk berlomba-lomba mengangkut sebanyak-banyaknya. Alhasil, berjalannya pun termehek-mehek, maksimal hanya 30 km/jam, yang tentu saja mengganggu pengguna jalan raya yang lain. Kerapnya pengereman akibat perilaku pengguna jalan, menyebabkan aspal cepat keriting, lantas berlobang, apalagi di musim hujan seperti sekarang.

Kenapa sopir truk berani melanggar undang-undang dan peraturan batas maksimal muatan, juga kecepatan minimal yang diatur dalam peraturan jalan raya, tak lain karena mereka ‘punya hak’ karena telah membayar upeti, sekadar ‘uang permisi’ sejumlah pos polisi dan pos jalan raya yang dikelola Dinas Perhubungan.

Sebagian ruas jalan Yogya-Solo di Delanggu dalam kondisi parah, karena merupakan jalur utam truk pengangkur pasir dari Merapi ke arah Solo dan sekitar hingga Grobogan, Kudus dan berbagai daerah di pantai utara Jawa.

Tak usah mikir muluk-muluk, dampak jalan buruk bisa ke mana-mana. Orang bisa celaka karena terperosok lubang, namun deritanya ditanggung sendiri dan keluarganya karena masyarakat kita belum sadar akan hak untuk menuntut kepada negara dan pemerintah sebagai penyelenggara negara. Dengan memiliki kendaraan bermotor dan surat ijin mengemudi, kita semua telah membayar pajak, yang sebagiannya digunakan untuk pembangunan, termasuk perawatan jalan dan menggaji para pegawai negeri yang suka mengutip pungli.

Jangankan jalan raya, entah itu yang berklasifikasi jalan negara maupun jalan provinsi, di jalanan antarkecamatan yang kualitas aspalnya bukan untuk kendaraan berat atau bermuatan berat saja, kini menjadi jalan utama truk-truk pengangkut pasir. Dari kawasan pertambangan pasir Kaliworo atau Deles, Klaten, truk-truk memilih menggunakan jalur pintas, melintasi jalan kampung, jalan antarkecamatan yang aspalnya tentu bukan hotmix yang lebih kuat.

Arca reformasi, pengingat tragedi Mei di Solo

Mereka memilih jalan pintas itu karena menghindari belasan traffic light jalur utama Yogya-Solo, juga banyaknya pos-pos pungli. Bukannya gratisan, di jalur pintas itu pun bisa dipastikan juga tak bebas setoran. Begitu juga jalur alternatif Klaten-Semarang via Jatinom dan Boyolali. Kondisi jalannya sangat memprihatinkan, dan membahayakan keselamatan penggunanya. Terutama bagi yang tak hafal medan, atau melintas saat gelap atau hujan deras sehingga lobag tertutup genangan.

Semua itu, saya yakini sebagai akibat adanya praktek korupsi sistematis. Aparatur pemerintah daerah terima setoran tak resmi, begitu pula oknum polisi. Maka, aturan pun diabaikan, tutup mata terhadap pelanggaran.

Kita mungkin hanya bisa meniru kata-kata sakti Presiden SBY, prihatin. Pri-ha-tin. Mengelus dada atas adanya ketimpangan dan kecurangan yang kasat mata. Kalau menyebut pemerintahan gagal, nanti dikira latah menghujat SBY, walaupun secara indikator, itu semua sudah menunjukkannya.

Saya ingat, dulu Sudomo pernah inspeksi mendadak saat menjabat menteri di era Orde Baru. Ia menyamar menjadi awak truk yang membawa muatan berlebih, lalu masuk jembatan timbang dan diloloskan setelah bayar duit pungli. Ia lolos, namun lantas diikuti tindakan sanksi dan mutasi. Tapi, itu hanya membuat jera seketika, dan semua lantas kembali seperti masa-masa sebelumnya, bahkan kian menggila.

Saya teringat cerita seorang kawan, yang soal betul-tidaknya masih perlu pembuktian, bahwa jembatan timbang di Pringsurat, Kabupaten Temanggung merupakan pos paling basah se-Jawa Tengah. Tak hanya truk pasir dari Magelang yang melintas, banyak truk pengangkut kayu, kontainer dan angkutan barang lainnya melintasi jalur utama Semarang-Yogyakarta, Semarang-Purwokerto dan sebagainya itu. Tak mudah menjadi kepala jembatan timbang di situ, sebab saking basahnya, semua berebut menjabat di sana.

Di Indonesia, gula dan madu pun malu. Ia kalah manis dibanding janji politisi, apalagi ketika mau pemilihan umum, baik yang merengek ingin dipilih di DPRD/DPR atau jadi bupati, walikota, hingga presiden.

Mari kita merenungi, sampai sejauh mana hasil reformasi. Mumpung masih di bulan Mei, yang tiga belas tahun silam telah ditumbangkan rezim antiperubahan. Dari jalan raya, sejatinya kita bisa berkaca dan menuntut reformasi. Sederhana, tapi sangat bermakna. Supaya tak ada lagi kekecewaan, seperti ungkapan banyak orang, kini hidup semanis dulu…

Diskon untuk TNI/Polri

Saya tak paham mengenai alasan pemberian hak istimewa kepada anggota TNI/Polri. Jika berpijak pada peran sejarah, seorang veteran mestinya lebih berhak atas sejumlah priivilese dari negara. Beliau-beliau adalah pelaku sejarah berdirinya Republik Indonesia. Di luar mereka, termasuk TNI, Polri dan pegawai negeri sipil ‘hanyalah’ orang yang mengisi dan melestarikan hasil perjuangan para veteran.

Jangankan diskon 30 persen, digratiskan sekalipun masih pantas untuk veteran. Jika masih mau menimbang untung rugi, PT Kereta Api Indonesia bisa menghitung jumlah veteran, dan seberapa tinggi frekwensi penggunaan moda transportasi darat milik negara itu. Toh, perusahaan pelat merah itu juga mengenal dan menerapkan public service obligation (PSO), yang satu-dua tempat duduk untuk veteran tidak mengurangi laba perusahaan.

Saya sedih melihat pengumuman yang ditempel di loket penjualan tiket Stasiun Kereta Api Klaten itu.

Publik pasti juga bingung. Korupnya para pegawai yang digaji oleh negara, yang di antaranya berasal dari uang pajak yang dibayar warganya, diobral murah begitu saja. Prinsip keadilan, sepertinya masih belum berlaku di negeri ini.

TNI/Polri diberi fasilitas potongan setengah dari tarif resmi, sedang bagi veteran, sepertiganya pun tak sampai. Pegawai negeri sipil alias anggota Korps Pegawai Republik Indonesia (Korpri) pun berhak rabat 10 persen.

Teka-teki Polisi

Netralitas, penegasan yang tak jelas...

Kalau di banyak Markas Koramil kita jumpai tulisan NKRI Harga Mati, walau norak, tapi masih ‘wajar’. Salah satu tugas militer adalah menjaga kedaulatan sebuah negara, baik dari rongrongan asing maupun dalam negeri. Tapi, spanduk berlogo Kepolisian Negara RI ini menyimpan teka-teki: Netralitas Polri Harga Mati.

Netral dalam hal apa, netral terhadap siapa? Mungkinkah itu bagian dari upaya dukung-mendukung perkubuan internal, seperti yang ditunjukkan kepada publik adanya perseteruan antara pro-Susno Duadji dengan Kapolri BH Danuri?

Atau, ‘netralitas’ Polri yang dimaksud terkait dengan agenda pemilihan kepala daerah di Klaten, mengingat spanduk itu terpampang di tembok Kantor Polsek Karangnongko? Asal tahu saja, ‘jasa’ polisi sangat berguna dalam pilkada. Incumbent, apalagi kalau ia memikul banyak dosa kriminal, mudah merosot pamornya manakala ada warga yang melaporkannya.

Slogan itu, sungguh menyiratkan beban berat yang sedang disandang korps bhayangkara. Tapi apa? Tak bijak institusi sebesar Polri masih memasang spanduk mencolok, yang bisa-bisa justru berbuah olok-olok. Netral itu wajib dan harus diteladankan oleh polisi.

Atau, Polri sedang latah ikut-ikutan merajuk, curhat, meminta belas kasihan seluruh warga senegaranya seperti yang dilakukan seorang petinggi negara?

Seperti keadilan, netralitas itu harus menjadi sikap yang mewujud dalam setiap perbuatan. Tidak perlu digembar-gemborkan. Polisi tak perlu memancing orang untuk menganalisa, atau berandai-andai lalu menebak-nebak tentang persoalan yang sedang dihadapi oleh mereka. Semua polisi, pasti sudah dewasa, bukan?

Cerita Gempa Klaten

Sekitar pukul 5 pagi, empat tahun silam, saya masih bermalas-malasan di ranjang. Aktivitas vulkanik Gunung Merapi baru dinyatakan menurun beberapa hari sebelumnya, seolah memberi waktu istirahat fisik saya yang kelelahan. Hampir 40 hari, tak malam atau siang, selalu naik-turun mengitari lereng Merapi.

Keluarga korban membawa jenazah korban gempa dengan sepeda motor. Banyaknya korban tak sebanding dengan sedikitnya jumlah ambulans dan sarana angkutan.

Bunyi gemerincing gelas di dapur disusul guncangan keras. Saya menggeret istri ke luar rumah, dengan guling masih dalam pelukan saya. Hanya sekejap, saya teringat cerita seorang pengamat Gunung Merapi yang menjadi teman begadang. Katanya, salah satu pertanda meletusnya Gunung Merapi adalah gempa vulkanik hebat. Bisa setengah jam, atau sejam sebelum letusan.

Bayi pasien RS Panti Waluyo yang dievakuasi akibat gedung mengalami keretakan.

Ingatan langsung melayang pada nenek istri saya, yang tinggal sekitar lima kilometer di tenggara Merapi. Saya meminta istri bersiap-siap untuk menguras uang di ATM, sementara saya mendatangi Novotel, tempat para tamu mancanegara biasa menginap. Kebetulan, hotel itu merupakan bangunan tertinggi di Solo. Saya hanya ingin membuat foto berita di sana.

Aman di Novotel, saya menuju rumah hendak menjemput istri. Di tikungan jalan besar menjelang rumah, saya lihat tempat tidur pasien berjajar di halaman gedung. Beberapa bagian gedung retak, semua pasien dievakuasi. Suasana mencekam pagi itu. Setelah memperoleh beberapa foto, segera saya mengirim untuk European Pressphoto Agency/EPA Photo, yang kebetulan sehari sebelumnya meminta saya membantu mereka untuk ‘urusan’ Gunung Merapi.

Foto-foto efek gempa di Solo termasuk yang pertama terpublikasikan di dunia, sebab aliran listrik di Yogyakarta padam dan akses komunikasi terganggu.

Urusan Solo beres, saya bergegas ke Klaten. Saat mengirim foto, sudah banyak berita di internet mengenai situasi gempa, yang ternyata bukan dari Gunung Merapi, melainkan dari kedalaman Laut Selatan. Dari internet pula saya tahu, teman-teman reporter dan fotografer kantor berita asing dan media-media asal Jakarta kesulitan mengirim berita. Listrik padam, tak ada saluran internet aktif, sehingga foto-foto efek gempa yang saya buat di Solo menjadi foto pertama yang tersiar di berbagai belahan dunia.

Suasana pascagempa di Klaten, 27 Mei 2006

Yakin keselamatan keluarga, saya menuju rumah sakit pemerintah di Klaten. Baru saja memarkir sepeda motor, saya bertemu seorang sepupu. Dia memberitahu, istrinya kejatuhan atap rumah hingga keguguran. Tiga sepupu lain saya, rupanya menjadi korban pula, meski tak seberapa parah. Sungguh situasi yang sulit.

Usai gempa, kebutuhan peti bagaikan 'belanja'. Satu keluarga bisa membeli beberapa sekaligus akibat rumah yang porak-poranda.

Dari rumah sakit itu, saya mendatangi lokasi-lokasi terparah, hingga mendapati seorang keluarga dekat, meninggal tertimpa bangunan rumah.

Gempa, tak hanya mengguncang keluarga saya. Ribuan saudara jadi korban, dengan tingkat luka, penderitaan dan kerusakan beragam. Hingga beberapa tahun sesudahnya, dampak gempa tak kunjung teratasi. Banyak warga belum memperoleh santunan dari pemerintah, meski sudah dinyatakan uang bantuan sudah dikirim ke rekening pemerintah daerah.

Hingga tahun ketiga setelah gempa, masih banyak warga melakukan unjuk rasa karena menuntut haknya...

Demonstrasi kroban gempa berlangsung lama, hampir saban hari. Warga menduga, korupsi terjadi di sana-sini. Dari tingkat kabupaten hingga desa, aroma korupsi bisa dirasa, termasuk sepupu saya yang tiba-tiba ‘dipecah’ keluarganya. Jika semula satu rumah punya satu kartu keluarga (KK), keluarganya lantas menjadi tiga.

Rupanya, ‘inisiatif’ datang dari pemerintah desa. Motifnya, sekilas menolong, sebab bila seharusnya satu keluarga hanya memperoleh belasan juta menjadi lipat tiga. Ternyata, punggawa desa punya pamrih dengan akrobat memecah jumlah keluarga, sebab uang santunan sesuai jumah kartu keluarga. Pada setiap ‘keluarga’ disunat tiga juta!

Seorang kakek memangku cucunya, di antara puing-puing bangunan rumahnya yang luluh lantak.

Sementara di desa saya, ada dua kampung rusak parah. Bapak saya termasuk yang ditunjuk menjadi salah satu tokoh desa untuk mengurus pendataan dan penyaluran bantuan. Sebagian pamong desa menyunat, orang seperti bapak saya kebagian laknat dan sasaran warga mengumpat. Merasa sudah berbuat yang seharusnya dan berusaha adil transparan, Bapak saya shock saat mendengar menjadi salah satu sasaran omongan orang.

Bapak saya mutung, mengundurkan diri dari urusan gempa dan bantuan. Rupanya, rasa malu kuat menghunjam. Tak lama kemudian, Bapak saya terkena serangan stroke. Hingga kini, tangan kanannya tak kuasa digerakkan, meski sudah bisa berjalan. Efek gempa, masih terasa hingga kini, setelah empat tahun berselang.

Sementara di desa lain, seorang punggawa desa baru saja keluar setelah lima bulan mendekam di penjara karena ketahuan menilap milyaran dana kemanusiaan untuk korban gempa. Ia sehat, dan masih tampak kaya.

Bédané Kliwonan lan Pasar Kliwon

Tumrapé wong gaul utawa blatèr, krungu tembung ’crita pasaran’ mesthi banjur ngira, yèn sing dakkarepaké saka judul utawa irah-irahan ing ndhuwur ora liya kajaba crita sing wis lumrah. Tembung pasaran dikira kaya yèn awaké dhéwé ngarani barang utawa babagan apa waé sing wis ngembyah, kaya déné sing dikarepaké ana ukara Melayu utawa Basa Éndonésa. Kamangka, pasaran ing kéné ora liya, ya kuwi aran dina kang lima cacahé tumrapé wong Jawa: Legi, Pahing, Pon, Wagé lan Kliwon.

Dakwiwiti saka Kliwon dhisik, ya…

Mbiyén jaman isih urip ana ndhésa ing Klatèn kana, aku bola-bali dolan ana Pasar Klembon, sanajan ora kerep. Saben dinané, pasar iku rada sepi. Raméné mung ana dina pasaran Kliwon, mula sebutané dadi KliwonanPasar Kliwon. Sajroning pasar, ana kéwan warna-warna sing padha didol. Sapi, wedhus, pitik, menthok lan bèbèk, ana kabèh. Sisih njabané, akèhé wong dodolan pacul, lading, bodhing, pangot, arit lan sapunggalané. utawa

Kétoké anèh kanggoné wong kutha: mosok arit lan pangot didol ana pasar kéwan?

Wong kutha mesthi ora mudheng, yèn wong ndhésaku kana iku wis lumrah yèn ésuk-ésuk lunga nuntun sapi utawa kebo liwat lurung, iku tegesé wong iku bakal nglempit kéwané. Olèh-olèhé bakal manékawarna wujudé: bisa nganyarké lading utawa pacul kanggo piranti nggarap sawah, bisa tuku sandhangan anyar kanggo badan, bisa uga mipik L2-Super utawa pit montor.

Wis lumrah wong ndhésa iku nyèlèngi bandha awujud kéwan. Anané diarani rajakaya, mbokmenawa jalaran saka opèn-opèn kewan mau banjur bisa nambahi kaya utawa pametuné. Mula, kéwan-kéwan mau dirumat kaya raja. Yèn kebo utawa sapi diguyang, dipakani suket utawa dami sing apik, jalaran klèru pakan bisa ndadèkaké mendemé si kéwan. Bisa mbilaèni, nyilakakaké sing ngingu. Sapi-kebo bisa ngènthèngaké gawéan nggarap sawah, bisa kanggo ngluku tinimbang maculi sawah pirang-pirang pathok.

***

Béda pasar Kliwonan ing Klatèn, aku uga duwé crita sing nyenengaké, sing ana sambung rapaté karo Pasar Kliwon ing Kutha Sala. Nanging sing bakal dakcritakaké ana kéné dudu babagan kéwan, nanging crita babagan manungsa sing (mbokmenawa) sapérangan uripé bisa rada mambu-mambu donyané kéwan. Kena ngapa bisa dakarani kaya mangkono, tutugna waé anggoné nyemak critaku.

Mangkéné:

Sawijining dina, kancaku sing omahé Pasar Kliwon sing arané ora perlu daksebutaké ing kéné, nyilih kamar indekosanku. Aku mulih ndhésa sawetara, kunci kamar daktinggalaké marang dhèwèké. Karepé, timbang ndadak mulih menyang omahé keluargané ing Pasar Kliwon terus bali manèh ana kampus kanggo kuliah kang jadwalé bisa ésuk lan soré saben dinané, dhèwèké pilih ndolani kanca-kancané.

Ndilalah, sing paling kerep ya menyang panggonanku. Malah, siji-loro kathok lan klambiné ditinggal ana indekosanku, kanggo jagan mbokmenawa sawayah-wayah merlokaké ganti sandhangan. Senengé ngombé ora umum, nganti tau ninggal Henessy sing regané (yèn ora klèru) $385 ana ndhuwur lemariku. Ombèn-ombèn larang, jalaran umuré wis luwih saka 50 taun!

Gandhèng lemariku cedhak cendhéla nako lan gampang dibuka, ombèn-ombèn mau padha diiling bocah-bocah tangga kamarku. Gampang ngranggèhé, banjur ngiling ana gelas cilik sing gampang dilebokaké saka sela-selaning nako. Kancaku saka Pasar Kliwon sing irungé mancung iku misuh-misuh sawisé weruh gendulé angok.

Bocah-bocah sing rumangsa nyolong Henessy mung ngguyu waé dipisuhi. Begja, kancaku ora misuh nganggo basa Arab kaya sing digunakaké mbahé lan sedulur-seduluré nèng kampungé. Saumpama misuhé nganggo cara Arab, mbokmenawa hancaku malah padha anteng, ora wani nggeguyu nanging malah padha muni hamin-hamin, dikira lagi diajak ndedonga.

Liya wektu, aku mulih ndhésa rada sauntara. Kunci kamar, kaya adaté, daktinggalaké ana nisor pot cedhak kamar, supaya nggampangké yèn dhèwèké butuh ngaso. Nanging ora kaya biyasané, aku dithuki kahanan sing paling nganyelaké. Dhèwèké pas ora kétok dolan, ndilalahé aku bali menyang indekosan rada maju saka rencanané.

Ana ndhuwur kasur gabus tipis sing ditutupi seprèi putih, ana rambut rong macem. Cacahé rada akèh. Sapérangan rambut ireng mlunther-mlunther rada dawa, sapérangan liyané rambut rada alus, ora ireng nanging semu soklat kaya warnané rambut ing pucuké jagung. Pikiranku wis ala, pandakwaku genah warna-warna.

Mesthi cah sing duwé irung mancung mau ngajak bocahé uleng ana kasurku. Nanging, apa yèn uleng bisa ngogrogaké rambut? Aku sansaya bingung. Dhasaré wektu semana aku isih lugu, ora kaya jaman wis omah-omah kaya saiki, mula dadi ora bisa gamblang njlèntrèhaké. Aja-aja, kancaku karo bocahé padha gegojègan rada kasar, genti-gentèn njabuti wulu, embuh sikil utawa wulu pérangan awak sing liyané, sing rada primpen manggoné.

Cekaké, rambut-rambut mau dakcuthiki nganggo suwèkan dluwang, dak klumpukaké ana dluwang HVS kwarto, nithil saka tumpukan dluwang sing kanggo jatah sekripsi. Daktunggu pirang-pirang jam ora njedhul, nembé ngétok bareng wis ganti dina. Kancaku dak kongkon mbukak laci lemari bukuku, banjur njupuk lempitan dluwang putih ana njeroné.

“Apa iki?” pitakoné kancaku.

“Tilikana dhéwé! Iku gèlèk titipané cah-cah. Mung sithik, nanging asli olèh-olèh saka Acèh,” jawabku.

Praènané dadi ketok padhang, lambéné mlèngèh rada sumringah, banjur mbacutaké pitakonan semu golèk-golèk, “Duwé Job Paris?”

“Ketoké isih ana. Golèkana neng kiwané laci, mbokmenawa isih ana turahané cah-cah mau bengi!” Aku njawab sakenané.

“Duwé campurané?”

“Ora!”

“Wah, dicampur mbako rokok putih ya ora énak, no…”

Aku meneng waé, daktinggal éthok-éthok maca buku. Ora sida mbuka lempitan dluwang, kancaku metu. Ora suwé, dhèwèké wis teka manèh karo nyanyi-nyanyi. Lungguh sila ngethepes ana karpèt, dhèwèké ngudhari rokok Samsu lan njèrèng mbakoné ana ndhuwur papir utawa shag. Nyaut lempitan dluwang putih, isih karo nyanyi-nyanyi.

“Bajinguk!” Mangkono uniné kancaku mbareng ngudhari lempitan dluwang putih mau.

“Sing bajinguk ki kowé! Ora duwé tata! Mbok yèn uleng ora ninggal wisa neng ndhuwur kasur!”

Dak pisuhi ngono, kancaku meneng waé, nanging banjur nyekikik. “Wah, sorry. Rumangsaku kowé ora énggal bali mréné, kok,” mangkono wangsulané.

“Hayo, kuwi rambuté sapa?” aku nerusaké nesuku.

“Ya, rambutku”

“Ora percaya! Kowé mesthi nglebokaké bocahmu nèng kamarku. Jinis rambuté waé béda, rambutmu luwih kandel tur kriting,” mangkono wangsulanku. Tetep kanthi setan nesu.

Dhèwèké banjur meneng waé, sirahé mléngos ora gelem nyawang rambut jagung lan rambut brintik sing ana nèng ngarepé. Dakgatèkaké, rainé semburat abang ngampet isin. Sasuwéné kekancan karo aku, dhèwèké ora tau nggawé gelané kanca, apa manèh marang aku, tur nganggo cara sing ora cetha kaya mangkono.

***

Dadi, cukup seméné critaku babagan donya sing nganggo dina pasaran, mliginé Kliwon. Liya wektu, daktuturi crita-crita sing ana gandhèng-cènèngé karo dina-dina liyané….