Tengak-tengok di City Walk

City Walk merupakan kosakata baru bagi warga Solo. Sudah dua tahun, jalur lambat di sisi kanan jalur protokol itu ramai pejalan kaki, setelah wajah aspal diganti paving block. Di banyak tempat terdapat kursi besi beralas kayu untuk bercengkerama, atau tempat istirahat bagi penyusur. Hot spot pun ditebar di sepanjang City Walk, walau dengan speed sedang-sedang saja.

Bukan Turis Biasa - makanya masih butuh foto bersama segala

Diperkenalkan Pak Joko Widodo pada awal-awal menjabat walikota, area pejalan kaki itu memang dimaksudkan untuk menarik minat wisatawan. Di ujung jalan terdapat pusat kuliner Galabo, akronim Gladak Langen Bogan. Langen itu senang-kesenangan dan bogan itu bentuk jamak dari boga yang artinya makanan.

Di Galabo itulah, semua ikon warung makan Solo membuka cabang. Bahkan, warung-warung yang hanya buka hingga sore di tempat aslinya, kita masih bisa menikmatinya pada malam hari. Galabo memang direncanakan sebagai pemuas bagi kaum pemanja lidah, terutama bagi yang tak punya cukup kesempatan untuk menikmatinya di siang hari.

Penulis dipaksa menjalani peran sebagai pemandu wisata dadakan

City Walk memang tak sia-sia dibangun. Rimbunnya pepohonan dari Purwosari hingga Gladak tak hanya asyik untuk jalan-jalan. Kita bisa menikmati Dalem Wuryaningratan, rumah tua bekas bangsawan Kraton Surakarta yang kini dijadikan Museum Batik Danar Hadi. Di museum itu, ratusan koleksi batik kuno dipajang, dan di bagian belakang museum bisa dijumpai jari-jari terampil para pembatik, dari yang berusia muda hingga nenek-nenek.

Museum itu tak jauh dari Sriwedari, kompleks taman bekas milik keluarga kerajaan. Selain gedung wayang orang yang legendaris, Museum Radya Pustaka juga berada di sini. Koleksi pusaka, topeng-topeng kuno, buku-buku bersejarah serta arca-arca tua terdapat di museum persembahan Raja Surakarta untuk masyarakat ini.

Sriwedari dan Dalem Wuryaningratan memang lekat dengan nuansa kerajaan. Begitu pula dengan Kemlayan, kampung tua yang dulunya merupakan kompleks permukiman untuk abdi dalem kerajaan di bidang karawitan. Empu gendingnya diberi gelar kebangsawanan, dengan nama sebutan Mlaya. Kata Kemlayan memang kata bentukan dari ke + mlaya + an, yang berarti kawasan para (anggota korps) mlaya.

Hanya kotak sampah yang dikelola DKP inilah yang paling berkontribusi mempermalukan warga Kota Surakarta

Antara Galabo dengan Kemlayan, ada satu kawasan tua yang cirinya hampir sama: jalan-jalan kampungnya berupa lorong kecil yang menyulitkan pengendara sepeda motor atau sepeda angin berpapasan. Kawasan itu bernama Kampung Kauman, tempat di mana para ulama dan santri kraton bermukim. Ciri Kauman hampir sama di berbagai kota seperti Semarang, Yogyakarta, Cirebon dan kota-kota tua lainnya, yakni selalu ada masjid besar sebagai pusatnya.

Di Solo, Masjid Agung masih merupakan pusat kegiatan ritual Islam kerajaan hingga kini, meski kampungnya sendiri sudah jamak latar belakang penduduknya. Selain berkonsentrasi pada urusan syiar Islam, rata-rata penduduk kauman adalah pedagang. Hingga kini, Kauman masih menjadi sentra perdagangan kitab Al Quran, buku Yaasin dan Tahlil serta buku-buku Islam dan perlengkapan ibadah. Peci, tasbih, sajadah, mukena dan sarung banyak dijajakan di kampung ini.

Meski demikian, Batik Kauman juga relatif populer. Dulu, konon motif batik made in Kauman berbeda dengan yang dibuat di Laweyan, meski kini nyaris sama. Outlet-outlet batik dan perajin pun mulai menjamur seiring dengan naiknya pamor batik dalam beberapa tahun terakhir.

Anda tertarik jalan-jalan di City Walk juga? Kami, komunitas blogger Bengawan baru saja menyusuri kawasan itu. Minggu (7/2) sore yang cerah menjadi hari yang menyenangkan bagi kami, menjalani program WatchWhileWalk agar kami bisa bercerita banyak tentang Solo, yang hasilnya akan kami ceritakan kepada Anda. Ya, kira-kira seperti yang baru saja Anda baca ini.

Selamat datang di Solo, Kota Baik Surakarta………

Foto-foto: Dony Alfan