Internet, PSK dan Kartini

Beberapa bulan silam, ada enam perempuan pekerja seks komersial (PSK) dan korban kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) belajar komputer dasar dan internet bersama teman-teman Blogger Bengawan. Mereka datang sepekan sekali, dan sayangnya, hanya berlangsung dua bulan. Baru sempat akrab dengan email dan Facebook serta sedikit ‘googling’.

Ada dua orang yang pernah minta diajari bikin blog, namun tak pernah nongol kemudian. Tak jelas kenapa, mungkin saja mereka sungkan karena tak ditarik bayaran. Mungkin saja begitu, sebab kaum minoritas dan marjinal cenderung memiliki solidaritas kuat dan perasa.

Saya sempat senang ketika mereka mulai tertarik ngeblog. Harapan saya, catatan apa saja –terutama yang terkait dengan suka-duka kehidupan mereka, bisa jadi tempat becermin bagi siapa saja. Testimoninya pasti lebih sahih dibanding laporan peneliti, yang menggunakan pendekatan partisipatoris sekalipun.

Saya ingat betul, dalam sebuah bincang-bincang santai dengan seorang pejabat publik, ada seorang PSK berusia paruh baya, bertutur ‘bangga’ tentang keberhasilannya menyekolahkan anak perempuannya hingga bergelar sarjana Sastra Inggris  dari sebuah perguruan tinggi negeri papan atas di Indonesia.

Saya jalani pekerjaan hina seperti sekarang, karena saya tak ingin,  kelak, keturunan saya hidup menderita. Saya pergi-pulang diantar-jemput suami, dan kami merahasiakan pekerjaan itu.

Baik PSK yang berlatih internet maupun yang sukses menyekolahkan sang anak, itu sama-sama ‘buka praktek’ di sektor ecek-ecek, yang sewaktu-waktu bisa dirazia aparat penegak ketertiban umum, walau sehari-hari harus membayar uang setoran jasa keamanan.

Pikiran saya sederhana: jika mereka aware dan akrab dengan internet, kami akan pelan-pelan mengajari mereka mencari informasi-informasi yang relevan dengan kehidupan mereka. Risiko terkena HIV/AIDS, hepatitis, kesehatan reproduksi, dan banyak lagi. Dari internet pula, mereka bisa memperoleh banyak pengetahuan baru, yang mungkin cocok dengan cita-cita atau bersesuaian dengan bakat yang mereka punya. Internet memberi dan memudahkan segalanya.

Dan satu hal penting, mereka bisa belajar secara personal, tanpa perlu malu jika terkait dengan masalah-masalah atau problem kesehatan yang sensitif, yang belum tentu bisa mereka ceritakan secara panjang-lebar dan terbuka, kepada konselor yang selama ini telah mendampingi mereka.

Kalau Kartini saja bisa berkembang wawasan budaya dan pengetahuannya dari membaca dan berkorespondensi, mengapa mereka yang memiliki bekal kemampuan membaca dan menulis sedari muda tak bisa memperbaiki nilai kehidupan dan penghidupan mereka?

Mereka, mungkin bisa menyimak Diuber Petugas Imigrasi  Hongkong dan Jadi Lonthe Murahan atau Pak SBY, TKW Itu Tak Butuh HP!, tulisan inspiratif dari seorang buruh migran asal Blora yang menjadi pekerja sektor domestik di Hong Kong.

***

Semoga, keinginan belajar mereka tak berhenti di situ. Semoga, kelak mereka bisa datang kembali berlatih dan memanfaatkan sarana serba gratis di sekretariat Blogger Bengawan. Kalaupun tidak, semoga mereka sudah meneruskan keinginannya sendiri dengan berkunjung ke warnet yang bertebaran di Kota Solo. Semoga.

Tapi, saya masih ingin berandai-andai. Jika saja kelak kebijakan pemerintah dalam bidang teknologi informasi benar-benar berpihak kepada publik, bahkan oleh warga negara berpenghasilan pas-pasan, saya yakin kian banyak orang dimudahkan. Kartini-Kartini digital pasti akan lahir dengan sendirinya, sesuai tuntutan jaman.

Perkembangan teknologi yang kian maju dan murahnya biaya akses yang disediakan operator seluler atau internet service provider akan merangsang orang memproduksi dan menyebarkan konten positif, termasuk tutorial dengan format video. Satu tontonan mendidik bisa dinikmati secara personal atau beramai-ramai, sehingga seseorang tidak terkungkung di dalam tempurung.

Kiat sukses berdagang lewat internet atas produk-produk kerajinan personal, juga bisa disajikan lengkap lewat situs-situs berkonten video, sehingga kian banyak orang terinspirasi dan terpacu semangatnya untuk keluar dari jerat kemiskinan dan jenis-jenis pekerjaan yang tak mereka kehendaki.

Jadi, yang diperlukan hanya Kartini yang mau mendampingi sementara saja, dan selanjutnya, pasti akan lahir Kartni-Kartini baru secara alamiah. Seorang Kartini harus mampu memberi alternatif pilihan jalan keluar, termasuk membebaskan mereka menentukan pilihan akan masa depannya sendiri-sendiri.

Kartini Tak Harus Perempuan

Dulu, saya punya teman SMA bernama Temu Sudarsih. Ia lelaki tulen. Orangnya kocak, suka melucu, dan suka menolong dan peduli terhadap teman, tak sebatas pada satu kelas. Kartini, bagi saya, pun bukan monopoli milik kaum perempuan. Di kelas saya, ada pula perempuan bernama Kartini. Ia baik, tapi manja kepada siapa saja, baik lelaki maupun perempuan.

Kita tak boleh silau, lantas membuat kesimpulan hanya berdasar pada sebuah nama, entah itu Temu Sudarsih atau Kartini, atau siapa saja. Ia akan berproses, merespon atau beradaptasi terhadap lingkungan. Kartini putri Sang Bupati Jepara Raden Mas Adipati Ario Sosroningrat tak akan menjadi sosok pemberdaya perempuan, feminis, atau apapun sebutannya, jika ia tak merasakan susahnya sebagai gadis pingitan.

Situasi budaya dan sosial yang dinilainya timpang dan membelenggu kaum perempuanlah yang lantas membuat Kartini ingin menjadi perempuan terakhir yang ttinggal dalam kerangkeng sosial. Andai bukan bangsawan, belum tentu Kartini bisa belajar di sekolah bangsawan, Europese Legere School sehingga fasih berbahasa Belanda, yang lantas memperkenalkannya pada bacaan-bacaan penting, baik surat kabar maupun buku-buku penting.

Jika mengalogikan dengan perempuan masa kini, maka dengan bermodal kecakapan bahasa, Kartini memanfaatkan situasi keterpingitannya untuk mengakrabi search engines, lantas berselancar memburu referensi. Ya, semacam ‘hama benwit’ namun selalu berorientasi akan kegunaan dan kemanfaatan, seperti halnya berprinsip teguh pada InternetSehat.

Siapakah Kartini-Kartini masa kini? Apakah ia sosok manusia (apalagi) perempuan yang mengajak orang lain agar hidup konsumtif, mengajak relaksasi secara hedonistik? Siapakah Kartini yang dicari kini: yang menyerahkan anaknya kepada sapi karena kuatir jika menyusui akan merusak ‘keindahan’ payudaranya? Ataukah peremuan-perempuan yang selalu sibuk melawan kaum lelaki karena merasa sudah jadi korban ‘penindasan struktural’ karena menganggap lelaki selalu hegemonik?

Sepanjang yang saya pahami, Kartini melakukan perlawanan kultural secara strategis dan sistematis. Ia menularkan ilmu membaca teks lewat sekolah yang didirikannya, sehingga murid-muridnya berkembang sesuai keinginan dan bakatnya masing-masing. Budaya patrimonial diresponnya dengan pemberdayaan, bukan perlawanan frontal-seremonial. Dan ia memperoleh lahan subur menyemai kebaikan lantaran sang suami menjadi utama pendukung cita-citanya.

Kartini yang terobsesi menyebar virus emansipasi bertemu dengan suami yang tidak merasa terancam ketika perempuan menjadi mandiri, berdaya dan berdaulat akan sikap dan pilihan hidup. Tanpa sinergi keduanya, mungkin apa yang dilakukan Kartini bisa menghasilkan cerita yang berbeda dengan kita warisi sekarang.

Saya yakin, ketika hendak mendirikan sekolahan, Kartini tidak bermaksud membuat template sehingga peserta didiknya didesain sedemikian rupa. Lebih dari itu, ia hanya ingin menularkan pengetahuan dan berbagi pengalaman, sehingga seseorang bisa bebas dan mandiri menentukan pilihan jalan hidup.

Kini, Indonesia kian butuh sosok Kartini, perempuan yang membebaskan orang lain, namun tak sebatas kaumnya belaka. Perempuan adalah tiang penting penyangga kokohnya bangunan keluarga dan sosial. Seperkasa apapun lelaki, ia akan gagal mendidik generasi baru yang bermartabat dan unggul jika beristrikan perempuan yang berdaulat atas dirinya sendiri. Dan sebaliknya, lelaki  bejat sekalipun, masih punya harapan akan lahirnya generasi bermoral, jika ia berpasangan dengan perempuan yang memiliki wawasan memadai. Dari sana, adab akan terbangun kuat.

Pada jaman semaju kini, memang sudah lahir banyak penerus Kartini. Tapi, ketika dunia bisa hadir dalam genggaman, seberapa banyak lahir Kartini-Kartini yang benar-benar mampu melahirkan ‘murid-murid’ mandiri dan berdaulat atas dirinya? Kita sering lupa, ketika kesenjangan desa-kota belum sepenuhnya terhapus dari catatan statistik, sudah muncul ancaman kesenjangan digital, bahkan di kota sekalipun.

Bagaimana nasib para perempuan yang tinggal di pelosok desa, di tengah hutan atau di lereng-lereng gunung dan perbukitan, yang tak pernah terkena terpaan teknologi komunikasi dan informasi? Pernahkah kita memikirkan bagaimana nasib ibu-ibu perajin sandal kulit di Solo hanya sanggup menjual Rp 22.000 sepasang kepada tengkulak, sementara di pedagang kakilima Malioboro, Yogyakarta ditawarkan Rp 75.000 dan di Jakarta dibanderol Rp 175.000?

Terlalu banyak ‘Kartini Digital’, juga ‘Kartono-Kartono Digital’ yang sanggup menjual produk yang sama dengan keuntungan berlipat-lipat, namun abai terhadap pemberdayaan para ‘perempuan mandiri’, ya para perajin itu. Seberapa banyak Kartini-Kartini masa kini, yang lebih senang memperdagangkan produk-produk kreatif mereka, tapi enggan mengajari mereka cara berdagang, membantu branding dan strategi-strategi promosi dengan memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi?

Teknologi sangat memungkinkan mereka menggali informasi untuk membuat inovasi dan menentukan strategi. Perbandingan desain, nilai pasar, dan sebagainya, bisa diperoleh lewat Internet. Yang jadi kendala, tak ada yang membukakan mata mereka mengenai manfaat kehadiran sebuah teknologi komunikasi.

Andai teknologi informasi dan komunikasi bisa menjangkau pelosok Indonesia, dan ada Kartini-Kartini yang mendampingi mereka mengakrabi dunia digital, saya yakin, petugas penyuluh kesehatan yang terbatas jumlahnya bisa digantikan oleh informasi yang disediakan oleh website/blog, atau situs-situs kesehatan. Pengetahuan mengenai kesehatan reproduksi, ilmu gizi, dan banyak lagi informasi bisa didapatkan secara murah.

Kehadiran teknologi selalu membawa dampak, positif dan negatif. Karena itu, dibutuhkan guru-guru yang mau berbagi ilmu seperti Kartini untuk mendampingi, sehingga kehadiran teknologi tak membunuh masa depan mereka sendiri. Di sinilah, Kartini adalah spirit, yang bisa dilakukan oleh lelaki atau perempuan, seperti Temu Sudarsih atau Kartini, untuk sekadar meminjam nama sambil mengenang masa-masa SMA.

Yang jelas, Kartini tak bisa berjuang sendirian. Ia harus mengerjakannya bersama-sama dengan orang-orang yang seterbuka wawasan dan setoleran suaminya, K.R.M. Adipati Ario Singgih Djojo Adhiningrat. Setidaknya, itu bisa membantu mempercepat Kartini mewujudkan cita-citanya, membuat perempuan Indonesia lebih mandiri dan berdaulat atas dirinya.

Keterangan: Foto merupakan hasil pencarian di Google

Kartini lan Grobagé

(Tulisan versi Bahasa Indonesia, silakan lihat di bagian bawah tulisan ini)

Thenguk-thenguk ana sawijining taman kutha ing Sala, ora komplit tanpa wédang, apa manèh wayah jam loro ésuk, wanci sing paling disenengi bangsané maling tukang mbabah. Ora ana tèh, kopi ya dadi. Mathuk! Bisa kanggo cegah lèk utawa tamba ngantuk, lan njangkepi anggonku klepas-klepus sasuwéné glenikan karo Hassan. Pusss…..

Nalika nyedhaki grobag saperlu aba kopi rong gelas, ana sikil tholang-tholang ana sandhuwuré grobag. Jebul nggoné cah cilik, umur watara telung taunan, anaké sing bakul wédang. Hmm… Bocah cilik, paribasan turu ana tengah latar amba ing tengah wengi, tanpa kemul, kaya ngisis anèng pedhut kandel. Kekes.

Ora suwé, kopi pesenanku diterké ibuné bocah sing lagi turu nglèsus. Tanpa srandhal, mlaku cèkèran.

“Sadéyané napa nggih ngatos byar padhang, Bu?” pitakonku.

“Nggih Mas, ngantos énjang. Menawi sampun padhang, kula pindhah nDhépok, wonten peken manuk. Ngantos siyang, nembe pindhah malih dhateng lebet stadhiyon ngantos peteng, nembe mriki,” ujaré ibu mau, embuh sapa arané. “Saben dinten nggih kados ngaten niki, wong nggih pun mboten wonten sing diulihi.”

Critané ndhrindhil, kaya-kaya mega ireng sing kudu énggal nyuntak banyu menyang bumi jalaran wis ora kuwat nyangga aboté banyu kukusan.

“Lho, njenengan lenggahé pundi, kok sajak mboten naté wangsul?” wangsulanku.

Kanthi tangan sedhakep karo ngadeg, ibu sing umuré watara 35 taunan iku, banjur njlèntrèhaké sujarah uripé. Dhèwèké lagi telung wagé ditinggal séda ibuné. “Larah-larahé namung dhawah, nanging dados jalaran sédanipun. Wong nggih sampun gerah sepuh. Begja, kula sing ngonangi lan nengga ngantos icalipun,” ujaré ibu, sebut waé Kartini arané.

Aku ndomblong sawetara, banjur ngaturaké béla sungkawa. Kartini nampa aturku kanthi bungah, pasuryané sumringah. Sajak lagi pingin crita kanggo ngluwari uneg-uneg, aku macak grapyak. Weruh aku nanggepi kanthi semanak, Kartini ora lèrèn anggoné nyritakaké lelakon uripé.

Kakang mbarepé, sing dhemené mendem cengkilingé ora ngéram. Ora mung dipilara nganggo tangan, dhèwèké ngaku tau diidak-idak. Kartini nuduhaké driji tengah tangan tengené cacat tekan sepréné jalaran kaniyaya sedulur tunggal kringkelé. Yèn awor, ora ora naté kendhat nampa pisuhan.

“Sirah kula tau dikepruk nganggé gendul orson. Belingé kathah sing nancep, ngantos dangu mboten ical. Saben kula thithili, raosé sakit banget. Perih,” kandhané.

Karana kedadèyan kuwi, Kartini ngucap marang kakang pembarepé, yèn dhèwèké bisa nampa sanajan dipilara. “Nanging Sing Gawé Sirah ora bakal trima. Rasakna dhéwé, sangganen dhéwé tumindakmu marang aku,” ujaré.

Kaya adaté, kangmasé ora perduli marang kahanané adhiné. Malah, sabubaré upacara metak layoné ibuné, isih tegel mréntah supaya ninggalaké omahé ibuné.

“Tinimbang disiya-siya, kula pilih lunga. Tangga-tangga ingkang welas kaliyan kula sami maringi arta. Wonten ingkang tigang dasa èwu, wonten ingkang sèket. Sedaya kula tumbaské rokok, lajeng kula sadé malih. Sithik mbaka sithik, dagangan dados kathah ngantos kula pados grobag, sing sakniki dados cagak urip kula, ngiras gubug kanggé nurokké anak kula,” ujaré.

Kaya ora kendhat pacobané, sasuwéné dhasar wédang, rokok lan panganan ing taman Manahan kuwi, Kartini bola-bali nemoni cilaka. Dhuwit limangatus èwu ana slorokan dicolong wong tuku nalika ditinggal mingset kanggo resik-resik larahan. Luwar saka kuwi, tèlpun gegem tukon Rp 410 èwu uga dicolong wong sing éthok-éthok tuku.

“Pun ping kalih, telpun kula ical ten mriki. Nanging mboten apa-napa. Niku ateges kula langkung sugih tinimbang ingkang sami nyolong,” ujaré.

(Nalika crita kahanan Kartini marang kancaku, dhèwèké kenal marang ibu kuwi. Kanca sakantoré malah ana sing nyimpen nomer tèlpuné Kartini. Mbiyèn kerep tuku rokok mung separo wadhah kanthi cara nèlpun Kartini)

Tatag, ora katon adol welas babar pisan. Critané, bisa dirasakaké yèn ora digawé-gawé. Blaka apa anané, ora ngemis welas asih. Aku dhéwé gumun, nemoni wong kebak panandang tanpa gigrik babar pisan. Ora saben wong kuwat ngadhepi urip kaya dhèwèké. Wis akèh sing kepèpèt pilih colong jupuk, utawa, (nuwun sèwu) adol badan sarira, nisthakaké awaké dhéwé.

Nanging, Kartini iki milih mlaku jejeg. Suthik tumindak culika, sanajan rekasa tanpa pepindha. “Bar pijer kelangan niku, lajeng kula pasani. Ndilalah, ngantos sepriki dèrèng naté kélangan. Sepisan wonten tiyang ajeng mlayokké grobag, dumadakan gula tangi grégah alok maling, kamangka kula liyep-liyep keturon,” ujaré.

Sarosa-rosané Kartini, durung mesthi anak wédoké duwé kekuwatan sing padha karo dhèwèké. Kartini Cilik butuh sekolah, sinau, lan urip kanthi bener. Saiki isih cilik, durung udur. Nanging kepriyé yèn wis tambah gedhé, duwé isin lan sapanunggalané?

(Lumantar tulisan iki, aku ngaturi pirsa marang para kadang pamaos, saumpama ana sing krenteg pingin ngaturi pitulungan utawa tali asih sapawèhé, kepareng lumantar kanca-kanca Komunitas Blogger Surakarta BENGAWAN waé. Nuwun)

Cathetan:

kukus(+an), uap. banyu kukusan, uap air

Pepéling: tulisan iki ora kena kapundhut banjur dipacak ing layang kabar sing terbit ana Kuta Sala, saperlu kanggo njaga kabecikan lan keslametané Mbak Kartini. Nuwun.

=====

Sekilas tentang Kartini (sebutan saya, sebab tak tahu namanya).

Ibu Kartini, 35 tahun, seorang single parent yang membesarkan seorang anak perempuan berusia sekitar tiga tahun. Dia hidup menyandarkan hidupnya pada gerobak dan dagangannya, berupa aneka minuman (kopi/susu instan, teh, dll), rokok, mi rebus, dll.

Pada tulisan berbahasa Jawa di atas, saya ceritakan tentang ‘penderitaan’ seorang ibu yang diusir kakaknya, tepat seusai pemakaman ibunya, sekitar lima belas hari silam. Dia biasa dianiaya, bahkan kepalanya pernah dipukul dengan botol sirup. Pecahan botol banyak menancap di kepalanya.

Pagi hari dia jualan di pasar burung, agak siang pindah di dalam kompleks Stadion Manahan, dan sejak senja hingga terbit mentari, dia menjajakan di taman, tepat di pintu masuk stadion. Ia pernah memiliki handphone dan hilang dicuri pembeli. Duit lima ratus ribuan juga pernah hilang diembat pendatang.

Saat bercerita tanpa sengaja, dia sama sekali tak menjual kesedihan. Dia sangat bersahaja dan gigih perjuangan hidupnya. Dia bilang, “Ternyata, saya lebih kaya daripada si pencuri!”

Ketika bercerita kepada seorang teman, rupanya dia mengenal pedagang ini. Dulu, rekan sekantor teman saya menyimpan nomor telepon Kartini, dan sering membeli rokok setengah bungkus lewat sms atau telepon. Kartini segera mengantar, walau pesanan tak seberapa.

Andai pembaca ingin menyumbang, setidaknya demi anaknya, silakan menyalurkan lewat Komunitas Blogger Bengawan, supaya laporan pertanggungjawabannya bisa dilakukan di web tersebut.

Salam.