Obrolan tentang Jokowi

beberapa jam ngobrol hore dengan Kang Maman. asik sungguh. beliau berbagi pengalamannya sebagai pegiat literasi. hampir semua pelosok Nusantara telah ia jelajahi. plus-minus masyarakat beserta lingkungan (bendawi dan nonbendawinya) telah banyak dia tahu. metode pembelajaran literasi diterapkannya ketika bersama masyarakat, dari anak-anak hingga manula.

tak cuma soal bisa membaca dan memahami sebuh literatur, dia mengajak siapapun yang terlibat untuk akrab bersama alam. berkaca pada yang lampu, menelisik yang sedang terjadi dan menyongsong masa depan. kehidupan harus terus berjalan, harapan harus dipijakkan pada kenyataan, secara rasional. empiris.

asik sungguh ketika dia cerita formula belajar bersama. semua adalah guru bagi yang lain. buku-buku atau aneka referensi digital harus dipelajari bersama, dengan tema selalu berganti seiring hari. senin bisa mendongeng, selasa bisa tentang bercocok tanam, dan lain hari bisa mengupas ekonomi, lingkungan, dan sebagainya. pokok bahasan bisa dibuat kesepakatan. yang penting semua berjalan dengan fun.

plus-minus kebijakan pengiriman buku gratis tanggal 17 lewat kantor pos pun dituturkan. menarik.


keseruan bahasan kian bertambah menjelang dinihari. ngobrol perkara politik, terutama menyoal sepak terjang Pak Jokowi.

banyak insight kami dapat dari temuannya di lapangan. baik dari masyarakat dan fakta sosial di pelosok tanah air, maupun relasinya dengam banyak pihak, dari orang kebanyakan hingga manusia berkategori bukan orang sembarangan.

hampir semua klop dengan gejala yang saya rasakan. sebagian teman sedang mabuk kepayang, yakin Pak Jokowi bakal menang gampang.

benarkah?

pemilu presiden kali ini adalah pertaruhan besar bangsa Indonesia. praktik politik tingkat tinggi sedang berjalan. senyap. awam tak mudah mendeteksi. gempuran kepada Jokowi sungguh luar biasa hebat.

yang mencemaskan, kebanyakan kita (juga relawan) seperti terlena. rival selalu melempar persoalan agar kita sibuk menanggapi, sehingga lupa melakukan aksi nyata seperti diminta Pak Jokowi, agar kampanyenya door to door. dari orang ke orang, bertatap muka.

yang paling berbahaya adalah situasi dimana antarkita saling curiga. itulah awal kelengahan karena situasi demikian akan mudah menggiring kita berprasangka. dan, selayaknya orang curiga biasanya akan baperan, dan sibuk mencari kekurangan/keburukan teman. jika kemudian kecurigaan yang belum tentu terbukti itu dituturkan antarorang, akan lahir pengelompokan, bahkan persekongkolan. akibat lainnya, kita lupa berhadapan dengan siapa dan sejatinya hendak berjuang untuk apa. lalu, lupalah segalanya…

konsolidasi itu perlu. bahu-membahu juga masuk kategori fardhu. berbagi tugas adalah cara cerdas. sebab kemenangan tidak boleh berhenti di angan-angan.


satu hal yang kutangkap jelas, adalah penilaian Kang Maman atas kiprah Pak Jokowi. katanya, dia orang hebat. orangnya humanis, kontrol emosinya bagus, mampu mengambil keputusan pada saat yang tepat.

Kang Maman mengingatkan sinyal yang diberikan Pak Jokowi kepada kami (beberapa puluh saja) saat berjumpa di forum curcol berdurasi dua jam lebih, beberapa waktu lalu. kami diminta mengajak sebanyak mungkin orang, baik dengan bertatap muka atau bermedia (apa saja), agar tak lengah digoda oleh provokasi rival. harus fokus.

peristiwa pembantaian para pekerja pembangunan jembatan di Papua, jangan dilihat sebagai peristiwa kriminal bersenjata biasa. kunjungan elit politik Indonesia kepada pemimpin Singapura pun jangan diabaikan. satu nama bisa punya banyak cerita. benang merah bisa dicari asal kita waspada dan cermat membaca tanda dan gejala.

obrolan malam itu, memang terkesan ngayem-ayemi, bikin senang. tapi tetap diingatkan agar siaga penuh dalam kewaspadaan dan kewarasan. tarik-ulur pengambilahina saham Freeport tak sedangkal yang kita baca di media massa. surat penjanjian yang seharusnya dikuasai negara, pun dibuat ‘raib’ oleh orang-orang yang menjadi bagian dari masa lalu: para penikmat rente, upeti dan konsesi.

politik memang selalu pelik. pemilu bukan semata pergantian nakhoda sebuah kapal bangsa. ada beragam kepentingan berkelindan. homo ekonomikus tak pernah setiap kepada negara selain formalits belaka. pengabdiannya selalu penumpulan harta. maka wajar jika perjuangan untuk meraihnya bisa dilakukan sedemikian rupa, karena mereka adalah serigala pemangsa segala. jangan bicara etika. berharap kepada mereka adalah kesia-siaan belaka.

asal mengganggi saja. ada dua jenis benda milik kita, yang jumlahnya besar tiada tara, bahkan bisa diibaratkan tak akan habis hingga kiamat tiba. dunia tergantung padanya, juga Indonesia sebagai pemiliknya. ia melebihi nilai emas dan sejenisnya, dan dunia kini dan masa depan tergantung atas keberadaannya.

selama ini, dua jenis itu dikesankan sebagai sampah, dan dibuang sebagai limbah. padahal, dalam jumlah yang melimpah telah diperdagangkan oleh penadah (bukan sembarang penadah pula), sehingga para pelakunya bisa kaya raya dan punya kuasa bak Raja Abrohah.

oleh Jokowi, hal itu sudah diketahui dan tatakelolanya sudah diperbarui. banyak orang merasa dibuat rugi. karena itu, mereka benci Jokowi, lalu mengajak sebanyak mungkin orang (baik rakyat, tokoh agama hingga elit politik dan pebisnis dari berbagai belahan dunia) untuk memusuhi Jokowi.

jangan pernah merasa yakin Pak Jokowi dan Kiai Ma’ruf Amin akan menang mudah dalam pemilihan presiden mendatang. seram!

jika kita bisa memenangkan pasangan ini, insya Allah Indonesia akan segera jadi bangsa yang benar-benar besar. Pak Jokowi sudah beberapa kali berhasil zig-zag di tengah perseteruan Amerika dan China. mereka respek, meski juga kecewa. tapi tak punya cara dan alasan yang jitu untuk menaklukkan Si Tukang Kayu dari Solo itu.

terima kasih obrolannya, Kang Maman…

solo-jakarta, 151218

Jokowi Layak (di)Lengser(kan)

Jika kini kian riuh suara #2019GantiPresiden, menurut saya wajar belaka. Sikap dan tindakan Pak Jokowi memang memenuhi syarat untuk segera dihentikan. Jika Jokowi kembali terpilih jadi Presiden periode 2019-2024, itu berarti petaka sudah di depan mata orang-orang yang memusuhinya. Kuncinya ada pada 40 orang yang yang pada 2017 tercatat memiliki kekayaan US$119 milyar atau setara Rp.1.725 trilyun (dengan kurs Rp 14.500 per dolar).

Kita tahu, APBN 2019 ‘hanya’ Rp 2.400 trilyun. Sementara jika menilik postur anggaran pada 2018, target pendapatan negara hanya Rp 1.894,7 trilyun.  Hanya terpaut sedikit dengan total kekayaan mereka. Serem!

Bisa kita bayangkan, di tengah ketatnya rezim Jokowi-JK mengontrol anggaran lewat sistem serba-e seperti e-budgeting, e-procurement dan e- lainnya lagi, kekayaan 40 orang tadi bisa meningkat sedemikian pesat, dari hanya US$22 milyar pada 2006 menjadi US$119 hanya dalam waktu 11 tahun. Jangan-jangan, angka itu baru ketahuan saat menyusun rencana penerbitan kebijakan tax amnesty. Apa jadikan jika Pak Jokowi bersikap sekompromis seperti rezim-rezim sebelumnya?!? Continue reading

Jokowi dan MICE Indonesia

Kalau nyimak ramainya pertemuan (tiga) tahunan IMF-Bank Dunia gini, yang kebayang di kepalaku adalah kegembiraan Pak Jokowi. Gelaran-gelaran seperti inilah salah satu concern dan yang disukainya. Solo sebagai salah satu Kota MICE di Indonesia termasuk salah satu impiannya. Itulah kenapa beliau membuat Solo Batik Carnival dan beraneka festival seni-budaya selama menjabat Walikota Solo.

Untuk soal ini, aku merasa tahu banget. Selain lingkungan pergaulanku dulu adalah para seniman, saya pun suka membuat esai dan tulisan-tulisan ringan mengenai seni, budaya, dan pariwisata. Selain untuk The Jakarta Post dan Suara Merdeka (untuk beberapa waktu), juga reportase khusus untuk VENUE, majalah yang mengkhususkan dunia Meeting, Incentive Tourism and Exhibition.

Tak hanya untuk keperluan tulisan, saya sering terlibat obrolan berdua mengenai MICE dengan Pak Jokowi. Dua pebisnis MICE besar di Jakarta pernah bernegosiasi dengan Pak Walikota Jokowi untuk mewujudkan mimpi beliau memiliki kompleks dengan fasilitas seperti JICC (Jakarta) atau JEC (Yogya). Pembicaraan dengan kedua pemodal besar Jakarta itu mentok. Begitu juga kandasnya rencana kerjasama dengan konglomerat lokal yang tertarik menyulap kawasan Pedaringan (di belakang kampus Universitas Sebelas Maret) menjadi ruang pertunjukan, pameran lengkap dengan hotelnya. Continue reading

Kewajiban Revolusi Mental Pendukung Jokowi

Tulisan ini dibuat dua bulan sebelum dipublikasikan. Saya unggah setelah melihat konsistensi seorang Jokowi dalam memaknai kekuasaan, dan memanfaatkannya untuk melakukan perubahan. Desakralisasi upacara peringatan hari kemerdekaan adalah contoh nyata, selain sikap dan perilaku kesehariannya.

Pada penghujung ramadan 2017, linimasa semua media sosial diramaikan dengan pamer pamer pujian, baik oleh para pendukung militan dan simpatisan Presiden Jokowi. Sebagian mengungkapkan tidak adanya aksi sweeping terhadap restoran dan rumah makan hingga tempat-tempat hiburan, oleh kelompok yang mengatasnamakan umat Islam. Sebagian lainnya menyebut kelancaran arus mudik, dengan bumbu sindiran kepada para ‘pembenci’ Jokowi yang kehabisan amunisi untuk mem-bully.

Sebagai pendukung Jokowi, saya risih dengan narasi-narasi sinikal yang sangat mudah kita dapati di layar gawai pribadi. Meski bisa mengerti kenapa itu bisa terjadi, namun yang demikian sejatinya menjadi bukti bahwa banyak di antara kita sudah kehilangan sikap rendah hati. Continue reading

Jangan Biarkan Indonesia Bubar

Surat Terbuka untuk Presiden Jokowi

Sugeng dalu, selamat malam, Pak Jokowi.

Saya mau matur, saat ini saya sangat lelah mengikuti perdebatan sekolah lima hari yang digagas dan dibuatkan peraturannya oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Muhajir Effendi. Hampir seluruh elemen Nahdlatul Ulama, apalagi para pengasuh pondok-pondok pesantren, pun menyuarakan penolakan. Madrasah diniyyah yang sudah ada sejak jauh sebelum Indonesia merdeka, tiba-tiba akan kena imbas kebijakan tersebut.

Jika kebijakan tersebut dalam rangka pembentukan karakter bangsa, kira-kira karakter seperti apa yang bakal muncul, jika kita dapati anak-anak PAUD dan TK ‘Islam moderen’ sudah fasih bicara ‘merokok itu haram’?

Ini bukan karena saya perokok dan mayoritas orang NU, santri dan kiai-kiainya banyak yang merokok. Bukan! Tak sedikit, kok, kiai dan santri NU yang meyakini merokok itu hukumnya makruh. Meski Allah dengan kun fayakun-Nya bisa membuat anak-anak PAUD dan TK kita menjadi cerdas secara nalar dan emosional secara mendadak, tapi saya lebih percaya kalimat ‘merokok itu haram’ adalah buah pendidikan guru-guru di sekolahnya, entah dia guru agama atau bukan. Continue reading