ABU 96

Sumber: Infografis Tirto.id

Sumber: Infografis Tirto.id

Kalah jadi abu, menang jadi arang. Begitu peribahasa yang saya dapat sejak duduk di bangku sekolah dasar, yang maknanya kurang-lebih tidak ada gunanya bertarung, berperang atau bermusuhan satu sama lain.

Tapi, makna peribahasa itu bisa saja dimaknai berbeda dengan Rizieq Shihab dan para pengikutnya, yang hobi banget mengobarkan permusuhan kepada siapapun. Semua hal bisa dijadikan musabab. Entah orang hendak membangun gereja, bisnis tempat hiburan hingga warung makan buka siang hari di bulan Ramadhan.

Atas nama penegakan ketertiban dan menjaga keimanan sebagian orang, FPI dan kawan-kawan tak segan menggasak warung, tak peduli pemiliknya tua renta dan bermodal pas-pasan. Apalagi diskotik atau tempat hiburan malam yang dikelola dengan modal berlebih, tentu jauh lebih menggoda syahwat mereka dalam membentengi moral umat.

***

Saya sungguh gembira ketika Aksi Bela Ulama 9 Juni berakhir sepi. Jangankan 500 ribu seperti yang mereka teriakkan sebelumnya, bahkan seribu pun tak sampai. Continue reading

Peng-GusDur-an Jokowi yang Gagal

Insiden rusuh politik menyusul ‘Aksi Damai’, Jumat (4/11) malam bukanlah semata-mata demi menuntut keadilan (meski samar) terhadap tuduhan penistaan agama terhadap Ahok. Lebih dari itu, target utamanya adalah penurunan Jokowi dari kursi kepresidenan. Hingga detik ini, tak ada satupun alasan yang bisa diterima akal manusia waras, alasan penjatuhan Jokowi. Adakah pelanggaran konstitusi yang dilakukan Jokowi?

Jika pokok soalnya adalah tidak terimanya sebagian orang yang merasa sebagai tokoh Islam dan panutan muslim atas tuduhan bahwa Ahok melecehkan firman Tuhan pada Surat Al Maidah ayat 51, kenapa mereka tidak merunut kebenaran ucapan Ahok? Simak baik-baik, reaksi keras bermunculan setelah beredar video editan dan transkrip tak utuh yang diunggah Buni Yani di laman Facebook-nya.

Jika tidak ada udang di balik rempeyek, politisasi murahan semacam itu tak akan terjadi. Bahkan seorang doktor lulusan IPB, yang sidang promosinya dilakukaan saat yang bersangkutan menjabat Presiden, pun menampakkan rasa gerahnya dan geramnya lewat sebuah konperensi pers di kediamannya. Maaf jika saya harus berburuk sangka kepada sang doktor, yang menurut hemat saya bukanlah orang berotak cetek. Continue reading

Menjauhkan Polisi dari FPI

Ketika Presiden Jokowi mengajukan nama Komjen Tito Karnavian sebagai calon tunggal Kapolri mendatang, saya merasa lega. Ia seorang perwira polisi dengan karir cemerlang, pengalaman segudang dan deretan prestasi yang membuat orang tercengang. Matang di detasemen khusus antiteror dan doktor dengan kajian khusus terorisme dan radikalisasi Islam, diharapkan bisa mewujudkan Indonesia sebagai negara demokrasi dengan hukum yang tegak.

Ilustrasi: NN

Ilustrasi: NN

Saya yakin, penunjukan itu bukan tanpa alasan. Sebagai jenderal muda, justru Tito akan punya waktu panjang menjadi pengendali kepolisian. Jika diasumsikan menjabat Kapolri hingga pensiun, ia punya waktu enam tahun untuk melakukan pembenahan institusi dan personil. Asal tahu saja, banyak perwira-perwira muda di kepolisian yang prihatin dengan nama buruk korps akibat ulah segeintir oknum.

Saya pernah punya kenalan polisi (mungkin sekarang sudah brigjen), yang semasa kuliah di PTIK, konon membuat skripsi tentang praktik sogok-menyogok untuk kenaikan pangkat dan memperoleh jabatan. Data-data semacam itu, saya kira sangat banyak di lembaga pendidikan kepolisian, namun tersimpan di almari sebagai arsip karya tulis. Hanya orang-orang dengan profesionalisme seperti Tito-lah yang mau membacanya, meski ia pun tahu itu bukan rahasia lagi di kalangan mereka. Continue reading

Partai Baru untuk Jokowi?

Banyak kalangan menyebut Jokowi bisa memenangi rivalitas melawan Prabowo dalam pemilihan presiden 2013 lantaran peran relawan. Sebagian relawan pun mengklaim peran mereka sangat menentukan, sehingga cenderung menafikan peran partai politik, terutama PDI Perjuangan sebagai partai dimana Jokowi ‘berasal’. Oleh karena itu, sesaat setelah Jokowi terpilih dan disebut sebagai petugas partai oleh penguasa PDI Perjuangan, bereaksi keraslah para relawan. Lalu, muncullah wacana perlunya bikin partai sendiri.

Pernyataan terbuka semacam ini merupakan cara Jokowi menghindari korupsi. Publik bisa menagih janji terbukanya ini, kapan saja.

Pernyataan terbuka semacam ini merupakan cara Jokowi menghindari korupsi. Publik bisa menagih janji terbukanya ini, kapan saja.

Merespon wacana pendirian partai baru untuk Jokowi, saya kok merasa menjadi salah satu relawan (meski ecek-ecek) yang meragukan terwujudnya. Ada beberapa alasan yang melatari keyakinan atas pendapat saya.

Pengelolaan partai politik bukanlah perkara sederhana. Membangun jaringan hingga seantero Nusantara bukan saja memerlukan ketersediaan waktu, namun juga energi yang tak main-main. Selain itu, dibutuhkan sosok organisator yang mumpuni dalam segala bidang, sehingga benar-benar mampu merekrut kader-kader yang memiliki militansi tinggi dan kesamaan sikap dengan Jokowi, jika ia dijadikan patron/simbol.

Seorang Jokowi yang saya pahami adalah sosok yang konsisten, selalu berusaha menyamakan tutur dan tindakan untuk hal-hal prinsip, meski masih bisa melakukan kompromi untuk perkara-perkara teknis. Satu hal yang tak bisa diabaikan dalam menilai sikap dan perilaku Jokowi, adalah sapek kejawaannya. Continue reading

Cerita Makan Siang dengan Presiden

Saya menjadi satu di antara belasan Jamaah Wirid QWERTY yang bertemu dan makan siang di Istana Negara bersama Presiden Jokowi, Selasa (2/2) siang. Mayoritas jamaah baru kenal nama sehingga menjadi momentum perdana kenal wajah mereka. Tak ada obrolan serius selama sekitar 90 menit pertemuan. Soal teror Sarinah, kereta cepat hingga Gibran jualan martabak disikapinya dengan cara bicara yang santai.

Jamaah Wirid QWERTY foto bersama Presiden Jokowi (Foto: Agus Suparto)

Jamaah Wirid QWERTY foto bersama Presiden Jokowi (Foto: Agus Suparto)

Dari posisi duduk berhadapan, saya lebih banyak mengamati ekspresi Pak Jokowi. Ada rasa penasaran akan banyak gosip yang masuk di memori saya sejak pertama kenal, sebelas tahun silam. Karenanya, momentum itu saya gunakan betul untuk menguji dan mencari jawab atas banyak hal.

Soal teror Sarinah, terkonfirmasi sudah seperti keyakinan dan bukti yang saya miliki. Pak Jokowi benar-benar tidak bisa dipermainkan oleh teroris, siapapun mereka. “Yang namanya teroris akan selalu melakukan apa saja yang membuat banyak orang takut. Karena itulah saya mempercepat kunjungan ke Cirebon untuk mendatangi lokasi teror di Sarinah,” kata Presiden.

Pak Jokowi pun menceritakan laporan para petinggi institusi penjaga keamanan negara yang meyakinkan kasus sudah tertangani dengan baik dan efektif, sehingga Presiden tidak perlu mengunjungi lokasi kejadian. Tapi, bagi Pak Jokowi, kunjungannya ke lokasi insiden teror itu penting dan harus dilakukan untuk mengirim pesan kepada teroris dan masyarakat dunia, bahwa aparat keamanan sigap menyelesaikan perkara dan bekerja efektif. Continue reading