Galau Si Pandi

Suatu hari, Si PANDI meminta pesuruhnya untuk mewakili curhatnya dengan saya. Intinya, Si PANDI galau sebenar-benarnya lantaran melihat gejala, banyak orang Indonesia tak lagi bangga dengan identitasnya. Jangankan pada tataran rakyat, lha wong pemerintahnya saja banyak yang tak memiliki nasionalisme memadai. “Terlalu bangga menjadi warga global, tapi menanggalkan identitas kulturalnya,” kata Si PANDI seperti ditirukan suruhannya.

“Hari gini masih ngomongin nasionalisme ?” sergah saya.

Sigit Widodo, orang yang jadi suruhan Si PANDI itu langsung membalas kalimat saya dengan sengit. “Sampeyan ini gimana, ta? Sebagai bangsa merdeka, sejak dalam pikiran hingga perbuatan, kita harus menunjukkan kepada dunia, bahwa kita itu ada. Eksis. Supaya mereka tak berasosiasi buruk, setiap ada kata Indonesia disebut, gambaran yang muncul di benak manusia sedunia hanya korupsi saja,” katanya.

Saya manggut-manggut. Pura-pura paham, supaya Sigit lega dan ketika kembali menghadap Si PANDI, bosnya, bisa melaporkan bahwa saya sudah sepenuh hati memahami maksudnya. Apalagi, Sigit mencontohkan, bagaimana orang Jepang, Malaysia, India, Inggris, Korea, China, Arab Saudi, Iran dan masih banyak lagi yang membanggakan identitas kultural dan kebangsaannya.

“Jangan niru Amerika, deh. Mereka tak punya kejelasan identintas, tapi maunya merangkum dunia, lantas menghegemoni di segala aspek kehidupan. Kita mestinya bangga dengan identitas dan produk kita sendiri, seperti orang Jepang bangga memakai Toyota atau Honda, padahal harganya mahal luar biasa di dalam negerinya. Orang Korea juga begitu, makanya tak salah jika kita meniru mereka,” ujar Sigit, kian berapi-api.

“Eh, ngomong-ngomong, apa perlunya juga kamu menawarkan identitas dot ai di (.id) kepada saya yang masih pakai dot com? Bukankah saya, walau pakai dot com, saya juga mengelola blog dengan menggunakan bahasa Indonesia dan Jawa? Dan itu sudah menunjukkan identitas saya kepada dunia???”

Halah! Sampeyan begitu, kan karena tak bisa bahasa Inggris. Jangan cari alasan, deh!” Sigit mulai gusar.

Okay… Eh, baiklah. Kenapa harus saya yang memulai. Kapan kamu mengganti dot net-mu ke dot ai di? Mosok berani ngajak-ngajak tapi tak mau memberi teladan. Kaya pejabat saja kamu itu, bisanya Cuma nyuruh tapi tak mau memberi contoh tindakan lebih dulu…”

“Sedang diproses, Mas. Aku juga akan pakai dot ai di segera. Saya malu kalau sampai disebut sebagai orang tak tahu diri, disamakan dengan petinggi-petinggi negeri ini yang juga hobi korupsi dan kolusi. Percayalah, saya orang baik-baik,” sahut Sigit.

Sigit lantas menyodorkan banyak data ironi tentang identitas kebangsaan.  Jumlah nama domain dot ai di untuk komersil, misalnya, hanya 30.932. Jauh lebih kecil dibanding yang menggonakan dot com yang ada sebanyak 179.333 alias seperlima lebih sedikit. Beruntung, tidak ada dot mil karena sebagai institusi berslogan “NKRI Harga Mati”, TNI sudah mencatatkan 176 nama domain mil dot ai di (.mil.id), walaupun TNI cuma punya tiga angkatan: darat, laut, dan udara. Begitu pula dengan institusi pemerintahan, di buku besar Si PANDI sudah tercatat ada 2.625 domain.

Lalu, kepada Sigit saya sarankan agar melapor ke Si PANDI, agar setiap komunitas blogger diberi kemudahan memperoleh domain dot o èr dot ai di (.or.id) tanpa kerumitan syarat ini-itu, alias semudah membeli domain .org atau .com. Yang penting ada lembaganya, ada kegiatannya, ada pengurus/penanggung jawabnya. Apalagi, semua komunitas blogger berciri sama, yakni lembaga nirlaba, dan lantaran dibentuk oleh kesamaan hobi blogging dan kumpul-kumpul, maka mereka tidak menjadikan komunitasnya sebagai lembaga formal seperti lembaga swadaya masyarakat atau civil society organization (CSO) yang perlu berbadan hukum.

Mewakili Si PANDI, Sigit pun mengiyakan. Ia pun berharap komunitas blogger dan bloggernya mau membantu menyebarluaskan perlunya pemakaian identitas kebangsaan melalui pemakaian nama domain untuk blog pribadi, badan usaha, sekolah dan aneka rupa jenis lembaganya. Secara formal, Sigit mencontohkan, sudah memberi dua nama domain untuk Komunitas Blogger Bengawan (bengawan.or.id) dan Yayasan Talenta (talenta.or.id), organisasi nirlaba untuk advokasi kaum difabel, yang kebetulan menjadi ‘induk semang’ Bengawan karena sudah merelakan sekretariatnya digunakan bersama-sama.

Sigit pun menceritakan, Si PANDI menjanjikan akan memberi nama domain gratis bagi para blogger yang tergabung dalam sebuah komunitas, walaupun hanya untuk setahun pertama, yakni dot web dot ai di (.web.id). “Tolong jangan dilihat harga beli domainnya yang murah, tapi komitmen PANDI untuk mewarnai Indonesia. Supaya dunia juga memandang eksistensi kita di ranah Internet,” ujar Sigit.

Saya senang dengan jawaban Sigit dan PANDI. Saya pun teringat dengan kata-kata Mas Onno W Purbo yang pingin turut mendorong majunya konten lokal, termasuk dengan penggunaan server lokal. Kabarnya, Asosiasi Perusahaan Jasa Internet Indonesia (APJII) dan ICT Watch (InternetSehat) bersama sejumlah lembaga nirlaba, sudah menyediakan server untuk hosting web dari komunitas-komunitas nirlaba di Indonesia.

Kata Mas Onno, ada banyak keuntungan dengan menggunakan server lokal untuk aneka ragam postingan. “Jika traffic-nya sangat tinggi, penggunaan server di dalam negeri akan menghemat banyak devisa, sebab pengakses dari Indonesia tidak perlu menggunakan jalur internasional yang harus dibayar oleh setiap pengguna. Jumlahnya bisa mencapai trilyunan rupiah per tahun, lho….,” ujar Mas Onno, dua tahun silam.

Saya pun menganggung-angguk, pura-pura paham, mendengar ucapan Mas Onno, dalam sebuah perjalanan mengantarnya pulang dari kantor ICT Watch/InternetSehat, beberapa tahun silam. Penggunaan identitas lokal ini pun nyambung dengan banyak program besar negara, seperti yang diupayakan Kementerian Komunikasi dan Informasi (Kemkominfo) dengan melakukan kampanye dan membangun jejaring dengan Relawan Teknologi, Informasi dan Komunikasi (Relawan TIK).

Kian menarik pula ketika banyak pihak, termasuk sejumlah operator seluler dan penyedia (jasa) bandwidth di Indonesia terus mendorong majunya konten-konten lokal lewat serangkaian kegiatan, termasuk pelatihan-pelatihan di sekolah dan masyarakat. Seperti XL (ini sudah pakai dot ai di) misalnya, yang telah mendukung sejumlah kegiatan Bengawan, dan terakhir di acara ulang tahun BloggerNgalam, lewat #OblogMerahMuda, 7-8 Januari silam.

Nah, jika kian banyak pihak menyadari perlunya konten lokal dan identitas lokal, kapan saya (blontankpoer.com), Sigit Widodo (widodo.net), Relawan TIK (relawan-tik.org), BloggerNgalam (bloggerngalam.com), dan banyak pelaku (telkomsel.com, indosat.com, dan lain-lain) dan penggiat Internet di Indonesia beralih menggunakan nama domain dot ai di???  🙂

 

 

Matematika Event

Percaya boleh, tidak pun bukan soal. Matematika event itu wajar saja sejatinya. Fair dan unfair-nya bisa dikira-kira, bahkan sejak mula. Sayang, masih banyak yang belum paham, tapi tak pernah ada yang mau mengajarkan cara dan strateginya. Sayang, sekali lagi sayang, malah ada yang menungganginya.

Ini sekadar cerita saja, tentang dunia perbloggeran, khususnya. Benar-tidaknya, silakan dinilai sendiri. Yang pasti, setiap merencanakan event, selalu ada hitung-hitungannya. Dari jumlah pihak yang terlibat, sebaran daerah asal, dan seterusnya, itu bisa dijadikan sebagai modal untuk itung-itungan alias bikin bargaing dengan target calon penyandang dana.

Jujur saja, adakah di Indonesia, sebuah kelompok, komunitas atau apapun namanya yang memiliki dana sehingga bisa menjalankan programnya secara mandiri? Tak adakah keterlibatan pihak lain sebagai penyandang dana, entah itu sebagai donatur, sponsor dan sebagainya? Tak adakah penyandang dana yang memberikan dananya tanpa hitung-hitungan pula?

Pencitraan juga penting untuk sebuah perusahaan yang bergerak di bidang jasa atau produksi barang (massal atau bukan). Dan, kadang ini lebih mahal ongkosnya dibanding untuk tujuan memperoleh ‘kembalian’ secara cepat dan besar atau hard selling.

Yang rentan adalah jika di dalam ‘kelompok penyelenggara’ ada vested interest yang dilakukan baik secara individual, klik (kelompok kecil di dalam kelompok), atau malah lebih sistematis dari itu, dalam arti memang sejak awal mereka bergerombol untuk sebuah ‘permufakatan tertutup’. Kira-kira, bagi hasil antarsesama…..

Menyelenggarakan sebuah event, bagi komunitas blogger, sejatinya susah-susah mudah. Lobi, bahkan bisa majal, jika konsep tak matang, apalagi tak bisa menjelaskan target yang hendak dicapai, seperti misalnya siapa saja pihak yang terlibat sebagai pendukung, peserta, narasumber, dan lain-lainnya yang secara umum bisa disebut sebagai stakeholders atau pemangku kepentingan. Sebab dari situlah, calon mitra (tak melulu penyandang dana) akan berhitung manfaat atau untung-ruginya jika terlibat.

***

Tentang SOLO

Komunitas Blogger Bengawan, misalnya, pernah memperoleh kepercayaan sponsorship dari XL Axiata, Garuda Indonesia, Pemerintah Kota Surakarta, juga lembaga-lembaga swadaya masyarakat di Solo dan sekitarnya. Semua, berangkat dari ‘jualan ide’, gagasan sebuah event yang melibatkan banyak komunitas, offline maupun online.

Satu peristiwa yang mengejutkan bagi kami di Bengawan adalah ketika ‘menjual ide’ mempertemukan kaum onliners dan offliners. Dan, di luar dugaan, beberappa brand besar merespon positif, selain Pemerintah Kota Surakarta mendukung penuh. Asal tahu saja, ketika Pemkot Surakarta mendukung event yang kami namai Sharing Online lan Offline (SOLO. Lan adalah dan dalam bahasa Jawa), maka dukungan itulah yang kami sikapi sebagai ‘modal’ awal.

Solo sedang seksi, menarik bagi banyak orang. Walikota Jokowi adalah ikon, dan perubahan suasana kota yang luar biasa atraktif, memancing rasa penasaran orang luar kota berdatangan. Itu merupakan faktor lain yang bisa ‘dikapitalisasi’, dalam arti bisa ‘dirupiahkan’ dalam arti yang luas. Intinya, kami memiliki ide, lalu mendatangi pihak yang berkepentingan, di antaranya Pemkot Surakarta yang butuh publikasi positif tentang kotanya.

Pemkot Surakarta ingin Solo menjadi MICE City baru di Indonesia, tempat di mana cukup pantas dan tepat untuk menggelar banyak meeting dan konvensi, pentas-pentas seni/budaya, serta jadi daerah tujuan wisata yang menyenangkan. Penataan Kampung Kauman dan Laweyan sebagai kampung batik, dibangunnya pasar malam, renovasi pasar barang antik, area pejalan kaki dan sebagainya itu direkayasa untuk itu. Di situlah ada titik singgung kepentingan.

Dan, asal tahu saja. Terhadap Pemerintah, kami tak pernah minta dan menerima dana tunai. Kami lebih menyukai bantuan fasilitas dan bentuk-bentuk partisipasi natura. Bukan apa-apa atau hendak sok-sokan. Kami tak mau ribet saja dengan urusan pertanggungjawaban administratif yang rumit. Bantuan berupa fasilitas ruang pertemuan, sarana transportasi hingga pembebasan pajak promosi, itu sudah sangat memudahkan kalkulasi produksi. Berbeda jika kami harus ‘belanja’ sendiri untuk sewa ruang, tata suara, dan sebagainya. Pasti mahal dan menyedot banyak sumberdaya finansial, sementara dana sponsor belum tentu ada.

Komitmen awal kerja sama dengan Pemerintah Kota Surakarta, toh bisa ‘dijual’ kepada pihak ketiga. Tinggal bagaimana kita mempertemukan kepentingan, yang sama-sama bermanfaat. Sebagai komunitas abal-abal, kerja sama dengan pemerintah juga memberi nilai yang sangat luar biasa. Itu juga membuat kami percaya diri berhadapan dengan perusahaan-perusahaan besar yang kami jadikan target calon sponsor/penyandang dana.

Ketika pembicaraan awal dengan Pemerintah Kota Surakarta, juga kepada sudah kami jelaskan, kenapa onliners juga perlu memahami dan belajar dari offliners, di mana bisa bersinergi atau bekerja sama, dan sebaliknya. Kenapa offliners yang kami ajak adalah pelaku usaha mikro-kecil dan menengah? Bagaimana profil mereka, lantas kenapa harus dipertemukan dengan Nukman Luthfie. Semua ada penjelasannya.

Lantas, apa manfaat dan urgensinya mengundang individu dan/atau wakil dari komunitas blogger dari luar kota? Ya, sebagai event komunitas blogger, kami ingin memanfaatkan event sekaligus sebagai medium temu kangen, atau kopi darat antarteman blogger. Maka dari itu, kami pun meminta dukungan Mas Didi Nugrahadi dari Komunitas Langsat/Salingsilang. Kami ingin, pertemuan formal dan informal melahirkan gagasan kerja sama dan berbagai bentuk kemitraan lain secara alamiah. Kami yakin, tak ada seseorang/komunitas yang tak berkepentingan akan sebuah pola relasi. Soal ada dampak manfaat sosial, eksistensi, ekonomis, dan seterusnya, sepanjang tidak dijadikan orientasi utama, saya yakini sebagai hal wajar.

Prinsipnya, kami tak ingin mengeksploitasi siapapun. Penyediaan akomodasi dan konsumsi serta transportasi lokal, merupakan hal yang wajar ditanggung pengundang. Itu tataran etisnya. Jika bisa menyertakan cinderamata sebagai kenang-kenagan kopdar, tentu akan lebih membahagiakan pengundang, syukur para tetamu. Bukan kewajiban, tapi sebaiknya diupayakan. Yang pasti, semua yang ditanggung panitia/pengundang harus diinformasikan sejak awal, sejak jauh-jauh hari, supaya undangan bisa memperhitungkan bekal dan menyusun perencanaan.

Semula, kami mengundang komunitas ‘tetangga’, dalam arti mereka yang berasal dari kota-kota terdekat, yang kami asumsikan tidak menyusahkan orang untuk datang. Sungguh beruntung, dari hanya beberapa komunitas yang kami undang dan kami kirimi surat pemberitahuan, yang datang tiga kali lipat dari target awal yang cuma 100 orang, termasuk 30-an ibu-ibu pelaku UMKM. Bahkan, ada yang berasal dari seberang lautan, seperti Batam, Pekanbaru, Makassar, dan Banjarmasin.

Kehadiran ratusan teman, tentu memberi bobot event yang kami rancang. Bohong kalau kami sebut tak bermaanfaat bagi komunitas kami. Soal membengkaknya biaya yang jauh di luar perkiraan, itu risiko, juga konsekwensi yang harus kami hadapi sebagai penyelenggara dan pengundang. Kami harus memuliakan tamu.

Tahukah Anda, dari event itu kami memperoleh berkah yang luar biasa? Bengawan menjadi ‘seolah-olah’ eksis. Banyaknya postingan dari teman-teman blogger yang datang, bahkan menaikkan kredibilitas event kami. Padahal, sejak awal kami tak pernah meminta ada teman-teman menulis tentang event kami, juga tentang apa saja yang mereka lihat dan rasakan selama di Solo. Tabu bagi kami, bahkan jika harus ‘memaksa dengan cara sangat halus’ melalui lomba posting.

Sharing Online lan Offline (SOLO 2010) benar-benar hendak berbagi pengalaman, makanya kami meminta bantuan teman-teman BHI yang kami anggap sukses membuat gerakan pemberian ‘beeasiswa’ kambing untuk anak-anak sekolah di Cilacap. Sangat spontan, meski sejatinya terukur, tapi efektif dan benar-benar dirasakan manfaatnya oleh para siswa di kampung miskin, di mana tingkat putus sekolahnya relatif tinggi. Karena itu, kami beruntung dengan hadirnya Kang Bahtiar mewakili BHI.

Efeknya, yang saya sebut berkah tadi, kami dapat sumbangan koneksi internet cepat dari XL Axiata, yang sudah kami nikmati setahun lebih, dan bisa dimanfaatkan banyak orang. Dari teman-teman UMKM, difabel, juga beberapa pekerja seks komersial dan ibu-ibu korban kekerasan dalam rumah tangga, semua bisa belajar komputer dan internet secara gratis. Enam unit komputer disumbang Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) Pusat, juga beberapa unit dari ICT Watch/InternetSehat.

Teman-teman Bengawan bisa bereksperimen apa saja, dan kami bisa merancang banyak hal, baik yang bersifat sosial maupun ada manfaat ekonomis/komersial. Harus sepadan, seimbang. Sosial melulu bisa membuat kami kacau, tapi berorientasi ekonomis semata, bisa-bisa membuat lupa apa-apa, termasuk yang ada di sekeliling kami. Jadi, jika ada yang menyebut berkomunitas itu tak penting, apalagi cuma jadi alat ‘tetua mencekoki gizi buruk kepada yang muda’, ya apa hendak dikata. Setiap orang punya argumentasi setiap berucap dan berpendapat.

Begitulah sekelumit cerita tentang apa dan bagaimana manfaat berkomunitas, juga bagaimana cara nge-branding komunitas dalam rangka ‘menjual’ dan memanfaatkan sumberdaya yang tak lain adalah anggota komunitas, apa tanggung jawabnya untuk publik dan dirinya sendiri, dan sebagainya. Matematika event menjadi penting dipahami, agar sebuah komunitas bisa survive dan tumbuh, memberi manfaat kepada sebanyak mungkin orang, termasuk dirinya sebagai individu-individu penopang keberadaan komunitas.

Yang pasti, komunitas juga harus bisa memberi manfaat bagi anggotanya. Bukan selaiknya….. Terima kasih kepada semua pihak yang telah membesarkan kami. Jika sendirian, kami bukan apa-apa.

Nah, terkait desain-mendesain event, silakan ditimbang sendiri. Siapa saja yang memperoleh keuntungan dari sebuah event akan menentukan bobot ‘keberkahan’ sebuah kerja kolektif. Prinsipnya, semakin banyak orang mendapat manfaat, semakin baik sebuah gelaran kegiatan atau event. Satu hal yang harus dicermati, adalah kecenderungan klaim dan tunggang-menunggangi.

Sebutan nasional atau regional sebuah event, ada prasyaratnya, ada tata kramanya. Memang tak tertulis dan tak mudah dibakukan. Namun demikian, sejatinya tak bisa dilakukan secara semena-mena. Kalaupun ada yang merasa kelewat percaya diri, silakan dicermati dan diuji, sampai berapa lama  mereka memiliki eksistensi dan kredibilitas. Waktulah yang bakal menguji.

Dua Tahun Berkicau

Hari ini genap dua tahun saya berkicau lewat Twitter, sejak saya membuat akun di jejaring sosial itu, pada 23 Agustus 2009. Lumayan juga, sebagai blogger ndesa, saya memiliki jumlah penyimak lebih dari 4.000 orang/lembaga dari seluruh penjuru Indonesia, bahkan beberapa dari luar negeri. Padahal, kicauan saya nyaris hanya nyinyir semata.

Klout Score, lembaga pemeringkat akun Twitter, yang menilai seseorang/lembaga termasuk pemengaruh level berapa, berpengaruh kepada siapa, dipengaruhi oleh siapa dan seterusnya. Walau berterima kasih, tapi saya tak menganggapnya sebagai sesuatu yang penting.

Apakah karena kenyinyiran itu pula yang membuat orang ingin menyimak linimasa saya? Tak penting bagi saya. Yang pasti, saya merasa tersanjung karena saya anggap teman-teman penyimak menaruh kepercayaan yang besar kepada saya, sehingga (maaf) ‘loyal’ menyimak pernyataan-pernyataan saya.

Saya minta maaf kepada teman-teman yang ngetwit minta follback namun tidak semua saya penuhi. Terus terang, saya memilih dan memilah orang yang saya anggap perlu saya simak (follow) agar tahu kicauannya. Saya menempatkan Twitter sebagai salah satu media belajar, tentang banyak soal. Melaui Twitter, saya bisa bertanya sesuatu hal yang ingin saya ketahui, mengerti atau pelajari. Karena itu pula, saya mengandaikan penyimak timeline seperti halnya saya bersikap terhadap orang lain.

Saya tak pilih-pilih dalam urusan belajar. Orang yang sejatinya tak saya sukai atau sering terlibat beda pendapat, pun saya follow. Sebaliknya, jikaa ada akun yang tidak saya follow, bukan berarti saya tak suka dengan orang/lembaga. Saya memilah berdasar pesan (content) yang saya anggap punya potensi bernilai, yang bisa disimak dari konsistensi pesan yang dibuat oleh sang pemilik atau administrator sebuah akun.

Banyak di antaranya justru akun-akun yang mungkin orang lain tak suka (mem-follow­-nya) dengan berbagai alasan, sehingga saya (secara subyektif) bisa memilihkan pesan berupa kicauan untuk saya teruskan (retweet). Info-info sosial/kemanusiaan, terutama, pasti saya samber, entah dengan cara menanggapi atau langsung retweet.

Yang pasti, akun @internetsehat termasuk paling saya utamakan. Informasinya berguna untuk siapa saja, baik untuk individu, keluarga, bahkan bangsa dan negara kita, Indonesia. Tak cuma kicauannya di Twitter, website-nya pun padat ilmu dan informasi yang bermanfaat. Karena itulah, saya tutup mata untuk mendukung semua kiprah dan tindakan teman-teman InternetSehat yang dimotori @dewningrum, @donnybu, @arief_ts, @onnowpurbo, @ace_pentura, @rapinie dan banyak lagi.

Aksi berbagi informasi kebutuhan darah (blood for life atau biasa bertagar #BFL) yang dimotori Mbak Silly (@justsilly), atau akun @jalinmerapi yang berisi informasi seputar Gunung Merapi dan masyarakat sekitarnya, akun untuk informasi wisata, budaya, heritage dan sejenisnya, sudah pasti nyaris tak terlewat. Begitu pula info seputar gosip ekonomi, sosial dan politik.

Untuk yang terakhir saya sebut di atas, kebetulan sesuai minat dan ‘bakat’ bergosip saya. Belasan tahun menjalani profesi sebagai jurnalis telah memugkinkan saya memiliki kedekatan dengan banyak orang dari berbagai latar belakang pekerjaan, sosial dan jabatan, dan menuntun saya pada satu hal: skeptis terhadap informasi, dari siapapun itu.

Sejenis Klout juga, TweetLevel mengidentifikasi sebuah akun hingga pada tingkat memengaruhi orang lain, popularitas, kepercayaan, dan sebagainya. Terserah, Anda boleh percaya atau tidak.

Pengalaman jurnalistik memaksa saya terbiasa mencermati agenda setting, membaca ‘arah angin’, sehingga harus ‘menguji’, membandingkannya dengan informasi-informasi memadai sebagai referensi. Di sinilah ada seni ‘membaca’, tentang teks dan konteks sebuah pesan dibuat. Akun @benny_israel yang ‘dimusuhi’ oleh sebagian orang, misalnya, justru menantang untuk disimak. Dengan siapa saja akun itu sering terlibat perang informasi (twitwar), dalam isu apa, dan sebagainya, menurut saya justru menarik, walaupun tak jarang ujungnya hanya berupa kesimpulan otak-atik gatuk alias mencocok-cocokkan.

Sejauh apa Nazaruddin membual, dengan menyebut nama banyak orang, partai, lembaga, misalnya, juga bisa dicari jawabannya lewat linimasa. Memang tak mudah. Dan, bagi saya, memang di situlah seninya, sebab kita bisa mengasah naluri dan kepekaan dalam membaca teks dan konteks.

Beberapa akun resmi yang dikelola partai, komunitas masyarakat yang sering saya kritik, juga menyimak alias mem-follow saya. Tak soal. Saya justru senang, karena kicauan nyinyir saya terhadap mereka lekas sampai. Soal risiko, pun sudah saya perhitungkan. Undang-undang tentang Pokok-pokok Pers sudah relatif saya mengerti prinsipnya. Pasal-pasal KUHP juga sering ssaya dapat dari liputan perkara kriminal atau peradilan. Soal kebebasan berekspresi yang coba dibendung lewat UU ITE, pun sudah saya coba kuasai, sehingga saya tak perlu takut dampak hukum atas semua pernyataan saya.

Twitter, nyatanya banyak membantu saya, termasuk untuk mempublikasikan update terbaru di blog saya, sehingga mengundang pengunjung untuk membacanya. Intinya, saya berusaha memproduksi konten positif, meski yang saya anggap positif bukan berarti harus membaik-baikkan sesuatu atau menutup kekurangan tertentu. Kritis dan nyinyir, pun diperlukan. Dan itu saya yakini hanya sebagai gaya atau bahasa ungkap semata. Saya berasumsi, semua penyimak linimasa saya punya kemampuan lebih untuk memilih dan memilah kicauan saya, mana yang sampah dan mana yang bukan. Mereka pun otonom, merdeka, seperti saya.

Jika kemarin ada satu-dua penyimak yang bertanya, bahkan meragukan, dengan menganggap beberapa twit saya bernilai komersial alias berbayar, saya jelaskan di linimasa, bahwa saya tidak akan pernah menjerumuskan penyimak timeline (TL) saya dengan twit-twit komersial. Sampai sekarang saya memegang teguh prinsip: bahwa twit berbayar sebaiknya menggunakan kode atau tagar tertentu, misalnya #iklan, #adv dan sejenisnya, sehingga penyimak timeline tahu dan memiliki jaminan kemerdekaan untuk meng-klik URL-URL tertentu yang berkaitan dengan hal-hal tertentu.

Apalagi, kini selain korporasi atau produsen tertentu yang selalu berkepentingan dengan iklan dan image building lewat salah satu praktek public relations, tak sedikit politisi yang berkepentingan dengan media sosial. Sistem yang berlaku juga sama: dengan cara membayar akun lembaga atau individu tertentu yang dianggap ‘berpengaruh’.

Sejujurnya, saya tak peduli dan tak percaya dengan pemeringkatan status sebuah akun, baik di Klout atau TweetLevel. Saya harap, Anda juga tak menghiraukannya, supaya tak tersesat di belantara dunia maya, yang konon bertebaran rupiah dan dollar. Kita dudukkan saja pada kebutuhan kita, dengan dan/atau terhadap Twitter mau apa. Kalau mau nyari duit juga, ya silakan. Sah-sah saja. Yang penting, jangan lupa berbagi informasi kepada sesama. Mencari rejeki juga jihad, meski jika kemaruk bisa menuntun Anda jadi jahat.

Sekian.

 

 

Blogging yang Mengering

Artikel Kang Nukman mengingatkan kegelisahan saya akan prasangka terhadap banyak blogger yang kian jauh dari aktivitas blogging. Twitter saya anggap sebagai faktor ‘pengganggu’ utama gairah blogging. Meski cuma dibatasi 140 karakter, tapi Twitter lebih menggiurkan, apalagi sejak ramai twit berbayar.

Saya tak menolak keberadaan twit komersil, walau sampai sekarang saya masih berjanji pada diri sendiri, untuk tidak masuk ke ranah ini. Kalaupun kicauan saya pernah menyinggung brand, produk atau kegiatan tertentu, saya jamin tak ada udang di baliknya, dalam arti saya memperoleh imbalan tertentu. Saya ngetwit suka rela. Merdeka.

Terhadap kicauan yang saya anggap memiliki nilai manfaat bagi orang lain, maka saya rela me-retweet, dan kalau perlu saya tambahkan seperlunya. Istilahnya, ikut nge-buzz. Tak jarang, dari ‘perdebatan’ di linimasa yang saya baca, lantas menginspirasi untuk ‘menyatakan sikap’ dengan membuat postingan di blog.

Di Twitter, saya berprinsip akan me-retwet kicauan teman yang menyebutkan adanya posting baru di blognya. Saya yakin, dari sekian penyimak (maaf, saya kurang sreg dengan istilah pengikut atau follower) timeline saya, pasti ada yang membutuhkan, seraya berharap, siapa tahu bisa memberi dampak peningkatan jumlah kunjungan ke blog teman-teman saya.

Di Twitter pula, saya akan mem-follow akun-akun baru, yang jumlah penyimaknya kurang dari 10. Kenal atau tidak, saya akan lakukan follback dengan niat membuat seseorang itu bergairah pula dalam menggunakan social media. Meski tak sedikit yang membuat kicauan (maaf) sampah, saya meyakini jenis media baru ini memiliki kekuatannya sendiri, sehingga jika disikapi secara benar dan bijak, akan memberikan kemanfaatan bagi orang lain.

Dengan keterbatasan hanya 140 karakter di Twitter, pelan-pelan seseorang akan terbiasa menyusun kalimat efektif. Jika berhasil membuatnya, maka saya meyakini seseorang akan suka merangkai kata lebih panjang dan bermakna. Dan blog masih merupakan satu-satunya media penampung tulisan panjang, sehingga seseorang akan lebih leluasa menyatakan pendapatnya, dibanding status atau catatan di Facebook.

Update blog bukan soal gampang bagi banyak orang. Sama dengan mengelola blog, banyak orang selalu terganggu dengan anggapan, bahwa ngeblog harus bisa menulis dengan standar tertentu. Padahal, untuk blogging, tak ada keharusan ini-itu, apalagi berpretensi menjadikan blog seperti layaknya jurnal atau situs media massa. Pingin ngeblog, ya ngeblog saja. Bahasa dan isinya suka-suka. Mau berupa tulisan, foto, audio, video atau paduan di antaranya, tak ada beda.

Kalau mau kritis terhadap sesuatu atau menyinggung seseorang atau lembaga, memang sebaiknya berhati-hati akan risiko atau dampak hukumnya. Tapi kalau bercerita yang happy-happy saja, atau good story, jelas tak perlu takut risiko ini-itu. Konsumen blog pasti sudah mampu memilih dan memilah mana yang disuka atau dibutuhkannya, sehingga kita tak perlu risau terhadap konten yang kita bikin.

***

Kembali ke masalah sepinya minat blogging, saya termasuk salah seorang yang mencemaskannya. Komunitas blogger ada di mana-mana, tapi pertumbuhannya masih begitu-begitu saja. Tak tumbuh besar secara kwantitas, tapi yang meningkat secara kwalitatif justru surut.

Twitter masih saja ‘mengganggu’. Tak sedikit malah selalu berpikir memperbanyak jumlah follower karena bercita-cita memperoleh keuntungan material dari sana. Semacam metamorfosa dari monetized blogging, lantaran Google Adsense tak lagi bisa diandalkan lantaran kian ketat bikin aturan, sementara ‘harga’ pay per click dan sejenisnya kian rendah. Fenomena twit berbayar begitu menggoda mereka.

Hingga di sini, saya masih belum paham, mengapa banyak orang terobsesi monetize lewat Twitter. Sama dengan ketidakpahaman saya dengan tren konsultan pemasaran dan komunikasi yang menempatkan Twitter seolah-olah menjadi media paling efektif untuk beriklan. Lebih tak paham lagi, jika ada yang percaya bahwa penyimak linimasa (ya para follower itu) akan selalu mempercayai nilai pesan berupa kicauan.

Jujur, saya kian tak paham dengan adanya event baru bernama ON|OFF, yang menempatkan forum Pesta Blogger sebagai bagiannya. Pengguna social media seolah-olah berada setingkat di atas blogger. Sementara, kicauan di Twitter sejatinya menjadi kian bermakna jika mengarahkan pada pesan ditampilkan secara lebih utuh dan memadai di blog atau website. Pesan melalui kicauan serial, menurut saya, masih potensial menemukan kegagalan lantaran masih banyaknya pengguna socmed yang masih awam, sehingga tak memiliki tradisi merunut pesan yang saling berbalas/bersahutan.

Saya justru menjadi bingung, mengapa para blogger penggagas ON|OFF menjadi kurang pede dengan menempatkan blogger hanya sebagai bagian dari pekicau dan pengguna jenis jejaring sosial lainnya. Kenapa tidak dibalik, misalnya, justru menempatkan pertemuan para aktivis dan pengguna socmed sebagai bagian dari blogosphere, terlebih jika Twitter, Facebook dan sejenisnya disebut sebagai microblogging. Lantas, siapa yang ada di posisi ‘makro’-nya?

 ***

Sejujurnya, saya tertarik dengan gagasan Idblognetwork terang-terangan menawarkan review produk lewat aktivitas blogging. Saya pun merasa lebih nyaman melakukan ‘monetize’ lewat cara ini dibanding kicauan komersial di Twitter. Saya merasa tidak ada beban membuat postingan komersil, karena pembaca blog saya bisa meresponnya sesuka hati. Bisa memaki jika tak setuju melalui fasilitas komentar yang tak saya moderasi, atau merespon positif jika berkenan.

Sementara di Twitter, saya akan merasa sangat bersalah jika menyebarkan pesan-pesan terselubung padahal bernilai komersil. Andai ada kejelasan berupa tagar semacam (misalnya) #iklan atau #komersil pada sebuah twit berbayar, mungkin baru saya mau menerima tawaran demikian. Intinya, ‘pembaca’ harus tahu dan bisa membedakan mana yang komersial dan mana yang bukan, sehingga mereka bisa membuat keputusan yang tepat.

Saya termasuk orang yang meyakini konten blog akan memiliki peran strategis, kini maupun kelak. Promosi sebuah daerah, produk kreatif masyarakatnya, dan masih banyak lagi, bisa dilakukan melalui blog. Sifat subyektif dan testimonial justru menjadi kekuatan, karena kejujuran isi pesan akan bisa dirasakan dan dinilai pembaca.

Kalau boleh berharap, saya ingin pemasar dan produsen bidang apapun turut menyemarakkan gairah blogging melalui aneka lomba, walau tak harus menyingkirkan kuis atau lomba ngetwit dan sejenisnya. Award untuk blogger juga penting, supaya InternetSehat tidak ‘kesepian’ menjadi penyelenggara tunggal.

Perlunya award atau penghargaan tahunan, juga lomba, adalah memacu gairah blogger untuk memproduksi sebanyak mungkin konten-konten bermutu dan bermanfaat untuk apa saja dan siapa saja. Tema bisa dibuat dan keragamannya pun bisa diperhitungkan sesuai keperluan. Yang pasti, konten-konten dari jutaan blog akan memiliki arti dan kontribusinya sendiri.

Contoh paling sederhananya begini: sebuah perusahaan mengurangi satu kali tayang iklannya di televisi yang tarifnya puluhan juta, dan dikonversi sebagai hadiah lomba. Jika perusahaan-perusahaan lain pun melakukan hal serupa, maka akan terdapat banyak lomba, sehingga dengan sendirinya akan terdapat banyak postingan, yang artinya kian banyak tersedia referensi digital di Internet.

Yang jadi persoalan, maukah agensi atau konsultan komunikasi menjadikan hal demikian sebagai salah satu butir rekomendasi kepada kliennya? Ya, hitung-hitung biar dunia blogging tidak kering….

 

 

Majalah Dinding Digital

Pekan lalu, saya mendapat beberapa kejutan di Pekanbaru. Pertama, saya diajak tim InternetSehat berkunjung ke kandang Blogger Bertuah yang sedang menggelar bincang-bincang pemanfaatan blog untuk keperluan pendidikan sekaligus nonton bareng Linimas(s)a. Yang kedua, mendapat suguhan MadingOnline, karya yang tampak ‘sederhana’, namun memiliki manfaat luar biasa bagi penggunanya.

Saya sebut sederhana, lantaran teman-teman Bertuah sudah khatam soal desain dan menyiapkan isi. Sudah banyak pelajar SLTA yang jalan bersama. Teman-teman Bengawan yang sudah setahun lebih merencanakan hal serupa, hingga kini belum juga kesampaian. Dan, justru di situlah menariknya, pertemuan hari itu justru berkembang ke mana-mana.

Dalam perbincangan di sekretariat Bertuah, sempat muncul wacana membesarkan MadingOnline.Net, dengan mengajak komunitas-komunitas blogger di berbagai daerah. Bengawan pasti mau, dan saya yakin yang lain juga bersikap serupa. Blogger Ponorogo memiliki banyak anggota yang berstatus pelajar, begitu pula dengan teman-teman di Pendekar Tidar di Magelang yang sudah berulang kali menyelenggarakan lomba blog untuk pelajar, termasuk yang sedang berlangsung sekarang.

Di dunia blogging, pun banyak guru yang rajin ngeblog, seperti Pak Sawali dan Pak Marsudiyanto. Ada pula, kalau tak salah, Sang Bayang, yang juga berstatus pendidik di Kabupaten Ngawi, Jawa Timur. Belum lagi jika para ditambah deretan para staf pengajar sungguhan seperti Pak Slamet Widodo yang menjabat salah satu Ketua Jurusan di Fakultas Pertanian Universitas Trunojoyo, Madura, atau Sam Ardi, blogger galau namun berprofesi dosen lulusan Yordania yang kini menetap di Malang.

Bisa jadi, kelak MadingOnline.Net menjadi portal ‘majalah dinding digital’ sekaligus menjadi forum tukar-menukar pengetahuan antarpelajar di tanah air. Beberapa pendidik, bisa saja menjadi ‘pengawal’ atau teman bagi tumbuhnya tunas-tunas bangsa yang tersebar di seluruh pelosok Nusantara. Soal pengembangan, bisa ke mana-mana, seturut dengan dinamika dan gejolak intelektual para remaja.

Kopdar dadakan di Sekretariat Blogger Bertuah

Yang tua-tua, para anggota komunitas blogger, cukup tut wuri handayani, mengikuti saja ke arah mana keinginan para pelajar kita. Bisa jadi, kelak dibikin subdomain sesuai wilayah, di mana peran komunitas blogger menjadi pendamping, menginisiasi pelatihan-pelatihan blogging, menulis, atau memfasilitasi kegiatan-kegiatan penunjang yang dilakukan secara offline.

InternetSehat yang juga tertarik terlibat dalam upaya pengembangannya bisa mengambil bagian pada sisi penyediaan server dan sharing pengetahuan dan informasi seputar pemanfaatan teknologi informasi dan komunikasi, bersama-sama dengan komunitas blogger di berbagai daerah.

Komunikasi antarkomunitas yang sudah terjalin selama ini juga bisa turut kian menguat seiring dengan keterlibatan dalam usaha bersama, memberi kontribusi memajukan pendidikan. Komunitas, bisa jadi akan mengambil peran dalam pelibatan jaringan atau kemampuan mengakses individu-individu yang memiliki concern yang sama, untuk turut berbagi pengetahuan.

Saya kira, tak ada yang berat jika hal demikian bisa dilakukan secara bersama-sama. Terima kasih teman-teman Blogger Bertuah atas kerja kerasnya, yang menginspirasi banyak orang untuk turut bersama-sama mengembangkan dan memajukan dunia pendidikan Indonesia.


Updated: 23 April 2011 pk. 13.00

Berangkat dari ide dasar MadingOnline, saya coba tanggapi beberapa komentar/tanggapan dari berbagai daerah, seperti SMP 3 Lembang (Sulawesi Selatan), Dwi Wahyudi (Pontianak), Elong Bujang, Suyatno, Sukadi (Slawi, Tegal), Suryaden (Yogyakarta) dan teman-teman lain, sebagai berikut:

  1. Kita tetap menempatkan Blogger Bertuah dan Kang Attayaya sebagai inisiator. Misi besar teman-teman ini akan lebih bermanfaat jika individu/komunitas dari berbagai daerah bisa bergabung, bersama-sama membesarkan. Formatnya bisa dibuat menjadi semacam portal pendidikan untuk pelajar (terutama SLTP/SLTA), di mana posting-posting dari berbagai daerah akan berada di halaman utama, sementara setiap daerah bisa dibuatkan subdomain dengan pengelolaan mandiri, namun bersinergi.
  2. Masing-masing daerah dikelola oleh komunitas blogger sebagai pendamping siswa/siswi atau pelajar, dan bersifat otonom. Pengertiannya, bisa saja setiap daerah membuat tampilan/desain sendiri-sendiri, dengan ciri lokalitasnya, namun tidak timpang dengan ciri utamanya sebagaimana tampak pada halaman utama.
  3. Pengelolaan mandiri dari setiap daerah memungkinkan setiap daerah membangun  kemitraannya sendiri sesuai kultur dan kebijakan masing-masing, termasuk bilamana memungkinkan dan ada potensi memperoleh donasi/sponsor, bisa dikelola untuk pengembangan. Setiap daerah pasti membutuhkan ‘logistik’ untuk melakukan pelatihan-pelatihan seperti menulis, fotografi, dan sebagainya.
  4. Prinsip utama yang sebaiknya dipegang teguh, menurut saya, adalah nonkomersial. Dalam arti tidak profit oriented, namun tetap bisa membedayakan diri sendiri dan komunitas demi pengembangan atau penggalian inovasi-inovasi baru.
  5. Pada dasarnya, konsep berjejaring menjadi ciri/watak utama pengembangan MadingOnline.Net. sehingga, kelak diharapkan muncul forum yang memungkinkan diskusi yang menopang minat dan bakat serta kemampuan akademis peserta. Syukur, web tersebut, kelak bisa menjadi rujukan bagi pelajar di manapun di Indonesia, sehingga proses saling belajar bisa disemai melalui forum yang bisa kita sebut sebagai ajang berbagi ini.

Sementara, begitu tanggapan dari saya. Saya berharap teman-teman bisa mengoreksi, menambahi, atau bahkan sebaliknya. Silakan saja….

Mari mendiskusikannya di sini….