Oh, Nasibmu ABC

Omong-omong soal Blogger ASEAN, apalagi setelah membaca keresahan Anton dan kicauan Donny BU, sekalian saja saya nimbrung. Ini bisa pula dianggap sebagai jawaban terbuka untuk beberapa teman yang menanyakan alasan saya keluar dari ASEAN Blogger Community (ABC), padahal saya sebagai salah satu deklarator.  Semoga saya bisa memberi gambaran sehingga kian paham, perlu-tidaknya ABC itu bagi blogger.

Ketika diundang untuk deklarasi, 10 Mei silam, saya oke-oke saja. Saya hanya berpikiran positif dan memandang perlunya jejaring blogger di kawasan ASEAN. Toh, sebelumnya Komunitas Bengawan juga sudah pernah diajak bekerja sama dengan Direktorat Kerjasama ASEAN, Kementerian Luar Negeri untuk menggelar sebuah seminar untuk sosialisasi capaian-capaian kerjasama regional yang disebut ASEAN itu. Apalagi, tahun ini Indonesia menjadi Ketua ASEAN yang sekretariatnya tetapnya berada di Jakarta.

Ada banyak hal yang ada di benak saya, ketika menyambut positif perlunya berjejaring. Soal nama, terus terang, bagi saya tak terlalu penting, meski saya bisa mengamini pula apa yang disampaikan Anton Muhajir atau Donny BU, bahwa nama juga perlu dipertimbangkan secara matang. Jujur, saya sering diskusi lumayan intensif dengan Pak Hazairin Pohan.

Jejaring blogger kawasan, menurut saya, bisa menjadi mitra tanpa harus kehilangan eksistensi dan identitasnya. Termasuk di dalamnya, hal-hal menyangkut freedom of expression. Dalam konteks inilah, jejaring blogger antarbangsa di ASEAN bisa menjadi ruang alternatif untuk membicarakannya. Kita, blogger di Indonesia atau di Philipina bisa disejajarkan dalam hal kebebasan. Tapi jangan disandingkan dengan mereka yang berkewarganegaraan Singapura, Malaysia, Vietnam atau Myanmar.

Bagi ‘anak-anak muda’ yang belum pernah merasakan ‘hebatnya’ Soeharto, yang bahkan bisa menggunakan kekuasaannya menangkap seseorang hanya karena dicurigai subversif atau ‘menyinggung lambang-lambang negara’, perkara freedom of expression pasti sulit untuk mengerti. Begitu pula bagi mereka yang tak punya pengalaman berorganisasi secara memadai, perkara seperti penyusunan naskah deklarasi, pasti dianggap sesederhana orang memutuskan menu makan siangnya.

***

Saya terpaksa menarik diri dari ABC setelah melewati beberapa proses. Pertama, saya melontarkan gagasan lewat mailing list tentang perlunya menentukan sifat organisasi, apakah mandiri atau di bawah Kementerian Luar Negeri. Sepanjang yang saya tahu, Kemenlu menjamin bentuk organisasi, terkait dengan independensi. Tapi, gagasan sederhana itu tak ada yang menjawab, baik dari pengurus ABC (yang saya tahu cuma ada ketua, yakni Kang Iman Brotoseno).

Kedua, saya lontarkan gagasan perlunya pertemuan untuk membahas rancangan (termasuk rancangan kerja) organisasi. Perlu juga dirancang perlunya ada rapat serius dalam bentuk forum group discussion (FGD) atau strategic planning. Itu pun tak ada yang merespon. Secara sepihak, saya lantas ‘meremehkan’ dengan pernyataan, jangan-jangan teman-teman ABC tak ngerti apa itu FGD dll.

Ketiga, dan ini puncak kejengkelan saya, karena semakin yakin bahwa tak seorang pun paham soal tata krama berorganisasi. Saya mencoba mengingatkan dengan cara melontarkan sejumlah ‘pertanyaan sederhana’. Di antaranya, siapa kita; mau apa kita, untuk apa keberadaan kita; dan sebagainya yang kira-kira terkait dengan visi/misi organisasi. Jawaban yang saya peroleh, pun membuat saya kaget: saya disuruh baca di website ABC tentang naskah deklarasi?!? Bingung saya… Sebagai deklarator, walau tak diajak menyusun naskahnya, saya ikut menyimak saat dibacakan lantas saya ikut membubuhkan tanda tangan.

***

Jujur, beberapa kali saya diminta untuk bikin tulisan yang kira-kira sejenis draf position paper, saya hanya mengiyakan namun sejatinya saya berniat mengabaikan. Saya tak yakin itu bakal berguna, sebab saya sudah haqqul yaqin, apalagi setelah menyimak perjalanan organisasi itu, para pengurus yang merasa sibuk juga #gagalpaham untuk urusan demikian.

Bagaimana mungkin, organisasi yang diniatkan begitu mulia, hanya diurus secara serampangan, sambilan. Beberapa event yang diselenggarakan pun saya tahu, dilakukan asal-asalan. Beberapa aktivisnya hanya butuh gebyar yang ditunjukkan lewat seremonial. Substansi itu soal nanti.

Sorry, berorganisasi memang tak gampang. Jika tak sanggup, ya tak usah bikin organisasi. Begitu prinsip saya. Tapi, jika Anda bertanya, apakah berorganisasi mesti menthenteng alias begitu serius dan menegangkan, jawaban saya juga simpel: tidak perlu! Serius tidak berarti harus mencurahkan waktu dan tenaga layaknya orang kerja kantoran. Komitmen bisa diwujudkan dengan banyak cara.

***

Sebagai bangsa Indonesia, saya terlalu sering kecewa kepada para penerima mandat mengelola negara. Tenaga kerja Indonesia teraniaya di Malaysia, pemerintah tak pernah bisa berbuat memuaskan. Para buruh migran kita kalah jauh dengan mereka yang berasal dari Philipina. Tak hanya dididik di negeri asal sebelum diberangkatkan, namun juga dilindungi jika mereka menghadapi aneka persoalan di negara tujuan. Itu satu hal, yang serius.

Yang duarius, melalui konten di blog, kita bisa membantu promosi aneka macam kelebihan: potensi wisata alam, produk kerajinan, produk budaya, dan masih banyak lagi. Ini juga bisa masuk kategori support terhadap pilihan bentuk diplomasi yang soft yang dilakukan Kementerian Luar Negeri. Dan dalam hal ini, blogger menjadi bagian dari unsur yang memperkuat ketahanan nasional.

Dengan demikian, blogger atau netizen bisa menyuarakan kepentingan komunalnya, seperti ketika Malaysia melakukan klaim karya batik, hingga penyerobotan batas wilayah negara. Intinya, blogger bisa bekerjasama dengan siapa saja, entah itu Kemenlu, atau Sekretariat ASEAN. Tak terlalu relevan jika kita harus alergi terhadap berbagai hal yang berbau pemerintah, kendati kita sadar dan merasakan, pemerintahan kini tak berjalan efektif dalam mewujudkan mandat rakyat dan amanat konstitusi.

Jadi, jika para pengurus ABC Chapter Indonesia tak bisa berbuat apa-apa, ya maklum saja. Apologi bisa diciptakan demi menyelamatkan muka atau membela diri. Biarin!

***

Jika Konferensi Blogger ASEAN begitu acak-acakan, ya harap maklum saja. Diberi masukan dan pertanyaan saja mereka tak memberikan jawaban, kok… Jadi, kalau lantas ada klaim blogger (entah itu individual atau komunitas), menurut saya, sangat lumrah, sebab memang teman-teman di pusat sana tak ngerti organisasi.

Paling sederhana, jika mereka mengerti adab organisasi, jauh sebelum undangan disebar, mereka sudah merancang draf, juga rancangan acara. Jika keterbatasan dana jadi alasan untuk membahas dalam sebuah forum dengan sistem perwakilan, keberadaan email jelas sangat membantu dan bisa jadi solusi. Konferensi jarak jauh pun bukan soal, toh dengan sebutan blogger yang melekat, mereka sudah ngerti apa kegunaan Yahoo! Messenger, Skype, Gtalk dan sejenisnya.

Jika paham organisasi, jauh sebelumnya bisa disebarkan rancangan acara. Jika akan ada diskusi kelompok, bisa diberikan term of reference (TOR) masing-masing pokok bahasan. Juga rancangan tata tertib, sehingga sebelum berangkat mengikuti konferensi, masing-masing  calon peserta sudah punya bahan dan pilihan pada kelompok bahasan apa ia akan tertarik.

Begitulah, teman-teman… Saya memilih mundur karena merasa lebih mengerti bagaimana berorganisasi dan memahami seberapa pentingnya keberadaan sebuah jejaring.

 

 

Updated 21/11/11 7.15 AM

Silakan jika Anda menganggap sepele.  Bagi saya, sebagai bangsa Indonesia, saya merasa punya kewajiban untuk ikut memperbaiki hubungan antarbangsa, meski dengan cara yang saya yakini. Istilahnya, tanpa terlibat dalam organisasi semacam ABC pun, komitmen saya tak akan pernah luntur sedikitpun.

Saya pernah mendengar istilah civilian ambassador, yakni duta tak resmi untuk kepentingan bersama. Di Solo, saya pernah ikut menyambut dan menemani beberapa tokoh sipil muslim dari Mindanau, Philipina Selatan. Mereka ingin belajar dari Indonesia mengenai konsep negara (menurut Islam), hubungan antarumat yang berbeda agama, suku dan golongan, hingga sistem pengajaran agama (Islam).

Pertemuan itu, saya tahu, tanpa ada peran negara/pemerintah di dalamnya. Kemennterian Luar Negeri atau Sekretariat ASEAN pun tak ada sama sekali. Tapi, dari kunjungan beberapa hari itu, mereka merasa memperoleh banyak masukan, terutama yang paling esensial adalah prinsip Islam terhadap negara. Asal tahu saja, fasilitatornya adalah tokoh dan komunitas Nahdliyyin.

Orang NU meyakini, Republik Indonesia adalah negara yang sah secara hukum agama. haram hukumnya bagi umat Islam memberontak pemerintahan, jika konstitusi dan prakteknya sudah menjamin umat Islam bisa menjalankan syariat agamanya, dalam arti bebas menjalankan rukum Islam seperti syahadat, sholat, puasa, zakat dan berhaji.

Pada ‘negeri Kristen’ seperti Amerika atau Philipina, pun, umat Islam wajib taat kepada pemerintahnya ketika mereka diberi keleluasaan menjalankan rukum Islam tanpa diganggu atau dihalang-halangi. Itulah mengapa, KH Hasyim Asy’ari, pendiri NU mau mengeluarkan ‘fatwa halal’ kepada pemerintah untuk menghukum mati Kartosuwiryo, atau Resolusi Jihad pada awal kemerdekaan dalam menghadapi kolonialis.

***

Dalam konteks blogging dan pemanfaatan teknologi informasi dan komunikasi, pun menjadi relevan peran netizen dan blogger. Ke depan, perang informasi akan kian rumit. Pembatasan konten seperti di Vietnam atau China, misalnya, merupakan petunjuk yang benderang betapa Internet pun memiliki derajat potensi ‘ancaman’ di dalam negeri bagi rezim/negara yang signifikan.

Perwakilan Pemerintah Indonesia di Malaysia pasti kerepotan juga ketika ramai kecaman terhadap Malaysia oleh orang-orang Indonesia di ranah Internet terkait perkara klaim batik, penyerobotan wilayah, perlakuan terhadap TKI dan sebagainya. Hacker pun ikut ‘menyemarakkan’ sebagai ekspresi kekecewaan kepada Malaysia. Itu hanya sebagian contoh, yang saya maksudkan untuk kian membuka wawasan teman-teman di kepengurusan ABC, agar ke depan tak #salaharah atau #gagalpaham menyikapi dinamika relasi antarbangsa.

Kepada teman-teman ABC, mari kita diskusi. Mau terbuka atau dengan pola nomention, silakan saja. Asal Anda tahu, semakin sering nomention, maka sejatinya itu menunjukkan Anda tak percaya diri untuk berdialog.

 

Bukan Soal Pestanya

Secara makna, kata pesta itu netral. Tak mengenal kasta, karena itu tiada unsur diskriminasi di dalamnya. Dulu, bangsa Eropa yang kumpul-kumpul dengan kudapan dan minum-minum di Lojiwetan, Solo, disebut sedang berpesta. Tapi, petani pun memiliki forum yang disebut pesta, semisal saat mantu yang biasa digelar usai panen raya.

Di kalangan keturunan Eropa, pesta dimeriahkan dengan dansa. Petani melakukan selebrasi dengan makan besar yang lebih enak dibanding hari-hari biasa, dengan mengundang penari tayub atau menggelar tari Gambyong. Sementara, para bangsawan Kraton Surakarta atau Kadipaten Mangkunegaran menandai ulang tahun naik tahta dengan hiburan tari bedaya.

Tentu, setiap kelompok memiliki pilihan jenis dan cara sendiri dalam melakukan selebrasi, sesuai hajat masing-masing, yang boleh jadi bukan karena atau demi hajat (hidup) orang banyak. Pada kelompok Eropa, pesta bisa digelar kapan saja: ketika ada yang berulang tahun, ada anggota kelompok yang akan kembali ke negara asal, ada yang datang, bahkan untuk merayakan ulang tahun Ratu Wilhelmina, nun jauh di negeri Belanda.

Bisa saja terjadi, lantaran minat, niat dan kecocokan tertentu lantas beberapa beraliansi, walau yang demikian belum tentu dikehendaki oleh keseluruhan. Bagi-bagi proyek, kongsi bisnis atau kolaborasi politik bisa saja terjadi. Tapi, sekali lagi, itu hanya parsial. Bukan wajah komunitas sesungguhnya.

Bahwa kongsi-kongsi kecil itu lantas ‘memperdaya’ yang mayoritas, boleh jadi itu hanya sebatas kesan, walau juga tak menutup kemungkinan memang di dalamnya ada agenda terencana, semacam permainan. Tentu, hanya oleh ‘yang sebagian’.

***

Kini, ketika teknologi dan ilmu pencitraan begitu didewakan, kesenjangan bisa menjadi peluang. Dan, kesenjangan yang dimaksud di sini, bisa meliputi berbagai hal. Ya pengetahuan, informasi, budaya, ekonomi, politik, hukum…. Pokoknya, apa saja!

Ini yang masih dilupakan banyak orang...

Ahli pemasaran akan melihat kesenjangan sebagai peluang, sementara ahli komunikasi bisa menjadikannya sebagai bahan riset sebelum akhirnya muncul tawaran solusi. Ahli keuangan akan berhitung nilai investasi dengan acuan potensi keuntungan yang bakal bisa diraup dalam kurun tertentu, dan seterusnya…..

Tapi, itu semua sah-sah saja, bahkan bisa dikesankan sebagai keniscayaan ketika rezim pasar (bebas) dijadikan acuan, lalu di-panglima-kan. Sebab panglima, maka boleh mengatur segalanya. Bahkan, ia menjadi penentu siapa harus berperilaku bagaimana, dan siapa lagi harus dipaksa menjadi apa.

***

Suatu hari, sebuah pesan pendek dikirim oleh seseorang tanpa menyebut nama. Hanya dari kalimatnya, saya tahu ia utusan petinggi sebuah hajatan besar tahunan. Ia bertanya, apakah saya punya waktu untuk berbicara dengannya (mungkin atasannya), yang lantas saya jawab tidak bisa bicara apa-apa kalau menyangkut Pesta Blogger. Namun, seperti lazimnya adat ketimuran, saya berkirim salam kepada ‘atasannya’.

Selang beberapa hari, saya ditelepon seorang teman baik saya, yang tak lain adalah blogger terkemuka di Indonesia. Teman saya mengaku dimintai tolong oleh panitia Pesta Blogger, untuk menanyakan alasan saya tidak mau terlibat atau membantu (suksesnya) pesta tahunan pada setiap penghujung Oktober itu.

Panjang lebar saya cerita, di antaranya dilatari semangat solidaritas kepada teman-teman sesama blogger dari berbagai daerah, yang mengeluh dan mengaku kecewa lantaran adanya ‘kesenjangan’ keramahan, antara di dunia maya dengan di alam nyata. Jauh-jauh datang dengan menyisihkan waktu dan biaya untuk datang ke Jakarta, banyak teman berharap memperoleh kehangatan pertemanan seperti dirasakannya di ranah daring selama ini, namun yang didapat hanya kecewa.

Di ajang pesta, tak diperoleh keramahan seperti diharap. Sekali-dua, yang dialaminya sama saja. Intensitas hubungan tak bertambah dalam, begitu pun dalam jumlah ‘koleksi’ pertemanan. Nyaman pun tidak, biaya sudah telanjur melayang, padahal mereka yakin, jer basuki mawa beya, demi kenyamanan atau kebahagiaan, mesti rela berkorban (materi).

Kepada teman baik itu, pun saya katakan, ketidaksediaan terlibat (pada Pesta Blogger) bukan lantaran solidaritas semata. Lebih dari itu, saya nyatakan kekecewaan saya sebab ternyata pesta itu bukan milik ‘petani’, melainkan kepunyaan segelintir ‘bangsawan’ yang merasa telah berjasa menginisiasi event yang seharusnya menarik dan bermanfaat bagi sebanyak mungkin orang itu, tak terbatas hanya manusia-manusia online.

Saya katakan, saya sangat kecewa ketika seorang blogger kenamaan menyebut ‘Pesta Blogger’ itu merupakan brand yang dimiliki sebuah badan usaha, alias bukan milik bloggerwan-bloggerwati Indonesia, yang tersebar di seluruh penjuru dunia. Artinya, entah blogger Indonesia mau memaknai pesta dengan cara apa saja, namun mereka tak berhak menggunakannya. Konon, sebagai brand, Pesta Blogger sudah didaftarkan hak kepemilikan intelektualnya sehingga dilindungi undang-undang oleh sebuah badan usaha, dan berasal dari luar Indonesia pula.

Ironis? Sepertinya tidak! (Nyatanya, kebanyakan blogger Indonesia diam saja, yang artinya cuek bebek, gak peduli. Ya, sebab memang dianggap tak penting).

Selain itu, penautan website-website resmi komunitas pada mesin agregator situs resmi Pesta Blogger tanpa ijin/pemberitahuan ke administrator masing-masing, merupakan bentuk klaim sepihak, yang dilakukan secara halus. Tindakan itu, tentu berdampak citra, seolah-olah Pesta Blogger di Jakarta merupakan forumnya berbagai komunitas blogger dan telah dirancang secara bersama-sama dengan perwakilan masing-masing komunitas.

Secara pribadi, bukan persoalan besar andai para blogger kita mau ‘merebut’ momentum pesta itu untuk kemaslahatan sebanyak mungkin orang, demi hajat hidup orang banyak. Sebagai peristiwa besar tahunan, rezim siapapun (apalagi yang sekarang) akan happy-happy saja ketika (kesan) mayoritas diam saja terhadap represi sistematis negara terhadap hak-hak warga negara, termasuk kebebasan berekspresi dan mengeluarkan pendapat yang dijamin konstitusi negara dan deklarasi PBB mengenai hak-hak asasi manusia yang sifatnya universal.

Tentu, bukan semata-mata bertujuan melawan rezim berdasar rasa tidak suka. Lebih dari itu,  tanpa kontrol warganya, maka pemerintah akan cenderung teledor dalam mengelola negara dan sumberdayanya demi kemaslahatan rakyatnya, hajat hidup orang sebanyak-banyaknya.

Blogger dan media baru tak harus berposisi vis a vis dengan penguasa. Ngeblog itu suka-suka, meski tak terpuji kalau cuma sesuka hatinya (apalagi dikendalikan oleh segelintir orang saja). Fairness itu prinsip, adil itu cita-cita yang harus diperjuangkan secara wajib.

Kalau saya tak sejalan dengan misi dan visi para founding fathers and mothers Pesta Blogger, silakan (kalau bisa) dimaklumi saja. Saya percaya, di sana terdapat orang-orang hebat, pemikir-pemikir yang memiliki pengaruh sangat besar, yang mestinya bisa memikirkan dan melakukan perbuatan yang bisa bermanfaat bangi sebanyak mungkin orang.

Saya sangat tidak ingin mendengar lagi orang seperti Prita Mulyasari hanya dihadirkan untuk mewarnai sebuah pesta, diposisikan bak selebritis di tengah-tengah pekerja infotainment, tanpa menempatkan pada posisi yang seharusnya, sebagai (maaf) alat untuk memperbaiki keadaan, agar tak ada lagi korban kesewenang-wenangan negara.

Selain Pasal 27 ayat 3 UU ITE, kini kita sedang menghadapi RUU Tipiti, sejumlah pasal yang mengancam kebebasan berekspresi seperti RPM Konten Ilegal dan sebagainya. Mari kita renungkan bersama, apa yang sudah dilakukan para blogger selain meramaikannya di timeline Twitter atau nye-tatus di Facebook dengan ajakan menolak semata tanpa menyebarluaskan apa isi dan ancaman dampaknya?

Saya paham, kalian tak suka diskusi. Selain buang-buang waktu, pasti membosankan. Enakan nge-twit berbayar, bukan?

Sebagai referensi, saya sarankan teman-teman baca juga postingan Kang Iman Brotoseno ini. Mari kita belajar beda pendapat secara dewasa, jangan dengan marah. Suka-tak suka, pro atau kontra itu biasa, tapi dalam bersaudara, harus selalu luar biasa.

Jangan ketinggalan pula menyimak tulisan Pak Ong Hock Chuan, ya… Menarik, kok. Juga komentar-komentarnya.

Untuk Mbah Sangkil dan teman-teman yang masih mempertanyakan ‘kepemilikan’ brand PestaBlogger, ini kutipan jawabannya:

Pada tahun 2009, Maverick mendaftarkan nama Pesta Blogger karena ajang ini sudah mulai menjadi ajang dan ‘brand’ yang dikenal luas dan memiliki reputasi tertentu; baik di kalangan blogger, penggiat dunia online, maupun sponsor. Jika tidak didaftarkan, tidak ada yang bisa menghentikan orang-orang yang dengan alasan komersial maupun non-komersial mengambil keuntungan atau menyalahgunakan nama PB yang sudah dibangun oleh para blogger Panitia PB selama tiga tahun ini. Selengkapnya, ada di sini…

Berharap pada Pesta (1)

Pancingan Kang Iman Brotoseno tentang calon manusia kursi Pesta Blogger 2010 lewat Twitter memperoleh tanggapan ramai, kemarin lusa. Malah, ada satu teman ‘mengacau’ dengan menyodorkan saya sebagai salah satu kandidat. Hingga pesta kemarin, saya masih kurang sejalan. Meski begitu, saya mengapresiasi dan salut pada usaha teman-teman.

Pesta Blogger, menurut saya, merupakan peristiwa penting dan menarik. Seribuan orang datang menyemarakkan, dan dengan jumlah berlipat lagi, orang memperbincangkan dan turut meramaikan aneka lomba dan event-event pendukung. Itu menjadi pertanda, banyak harapan masih ada pada sebuah pesta.

Soal siapa chairman atau manusia kursi Pesta Blogger 2010, tak terlalu penting bagi saya. Apa yang dirintis Lae Enda Nasution, lantas diteruskan Ndoro Wicaksono dan Kang Iman Brotoseno tinggal diteruskan, dan dimaksimalkan aspek manfaatnya, baik bagi blogger khususnya, maupun publik pada umumnya. Masa depan Indonesia, sangat ditentukan oleh pastisipasi warganya.

Cukup banyak jenis partisipasi yang dilakukan para blogger (baik pengelola blog maupun pelaku mikroblogging), dan pengguna media berpenyangga bandwidth. Gerakan Koin Prita dan dukungan terhadap Bibit-Chandra merupakan contoh nyata, betapa publik online menjadi kekuatan penekan baru, ketika partai politik dan politisi tak layak diharap.

Tapi, blogger dan publik online bukan kumpulan orang-orang yang memiliki kesamaan ideologi, gaya hidup, juga kelas sosial. Sangat beragam dan sangat cair sifatnya. Seorang dengan seseorang lain yang semula tak saling kenal, bisa bersekutu sebab ‘dipertemukan’ oleh kesamaan minat/sikap/topik tertentu.

Begitu juga sebaliknya, seseorang bisa menghasut publik online untuk memusuhi atau mendukung sesuatu dengan memanipulasi ketokohan atau menyelewengkan legitimasi sosial/akademik/kultur yang dimilikinya. Dalam ranah daring, itu pun soal biasa. Kalau suka yang syukur, andai tak suka ya monggo saja.

Berpijak pada keberagaman latar belakang minat dan sikap publik online itulah, event semacam Pesta Blogger layak diharap. Dan bagi pengharap sepicik dan senaif saya, sangat mudah berbalik menjadi pembenci kala harapan tak terpenuhi. Semestinya, orang seperti saya tak boleh kecewa sebab orang seperti Enda, Ndoro dan Iman, saya tahu bekerja hanya secara sukarela, karena didorong kecintaannya kepada Indonesia.

Pesta, kondangan, kopdar akbar atau apapun istilahnya, bagi saya sama saja. Yang lebih penting bagi saya hanyalah menjadikan peristiwa tahunan itu lebih bermakna, bagi siapa saja. Pada sebuah pesta perkawinan, misalnya, perhatian tamu tak seluruhnya dicurahkan untuk pengantin dan apresiasi kepada tuan rumah sebagai pengundang.

Sejak merencanakan datang, para calon tamu pasti berharap akan ketemu kolega atau teman lama. Sesi foto akan ditinggalkan, lalu dialihkan untuk bergerombol dengan orang-orang yang dirasa cocok untuk berbincang. Dan banyak terjadi, akan diperoleh teman/kolega baru pada forum-forum seperti ini. Tuan rumah dan mempelai akan happy akan kemeriahan perhelatan, para tamu juga tak boring karena tak dipaksa fokus pada sosok mempelai semata.

Pesta Blogger, pun demikian adanya. Memberi ruang bagi yang datang, bahkan untuk mojok sesuai minat, kesukaan dan pertemanan, adalah kebaikan. Sebab bukan partai, pun ia tak bisa ‘memaksa’ publik untuk berhimpun dan bersekutu. Cair dan bebas. Suka-suka, sesuai selera.

Mungkin Anda bertanya, untuk apa saya cerewet?

Sebab saya menaruh harapan. Harapan agar setiap pesta tak hilang jejaknya. Karena itu, harus diberi makna, termasuk menjadikan setiap pesta tahunan sebagai momentum yang tak mudah atau bisa dilupakan. Soal cara, rasanya bisa dirembug, didiskusikan dengan terbuka. Katanya generasi web-two-O, masak gak bisa?

Seperti kemarin, misalnya, akan menarik kalau Prita tak cuma (maaf) dipajang sebagai ‘seleb’ lantaran telah dianiaya oleh keberpihakan hamba hukum yang keliru. Andai Pesta Blogger 2009 mengeluarkan petisi atau seruan agar penguasa tak semena-mena, mungkin tak akan muncul RPM Konten Multimedia yang kontroversial itu. Penguasa tak memperhitungkan (apalagi takut) warganya, sebab kita pun sering lekas melupakannya.

Di mana-mana, penguasa akan sangat suka bila warga negaranya alim, pendiam, tidak neko-neko, tak banyak menuntut dan banyak lagi. Apalagi, di negeri yang demokrasinya sedang tumbuh seperti Indonesia, di mana elit-elit politiknya terlalu lama hidup dalam budaya politik pamer kuasa, masih ingin meneruskan tradisi lamanya.

Kita tahu, mobilisasi massa dengan watak premanisme yang melekat pada mereka masih dipertontonkan elit politik saat merasa diusik kepentingannya. Dengan dalih ‘menghindari kerusakan’, banyak dari kita memilih untuk menyingkir ketika preman bayaran (baik yang bertato maupun berjubah) datang menekan. Pada saat kita diam itulah para pencoleng tertawa dan berpesta pora merayakan kemenangannya.

Mumpung masih ada waktu, ada baiknya Pesta Blogger 2010 dirancang dengan melibatkan semua yang dianggap sebagai stakeholders-nya. Adakan jajak pendapat, baik kepada anggota-anggota komunitas blogger maupun publik yang lebih luas, termasuk apakah kata ‘pesta’ masih hendak dipakai atau ditolak. Itu pun dengan catatan, bahwa ajang ‘kopdar akbar’ itu masih milik para blogger.

Logikanya, kalau sebuah event itu milik blogger dan untuk blogger demi Indonesia, maka perancangnya seharusnya juga para blogger sendiri. Jangan sampai terjadi seperti pada sebuah pameran, di mana perancang acaranya adalah para pebisnis, yang sudah berhitung proyeksi untung dari sponsor dan tiket masuk pengunjung.

Kita patut becermin pada semangat persaudaraan yang dimiliki para blogger, yang ditunjukkan melalui aksi nyata saling sapa dan saling kunjung-mengunjungi, entah secara virtual maupun badaniah. Tak jarang, dari forum kopdar dadakan sekalipun, muncul beragam gagasan, meski biasa-biasa saja. Namun ada satu hal yang sangat terasa dan membekas dalam: kebersamaan…..

Eh, hampir terlupa. Kalau benar kata Pesta Blogger sudah bukan milik para blogger, ganti nama sajalah… Biarkan kata itu jadi milik pihak yang (mungkin sudah) membawanya ke ranah hukum HAKI, lalu bikin ajang pesta bersama, tentu yang lebih mblogger. Biar kegembiraan dan kebersamaan dialami dan dimiliki siapa saja, di mana saja, dan kapan saja. Tapi ingat, bukan yang beraroma Coca Cola!

Dipersilakan juga membaca beberapa tulisan terkait: Sumpah Blogger, Saatnya Blogger Bertindak, USA Butuh Blogger Indonesia,  dan Layang Blak Kotang (Bahasa Jawa)