Galau Si Pandi

Suatu hari, Si PANDI meminta pesuruhnya untuk mewakili curhatnya dengan saya. Intinya, Si PANDI galau sebenar-benarnya lantaran melihat gejala, banyak orang Indonesia tak lagi bangga dengan identitasnya. Jangankan pada tataran rakyat, lha wong pemerintahnya saja banyak yang tak memiliki nasionalisme memadai. “Terlalu bangga menjadi warga global, tapi menanggalkan identitas kulturalnya,” kata Si PANDI seperti ditirukan suruhannya.

“Hari gini masih ngomongin nasionalisme ?” sergah saya.

Sigit Widodo, orang yang jadi suruhan Si PANDI itu langsung membalas kalimat saya dengan sengit. “Sampeyan ini gimana, ta? Sebagai bangsa merdeka, sejak dalam pikiran hingga perbuatan, kita harus menunjukkan kepada dunia, bahwa kita itu ada. Eksis. Supaya mereka tak berasosiasi buruk, setiap ada kata Indonesia disebut, gambaran yang muncul di benak manusia sedunia hanya korupsi saja,” katanya.

Saya manggut-manggut. Pura-pura paham, supaya Sigit lega dan ketika kembali menghadap Si PANDI, bosnya, bisa melaporkan bahwa saya sudah sepenuh hati memahami maksudnya. Apalagi, Sigit mencontohkan, bagaimana orang Jepang, Malaysia, India, Inggris, Korea, China, Arab Saudi, Iran dan masih banyak lagi yang membanggakan identitas kultural dan kebangsaannya.

“Jangan niru Amerika, deh. Mereka tak punya kejelasan identintas, tapi maunya merangkum dunia, lantas menghegemoni di segala aspek kehidupan. Kita mestinya bangga dengan identitas dan produk kita sendiri, seperti orang Jepang bangga memakai Toyota atau Honda, padahal harganya mahal luar biasa di dalam negerinya. Orang Korea juga begitu, makanya tak salah jika kita meniru mereka,” ujar Sigit, kian berapi-api.

“Eh, ngomong-ngomong, apa perlunya juga kamu menawarkan identitas dot ai di (.id) kepada saya yang masih pakai dot com? Bukankah saya, walau pakai dot com, saya juga mengelola blog dengan menggunakan bahasa Indonesia dan Jawa? Dan itu sudah menunjukkan identitas saya kepada dunia???”

Halah! Sampeyan begitu, kan karena tak bisa bahasa Inggris. Jangan cari alasan, deh!” Sigit mulai gusar.

Okay… Eh, baiklah. Kenapa harus saya yang memulai. Kapan kamu mengganti dot net-mu ke dot ai di? Mosok berani ngajak-ngajak tapi tak mau memberi teladan. Kaya pejabat saja kamu itu, bisanya Cuma nyuruh tapi tak mau memberi contoh tindakan lebih dulu…”

“Sedang diproses, Mas. Aku juga akan pakai dot ai di segera. Saya malu kalau sampai disebut sebagai orang tak tahu diri, disamakan dengan petinggi-petinggi negeri ini yang juga hobi korupsi dan kolusi. Percayalah, saya orang baik-baik,” sahut Sigit.

Sigit lantas menyodorkan banyak data ironi tentang identitas kebangsaan.  Jumlah nama domain dot ai di untuk komersil, misalnya, hanya 30.932. Jauh lebih kecil dibanding yang menggonakan dot com yang ada sebanyak 179.333 alias seperlima lebih sedikit. Beruntung, tidak ada dot mil karena sebagai institusi berslogan “NKRI Harga Mati”, TNI sudah mencatatkan 176 nama domain mil dot ai di (.mil.id), walaupun TNI cuma punya tiga angkatan: darat, laut, dan udara. Begitu pula dengan institusi pemerintahan, di buku besar Si PANDI sudah tercatat ada 2.625 domain.

Lalu, kepada Sigit saya sarankan agar melapor ke Si PANDI, agar setiap komunitas blogger diberi kemudahan memperoleh domain dot o èr dot ai di (.or.id) tanpa kerumitan syarat ini-itu, alias semudah membeli domain .org atau .com. Yang penting ada lembaganya, ada kegiatannya, ada pengurus/penanggung jawabnya. Apalagi, semua komunitas blogger berciri sama, yakni lembaga nirlaba, dan lantaran dibentuk oleh kesamaan hobi blogging dan kumpul-kumpul, maka mereka tidak menjadikan komunitasnya sebagai lembaga formal seperti lembaga swadaya masyarakat atau civil society organization (CSO) yang perlu berbadan hukum.

Mewakili Si PANDI, Sigit pun mengiyakan. Ia pun berharap komunitas blogger dan bloggernya mau membantu menyebarluaskan perlunya pemakaian identitas kebangsaan melalui pemakaian nama domain untuk blog pribadi, badan usaha, sekolah dan aneka rupa jenis lembaganya. Secara formal, Sigit mencontohkan, sudah memberi dua nama domain untuk Komunitas Blogger Bengawan (bengawan.or.id) dan Yayasan Talenta (talenta.or.id), organisasi nirlaba untuk advokasi kaum difabel, yang kebetulan menjadi ‘induk semang’ Bengawan karena sudah merelakan sekretariatnya digunakan bersama-sama.

Sigit pun menceritakan, Si PANDI menjanjikan akan memberi nama domain gratis bagi para blogger yang tergabung dalam sebuah komunitas, walaupun hanya untuk setahun pertama, yakni dot web dot ai di (.web.id). “Tolong jangan dilihat harga beli domainnya yang murah, tapi komitmen PANDI untuk mewarnai Indonesia. Supaya dunia juga memandang eksistensi kita di ranah Internet,” ujar Sigit.

Saya senang dengan jawaban Sigit dan PANDI. Saya pun teringat dengan kata-kata Mas Onno W Purbo yang pingin turut mendorong majunya konten lokal, termasuk dengan penggunaan server lokal. Kabarnya, Asosiasi Perusahaan Jasa Internet Indonesia (APJII) dan ICT Watch (InternetSehat) bersama sejumlah lembaga nirlaba, sudah menyediakan server untuk hosting web dari komunitas-komunitas nirlaba di Indonesia.

Kata Mas Onno, ada banyak keuntungan dengan menggunakan server lokal untuk aneka ragam postingan. “Jika traffic-nya sangat tinggi, penggunaan server di dalam negeri akan menghemat banyak devisa, sebab pengakses dari Indonesia tidak perlu menggunakan jalur internasional yang harus dibayar oleh setiap pengguna. Jumlahnya bisa mencapai trilyunan rupiah per tahun, lho….,” ujar Mas Onno, dua tahun silam.

Saya pun menganggung-angguk, pura-pura paham, mendengar ucapan Mas Onno, dalam sebuah perjalanan mengantarnya pulang dari kantor ICT Watch/InternetSehat, beberapa tahun silam. Penggunaan identitas lokal ini pun nyambung dengan banyak program besar negara, seperti yang diupayakan Kementerian Komunikasi dan Informasi (Kemkominfo) dengan melakukan kampanye dan membangun jejaring dengan Relawan Teknologi, Informasi dan Komunikasi (Relawan TIK).

Kian menarik pula ketika banyak pihak, termasuk sejumlah operator seluler dan penyedia (jasa) bandwidth di Indonesia terus mendorong majunya konten-konten lokal lewat serangkaian kegiatan, termasuk pelatihan-pelatihan di sekolah dan masyarakat. Seperti XL (ini sudah pakai dot ai di) misalnya, yang telah mendukung sejumlah kegiatan Bengawan, dan terakhir di acara ulang tahun BloggerNgalam, lewat #OblogMerahMuda, 7-8 Januari silam.

Nah, jika kian banyak pihak menyadari perlunya konten lokal dan identitas lokal, kapan saya (blontankpoer.com), Sigit Widodo (widodo.net), Relawan TIK (relawan-tik.org), BloggerNgalam (bloggerngalam.com), dan banyak pelaku (telkomsel.com, indosat.com, dan lain-lain) dan penggiat Internet di Indonesia beralih menggunakan nama domain dot ai di???  🙂

 

 

Garis Waktu dan Kerumunan

Sekadar catatan tentang Linimas(s)a

Pengguna Twitter pasti mengenal istilah garis waktu atau linimasa sebagai terjemahan timeline, yang merujuk pada kicauan pengguna media sosial. Media sosial yang lahir setelah Facebook itu, kini sedang ‘ditakuti’ banyak rezim, menyusul efektifnya media sosial menyulut krisis politik seperti terjadi di Tunisia dan Mesir. Moammar Qaddafi pun bahkan memblokir akses internet di seluruh Benghazi, kota pusat perlawanan disusun.

Indonesia pun sempat geger, ketika akun Twitter @benny_israel banyak berkicau soal informasi intelijen, juga ‘mengungkap’ berbagai skandal yang menyebut nama-nama tokoh penting di republik ini. Tak ada yang tahu siapa sejatinya pemilik akun @benny_israel. Seorang intelijenkah?

Atau politisi yang menyaru, atau siapapun dia, yang mencitrakan diri sebagai sosok yang tahu banyak tentang hal-hal atau aib yang tersembunyi atau disembunyikan, sehingga secara psikologis membuat orang lebih gampang memercayai kicauannya? Yang pasti, situasinya tepat. Ketika @benny_israel ‘mengungkap’ banyak skandal, informasi resmi tentang skandal tersebut selalu memancing tanya. Tak ada yang tuntas, gamblang, benderang.

Dari sisi kepentingan publik Tunisia, Mesir, atau kini Libya yang merasa terintimidasi penguasa, keberadaan akses internet dan social media sangat membantu sebagai sarana komunikasi untuk mewujudkan perubahan, demi kebaikan mereka. Tapi dalam konteks Indonesia, kicauan @benny_israel segera tenggelam oleh gemuruh perseteruan antarpolitisi, apalagi kemudian mulai ramai kicauan yang meragukan sosok yang mengaku bernama Benjamin Israel itu.

Apakah media sosial hanya cocok untuk hal-hal yang berbau politik? Jawaban YA akan muncul jika yang ditanya adalah orang-orang semacam saya, yang mulai kehilangan tempat dan mitra ngerumpi, ditambah skeptis yang berlebihan terhadap akurasi dan keberpihakan informasi dari semua media massa, apalagi yang lebih suka mem-branding diri sebagai media kompor-kompor, provokasi semata.

***

Di tengah silang kata dan perang informasi antarpihak, sungguh menarik menyimak peran-peran sosial-kemanusiaan yang dilakukan komunitas dan kerumunan online dalam menggunakan media sosial, baik Twitter, Facebook, blog, dan telepon bergerak. Mbak Silly di Jakarta, misalnya, menginisiasi gerakan kemanusiaan yang berfokus pada berbagi informasi mengenai darah.

Dengan tagar #BFL di Twitter, Mbak Silly menyebarkan informasi mengenai seseorang yang sedang membutuhkan darah sesegera mungkin. Ia biasa menyebutkan kondisi pasien, kontak person, jenis penyakit dan lokasi perawatan. Terbukti, gerakan Blood for Life sangat efektif mendatangkaan donor dalam waktu cepat, padahal ada jenis-jenis/golongan darah tertentu yang tak tersedia di PMI.

Tak hanya di Jakarta, #BFL berlaku secara nasional. Pernah ada pasien butuh darah di RS dr. Oen, Solo, ada pula dari beberapa rumah sakit di Yogyakarta, Semarang, Bandung, dan banyak lagi.

Penggalangan dukungan sekaligus perlawanan terhadap arogansi manajemen rumah sakit dalam kasus Prita Mulyasari juga terbukti ampuh lewat internet. Lantaran menulis email pribadi  yang lantas tersebar luas oleh orang lain, Prita digugat karena dianggap telah secara sengaja mencemarkan nama baik rumah sakit yang pelayanannya belum lama dikeluhkannya.

Jenis penggalangan dukungan juga efektif dalam kasus Bibit-Chandra, dua komisioner KPK, yang getol menyelidiki dan mengadili para koruptor. Arogansi orang beperkara justru menjebloskan kedua orang itu dalam ancaman pidana. Alhasil, keduanya bebas.

Kisah-kisah sukses (success stories) penggunaan internet untuk kemaslahatan publik itulah yang ‘dirangkum’ Dandhy Laksono, salah satu jurnalis televisi Indonesia yang intens menggeluti dunia investigasi, ke dalam sebuah video dokumenter bertajuk Linimas(s)a.

Diproduksi ICT Watch, Jakarta, Linimas(s)a sengaja didedikasikan untuk bangsa Indonesia, yang dalam lima tahun terakhir, terasa betul gairahnya dalam menggunakan telepon bergerak, internet dan media sosial. Seperti catatan ICT Watch, pada November 2010 saja, dari 34 juta pengguna internet di Indonesia, terdapat 30,1 juta pengguna Facebook (nomor dua terbanyak di dunia) dan 6,2 juta pengguna Twitter, urutan ketiga besar se-Asia.

ICT Watch yang lebih terkenal dengan brand InternetSehat-nya, telah dikenal intens merawat pengguna Internet di Indonesia sejak 2002. Bagaimana kehadiran Internet tidak membawa kerusakan/kerugian bagi penggunanya, bagaimana kebebasan berekspresi perlu diperjuangkan, hingga di mana seharusnya negara berperan dalam membuat kebijakan dan menyiapkan perangkat regulasinya. Itu adalah beberapa misi yang terus diperjuangkan teman-teman seperti Donny BU, Mas Onno W Purbo dan lain-lain.

Kasus erupsi Merapi 2010 adalah contoh paling konkret dan menarik, betapa kekuatan media sosial dan onliner mampu ‘menyelamatkan’ ratusan ribu manusia di sekeliling Gunung Merapi. Distribusi bantuan, relawan, informasi kebutuhan pengungsi dan sebagainya tersaji di linimasa atau timeline Twitter, hingga melampaui batas-batas kerumunan atau linimassa, ketika kepedulian orang dari berbagai pelosok negeri hingga mancanegara, terwujud lewat pengumpulan bantuan dan bertemunya ribuan relawan.

Organisasi masyarakat sipil Combine Yogyakarta dengan akun @jalinmerapi-nya, begitu cekatan merespon kebutuhan korban dan relawan. Ia menjadi semacam lembaga penjamin, bukan sosok anonim, sehingga kepercayaan relawan dan para penyumbang bantuan tidak bertepuk sebelah tangan.

Rasanya, itulah yang menurut saya, kerja ICT Watch dan Dandhy Laksono melahirkan Linimas(s)a menjadi penting. Video dokumenter itu, saya yakin bisa menginspirasi banyak orang dan komunitas (terutama komunitas blogger yang kini bermunculan di beragai kota) untuk lebih banyak berbuat untuk diri dan publik dan lingkungan sekitarnya.