Wedangan Wi-Fi Ponorogo

Saat SBY membuka Muktamar NU di Makassar, saya kompor-kompor di Gontor. Bila di Twitter, Yenny Wahid berkabar pidato SBY tak menyinggung nama Gus Dur, di Pesantren Gontor, Ponorogo saya sebarkan virus Gus Dur. Yakni, mengajak para ustad alias guru-guru peserta pelatihan blogging menggunakan hosting lokal, entah yang berbayar atau free hosting.

Langit Ponorogo. Sekadar oleh-oleh, gak ada hubungannya dengan tulisan... :p

Anggap saja Gus Dur tak penting. Tak soal bagi saya. Tapi perjuangan almarhum merawat ke-Indonesia-an dengan kemandirian, harus disikapi sebagai teladan penting. Dalam sebuah kesempatan, Mas Onno W Purbo cerita betapa besar devisa kita harus banyak terbang ke luar negeri gara-gara kita mengakses situs-situs atau blog yang menggunakan server asing. Lamat-lamat teringat, triliunan nilainya.

Facebook termasuk salah satu situs asing yang banyak diakses pengguna internet kita. Juga Twitter dan penyedia layanan bloghosting gratis seperti Blogger, WordPress dan banyak lagi.

Hari itu, Selasa (23/3), merupakan kali pertama saya menginjakkan kaki di Ponorogo. Kota yang bersih, hijau, namun panasnya hampir menyamai Semarang. Bangunan-bangunan tuanya yang terawat masih berterbaran di kiri-kanan jalan-jalan utama kota. Terkesan kuat pengaruh Belanda, meski ciri arsitekturnya tak serupa dengan bangunan-bangunan di kota-kota utama Jawa seperti Solo atau Yogyakarta. Entah apa sebutannya, saya tak punya referensi tentangnya.

Di kota kecil itu, rupanya banyak perguruan tinggi. Saya baru tersadar ketika kami berempat (bersama Mursid, Hassan dan Dony) dari Bengawan, dijamu Dafhy beserta teman-teman blogger Ponorogo, di sebuah tempat wedangan ber-hotspot. Fasilitas Wi-Fi mengagetkan kami (Mungkin, kami tipikal orang ‘kota’ yang terlalu sering menganggap remeh orang ‘desa’).

Rupanya, tak terlalu salah kalau saya kompor-kompor mengenai perlunya merawat nasionalisme dengan mencintai produk-produk sendiri, termasuk menggunakan akses Telkom-Speedy (yang konon, kecepatannya suka menurun tiba-tiba).

Di sebuah kota kecil seperti Ponorogo saja, internet sudah mewabah. Padahal, Indonesia punya 400-an kota/kabupaten, belum termasuk kota-kota penting yang bukan menjadi nama atau ibukota sebuah daerah adminsitratif. Puluhan juta pengguna internet kita, tersebar di mana-mana, yang boleh jadi memiliki blog atau menjadi pengakses situs-situs yang dikelola orang-orang lokal, namun dengan server berbau devisa.

Alangkah menyedihkannya, setelah sumberdaya alam kita dieksploitasi perusahaan-perusahaan raksasa asing (yang jelas-jelas menyedot devisa besar), untuk urusan bandwidth dan server pun kita masih harus mensubsidi bangsa-bangsa maju. Oleh karena itu, saya menekankan kepada 100 peserta pelatihan, agar melirik hosting lokal.

Kalau tak mau yang berbayar, yang cuma-cuma pun sudah ada. Dagdigdug, Telkom, Kompas dan detikcom menyediakan bloghosting gratis untuk bangsa Indonesia. Dari sanalah, mestinya kita ganti menyerap devisa, melalui sajian informasi-informasi yang berguna.

Banyak orang asing berkepentingan dengan Indonesia. Tak cuma yang berkaitan dengan dunia wisata, masalah sosial, ekonomi, budaya dan politik juga banyak menggelitik mereka, sebab Indonesia merupakan negara penting di Asia.

Akankah kita rela menjadikan Indonesia sebagai pengekspor devisa?