Refleksi Kemerdekaan Berkonvoi

Aksi Kang Joyo menghadang konvoi Harley Davidson, 15 Agustus 2015, menuai tanggapan beragam. Bagi kaum kebanyakan, aksi tersebut memeroleh dukungan lantaran seturut dengan perasaan banyak orang, terutama yang tinggal di perkotaan, yang merasa tidak suka atau bahkan muak dengan show of force penunggang sepeda motor supermewah.

Fakta ada orang menghadang konvoi Harley Davidson seperti ini, kok ya dibilang hanya isuuu.....

Fakta ada orang menghadang konvoi Harley Davidson seperti ini, kok ya dibilang hanya isuuu…..

Lampu menyala merah diterabas adalah hal biasa. Memaksa pengguna jalan (raya) agar menyingkir, demi memberi kebebasan mereka berlalu pun merupakan kejadian jamak. Di mana-mana. Maka, orang lantas menyebutnya sebagai arogansi yang dipertontonkan secara terbuka. Jika kemudian ada yang ikut melakukan protes aksi serupa yang dilakukan kelompok/komunitas pesepedamotor, itu pun hal menarik yang perlu disimak. Soal siapa memulai dan pihak mana yang iri, biarlah menjadi kajian bagi para peneliti dan pemerhati masalah-masalah sosial.

Bagi saya, setelah mencermati berbagai pernyataan yang terpapar di media sosial atau di media online, saya berani menyimpulkan, bahwa aksi konvoi ugal-ugalan penunggang Harley Davidson dalam rangka Jogja Bike Rendezvous (JBR) 2015 sepenuhnya dibekingi aparat kepolisian. Karena itulah, baik panitia maupun Ketua Harley Davidson Club Indonesia (HDCI) Komjen (Purn.) Nanan Sukarna tampak begitu percaya diri, merasa sebagai pihak paling benar karena dilindungi hukum oleh sebab sudah meminta ijin menggelar keramaian. Continue reading

Terima Kasih pada Kapolri dan Pemilik Harley

Surat terbuka untuk Kapolri Jenderal Badroddin Haiti dan para pemilik Harley Davidson di Indonesia

Bapak Kapolri yang terhormat,

Sungguh senang saya membaca kabar di media sosial, ada ribuan penunggang Harley Davidson se-Indonesia berkumpul di Yogyakarta, 14-17 Agustus 2015 dalam rangka memeriahkan peringatan Hari Kemerdekaan ke-70 Republik Indonesia. Alangkah mulianya mereka, para pengusaha kaya raya, jenderal polisi dan TNI, baik yang masih aktif maupun yang sudah pensiunan.  Toh, mereka masih kaya dan bisa berbagi rejeki kepada rakyatnya Sri Sultan HB X.

Memang hanya isu, kok, bahwa ada encegatan terhadap konvoi Harley Davidson. Harley kan milik warga negara sangat terhormat. Mosok ada yang menolak kehadiran mereka...

Memang hanya isu, kok, bahwa ada encegatan terhadap konvoi Harley Davidson. Harley kan milik warga negara sangat terhormat. Mosok ada yang menolak kehadiran mereka…

Saya yakin, Pak Kapolri, andai tiga malam saja mereka menginap, sudah jutaan rupiah duit mereka dibelanjakan, baru untuk biaya kamar saja. Pasti, mereka orang-orang kaya nan terhormat itu, andai memilih kamar seharga Rp 750.000 per malam, sudah Rp 2.250.000 dibelanjakan. Jika dikalikan jumlah Harley Davidson, andaikan 1.000 saja, maka sudah ada dua milyar rupiah lebih yang dibelanjakan untuk kamar saja. Belum keperluan makan, minum, rokok, dan barangkali perlu sewa selangkangan perempuan  dan pantat lelaki (saya yakin, di antara penunggang motor gede, ada juga yang multiorientasi dalam perkara meng-happy-happy-kan jari tengah mereka).

Belum lagi kalau kita hitung jumlah mereka yang superkaya atau tidak mau repot. Pasti mereka juga akan membawa sopir pribadi yang mengangkut Harley dari kota asal mereka ke Yogyakarta. Sama dengan majikannya, mereka juga butuh kamar untuk beristirahat, mengurus perut supaya tetap fit dan siap sedia diperintah majikan, kapan saja.

Pak Kapolri, percayalah, ada trickle down effects dari perhelatan tiga hari mereka. Saya yakin, mereka yang kini bergembira merayakan kemerdekaan Indonesia, sengaja ingin berbagi rejeki, entah disadari atau tidak. Biarlah itu menjadi tugas kenabian mereka dan cara Tuhan menggerakkan sektor riil di Indonesia. Hotel pasti mempekerjakan tukang bersih-bersih hingga pengangkut sampah. Restoran tempat mereka singgah pun demikian juga. Mereka belanja bahan-bahan kebutuhan dari pasar, di mana terdapat mata rantai yang panjang di dalamnya. Ada kuli panggul, pedagang, pemasok, petani, makelar, preman pasar, dan masih banyak lagi.

Continue reading